Wednesday, September 23, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 13

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  13

(Tien Kumalasari)

 

Bu Saptari menatap sang putra tak berkedip.

“Ini beneran? Kamu pengin Sarah menjadi istri kamu?”

“Iya Bu, ini cinta pada pandangan pertama.”

“Ya ampun, jadi penasaran aku, seperti apa wajah Sarah sekarang. Kalau dulu sih bayi, tapi meskipun bayi sudah kelihatan kalau dia cantik. Bibirnya tipis, hidungnya mancung. Eh, apa dia masih lesung pipit ya pipinya? Dulu kalau tertawa kelihatan benar pipinya lesung pipit.”

“Masih Bu. Lebih menarik lagi senyumnya.”

“Kelihatannya kamu benar-benar suka sama dia. Tapi Bimo, biar aku beri tahu, kamu mencari istri itu jangan hanya karena dia cantik. Kalau bisa ya cantik wajahnya, cantik budi pekertinya. Walau wajahnya kurang cantik, kalau pekertinya baik, tidak apa-apa. Yang penting cantik di dalamnya, bukan hanya wajahnya.”

“Bimo tahu, dia gadis yang luar biasa. Dia menjual koran setiap pulang dari sekolah, demi mencari uang untuk membantu neneknya, untuk meringankan bebannya. Bimo tertarik sejak pertama kali melihatnya, lalu jatuh cinta ketika sering bertemu dia.”

Saptari tersenyum.

“Anakku sudah dewasa ….”

“Sudah pantas punya istri kan?”

“Sudah bisa memilih, mana yang terbaik untuk hidupnya. Ibu bangga sama kamu Nak. Ibu percaya, pilihanmu pasti tidak salah.”

“Kalau begitu, penuhilah permintaan Bimo ya Bu.”

“Tentu. Besok ketika warung tutup, ibu akan menemui nenek Suli di rumahnya. Beri tahu ibu di mana alamatnya.”

“Tidak menunggu Bimo pulang kerja?”

“Tidak usah, kelamaan. Siang sebelum kamu pulang Ibu pasti segera berangkat. Kamu cukup memberikan alamatnya.”

“Baiklah. Ibuku memang yang terbaik”

Saptari mengelus kepala sang anak penuh kasih sayang.

“Ini sebuah keajaiban. Barangkali kamu memang berjodoh dengan Sarah. Pertemuan kalian yang tidak terduga mengatakan segalanya.”

Bimo tersenyum. Mimpinya akan menjadi nyata. Bisa berdampingan dengan gadis yang dikaguminya. Tapi apakah ia mau menerimanya? Tadi didepan neneknya dia terang-terangan menolak dijodohkan.

“Tapi neneknya kan hanya setengah bercanda. Kalau bicara serius, mungkin hasilnya akan beda,” kata batin Bimo yang terus ber andai-andai.

***

“Fajar, ternyata kamu di sini? Ibu cari-cari di dalam rumah tidak ketemu,” kata bu Pranoto yang menemui Fajar di kebun, di bawah pohon rindang yang memang dipergunakan untuk bersantai di kala hari terasa panas.

“Cari angin segar Bu. Berada di ruangan ber AC terlalu lama juga kurang baik. Udara di sini lebih segar.”

“Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak, mengapa Ibu berpikir begitu?”

“Tadi kamu sedang melamun bukan?”

“Tidak, hanya sedang menikmati segarnya angin di bawah pohon rindang ini.”

“Iya benar. Memang di sini terasa segar. Sebetulnya Ibu ingin meminta kamu mengantarkan Ibu belanja.”

“Sekarang?”

“Tadinya iya, tapi mengingat udara begini panas, jadi segan.”

“Bukankah di dalam mobil ada AC, di toko juga pasti dipasang AC.”

“Suasananya yang tidak menyenangkan. Nanti malam saja ya.”

“Sebenarnya Fajar kan sedang liburan di hari Sabtu ini.”

