Tuesday, December 26, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 25

 BUNGA UNTUK IBUKU  25

(Tien Kumalasari)

 

Baskoro terdiam untuk beberapa saat. Selama ini, Suri lah yang mengatur keuangan dari gaji yang diberikan. Ia biasanya sudah menyisihkan uang gaji itu, untuk membayar kontrakan rumah.  Karenanya dia bingung ketika mendapat tagihan itu. Setengah tahun adalah separo dari perjanjian kontrak. Itu nilai yang belum dibayar. Uangnya kira-kira tujuh setengah juta. Dari mana Baskoro mendapat uang sebanyak itu? Uang yang dibawanya hanya sekitar satu jutaan, yang ditolak Suri ketika diberikannya. Uang itu masih ada di dalam sakunya, yang sedianya akan diberikan lagi kepada Suri setelah amarahnya reda. Pasti karena marah itulah Suri menolak pemberiannya.

“Bagaimana pak Baskoro? Waktu saya tidak banyak,” kata si pemilik rumah lagi. Ia adalah seorang wanita setengah tua yang badannya sangat gendut. Jauh lebih gendut dari istrinya yang selalu dipanggilnya si tambun. Matanya tajam, tak ada ramah-ramahnya. Barangkali begitu cara orang menagih hutang agar terlihat sangar.

“Maaf Bu, sebenarnya yang mengetahui soal kontrak rumah itu istri saya. Maukah ibu menunggu sebentar lagi?”

“Saya tidak punya banyak waktu. Saya meninggalkan pekerjaan saya di rumah, hanya untuk menagih kekurangan uang sewa. Jadi saya minta pak Baskoro saja yang membayarnya, tak perlu menunggu bu Suri.”

“Tapi saya tidak punya uang sebanyak itu.”

“Sebaiknya pak Bas tidak membebankan semua ini kepada bu Suri. Kasihan dia, susah-susah mencari uang guna mencukupi kebutuhan hidup. Sampai-sampai dia menjajakan jualannya di sepanjang jalan, masuk dari rumah ke rumah. Kasihan kan? Jadi apa salahnya kalau pak Baskoro juga ikut memikirkannya.”

“Tapi Bu, saya hanya membawa uang satu juta.”

“Ini waktunya para pegawai menerima gaji. Masa Pak Bas nggak punya uang?”

“Gaji saya itu, nantinya juga saya berikan kepada istri saya. Jadi silakan Ibu menunggu sampai dia pulang kembali,” kata Baskoro kesal.

Kalau saja pintu rumahnya terbuka, ia pasti akan segera masuk ke dalam rumah dan menguncinya, agar pemilik rumah itu tidak terus-terusan memaksanya.

“Kalau Pak Baskoro tidak bisa membayarnya sekarang, saya minta besok pagi rumah ini sudah dikosongkan. Banyak yang mau menyewanya dengan harga yang lebih tinggi,” kata pemilik rumah dengan mata melotot.

Baskoro mengangguk.

“Baiklah, nanti istri saya yang akan membayarnya. Kalau Ibu mau menunggu sebentar saja, pasti dia sudah pulang,” kata Baskoro yakin, bahwa Suri pasti sudah menyiapkan kekurangan uang sewa itu, karena  Suri juga tahu bahwa ini adalah hari terakhir perjanjian sewa itu.

“Baiklah, saya pulang dulu, tapi nanti saya akan kembali,” katanya sambil beranjak pergi, membuat Baskoro merasa lega.

Tapi kelegaan itu perlahan bercampur rasa gelisah, ketika sudah jam setengah sembilan malam Suri belum tampak kembali. Baskoro sudah penat menanti, dan Rusmi sudah berkali-kali menelpon memintanya datang. Tapi dia harus bertemu Suri dan berbicara. Setelah ia mendengar kata ‘cerai’ yang diucapkannya tadi, ia benar-benar merasa gelisah. Bukan karena ia sangat mencintai sang istri, tapi karena ia tidak ingin kehilangan seorang wanita yang setiap saat melayaninya dengan penuh perhatian.

Baskoro sedang berdiri untuk melemaskan ototnya yang kaku karena berjam-jam duduk menunggu, ketika tiba-tiba sang pemilik rumah sudah datang kembali.

Kali ini ia tidak langsung duduk seperti ketika datang pada sore harinya.

“Pak Baskoro, saya tidak tahu kalau ternyata bu Suri sudah datang ke rumah sejak tadi siang. Waktu itu saya sedang pergi, jadi yang menerima hanya pembantu saya. Saya baru pulang sore hari, lalu langsung datang kemari, jadi tidak tahu bahwa bu Suri sudah berpesan kepada pembantu saya, bahwa dia tidak akan menempati lagi rumah ini.”

Baskoro sangat amat terkejut.

“Suri mengatakan itu?”

“Benar, kata pembantu saya, siang tadi dia datang membawa colt terbuka untuk membawa alat-alat masak dan barang-barang dari rumah ini.”

“Ke mana dia?”

“Dia tidak mengatakan ke mana akan pergi, kecuali hanya menyerahkan kunci rumah. Kecuali itu dia berpesan, agar kekurangan uang sewa akan dibayar oleh pak Baskoro.”

“Apa?”

“Jadi saya datang kemari untuk menagihnya kepada pak Baskoro.”

Pemilik rumah itu kemudian membuka rumah dengan kunci yang dibawanya. Baskoro mengikutinya. Lalu dia tertegun ketika memasuki kamar, dia melihat almari Suri hampir kosong, hanya tinggal lembaran-lembaran baju yang tidak terpakai. Ketika menuju dapur, ia tak melihat alat-alat dapur lagi di sana.

Memang, ketika rumah itu disewa, segala macam kursi, almari, tempat tidur, se mua sudah ada. Mereka tinggal menempatinya. Kecuali peralatan memasak yang belum ada, dan Suri harus membelinya sendiri. Sekarang dia sudah pergi, dan peralatan dapur itu sudah tak ada lagi di sana.

Baskoro merasa lemas. Ia mencoba menelpon Suri, tapi Suri mematikan ponselnya.

“Pak Baskoro, Anda sudah melihat sendiri, bahwa bu Suri sudah benar-benar pergi. Jadi saya tetap akan menagih sisa uang sewa yang belum terbayar. Dan kalau pak Baskoro ingin melanjutkan menyewa atau mengontrak, sekaligus saya minta bayarannya, lalu kita akan membuat perjanjian kontrak yang baru,” kata si pemilik rumah yang sekarang duduk menunggu di ruang tengah.

Baskoro mengacak rambut di kepalanya sendiri dengan perasaan gelisah.

Saat itulah Rusmi kembali menelpon. Tampaknya nyonya atasannya itu sudah sangat menginginkannya menghabiskan malam bersama, seperti hari-hari sebelumnya.

“Bu, saat ini aku sedang ada masalah. Tapi kalau Ibu bisa mentransfer uang sedikitnya tujuh setengah juta malam ini, aku akan segera datang menemui Ibu.”

“Apa? Tujuh setengah juta? Untuk apa?”

“Nanti akan aku ceritakan. Tolong kirimkan saja dulu uangnya,” katanya enteng, sepertinya ia sudah biasa meminta uang kepada nyonya cantik yang menggairahkan itu.

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Baskoro menutup ponselnya dengan lega, lalu menatap si pemilik rumah yang masih menunggunya dengan tatapan memaksa.

“Bu, tunggu sebentar ya. Sisa uang sewa akan segera saya transfer ke rekening ibu. Dan saya tidak ingin memperpanjang kontrak rumah ini,” kata Baskoro dengan perasaan lega, walau kekecewaan tentang kepergian Suri masih membebani pikirannya.

***

Hampir tengah malam Baskoro datang ke rumah keluarga Raharjo, tapi Rusmi masih dengan sangat setia menunggu. Baskoro datang dengan membawa kopor berisi pakaian, terutama pakaian kerja yang harus dikenakan setiap hari. Rusmi dengan heran menatapnya.

“Apa yang terjadi?”

“Istriku minggat.”

Bukannya ikut prihatin, Rusmi malah tertawa senang.

“Syukurlah, jadi kamu bersiap menceraikannya bukan?”

“Apa boleh buat,” keluhnya sambil langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang di kamar Rusmi.

“Kamu kelihatan sangat sedih?” kata Rusmi curiga.

“Bukan sedih karena kehilangan cinta. Sedih karena kehilangan pembantu,” katanya berterus terang.

