Friday, September 25, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 15

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  15

(Tien Kumalasari)

 

Fajar turun dari mobilnya, lalu menatap Sarah yang wajahnya berseri-seri.

“Korannya masih ada berapa?”

“Memangnya Mas mau beli berapa? Beli koran seperti beli makanan saja,” omel Sarah sambil tersenyum. Tapi ia mengulurkan selembar koran kepada Fajar.

“Aku bilang semua.”

“Semua? Kamu ketularan Mentari ya, borong-borong koran?”

“Ada yang mau, trus nanti aku bagi-bagi.”

“Bener nih?”

“Ya bener, masa aku bohong sih?”

“Tinggal lima … eh, enam lembar.”

“Baik, mana, berikan padaku.”

“Bener nih?”

“Gimana sih kamu ini? Semua ya semua, ini uangnya.”

“Jangan bilang nggak mau menerima kembaliannya ya, tunggu.”

“Tidak usah, ini cukup.”

“Mas, kok gitu sih.”

“Lebih baik gitu, daripada gini,” canda Fajar.

“Kamu kemarin nggak jualan ya?” tambah Fajar.

“Iya, di rumah ada tamu.”

“Oh, tamu penting rupanya. Ngelamar kamu?”

”Iya.”

“Eh, selamat ya. Kapan nikah?”

“Jangan ngaco ah, sudah, sana pergi, aku mau pulang.”

“Pulang?”

“Iya pulang, kan dagangan sudah ada yang borong? Nenek pasti senang aku pulang lebih awal.”

“Sayang aku belum pernah ketemu nenek kamu. Waktu mengantarkan kamu malam-malam itu, aku kan nggak sempat mampir.”

“Memang nggak aku bolehin mampir. Kan sudah malam.”

“Kapan-kapan aku mau ke rumah kamu.”

“Jangaaaan.”

“Kok jangan.”

“Mau apa ke rumah aku? Rumahku jelek. Kamu nggak pantas masuk ke rumah orang miskin.”

“Kata siapa? Aku kan mau ketemu nenek kamu, bukan ketemu rumah kamu.”

“Sudah, pergi sana, aku mau cepat pulang.”

Fajar tersenyum, lalu melambaikan tangannya ke arah Bimo yang berdiri mematung di bawah pohon. Bimo membalasnya, sambil tersenyum juga.

***

Sarah kembali mendekati Bimo, ia ambil sisa air minumnya, lalu sambil ngelesot ia menenggaknya habis. Bimo menatapnya sambil tersenyum. Sarah merogoh sakunya dan menghitung uang pendapatannya.

“Banyak?” tanya Bimo.

“Lumayan. Bisa setoran dan mendapat sisa yang lumayan. Habis, mas Fajar tadi tidak mau menerima kembalian sih. Sebenarnya nggak enak juga, tapi dia memaksa, bagaimana.”

“Tidak apa-apa. Itu kan rejeki buat kamu. Dia baik sekali pada kamu ya.”

“Mas Bimo juga baik sekali padaku.”

“Tapi Aku tidak punya uang lebih untuk memborong koran kamu. Apalagi aku belum lama bekerja dan hanya sebagai pesuruh kantor. Kantor yang baru dibuka juga.”

Sarah terkekeh lucu.

“Mengapa bicara tentang memborong koran? Mas Fajar bilang korannya akan dibagi. Masa beberapa koran akan dibaca sendiri.”

“Dia hanya ingin membantu kamu.”

“Mas Bimo juga banyak membantu aku. Jangan dinilai uangnya. Apa yang mas  Bimo lakukan sangat berarti bagi aku. Mas Bimo salah satu sahabat aku yang terbaik.”

“Tapi aku miskin.”

“Apakah kebaikan dinilai dari kaya dan miskin? Kebaikan bisa berupa apa saja bukan? Mas Bimo terlalu merendah. Jangan berkecil hati ketika nasib membawa kita kepada hidup yang kekurangan atau pas-pasan. Dan jangan berbangga hati kalau memiliki harta yag berlimpah ruah. Manusia itu sama saja di mata Allah.”

