SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 019
(Tien Kumalasari)
Menur masih terpana mendengar perkataan pak kepala sekolah. Seakan tak percaya akan apa yang dikatakannya.
“Bu, memang begitulah adanya. Pak Baroto sudah kenal saya sejak lama. Beliau ikut membantu ketika sekolah ini direnovasi. Dia teman sekolah saya waktu SMA, jadi dia sangat mempercayai saya,” kata kepala sekolah itu panjang lebar. Padahal Menur tidak menanyakan tentang hubungan Baroto dengan kepala sekolah itu. Ia hanya sangat terkejut atas apa yang dilakukan Baroto kepada Rahman.
“Nama saya Irwan.”
Menur juga tak menanyakan namanya.
Untunglah dulu ketika membayarkan uang sekolah Rahman dia tidak memperkenalkan dirinya sebagai pembantu Rahman seperti permintaan Rahman. Hanya membayar begitu saja dan pihak sekolah juga tidak menanyakan siapa dirinya. Karena itu kepala sekolah kelihatan menghormati Menur, yang pastinya dianggap sebagai kerabat Baroto, atau bahkan istrinya. Apalagi waktu itu Menur berpakaian rapi, jauh bedanya ketika masih menjadi pengais sampah. Kepala sekolah hanya berpikir, Baroto melakukannya tanpa sepengetahuan istrinya, sehingga sang istri terkejut.
“Bu, apakah masih ada yang akan Ibu tanyakan?” kata Irwan sang kepala sekolah ketika melihat Menur masih termangu.
“Oh, tidak … tidak lagi. Baiklah kalau begitu, terima kasih. Saya permisi.”
Menur mengangguk kemudian meninggalkan kantor sekolah dengan perasaan tak manentu. Ia sangat kesal kepada Baroto karena melakukan banyak hal untuk Rahman tapi tanpa sepengetahuan dirinya.
“Aku harus menegurnya nanti,” geramnya sambil melangkah ke rumah keluarga Baroto. Tapi apakah akan ada kesempatan untuk bicara? Menur meragukannya sehingga ia merasa gelisah sendiri.
***
Lili masih belum berangkat kerja ketika Menur datang. Menur langsung mendekat dan meminta maaf.
“Maaf, saya datang terlambat karena harus mampir ke sekolah anak saya,” katanya lembut. Selalu begitu kalau dia berkata.
“Tidak apa-apa. Ana sedang menunggumu di kamar. Dia belum mau mandi, walau sudah makan pagi,” kata Lili datar.
Baroto yang ada di dekatnya agak terkejut mendengar kalau Menur terlambat datang karena mampir ke sekolah anaknya. Pasti ia sudah tahu apa yang dilakukannya. Tapi sedikitpun Menur tak menoleh padanya, hanya berbicara pada Lili, lalu menuju ke kamar Ana.
Baru saja ia memegang gerendel pintu kamar Ana, Rumi datang dari belakang dan menghardiknya.
“Mengapa baru datang? Mentang-mentang dekat dengan majikan, bekerja semaunya,” katanya ketus.
“Aku sudah minta ijin sebelumnya. Ada urusan di sekolah anakku,” kata Menur mencoba sabar. Tak ketinggalan sambil mengulaskan senyuman.
“Enak saja, mentang-mentang bisa menyekolahkan anak … lalu ….”
Tapi ucapan Rumi terhenti ketika melihat tuannya lewat dan menatapnya dengan pandangan marah. Tuh kan, tuan Baroto tak akan rela Menur disalah-salakan, kata batin Rumi sambil ngeloyor ke belakang.
Tapi tanpa diduga, Baroto mengikutinya dari belakang sampai ke kamar makan.
“Menur bukan pembantu. Dia masih kerabat keluarga ini. Jaga mulut kamu,” pedas kata Baroto, membuat Menur menoleh ke belakang dan berkali-kali meminta maaf.
“Maaf, Tuan, maaf,” katanya kemudian bergegas pergi.
Ketika melangkah itu terpikir olehnya perkataan tuannya tentang ‘kerabat’. Jadi Menur itu masih kerabat? Mengapa nyonya majikan tak pernah memberi tahu kepadanya?
“Mas, kamu ngapain?” tiba tiba Lili menyusul ke ruang makan.
