Saturday, October 31, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 41

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  41

(Tien Kumalasari)

 

Bu Karimun masuk lebih dulu. Baru sekali ini ia berada sangat dekat dengan darah dagingnya, yang tega ditinggalkannya di pangkuan wanita lain karena keterbatasan hidup yang memprihatinkan. Air matanya mengalir deras. Digenggamnya tangan anak muda yang terbaring lemah dengan banyak peralatan medis yang mengungkung tubuhnya. Diciumnya tangan itu berkali-kali sehingga basah oleh air matanya.

“Anakku … anakku, maafkanlah ibumu yang nista ini … maaf .... “

Mata Fajar terbuka. Banyak yang ingin dikatakannya ketika melihat wanita setengah baya yang menangisinya, tapi ia tak berdaya.

“Apa yang terjadi pada dirimu? Segera sembuh dan peluk ibumu ini sebagai ungkapan rasa maafmu,” lirihnya tanpa bisa menahan air matanya.

Fajar mendengarnya, tapi kebingungan dengan sikapnya. Walau begitu ia membiarkan tangannya basah oleh air mata. Rasa sakit yang terasa menggigit, dan mulut yang tersumbat ventilator, menahan keinginannya untuk bertanya, sampai kemudian seorang perawat memintanya untuk keluar.

“Bu, maaf ya, pasien butuh ketenangan. Saya harap ibu menunggu diluar, karena pasien sedang dalam penanganan.”

Bu Karimun mengangguk. Sekali lagi ia mencium tangan Fajar, agak lama dengan air mata yang tak kunjung reda.

“Cepatlah sembuh, peluk ibumu ya Nak.”

Lalu bu Karimun sibuk mengeringkan air matanya sambil melangkah keluar.

Ia memeluk suaminya erat-erat sambil melanjutkan tangisnya ketika sampai di luar.

“Bagaimana keadaannya?”

“Aku sedih melihatnya Pak, tapi perawat itu menyuruh aku keluar. Pasien tidak boleh diganggu.”

Pak Karimun ingin masuk, tapi kali itu perawat menahannya.

“Pak, pasien tidak bisa diganggu karena masih dalam penanganan.”

“Saya hanya ingin melihat saja, tidak akan bicara, tidak akan melakukan apa-apa,” paksa pak Karimun.

Perawat yang merasa iba segera mengijinkannya.

“Tapi sebentar saja ya Pak, nanti saya bisa dimarahi dokternya juga.”

Pak Karimun mengangguk. Ia hanya mendekat, memegang tangannya, menciumnya seperti yang dilakukan istrinya, tapi tak mengucapkan sepatah katapun. Suaranya tersekat di tenggorokan. Ketika Fajar melihatnya, ia tak begitu heran, karena sudah mengenal pak Karimun sebelumnya.

***

“Pak Karimun sangat perhatian pada Fajar,” kata bu Pranoto kepada suaminya.

“Iya. Sangat perhatian, bahkan mengajak istrinya juga. Bu Karimun sampai menangis-nangis begitu. Lihatlah, dia masih berdiri di depan pintu sambil terus mengusap air matanya.”

“Barangkali dia teringat pada anaknya yang sudah meninggal, atau entah berada di mana.”

“Nanti kalau keadaan sudah tenang aku tanyakan pada dia. Kita harus berterima kasih karena seorang tukang kebun dan istrinya sangat perhatian pada anak kita, yang pastinya juga mendoakannya.”

“Bapak sudah bicara sama dokternya?”

“Sudah, baru saja. Kemungkinan besok harus dioperasi, tapi Fajar kehilangan banyak darah. Membutuhkan pendonor darah. Semoga darahku cocok.”

“Darahku juga bisa kan Pak?”

“Kalau cocok, tentu saja bisa.”

“Semoga semuanya baik-baik dan Fajar segera pulih kembali.”

“Aamiin.”

“Mentari tadi ke mana?”

“Mengantarkan temannya pulang, karena sudah malam. Tadi aku minta Bimo agar menemani Fajar di sini.”

“Bimo itu siapa? Wajahnya sangat mirip dengan Fajar.”

“Iya. Dia pegawai bagian gudang di kantorku. Tapi sekarang dia sedang menemani Mentari mengantarkan temannya. Nanti aku minta dia kembali kemari. Apa Ibu aku antarkan pulang dulu ya, nanti Ibu kecapekan.”

“Nggak mau Pak, aku mau di sini terus sampai Fajar selesai dioperasi.”

“Operasinya masih besok Bu, nanti Ibu kecapekan.”

“Tidak. Ibu justru merasa sedih kalau ada di rumah. Biarlah kita di sini bersama-sama.”

Tiba-tiba pak Karimun mendekat, bersama istrinya yang wajahnya sembab.

“Pak, ijinkan saya di sini, menunggui nak Fajar bersama istri saya.”

“Apa pak Karimun tidak capek?”

“Tidak. Oh iya, saya belum sempat memperkenalkan, ini istri saya.”

Bu Karimun menyalami pak Pranoto dan istrinya dengan sangat santun.

“Ibu mengapa menangis terus? Teringat anak ibu? Anak ibu ada di mana?”

Bu Karimun tak menjawab. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kembali menitikkan air mata.

“Dia teringat anaknya, Pak?" tanya bu Pranoto.

“Anak pak Karimun sekarang di mana?”

Pak Karimun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Meninggal?”

Pak Karimun kembali menggelengkan kepalanya.

Pak Pranoto kehabisan pertanyaan. Tampaknya pak Karimun tak ingin banyak bicara, jadi kemudian ia membiarkannya, sementara bu Pranoto terus menatap bu Karimun. Wajah itu, wajah kuyup penuh derita seperti yang pernah dilihatnya puluhan tahun lalu. Ia mengerutkan keningnya. Kapan melihat wajah itu?

“Duduklah di atas, jangan berjongkok di situ,” kata pak Pranoto.

Pak Karimun menarik istrinya, kemudian mengajaknya duduk agak jauh dari pak Pranoto dan istrinya. Pikirannya menjadi campur aduk. Sikap mereka yang menunjukkan perhatian dan kesedihan pastilah menarik bagi pak Pranoto, untuk memberinya sebuah pertanyaan yang belum ingin dijawabnya.

“Bagaimana kalau mereka bertanya Pak, aku benar-benar tak bisa menahan diri. Aku sedih melihat anak kita tampak sakit dan menderita,” pelan kata bu Karimun.

“Aku juga sedang berpikir. Tadinya aku ingin mencari kesempatan yang baik untuk berterus terang. Sekarangkah saatnya?”

“Bagaimana kalau mereka tidak percaya? Mereka begitu kaya, anak kita gagah dan tampan, masa kedua orang tuanya kuyu dan lusuh begini?”

“Entah bagaimana caranya, semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita.”

“Barangkali karena memang kita orang berdosa yang  seakan membuang anak-anak kita, sehingga susah bagi kita untuk mengakuinya, walau Allah sudah mempertemukan.”

"Kita memang berdosa, karena membuang anak-anak kita, tapi apakah salah kalau kita berharap agar anak kita menemukan kehidupan yang lebih baik? Kalau mereka bersama kita, pasti sekarang mereka juga menjadi gembel, atau bahkan merasakan kelaparan sejak masih bayi. Mungkin juga tidak akan hidup sampai dewasa.”

Bu Karimun mengusap air matanya.

“Sudah Bu, jangan menangis lagi, nanti mereka semakin bertanya-tanya dan menganggap sikap kita aneh. Ayo berdoa saja, agak nak Fajar segera mendapat pertolongan yang baik, dan kembali sehat.”

“Aamiin.”

***

Sarah sudah sampai di rumahnya. Nenek Suli segera bertanya tentang penyebab terjadinya kecelakaan itu, dan bagaimana keadaan Fajar sekarang ini.

“Ada mobil lain yang menabraknya padahal mobil sedang melaju. Nenek tahu mobil siapa yang menabraknya?”