“Lalu untuk apa uang itu?”

Melunasi uang sewa rumah selama setengah tahun. Itu sebabnya aku membawa baju-bajuku, karena aku tidak mau lagi memperpanjang kontrak rumah itu.”

“Bagus. Kamu bisa tinggal di sini, karena memang di sinilah seharusnya kamu tinggal. Bukankah itu yang selalu kita inginkan?”

Baskoro hanya mengangguk. Ia segera melupakan kekesalannya terhadap Suri, karena Rusmi selalu membuatnya lupa segala-galanya.

***

Dan karena selalu merasakan kesenangan itulah, Rusmi bahkan melupakan anaknya sendiri yang entah pergi ke mana.

Siang tadi Hasti disuruhnya pergi ke sekolah Nilam, tapi pihak sekolah mengatakan bahwa seseorang telah meminta surat keterangan pindah, tapi mereka tidak tahu persisnya kemana Nilam pindah sekolah.

“Siapa yang meminta surat keterangan pindah itu? Jangan-jangan bibik?” curiga Rusmi.

“Bukan. Ketika Hasti menunjukkan foto bibik, mereka mengatakan bahwa bukan dia yang datang. Katanya masih agak muda dan cantik, tapi penampilannya sederhana. Itu yang mereka katakan.”

“Siapa ya?”

“Dengan adanya permintaan surat pindah itu, berarti NIlam berada bersama orang yang mau merawatnya dengan baik. Buktinya dia juga mau menyekolahkannya,” kata Hasti.

Rusmi mengangguk, dan karena itulah ia merasa lebih tenang, bahkan tidak lagi memikirkannya. Rusmi benar-benar sudah seperti orang kesetanan, memburu kesenangan dan melupakan semua hal, bahkan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Siapa yang tak sedih saat anaknya meninggalkannya? Tapi Rusmi memang bukan manusia biasa. Hatinya adalah iblis, perilakunya juga iblis. Ia bahkan tak mau melaporkannya kepada polisi, karena takut akan bayangan dosanya sendiri.

***

Nilam sedang menata buku-bukunya yang baru dibelikan Suri untuk sekolahnya. Ia sudah bersekolah di sekolah yang baru, agak jauh di pinggiran kota, tapi dekat dengan rumah sewa yang dikontrak Suri. Suri yang sangat bahagia dengan adanya Nilam di sampingnya, tak lagi memikirkan Baskoro yang bertahun-tahun menjadi suaminya, dan ternyata mengabaikannya.

Ia juga bersyukur, dagangannya semakin laris, bahkan sering mendapat pesanan. Hal itu membuat Suri akhirnya bisa menabung kembali, setelah beberapa uangnya menipis karena dipergunakan untuk membayar sewa dan memasukkan Nilam ke sekolah yang baru. Ia juga bisa memenuhi semua kebutuhan Nilam, yang memang sangat diperhatikan oleh Suri, seperti kepada anak kandungnya sendiri.

“Apa kamu senang, bersekolah di sekolah yang baru?” tanya Suri pada suatu malam.

“Senang sekali Bu, teman-teman baru Nilam sangat baik dan ramah.”

“Belajarlah yang rajin.”

“Bukankah Nilam sangat merepotkan ibu?”

“Mengapa kamu berkata begitu?”

“Ibu harus mengeluarkan uang banyak untuk Nilam.”

“Biarpun uang ibu habis, tidak masalah asalkan kamu bisa bersekolah dan senang. Tapi uang ibu yang habis itu sudah tergantikan kok. Buktinya, dagangan ibu sangat laris, dan sekarang sudah bisa menabung lagi.”

“Syukurlah Bu. Sebenarnya Nilam ingin membantu berjualan.”

“Tidak. Tugas kamu adalah sekolah. Dan kamu adalah anak yang rajin. Kamu bisa bersih-bersih rumah sepulang dari sekolah, dan terkadang membantu pekerjaan ibu di dapur, itu sudah membantu. Ibu senang punya kamu.”

Nilam tersenyum. Ia tak menyangka bisa bertemu wanita yang bisa menyayanginya dengan sangat mengharukan, dan membuat dia merasa nyaman bersamanya. Tapi terkadang ingatannya akan ayah tirinya dan Wijan, membuatnya sedih. Apa kabar mereka, dan dimana? Pertanyaan dan harapan itu selalu ada di dalam benak Nilam.

***

Hari terus berjalan. Apa kabar Wijan?Apakah Wijan melupakan Nilam? Tidak. Saat sepi menyendiri, ingatan tentang adik tirinya yang manja dan sangat mengasihinya itu selalu mengganggunya. Ia tentu tidak mengira kalau Nilam pergi dari rumah saat mengetahui bahwa dirinya diusir dari rumah orang tuanya sendiri.

Wijan pergi ke kota lain, dan melanjutkan sekolahnya di sana. Ia tak ingin bertemu dengan keluarga ibu tirinya, dan melupakan bahwa yang ditinggalkannya adalah rumah ayahnya, dan dia berhak memilikinya. Wijan hanya ingin belajar dan berhasil menjadi orang seperti harapan ayahnya saat pertemuannya yang terakhir. Terkadang Wijan menitikkan air mata kalau teringat ayahnya. Sama sekali dia tak menyangka bahwa pesan ayahnya ketika mengantarkannya ke rumah sakit itu adalah pesan terakhirnya. Apakah Raharjo benar-benar sudah meninggal?

Walau pemikiran itu ada, tapi Wijan tetap berharap, bahwa ayahnya masih akan ada, dan hidup menerangi hari-harinya.

“Bapak akan kembali kan? Bapak akan melihat Wijan berhasil menjadi orang seperti harapan Bapak kan?” bisiknya saat malam ketika ia duduk sendirian di depan rumah yang ditinggalinya, sambil menatap hamparan bintang-bintang dilangit yang biru.

“Bapak menatap bintang-bintang yang sama kan? Wijan rindu Bapak,” kalau sudah begitu, Wijan tak akan pernah bisa menahan isaknya.

Wijan menyewa sebuah rumah kecil sederhana yang hanya memiliki satu buah kamar. Ia hanya ingin tenang dalam belajar. Ia beruntung ayahnya memberinya uang ketika itu, yang kata ayahnya bisa untuk membiayai sekolah dan kuliahnya. Wijan mempercepat pelajarannya di SMA, dan berharap tahun depan  sudah bisa masuk kuliah. Mengapa tidak? Wijan punya semangat tinggi, dan punya mimpi tentang keinginan ayahnya yang akan berhasil digenggamnya.

Ia mengganti nomor kontaknya ketika pak Rangga sering mengontaknya. Ia tak ingin kembali ke kota itu, kemudian bertemu lagi dengan ibu tirinya. Ia akan melupakan semuanya dan akan meniti kehidupannya yang baru.

***

Seorang wanita renta membawa tongkat penopang tubuhnya, keluar dari sebuah gubug yang agak terpencil di sebuah desa. Ia menatap kesana kemari, seperti ada yang dicarinya. Dengan suara lemahnya dia memanggil-manggil.

“Jo, kamu ke mana Jo? Aku menyuruhmu membeli makanan, dan lama sekali kamu tidak segera pulang. Jo!! Bejo!!

Lalu si nenek renta itu merasa lega, ketika melihat anak laki-lakinya yang melenggang dari kejauhan, sambil menenteng bungkusan.

“Owalah, Jo … simbok ini tak bisa lama-lama kamu tinggalkan sendirian,” katanya sambil melambaikan tongkatnya ke arah sang anak.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Monday, December 25, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 24

 BUNGA UNTUK IBUKU  24

(Tien Kumalasari)

 

Suri berdebar, lalu ia ke belakang, pura-pura tidak mendengar. Tapi Baskoro semakin kencang berteriak, dan semakin keras dia menggedor-gedor pintu kamar.

“Suri! Apa kamu tuli? Aku bisa terlambat masuk ke kantor.”

Tak sabar, Baskoro menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan dagangannya.

“Kamu tidak tahu ya, kalau aku harus segera masuk ke kantor?”

“Sebentar, kenapa nggak sabaran amat sih. Mas mandi dulu sana, aku ambilkan bajunya di kamar.”

“Kamu ini aneh. Kenapa kamar harus dikunci segala?”

“Soalnya aku mau pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Mencari uang lah. Aku nggak mau makan uang kamu lagi.”

