Wednesday, October 27, 2021

MELANI KEKASIHKU 10

 

MELANI KEKASIHKU  10

(Tien Kumalasari)

 

“Melani tidak mengerti mbok, seperti ada sesuatu yang ditutupi. Ada apa sebenarnya ?” tanya Melani curiga. Andra merasa telah keceplosan bicara, lupa bahwa Melani memang belum tahu keadaan yang sebenarnya.

“Melan, nanti kalau sudah sampai rumah, simbok mau bicara.”

“Apakah itu ada hubungannya dengan Melan? Atau ayah Melan yang kata simbok sudah lama meninggalkan simbok ?”

“Tidak, sudahlah, jangan dipikirkan. Simbok akan bicara nanti setelah sampai dirumah. Bukan apa-apa kok.”

Melani terdiam, tapi perasaan curiga itu terus menghantuinya. Ia mendengar Andra bicara tentang iklan, dan menyebut nama dirinya. Pastilah itu ada hubungannya dengan dirinya.

“Maaf Melani, kamu tidak perlu memikirkannya. Ini bukan sesuatu yang buruk.”

Melani bertambah curiga. Kata-kata simbok dan Andra sangat sulit dipahami. Tapi dia akan bersabar, karena simbok mengatakan akan menceritakan semuanya nanti setelah sampai di rumah.

Begitu sampai di rumah. simbok langsung masuk kedalam kamar, dan keluar sambil membawa sebuah bungkusan, berisi pakaian-pakaian anak kecil. Melani heran, ia belum pernah melihat pakaian-pakaian itu.

“Ini pakaian siapa?”

“Ini pakaian kamu waktu masih bayi Melani.”

Andra ikut membuka bungkusan itu dan mengamatinya satu per satu.

Lalu ia melihat sebuah pakaian berwarna putih dengan kembang-kembang, dan dibawahnya tertulis nama ‘MELANI’ dengan sulaman yang indah.

“Ini bagus, simbok yang menyulamnya?” tanya Melani.

Simbok hanya tersenyum, dan membiarkan Andra memotret pakaian itu.

“Untuk apa ini mas?”

“Melan, nanti simbok akan bercerita. Semuanya akan simbok ceritakan. Sekarang tolong buatkan minum untuk mas Andra ya,” kata simbok.

Melani mengangguk, lalu beranjak ke belakang.

“Maaf mbok, aku kelepasan bicara,” kata Andra penuh sesal.

“Tidak apa-apa mas, barangkali memang sekaranglah saatnya saya mengatakan semuanya. Tidak selamanya rahasia ini ditutup-tutupi. Semoga dengan upaya mas Andra ini, siapa orang tua Melani segera terkuak.”

“Semoga ya mbok, saya segera pamit saja kalau begitu.”

“Sebentar mas Melani sedang membuatkan minum untuk mas Andra, nanti dia kecewa.”

“Baiklah, setelah minum aku pamit ya mbok, barangkali aku harus segera mengurus iklan itu. Semoga akan membuahkan hasil.”

“Ini minumnya mas,” kata Melani yang sudah keluar dengan membawa nampan.

“Repot-repot amat Melan, tapi terimakasih, aku memang lagi haus,” kata Andra yang langsung merah gelas berisi teh hangat itu dari nampan yang dibawa Melani, sebelum sempat diletakkannya di meja.

Melani tersenyum senang. Adalah sangat menyenangkan ketika sebuah pemberian dinikmati dengan suka cita, seperti sikap yang ditunjukkan Andra.

“Enak tehnya. Konon rasa secangkir teh itu berbeda-beda, tergantung siapa yang membuatnya. Bukan begitu mbok?”

“Benar. Buatan simbok dan buatan Melani akan berbeda rasanya. Simbok tidak tahu mengapa, tapi itulah yang sebenarnya. Ada orang yang pekerjaannya membuat minuman, tapi rasa teh buatannya terasa hambar. Tapi ada yang kalau membuat teh, rasanya sedap.”

“Aneh tapi nyata ya mbok? Baiklah, seperti tadi aku bilang, setelah minum, mau segera pamit. Terimakasih teh sedapnya, Melan,” katanya sambil tersenyum menatap Melan.

“Terimakasih juga karena telah mengantar kami pulang mas.”

