Saturday, September 26, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 16

 DARAH CINTA DAN AIRMATA  16

(Tien Kumalasari)

 

Fajar menatap OB gendut itu dengan heran. Dan si OB yang bernama Panut itu cuma cengar cengir seakan mengejeknya.

“O, rupanya kamu belum pernah masuk ke ruang direksi ya, lalu ketika kamu mau masuk lalu berpakaian seperti itu. Bagus sekali, dari mana kamu pinjam baju dan jas itu? Gila, kamu sudah seperti direktur muda. Kamu nyewa ya? Di mana, aku mau ikutan ah, minggu depan kakak sepupuku jadi pengantin,” dan si gendut itu terus mengoceh sambil memandangi Fajar dari depan, samping dan belakang.

Fajar diam beberapa saat dan menatap ulahnya yang aneh.

“Kamu belum pernah melihat putra pak Pranoto ya?”

“Putra pak Pranoto? Ya belum, memangnya kenapa?”

Pada saat itu tiba-tiba Bimo muncul sambil membawa baki kosong. Ia baru membawa minuman untuk para staf. Melayani direktur utama bukan bagiannya.

Ia heran melihat Panut cengar-cengir sambil memandangi seseorang, dan Bimo terkejut ketika melihat siapa orang itu.

“Mas Fajar?”

“Bimo, kamu di sinii?” katanya sama-sama terkejut.

Dan Panut tiba-tiba menjadi surut. Ia terbelalak menatap keduanya, lalu sadar bahwa yang diganggunya bukanlah Bimo.

“Si … siapa ini? Maaf, say … saya kira Bimo. Kok persis banget,” katanya sambil mundur menjauh, takut barangkali laki-laki yang dipanggil Bimo itu akan menghajarnya.

“Kamu bekerja di sini Mas Bimo?”

“Iya, saya OB. Mas Fajar ke sini mau mencari siapa? Ruang direktur di situ,” kata Bimo sambil menunjuk ke arah ruang pak Pranoto.

“Iya, aku masuk dulu. Nanti kita bicara,” kata Fajar sambil tersenyum, kemudian masuk ke ruang sang ayah.

Adalah si gendut Panut yang kelimpungan, ia berdiri mematung dengan mulut melongo.

“Hei, tutup mulut kamu, nanti ada cicak masuk ke dalamnya baru tahu rasa kamu,” ledek Bimo.

Panut sontak menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Ini bagaimana? Aku bingung ,… itu tadi siapa? Aku kira kamu menyewa pakaiaan bagus gara-gara mau ketemu pak Pranoto.”

“Aku juga belum tahu.”

“Tapi sepertinya kalian sudah saling kenal. Itu saudara kembar kamu?”

“Gila apa? Aku ini miskin, masa saudara kembar aku ganteng gagah seperti itu. Itu kan potongan orang kaya. Ke mana-mana dia pakai mobil.”

“Tapi kamu seperti sudah saling kenal? Bagaimana mungkin wajah kalian bisa persis seperti itu?”

“Aku juga tidak tahu. Beberapa orang mengatakan itu. Sudah, aku mau melanjutkan pekerjaan aku.”

“Bukannya kamu disuruh menunggu oleh tamu itu tadi? Katanya dia mau bicara.”

“Tapi aku masih harus mengantarkan minum ke bagian logistik.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Kalau dia butuh, pasti juga akan mencari kamu.”

Dan mereka berpisah, Panut melanjutkan pekerjaannya sambil terus berpikir tentang tamu yang dikiranya Bimo, dan diledeknya habis-habisan. Ada rasa takut kalau tamu itu marah lalu melaporkannya kepada pak Pranoto.

“Bagaimana kalau aku dipecat?”

***

Di dalam ruangan, pak Pranoto sedang bicara serius dengan Fajar. Ada sebuah kantor cabang yang harus ditangani, dan letaknya ada di kota lain.