“Mau mengambil minum,” jawab Baroto, padahal dia tadi melihat Rumi berbicara sengit kepada Menur, yang walaupun pelan tapi wajahnya sangat tidak sedap dipandang. Karenanya dia pura-pura lewat dan sempat menegur Rumi.
“Aku berangkat dulu ke kantor.” tiba-tiba Lili menyusulnya.
Baroto menoleh, lalu mengikuti istrinya yang berjalan ke depan. Tumben pamit, pikir Baroto. Lili juga melambaikan tangannya ketika masuk ke mobilnya dan mulai menjalankannya. Agak mengherankan sikapnya hari ini. Hanya saja Baroto lupa mengatakan kalau besok pagi dia akan kembali ke luar negri.
***
Di kamar Ana, Lili sedang menegur Ana karena kembali mogok tidak mau mandi hanya karena menunggu dirinya.
“Ana kan sudah berjanji untuk tidak merubah kebiasaan walaupun bibi Menur ada di sini? Biar bibi Menur belum datang, kalau waktunya mandi juga harus mandi kan?”
“Ana takut bibi Menur tidak akan datang,” sungut Ana.
“Bibi hanya bilang terlambat, karena sedang ada keperluan di sekolah Rahman.”
“Tapi terlambatnya lama benar.”
“Karena harus bicara agak lama.”
“Nanti Ana tidak mau sekolah di rumah. Ana mau sekolah di sekolah Rahman.”
Tiba-tiba kamar Ana terbuka, dan Baroto muncul tiba-tiba.
“Papa, nanti Ana boleh sekolah di sekolahnya Rahman ya?”
Baroto tersenyum.
“Nanti kalau ajaran baru kita bicara lagi.”
Lalu Baroto berbisik di telinga Menur.
“Maaf, aku tadi ke sekolah Rahman.”
Menur tak menjawab, karena Ana memperhatikan. Ia melangkah menjauh, membetulkan baju Ana yang belum ditalikan. Tapi dibalik pintu yang sedikit terbuka, Rumi melihat ketika Baroto berbisik ke telinga Menur.
***
Menur sudah selesai mendandani Ana, kemudian mengajak Ana keluar dari kamar. Ketika melewati Baroto ia sempat menegur dengan suara lirih, tapi tandas.
“Aku tidak suka kamu melakukan semua itu.”
Lalu ia bergegas keluar, tapi sebelum sampai di pintu, ia mendengar Baroto berkata lirih juga, tapi cukup mengejutkan Menur.
“Karena dia anakku.”
Tangan Menur gemetar. Ketika sampai di luar, Menur melihat Rumi bergegas pergi.
“Bik Rumi tadi ngapain? Aku lihat berdiri di luar pintu.” kata Ana.
Mendengar itu, Baroto yang masih terpaku di dalam kamar segera keluar.
“Kamu mengintip?" Tegurnya keras.
“Tii … tidak Tuan, saya sebenarnya … mau .. mau mengambil baju kotor non Ana,” kata Rumi memberi alasan.
“Jaga sikap dan bicaramu.” tegurnya tandas.
Rumi hanya mengangguk, lalu bergegas pergi.
Ana duduk di ruang tengah, menarik tangan Menur agar duduk di sampingnya.
“Ana sudah makan?”
“Sudah, tadi bareng sama papa, sama mama. Bibi Menur belum datang-datang sih.”
“Besok bibi akan datang lebih pagi.”
“Nanti Ana sekolah.”
“Iya, bibi juga ingat. Ana duduk di sini dulu, bibi mau bereskan meja belajar dan buku-buku Ana ya.”
Ana mengangguk. Baroto mengambil sebuah boneka Ana di kamar, lalu memberikannya kepada Ana.
“Main dulu sendiri. Biar bibi Menur menyelesaikan tugasnya.”
Ana mendekap bonekanya dan mengangguk.
Baroto masuk ke ruang belajar Ana, melihat Menur merapikan meja belajar.
“Besok aku mau kembali ke luar negri.”
Menur mengangkat wajahnya sebentar, lalu kembali menata buku dan alat tulis Ana.
“Dari mana kamu yakin kalau Rahman anakmu? Hanya kira-kira? Aku harap jangan ngawur.”
“Tidak, aku sudah tes DNA, dan benar bahwa Rahman adalah darah dagingku.”
Menur kembali menatap Baroto.
