DARAH, CINTA DAN AIR MATA 41
(Tien Kumalasari)
Bu Karimun masuk lebih dulu. Baru sekali ini ia berada sangat dekat dengan darah dagingnya, yang tega ditinggalkannya di pangkuan wanita lain karena keterbatasan hidup yang memprihatinkan. Air matanya mengalir deras. Digenggamnya tangan anak muda yang terbaring lemah dengan banyak peralatan medis yang mengungkung tubuhnya. Diciumnya tangan itu berkali-kali sehingga basah oleh air matanya.
“Anakku … anakku, maafkanlah ibumu yang nista ini … maaf .... “
Mata Fajar terbuka. Banyak yang ingin dikatakannya ketika melihat wanita setengah baya yang menangisinya, tapi ia tak berdaya.
“Apa yang terjadi pada dirimu? Segera sembuh dan peluk ibumu ini sebagai ungkapan rasa maafmu,” lirihnya tanpa bisa menahan air matanya.
Fajar mendengarnya, tapi kebingungan dengan sikapnya. Walau begitu ia membiarkan tangannya basah oleh air mata. Rasa sakit yang terasa menggigit, dan mulut yang tersumbat ventilator, menahan keinginannya untuk bertanya, sampai kemudian seorang perawat memintanya untuk keluar.
“Bu, maaf ya, pasien butuh ketenangan. Saya harap ibu menunggu diluar, karena pasien sedang dalam penanganan.”
Bu Karimun mengangguk. Sekali lagi ia mencium tangan Fajar, agak lama dengan air mata yang tak kunjung reda.
“Cepatlah sembuh, peluk ibumu ya Nak.”
Lalu bu Karimun sibuk mengeringkan air matanya sambil melangkah keluar.
Ia memeluk suaminya erat-erat sambil melanjutkan tangisnya ketika sampai di luar.
“Bagaimana keadaannya?”
“Aku sedih melihatnya Pak, tapi perawat itu menyuruh aku keluar. Pasien tidak boleh diganggu.”
Pak Karimun ingin masuk, tapi kali itu perawat menahannya.
“Pak, pasien tidak bisa diganggu karena masih dalam penanganan.”
“Saya hanya ingin melihat saja, tidak akan bicara, tidak akan melakukan apa-apa,” paksa pak Karimun.
Perawat yang merasa iba segera mengijinkannya.
“Tapi sebentar saja ya Pak, nanti saya bisa dimarahi dokternya juga.”
Pak Karimun mengangguk. Ia hanya mendekat, memegang tangannya, menciumnya seperti yang dilakukan istrinya, tapi tak mengucapkan sepatah katapun. Suaranya tersekat di tenggorokan. Ketika Fajar melihatnya, ia tak begitu heran, karena sudah mengenal pak Karimun sebelumnya.
***
“Pak Karimun sangat perhatian pada Fajar,” kata bu Pranoto kepada suaminya.
“Iya. Sangat perhatian, bahkan mengajak istrinya juga. Bu Karimun sampai menangis-nangis begitu. Lihatlah, dia masih berdiri di depan pintu sambil terus mengusap air matanya.”
“Barangkali dia teringat pada anaknya yang sudah meninggal, atau entah berada di mana.”
“Nanti kalau keadaan sudah tenang aku tanyakan pada dia. Kita harus berterima kasih karena seorang tukang kebun dan istrinya sangat perhatian pada anak kita, yang pastinya juga mendoakannya.”
“Bapak sudah bicara sama dokternya?”
“Sudah, baru saja. Kemungkinan besok harus dioperasi, tapi Fajar kehilangan banyak darah. Membutuhkan pendonor darah. Semoga darahku cocok.”
“Darahku juga bisa kan Pak?”
“Kalau cocok, tentu saja bisa.”
“Semoga semuanya baik-baik dan Fajar segera pulih kembali.”
“Aamiin.”
“Mentari tadi ke mana?”
“Mengantarkan temannya pulang, karena sudah malam. Tadi aku minta Bimo agar menemani Fajar di sini.”
“Bimo itu siapa? Wajahnya sangat mirip dengan Fajar.”
“Iya. Dia pegawai bagian gudang di kantorku. Tapi sekarang dia sedang menemani Mentari mengantarkan temannya. Nanti aku minta dia kembali kemari. Apa Ibu aku antarkan pulang dulu ya, nanti Ibu kecapekan.”
“Nggak mau Pak, aku mau di sini terus sampai Fajar selesai dioperasi.”
“Operasinya masih besok Bu, nanti Ibu kecapekan.”
“Tidak. Ibu justru merasa sedih kalau ada di rumah. Biarlah kita di sini bersama-sama.”
Tiba-tiba pak Karimun mendekat, bersama istrinya yang wajahnya sembab.
“Pak, ijinkan saya di sini, menunggui nak Fajar bersama istri saya.”
“Apa pak Karimun tidak capek?”
“Tidak. Oh iya, saya belum sempat memperkenalkan, ini istri saya.”
Bu Karimun menyalami pak Pranoto dan istrinya dengan sangat santun.
“Ibu mengapa menangis terus? Teringat anak ibu? Anak ibu ada di mana?”