“Pasti anak-anak muda yang menyetir dengan ugal-ugalan.”

“Bukan anak muda Nek. Ibu-ibu setengah tua.”

“Ibu-ibu setengah tua?”

“Bu Lurah.”

“Apa maksudmu Sarah?”

“Bu Lurah mengendarai mobil sambil bercanda dengan teman-temannya di dalam mobil itu. Kalau tidak salah temannya ada tiga. Luka-luka semua dan bu Lurah paling parah.”

“Maksudmu yang menabrak mobil nak Fajar itu bu Lurah?”

“Iya, Nek. Mereka semua ada di rumah sakit itu.”

“Kasihan Bowo, pengantin baru mendapat musibah.”

“Mereka bersenang-senang, tidak menggubris anaknya yang menikah di hari kemarinnya.”

“Allah sedang memberinya peringatan. Sebagai seorang ibu dia harus menjadi tiang yang bisa menopang kehidupan anaknya, bukan meninggalkannya. Tapi ya sudahlah, kita tidak berhak menghakimi seseorang. Keadaan nak Fajar sendiri bagaimana?”

“Parah Nek, besok kakinya dioperasi. Kepalanya cedera dan kehilangan banyak darah.”

“Ya Allah, semoga segera mendapat penanganan yang baik.”

“Aamiin. Kamu tadi pulang bersama siapa?”

“Diantar Mentari, adik mas Fajar, sama mas Bimo.”

“Bimo juga ada?”

“Dia melihat ketika Sarah bersama Mentari, lalu ikut ke rumah sakit.”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu.”

“Iya Nek. Besok sepulang sekolah Sarah mau ke rumah sakit lagi ya.”

“Kalau bisa Nenek juga ingin ikut.”

“Tidak usah Nek, nanti Nenek malah banyak pikiran.”

***

Pagi hari itu Fajar siap di operasi. Dokter minta agar keluarga menyiapkan donor darah untuk transfusi. Tapi darah pak Pranoto dan istrinya bukan donor yang cocok untuk Fajar.

“Hanya darah kedua orang tua kandung yang bisa mendonorkan darahnya.”

Perkataan itu bagai geledeg menyambar di siang yang panas, dan membuat bu Pranoto jatuh terduduk dengan lemas.

***

Besok lagi ya.

Friday, October 30, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 40

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  40

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut. Perlahan didorongnya tubuh Mentari, yang basah oleh air mata.

“Ba … bagaimana keadaannya?”

“Parah, mobil itu menabrak tanpa perhitungan, padahal jalanan di tengah kota. Tampaknya pengendara menyetir sambil bercanda. Entahlah, ayo ke rumah sakit, lihat keadaannya, aku tidak tega Sar.”

“Baiklah, aku ikut kamu, aku kembalikan sisa koran ini dulu ya, tenanglah, tenang. Kamu juga menyetir, jadi harus tenang.”

Sarah menuntun sahabatnya memasuki mobil, lalu dia duduk di sebelahnya, sambil terus menerus mengatakan ‘tenang … tenang..

Tapi sebelum mobil itu berjalan, seseorang berteriak.

“Saraaah!! Mentari !!”

Mentari urung menjalankan mobilnya. Bimo berlari-lari mendekat.

“Mas Bimo?”

“Kalian mau kemana? Mengapa menangis, Mentari?”

“Mas Fajar kecelakaan, kami mau ke rumah sakit.”

“Kecelakaan? Aku ikut kalian ya. Nenek kan nggak punya ponsel, ada sih di tetangga, aduh, aku juga bingung kalau Nenek menunggu dan khawatir,” kata Sarah yang tiba-tiba teringat neneknya.

“Tenang Sarah, aku akan minta tolong ibu agar mengabari Nenek.”

“Tapi kan bu Saptari harus kesana?”

“Iya, nggak apa-apa, tenang saja. Ibu juga sebenarnya ingin menyambangi nenek Suli, hanya belum sempat saja.”

***

Bimo langsung masuk ke dalam mobil, lalu ia mengambil ponselnya. Ia mengabari sang ibu kalau mau ke rumah sakit karena Fajar kecelakaan, dan meminta agar ibunya mengabari nenek Suli karena Sarah ikut pergi ke rumah sakit.

Di rumah sakit .. banyak orang berkerumun, tampaknya ada korban lain dalam kecelakaan itu.

Mentari melihat ayahnya, lalu menubruknya.

“Bagaimana keadaannya?”

“Masih dalam pemeriksaan. Tampaknya butuh darah untuk didonorkan,” kata sang ayah pelan. 

Tampaknya pak Pranoto juga sangat terpukul. Mentari melihat sang ibu duduk di sebuah bangku, dengan wajah basah dan mata yang kosong.

Mentari mendekatinya, lalu merangkulnya, dan mereka bertangisan.

Sarah ikut mendekati, dan mencoba menghiburnya.

“Mas Fajar sudah ditangani, Ibu tidak perlu khawatir.”

“Katanya luka kakakmu sangat parah,” kata bu Pranoto pelan, tampak sangat khawatir.

“Tidak Bu, sekarang bapak sedang bicara sama dokternya. Mas Fajar akan mendapat penanganan terbaik,” kata Mentari, padahal sebenarnya dia juga sedang khawatir.

***

Bu Saptari segera meninggalkan rumah, untuk memenuhi permintaan Bimo agar mengabari nenek Suli tentang Sarah yang pasti akan terlambat pulang.

Nenek Suli tentu saja terkejut. Fajar sangat baik kepada keluarganya, dan kecelakaan itu tentu saja membuatnya prihatin.

“Ya Allah, semoga nak Fajar baik-baik saja. Tadi Bimo cerita apa, bagaimana lukanya? Apa parah?”

“Bimo hanya cerita sekilas. Tadi ketemu Sarah dengan temannya yang adik nak Fajar itu, lalu Bimo ikut mereka ke rumah sakit.”

“Jadi belum jelas sakitnya atau lukanya seperti apa ya?”

“Itulah Bu, saya mau meminta kejelasan juga sungkan, pasti mereka sedang cemas atas kecelakaan itu.”

“Semoga tertangani dengan baik, dan nak Fajar bisa segera sembuh.”

“Aamiin.”

“Bagaimana sakitnya bu Suli? Sepertinya sudah kelihatan segar.”

“Iya, Saptari. Alhamdulillah sudah bisa melakukan banyak hal. Menjerang air, memasak. Hanya Sarah belum mengijinkan aku bekerja kembali. Dokter juga menyarankan begitu.”

“Sebaiknya jangan dulu bu Suli, kalau sudah benar-benar sehat baru boleh, itu juga kalau bekerja harus yang ringan-ringan, bu Suli harus hati-hati.”

“Iya. Sarah juga wanti-wanti begitu. Hanya saja aku tuh kan ingin Sarah segera menikah setelah lulus nanti. Tapi anak sekarang susah diatur kalau masalah menikah. Padahal inginnya berbesan sama kamu,” kata nenek Suli sambil tersenyum.

“Sama juga saya bu Suli, tapi nggak tahu itu, Bimo juga tenang-tenang saja. Tidak menggebu seperti sebelumnya.”

“Itulah, apa aku bilang. Anak sekarang susah diatur, tidak seperti jamanku dulu. Maunya orang tua begini, ya harus begini, maunya begitu ya harus begitu.”

“Jaman sudah berubah.”

“Betul.”

Mereka berbincang agak lama, ketika hari mulai gelap barulah bu Saptari mohon pamit. Tapi nenek Suli tidak perlu khawatir karena sudah tahu keberadaan Sarah. Ia terlambat pulang karena ada halangan.

***

Sementara itu dokter Harun berkali-kali menelpon Bowo, tapi tidak diangkat. Ada berita buruk tentang ibunya.

Ketika menuju pulang, karena mengemudi sambil bercanda bersama tiga orang temannya, mobilnya menabrak mobil lain di jalan raya. Kebetulan yang ditabrak adalah mobil Fajar. Bukan hanya Fajar yang luka parah dan mobilnya ringsek, bu Lurah juga luka parah bersama ketiga orang temannya.