“Benar, tapi nanti malam saja. Kamu tidak berencana untuk ke mana-mana kan? Tapi kalau kamu ada rencana mau bepergian ya tidak apa-apa. Besok Ibu pergi sama Mentari saja.”

“Rasanya Fajar tidak ingin pergi ke mana-mana.”

“Baiklah, kalau begitu nanti malam saja. Tapi Fajar, coba katakan pada Ibu, kamu tadi sebenarnya sedang memikirkan apa?”

“Kan Fajar sudah bilang kalau Fajar sedang menikmati segarnya angin?”

“Tidak, seorang ibu akan tahu apa yang terjadi pada anaknya. Kamu sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan pacar? Kamu sudah punya pacar? Pastinya sudah kan? Pilihlah gadis yang baik kalau kamu sudah merasa serius.”

“Ibu ada-ada saja.”

“Katakan pada Ibu, siapa gadis itu.”

Fajar tertawa.

“Tidak ada Bu, Fajar belum laku.”

“Masa? Anak Ibu yang ganteng dan pintar ini belum laku? Katakan gadis mana yang menolak didekati anakku ini.”

Fajar tertawa sambil merangkul ibunya.

“Apa kelihatan kalau Fajar sedang jatuh cinta?”

“Nah, benar kan? Katakan pada Ibu, siapa dia, anak pengusaha mana, nama ayahnya siapa.”

Fajar tersenyum tipis. Mendengar pertanyaan sang ibu tentang ‘pengusaha mana’, sudah bisa dipastikan bahwa orang tua pasti memilih keluarga yang sejajar dengan keluarganya.

“Bagaimana kalau dia bukan pengusaha?”

“Oh ya, apa dia seorang konglomerat yang sudah pensiun?”

“Dia gadis biasa.”

“Ya, tentu saja gadis biasa. Perempuan, yang pasti cantik. Tak mungkin pilihanmu gadis yang kurang cantik. Pastinya harus sepadan dengan kamu kan? Ganteng dan cantik?”

“Apa Ibu ingin aku memiliki istri seorang gadis kaya? Anak pengusaha? Anak konglomerat yang sudah pensiun?”

“Ibu kan bertanya sama kamu. Barangkali saja salah satu diantaranya.”

“Bagaimana kalau itu gadis biasa? Maksud Fajar anak orang biasa, tidak kaya, bukan pengusaha, bukan orang berada.”

“Apa maksudmu? Kamu menyukai gadis seperti itu?”

“Seandainya iya, apa Ibu akan menentangnya?”

“Fajar, di mana-mana orang pasti mencari pasangan yang sepadan. Apa kamu tidak memikirkannya?”

Fajar menghela napas. Sekilas perkataan sang ibu, ia sudah bisa menilainya. Artinya mencari pasangan harus sepadan. Artinya pula, ia harus sama kayanya dengan keluarga orang tuanya.

“Mengapa diam?”

“Tidak apa-apa. Fajar baru bilang ‘seandainya’."

“Jadi kamu belum menentukan pilihan?”

Fajar terdiam.

“Pesan Ibu, cari gadis yang baik. Bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Dan satu lagi, gadis itu sebaiknya sejajar dengan keluarga kita.”

Fajar tak menjawab. Dan Bu Pranoto kemudian berdiri sambil mengingatkan keinginannya agar Fajar mengantarkan belanja nanti malam.

***

Hari itu Sarah sudah pulang dari sekolah. Ia pulang untuk makan, lalu ia akan mengambil dagangan koran untuk dijualnya seperti biasa.

Ia sudah berganti pakaian dan makan siang dari apa yang sudah disiapkan sang nenek, ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumah.

“Assalamu’alaikum ,,,," suara dari luar.

“Wa’alaikumussalam ,,, “ jawab Sarah sambil menyelesaikan makannya.

“Sebentaar....." teriaknya sambil membawa piring kotornya ke belakang, lalu bergegas untuk keluar.

