AKU ANAK SIAPA 21
(Tien Kumalasari)
Satria bercerita banyak tentang orang yang menjemputnya siang itu, sampai ia kemudian diserahkan kepada seorang wanita yang wajahnya seperti setan. Polisi tentu saja sedang menyelidiki tentang penculikan itu. Siapa pelakunya dan apa motifnya.
“Apa ya sebenarnya maksud orang itu. Dan siapa dia?” kata Senja.
“Aku juga sedang berpikir. Kalau tentang minta tebusan, pasti ada yang menghubungi kita tentang tebusan itu. Nyatanya tidak.”
“Mungkin belum, siapa tahu menunggu sehari dulu. Tapi aku bersyukur, Satria bisa terlepas dari penjahat itu. Menurut ibu pemilik rumah kost itu, Satria sangat cerdik dengan memukul-mukul pintu ketika wanita penculiknya sedang ke kamar mandi. Kalau tidak, pasti tidak ada yang mengetahuinya.”
“Anak bapak pasti pintar, ya kan?” kata Arka sambil mengelus kepala anaknya.
“Tapi kasihan, tuh, bibirnya terluka, tangan dan kakinya matang biru. Apa sih maunya orang itu?” kata Senja sambil menciumi anak semata wayangnya.
“Sakit ya?”
“Ya sakit Bu.”
“Pasti kamu ketakutan?”
“Iya, untunglah ada ibu gemuk yang membawa aku, setelah mereka melepaskan lakban di mulut dan ikatan kaki tanganku.”
“Ya Allah Nak, lain kali jangan sembarangan ikut orang ya, biarpun dia bilang saudara, om, kakek atau nenek, kalau kamu belum pernah bertemu jangan percaya. Oke?”
“Iya Bu. Ternyata om itu pembohong. Bukankah bohong itu dosa?”
“Tentu saja dosa. Kalau suka bohong, dan jahat sama orang, nanti dimarahi sama Allah.”
“Tidak masuk sorga kan Bu?”
“Ya, tidak masuk sorga, tapi masuk neraka.”
“Temannya setan kan Bu?”
“Ya, temannya setan.”
“Kemarin itu aku disekap sama setan. Wajahnya menakutkan, banyak hitam-hitam, bibirnya merah besar, itu kan setan.”
“Ya sudah, tidak usah diingat-ingat lagi ya? Kamu harus bersyukur pada Allah, karena telah selamat dari cengkeraman setan.”
Satria mengangguk, lalu kembali tenggelam dalam rangkulan sang ibu. Ia merasa sangat tenang setelah kembali pulang.
“Senja, ada baiknya kamu menghubungi sekolah dan mengabari kalau Satria sudah ketemu.”
“Ya, aku juga sudah mau melakukannya. Kemarin mereka juga panik.”
***
Pagi itu Rosa terbangun dari tidurnya di depan sebuah mushala. Ada suara adzan yang sangat keras, menggelitik telinganya. Ia meletakkan bungkusannya, dan melihat banyak orang datang, lalu mendengar gemericik air mengguyur.
Tiba-tiba Rosa sangat merasa gerah, dan membutuhkan air untuk mengguyur wajahnya, tubuhnya dan semuanya.
Ia meninggalkan bungkusan pakaiannya di sebuah sudut, lalu mengikuti orang-orang yang beranjak ke arah samping mushala. Pasti disitulah letak pancuran itu. Ia mengikuti seorang wanita yang berjalan menuju pancuran. Ia ingat ketika orang tua angkatnya menyuruhnya selalu bersujud setiap mendengar suara adzan.
Rosa memutar sebuah kran. Air yang mengguyur membuatnya segar. Ia membasuh wajahnya, menggosoknya sampai bersih. Lalu ia menirukan wanita di sampingnya yang mengambil wudhu. Ia hampir lupa, bagaimana caranya berwudhu.
“Bu, kalau tidak membawa mukena, di dalam ada mukena yang bisa Ibu pakai.”
Entah mengapa, wanita itu tahu kalau dia tidak membawa mukena. Mukena? Rosa lupa bagaimana mengenakan mukena. Tapi ia mengikuti wanita itu. Di sudut sebelum memasuki ruang dalam, ada secuah cermin, dan Rosa heran kepada dirinya sendiri. Itukah wajahnya? Bersih dan cantik. Mana coreng moreng yang tadi menutupinya. Rosa menghela napas. Hatinya bergejolak antara mengikuti anjuran wanita itu atau mengabaikannya. Tapi sebuah suara kembali mengingatkannya.