Tapi sejak siang harinya, dokter Harun tidak berhasil menghubungi Bowo yang menikah dua hari yang lalu. Karena itulah dokter Harun terpaksa menanganinya sendiri.  Ia hanya berpesan kepada pembantu di rumah bu Lurah tentang kejadian yang menimpa majikannya, dan memintanya mengabari ke rumah Bowo.

Tentu saja Bowo terkejut mendengar berita itu. Ia segera pergi ke rumah sakit bersama istrinya.

***

Terkejut sekali ketika di rumah sakit Bowo bertemu Sarah juga. Mereka baru tahu bahwa yang menabrak Fajar adalah ibunya Bowo.

“Saya heran, anaknya menikah, ibunya malah jalan-jalan, dan kemudian menemui kecelakaan.”

“Siapa yang menikah?”

“Itu tadi, yang namanya Bowo.”

“Oh, mas Fajar pernah cerita tentang dia. Sekarang sudah menikah?”

“Baru dua hari yang lalu.”

“Ah, syukurlah, berarti tidak akan mengejar kamu lagi dong Sar.”

“Kasihan dia. Menikah ibunya nggak mau nungguin, malah jalan-jalan.”

“Nggak setuju pernikahan itu?”

“Ibunya Bowo itu kan bekas istri lurah, kaya raya, mana mau punya menantu orang biasa.”

“Kasihan, sekarang luka parah.”

Tapi kemudian mereka terdiam. Belum ada kejelasan tentang luka Fajar. Ada tulang kaki retak yang harus dioperasi, dan perdarahan, tapi entah apa lagi, semuanya menunggu hasil pemeriksaan besok pagi.

Fajar sudah sadar, setengah sadar ketika ia melihat Sarah, tapi ada senyum kelegaan yang tak bisa diungkapkannya. Dadanya terasa sesak, mulutnya memakai ventilator.

Berlinang air mata Sarah, apalagi ketika melihat bu Pranoto dan Mentari menangisinya.

***

Sementara itu pak Karimun mengayuh sepedanya dengan tergesa-gesa. Berita kecelakaan itu membuatnya panik dan ketakutan. Ia hampir yakin bahwa Fajar adalah anaknya, hanya belum berani mengungkapkannya. Sekarang ketika mendengar Fajar mengalami kecelakaan, ia segera bergegas pulang untuk mengabarkannya kepada sang istri.

Tentu saja bu Karimun juga ketakutan.

“Pak, hampir dipastikan bahwa nak Fajar itu anak kita, seperti juga nak Bimo. Sekarang dia kecelakaan, apa yang harus kita lakukan? Aku ingin sekali melihat keadaannya Pak, tolong bawa aku ke rumah sakit di mana dia dirawat,” tangis bu Karimun.

“Iya Bu, tenang saja. Aku sudah tahu rumah sakitnya, ayo bersiap, kita ke sana sekarang.”

“Tadi itu bu Saptari juga mengatakan bahwa nak Bimo sedang pergi ke rumah sakit karena temannya atau apanya gitu kecelakaan. Dia akan mengabari seseorang. Tapi aku tidak mengira kalau yang kecelakaan itu nak Fajar,” kata bu Karimun sambil berganti pakaian.

“Kita naik apa?” tanyanya setelah siap.

“Ya aku boncengkan sepeda saja Bu, mau naik apa lagi, nanti malah kelamaan.”

“Baiklah kalau begitu. Semoga ia baik-baik saja ya Pak.”

“Aamiin.”

***

Mereka tiba di rumah sakit ketika semuanya masih di sana. Pak Pranoto heran melihat pak Karimun datang bersama istrinya. Tentu saja dia tak mengira, mengapa pak Karimun dan istrinya sangat perhatian pada kejadian yang menimpa Fajar.

“Kok pak Karimun  bersama istri ada di sini?”

“Saya ingin tahu bagaimana keadaan nak Fajar, saya sangat khawatir, Pak. Maaf kami lancang datang kemari,” kata pak Karimun dengan wajah sedih, sementara bu Karimun tampak berkaca-kaca.

“Lukanya parah Pak, sepertinya besok akan dioperasi. Tapi sedang diperiksa keseluruhan keadaannya dulu.”

“Apa saya boleh melihatnya Pak?”

“Boleh masuk, satu persatu Pak, di ruangan itu. Jangan berisik dan jangan mengajaknya bicara dulu,” pesan pak Pranoto.

Pak Karmun menarik tangan istrinya, lalu berunding siapa dulu yang akan masuk. Sikap keduanya membuat pak Pranoto dan keluarganya heran.

***

Besok lagi ya.

Thursday, October 29, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 39

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  39

(Tien Kumalasari)

 

Bowo mengusap wajahnya dengan kedua belah tangan, kemudian berdiri dan meninggalkan rumah sang ibu dengan kesal.

Pernikahan hanya tinggal sehari lagi, dan sang ibu tetap tak mau datang menghadirinya, apalagi memberikan restu. Endang yang hanya gadis kebanyakan, tak masuk hitungan bagi bu Lurah untuk menjadikannya keluarga.

Bowo pasrah. Ia hanya akan menepati rasa tanggung jawabnya sebagai laki-laki dengan penuh keikhlasan, dan itu adalah karena saran serta petuah seorang nenek yang oleh ibunya selalu disebutnya miskin.

Tapi sekarang Bowo tahu, bahwa miskin harta tidak berarti miskin adab dan tata krama. Nenek tua itu mengajarinya hidup untuk bertanggung jawab. Dan Bowo akan menjalaninya,

Memang tak ada pesta seperti kebanyakan acara pernikahan, tapi rumah Bowo ditata rapi dengan kursi-kursi yang berjajar serta hiasan bunga ala kadarnya, agar tampak bukan seperti acara biasa. Bowo tampak mengatur sendiri semuanya, dibantu para warga di kiri kanannya.

Ada sedih menyengat ketika menyadari bahwa dia akan berdiri sendiri dalam mengawali hidup berumah tangga walau awalnya dilakukan dengan terpaksa. Dan untunglah ada om Harun yang mendukungnya, setelah memberikan petuah-petuah penting yang harus dilakukannya setelah berumah tangga.

“Jalani saja, karena sesungguhnya inilah hidup yang digariskan untuk kamu, dan untuk mengakhiri semua sepak terjang kamu di masa lalu.”

Bowo hanya bisa bersyukur karena akhirnya bisa menjalaninya setelah sebelumnya merasa bingung dan tentu saja bimbang.

***

Acara akad nikah itu berjalan hikmad. Ada rasa syukur di hati Bowo, ketika melihat nenek Suli dan Sarah hadir di antara para tamu. Setelah akad selesai, Bowo mengajak istrinya mendekati nenek Suli dan bersimpuh dihadapannya.

“Eh, berdirilah, jangan begini,” kata nenek Suli sambil menarik Bowo agar berdiri.

“Kami mohon doa restu, Nenek.”

“Aku doakan kalian hidup bahagia, menjadi pasangan yang samawa, dan menjalani hidup dalam tentram dan damai,” kata nenek Suli dengan suara bergetar.

Bagaimanapun dia merasa terharu, si anak nakal yang semula dibencinya sekarang menjadi laki-laki dengan segala kedewasaannya, berani mengarungi hidup berumah tangga dan menebus tanggung jawabnya.

***

“Harun, apa kamu datang di pernikahan memalukan itu?” 

Sempat-sempatnya bu Lurah menelpon di antara acara yang sangat bersejarah bagi kehidupan anak laki-lakinya, tanpa kehadirannya.

“Bowo adalah kemenakan aku, kalau Mbak tidak mau merestuinya, maka aku yang akan melakukannya,” jawab Harun sambil  berdiri lalu keluar dari ruangan, agar tidak mengganggu para tamu undangan.

“Kamu jangan menyalahkan aku. Aku hanya menjaga marwah keluarga.”