"Hari ini kamu harus berangkat ke sana, dengan membawa berkas-berkas yang sudah disiapkan sekretaris. Sudah ada yang aku percaya untuk memegang kendali di sana, tapi kamu harus datang dan memperkenalkan diri, agar dia tahu bahwa ada anakku yang lebih aku percaya."

“Apakah Fajar harus berangkat hari ini juga?”

“Sebaiknya hari ini, supaya semuanya cepat selesai. Kalau oke, kamu bisa langsung pulang, tapi kalau kelihatannya masih ada yang harus kamu selesaikan, selesaikan dulu sampai selesai.”

“Baik. Tapi sebelum itu Fajar ingin bertanya. Bapak mempekerjakan seorang OB bernama Bimo?”

“Aku mendengar itu, tapi penerimaan OB itu bukan bapak yang menangani. Ia juga tidak bertugas di ruangan ini karena masih baru. Memangnya kenapa? Dia berbuat tidak sopan sama kamu?”

“Tidak. Dia baik. Coba Bapak panggil dia untuk masuk ke ruangan ini.”

“Memangnya kenapa?”

“Nanti Bapak akan melihat sebuah keanehan.”

Pak Pranoto memencet interkom ke arah ruangan OB dan memanggil Bimo.

Sambil menunggu itu pak Pranoto bertanya lagi, ada apa dengan Bimo?

“Bapak belum pernah melihatnya?”

“Belum, masalah OB itu sudah ada yang menangani. Memangnya ada apa?”

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, dan masuklah Bimo. Fajar menyambutnya tersenyum, lalu meraih lengannya, memintanya mendekat.

Pak Pranoto menatap keduanya yang berdiri berjajar, dan terkejut.

“Bagaimana wajah kalian bisa sama?”

“Fajar juga heran. Teman Fajar juga mengatakan itu.”

“Bedanya adalah, badan kamu lebih tegap dan Bimo ini … agak kurusan sedikit.”

Bimo menundukkan wajahnya. Ia bingung ketika dipanggil pimpinan tertinggi di perusahaan itu, dan heran karena hanya disuruh berdiri di dekat Fajar.

“Kamu mengenal dia?”

“Kenal, hanya sambil lalu, tapi bukan sekali atau dua kali yang mengatakan bahwa wajah kami mirip seperti kembar. Apakah dulu Fajar dilahirkan kembar?”

“Kamu ada-ada saja. Kalau bapak tahu bahwa bapak punya anak kembar, mana mungkin bapak terkejut ketika melihatnya. Tidak, kalian tidak kembar. Hanya sebuah keajaiban bahwa wajah kalian mirip. Bagus sekali Bimo, apa kamu tahu bahwa Fajar ini adalah anakku?”

Sekarang Bimo terkejut, tentu saja dia tidak tahu bahwa Fajar adalah anak majikannya. Ia langsung menjauhkan diri dari Fajar lalu membungkuk hormat.

“Mohon maaf, saya tidak tahu Pak.”

Fajar justru tertawa.

“Hei, ada apa kamu ini, kita tetap berteman. Tidak usah membungkuk-bungkuk begitu.”

“Tapi.”

“Tidak ada tapi, tetaplah bekerja dan sekarang lanjutkan pekerjaan kamu,” titah Fajar yang ditaati Bimo yang tentu saja susah menghilangkan sikap hormatnya. Fajar kan anak pimpinan tertinggi di perusahaan ini?

“Saya akan segera berangkat, tapi kalau boleh, apakah bisa Bimo ditempatkan di divisi yang lebih pantas”

“Maksudmu bukan OB?”

“Kalau Bapak tidak keberatan.”

“Akan bapak pikirkan, sekarang pergilah dan hati-hati.”

***

Sesampai di rumah sepulang dari bekerja, Bimo dengan sangat heboh menceritakan kepada sang ibu, bahwa anak pimpinan perusahaan di mana dia bekerja, wajahnya persis dengan dirinya.