“Keterlaluan kamu Suri. Cepat buka pintunya, sudah siang nih. Nanti sepulang kantor, kita bicara lagi.””

Suri beranjak ke kamar, pura-pura sibuk mencari kunci. Ia berharap Nilam mendengar keributan itu, lalu mencari tempat sembunyi.

“Cepat, Suri!”

“Sebentar, aku lupa menaruh kuncinya di mana,” kata Suri sambil pergi ke arah belakang lagi.

“Heran aku pada kelakuan kamu pagi ini,” omel Baskoro.

“Mas ke sana dulu, biar aku ambilkan bajunya.”

“Aku mau memilih baju aku sendiri.”

“Sebentar, kenapa ini kuncinya susah sekali masuk ya.”

Bunyi kelutak kelutek itu memang membuat Nilam panik. Ia sudah mendengar bahwa laki-laki mesum itu akan masuk ke dalam kamar. Bersembunyi dimana enaknya? Di kolong tempat tidur? Tidak mungkin. Tempat tidurnya terlalu rendah. Hanya tikus yang bisa masuk ke dalamnya. Apakah dia bisa masuk ke dalam almari? Nilam mendekati salah satu almari, dan membukanya. Ada ruang di tempat gantungan. Tanpa berpikir panjang ia masuk dan bersembunyi diantara baju-baju yang digantungkan. Ia berharap, laki-laki yang dibencinya itu tidak membuka almari dimana dia bersembunyi. Tapi sungguh celaka, ketika pintu kamar terdengar terbuka, justru almari tempat dia sembunyi yang dibuka. Nilam menahan napas, hatinya tinggal sebutir menir. Keringat membasahi telapak tangannya. Ia merasa seseorang membalik-balikkan baju di gantungan itu.

“Mana, biar aku ambil sendiri,” kata laki-laki itu.

“Kamu itu gimana sih Mas, dilayani istri kok susah amat. Ini lho, ini kan baju kerja kamu.”

“Bukan itu. Ini hari apa, coba? Aku harus memakai batik.”

“Oh, batik ya, aduuh Mas, agak ke sana kenapa sih, biar aku ambilkan.”

Rupanya Suri sudah tahu kalau Nilam bersembunyi di antara gantungan baju-baju itu. Suri menahan senyumnya, karena lutut Nilam sesungguhnya kelihatan saat dia menarik salah satu baju. Itu sebabnya dia mati-matian menahan suaminya agar tidak mengambil sendiri bajunya.

“Ini. Ini batik yang baru, kamu suka kan? Celananya aku ambilkan dulu. Agak ke sana, gerah dekat-dekat sama kamu,” kata Suri sambil mendorong tubuh suaminya, lalu mengunci almari  di bagian gantungan.

“Kok dikunci lagi sih?"

“Kan bajunya sudah diambilkan. Aku tuh juga mau pergi, semua harus dikunci. Kalau kesiangan daganganku nggak akan laku,” ia mendorong lagi tubuh suaminya, dan dengan cekatan mengambil celana dan perangkat baju yang akan digunakan suaminya.

“Sudah, sana. Ini hanya kamarku, kamarmu di sebelah.”

“Kamu benar-benar ingin pisah ranjang, sama suami kamu?”

“Sudah lama kita pisah ranjang. Aku membersihkan kamar yang satu itu agar kalau kamu pulang tidak mengganggu aku.”

“Huh, sok penting. Kamu itu tidak pernah menimbulkan selera aku, berdekatan atau tidak, nggak ada bedanya,” gerutunya sambil masuk ke kamar yang ditunjukkan istrinya.

 Ucapan itu membuat hati Suri bertambah sakit. Tapi ia tak menjawab. Ia berharap suaminya segera pergi dan diapun akan meninggalkan rumah itu.

“Nilam, baik-baik dulu disitu ya, aku buka pintunya sedikit biar kamu bisa bernapas lega, atau kamu keluar saja dari situ, aku akan mengunci kamarnya lagi, dia tak akan masuk kemari,” kata Suri yang membuka almari gantung itu, kemudian ia keluar dari kamar dan kembali menguncinya.

Beberapa saat kemudian Baskoro sudah berpakaian rapi. Ia pergi ke ruang makan, dan dengan heran dia tidak melihat apapun di atas meja yang bisa dimakan.

“Suriii, mana sarapan untuk aku?”

“Tidak ada sarapan,” jawab Suri dari arah dapur.”

“Apa katamu?”

“Tidak ada sarapan. Kamu lembur sampai pagi, apa majikan kamu tidak memberi kamu makan?”

“Apa maksudmu Suri?” kata Baskoro sambil melotot.

“Berhari-hari tidak pulang, untuk apa aku menyiapkan makan untuk kamu?”

Baskoro menggebrak meja makan dengan keras, sampai gelas satu-satunya yang ada diatas meja itu terguling. Untunglah tidak sampai jatuh.

Suri tak peduli.

“Kamu benar-benar ingin menentang suami kamu? Ini seperti bukan kamu. Biasanya kamu patuh dan penurut."

“Sekarang tidak lagi. Aku akan minta cerai dari kamu.”

“Apa?”

“Cerai. Kamu tidak mendengarnya? Aku tidak sudi berbagi dengan perempuan lain. Lebih baik kita berpisah.”

“Kamu menuduh yang tidak-tidak, Suri. Nanti kita bicara lagi, sekarang aku harus buru-buru ke kantor,” katanya sambil beranjak ke samping rumah untuk mengambil motornya.

Suri bernapas lega ketika melihat suaminya keluar dari halaman. Ia segera membuka kamar dan dengan iba menatap Nilam yang duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat.

“Nilam, sayang. Maafkan ibu ya Nak. Kamu ketakutan ya?” katanya sambil mengelus kepala Nilam.

Nilam sangat terharu. Ibunya sendiri tidak pernah memperlakukannya selembut ini. Bagi ibunya, menyayangi adalah memberinya makan enak, pakaian bagus, dan itu cukup. Itu sebabnya Nilam lebih dekat dengan bibik yang lebih sering memeluknya dan mengelus kepalanya.

“Terima kasih Bu, saya benar-benar tak ingin bertemu dia.”

“Memang kamu tak usah bertemu dia. Ayo ikut ibu. Eh, tidak. Kamu belum sarapan. Sebentar, ayo sarapan dulu, lalu berangkat. Kita akan tinggal di sebuah rumah yang lain, mulai hari ini.

Nilam mengangguk. Ia sudah memakai bajunya sendiri yang kemarin sore sudah dicuci Suri, dan disetrika pagi tadi. Agak lembab sih, tapi tak apa, daripada memakai baju bu Suri yang kedodoran. Suri berjanji akan membelikannya baju, nanti.

Suri makan pagi dengan rasa lebih nyaman. Lauk sayur sederhana yang tadi disembunyikan Suri agar suaminya tak ikut memakannya. Suri benar-benar ingin lepas dari suaminya yang mengabaikannya.

***

Rusmi bangun agak siang, lalu menjenguk ke arah kamar Hasti. Ia langsung masuk ke dalam, dan menggoyang tubuh Hasti yang masih meringkuk dalam tidurnya yang nyenyak, Entah jam berapa Hasti pulang, Rusmi tak mengetahuinya.

“Hei, bangun. Kamu tidak kuliah?”

“Mmmh,” Hasti hanya menggeliat lalu menjauh dari jangkauan ibunya.

“Heeiii, ini sudah siang. Kemana kamu semalam, jam berapa pulang? Apa kamu tidak kuliah?”

“Nggak ada kuliah,” katanya  lalu menutupi wajahnya dengan bantal.

“Bantu bersih-bersih rumah Hasti, tak ada pembantu di rumah ini,” kata Rusmi sambil menarik bantal yang menutupi kepala Hasti. Hasti mempertahankannya, sehingga terjadi tarik menarik bantal diatas tempat tidur itu. Karena tak berhasil, maka Rusmi membiarkan Hasti menjauh darinya, tapi karena ranjang Hasti tidak sebesar ranjangnya sendiri, maka tubuh Hasti terjatuh di sisi yang lain. Terdengar benturan keras antara kepala Hasti dan lantai. Dhuggg!

“Aaaauuwwww, Ibuuuu.”

Rusmi terkejut. Suara benturan itu keras. Rusmi naik dan melihat Hasti memegangi kepalanya.

“Kamu sih, disuruh bangun susah sekali. Sakit ya?”

Hasti berusaha bangkit dan Rusmi melihat kepala anak gadisnya benjol sebesar telur ayam.