“Marwah yang bagaimana? Meminta agar anak Mbak menghindari rasa tanggung jawab?”

“Banyak cara bisa dilakukan, tapi dia tidak mau melakukannya, dan memilih menjadikan gembel itu menjadi istrinya.”

“Hal paling buruk yang aku tidak suka pada Mbak adalah karena Mbak suka merendahkan orang lain. Mbak begitu angkuh dan sombong dengan kekayaan yang Mbak miliki.”

“Kamu tidak usah menggurui aku. Aku hanya ingin mendengar apakah pernikahan sudah berjalan?”

“Untuk apa Mbak menanyakannya? Yang terbaik adalah Mbak datang menunggui dan memberinya restu.”

“Maaf ya, aku sudah punya acara dengan teman-teman aku untuk jalan jalan ke luar kota hari ini, dan ini aku sudah di jalan. Kamu mendengar suara tawa-tawa mereka bukan?”

Dokter Harun menutup ponselnya dengan kesal, lalu melanjutkan berbincang dengan para tamu undangan.

***

“Saya tidak mengira, Bowo bisa menjalaninya dengan baik. Dia juga tampak bahagia, biarpun bu Lurah tidak hadir, " kata Sarah kepada neneknya ketika sudah ada di rumah.

“Sejak awal dia sudah tahu kalau ibunya tidak akan hadir. Itu sebabnya aku mau datang. Kasihan dia. Tampaknya harus ada tetua yang menunggui saat dia menikah," kata nenek Suli.

“Dan syukurlah ada dokter Harun juga ya Nek.”

“Dokter Harun itu adiknya bu Lurah, tapi perangainya sangat jauh berbeda.”

“Karena bu Lurah merasa bahwa dirinya sangat kaya dan harus menjadi wanita yang dihormati.”

“Susah kalau manusia mengabdi kepada harta. Tapi ya sudahlah, tidak baik ngomongin orang.”

“Nenek tadi kelihatan terharu ketika kedua pengantin meminta doa restu.”

“Iya, dan kamu tahu apa yang Njenek pikirkan? Nenek ingin sekali kamu juga segera menyusul dia.”

“Yaaah, Nenek. Sarah kan belum lulus? Bulan ini baru ujian.”

“Jadi setelah lulus kamu mau menikah?”

“Lhoh, Nenek ini bagaimana? Menikah dengan siapa?”

“Bukankah Saptari sudah pernah melamar kamu?”

“Bu Saptari?”

“Bukankah Bimo laki-laki yang baik?”

“Tapi kami hanya bersahabat Nek.”

“Dia pantas menjadi suami kamu. Dia ganteng, baik, sabar, sudah punya penghasilan. Apa kurangnya dia Sar?”

“Nek, Sarah belum ingin menikah. Setelah lulus nanti Sarah mau mencari pekerjaan, agar Nenek tidak usah lagi bekerja keras setiap hari.”

“Jangan memikirkan Nenek, pikirkan masa depan kamu. Nenek ini sudah tua, kalau sewaktu-waktu Allah memanggil, Nenek ingin agar kamu sudah ada yang mendampingi, melindungi, mencintai. Begitu lho Nduk.”

“Nenek jangan mengatakan itu, nanti Sarah menangis lhoh. Nenek masih sehat, dan masih akan lama dalam mendampingi Sarah.”

“Siapa yang bisa menolak kalau Allah menghendaki?”

“Neneeeek, jangan begitu, " rengek Sarah sambil memeluk sang nenek dan berurai air mata.

”Sarah belum siap hidup tanpa Nenek, jangan mengatakan itu lagi ya Nek,” rintihnya. 

Dan sang nenek mengelus kepala cucunya lembut.

***

Hari itu Sarah sudah kembali berjualan koran sepulang sekolah, seperti biasanya. Tapi ia melarang sang nenek bekerja berat seperti sebelumnya. Ia harus istirahat, dan tidak boleh banyak pikiran. Begitu pesan dokter yang ditaati oleh nenek Suli. Tapi nenek Suli selalu berpikir tentang Bimo yang ditolak oleh Sarah. Sebenarnya alasannya bisa dimengerti. Sarah masih sangat muda. Bagi penduduk kota dan di dunia modern, seumur Sarah belum pantas untuk berumah tangga.

Tapi sang nenek yang menganut kebiasaan di jamannya, sudah menganggap bahwa sudah sepantasnya Sarah mendapatkan jodoh.

“Apa sih kurangnya Bimo? Ia akan bisa menjadi pendamping Sarah yang baik.” 

Begitu selalu yang dikatakan nenek Suli.

Sementara itu Bimo sudah tidak lagi menggebu dalam mengejar cinta Sarah. Ia tahu Sarah menolaknya. Ia bahkan merasa bahwa Sarah lebih memilih Fajar yang jauh lebih mapan dan banyak harta. Apakah Sarah mengejar harta Fajar? Tidak. Bimo juga menampik anggapan itu. Dulu ketika Bowo memberinya iming-iming rumah bagus dan mobil berkilat, Sarah tidak tergiur. Tapi entahlah apa maunya cinta. Seperti dirinya sendiri yang memimpikan Mentari. Bukankah ini bagaikan pungguk merindukan bulan? Tapi mengapa rasa cinta mengusiknya? Ia tak tahu mengapa, tapi ia sadar akan dirinya. Barangkali cinta kepada Mentari hanyalah mimpi-mimpi indah yang mengganggunya setiap malam.

“Tak apa, tak ada yang bisa disalahkan ketika cinta menggoda. Tapi aku tahu diri. Semuanya serba tak mungkin.” 

Begitu selalu digumamkannya setiap wajah Mentari mengganggunya.

***

Sudah dua hari sejak pernikahan Bowo, Sarah kembali berjualan koran di perempatan seperti semula. Sarah  heran karena Bimo tak lagi pernah menemaninya. Ada rasa sepi ketika ia berlarian sendiri menyibak keramaian kendaraan yang berlalu lalang, demi rupiah yang diharapkannya. Biasanya ada Bimo yang membantunya.

Tiba-tiba ia melihat mobil berhenti menepi. Sarah berdebar. Itu kan bukan mobil Fajar. Walau begitu ia menunggu, dan seorang gadis berlari ke arahnya.

“Mentari?”

Mentari menubruk Sarah dan menangis tersedu.

“Ada apa Tari? Kamu membuatku takut,” kata Sarah sambil menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya.

“Sarah, mas Fajar kecelakaan.”

“Apa?”

“Lukanya parah. Mobil seorang perempuan menabraknya tanpa ampun.”

“Astaghfirullah.”

***

Besok lagi ya.

Wednesday, October 28, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 38

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  38

(Tien Kumalasari)

 

Bowo turun dari dalam mobilnya, mobil yang diparkir berhadapan dengannya sudah kosong, berarti pengemudinya tak ada. Ia sudah turun. Dengan perasaan kesal Bowo melangkah ke arah rumah nenek Suli. Bukankah dia berjanji akan mengantarkannya kontrol. Laki-laki kaya itu mendahuluinya.

Bowo berdiri di depan pintu, ia mendengar nenek Suli berbincang dengan laki-laki yang disebutnya Fajar.

“Nak Fajar, maafkan nenek Suli ya. Nenek tahu, maksud nak Fajar baik, ingin menolong nenek Suli, tapi nenek Suli sudah berjanji pada Bowo. Hari ini nenek akan diantar olehnya.”

“Tapi sekarang dia kan belum datang Nek. Lagipula apa Nenek lupa, Bowo pernah menyakiti Sarah?”

“Tidak, eeh tidak lupa, tapi nenek sudah melupakannya, karena dia sudah datang kepada Nenek dan nangis-nangis meminta maaf. Nenek memaafkannya. Mengapa tidak? Kalau Allah saja mau memaafkan umatNya yang bertobat, mengapa seorang nenek tua seperti Nenek ini tidak bisa melakukannya?”

“Iya, syukurlah kalau begitu. Tapi kok dia belum datang ya.”

