Tuesday, September 22, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 12

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  12

(Tien Kumalasari)

 

Bimo menatap nenek Suli tak percaya. Jadi neneknya Sarah ini sudah mengenal ibunya?

“Iya kan, benar kamu si kecil Bimo. Waktu kecil kamu gemuk, sekarang badanmu tegap gagah seperti ini.”

Bimo tersipu. Ditatapnya Sarah yang juga menatapnya sambil tersenyum.

“Ternyata dulu Nenek tetanggaan sama ibunya mas  Bimo?”

“Iya, waktu itu kamu masih kecil, bapak ibumu masih ada. Tapi kemudian mereka meninggal ketika kampung kami dilanda banjir,” kata nenek Suli sendu.

"Kamu yang masih kecil Nenek gendong untuk mengungsi, lalu pindah rumah, ya yang kita tempati itu. Sedangkan Bimo kecil dan ibunya waktu itu entah pindah ke mana. Ee, sekarang bertemu lagi di sini dengan tak terduga.

“Nanti saya bilang sama ibu, biar ibu saya berkunjung kemari.”

“Pasti seru kalau ketemu. Dulu ibunya Bimo ini akrab sekali dengan almarhum ibumu. Kapan ada waktu, suruh dia datang kemari, dia seperti anakku sendiri waktu itu.”

“Nek, jadi mengajak mas Bimo makan nggak?” tegur Sarah yang tidak suka melihat mata sang nenek berkaca-kaca, tampak sedih mengingat anak dan menantunya.

“Eh, iya … habis ketemu orang yang tidak disangka-sangka, ayo Nak, tadi Nenek masak sayur lembayung, ada sambal, ada ikan bakar. Ini kesukaan Sarah, pagi tadi setelah Sarah berangkat, Nenek memerlukan belanja sebentar. Ayo … jangan sungkan, tapi tempatnya sederhana, makanannya juga sederhana, jangan ditertawakan ya,” kata nenek Suli mendahului mereka masuk ke ruang makan mereka yang sederhana dan agak sempit.

“Duduklah Mas, ya seperti ini rumah aku, tadi Mas pengin lihat kan?”

Mereka duduk semeja, dan makan diselingi celoteh nenek Suli tentang masa kecil mereka.

“Coba tadi Mas nggak mau singgah, pasti nggak akan ketemu nenekku yang ternyata mengenal keluarga Mas.”

“Aku juga tidak mengira. Nanti aku pasti cerita sama ibuku.”

“Pokoknya aku tunggu, kapan ibumu bisa datang kemari.”

“Harus janjian Nek, nanti pas ibunya mas Bimo datang, Nenek pergi bekerja.”

“Iya juga. Begini Bimo, Nenek ini setiap hari kerjanya membantu tetangga. Ya nyuci, ya setrika baju, ya bersih-bersih. Yang penting dapat uang dan itu kan halal. Hasilnya ya untuk beaya membesarkan Sarah dan menyekolahkannya.”

“Iya Mas, Nenek membanting tulang untuk aku. Kelak aku harus bisa membahagiakannya. Dan itu pula sebabnya, setelah lulus lebih baik aku mencari kerja, agar Nenek tidak lagi bekerja terlalu keras.”

“Kamu cucu yang baik. Aku selalu kagum sama kamu,” kata Bimo, tulus.

“Kamu selalu begitu, aku sih biasa saja. Pokoknya kerja sebisa aku, masa nenekku membanting tulang aku enak-enak ongkang-ongkang.”

“Sarah itu orangnya keras kepala. Hari libur disuruh istirahat tidak usah jualan koran, nekat saja, katanya sayang, kalau dapat duit kan bisa ditabung. Tapi ya itu, setelah dia jualan koran itu, jarang sekali minta uang sama Nenek. Buku-buku beli sendiri. Pokoknya beban Nenek jadi lebih enteng.”

“Berbahagialah Nenek punya cucu yang baik. Tapi Nenek ini kan … maaf, sudah bisa dibilang tidak muda lagi … jadi ada baiknya juga mengurangi kegiatan, supaya Nenek tetap sehat.”

“Iya, gampang. Nanti Nenek atur. Yang penting Nenek masih kuat bekerja, dan kalau masih kuat ya tidak bisa berhenti.”

“Nenek itu juga ngeyel. Bisa memarahi aku, disuruh istirahat … tapi Nenek sendiri tetap tidak mau berhenti.”

“Harus ada istirahatnya Nek, sayang kalau sampai Nenek kecapekan, nanti malah tidak bisa bekerja lagi.”

“Iya … iya, kamu ini ternyata juga cerewet seperti Sarah sih?” omel nenek Suli, membuat Sarah dan Bimo tertawa.

“Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya kalian ini berjodoh,” kata nenek Suli meluncur begitu saja, membuat Sarah dan Bimo terkejut.

“Apa maksud Nenek?” sergah Sarah.

Nenek Suli tertawa.

“Jangan dipikirkan, terkadang orang tua mikirnya sangat jauh. Kelak kalau Nenek sudah tidak ada, Sarah harus sudah berada di samping laki-laki baik yang bisa melindunginya. Nenek kok berpikir … bagaimana kalau laki-laki itu Bimo?”