“Ibu keterlaluan!” sentak Hasti yang kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.

Rusmi turun dari ranjang itu, lalu beranjak keluar dari kamar dengan wajah kusut.

Ia pergi ke ruang makan. Tak ada minuman hangat terhidang. Apa boleh buat. Rusmi membuat susu coklat sendiri, dengan air termos yang kebetulan masih tersisa. Ia merasa tak berdaya. Ketika bibik ada, semuanya sudah disiapkan dan dia tinggal menikmatinya.

Tiba-tiba ponselnya berdering, Rusmi melihat di layar, itu panggilan dari pak Rangga. Rusmi memasang isak tangis yang digunakannya untuk menjawab panggilan itu.

“Halloowww, pak Rangga,” isaknya.

“Ibu menangis?”

“Pak Rangga ini bagaimana? Saya ini, pagi, siang, malam selalu menangisi kepergian bapaknya anak-anak. Bagaimana Pak, apakah sudah ada berita tentang suami saya?”

“Saya justru ingin mengabarkan bahwa pencarian atas pak Raharjo sudah dihentikan, karena sampai kemarin belum ada tanda-tanda pak Raharjo ditemukan.”

Rusmi menangis keras.

“Dihentikan? Apakah dengan begitu suami saya dianggap mati?”

“Bukan begitu Bu, penyelidikan akan tetap dilakukan, walau pencarian belum mendapatkan hasil.”

“Bapaaaak,” tangis Rusmi menjadi-jadi.

“Hari ini bagian keuangan akan mentransfer uang gaji seperti biasa, sampai ada kejelasan tentang hilangnya pak Raharjo.

“Gaji saya?” sejenak Rusmi menjawab bersemangat, tapi kemudian sadar bahwa ia harus tetap menangis.

“Apakah itu penting bagi saya? Uang tidak masalah, yang penting adalah kembalinya suami saya,” Rusmi kembali terisak.

“Teruslah berdoa ya Bu. Semoga bapak segera diketemukan dalam keadaan selamat.”

Pak Rangga menutup ponselnya. Apakah isak tangis bu Raharjo bisa membuatnya iba? Tampaknya pak Rangga masih belum kehilangan rasa curiganya atas hubungan sang nyonya dengan Baskoro. Ia belum bisa membuktikannya.

Sementara itu Rusmi begitu gembira karena uang gaji suaminya masih bisa diterimanya.

“Baiklah, sementara ini kamu masih berhak menstransfer gaji aku, tapi tak lama lagi perusahaan itu akan menjadi milikku. Akulah penguasa, dan kamu adalah bawahanku, tapi kalau memang kamu masih layak memegang jabatan itu,” Rusmi terkekeh sendiri, sambil membawa gelas minumnya yang sudah kosong, lalu mencucinya sekalian. Apa boleh buat.

Lalu ia menelpon Baskoro, tapi Baskoro tidak mengangkatnya. Satu jam kemudian Baskoro menelpon kembali.

“Maaf Bu, pekerjaan sedang banyak. Jangan menelpon saat jam kerja, supaya tidak menimbulkan kecurigaan,” kata Baskoro pelan.

“Baiklah, aku hanya ingin bilang bahwa aku letih sekali.”

“Memangnya mengerjakan apa, sampai letih begitu?”

“Bibik pergi, aku mengerjakan sendiri pekerjaan rumah, sementara Hasti enak-enak tidur, sampai sekarang belum keluar dari kamarnya.

Baskoro tersenyum. Ia tahu, Hasti pasti lelah, seperti juga dirinya. Hampir semalaman mereka tidak tidur, menghabiskan malam bersama setan-setan yang girang sambil bertepuk tangan.

“Kita ketemu nanti malam ya, eh sepulang dari kantor langsung kerumahku saja.”

“Tidak dulu Bu, aku akan pulang dan menyelesaikan urusanku dengan istri.”

“Oh iya, sambil memberikan gaji untuk istri, aku tahu ini saatnya menerima gaji, kan?”

“Ya, kecuali itu tadi dia agak marah, dan menantang meminta cerai.”

“Haaa, bagus sekali, bukankah itu yang kita harapkan?”

“Entahlah, aku akan memikirkannya.”

“Apa maksudmu Bas? Kamu tidak menyukaiku lagi? Bukankah kamu juga ingin agar kita resmi menjadi suami istri?”

“Iya, nanti kita juga bisa membicarakannya. Sudah dulu, ada pak Rangga datang kemari,” kata Baskoro yang kemudian menutup ponselnya.

***

Sudah setengah hari Nilam mengikuti Suri menjajakan dagangan. Suri menyuruh Nilam tinggal di rumah saja, tapi Nilam menolak. Kehidupan Suri membuat Nilam tertarik untuk merasakannya. Nilam yang biasa hidup enak, nyaman dan penuh kemewahan, sekarang menjalani kehidupan yang penuh bermandikan peluh.

“Letih kan?” tanya Suri ketika mengajak Nilam istirahat dan makan di sebuah warung.

“Nggak kok. Nilam senang.”

“Kamu tahu, gara-gara aku mengajak kamu menjajakan dagangan, maka daganganku di tengah hari ini sudah ludes. Setelah makan ini, kita mampir ke toko pakaian untuk membeli baju, lalu pulang dan istirahat.”

“Ibu repot karena aku.”

“Mengapa kamu berkata begitu? Aku senang sekali ketemu kamu. Kamu bukan hanya cantik, tapi juga manis budi.”

Nilam tersenyum. Ia menghabiskan nasinya dan menyandarkan kepalanya di pundak Suri. Suri mengelusnya.

“Kamu ingin melanjutkan sekolah?” tiba-tiba kata Suri.

“Nanti tambah merepotkan Ibu.”

“Tidak. Aku akan berusaha untuk mencarikan sekolah untuk kamu. Besok aku akan ke sekolah kamu sebelum ini.”

“Aku tidak ingin kembali ke sekolah itu lagi, nanti mbak Hasti bisa menemukan aku dan memaksa aku pulang.”

“Tidak, hanya minta surat keterangan pindah. Nanti ibu carikan sekolah yang murah ya.”

“Terserah Ibu saja, asalkan tidak menyusahkan.”

“Tidak, aku bahagia bertemu kamu. Akan aku jadikan kamu anakku.”

***

Baskoro pulang dari kantor, langsung pulang ke rumah. Ucapan Suri yang ingin meminta cerai, tak urung membuatnya khawatir. Memang sih, Suri walaupun cantik, tapi tubuhnya tidak menarik. Lama kelamaan ia kehilangan selera untuk mendekati, apalagi merayu sang istri. Apalagi dia mendapatkan kesenangan bersama bu Raharjo yang tampaknya sangat menyukainya. Ia bukan hanya mengajaknya bersenang senang, tapi juga memanjakannya dengan uang. Namun Suri bukan wanita yang harus dilupakannya begitu saja. Ia istri yang patuh dan melayani semua kebutuhan suami dengan tanpa ada celanya. Dari makan, menyiapkan semua kebutuhan, membuat rumahnya asri walau hanya rumah kontrakan. Mengurus pembayaran rumah kontrakan dengan mengelola uang gajinya. Kecuali satu, tidak bisa memuaskannya di ranjang.

Itulah sebabnya ketika mendengar kata cerai yang terucap dari mulut Suri, Baskoro merasa sedikit cemas. Sore nanti Baskoro ingin merayu Suri, agar meredakan keinginannya untuk bercerai. Semoga ucapan yang tadi didengarnya, hanyalah pelampiasan amarahnya karena dia tak pulang selama seminggu.

Baskoro menunggu di teras. Ia sudah tahu kalau Suri pulang dari berdagang setelah maghrib. Itu kata tetangganya, karena dia belum bicara banyak dengan Suri sendiri.

Tiba-tiba seseorang muncul. Dia adalah pemilik rumah.

“Untunglah, pak Baskoro sudah ada di rumah,” katanya sambil duduk di depan Baskoro, tanpa dipersilakan.

“Ya Bu, baru saja saya pulang. Ada apa ya Bu, Suri baru akan pulang setelah maghrib.”

“Saya bisa dengan pak Baskoro kok, tidak harus dengan bu Suri. Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa perjanjian kontrakan sudah selesai awal bulan ini. Tapi bu Suri baru membayar separuhnya dari pembayaran yang seharusnya. Jadi saya ingin menagih sisanya, sekalian minta pembayaran berikutnya, kalau kontrak rumah ini akan diperpanjang.”