“Wajahnya mirip kamu?”

“Bukan hanya mirip, persis Bu.”

Lalu Bimo menceritakan sambil tertawa-tawa, tentang rekan kerjanya yang mengira anak direktur utama itu dikira dirinya.

Saptari mengerutkan kening. Ia hanya tersenyum tipis ketika Bimo menceritakan hal yang baginya adalah lucu.

“Apakah Ibu melahirkan aku sebagai anak kembar?”

“Bimo, jangan bermimpi. Anakku ya hanya kamu itu.”

“Kok bisa ya Bu, ada orang wajahnya persis.”

“Allah itu Maha Kuasa, Maha Bisa. Mungkin saja wajah kalian sama, bukan hal aneh bagi Allah karena Dia yang menciptakannya. Sekarang mandi dan makanlah, tumben kamu cepat pulang, tidak bertemu Sarah dulu seperti biasa?”

“Gara-gara mengalami hal yang luar biasa tadi, jadi ingin segera pulang dan bercerita pada Ibu.”

“Ya sudah, tidak usah dipikirkan, mandi dan makanlah, Ibu sudah menyediakan makan kesukaan kamu.”

Bimo mengangguk. Ia berjalan ke arah kamar mandi, membiarkan sang ibu melamun di kursinya. Entah apa yang dipikirkannya.

***

Fajar hanya pulang sebentar, berpamit kepada sang ibu tentang tugas yang diberikan ayahnya, kemudian segera memanggil sopir untuk mengantarkannya bertugas.

Jalanan agak rame ketika ia melintasi sebuah tikungan. Pak Manan, sopir setengah tua itu mengendarai mobilnya pelan.

“Mengapa macet sekali ya Pak?”

“Sepertinya di depan ada kecelakaan.”

Lalu mobil yang dikendarai pak Manan sampai di jalan, di mana seorang laki-laki setengah tua bersandar di trotoar, dirubung orang-orang.

“Pak, sepertinya orang itu butuh bantuan. Bisakah kita membawanya ke rumah sakit?”

“Apa tidak kelamaan Pak, nanti terlambat sampai di kantor cabang.”

“Tidak apa-apa, kasihan sekali bapak itu. Berhentilah dulu.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

18 comments:

  1. Alhamdulillah
    terima kasih Bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun Bu Tien. Sugeng dalu πŸ™

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~16 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 16 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah maturnuwun bu Tien, cerbung kesayangan sampun tayang..
    Doaku semoga bu Tien beserta pak Tom dan amancu selalu sehat wal afiat dan penuh berkah aamiin yra... salam hangat dan aduhai aduhai bun❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu.
    Siapa ya bapat yg mendapat kecelakaan... Tunggu hari Senin.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah.
    Semoga Bunda Tien,sehat selalu.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, Fajar dan Bimo sdah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah
    Maaf baru muncul lagi ada telepon dari Banyuwangi.
    Matur nuwun Dhe, salam SEROJA πŸ€πŸ€πŸ™

    ReplyDelete
  12. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  13. Terimakasih bunda Tien, cerbung Darah, Cinta dan Air .sta sdh tayang, sehat selalu bunda Tien sekeluarga 🀲😍πŸ₯°

    ReplyDelete
  14. 🌻πŸͺ»πŸŒ»πŸͺ»πŸŒ»πŸͺ»πŸŒ»πŸͺ»
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_16
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    🌻πŸͺ»πŸŒ»πŸͺ»πŸŒ»πŸͺ»πŸŒ»πŸͺ»

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah, cerbung DCDAM sudah tayang ,
    Terima kasih bunda.
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🀲

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 16

  DARAH CINTA DAN AIRMATA  16 (Tien Kumalasari)   Fajar menatap OB gendut itu dengan heran. Dan si OB yang bernama Panut itu cuma cengar cen...