Friday, October 9, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 27

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  27

(Tien Kumalasari)

 

Sejenak saling pandang antara satu dan lainnya, kemudian terdengar Sarah menyambut dengan riang.

“Kok bisa kencan sih? Ayo masuklah, mas Fajar, Mentari.”

Keramaian yang tiba-tiba pecah itu membuat nenek Suli bertanya-tanya. Ia menatap tamu-tamu yang baru datang. Aroma wangi memenuhi ruang rawat inap itu. Nenek Suli berkata dalam hati, orang kaya selalu berbau wangi.

Fajar dan Mentari segera mendekati nenek Suli yang masih berbaring, tapi tampak sekali wajahnya sudah lebih segar.

“Apa kabar Nenek hari ini?”

“Kabar baik. Ini siapa, cantik sekali?”

“Saya Mentari, teman sekolahnya Sarah. Saya juga adiknya mas Fajar ini,” kata Mentari sambil memegangi tangan nenek Suli.

“Ya ampuun, terima kasih banyak. Dari mana Sarah bisa punya teman orang-orang kaya ini?”

“Mengapa Nenek berkata begitu? Kita sama-sama orang biasa, mahluk Allah yang tidak ada bedanya,” kata Fajar.

“Kata siapa tidak ada bedanya? Kalian banyak uang, sedangkan orang-orang miskin harus membanting tulang dan memeras keringat demi mendapatkan selembar uang rupiah.”

“Tidak Nek, yang tampak itu hanya sandangan. Manusia itu adalah sama di mata Allah. Kalau Allah membedakannya, bukan karena harta kekayaannya, tapi karena pekerti dan tingkah lakunya di dunia ini. Benar begitu kan?”

Nenek Suli tersenyum.

“Baru kali ini ada anak kecil mengajari nenek tua seperti aku,” katanya pelan, mirip sebuah gumam.

“Apakah Nenek marah karena saya berbicara begitu?” tanya Fajar sambil menepuk-nepuk tangan nenek Suli.

“Tidak. Sesungguhnya itu memang benar. Hanya saja tidak banyak orang yang berpendapat demikian. Ada orang yang menganggap bahwa  kemiskinan adalah sesuatu yang hina, tidak ada harganya. Itu benar kan?”

"Benar Nek. Tapi hal itu tidak harus nembuat Nenek merasa rendah, Nenek adalah wanita terbaik, yang membanting tulang dan memeras keringat demi cucu Nenek tercinta. Dan itu adalah sesuatu yang mulia.”

Nenek Suli tersenyun.

“Ya sudah, anak-anak muda berbincang saja di sana, Nenek mengantuk. Entah mengapa ini, bawaannya mengantuk saja. Nanti Nenek akan bilang dokternya agar Nenek bisa segera pulang.”

“Ya sudah, Nenek tidurlah, tapi jangan dulu tergesa pulang, kalau dokter belum mengijinkan.”

Nenek menghela napas panjang. Ia benar-benar sudah merasa baik, dan bosan tidur di tempat yang tidak membuatnya nyaman.

***

Sementara itu ketika Fajar membalikkan tubuh, ia melihat Bimo berbincang akrab dengan Mentari.

“Kalian sudah kenal?”

“Mas Fajar gimana, kan Mentari pernah bertemu Bimo ketika dia menemani aku jualan koran. Malah Mentari mengatakan bahwa mas Fajar dan Bimo seperti kembar. Lupa ya?” kata Sarah.

“Lagi pula aku sudah pernah bertemu mas Bimo di kantor bapak kok. Sungguh aku tidak tahu bahwa mas Bimo bekerja di sana.”

“Aku juga kaget, ternyata mbak Mentari putri pak Pranoto," kata Bimo.

Bimo tampak berbahagia, karena Mentari walaupun anak orang kaya tapi tidak sombong. Ia baik seperti Fajar, kakaknya. Mereka berbincang akrab, dan nenek Suli merasa terhibur karenanya.