Baskoro terkejut. Biasanya uang kontrakan rumah, Suri yang mengaturnya.

***

Besok lagi ya.

 

Sunday, December 24, 2023

IBUKU

 Ibuku

(Tien Kumalasari)


Ibu,

Saat angin berembus lembut membelai jiwaku

Saat kejora jatuh di pangkuanku

Saat aroma semerbak mengelus sanubariku

Saat tangan lembut membangunkanku dari kejatuhan

Saat jari2 lentik mengusap air mata  dalam papa

Apakah ini ibuku?

Saat lantunan harap dan doa terdengar bagai kidung2 dari sorga?

Saat keringat menetes demi sekepal boga?

Ibuku, dia adalah ibuku, yang bersemayam dalam sorga abadi

Ibuku, yang wangi jiwanya tetap memenuhi sudut2 kalbu.



SELAMAT HARI IBU

Saturday, December 23, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 23

 BUNGA UNTUK IBUKU  23

{Tien Kumalasari)

 

Suri belum bertanya banyak tentang gadis muda yang ditemukannya, kecuali menanyakan namanya. Itupun ditanyakan ketika mereka berada di dalam angkot yang membawa Suri pulang ke rumahnya.

Nilam juga tidak banyak bertanya. Ia merasa aman ketika berada bersama orang yang tiba-tiba memperhatikannya. Entah apa nanti yang akan dilakukannya, yang penting ia ingin pergi dari rumah. Ia benci ibunya, benci kakaknya, dan benci kepada laki-laki bercambang yang setiap hari menyambangi rumah dan bersikap seolah dia adalah tuan di rumah itu.

Nilam menurut ketika Suri membawanya ke sebuah rumah. Untuk sementara hatinya merasa lebih tenang, walaupun pemikiran tentang kakak tirinya terus menggayuti pikirannya.

“Itu rumahku, hanya rumah kontrakan sederhana,” kata Suri sambil menuding ke arah rumah kontrakannya, ketika sedang berjalan masuk kampung setelah turun dari angkot yang ditumpanginya.

Nilam menatap rumah yang ditunjuk. Rumah kecil sederhana, tapi tampak bersih.

“Adakah orang di rumah itu?” tanya Nilam yang khawatir, kalau penghuni rumah yang lain tidak menyukai kehadirannya.

“Selama seminggu ini aku sendirian. Suamiku tak pernah pulang ke rumah.”

“Bekerja di lain kota?”

“Tidak. Tidur di rumah selingkuhannya. Tapi aku tidak peduli.”

Nilam menatap wanita yang berjalan sambil menggandeng tangannya. Iba rasanya melihatnya hidup sendirian, mencari makan dengan menjajakan ayam panggang sampai ke tempat yang lumayan jauh, sementara suaminya hidup bersama selingkuhannya. Nilam ingat pada ibunya sendiri. Ia juga berselingkuh dan membuatnya muak.

“Kontrakan rumah ini hampir habis. Aku bersiap pindah dua hari lagi,” kata Suri sambil membuka pintu rumah. Gelap di dalam. Suri segera menekan tombol lampu, sehingga Nilam bisa melihat perabotan sederhana yang ditata rapi

Sebelum berangkat, Suri selalu menyalakan lampu, terutama lampu terasnya, sehingga ketika pulang rumahnya tidak gelap gulita.

“Rumah orang tuamu pasti bagus.”

“Tidak penting rumah bagus, kalau tidak membuat hati penghuninya tenteram.”

Suri mengangguk membenarkan. Sekarang dia merasa siap melepaskan Baskoro dan menemukan kehidupan yang diharapkan akan menjadi lebih tenang.

“Kamu mandi dulu ya, nanti tidur di kamarku saja. Ganti pakaianmu, biar aku cuci, sehingga besok bisa dipakai lagi. Di rumah ini hanya ada pakaianku yang pastinya kebesaran untuk kamu. Tapi aku punya daster kekecilan yang tidak pernah aku pakai,” kata Suri sambil membuka almari, dan mengambil daster pada tumpukan pakaian yang tidak banyak.

“Ini daster kekecilan. Pakai dulu, biar aku cuci pakaianmu ini. Lihat, sangat kotor, dan sebagian terkena lumpur.”

Nilam mengangguk. Ia memang tak terbiasa memakai pakaian kotor. Setelah bepergian ia harus segera mengganti bajunya.

Ketika ia melepas pakaian kotornya, Suri memungutnya dan dimasukkannya ke dalam keranjang.

“Bu, biar saya cuci sendiri saja.”

Suri tersenyum sambil memegang telapak tangan Nilam.

“Tanganmu sangat halus, tidak mungkin kamu biasa mengerjakan pekerjaan rumah.”

“Biar aku belajar Bu.”

“Jangan, sekalian aku mencuci pakaian aku. Besok kita harus bersiap untuk pindah rumah."

Nilam melihat sebuah kopor terletak di sudut kamar. Rupanya penolongnya memang sudah bersiap-siap.

“Ayo, cepatlah mandi. Pakaian dalamku ini masih baru. Tidak pernah aku pakai karena kekecilan. Aku akan menyiapkan makam malam, lalu kita beristirahat. Nanti kamu ceritakan ya, mengapa kamu melakukan semua ini?”

Nilam mengangguk. Ia mengambil handuk yang diberikan Suri, berikut pakaian yang sudah diterimanya.

Suri tersenyum. Tiba-tiba ia merasa keinginannya memiliki anak terpenuhi. Gadis itu begitu cantik dan polos, tapi bicaranya sangat lembut dan santun. Apa gerangan yang menimpanya sehingga harus minggat dari rumahnya?

***

Nilam sudah mandi dan merasa lebih segar. Ia juga sudah makan nasi hangat dengan ayam panggang yang disisakan Suri setiap hari untuk makan dirinya sendiri. Malam itu ia berbagi dengan Nilam. Begitu menyenangkan makan bersama seseorang, yang begitu cantik dan manis budi.

“Terima kasih ya Bu,” kata Nilam setelah makan.

“Panggil aku bu Suri. Tapi aku lebih suka dipanggil ibu.”

Nilam mengangguk sambil tersenyum.

“Aku tidak punya anak, dan sangat merindukan kehadiran seorang anak. Maukah kamu menjadi anakku?”

Nilam menatap Suri lekat-lekat. Wajah yang kesepian dan terluka. Benarkah? Nilam masih terlalu muda untuk meraba perasaan seseorang, tapi wajah itu memang tidak tampak ceria. Apakah begitu sakit diselingkuhi suami?

“Saya pasti sangat merepotkan,” kata Nilam lembut.

“Tidak. Aku akan bahagia memiliki anak secantik kamu. Besok akan aku belikan kamu pakaian yang lebih pantas.”

“Jangan, Bu. BIarlah saya memakai baju saya sendiri yang tadi.”

“Aku punya tabungan dari keuntungan menjual ayam panggang dan sisa gaji yang diberikan suami. Jangan takut. Asalkan bukan pakaian mewah, aku masih kuat membelinya.

“Tapi Bu ….”

“Jangan menjadi anak bandel,” kata Suri seakan sedang memarahi anaknya. Nilam mengangguk pelan. Terharu menerima kebaikan seorang ibu yang baru saja dikenalnya.

“Aku akan membersihkan meja.”

“Biar aku bantu.”

“Baiklah, bawa ke belakang, biar aku mencucinya.”

Nilam mengangguk. Ia harus belajar mengerjakan sesuatu. Tidak enak rasanya berpangku tangan sementara pemilik rumah sibuk bekerja.

“Setelah selesai, kita masuk ke dalam kamar dan bersiap tidur, sambil mendengar cerita kamu.”

***

Rusmi pulang ke rumah hampir tengah malam. Pesta ulang tahun temannya sangat meriah dan mengesankan. Hampir tengah malam pesta itu bubar. Tadinya ia ingin mengajak Baskoro, tapi masih merasa sungkan karena semua sudah mendengar tragedi yang menimpa Raharjo. Tidak enak kelihatan mencolok dengan membawa laki-laki lain sementara suaminya belum jelas kabar beritanya.

Karena itulah dia membiarkan Baskoro tidur di rumahnya sendiri malam itu.

Rusmi membuka pintu rumahnya, dan merasakan suasana yang sangat lengang.