“Ya ampun Sarah, kamu masih sangat muda tapi bisa bicara demikian bijak. Aku semakin kagum pada kamu.”

“Ada-ada saja, biasa ya, Aku kira mas Bimo juga punya pemikiran yang sama. Jangan dianggap aku menggurui, karena aku tahu bahwa mas Bimo sudah mengerti. Ayo kita pulang, sudah sore,” kata Sarah sambil bangkit.

Mereka berpisah, meninggalkan rasa tak menentu di hati Bimo. Ia melihat bagaimana Sarah menyambut Fajar. Begitu bersemangat, begitu segar senyumannya. Dan itu membuatnya semakin kecil.

“Apakah Sarah lebih tertarik pada Fajar yang lebih ganteng dan kaya?”

Sambil melangkah pulang, Bimo terus berpikir tentang cara Sarah menyambut kedatangan Fajar. Cemburu? Barangkali iya. Bukankah cemburu itu milik sebuah rasa cinta?

***

"Mas.. kok kamu ikut-ikutan aku memborong koran? Pasti koran dagangan Sarah kan?” kata Mentari ketika melihat sang kakak meletakkan setumpuk koran di atas meja.

“Iya, setiap kali dari kantor Aku kan lewat sana. Kasihan saja, korannya tinggal sedikit, lalu aku ambil semua.”

“Aku juga kasihan sama Sarah, pulang sekolah masih harus jualan koran. Apa nggak capek ya?”

“Ia ingin meringankan beban neneknya yang hanya tukang cuci di rumah tetangga.. Bukan main dia itu, aku kagum pada dia.”

“Jangan-jangan Mas jatuh cinta,” ledek Mentari.

Fajar terkejut mendengar olok-olok sang adik.

“Apa? Jatuh cinta?”

“Selama ini Mas tak pernah perhatian kepada gadis-gadis yang mendekati Mas, tapi mengapa perhatian Mas pada Sarah begitu besar? Pasti ada sesuatu nih.”

“Jangan asal menuduh.”

”Ada apa nih, kakaknya baru pulang kok langsung heboh," kata sang ibu yang tiba-tiba muncul.

“Ini lho Bu, mas Fajar ikut-ikutan memborong koran.”

“Memborong koran? Iya, Kamu juga bawa koran banyak nih.”

“Kasihan sama yang jual. Itu kan teman sekolahnya Mentari. Pulang sekolah langsung jualan koran, jadi karena kasihan, Fajar ikut memborongnya, supaya dia cepat pulang, tidak menunggu sampai korannya habis terjual.”

“Iya Bu, kasihan Sarah. Tapi sepertinya mas Fajar jatuh cinta nih, sama Sarah.”

“Apa? Ngaco kamu,” kata Fajar yang kemudian langsung pergi masuk ke kamarnya.

“Mentari, mengapa kamu mengira kakakmu jatuh cinta sama penjual koran itu?”

Mentari tertawa.

“Sarah itu polos, tapi cantik, dia juga pintar. Kalau mas Fajar suka sama dia ya wajar kan Bu. Buktinya setiap hari lewat di mana Sarah jualan koran. Dari membeli satu-satu, kemudian memborongnya, setelah kemarin lusa melihat Mentari memborongnya karena kasihan.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan Mentari. Masa kamu jodoh-jodohkan kakak kamu sama seorang gadis penjual koran?” kata sang ibu dengan wajah muram.

“Bukan menjodohkan Bu, hanya barangkali saja.”

“Jangan sampai aku punya menantu tukang jualan koran. Kasihan boleh, membantu juga bagus, tapi suka? Jatuh cinta? Amit-amit deh.”

“Ibu tidak suka?”

“Apa yang kamu pikirkan Tari, Kamu suka punya kakak ipar penjual koran? Tidak malu?"

“Ibu jangan marah dulu, Mentari hanya mengganggu mas Fajar.”

“Hanya mengganggu, kalau keterusan, lalu kakak kamu benar-benar suka, amit-amiiiit.”

“Dia itu cantik, pintar, baik kepada siapa saja lhoh Bu.”

“Tapi dia miskin kan?”