“Tidak apa-apa seandainya belum datang, Nenek akan menunggu. Tidak enak kan, sudah berjanji berangkat bersama dia, tiba-tiba saya berangkat sama nak Fajar?”

“Bagaimana kalau kesiangan?”

“Tidak Nak, rumah sakit kan buka sampai sore? Terima kasih Nenek ucapkan pada nak Fajar, yang telah bersusah payah datang kemari, sementara harusnya nak Fajar kan bekerja di saat seperti ini? Tapi nenek ini orang miskin, kalau nenek mengingkari janji, pasti orang mengatakan … sudah miskin … ingkar janji … Kan nggak enak. Sebenarnya sih diantar siapapun akan sama, toh maksudnya Nenek harus kontrol kesehatan. Tapi masalah janji itu lho Nak, Nenek tidak bisa.”

“Bagaimana kalau dia tidak datang. Lihat, ini sudah jam sembilan lebih. Nanti antrenya sudah panjang.”

“Tidak apa-apa Nak, nenek tunggu saja sebentar. Nak Fajar boleh pulang dan bekerja. Masa terganggu gara-gara nenek?”

“Saya tunggu sampai dia datang Nek, kalau dia sudah datang, saya akan pulang. Takutnya dia tidak datang.”

“Baiklah, terserah nak Fajar saja.”

Bowo langsung masuk.

“Nenek sudah siap?”

“Nah, itu dia datang.”

“Ada tamu rupanya. Nenek mau berangkat kontrol sama dia?” kata Bowo.

“Tidak, bagaimana kamu ini, kan kamu sudah berjanji dan Nenek sudah menyanggupi, jadi ya Nenek mau berangkat sama kamu. Kecuali kamu membatalkannya.”

“Tidak Nek, seperti janji saya, saya akan mengantarkan Nenek. Nenek sudah bersiap? Tapi kalau Nenek lebih suka diantar mobil yang lebih bagus, ya tidak apa-apa.”

“Kamu itu ngomong apa? Bukan masalah mobil yang seperti apa. Ini janji kamu yang Nenek sudah menyanggupinya.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Nenek sudah menunggu dari tadi. Kamu tidak kenal dia? Dia juga sahabat Sarah dan sangat baik kepada nenek.”

“Oh, sudah kok. Sudah pernah kenal.”

“Kalau begitu ayo saling memberi salam,” perintah nenek Suli seperti kepada kedua anak kecil yang sedang berantem.

Bowo berdiri, dan saling memberi salam. Nenek Suli tersenyum.

“Ayo kita berangkat. Nak Fajar mau ke kantor?”

“Iya Nek.”

Nenek Suli berangkat kontrol ke rumah sakit bersama Bowo. Fajar tak merasa sakit hati. Budi nenek Suli sangat mulia, dan itu berbekas di hatinya. Biarpun dia berbaik hati dan bersusah payah ingin mengantar, tapi nenek Suli tetap tidak mau karena sudah sanggup diantar Bowo. Sebuah sikap yang patut ditiru.

Fajar menuju kantor dengan langkah yang lebih ringan.

***

“Bu Karimun, biar saja nanti Bimo ambil sendiri, bu Karimun selalu memperlakukannya sangat istimewa. Meja makan ditata rapi begitu, seperti menyambut tamu,” kata bu Saptari sambil tersenyum.

“Nak Bimo kan capek bekerja seharian. Biar dia senang kalau kita menyambutnya dengan makanan yang baik, biarpun sederhana. Dengan begitu capeknya  bisa hilang.”

“Benarkah?”

“Tentu saja benar.”

“Selama bu Karimun ada di sini, Bimo benar-benar dimanjakan oleh bu Karimun.”

“Tidak, biasa saja. Apa yang bisa saya lakukan untuk memanjakan dia? Semuanya bu Saptari yang menyiapkannya. Saya hanya tinggal menata.”

“Perhatian bu Karimun sangat besar.”

“Saya hanya teringat pada anak saya.”

“Lhoh, bu Karimun punya anak? Di mana dia?”

Tiba-tiba bu Karimun meneteskan air mata, yang kemudian buru-buru dihapusnya.

“Bu Karimun punya anak?”

Bu Karimun hanya mengangguk pelan, kemudian pergi meninggalkan meja makan yang sudah ditatanya rapi.

“Bu Karimun ini aneh, apa sebenarnya yang terjadi? Barangkali anaknya sudah meninggal, sehingga dia tak mampu mengungkapkannya,” gumam bu Saptari yang tak ingin mendesaknya lebih lanjut.

“Bu, bu Karimun mana?” tiba-tiba Bimo muncul.

“Kaget aku, tidak ada suaranya kok tiba-tiba kamu sudah ada di sini. Itu bu Karimun ada di belakang. Baru saja dia di sini tadi.”

“Oh, Bimo membelikan baju untuk bu Karimun.”

“Wah, pasti dia senang sekali. Kamu habis gajian ya?”

“Iya Bu, dan gaji Bimo sekarang jauh lebih banyak. Bimo juga beli untuk Ibu.”

“Syukurlah. Tapi tunggu dulu, akhir-akhir ini kamu kok selalu pulang langsung, biasanya menemani Sarah jualan koran. Apa dia belum mulai jualan lagi setelah neneknya sakit?”

“Entahlah, Bimo kurang memperhatikan juga sih. Besok Bimo akan melihatnya.”

“Ibu merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya kamu sekarang tidak begitu bersemangat mendekati Sarah?”

“Tidak apa-apa Bu, saya pikir-pikir kok lebih baik Bimo melupakannya.”

“Memangnya kenapa? Kok patah semangat. Ada yang lain, barangkali?” goda sang ibu.

Bimo hanya tersipu. Ada yang lain?

“Bimo ke belakang dulu, menemui bu Karimun,” kata Bimo sambil menjauh. 

Bu Saptari menatapnya heran. Perhatian kepada Sarah sudah hilang entah ke mana? Kalau ada yang lain, siapa dia?

***

Setelah mengantarkan nenek Suli, Bowo belum juga pulang dari rumahnya. Ia membeli makanan yang dimakannya bersama nenek Suli, dan juga Sarah.

“Terima kasih sudah menemani nenek ya. Tapi lain kali kamu tidak usah repot-repot lagi, kan kamu minggu depan sudah menjadi suami orang. Tidak enak kalau masih selalu memperhatikan Nenek,” kata Sarah.

“Tidak apa-apa kalau hanya mengantarkan Nenek. Istriku harus mengerti, bahwa nenek Suli adalah keluarga aku.”

“Biar bagaimanapun, kamu harus bicara dengan dia.”

“Iya, itu masalah gampang.”

“Terima kasih kebaikannya ya.”

“Untuk menebus semua kesalahan aku sama kamu.”

“Lupakan saja, semua orang pasti punya salah.”

“Besok kalau aku nikah, nenek Suli dan kamu harus datang ya.”

“Tidak usah Bowo, nanti ibu kamu marah. Kami ini keluarga yang tidak berkelas, mana mau bu Lurah melihat kami di pesta pernikahan kamu.”

Bowo tertawa getir.

“Pesta? Ibu tidak akan mau datang.”

“Masa, pernikahan putranya kok tidak mau datang.”

“Calon istri aku hanya orang kebanyakan, bukan dari keluarga seperti yang didambakan ibuku. Sudahlah, jangan bicara lagi masalah itu. Yang penting aku sudah bersedia bertanggung jawab, seperti apa yang dianjurkan nenek Suli.”

“Coba kamu bicara  lagi sama ibu kamu. Bicara yang pelan, penuh permintaan maaf dan penyesalan, ibu mana yang tidak luluh hatinya kalau anaknya memohon maaf dan menyesali perbuatannya?”

“Entahlah, aku masih bingung. Pernikahan itu aku sendiri yang mengaturnya. Bukan pesta, hanya pernikahan sederhana di rumah aku saja."

“Baiklah, aku hanya ikut berdoa, semoga kalian bahagia.”