Tadi dia juga tak melihat mobil Hasti, berarti Hasti juga belum pulang. Ada bekas minum yang masih tergeletak di meja ruang tengah. Rusmi baru ingat bahwa ia tak lagi punya pembantu.

Dengan gemas dia membawa gelas-gelas kotor itu ke belakang, dan meletakkannya di tempat cucian dengan kasar.

Ia sudah lelah dan tak ingin melakukan apa-apa lagi.

Ia berganti pakaian, lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia meraih ponselnya dan menelpon Baskoro.

Baskoro yang sedang asyik bersama Hasti, tak berani untuk tidak mengangkatnya. Ia menjawab setelah menata napasnya baik-baik.

“Ya Bu, aku sudah tidur tadi.”

“Kamu tidak ingin menemani aku? Aku sendirian nih, Hasti juga belum pulang,” keluhnya menghiba.

“Maaf Bu, ada istriku di sampingku, besok saja kita ketemu,” jawabnya lirih, seakan benar-benar takut istrinyan curiga.

Rusmi mengerti, kemudian menutup ponselnya dengan kesal. Ia menyesal tadi mengijinkan Baskoro pulang. Pasti sekarang sedang asyik menyenangkan istrinya.  Ia mengangkat ponselnya lagi untuk menelpon Hasti, tapi tak ada jawaban. Rupanya Hasti merasa sayang melepaskan kenikmatan yang disuguhkan para iblis malam itu.

“Dasar bocah tak tahu diri, setiap malam keluyuran nggak jelas,” gerutunya. Tapi ia tak pernah berhasil menasehati Hasti. Rupanya Hasti bercermin kepada kelakuan ibunya yang tak pantas, dan ternyata itu menyenangkan.

***

Baskoro tidak pulang semalaman. Pagi-pagi buta, Suri sudah bangun dan mulai memasak dagangan yang akan dijajakannya nanti. Nilam terbangun dengan sedikit bingung, karena dia tidur di sebuah kamar yang terasa asing. Ia bangkit, dan mencoba membangkitkan kesadarannya kembali. Lalu perlahan dia menyusuri apa yang terjadi sejak kemarin siang sampai pagi buta ini. Nilam menghela napas. Ia sudah tahu kalau sedang berada di rumah Suri yang menolongnya saat dia kebingungan di persawahan. Sejenak kesedihan menyergapnya, ketika wajah Wijan melintas.

“Di mana kamu Mas? Aku ikut kamu Mas.” rintihnya sambil mengusap air matanya, kemudian turun dari tempat tidur. Ia bermaksud membantu Suri di dapur, tapi Suri menolaknya.

“Jangan Nak, ini sudah hampir selesai. Kalau kamu ingin melakukan sesuatu, menyapu lantai saja, bagaimana?” kata Suri untuk menghilangkan rasa sungkan di hati Nilam yang pastinya ingin membantu melakukan sesuatu.

“Baiklah Bu, mana sapunya?”

Suri menunjuk ke sudut dapur, lalu Nilam mengambil sapu itu. Ia belum pernah melakukannya, tapi ia sering melihat bibik ketika membersihkan rumah. Betapapun kaku gerakannya, ia tetap bisa melakukannya. Dari arah belakang ruangan dia menyapu. Ini kehidupan baru bagi Nilam. Sesuatu yang biasanya dilakukan pembantu, ia melakukannya. Ia sudah sampai di ruang tengah. Ia merapikan taplak meja yang kurang teratur, kemudian menuju ke rak yang mepet di tembok. Ada foto-foto terpajang di sana. Lalu tangannya gemetar ketika dilihatnya sebuah pigura dengan foto seorang laki-laki.

“Si cambang itu?” gemetar Nilam menatapnya.

Lalu ada lagi foto si cambang bersama ibu Suri.

“Haaah? Bu Suri istri si cambang busuk itu?” gumamnya agak keras.

Nilam sedang memikirkan untuk kabur dari rumah itu ketika Suri mendekatinya.

“Aku sudah menyiapkan makan pagi untuk kita, Nilam. Hei, kamu memandangi apa? Foto-foto itu akan segera aku buang ke keranjang sampah. Tak sudi aku menyimpannya."

“Ini …. suami Ibu?” tanya Nilam masih dengan suara bergetar.

“Tidak lama lagi akan menjadi bekas  suami,” katanya sambil meraup foto-foto itu, lalu membuangnya ke keranjang sampah.

Nilam bingung harus mengatakan apa. Suami bu Suri adalah selingkuhan ibunya. Bagaimana dia mengatakannya?

“Kamu mengenal dia? Dia itu mata keranjang. Kamu pernah digoda oleh dia? Di mana?” tanya Suri penuh selidik. Agak heran melihat sikap Nilam yang sedikit aneh, seperti orang bingung.

“Ini … karyawan di kantor ayah saya,” katanya lirih.

“Apa? Apa kamu putrinya pak Raharjo yang kabarnya hilang itu?”

Nilam mengangguk sedih.

“Kamu anak pengusaha kaya, mengapa pergi dari rumah?”

“Saya tidak suka tinggal di rumah, saya ingin ikut mas Wijan.”

Suri sudah mendengar sedikit cerita dari Nilam tentang kakak tirinya yang bernama Wijan, dan sebab dia pergi. Tapi dia tidak mengatakan kenapa enggan pulang ke rumah, setelah gagal menemukan kakak tiri yang disayanginya.

“Ibuku selingkuh,” katanya lirih.

“Apa? Bukan hanya laki-laki yang selingkuh. Perempuan juga ada? Laki-laki macam apa yang berani mengganggu istri seorang pengusaha seperti pak Raharjo?”

“Dia,” kata Nilam sambil menunjuk ke arah keranjang sampah.

Suri menatap ke arah keranjang sampah dengan bingung. Baskoro kah yang dimaksud gadis kecil itu?

“Sudah seminggu dia tidur di rumahku, bersama ibuku,” kata Nilam berterus terang. Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Memang Nilam adalah orang yang tak bisa menyimpan sesuatu. Ia suka mengatakan apa adanya. Ia bahkan juga pernah mengatakan kepada ibunya tentang ketidak sukaannya pada laki-laki bercambang itu, tapi ibunya justru menghardiknya, dan menyuruhnya untuk tidak ikut campur dalam urusannya.

Sekarang Nilam ketakutan, kalau nanti Baskoro pulang lalu melihat dirinya.

Suri sedang termenung karena kaget mendengar penuturan Nilam. Tak percaya bahwa nyonya cantik yang pernah ditemuinya adalah selingkuhan suaminya. Pasti nyonya itu yang diberi nama DIA di ponsel suaminya. Geram hati Suri ketika mengingatnya. Nyonya majikan itu seakan tak mengerti tentang Baskoro, kecuali mengetahui bahwa Baskoro adalah karyawan suaminya. Luar biasa pintar dia menutupinya. Wanita yang masih cantik walau tidak muda lagi, terpikat oleh suaminya? Iya lah, suaminya kan ganteng, gagah, menawan. Rupanya suaminya memoroti uang wanita itu, yang sebagian diberikan kepadanya.

Suri mengangkat keranjang sampah itu dan membuangnya ke tempat sampah di pinggir jalan. Ketika ia kembali, dilihatnya Nilam menangis sambil memegangi sapu.

“Nilam, jangan sedih,” katanya lembut.

“Aku mau pergi dari sini, aku tidak mau ketemu dia, aku benci dia,” isaknya.

“Jangan khawatir. Aku juga membenci dia, dan kita akan segera pergi dari rumah ini. Aku sudah mendapatkan rumah sewa yang jauh dari sini. KIta akan segera menempatinya. Rencananya lusa baru akan pindah, tapi lebih baik hari ini saja.”

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat.

“Dia datang,” bisik Suri pelan. Dilihatnya Nilam ketakutan. Wajahnya pucat.

“Sini, masuk ke kamarku, dia tak akan tahu,” kata Suri sambil menarik Nilam ke dalam kamar, lalu menguncinya dari luar.

Langkah kaki itu semakin dekat.

“Suri, aku kemarin pulang, menunggu kamu.”

“Aku kira sudah lupa jalan pulang.”

“Banyak pekerjaan di kantor, dan_”

“Diam, dan jangan memperpanjang barisan dosa kamu,” kata Suri dingin.

“Apa maksudmu? Ini, uang untuk kamu. Kan kalau aku banyak pekerjaan pasti mendapat uang lembur,” kata Baskoro sambil mengulurkan setumpuk uang ratusan ribu.