***

Pak Karimun meminta istrinya menunggu, sementara ia akan mencari pekerjaan, untuk menambah bekal agar bisa pulang kembali ke kampungnya.

Bu Karimun yang menunggu di sebuah pojokan toko, tiba-tiba melihat sebuah warung makan. Ia datang mendekat, bukan untuk meminta makanan.

“Bu, bolehkah saya membantu di sini? Cuci piring atau apa saja saya bisa,”

“O, benarkah? Baiklah, karena hari ini warung agak ramai. Banyak piring kotor yang belum sempat aku cuci. Ituu, di situ.”

“Terima kasih Bu.”

“Yang bersih ya, jangan sampai ada bau amis tersisa.”

“Baik Bu.”

Tiba-tiba Bu Karimun ingat, pemilik warung itu, bukankah wanita baik hati yang meninggalkan keranjang berisi makanan untuknya?

Pemilik warung itu memang Saptari.  Ia sedang sibuk melayani pembeli sehingga tidak memperhatikan siapa yang meminta pekerjaan cuci-cuci piring.

Bu Karimun yang terus menatap Saptari, membuat kemudian Saptari heran. Ia menghentikan pekerjaannya melayani pembeli, mengira wanita yang dianggapnya wanita asing itu tidak mengerti tempat piring-piring kotor yang menumpuk.

“Bu, di situ, wadah sabunnya ada di dekatnya, kok Ibu bengong? Mau makan dulu?”

“Eh, tidak … tidak, bukan begitu, saya melihat Ibu, sepertinya … yang memberikan kepada saya keranjang berisi makanan itu kan?”

Sekarang Saptari menatap bu Karimun. Tentu saja ia ingat. Hanya saja waktu kemarin itu bu Karimun tampak lusuh karena letih dan lapar, sedangkan sekarang pakaiannya walau butut tapi tampak bersih dan rapi. Mereka menumpang mandi si sebuah kamar mandi umum dan mengganti pakaian mereka dengan bekal pakaian yang dibawanya.

“Eh, ya ampuuun. Sampeyan ya Bu, maaf saya tidak memperhatikan. Benar, yang kemarin ketemu. Jadi Ibu masih di sini?”

“Mau pulang, tapi kehabisan bekal uang, karenanya saya mencari pekerjaan.”

“Ya, baiklah, tolong bantu saya, nanti saya beri uang, lagi pula saya senang ada teman berbincang. Dibantu tiap hari saya juga suka.”

“Benarkah?”

“Sekarang tolong bantu cuci-cuci piring dan yang lainnya itu Bu, belum sempat karena hari ini agak rame. Mungkin karena hari libur. Nanti setelah selesai, makan dulu ya Bu.”

“Saya selesaikan dulu pekerjaan saya.”

Dan Saptari senang karena bu Karimun ternyata bisa bekerja sangat baik. Ia cekatan mengerjakan semuanya, sehingga Saptari bisa fokus melayani pembeli.

***

Ketika Saptari menawarinya makan, bu Karimun menolaknya.

“Saya tidak usah saja, nanti buat suami saya.”

“Lhoh, iya. Saya baru mau bertanya. Katanya kemarin sedang menunggu suami, sekarang di mana? Masih belum ketemu mencari kerabatnya?”

“Tidak ketemu Bu, dia sudah meninggal lama. Sedianya kami mau numpang di rumahnya, karena dulu kerabat saya itu tinggal sendirian. Tapi ternyata dia sudah meninggal, dan rumahnya sudah menjadi milik orang.”

“O, kasihan benar. Lalu mau kembali pulang?”

“Nanti dulu, saya itu kok ketemu orang sampai belum tahu namanya," lanjutnya.

“Saya bu Karimun.”

“Bu Karimun ya. Sekarang Ibu makan dulu saja, mumpung warungnya sepi. Nanti kalau suami Ibu kembali, saya kasih makan juga, tidak apa-apa. Ayo dimakan dulu Bu. Sebentar lagi warung saya juga sudah tutup.”