Seorang wanita separuh baya yang masih segar dan berpakaian sederhana berdiri di depan pintu.

“Selamat siang, Nak.”

“Selamat siang Ibu. Ibu mencari siapa?”

“Apa benar ini rumah nenek Suli?”

“Iya benar Bu, tapi Nenek sedang di tetangga sebelah, akan saya panggilkan. Maaf, Ibu ini siapa?”

“Apa kamu ini …. Sarah?”

”Iya, saya Sarah. Bagaimana Ibu bisa tahu nama saya?”

“Saya bu Saptari, ibunya Bimo.”

“Oh, ya ampuun, kemarin mas Bimo sudah menceritakannya kalau ibunya mau datang kemari. Masuklah Bu, dan duduklah. Tapi ya seperti ini rumah nenek saya.”

“Ini bagus, biar sederhana tapi rapi," kata bu Saptari sambil duduk.

" Ibu tunggu sebentar, saya panggil Nenek saya dulu.”

“Jauhkah?”

“Tidak Bu, hanya di tetangga sebelah,” jawab Sarah sambil beranjak pergi.

Bu Saptari tersenyum.

“Sarah memang cantik. Dia sangat santun dan bersikap sangat baik. Semoga Bimo tidak salah memilih,” gumam bu Saptari sambil tersenyum-senyum sendiri.

Tak lama kemudian nenek Suli datang, dan kemudian mereka berangkulan dan bertangis-tangisan.

Sarah terharu melihatnya. Ia meninggalkan mereka dan ke belakang untuk membuatkan minuman.

Nenek Suli dan bu Saptari asyik bercerita tentang masa lalu mereka, yang akhirnya bu Saptari mengatakan tentang maksudnya untuk mengambil menantu Sarah. Kalau nenek Suli menyambutnya dengan gembira, tidak begitu dengan Sarah. Ia hanya tertunduk lesu, dan mengatakan kalau ia belum memikirkan untuk menjadi seorang istri.

Sampai kemudian bu Saptari pamit pulang, Sarah tetap mengatakan kepada neneknya kalau dia belum memikirkan untuk menjadi istri.

Nenek Suli kecewa, tapi ia tak bisa memaksa Sarah.

“Semuanya tergantung kamu Sarah, karena kamu yang akan menjalani. Tapi aku lihat Bimo itu anak yang baik. Saptari membesarkan dan mendidiknya dengan sangat baik, walaupun Bimo bukan anaknya sendiri.”

Sarah terkejut.

“Bukan anak bu Saptari?”

“Dia hanya anak angkat.”

***

Besok lagi ya.

15 comments:

  1. Alhamdulillah.....
    DeCeAaeM_13 sudah hadir.
    Matur nuwun mBak Tien, tetap sehat dan berkarya.
    Salam SEROJA dan tetap ADUHAI.
    Salam dari mBandung

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku, DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  3. πŸ’πŸ«πŸ’πŸ«πŸ’πŸ«πŸ’πŸ«
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung DeCeDeAaeM_13
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸ’πŸ«πŸ’πŸ«πŸ’πŸ«πŸ’πŸ«

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, telah tayang.
    Sehat selalu bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Sehat slalu beserta keluarga tercinta

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~13 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  7. Matur nwn bu Tien, semoga sehat selalu

    ReplyDelete
  8. Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat

    salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah cerbung DC&AM sudah tayang
    Terima kasih bunda,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
    Aamiin YRA 🀲

    ReplyDelete
  10. Alhamdulilah cerbung kesayangan sampun tayang.. maturnuwun bu Tien ..
    Semoga ibu sekeluarga selalu sehat wal afiat dan penuh berkah ..
    Salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah sudah tayang cerbung kesayangan, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 13 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 13

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  13 (Tien Kumalasari)   Bu Saptari menatap sang putra tak berkedip. “Ini beneran? Kamu pengin Sarah menjadi istr...