“Tapi bener ya, kamu dan Nenek harus datang?”

Sarah tersenyum.

“Tapi aku nggak janji lhoh.”

“Nanti aku akan bicara lagi sama Nenek. Masa Nenek tega melihatku menikah tanpa ditunggui orang tua?”

***

“Apa maksudmu aku kamu suruh menunggui pernikahan memalukan itu? Lalu yang datang kerabat-kerabat dia yang semuanya miskin dan tidak berkelas? Tidak, aku tidak mau. Aku malah mau pergi jalan-jalan sama teman-teman arisan aku.”

“Bu, tega sekali Ibu ini.”

“Kamu juga tega mempermalukan keluarga ini, mengapa ibu tidak?”

“Bu, tolonglah ikut datang merestui.”

“Tidak ya tidak. Aku mau jalan-jalan!”

***

Besok lagi ya. 

Monday, October 26, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 023

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  023

(Tien Kumalasari)

 

Lili kesal sekali mendengar jawaban Baroto, ya3ng menyetujui keinginan Ana, bahkan seakan tanpa berpikir panjang.

“Gimana sih Mas, kalau Menur jadi ibunya Ana, berarti istri Mas dong.”

Baroto terbahak-bahak. Tapi Lili tak tahu apa arti tawa suaminya tersebut. Sepertinya senang, atau sedang mengejeknya? Hati Lili sedang kusut, gosokan ucapan Rumi yang kelihatannya dia acuhkan nyatanya tetap disimpan di dalam hati dan membakarnya.

“Mengapa kamu risau? Sesungguhnya Ana memang butuh seorang ibu, dan itu tidak didapatkannya dari kamu. Apa salahnya dia menganggap Menur sebagai ibunya?”

“Rasanya aku tidak rela.”

“Mengapa? Bukankah kamu tak pernah peduli tentang rumah tangga kita?”

“Sekarang aku peduli Mas, aku ingin kita mendandani rumah tangga kita, agar benar-benar seperti rumah tangga. Seperti suami istri.”

“Mengapa tiba-tiba kamu mengatakannya sementara aku sudah jenuh dengan hubungan ini?”

“Apa maksud Mas dengan ‘jenuh’? Kita akan tetap menjalani, dan mari membuat hidup kita bahagia.”

“Telat.”

Ucapan suaminya itu seperti sembilu menancap di dadanya. Terasa sakit.

“Mas, apakah ada yang terlambat untuk memperbaiki sesuatu yang tidak benar?”

“Kamu ini ngomong apa, aku sudah sampai tujuan, sudah dulu dan kamu tidurlah,” kata Baroto yang segera menutup pembicaraan itu. Mungkin memang sudah sampai tujuan, tapi mungkin juga sedang enggan bicara tentang rumah tangganya.

Lili menghela napas berat. Rasa sakit dan kecewa membuatnya susah memejamkan mata. Ia memarahi dirinya yang tiba-tiba mencintai suaminya. Karena Rumi memanas-manasinya? Harusnya dia tak peduli, mengapa jadi peduli? Ia merasa kalah sama Menur. Kalah cantik, kalah dalam merengkuh cinta Ana, dan kalah dalam menarik hati suaminya? Yang terakhir ini masih harus dibuktikan. Ini baru gosokan dari Rumi yang belum terbukti kebenarannya.

***

Dan di malam yang sama, saat Rahman terbangun, ia melihat sang ibu masih terjaga, duduk sendirian di ruang makan. Secangkir kopi menemaninya.

“Mengapa Ibu belum tidur?”

“Mengapa kamu bangun?”

“Ibu ditanya malah ganti bertanya. Rahman kebelet pipis, tapi dari kamar mandi melihat ibu masih duduk sendirian di sini.”

“Ibu sudah biasa tidur malam. Tidak apa-apa, kamu tidurlah, besok jangan sampai bangun kesiangan.”

“Ibu juga harus tidur, supaya besok juga tidak bangun kesiangan.”

Menur tersenyum, lalu berdiri, setelah menghabiskan kopinya.”

“Soalya Ibu minum kopi, jadi nggak bisa segera tidur. Kata orang kalau minum kopi susah tidurnya.”

“Tidak semua begitu. Biasanya ibu juga bisa tidur nyenyak,” katanya sambil mengelus kepala anaknya, kemudian masuk ke kamar masing-masing.

Banyak yang dipikirkan Menur.  Tentang hidupnya, tentang anaknya, tentang hubungan Baroto dengan Rahman. Ingin ia lari dari semuanya sehingga hidupnya tidak terbebani. Pertemuan dengan suami yang tadinya pernah diimpikannya, ternyata membuatnya menjadi rumit. Bukan kebahagiaan yang didapatnya, tapi justru penderitaan. Ia ingin menghindar, tapi kasih sayangnya kepada Ana seakan menjeratnya. Ia tak tega meninggalkan Ana. Ia tahu kalau Ana sangat bergantung padanya, bahkan ingin agar dirinya menjadi ibunya.

Entah apa yang dipikirkan Lili ketika mendengar permintaan Ana tadi.

***

Pagi hari itu Ana berjingkrak-jingkrak kegirangan karena mama dan neneknya mengijinkan dirinya memanggil Menur dengan sebutan ‘ibu’. Tak banyak yang dibicarakan Lili ketika bertemu Menur, kecuali hanya menawarkan makan bersama yang sebenarnya hanya basa basi, dan Menur selalu menolaknya.

Rasa kesal kepada Menur yang sebenarnya tak beralasan selalu ditahannya. Ia merasa tak pantas mencemburui Menur yang walau masih kerabat tapi ia merasa lebih tinggi.

Nyonya Sasa pagi hari itu datang ke rumah, karena ingin menemui Menur.  Ana sedang berada di ruang belajar bersama gurunya.

“Menur, duduklah di sini.”

Menur duduk di depan bibinya, yang kemudian memberikan sebuah amplop berisi uang.

“Ini dari Ana, jangan kamu anggap ini gaji, karena sekarang kamu adalah ibunya.”

Kata itu terdengar manis. Senang karena dirinya adalah ibu Ana.

“Kamu jangan menolaknya, karena kamu butuh membiayai sekolah anak kamu bukan? Rahman juga butuh makan, pakaian. Dan kalau tidak salah bulan ini Rahman ujian, lalu masuk SMP. Itu tidak murah. Nanti aku akan membantu kalau biaya untuk sekolah Rahman masih kurang.”

Menur menundukkan kepalanya. Ia memang butuh uang tapi untuk makan dan kebutuhan rumah. Bukankah Baroto sudah membayar semua biaya sekolah Rahman? Bahkan untuk masuk ke SMP sudah ada yang mengurusnya, yaitu kepala sekolah Rahman yang ternyata adalah teman sekolah Baroto.

Tapi ia tak mungkin mengatakan semuanya kepada bibi Sasa.

Ketika sedang berbincang itu, tiba-tiba terdengar ponsel berdering dari saku Menur. Menur sangat terkejut. Ponsel Rahman tadi dititipkan padanya, dan dia lupa menyimpannya di rumah, malah terbawa di saku bajunya. Menur takut sekali.

Menur terkejut. Bingung harus bagaimana. Ponsel itu sudah dipegang, terus berdering. Menur mematikannya. Nyonya Sasa melihatnya heran.

“Mengapa dimatikan? Terima saja, kalau kamu tak ingin aku mendengarnya, aku akan menyingkir sebentar.”

“Tidak, tidak Bibi. Ini … bukan telpon untuk saya.”

“Itu ponsel kamu kan? Bagus, itu ponsel mahal,” kata sang bibi lagi.

“Ini, sebenarnya terbawa oleh saya. Ini ponsel Rahman, eh … maksud saya, ponsel temannya Rahman yang dititipkan, tadi lupa … lupa saya berikan, malah terbawa oleh saya.”

“Oh, begitu. Tapi lain kali kamu juga butuh ponsel. Barangkali aku ingin bicara, kalau kamu punya ponsel, kan lebih enak.”