“Nenek jangan berpikir yang tidak-tidak, Sarah belum memikirkan jodoh. Sudah hentikan. Mas Bimo hanya sahabat Sarah yang sangat baik. Ya kan Mas?”

Bimo mengangguk, tapi tak bisa dipungkiri, perkataan nenek Suli membuatnya berdebar, lalu sebuah harapan muncul. Bagaimana kalau iya?

***

Bu Lurah kesal, sudah seminggu Bowo tidak tidur di rumah ibunya, tapi di rumahnya sendiri.

Sore hari itu bu Lurah datang dengan seabreg omelan panjang seperti kereta malam jurusan Jakarta Solo.

Bowo hanya diam. Ia tahu ibunya marah, tapi Bowopun juga sedang marah kepada sang ibu, gara-gara bingkisan untuk Sarah diambil kembali oleh ibunya, sehingga membuatnya malu.

“Kamu dengar tidak apa yang ibumu katakan ini? Dengar tidak?”

“Bu, aku bukan anak kecil yang berkali-kali dimarahi karena permasalahan yang sama. Aku kesal pada Ibu yang membuat aku malu.”

“Memangnya kenapa? Aku membuat malu apa?”

“Ibu mengambil kembali bingkisan yang Bowo berikan pada Sarah. Malu aku.”

“Justru kamu yang harusnya malu, kenapa memberi sesuatu kepada orang yang sudah jelas-jelas menolak kamu. Kamu tidak malu Wo? Mengemis cinta kepada keluarga miskin seperti nenek Suli? Seandainya dia mau menerima, Ibu akan berusaha menerimanya walau agak kecewa. Tapi dia menolak Bowo, tidak malu kamu, anak bu lurah ditolak keluarga tukang cuci?”

“Bowo hanya cinta sama dia, Bu.”

“Jangan bodoh! Apa kurang gadis-gadis cantik di sekitar kamu, di mana kamu bisa memilih salah satu diantaranya? Mengapa malah memilih gadis yang tidak berharga, tidak berkelas, tidak berderajat dan tidak pula berpangkat?”

“Ini masalah rasa Bu.”

“Makan tuh rasa. Hidup tidak cukup dengan rasa. Kedudukan itu penting, dan harus dipertahankan. Jadi orang jangan bodoh-bodoh amat Wo. Dengar, ayo sekarang pulang. Kamu biarkan ibumu di rumah sendirian?”

“Kan ada pembantu?”

“Memangnya ibumu pantasnya berteman dengan pembantu?”

“Kan Ibu butuh teman, agar tidak sendirian.”

“Jadi kamu sudah tidak mau menemani ibumu ini lagi?”

“Maaf Bu, Bowo ingin menenangkan pikiran dulu.”

“Ya ampuuun, gara-gara perempuan murahan itu maka pikiran kamu jadi tidak tenang?”

“Maaf Bu.”

Bu Lurah meninggalkan rumah Bowo dengan mengomel panjang pendek di sepanjang perjalanan pulang. Sangat marah menyadari bahwa putranya tak mau mendengar kata-katanya.

***

Bu Saptari sangat heran mendengar cerita putranya, bahwa tadi bertemu  nenek Suli. Mereka dulu memang bertetangga, sebelum kampung mereka musnah disapu banjir, dan nenek Suli kehilangan anak dan menantunya.

“Bayi itu sudah dewasa ya? Waktu itu kamu masih kecil, dan bayi bernama Sarah itu dibawa neneknya entah ke mana. Syukurlah mereka selamat. Ibu ikut senang.”

“Apa Ibu tidak ingin menemui nenek Suli?”

“Tentu saja Bimo, besok atau kapan ya, ibu ingin sekali bertemu.sebesar apa Sarah sekarang?”

“Dia sudah hampir lulus SMA.”

"Waktu bayi dia sangat menggemaskan, cantik dan lucu.”

“Sekarang juga masih cantik dan lucu Bu.”

Bu Saptari tertawa.

“Kamu mengenal baik gadis itu?”

“Dia kalau siang sampai sore menjual koran di perempatan sana. Bimo kadang-kadang membantunya berjualan.”

“Mengapa tidak kamu minta dia singgah ke rumah? Ibu ingin sekali melihat dia, seperti apa sekarang.”

“Nanti kalau Ibu ke sana pasti bisa melihatnya, lalu Ibu bisa melamarkan dia untuk Bimo.”

“Apa? Kamu ingin Ibu melamar dia?”

Bimo mengangguk mantap.

***

Besok lagi ya,

7 comments:

  1. Alhamdulillah....
    DeCeAaeM_12 sudah tayang 🌹

    Matur nuwun mBak Tien, salam SEROJA.
    Teriring doa semoga sehat terus dan terus sehat. 🤝🤲🙏❤️

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 12 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Yang ditunggu udah tayang. Semoga Bunda dan keluarga sehat slalu

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 12 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~12 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 12

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  12 (Tien Kumalasari)   Bimo menatap nenek Suli tak percaya. Jadi neneknya Sarah ini sudah mengenal ibunya? “Iya ...