Tuesday, September 29, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 18

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  18

(Tien Kumalasari)

 

Bu Karimun tersenyum, tapi senyuman itu terasa pahit. Kenangan masa lalu itu terasa menyakitkan, mengiris jantungnya sampai berkeping-keping.

“Ya sudah Bu, jangan kamu pikirkan lagi. Yang harus kita pikirkan adalah kelanjutan hidup kita ini.. Kita harus bersyukur, karena betapapun susahnya, kita masih diberikan hidup dan selalu ada saja jalan untuk hidup.”

“Iya Pak, hidup ini adalah karunia. Dulu aku ingin sekali segera mati sehingga tak lagi merasakan papa dalam kehidupan ini. Tapi kemudian aku menyadari, bahwa kita bukanlah pemilik kehidupan ini. Kita tidak berhak menentukan mati dan hidup kita, dan apapun bentuknya harus kita syukuri. Ya kan Pak, itu juga yang selalu kamu katakan ketika kita sedang suntuk memikirkan kehidupan ini.”

“Ya sudah, tadi aku hanya mengatakan tentang anak muda ganteng itu, seandainya anak kita ada, pasti sudah sebesar dia. Sekarang jangan sampai karena ucapan aku itu lalu kamu menjadi sedih. Ayo kita makan dulu. Tadi pak sopir yang baik hati itu juga membelikan kita nasi dan lauknya di jalan. Ini Bu, ayo makan, sejak kemarin kita belum makan kecuali meneguk segelas air putih.”

Pak Karimun menyiapkan makanan yang berupa nasi bungkus dan lauk pauknya, karena ia tahu istrinya sedang sakit.

“Nanti setelah makan, aku antarkan kamu ke pak Mantri, agar diberikan obat untuk sakitmu itu Bu.”

“Apa Bapak punya uang? Atau kita jual sebagian beras ini agar kita punya uang?”

“Kamu itu bagaimana, apa aku tadi belum bilang kalau aku juga diberi uang oleh orang baik itu? Ini Bu, lumayan banyak.”

“Ya Allah, itu banyak sekali Pak. Bersyukur kita punya uang. Ketika Bapak sakit belum bisa bekerja, kita juga tidak perlu belanja untuk makan. Bahan makanan ini bisa kita makan selama sebulan..”

“Ia juga minta agar aku kontrol ke rumah sakit. Kepalaku ini kan luka dan tadi harus dijahit. Kata dokternya, seminggu lagi setelah obatnya habis harus kontrol.”

“Allah Maha Besar ….,” Bu Karimun mengusap air mata haru.

“Makanlah, nanti aku antarkan kamu ke pak Mantri.”

***

Malam itu Fajar menginap di hotel karena urusannya belum selesai.

“Bagaimana tadi kabarnya pak tua itu, Pak?” tanya Fajar kepada pak Manan ketika mereka sedang duduk di lobi hotel.

“Sudah saya antarkan ke rumahnya, Pak. Ini catatan pengeluaran uangnya, untuk beli beras dan lain-lain, dan sedikit makanan karena katanya sejak kemarin belum makan, lalu sisanya berupa uang saya berikan semua kepada pak Karimun.”

“Ya sudah, tidak apa-apa, syukurlah pak Manan bisa menyesaikan semuanya. Entah mengapa, aku merasa iba melihat pak tua tadi. Eh, siapa namanya?”

“Pak Karimun.”

“Nah, pak Karimun. Pak Manan juga ketemu istrinya?”

“Istrinya kurus dan pucat. Tadinya ia berbaring di bangku panjang, lalu bangun, tapi kami tidak bicara banyak, karena harus segera menjemput Bapak.”

“Dan ternyata urusannya baru diselesaikan besok pagi.”

“Tidak apa-apa, tadi pak Pranoto bilang, kemungkinan harus menginap, jadi saya juga siap-siap membawa ganti baju.”