“Bu, mukenanya di sana, ada banyak kok,” katanya sambil menunjuk ke arah sebuah almari, agak jauh di samping dia bercermin.
Mau tak mau ia mengikutinya. Ia mengambil satu, lalu menirukan orang disampingnya, bagaimana mengenakan mukena.
“Ibu belum pernah kemari ya, saya belum pernah melihat Ibu.”
“Iya, saya akan keluar kota, kemalaman, tidak mendapat kendaraan.”
“Oh, begitu, ayo kita ke sana, sebentar lagi qomat.”
Rosa mengikutinya dengan linglung, tapi ia mengikuti ketika shalat berjamaah itu sudah dilakukan. Sedikit banyak dia pernah melakukannya, jadi tidak begitu kikuk, entah doa apa yang diucapkannya, yang penting dia ikut. Ia juga menyambut ketika orang di samping kiri dan kanannya menyalaminya sambil tersenyum. Iapun tersenyum. Senyum seperti mereka, tulus, lalu tiba-tiba hatinya menjadi teduh.
Mereka masih melanjutkan doa, dan Rosa merasa ada ketenangan merayapi hatinya. Semua yang pernah terjadi memenuhi benaknya, bergantian, seperti menghantam jiwanya bertalu-talu. Dadanya terasa sesak. Mengapa semua yang dilaluinya ada sesuatu yang kotor, hitam, membuatnya gelisah. Lalu air mata tiba-tiba meleleh, membasahi pipinya, dan dia kembali bersujud, menangis terisak, mengingat betapa gelapnya jalan yang dilaluinya. Betapa semuanya itu membuat hidupnya tak merasa tenang. Ia tak tahu harus ke mana, ia kehilangan pegangan, lalu ia ketakutan manakala diingatnya bahwa dia adalah buron. Yang berwajib mencarinya karena pencurian yang dilakukannya. Bekas orang tua angkatnya tidak kejam, itu sewajarnya. Sebuah kejahatan harus mendapatkan ganjarannya. Tapi kemudian ia takut. Takut sekali karena ia pernah mengalami betapa getir dan sengsaranya hidup di dalam penjara. Sekarang ia merasa lelah. Sangat lelah.
Ia masih bersujud, terisak, tanpa sadar wanita yang tadi mengajaknya shalat masih duduk di sebelahnya. Rosa terkejut ketika sebuah tangan menyentuhnya lembut.
Ia mengangkat tubuhnya, lalu mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
“Apakah Ibu sudah merasa tenang?”
Rosa menatap wanita setengah tua yang masih duduk di sampingnya. Wanita itu tersenyum, teduh. Air mata Rosa kembali meleleh. Wanita itu mengusap air mata Rosa dengan mukena yang dipakainya.
“Di mana rumah Ibu?”
Rosa menggeleng. Ia harus menjawab apa? Ia memang tak punya rumah.
“Jauhkah?” wanita itu melanjutkan pertanyaannya, walau pertanyaan pertama belum terjawab.
“Saya tidak punya.”
“Maksudnya … tidak punya rumah? Di mana selama ini Ibu tinggal.”
“Entahlah, di mana saja.”
“Maukah Ibu menceritakan apa yang terjadi?”
Rosa membisu. Mushala itu sunyi, hanya suara Ibu di sampingnya yang terdengar. Ada juga suara detak jam dinding yang tergantung di samping dia duduk.
“Baiklah, jangan katakan kalau memang Ibu tidak mau mengatakannya.”
Rosa mencoba tersenyum, tipis, hambar. Wanita di sampingnya bisa membaca duka memenuhi wajahnya. Kuyu dan pucat. Kecantikan yang samar.
“Sekarang Ibu mau ke mana?”
“Entahlah,” jawabnya lemah. Ia memang tidak tahu akan pergi ke mana.
“Rumahku di belakang mushala ini. Maukah singgah barang sebentar sebelum Ibu memutuskan akan pergi ke mana?”
Rosa diam sejenak.
“Tak apa walau hanya sebentar, saya hidup hanya bersama anak saya yang sudah bekerja. Kalau dia berangkat kerja, saya sendirian.”
Rosa mengangguk. Ibu itu menariknya berdiri, dan membantu melepaskan mukena yang dipakainya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Ia menggandeng tangan Rosa, yang kemudian berhenti sebentar untuk mengambil bungkusan miliknya di sudut ruangan.
***
Rumah itu sederhana. Ketika ia memasuki rumah itu, terdengar alunan suara merdu dari dalam kamar. Bukan alunan suara nyanyian seperti yang sering didengarnya.