***

Sepulangnya Andra, simbok kembali membenahi baju-baju kecil yang beberapa diantaranya diambil fotonya oleh Andra. Melani memegang tangan simboknya

“Sebentar mbok, saya akan melihat-lihat baju-baju ini. Bagus sekali mbok, baju-baju kecilku. Rupanya simbok pintar menyulam ya? Hampir semuanya ada sulamannya, yang dua ini ada namaku pula, indah sekali,” kata Melani dengan wajah sumringah.

Simbok diam terpaku. Dia menyulam begitu indah? Menjahitpun dia tak mampu. Pikirannya kembali menerawang kearah puluhan tahun lalu, ketika Melani kecil masih berumur setahun, menangis sambil meronta-ronta dalam gendongan seorang perempuan cantik, kemudian terdiam ketika berada dalam dekapannya. Simbok masih teringat, mata kecil yang memerah menatapnya seakan meminta perlindungan darinya. Ya Tuhan, simbok tak tahan lagi, air mata kemudian sudah merebak dipelupuknya. Melani yang sedang asyik melihat-lihat baju itu, terkejut ketika melihat simbok meraih tissue untuk mengusap air matanya.

“mBok ? Simbok menangis?” tanya Melani heran.

“Melani, simbok amat mencintai kamu nak..” kata simbok yang kemudian merengkuh tubuh Melani kedalam pelukannya. Melani membalas pelukan itu, dan mengusap air mata simbok perlahan. Seharian ini dia sudah dua kali mengusap aliran air mata dari dua orang ibu. Ibu Maruti  dan simbok Karti.

“Kenapa simbok bilang begitu? Bukankah Melani juga sangat mencintai simbok ?”

Simbok terisak perlahan ketika melepaskan pelukan itu.

“mBok, ajari Melan nyulam ya mbok? Nggak nyangka simbok pintar menyulam,” kata melani lirih. Maksudnya ingin agar simbok senang mendengar permintaannya, tapi justru air mata itu kembali mengaliri pipinya.

“Kenapa mbok?”

Simbok menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Simbok tidak mau?”

“Bukan simbok yang menyulamnya.. bukan simbok,” katanya diantara tangis.”

“Baiklah, kalau memang bukan simbok, simbok tidak usah menangis ya, Melani bisa belajar sendiri nanti.”

“Kamu lupa bahwa simbok berjanji akan menceritakan sesuatu sama kamu Melan?”

Melani baru teringat, benar simbok mau bercerita. Melani lupa karena asyik mengagumi baju-baju kecil dengan sulaman indah itu.

“Iya ,. Melani lupa,” kata Melani sambil melipat kembali baju-baju kecil itu dan menumpuknya dengan rapi.

“Puluhan tahun yang lalu, seorang wanita cantik menitipkan bayi berumur kurang lebih setahunan kepada simbok,” simbok memulai ceritanya.

Melani menatap simbok, yang matanya menerawang jauh ke arah depan. Mata tua itu masih tergenang air bening.

Melani meraih tangan simbok dan menciuminya dengan kasih sayang.

“Melan, apa kamu mencintai simbok?”

“Mengapa simbok berkata demikian? Simbok adalah satu-satunya milik Melan yang sangat  berharga, sangat Melan sayangi, sangat Melan cintai,” katanya sambil meremas jemari simbok.

“Bahkan setelah kamu mendengar cerita simbok nanti?”

“Sebenarnya apa yang akan simbok ceritakan?”

“Berjanjilah pada simbok, bahwa kamu akan tetap mencintai simbok, apapun yang terjadi.”

“Tentu saja Melani akan selalu mencintai simbok, apapun yang terjadi. Percayalah mbok, apakah Melan harus bersumpah?”

“Tidak, tidak. Baiklah akan simbok lanjutkan. Wanita cantik itu meninggalkan bayinya yang masih kecil. Meninggalkannya begitu saja tanpa pesan apapun, kecuali akan menjemput beberapa hari kemudian.”

 Melani berdebar. Dirinyakah bayi itu ?

“Tapi berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, wanita yang entah siapa itu tidak pernah menjemput bayi itu. Wanita cantik itu tampak kejam dan tak sedikitpun punya belas kasihan. Tangis bayi yang meronta-ronta ketika dalam gendongannya, menunjukkan bahwa bayi itu tidak merasa nyaman bersamanya.”