“Tes DNA?"
"Yaa.. maaf aku lakukan diam-diam."
"Lalu apa? Kamu mau mengambilnya dariku? Jangan mimpi.”
“Aku hanya ingin bertanggung jawab pada darah dagingku. Memberikan yang terbaik, dan menjadikannya orang, seperti yang kamu inginkan.”
“Lalu apa?”
“Kalau mungkin aku akan menikahi kamu secara resmi.”
Menur terbelalak.
“Jangan membuat aku menjadi perempuan perusak rumah tangga.”
“Tapi kamu masih cinta kan?”
“Tidak.”
“Suara yang keluar dari bibirmu tidak kompak dengan pandangan matamu.”
Menur sudah selesai membereskan meja belajar Ana, lalu bergegas keluar. Tapi Baroto memegang tangannya.
“Jangan lancang.”
Menur menatap Baroto dengan tatapan marah. Ia mengibaskan tangannya, lalu keluar. Tapi lagi-lagi di luar ia berpapasan dengan Rumi.
“Oh, maaf. Meja belajar sudah disiapkan?” tanyanya. Tentu saja pura-pura. Ia sudah tahu kalau setiap kali Menurlah yang melakukannya.
“Sudah.”
Ketika mau pergi, ia melihat Baroto ada di dalam ruang belajar itu. Banyak hal sudah dicatatnya. Mulut monyongnya siap melaporkannya kepada nyonya majikan.
***
Hari itu Lili pulang dari kantor. Masih agak sore, tidak seperti biasanya. Ia meletakkan bungkusan-bungkusan yang tampaknya berisi makanan di meja, lalu berteriak memanggil pembantu.
“Mboook, bawa makanan ini ke belakang, sekalian tata di meja makan,” titahnya.
Sang pembantu tidak menunggu diperintah dua kali, ia segera melakukannya.
Kemudian Lili menuju ke kamar Baroto. Dilihatnya Baroto sedang berkemas.
“Mas, sedang apa?”
“Besok aku berangkat, sudah pesan tiket pesawat juga.”
“Kok buru-buru?”
“Beberapa hari yang lalu kamu bertanya, kok di sininya lama, sekarang mengatakan kalau aku terburu-buru,” tegur Baroto.
“Tiba-tiba masih ingin Mas ada di sini,” katanya agak pelan, sedikit malu.
“Sudah lama meninggalkan pekerjaan.”
“Kan bisa dipantau dari sini?”
“Ya, tentu itu aku lakukan.”
Baroto menutup kopor yang sudah disiapkan, lalu beranjak keluar.
“Aku beli makanan kesukaan Mas. Sate buntel di rumah makan yang terkenal enaknya. Sebenarnya sekali waktu ingin mengajak Mas makan di sana.”
Baroto merasakan keanehan sikap Lili di beberapa hari terakhir ini. Tapi dia membiarkannya. Ia juga menuruti makan bersama sang istri dengan sate yang dibelikannya.
Ana sudah makan sejak sore sebelum Menur pulang, karena ia tak biasa tidur terlampau malam. Lagipula mamanya selalu pulang malam, di mana Ana pasti sudah mengantuk.
Malam itu Baroto sudah mendahului masuk ke kamar, karena besok harus berangkat pagi-pagi.
Ada yang berat untuk ditinggalkannya, yaitu keberadaan Menur. Mengapa susah sekali merebut kembali hati Menur? Baroto lupa bahwa Menur adalah wanita santun yang tak mau sembarang bertindak.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Lili langsung masuk lalu menutup kembali pintunya.
“Mas, aku boleh tidur di sini ya?”
“App..pa?” Baroto terkejut.
“Aku takut, tiba-tiba mimpi buruk."
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda.
Seprang Pengais Sampah dan Sang Putri Kecil udah terbit. Semoga sehat slalu beserta keluarga
Alhamdulillah, telah tayang.
ReplyDeleteSehat selalu bunda...aamiin.
Duwun mb Tien, smg sht sll🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun, mugi2 Ibu sekeluarga sehat selalu
Alhamdulillah Cerbung Mingguannya sudah terbit.. maturnuwun Bu Tien, semoga Bu Tien beserta keluarga tetap sehat dan bahagia, serta senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
ReplyDeleteAamiin YRA 🤲
Alhamdulillah SPS&PK sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