“Ti … tidak Bibi, tidak usah, saya … saya tidak terbiasa memakai … ponsel.”

“Menur, sekarang jaman sudah berubah. Ponsel bukan sekedar untuk menyombongkan diri atau apa, tapi ia sangat berguna karena memudahkan komunikasi. Nanti aku akan belikan kamu ponsel.”

“Tidak Bibi, tidak usah ….”

“Jangan begitu. Kamu itu terlalu sederhana. Kamu harus ingat pada kemajuan jaman. Ana saja bisa memakai ponsel, masa kamu tidak?”

“Saya kira … tidak perlu untuk se … eh … saat ini.”

“Jangan membantah. Sekarang ini aku harus mengajari kamu untuk menjadi perempuan yang mengikuti jaman. Jangan terlalu terbelakang atau kolot. Kamu itu cantik, kamu itu pintar, walau tidak sempat sekolah tinggi. Tapi kamu harus bisa mengikuti majunya jaman,” kata sang bibi tandas.

Menur menundukkan wajahnya. Rasa keterkejutannya tentang ponsel yang berdering masih membuatnya berdebar-debar.

“Ya sudah, kamu lihat apakah Ana sudah selesai, nanti kalau Ana selesai, aku akan mengajak kamu dan Ana berjalan-jalan.”

“Ke mana, Bibi?”

“Namanya jalan-jalan … ya jalan-jalan, pokoknya kita senang. Ana juga pasti senang. Selama ini, aku yang selalu mengajak Ana keluar. Mamanya tidak pernah. Dia sibuk dengan urusannya sendiri.”

Menur mengangguk.

“Saya lihat Ana dulu.”

Nyonya Sasa menatap punggung Menur sambil tersenyum. Menur adalah keponakannya karena anak dari kakak sepupunya. Ia menyayanginya karena merasa sedarah daging. Sepeninggal Menur kedua orang tuanya sudah tak ada. Ia wajib menyayanginya seperti kepada anak sendiri.

Ketika itu Rumi dengan bibir monyongnya sudah kasak kusuk dengan rekan-rekan pembantu yang sedang bekerja di dapur.

“Dengar, ada berita bagus lagi. Tahu nggak, sebentar lagi nyonya besar akan mengajak Menur jalan-jalan. Apa tidak enak? Baru saja masuk sebulan lebih, sudah mendapatkan macam-macam.”

“Masa?”

“Ya tidak apa-apa. Toh Menur tidak pernah mengganggu kita. Dia justru baik kepada kita.”

“Iya, benar, mulut Rumi tuh yang sukanya ngadu-ngadu.”

“Kalian itu dikasih tahu malah menyalahkan aku. Apa kalian tidak iri hati mendepat perlakuan beda?”

“Siapa yang iri hati?”

Rumi hampir terjengkang karena terkejut. Tiba-tiba sang nyonya besar sudah ada di belakangnya.

“Eh, Nyonya. Kami tidak tahu ada Nyonya ..”

“Kamu ngomong apa sama teman-teman kamu?”

“Eh … ti … tidak Nyonya, hanya ngobrol biasa.”

“Kamu, dan kalian … apa nyonya kamu tidak pernah memberi tahu bahwa Menur itu keponakan aku?”

Semuanya terdiam, karena terkejut.

Sebenarnya Rumi sudah bertanya-tanya, mengapa Menur memanggil bibi kepada sang nyonya besar. Tapi nyatanya nyonya Lili tidak pernah mengatakan apa-apa pada mereka. Dan ternyata Menur adalah keponakan nyonya besar? Berarti masih saudara dekat dengan nyonya majikan mereka kan? Wajah Rumi pucat pasi.

“Nyonya, kami tidak pernah mengatakan hal buruk tentang … Men … eh.. keponakan Nyonya. Rumi itu yang suka bicara tentang .…”

“Panggil dia nyonya Menur,” titah nyonya Sasa.

“Baik Nyonya, jawab ketiga pembantu serentak, tapi Rumi menjawabnya dengan gagap.

“Ba … baik Nyonya.”

“Dan jangan sekali-sekali bicara buruk tentang keponakanku, kalau tidak ingin aku pecat.”

“Baik,” jawab Rumi pelan.

Ketika sang nyonya besar meninggalkannya, semua pembantu menuding hidung Rumi dengan marah.

“Dasar bibir monyong. Rasain. Ternyata dia juga seorang nyonya.”

Menur pergi dengan membawa wajah muramnya.

“Masa aku yang salah? Nyonya majikan tidak pernah mengatakannya kalau masih saudara, padahak sudah sebulan lebih dia di sini. Apes aku hari ini, ketahuan nyonya besar ketika sedang ngomongin dia,” katanya dalam hati.

***

Hari itu Ana senang sekali, melihat-lihat toko besar yang menjual baju-baju bagus. Ana memilih-milih, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk ibu Menur.

Berkali-kali Menur menggoyang-goyangkan tangannya, menolak, tapi Ana dan nyonya Lili memaksanya.

“Kamu adalah keponakanku, sama juga anakku, jadi kamu harus berpakaian pantas.”

“Bukankah Bibi sudah membelikannya yang bagus-bagus?”

“Nggak apa-apa ditambah lagi untuk ibu Menur, ya kan Nek?” celoteh Ana.

“Iya benar.”

“Nanti aku juga akan membelikan ponsel untuk kamu.”

“Bibi, sudahlah.”

“Jangan membantah dan jangan menolak,” kata nyonya Sasa tandas.

Nyonya Sasa juga akan pergi ke sekolah Rahman untuk melunasi semua yang harus dibayar Rahman, tapi dia tidak akan mengatakannya kepada Menur. Nyonya Sasa berpikir, kalau dia mengatakannya, maka Menur pasti menolaknya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, October 21, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  37

(Tien Kumalasari)

 

Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta agar Sarah diijinkan diambilnya sebagai istri.

“Bowo, dengar, jodoh itu Gusti Allah yang menentukan. Jangan memaksakan kehendak. Sarah masih sekolah dan jauh dari pemikiran untuk menjadi istri.”

“Bukan itu Nek, Saya sudah mengatakannya, bukan tentang Sarah.”

“Baiklah, ceritakan. Kamu tampak sangat kusut.”

“Saya menemukan ketenangan ketika bersama Nenek. Sungguh. Saya tidak suka keluarga saya, apalagi ibu saya yang terlalu menekan saya dan memaksakan kehendak. Ijinkan saya berkeluh pada Nenek.”

“Baiklah. Bukankah sejak tadi aku sudah mengatakan bahwa kamu boleh mengatakan apa yang ingin kamu katakan?”

Bowo mengangkat wajahnya, lalu mengusap air matanya. Tapi ia masih ngelesot didepan nenek Suli.

“Bangkitlah, duduk yang baik.”

“Biarlah saya dekat dengan Nenek. Akan saya ceritakan semuanya tentang saya, keburukan-keburukan saya dan nasib sial yang kemudian menimpa saya.”

Tak urung runtuh belas kasihan nenek Suli melihat wajah Bowo yang begitu memelas.

”Ceritakanlah, anak muda," katanya sambil menyentuh bahu Bowo.

Lalu Bowo menceritakan semuanya, tentang sepak terjangnya, karena merasa wajahnya tampan dan uangnya yang banyak, lalu dia mempermainkan banyak wanita. Tapi sesungguhnya dia sudah berhenti, ketika melihat Sarah, ketika melihat kebaikannya dan perjuangannya. Dari yang tadinya ingin memaksa Sarah dengan tindakan yang arogan, kemudian runtuh penyesalah di hatinya, lalu bersikap sangat baik, berharap Sarah mau berpaling pada dirinya.

Ia bahkan menceritakan ketika Nenek jatuh sakit lalu memanggil dokter Harun dan mengantarkannya ke rumah sakit. Dan itu membuat nenek Suli terkejut.

“Jadi itu kamu?”