Bu Karimun tak menjawab. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kembali menitikkan air mata.
“Dia teringat anaknya, Pak?" tanya bu Pranoto.
“Anak pak Karimun sekarang di mana?”
Pak Karimun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Meninggal?”
Pak Karimun kembali menggelengkan kepalanya.
Pak Pranoto kehabisan pertanyaan. Tampaknya pak Karimun tak ingin banyak bicara, jadi kemudian ia membiarkannya, sementara bu Pranoto terus menatap bu Karimun. Wajah itu, wajah kuyup penuh derita seperti yang pernah dilihatnya puluhan tahun lalu. Ia mengerutkan keningnya. Kapan melihat wajah itu?
“Duduklah di atas, jangan berjongkok di situ,” kata pak Pranoto.
Pak Karimun menarik istrinya, kemudian mengajaknya duduk agak jauh dari pak Pranoto dan istrinya. Pikirannya menjadi campur aduk. Sikap mereka yang menunjukkan perhatian dan kesedihan pastilah menarik bagi pak Pranoto, untuk memberinya sebuah pertanyaan yang belum ingin dijawabnya.
“Bagaimana kalau mereka bertanya Pak, aku benar-benar tak bisa menahan diri. Aku sedih melihat anak kita tampak sakit dan menderita,” pelan kata bu Karimun.
“Aku juga sedang berpikir. Tadinya aku ingin mencari kesempatan yang baik untuk berterus terang. Sekarangkah saatnya?”
“Bagaimana kalau mereka tidak percaya? Mereka begitu kaya, anak kita gagah dan tampan, masa kedua orang tuanya kuyu dan lusuh begini?”
“Entah bagaimana caranya, semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita.”
“Barangkali karena memang kita orang berdosa yang seakan membuang anak-anak kita, sehingga susah bagi kita untuk mengakuinya, walau Allah sudah mempertemukan.”
"Kita memang berdosa, karena membuang anak-anak kita, tapi apakah salah kalau kita berharap agar anak kita menemukan kehidupan yang lebih baik? Kalau mereka bersama kita, pasti sekarang mereka juga menjadi gembel, atau bahkan merasakan kelaparan sejak masih bayi. Mungkin juga tidak akan hidup sampai dewasa.”
Bu Karimun mengusap air matanya.
“Sudah Bu, jangan menangis lagi, nanti mereka semakin bertanya-tanya dan menganggap sikap kita aneh. Ayo berdoa saja, agak nak Fajar segera mendapat pertolongan yang baik, dan kembali sehat.”
“Aamiin.”
***
Sarah sudah sampai di rumahnya. Nenek Suli segera bertanya tentang penyebab terjadinya kecelakaan itu, dan bagaimana keadaan Fajar sekarang ini.
“Ada mobil lain yang menabraknya padahal mobil sedang melaju. Nenek tahu mobil siapa yang menabraknya?”
“Pasti anak-anak muda yang menyetir dengan ugal-ugalan.”
“Bukan anak muda Nek. Ibu-ibu setengah tua.”
“Ibu-ibu setengah tua?”
“Bu Lurah.”
“Apa maksudmu Sarah?”
“Bu Lurah mengendarai mobil sambil bercanda dengan teman-temannya di dalam mobil itu. Kalau tidak salah temannya ada tiga. Luka-luka semua dan bu Lurah paling parah.”
“Maksudmu yang menabrak mobil nak Fajar itu bu Lurah?”
“Iya, Nek. Mereka semua ada di rumah sakit itu.”
“Kasihan Bowo, pengantin baru mendapat musibah.”
“Mereka bersenang-senang, tidak menggubris anaknya yang menikah di hari kemarinnya.”
“Allah sedang memberinya peringatan. Sebagai seorang ibu dia harus menjadi tiang yang bisa menopang kehidupan anaknya, bukan meninggalkannya. Tapi ya sudahlah, kita tidak berhak menghakimi seseorang. Keadaan nak Fajar sendiri bagaimana?”
“Parah Nek, besok kakinya dioperasi. Kepalanya cedera dan kehilangan banyak darah.”
“Ya Allah, semoga segera mendapat penanganan yang baik.”
“Aamiin. Kamu tadi pulang bersama siapa?”
“Diantar Mentari, adik mas Fajar, sama mas Bimo.”
“Bimo juga ada?”
“Dia melihat ketika Sarah bersama Mentari, lalu ikut ke rumah sakit.”
“Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu.”
“Iya Nek. Besok sepulang sekolah Sarah mau ke rumah sakit lagi ya.”
“Kalau bisa Nenek juga ingin ikut.”
“Tidak usah Nek, nanti Nenek malah banyak pikiran.”
***
Pagi hari itu Fajar siap di operasi. Dokter minta agar keluarga menyiapkan donor darah untuk transfusi. Tapi darah pak Pranoto dan istrinya bukan donor yang cocok untuk Fajar.
“Hanya darah kedua orang tua kandung yang bisa mendonorkan darahnya.”
Perkataan itu bagai geledeg menyambar di siang yang panas, dan membuat bu Pranoto jatuh terduduk dengan lemas.
***
Besok lagi ya.