“Bagaimana keadaan rumah pak Karimun tadi?”

“Buruk. Dindingnya anyaman bambu, atapnya rumbai. Lantainya juga lantai tanah. Benar-benar keadaannya memprihatinkan.”

“Pak Manan bisa bekerja apa?”

“Katanya tadi kan dia bekerja apa saja untuk membantu orang-orang.”

Mereka diam, lalu Fajar meminta pak Manan agar beristirahat, karena besok pagi mereka akan pulang setelah menyelesaikan urusannya di kantor.

Fajar masuk ke dalam kamarnya sambil memikirkan sesuatu. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa iba melihat keadaan pak Karimun dan istrinya.

***

“Mas Fajar tidak pulang, berarti dia menginap ya Pak?” tanya Mentari kepada ayahnya.

“Dia sudah memberi tahu bapak. Dia akan pulang besok pagi setelah urusannya selesai.”

“Sepi nggak ada mas Fajar.”

“Padahal kamu selalu digangguin, ketika dia tak ada kamu merasa kesepian kan?”

“Mas Fajar itu memang agak nakal, sering gangguin Mentari, tapi dia kan baik dan sayang sama Mentari. Mentari minta apa saja pasti diberi.”

“Kamu juga jangan manja, ingat, kamu itu sudah besar, hampir lulus SMA, hampir kuliah, dan kamu juga harus belajar bisnis, karena kamu harus memegang salah satu perusahaan bapak, nantinya.”

“Aduuh, Mentari belum memikirkannya Pak. Bekerja pasti berat. Berangkat pagi, pulang sore, terkadang malam.”

“Mentari, tidak ada orang bekerja yang merasa pekerjaan itu enteng. Semuanya berat. Uang didapat hanya dengan berusaha. Jangan mentang-mentang sekarang hidup kamu berkecukupan lalu malas berusaha.”

“Iya, kan masih lama Pak.”

“Biarpun lama, nanti sambil kuliah kamu harus belajar.”

Mentari merengut, tapi ia mengerti bahwa orang tuanya bermaksud membuat dirinya bisa belajar untuk bekal di kemudian hari kelak.

***

Sore itu koran di tangan Sarah sudah habis, tapi dia masih duduk termangu di bawah pohon, di mana dia selalu beristirahat. Apakah ada yang ditunggunya?

Bimo yang baru pulang dari bekerja, melihatnya heran. Tadi di kantor dia di panggil pimpinan, dan banyak yang ditanyakannya. Entah mengapa, pak Pranoto sendiri yang bertanya tentang keluarganya. Sudah saatnya pulang ketika itu, jadi sore itu dia pulang terlambat. Ia tak berharap ketemu Sarah, karena dihari sesore itu biasanya Sarah sudah pulang. Tapi ia heran melihat Sarah masih duduk di sana.

“Sarah!”

Ketika ia menyapa, Sarah tampak sudah berdiri, tampaknya baru akan beranjak pulang.

“Kamu belum pulang?”

“Belum, eh … ini mau pulang. Kok mas Bimo baru pulang?”

“Iya, tadi disuruh menghadap pimpinan.”

“Kena marah?”

“Tidak, aku kan tidak melakukan kesalahan. Hanya ditanya-tanya soal keluarga dan kehidupan saya. Nggak tahu kenapa.”

“Mau dikasih gaji lebih banyak,” canda Sarah.

Bimo tersenyum sambil mengaminkan.

“Sebenarnya aku mau cerita, tapi nanti kamu kesorean, besok saja ya.”

“Cerita apa sih?”

“Besok saja, ini sudah sore.”

“Ya sudah, ini juga sudah kesorean. Aku pulang ya Mas,” kata Sarah sambil melambaikan tangannya dan berlalu.

Walau begitu sebentar-sebentar dia menoleh ke jalan. Seperti ada yang dicarinya. Bibirnya perlahan membisikkan sesuatu.