“Saya masih bersembunyi karena takut Nenek tidak mau ke rumah sakit kalau saya yang mengantar.”

“Apa kamu yang membayar semua biaya ketika saya dirawat?”

“Tidak. Eh, iya … tadinya, tapi Sarah mengembalikan semua uang saya, entah siapa yang kemudian memberinya uang.”

“Sarah tidak mau mengatakannya.”

"Cerita saya masih berlanjut Nek.”

“Baiklah.”

Lalu Bowo mengatakan tentang kedatangan Endang yang tiba-tiba, lalu memaksanya menikahinya. Dan Bowo kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan nenek Suli.

“Jadi itu yang membuat kamu sedih?”

“Nenek, ini adalah hukuman untuk saya. Saya tak berdaya dan harus memenuhi keinginannya.”

“Bukan memenuhi keinginannya Bowo, tapi memenuhi rasa tanggung jawab kamu karena kamu telah melakukan sesuatu yang seharusnya kamu pertanggung jawabkan. Mengapa kamu sedih?”

“Saya tidak mencintai Endang.”

“Kamu ini laki-laki macam apa? Kamu telah menodainya lalu kamu ingkar karena kamu tidak mencintainya? Alangkah buruknya sikapmu ini. Buruk dan tidak menunjukkan bahwa kamu adalah ksatria sejati,” tegur nenek Suli dengan wajah muram.

“Nenek ….”

“Kamu sudah berusaha memperbaiki kelakuan kamu yang tidak terpuji. Itu bagus, tapi ada sebuah tanggung jawab yang menunggu penanganan kamu, yaitu menikahinya. Mengapa kamu sedih? Menangis? Apa tidak kamu bayangkan bagaimana gadis bernama Endang itu membawa perut gendutnya ke mana-mana sedangkan laki-laki yang berbuat tidak mau bertanggung jawab? Alangkah terlukanya setelah kamu renggut kesuciannya kemudian kamu tinggalkan dengan dalih kamu tidak cinta. Kamu ini laki-laki kejam, Bowo.”

“Saya sudah bersedia menyanggupinya Nek.”

“Tapi tidak sepenuh hati kan? Nyatanya kamu nangis-nangis di sini, berkeluh tentang tidak adanya cinta di hati kamu terhadap gadis itu. Kok enak sebagai laki-laki. Kamu nikmati tubuhnya lalu berat bertanggung jawab karena tidak cinta.”

Bowo terdiam, ia mengangkat wajahnya dan mengusap sisa air matanya.

“Nenek jangan memarahi saya. Di rumah saya sudah habis diomelin ibu saya, saya hancur kalau Nenek juga memarahi saya. Hanya kepada Nenek saya berkeluh.”

“Apakah gadis itu dari kalangan orang biasa? Bukan anak orang kaya seperti idam-idaman ibu kamu?”

“Dia hanya pegawai toko.”

“Jadi kemarahan ibumu itu aku yakin pasti berbeda dengan kemarahan Nenek. Ibumu marah karena gadis itu bukan kalangan sederajat dengan keluarga kamu. Ya kan? Tapi Nenek marah karena kamu menyesali kesanggupan kamu untuk menikahi gadis itu. Apa kamu mengerti bedanya? Mana yang benar menurut kamu? Kemarahan ibu kamu atau kemarahan nenek Suli?”

Bowo terdiam.

“Duduklah yang baik, jangan ngelesot begini. Lalu renungkanlah apa yang Nenek katakan. Tapi semua itu terserah kamu. Apa kamu akan hidup dalam penyesalan, atau kamu akan hidup dalam rasa tanggung jawab kamu sebagai laki-laki... Nenek buatkan minum untuk kamu?”

“Tidak Nek, jangan. Tidak usah,” katanya sambil mengangkat tubuhnya dan duduk di kursi di depan nenek Suli.

“Baiklah. Sekarang renungkan dengan hati tenang, jangan menyesal karena sanggup menikahi, tapi menyesallah karena kamu telah melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Dan yang kamu hadapi sekarang ini, adalah penebusan dosa kamu, ingat itu. Ini juga sebuah peringatan agar kamu tidak mengulanginya.”

***

Bowo pulang dari rumah nenek Suli dengan hati yang lebih ringan. Ia menyadari semua kesalahannya. Ia tahu bahwa Endang membutuhkannya, bukan karena Endang sangat mencintainya dan berharap bisa menjadi istrinya, tapi ada segumpal nyawa di dalam rahimnya yang membutuhkan pengakuan seorang ayah.

Ia berjanji bahwa minggu depan ia akan menikahi Endang, yang semula dilakukannya dengan sangat terpaksa, tapi sekarang ia akan melakukannya dengan penuh keikhlasan. Didalam perut Endang ada darah dagingnya, yang tiba-tiba menggelitik hatinya untuk menyayanginya.

Tapi sesampai di rumah, sang ibu sudah menunggu. Bowo menghempaskan napas kesal. Pasti akan terjadi keributan, pasti ada yang tidak benar dengan keputusannya.

Bowo turun dari mobil, belum sampai dia naik ke teras, sang ibu sudah menyemprotnya. 

"Apa yang akan kamu lakukan? Orang tua perempuan itu tadi kemari minta surat-surat yang entah aku tidak mau mendengarnya.”

“Mana dia?”

“Sudah aku usir.”

“Mengapa Ibu mengusirnya? Dia akan mengurus surat-surat untuk pernikahan.”

“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Mengapa kamu jadi menikahinya? Aku melihat ayahnya tadi, badannya bau, bajunya kusut. Hiih, dia akan menjadi besanku?”

“Bu, aku tidak bisa ingkar. Bayi yang dikandung Endang adalah darah dagingku.”

“Kamu kan bisa membayarnya?”

“Dia tidak mau. Kalau aku menolak, aku akan dilaporkannya ke polisi. Ibu kan sudah tahu karena aku sudah mengatakannya?”

“Ya sudah, terserah kamu, Ibu nggak ikutan. Dan jangan harap Ibu merestui pernikahan itu,” kata bu Lurah yang langsung berdiri dan pergi.

Bowo menghela napas lega, setidaknya tidak mendengar sang ibu mengomelinya lagi. Ia segera masuk ke dalam rumah, menyiapkan surat-surat yang pastinya dibutuhkan orang tua Endang.

***

Sarah pulang dari sekolah, dan bersyukur nenek Suli kelihatan baik-baik saja. Tapi Sarah heran ketika neneknya bercerita tentang Bowo.

“Jadi Bowo akan menikah?”

“Katanya minggu depan.”

“Aku tahu Endang. Dulu bersekolah di sekolah Sarah, setahun di atas Sarah. Orang tuanya menjadi sopir di sebuah perusahaan, entah perusahaan apa. Apa bu Lurah mau menerimanya?”

“Menurut Bowo, ibunya menentangnya. Tapi Bowo harus tetap menikahinya.”

“Syukurlah, semoga dia menjadi laki-laki baik yang bertanggung jawab.”

”Banyak sekali tadi Nenek bicara sama dia, semoga dia mau mendengarnya, dan kemudian menikahi Endang dengan ikhlas serta penuh rasa tanggung jawab."

“Oh iya, besok Nenek kontrol kan, Sarah akan minta ijin pulang lebih awal agar bisa mengantarkan Nenek.”

“Tidak, tadi Bowo mengatakan akan mengantarkan Nenek, jadi kamu sekolah saja seperti biasa.”

“Benarkah?”

“Tadi sebelum pulang dia mengatakannya.”

“Kok dia tahu kalau Nenek harus kontrol besok?”

“Dokter Harun kan pamannya.”

“Oh, iya, Sarah lupa.”

***

Tapi ketika esok harinya Bowo datang ke rumah nenek Suli, ia melihat ada mobil yang sudah terparkir di jalan depan rumah nenek Suli. Mobil yang dikenalnya. Apakah kali ini ia akan bersaing untuk berebut mengantar nenek Suli? Rasa kesal mulai menyulut hatinya.

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...