“Sudah mau tutup Bu?”

“Saya jualan hanya sebentar, melayani makan siang para pelanggan. Saya sudah semakin tua, sendirian pula, soalnya anak saya sudah bekerja.”

Bu Karimun akhirnya menerima tawaran makan itu, karena sesungguhnya dia juga lapar.

“Kalau saja Ibu tinggal di dekat sini, saya senang dibantu lhoh.”

“Benarkah? Saya mau.”

“Tapi saya tidak punya rumah yang bisa menerima Ibu. Rumah saya kecil, kamar saya hanya dua, untuk saya dan anak saya. Masa iya Ibu mau tidur di lantai dapur?”

Bu Karimun diam. Kalau memang iya, mengapa tidak? Tidur di lantai bukan masalah, tapi dia kan bersama suaminya?

“Sebenarnya tidur di lantai juga tidak apa-apa, tapi takut merepotkan, karena saya kan bersama suami. Tapi nanti saya akan bicara dulu pada suami, kalau di sini ada pekerjaan, mengapa harus pulang di mana pekerjaannya sama saja tidak menentu."

“Sekarang pak Karimun ke mana?”

“Dia juga mencari pekerjaan Bu. Sebenarnya tadi saya hanya disuruh menunggu, tapi melihat warung ini, saya coba-coba menawarkan bantuan.”

“O, baiklah. Ibu makan dulu saja. Ini nanti untuk suami Ibu. Saya akan beres-beres."

Tiba-tiba pak Karimun muncul lalu bergegas mendekat.

“Bu, kamu di sini ? Aku mencari-cari, ternyata makan di warung. Memangnya kamu punya uang Bu?”

“Kemarilah dulu Pak, duduk dan makanlah.”

“Tidak usah Bu, kamu saja. Kita kan harus menghemat. Tadi dapat uang, hanya sedikit, tapi cukup untuk pulang.”

“Pak, duduklah, makan di sini gratis, tidak usah bayar,” kata Saptari ramah.

“Gratis?” pak Karimun heran.

“Gratis, karena bu Karimun ini sudah membantu saya bersih-bersih piring kotor. Makanlah dulu, sambil bicara, saya beres-beres sebentar."

Pak Karimun terpaksa menerima tawaran makan karena sudah disiapkan di dekat istrinya.

“Terima kasih banyak ya Bu.”

“Ibu ini ternyata yang kemarin memberi kita sekeranjang makanan, dan masih ada sisanya tuh, di situ,”

“Oh ya?”

Tapi tiba-tiba seseorang datang, dan pak Karimun terkejut.

“Lhoh, ini kan mas yang menolong saya waktu kecelakaan itu dulu?”

Yang datang adalah Bimo. Ia baru pulang setelah membezoek nenek Suli, dan pak Karimun salah sangka

***

Besok lagi ya.

16 comments:

  1. πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung DeCeDeAaeM_27
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 27 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Sehat slalu. Beserta keluarga tercinta

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah yg ditunggu sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, telah tayang.
    Sehat selalu bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah cerbung kesayangan telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™❤️πŸ™

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~27 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun Bu Tien πŸ™
    Sugeng dalu.

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah DC&AM sudah tayang,
    Terima kasih bunda,
    Semoga bunda Tien sehat dan bahagia bersama keluarga 🀲🀲

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 27 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin1

    ReplyDelete
  14. Pa Karimun kecele, Bimo dikira Fajar yang pernah menolongnya saat keserempet motor.
    Matur nuwun nBak Tien, sakam SEROJA .
    Semoga sehat selalu dan selalu sehat.
    Aamiin Yaa Mujibassailiin πŸ€²πŸ€πŸ€πŸ™

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 27

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  27 (Tien Kumalasari)   Sejenak saling pandang antara satu dan lainnya, kemudian terdengar Sarah menyambut dengan...