Mentari merengut, dia tak sependapat dengan ibunya, yang kelihatan merendahkan orang miskin. Tapi ia tak menjawab apapun lagi, sampai ibunya kembai ke arah belakang, dan Mentari pergi mandi.

***

Fajar bukan tak mendengar apa yang dikatakan sang ibu. Ada rasa miris yang mengiris. Walau belum mengakui kalau dia jatuh cinta, tapi ia suka pada gadis itu. Ia sangat gesit dan bersemangat. Dia tak malu melakukan hal yang tidak banyak dilakukan oleh gadis-gadis muda. Menembus keramaian jalan demi menjajakan dagangan koran, dan belum tentu ada yang membelinya juga.

Pertama kali melihat Sarah, ia hanya kasihan, lalu membeli selembar koran, tapi beli selembar koran itu kemudian menjadi kebiasaan. Ia bukan hanya berhenti di tengah jalan saat mengemudikan mobilnya sepulang kantor, tapi ia memerlukan minggir, hanya demi bisa melihat senyuman Sarah yang memikat. Mengapa juga hatinya tertarik? Fajar belum menemukan jawabannya. Seandainya kemudian rasa cinta itu perlahan tumbuh, ia tak yakin perjalanan cintanya akan mulus. Belum apa-apa sang ibu sudah menunjukkan rasa tak sukanya, dan itu akan sangat berat baginya untuk melangkah. Tapi benarkah dia jatuh cinta? Sampai malam dan ketiduran, Fajar belum menemukan jawabannya.

***

Hari itu Fajar pergi ke kantor ayahnya, yang agak jauh dari kantornya sendiri, walau setiap hari dilewati. Pak Pranoto yang meminta, karena akan ada tugas penting yang akan diberikannya.

Ketika memasuki halaman, dia menjadi perhatian para karyawan. Fajar belum pernah ke kantor sang ayah sejak sang ayah menduduki pimpinan di sebuah kantor cabang yang didirikannya.

Ketika ia hampir memasuki ruang kantor ayahnya, seorang OB menegurnya.

“Hei, Bimo, ada apa kamu berpakaian rapi seperti itu?”

Fajar berhenti melangkah. Ia tidak salah dengar kan? Tadi OB yang gemuk pendek itu memanggilnya Bimo?

***

Besok lagi ya.

19 comments:

  1. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Tien.
    Semoga Bunda dan keluarga sehat walafiat. Banyak Rizki. Jauhkan balai
    Salam sehat slalu

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sampun tayang... doaku utk bu Tien sekeluarga semoga sll sehat wal afiat dan penuh berkah ...
    Salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, telah tayang..
    Sehat selalu bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah "Darah, Cinta dan Air Mata 15" sdh tayang. Matur nuwun & sugeng dalu Bu TienπŸ™

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien, sehat selalu

    ReplyDelete
  8. Alhamdullilah .trima ksih bunda .slm shr sll unk bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, DeCeAaeM_15 sudah ditayangkan. Bimo rupanya akan diangkat sebagai karyawan tetap di perusahaan cabang baru kepunyaan pa Pranoto ayah Fajar.
    Semoga ada titik terang hubungan antara Bimo dan Fajar, agar tdk menimbulkan rasa penasaran.

    Terima kasih mBak Tien, sehat selalu dan selalu sehat ya, Aamiin 🀲🀲🀲

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 15 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  12. πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung DeCeDeAaeM_15
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~15 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah,DCAM telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™, mungkin Bimo memang kembaran Fajar yg terpisah Krn proses perjalanan hidup manusia yg kita TDK tau, semoga ketemu titik kebahagian si kembar..

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah DC&AM sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🀲

    ReplyDelete
  17. Naah...bener kan, ada yg konfirmasi lagi tentang kemiripan Bimo dengan Fajar...apalagi ternyata Bimo jadi OB di kantor ayahnya Fajar, seru nih...πŸ˜€

    Terima kasih, ibu Tien. Sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 15

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  15 (Tien Kumalasari)   Fajar turun dari mobilnya, lalu menatap Sarah yang wajahnya berseri-seri. “Korannya masi...