DARAH CINTA DAN AIR MATA 25
(Tien Kumalasari)
Sesampai di rumah, Saptari menyambut Bimo dengan wajah penuh sesal.
“Belum melihat Sarah jualan lagi? Kok kamu pulang cepat?”
“Belum. Ibu belum jadi ke rumah nenek Suli?”
“Ya itulah, dua hari ini Ibu tidak bisa kemana-mana. Ada pesanan dua hari berturut-turut sehingga belum ada waktu untuk menengok nenek Suli. Tapi besok akan Ibu usahakan setelah jualan langsung ke sana.”
“Sampai hari ini Bimo belum melihat Sarah berjualan. Hampir pasti karena neneknya sakit, soalnya beberapa hari yang lalu Sarah mengatakan kalau nenek Suli sedang tidak enak badan.”
“Besok akan Ibu usahakan untuk ke sana, sambil belanja. Perasaan ibu juga tidak enak. Dulu kita pernah dekat dengan keluarganya.”
“Kalau Ibu belum sempat, hari Minggu nanti Bimo yang akan ke sana.”
“Tidak apa-apa kalau kamu juga mau ke sana, tapi besok Ibu akan ke sana lebih dulu. Perasaan Ibu kok tidak enak.”
“Iya Bu.”
“Ya sudah kamu istirahat, mandi lalu makan. Semuanya sudah Ibu siapkan. Ibu sudah memanggil taksi untuk mengantar pesanan.”
“Ke mana Bu?”
“Seorang kenalan, hanya ada pertemuan keluarga, mereka menyuruh Ibu memasak untuk hidangan. Tidak banyak.”
“Ibu hanya mengantarkan?”
“Iya. Tidak akan lama, nanti kamu makan saja dulu, tidak usah menunggu Ibu.”
“Jangan sampai malam pulangnya. Atau Ibu mau Bimo mengantar?”
“Tidak, sudah ditunggu. Nanti mereka kecewa mengira Ibu tidak menepati janji. Sudah, itu taksinya sudah datang. Bawakan saja semua yang Ibu siapkan ke dalam taksi. Ibu akan cepat pulang kok.”
Tapi Bimo tiba-tiba merasa pikirannya terbelah, diantara mimpi dan nyata. Nyata bahwa kalau dia bisa berdampingan dengan Sarah barangkali tak akan ada kendala karena keluarga keduanya sangat mendukung. Mimpi karena ia merasa tertarik kepada gadis cantik putri pimpinan perusahaan yang menyapanya tadi dengan sangat manis. Tentu saja ia hanya mimpi, memimpikan sesuatu yang tak mungkin, tapi terasa sangat mengganggu pikirannya.
Saat setelah mandi kemudian menghadapi meja makan, bayangan Mentari masih menari-nari dalam benaknya. Tetap saja begitu walau ia memarahi dirinya.
***
Fajar tak melihat sepeda motor Mentari, dan ia menduga sang adik belum pulang. Belum pulang atau pergi lagi? Ia terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Tari!” Fajar menangkap tangannya dan mengomelinya. Tapi Mentari hanya terkekeh geli.
“Terkejut ya?”
“Mana sepeda motor kamu?”
“Aku tinggalkan di kantor bapak.”
“Kamu ke kantor bapak?”
“Ban sepeda motor aku bocor di dekat kantor bapak, aku bawa ke bengkel lalu aku ke kantor bapak, lalu pulang diantar sopir. Barangkali bapak sudah menyuruh orang untuk mengambil sepeda motor itu, dan pastinya sudah ada di kantor bapak. Dan karena itu pula, besok antar aku ke sekolah. Oke?”
“Hmh, panjang lebar ngomongnya, ujung-ujungnya minta diantar,” cemberut Fajar.
“Habis gimana dong, masa aku harus jalan kaki?”
“Sekali-sekali jalan kaki kan nggak apa-apa? Biar sehat.”
“Iih, jahat banget. Kan sekolah aku jauh.”
“Oh ya, apa hari ini Sarah sudah masuk sekolah?”
“Sudah, tapi katanya neneknya masih ada di rumah sakit. Kasihan, dia tampak lelah, karena setiap malam menunggui neneknya di rumah sakit. Pasti juga dia kurang tidur.”
“Iya, kasihan. Kamu tidak bermaksud membezoek ke rumah sakit?”
“Rencananya besok Minggu, tadi aku sudah diberi tahu di mana kamarnya.”
“Besok Minggu aku antar kamu.”
“Tuh, giliran mau ketemu Sarah, semangat sekali mengantar,” kata Mentari sambil mengerucutkan bibirnya.
Fajar tidak menanggapi dengan kata-kata. Ia hanya nyengir lalu meninggalkan sang adik yang masih cemberut.
***
Siang hari itu Saptari benar-benar pergi ke rumah nenek Suli. Tapi ia heran karena rumah itu tertutup rapat. Ia mengetuk pintunya berkali-kali, tak ada jawaban. Saptari meletakkan keranjang berisi makanan dan buah-buahan, lalu mengelap keringat di dahinya.
“Kemana ya mereka?”
“Ibu mencari nenek Suli?” tiba-tiba sebuah suara membuatnya menoleh.
“Eh, iya Bu, kok sepi, pada ke mana ya?”
“Ibu tidak tahu ya? Nenek Suli sudah tiga hari ini dirawat di rumah sakit.”
“Oh ya? Sakit apa?” tanya Saptari terkejut.
“Kata tetangga yang sudah pada menjenguknya, nenek Suli sakit jantung.”
“Sakit jantung?”