“Mengapa hari ini dia tidak lewat ya?” 

Lalu Sarah mengomeli dirinya sendiri. 

"Ada apa aku ini? Mengapa aku mengharapkan dia lewat? Ini ada apa? Tidak, mengapa aku memikirkannya?" kata batinnya berkali-kali.

Sementara itu Bimo pulang dengan pikiran yang digambarkannya sendiri.

“Sarah tidak pulang karena menunggu aku kan? Biasanya aku pulang agak sore, dan itu terlambat sejam lebih . Pasti Sarah tidak mau pulang sebelum bertemu aku. Kan aku sudah bilang, kalau aku bersikap baik, pasti Sarah juga akan jatuh hati padaku," kata batinnya sambil menuju rumah dan tersenyum-senyum sendiri.

***

“Mengapa pulangnya sudah sore, Sarah?”

“Iya Nek, menunggu koran habis,” kata Sarah sekenanya.

Padahal walau dagangannya belum habis dia pasti sudah pulang kalau hari sudah sore. Menunggu dia lewat? Diam-diam Sarah memukul pipinya sendiri.

“Hei, ada apa kamu ini? Mengapa wajah sendiri dipukul?”

Sarah tersipu.

“Ini Nek, Sarah kira ada nyamuk nempel.”

“Ada-ada saja, jam segini nyamuk-nyamuk masih tidur,” kata nenek Suli sekenanya.

“Sarah mandi dulu ya Nek.”

“Ya sudah mandi dulu sana, Nenek buatkan wedang jahe biar badan kamu segar. Nenek juga merasa tidak enak badan ini.”

“Tuh kan, Nenek jangan kecapekan. Bekerja sekuatnya saja.”

“Iya, Nenek tahu, tapi memang lagi musim orang sakit, bukan karena kecapekan. Sudah, katanya mau mandi.”

***

Belum terlalu siang ketika Fajar mengajak pak Manan pulang. Semuanya sudah selesai, dan ia tinggal melaporkan semuanya nanti kepada sang ayah.

“Tapi kita mampir ke rumah pak Karimun dulu ya.”

“Ke sana lagi Pak?” tanya pak Manan heran.

“Aku kan belum pernah ke sana, pengin lihat keadaannya saja.”

“Baiklah.”

Tapi ketika sampai di rumah pak Karimun, mereka mendapati rumah itu tertutup. Pak Manan berkali-kali mengetuk pintu, tapi tak terdengar suara dari dalam. Bahkan ketika ia mendorong pintunya yang ternyata tidak terkunci, rumah itu kosong.

“Tidak ada orang, Pak.”

“Pergi ke mana?”

“Nggak ada yang bisa ditanya Pak, rumah ini jauh dari tetangga.”

***

Besok lagi ya.

 

 

16 comments:

  1. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~18 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  2. πŸ„πŸͺ΄πŸ„πŸͺ΄πŸ„πŸͺ΄πŸ„πŸͺ΄
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_18
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    πŸ„πŸͺ΄πŸ„πŸͺ΄πŸ„πŸͺ΄πŸ„πŸͺ΄

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda udah tayang.
    Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta. Salam.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulilah, ceebung kesayangan sampun tayang ... maturnuwun bu Tien.. doaku semoga bu Tien selalu sehat wal afiat dan tetap berkarya .. salam gangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah "Darah, Cinta dan Air Mata 18" sdh tayang. Matur nuwun & sugeng dalu Bu TienπŸ™

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah
    Terima kasih Bu Tien
    Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 18 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah, DCDAM eps~18》sdh tayang, terimakasih bunda Tien, sehat sealu, bahagia dan tetap seamangay

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah cerbung DC&AM sudah tayang
    Terima kasih bunda,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🀲🀲

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 18

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  18 (Tien Kumalasari)   Bu Karimun tersenyum, tapi senyuman itu terasa pahit. Kenangan masa lalu itu terasa meny...