“Aku tidak mau!” teriak Suri.

“Apa maksudmu? Ini jumlahnya sejuta setengah. Jangan sok kaya kamu.”

“Aku tidak mau menerima uang haram kamu. Sudah, jangan mengganggu aku. Aku bisa mencari uang sendiri,” kata Suri sambil bergegas pergi.

“Suri!!”

Baskoro harus ke kantor pagi itu, karenanya ia tak ingin bertengkar terlalu panjang dengan istrinya. Ia masuk ke kamarnya, dan terkejut karena kamarnya terkunci.

“Suriii! Kenapa kamarnya dikunci?” teriak Baskoro.

“Itu kamarku, kamarmu di sebelah sana,” teriak Suri dari belakang. Ia mengemasi semua makanan yang sudah disiapkan, tak ingin Baskoro ikut melahapnya. Ia menyembunyikan semuanya di dapur.

“Suriii, tapi pakaianku ada di situ, tolong buka dulu,” Baskoro masih berteriak.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Friday, December 22, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 22

 BUNGA UNTUK IBUKU  22

(Tien Kumalasari)

 

Bibik panik sendiri. Ia ingin segera pergi, tapi terhambat karena Nilam masih sakit. Dan sekarang, terhambat lagi karena tiba-tiba Nilam pergi. Kalau dia nekat pergi, jangan-jangan dikira dia yang menculik Nilam.

Satpam itu kembali setelah beberapa puluh meter mengejar ke arah kiri dan kanan.

“Tidak kelihatan lagi, barangkali naik angkot yang kebetulan lewat, atau apa,” keluhnya sambil mengusap keringat.

Bibik membalikkan tubuhnya, bergegas ke arah rumah. Ia mengambil ponsel bututnya, dan menelpon nyonya majikan.

“Ada apa? Kalau tidak  sangat penting kan aku melarang kamu mengganggu?” jawab Rusmi marah-marah dari seberang sana.

“Bu, ini sangat penting. Mbak Nilam pergi dari rumah.”

“Apa? Pergi bagaimana maksudnya?”

“Pergi. Dia bilang ingin pergi saja, saya mengejarnya tanpa hasil.”

Rusmi menutup panggilan itu.

Bibik menunggu di rumah. Ia tak mau disalahkan, sementara dia sebenarnya juga ingin pergi.

Begitu sang nyonya majikan datang, langsung memberondong bibik dengan banyak pertanyaan. Tapi tak banyak yang bisa dikatakan bibik.

“Tiba-tiba Mbak Nilam berteriak-teriak mencari mas Wijan, lalu ketika tidak ketemu, dia pergi begitu saja.”

“Bodoh.. bodoh.. bodoh!!”

“Sekarang kamu harus mencarinya sampai ketemu,” perintahnya.

“Mohon maaf Bu, saya tidak bisa. Kemana saya harus mencari sedangkan saya ini kan hanya orang setengah tua yang tidak berdaya. Menurut saya, lebih baik ibu melaporkannya pada polisi, supaya polisi mencarinya.”

Rusmi terdiam. Agak risih mendengar kata polisi. Kalau melapor, ia takut akan menjadi berkepanjangan. Nanti kalau Nilam diketemukan polisi, akan ditanya kenapa pergi, lalu dia menjawab mencari Wijan, lalu kenapa Wijan pergi, lalu akan semakin panjang deretan pertanyaan yang akhirnya akan membuatnya celaka sendiri.

“Saya justru mau pamit sama ibu.”

Rusmi terkejut.

“Pamit kemana?”

“Mau pulang ke kampung saja, Bu. Saya sudah capek.”

“Kenapa tiba-tiba ingin pergi, ketika di sini banyak masalah?”

“Mau bagaimana lagi Bu, saya kan hanya pembantu, bisa apa? Saya sudah tua Bu, ingin istirahat saja.”

“Kalau kamu pergi, lalu bagaimana aku? Nggak ada pembantu.”

“Banyak orang mencari pekerjaan Bu, saya kira tidak sulit cari pembantu. Dan saya ini juga tidak tiba-tiba ingin pergi. Saya sudah mempersiapkannya lama, bahkan saya sudah berkemas sejak beberapa hari yang lalu.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi karena ini belum saatnya kamu menerima gaji, aku tidak bisa memberi kamu gaji,” kata Rusmi kaku.

“Tidak apa-apa Bu, saya masih punya sedikit tabungan. Biar saja bulan ini saya tidak ibu beri gaji.”

Rusmi meninggalkan bibik yang tampaknya sudah berkemas. Ia segera menelpon Baskoro. Tapi Baskoro juga tak bisa memberi solusi. Seperti Rusmi, dia tidak berani berurusan dengan polisi. Begitulah, keduanya takut pada apa yang telah diperbuatnya.

“Bu, aku akan membantu mencari, tapi jangan dulu lapor pada polisi. Nilam masih kanak-kanak, paling-paling dia juga akan pulang kembali nanti.”

Ucapan Baskoro ini agak bisa menenangkan hati Rusmi. Hati yang telah menjadi gelap, sehingga tak bisa melihat semua kebenaran, yang dilihat hanyalah kesenangan.

Hasti yang tadi sudah ditelpon ibunya tentang perginya Nilam, segera pulang setelah tak berhasil menemukannya pula.

“Aku sudah mencarinya ke sekolah, dan bertanya kepada teman-temannya. Tak ada yang tahu. Mereka tak pernah melihat Nilam sejak dia sakit seminggu yang lalu.”

“Dasar anak itu. Rupanya Wijan sudah meracuni hatinya. Dia mencari Wijan, padahal dia juga tak tahu kemana perginya Wijan.

“Aku akan mencari lagi besok, bersama mas Baskoro,” katanya tiba-tiba, dan membuat Rusmi memelototkan matanya.

“Apa? Kamu akan mencari bersama Baskoro? Hmh, sepertinya aku ini bodoh, apa? Kamu itu selalu berusaha menarik perhatian Baskoro. Tapi jangan harap kamu bisa melakukannya. Baskoro itu milikku,” kata Rusmi sengit.

“Ibu itu lupa ya, bahwa aku ini lebih menarik dari ibu. Aku lebih cantik dan lebih menggairahkan. Harusnya ibu tahu diri dong bu, ingat usia,” kata Hasti seenaknya, membuat Rusmi semakin marah.

“Apa kamu bilang? Kamu itu hanya modal wajah cantik, tapi tak punya uang. Padahal Baskoro sangat menyukai uang. Bisa apa kamu?”

“Ketika kesenangan sudah didapat, uang itu pasti dilupakan. Aku bisa membuatnya mabuk kepayang, kok Bu.”

“Diaaaam!” Rusmi berteriak. Tapi dengan melenggang santai Hasti naik ke lantai atas dan memasuki kamarnya. Dalam hati ia ingin membuktikan, bahwa ia pasti akan bisa merebut Baskoro dari sang ibu.

“Dasar anak tak tahu malu,” omel Rusmi sambil mengikuti naik ke lantai atas.

Saat itu Bibik sudah membawa tas bawaannya, lalu berpamit.

"Bu, saya mohon diri.”

Rusmi menghentikan langkahnya, menatap bibik yang benar-benar siap meninggalkan rumah itu.

“Mau pergi? Pergi sana, aku juga tidak butuh bantuan kamu,” katanya sambil melanjutkan langkahnya.

Bibik menghela napas, tak apa diperlakukan semena-mena dengan ucapan kasar, yang penting dia bisa pergi dari rumah yang sekarang penuh maksiat itu.’

***

Nilam melangkah lunglai, keluar dari halaman sekolah Wijan. Ia sudah mendengar dari gurunya, bahwa Wijan sudah mengundurkan diri dari sekolah itu pada dua hari yang lalu.

Ia melangkah tak tentu arah. Tapi ia tak ingin pulang. Hari sudah sore ketika dia melewati persawahan dengan parit kecil di tepinya. Ada batu besar yang sering dipakai dirinya dan Wijan duduk melepaskan lelah sepulang dari sekolah. Ada canda dan pertengkaran kecil yang kemudian membuat mereka terkekeh geli. Nilam memang nakal dan sering menggoda kakaknya. Kalau sudah begitu, Wijan akan memarahinya, bahkan sambil menjewer telinganya. Nilam tidak pernah marah pada kakaknya. Wijan sangat baik. Kakak terbaik di dunia, katanya pada suatu kali, membuat Wijan tersenyum senang, lalu mengelus kepala adiknya lembut.