“Iya Bu, saya sendiri belum menjenguk karena belum bisa meninggalkan pekerjaan. Tapi tetangga-tetangga sudah.”
“Bagaimana keadaannya? Dan dirawat di mana?”
“Rumah sakit yang tidak jauh dari kampung ini. Kata mereka, masih kelihatan lemas, tapi sudah tidak pucat seperti ketika awal dia dirawat. Ya sudah Bu, saya sedang terburu-buru,” kata ibu tadi sambil berlalu.
Saptari merasa sangat prihatin. Ternyata nenek Suli sampai dirawat di rumah sakit.
“Pasti sakitnya berat. Aku harus memberi tahu Bimo agar menjenguknya di rumah sakit.”
Saptari berjalan keluar, untuk mencari ojol atau menunggu angkutan kota. Makanan dan buah-buah yang tadi dibawanya untuk nenek Suli terpaksa dibawanya kembali.
Ketika ia berjalan sambil menunggu angkutan yang lewat, ia melihat seorang perempuan berbaju lusuh sedang duduk di atas akar pohon yang menonjol.
Wajahnya pucat, dan tepat ketika ia berjalan di dekatnya, wanita itu mendadak terguling jatuh.
Saptari terkejut. Ia mendekat, dan menggoyang-goyang tubuhnya.
“Bu … Ibu sakit?”
Wanita itu berusaha bangkit, Saptari membantunya.
“Saya sedang menunggu suami. Ia sedang mencari kerabatnya. Lama sekali tidak kembali.”
“Mengapa Ibu tidak ikut?”
“Saya sangat lelah, karenanya disuruh menunggu di sini,” kata perempuan itu sambil merogoh tas keresek di sampingnya.
Ia menarik sebuah botol minuman. Tampaknya ia ingin minum, tapi botol itu sudah kosong.
“Ouh, habis,” keluhnya.
Saptari membuka tas yang dibawanya. Ia selalu menaruh sebotol air minum setiap bepergian. Ia mengambil botol itu dan diberikannya kepadanya.
“Ini apa?”
“Minuman. Hanya air. Ibu minum saja, masih utuh, saya belum meminumnya.”
Wajah wanita itu tampak lega. Ia minum dengan bersemangat. Tampaknya memang sangat haus.
Saptari tersenyum. Tiba-tiba ia merasa seperti pernah mengenal wanita itu.
“Kok seperti pernah mengenalnya ya, di mana, dan kapan, aku kok lupa. Tapi aku yakin pernah mengenalnya," pikir Saptari.
Saptari mengingat ingat, apakah wanita itu dulu pernah menjadi tetangganya sebelum kampungnya disapu banjir, atau mungkin orang sekampungnya yang lain? Tapi ia tak menemukan jawaban itu.
“Rumah Ibu di mana?”
“Jauh, di luar kota,” lalu ia menenggak lagi airnya.
Tiba-tiba sebuah angkutan kota mendekat.
“Bu, saya harus pulang. Ini ada makanan dan buah, untuk ibu saja ya,” kata Saptari sambil meletakkan keranjang yang sedianya akan diberikan kepada nenek Suli.
Ia segera naik ke atas angkutan kota yang membawanya pulang. Ada sesal karena ia belum bertanya lebih lanjut tentang wanita yang seperti pernah dikenalnya tadi.
Sementara wanita yang diberinya sekeranjang makanan itu merasa sangat senang, ketika membuka isinya. Ada roti, ada makanan macam-macam, dan ada setandan pisang. Ia merasa lapar dan segera melahap salah satu makanan yang ada.
“Orang baik … orang baik,” desisnya .
Ia mengambil lagi sebuah pisang masak, dan memakannya.
Tiba-tiba suaminya datang, dan heran ketika melihat sang istri duduk sedangkan sekeranjang besar berisi makanan ada di depannya.
“Kok baru datang Pak? Ketemu?”
“Tidak, kata tetangganya dia sudah meninggal beberapa tahun lalu.”
“Oh, sayang sekali. Kita jadi tidak bisa menumpang di rumahnya,” keluh sang istri.
“Ini tadi dari mana?”
“Ada orang baik memberikan ini semua. Makanlah dulu, tadi aku kelaparan dan hampir pingsan. Kalau tidak ada wanita baik itu pasti kamu harus menggotong aku entah aku masih hidup atau sudah mati."
“Ngomongnya ada-ada saja,” kata sang suami yang kemudian duduk dan ikut melahap buah pisang dari keranjang itu.
“Wanita baik itu, aku seperti pernah mengenalnya,” kata sang istri pelan, sambil seperti sedang mengingat-ingat.
***
Besok lagi ya.
Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulillah no 2
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDelete๐๐ซ๐๐ซ๐๐ซ๐๐ซ
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐
Cerbung DeCeDeAaeM_25
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ๐๐ฆ
๐๐ซ๐๐ซ๐๐ซ๐๐ซ
Alhamdulilah. DARAH. CINTA DAN AIR MATA Telah tayang. Terimakasih Bunda.
ReplyDeleteSemoga sehat slalu. Beserta keluarga tercinta
Trmksh mb Tien, smg sht sll๐
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung DC &AM telah tayang
ReplyDeleteTerima kasih,semoga bunda Tien dan keluarga sehat ๐คฒ
Alhamdulillah cerbung DC &AM telah tayang
ReplyDeleteTerima kasih,semoga bunda Tien dan keluarga sehat ๐คฒ
Alhamdulillah, telah tayang.
ReplyDeleteSehat selalu bunda...aamiin.
Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~25 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.๐คฒ
Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 25 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
ReplyDeletebersama keluarga tercinta . Aamiin1