Ibu itu mempersilakannya duduk.
“Anak saya, Rochmah, sedang mengaji. Tadi dia pulang duluan dari mushala,” terang Ibu itu tanpa ditanya. Lalu ia pergi ke belakang.
Mengaji, suara itu begitu mendayu, seperti alunan suara kidung dari atas sana. Itu terasa seperti mengelus jiwanya. Begitu menenangkan, lalu air matanya kembali meleleh. Mengapa ia menjalani hidup yang penuh semak terjal dan kegelapan yang membuatnya selalu berpikir dan gelisah. Ini suara sejuk. Seperti gemercik air dari sebuah sumber yang entah dari mana.
Ibu penolong itu keluar sambil membawa dua gelas teh hangat, lalu meletakkannya di meja.
“Ayo kita minum, saya sedang merebus singkong, sebentar lagi matang,” katanya sambil duduk di depan Rosa.
Rosa mengambil gelas itu, meneguknya hampir separuh. Tubuhnya merasa segar.
“Kalau mau mandi, kamar mandinya di belakang.”
Rosa mengangguk. Ia merasa tubuhnya berdebu.
Lalu ia mandi, mengganti baju lusuhnya dengan yang lebih bersih, menyisir rambutnya rapi. Lalu keluar dan duduk di ruang tamu di mana tadinya dia duduk. Suara mengaji sudah berhenti. Ibu penolong keluar dengan membawa singkong panas yang masih mengepul.
“Ayo di makan, sebentar lagi Rochmah akan datang, saya menyuruhnya membeli nasi untuk sarapan.”
Keduanya asyik memakan singkong. Lalu Rosa merasa, selama bertahun-tahun, baru sekarang dia makan sesuatu dengan rasa yang sangat nikmat.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat.
“Itu, Rochmah sudah datang. Penjual nasi ada di depan sana, pagi-pagi sudah buka.”
“Rohmah, ini Ibu yang aku ceritakan tadi. Nanti nasinya ditaruh piring, lalu dibawa kemari.
Rochmah tersenyum, ia mengulurkan tangannya, Rosa menyambutnya dan memperkenalkan namanya.
“Rosa,” katanya sambil tersenyum.
Tapi tiba-tiba Rochmah menatap wajahnya. Lalu seperti orang kaget dia berteriak.
“Bu, Ibu membawa buronan,” pekiknya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteYessssss
ReplyDeleteAlhamdulillah
Terima kasih
Yess.. matur nuwun mas Kakek
DeleteSuwun mb Tienπ
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteMatur nuwun Bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Sukardi
Deleteπ»ππ»ππ»ππ»π
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung AaAaeS_21
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
π»ππ»ππ»ππ»π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari
DeleteAlhamdulilah cerbung kesayangan sampun tayang ... maturnueun bu Tien, doaku selalu utk bu Tien dan pak Tom smg sll sehat, bshagia dan sejahtera aamiin yra...salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Matur nuwun Bunda.
ReplyDeleteSemoga sehat walafiat. Dalam lindungan Allah SWT...Amiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget bapak Endang
DeleteAlhamdulillah telah tayang,,,
ReplyDeleteSehat selalu bunda,,,aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget Kang
DeleteAlhamdulullah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),21 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah cerbung telah hadir, maturnuwun Bu Tien π semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Tatik
Deleteπ·Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 21 ~ Sudah tayang ππ Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry
DeleteTerimakasih bunda Tien, salam sehat selalu untuk bunda Tien sekeluarga
ReplyDeleteSami2 ibu Komariyah. Salam sehat juga
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Latief
DeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Ida
DeleteMks bunda cerbung nya....selamat malam smg bunda seklrg sll sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Supriyati
DeleteAlhamdulillah, mtr nwn bu Tien, salam sehat
ReplyDeleteSami2 pak Bamnang
DeleteSalam sehat juga
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~21 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah cerbung AAS sudah tayang,
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien.
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, bahagia bersama keluarga,
Selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT π€²π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sifa
DeleteAlhamdulillah, trima kasih bu Tien Aku Anak Siapa sdh tayang. Semoga bu Tien sekeluarga dalam perlindungan Allah SWT sehat rezki barokah. π€²π
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Suroto
DeleteRosa sudah mulai nyaman, tiba-tiba guntur eh petir datang menyambar...
ReplyDeleteGuntur aja.. lebih mantap prof
DeleteMatur nuwun Bunda Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni.
DeleteSalam aduhai