Sekarang Nilam duduk di atas batu itu. Kakinya yang hanya beralaskan sandal, dimasukkannya ke dalam parit yang airnya bening. Ia menggoyang-goyangkan kakinya, sehingga air muncrat ke atas, dan membasahi wajahnya. Dulu Wijan selalu membalasnya ketika Nilam membuat air muncrat ke arah wajahnya. Tapi Nilam selalu saja hanya terkekeh senang.

Nilam menghentikan gerakan kakinya, lalu runtuhlah air matanya. Tak ada Wijan disampingnya. Tak ada yang menjewer kupingnya, tak ada yang mengelus kepalanya. Udara sore yang cerah, seperti tak akan menjanjikan hujan malam itu. Nilam bergeming dari tempatnya duduk. Isak yang keluar dari mulutnya, tertahan-tahan karena sesungguhnya Nilam sudah lelah menangis.

Kalau saja ada Wijan di dekatnya, pasti Wijan akan memaksanya untuk pulang. Tapi Nilam tak ingin melakukannya. Terbayang wajah menjijikkan dari laki-laki bercambang, yang berhari-hari tidur di dalam kamar ibunya, bersikap seolah dia adalah seorang ‘tuan’ di rumah itu.

Yang membuat Nilam lebih benci lagi, adalah sikap ibunya yang tidak tahu malu. Ia juga melihat kakaknya yang bersikap sangat genit kepada laki-laki bercambang itu, saat tidak ada ibunya. Mengapa semua menjadi menjijikkan?

Segumpal mega menutupi wajah matahari yang sudah letih menghangatkan alam, membuat udara menjadi suram.

Nilam kembali terisak. Tapi dia belum ingin beranjak. Ia tak tahu harus kemana. Ia ingin pergi dan tak mau kembali ke rumah yang dianggapnya mesum itu.

 ***

 Sore itu Baskoro pulang ke rumahnya sendiri. Sudah berhari-hari dia berada di rumah keluarga Raharjo, dan diperlakukan seperti raja di sana. Baskoro juga senang, ketika Hasti yang sedikit takut pada ibunya, masih sering mencuri-curi senyuman menggoda yang ditujukan kepada dirinya.

Pernah pada saat makan malam, Baskoro makan bersama di keluarga itu, ada Rusmi di sampingnya, dan ada juga Hasti di depan mereka. Ketika asyik makan itu tiba-tiba Rusmi berteriak.

“Heii, apa-apaan sih kamu?”

Baskoro menahan ketawanya. Rupanya Hasti yang iseng, menjulurkan sebelah kakinya, dan bermaksud menumpangkannya di pangkuan Baskoro. Tapi Hasti tidak menduga bahwa sebelah paha Rusmi lah yang berada di pangkuannya, sehingga kaki Hasti tertumpang diatas paha Rusmi, membuatnya berteriak.

Hasti hanya nyengir, tak merasa bersalah.

“Maaf Bu, kaki Hasti letih sekali, ingin menyelonjorkannya ke depan sambil makan, tidak mengira ada kaki mas Baskoro di situ,” jawabnya tak berdosa.

Baskoro tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ketika ia memasuki rumahnya, kejadian semalam masih berbekas di kepalanya, karenanya ia masih juga tersenyum ketika mengetuk pintu dan tak terdengar ada jawaban.

“Suriii! Suriii !!”

Baskoro mengetuk pintu semakin keras.

“Pasti tidur si kerbau itu,” gerutunya sambil mengetuk semakin keras. Tapi tetap tak ada jawaban. Baskoro merasa aneh. Biasanya, walau sedang ngorok pun, Suri selalu dengan cepat membuka pintu kalau tahu dia datang.

“Suriii!!”

“Pak Baskoro baru pulang?”

Sebuah sapa dari tetangganya membuatnya menoleh. Bu Parti tetangganya mendekat.

“Bu Suri biasanya pulang agak malam. Habis maghrib, kira-kira.

“Baru pulang habis maghrib? Biasanya? Berarti dia sering pergi sampai sore?” tanya Baskoro heran.

“Lhoh, memangnya pak Baskoro tidak tahu?”

“Tidak tahu apa ya Bu?”

“Bu Suri kan sekarang berjualan ayam panggang. Dijajakannya di sepanjang tempat. Kabarnya sangat laris. Biasanya habis maghrib baru pulang, dan dagangannya selalu habis.”

Baskoro melongo. Hampir seminggu dia tidak pulang, dan istrinya berdagang sampai dia tidak tahu?

“Bagaimana pak Baskoro sampai tidak tahu?”

“Iya Bu, soalnya saya dinas keluar kota sudah seminggu ini, jadi tidak tahu.”

“O, pantesan. Tapi saya sudah merasakan ayam panggang buatan bu Suri. Enak sekali lhoh,” kata bu Parti sambil berlalu.

Baskoro duduk di kursi teras dengan perasaan kesal. Ia ingin segera beristirahat, dan menyuruh Suri memijit tubuhnya yang terasa pegal, tapi sudah jam lima sore, dia belum juga pulang.

Ia ingin langsung ke rumah keluarga Raharjo, tapi ia butuh tukang pijat sebelum pergi ke sana. Badannya pegal-pegal, hanya Suri yang bisa menyembuhkannya.

Tapi Suri belum juga kembali, sampai tiba-tiba ponselnya berdering.

Baskoro tersenyum sumringah. Telpon dari Hasti.

“Hallo, sayangku,” sambutnya. Rasa pegal yang menggayuti tubuhnya, hilang seketika.

“Mas Baskoro di mana? Kok tidak datang ke rumah?”

“Ini di rumah, baru pulang dari kantor.”

“Ayuk kita jalan-jalan.”

“Apa ibumu tidak ada?”

Ada temannya yang ulang tahun. Dia sudah tahu kalau mas Bas tidak akan ke rumah. Karena itulah aku menelpon. Ayuk Mas.”

“Sekarang?”

“Ya sekarang Mas, masa bulan depan? Kita harus bisa mempergunakan waktu sebaik-baiknya.”

“Tapi aku belum mandi. Bau dong.”

“Tidak apa-apa. Naik taksi saja, aku menunggu di tempat biasa. Ada hotel yang nyaman, mas Baskoro bisa mandi dulu di sana.”

“Baiklah, aku akan berangkat sekarang,” jawab Baskoro bersemangat.

Ia memasukkan motornya ke gudang yang ada di samping rumah, kemudian pergi lagi setelah memanggil taksi.

***

Hari mulai remang. Ada rasa takut di hati Nilam ketika kegelapan mulai menyelimuti bumi. Tapi Nilam bingung harus pergi ke mana?

Ia kembali duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia terisak tanpa tahu harus melakukan apa.

Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki, yang kemudian berhenti. Bulu kuduk Nilam terasa merinding. Udara yag meremang, tak membuatnya bisa melihat jelas siapa yang datang.

“Mengapa kamu menangis?”

Nilam ketakutan. Jangan-jangan suara kuntilanak, atau hantu perempuan yang ingin memangsanya. Eh, benar nggak sih, kuntilanak atau hantu itu mahluk pemangsa manusia?

Nilam diam membeku, lalu terlonjak ketika merasa pundaknya disentuh oleh sesuatu.

“Han … hantu!” pekiknya.

“Hei, enak saja kamu meneriaki aku hantu.”

Debar di dada Nilam terasa sedikit lega. Dia bicara seperti manusia dan dia tak suka diteriaki hantu, berarti dia manusia. Nilam berdiri, membalikkan tubuhnya. Seorang wanita yang sedikit gemuk berdiri sambil menjinjing sebuah keranjang besar.

“Oh, seorang gadis kecil yang cantik, rupanya. Mengapa kamu menangis di sini?”

Suara itu terdengar begitu teduh, membuat Nilam kembali terisak.

“Ada apa?”

“Tolonglah saya.”

Wanita itu adalah Suri, yang dagangannya baru saja habis, dan sedang mencari kendaraan untuk pulang. Ia melihat seorang gadis menangis ditepi sawah, hatinya merasa trenyuh. Ia melihat pakaian yang dikenakan Nilam. Memang pakaian rumahan, tapi itu bukan pakaian orang biasa. Gadis kecil itu pastilah anak seorang kaya.

“Kamu minggat dari rumah?”

“Iya, tolong bawalah saya pergi, saya tak ingin pulang.”

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...