“Maksudnya, wanita itu bukan ibunya?”

“Tampaknya bukan. Seorang ibu akan membuat anakny tenang dalam gendongannya. Ibu mengira wanita itu telah menculik bayi yang diberikannya pada simbok.”

“Kasihan sekali. Lalu dimanakah bayi itu sekarang?”

Simbok membalas genggaman tangan Melani, dan menatapnya lembut.

“Bayi itu adalah kamu Melan.”

Mata sipit indah itu terbelalak, sesaat lamanya ia tak bisa berkata-kata. Seperti mimpi rasanya mendengar apa yang dikatakan simbok. Simbok yang menurutnya adalah orang tuanya, ternyata hanya orang yang menerima titipan dirinya.

Walau sudah menggambarkan sebelumnya, ketika mendengar kata-kata awal simbok, Melani  terkejut juga. Alangkah sakitnya, dipisahkan dari orang tuanya, lalu diserahkan kepada seseorang yang bukan siapa-siapanya.

Alangkah menderita bayi itu ketika berada dalam tangan penculik yang pastinya memperlakukannya dengan sangat bengis dan kejam. Dibentak-bentak, atau bahkan dipukul. Aduhai. Melani tiba-tiba menubruk simbok dan menangis tersedu didada wanita yang berpuluh tahun mencintainya.

“Simbok, terimakasih telah mencintaiku...”

Simbok mengelus kepala Melani.

Hati Melani terasa bagai dicabik-cabik. Ternyata dia bukan anaknya simbok, dan ada kemungkinan dia diculik seseorang, yang berarti dia dipisahkan dari orang tuanya. Bisa dia bayangkan, betapa sedih hati orang tuanya karena kehilangan anak selama berpuluh tahun.

“Ya Tuhan... ya Tuhan...” desis Melani sambil berlinangan air mata.

“Apa yang kamu pikirkan Mel? Menyesal menjadi anak seorang hina seperti simbok?”

Melani menatap simbok yang masih saja berurai air mata.

“Hina? Siapa yang hina? Simbok hina? Tidak, simbok adalah wanita mulia yang sangat berharga. Simbok bagai lentera yang menyinari hidup Melani dengan kasih sayang yang tak terhingga. Simbok, aku bangga punya simbok.”

“Mengapa kamu menangis?”

“Bisakah simbok bayangkan, betapa sedih hati orang tua Melan karena kehilangan Melan?”

“Pasti dia sangat sedih. Entah bagaimana dia dan siapa dia, semuanya gelap. Tapi simbok berharap, orang yang dicari keluarganya mas Andra adalah orang tua kamu, karena melihat wajah kamu yang katanya sangat mirip dengan tantenya mas Andra.”

“Sekarang Melani mengerti, apa yang dimaksud mas Andra tentang iklan-iklan itu,”

“Semoga dengan itu kamu bisa bertemu orang tua kamu, dan semoga juga benar bahwa ibu kamu adalah tantenya mas Andra.”

***

“Aku berharap, Melani ada hubungannya dengan Anindita,” kata Panji sore itu.

“Sungguh luar biasa ya mas, kok bisa persis begitu. Itu kan wajahnya Anin saat masih remaja?”

“Iya benar. Hanya Anin kan agak kemayu gitu, sedangkan Melani pendiam.”

“Pendiam lah mas, kan baru kali itu bertemu kita. Kalau nanti sudah terbiasa kemudian ternyata ceriwis.. ya kita nggak tahu. Tapi suaranya persis ya mas.”

“Iya, suaranya persis. Masih ingat ketika dia merengek minta diajak jalan.”

“Anak itu sebenarnya inginnya dimanja.”

“Memang manja kan, apalagi kalau sama kakaknya.”

“Duh mas, jadi semakin kangen aku.”

“Sabar ya .. dan selalu berdoa, semoga semuanya lancar..”

Maruti mengangguk.. terbayang kembali polah Anindita yang lincah dan kemayu..

"Dengar mbak, aku tadi nyaris ketabrak mobil." enteng suaranya ketika mengucapkan itu, dan Maruti terbelalak memandangi adiknya.

"Kamu ngomong apa? Nyaris ketabrak mobil dan kamu malah bersikap seperti orang yang sedang bergembira begitu?"

Maruti mendekati adiknya dan memegang dahinya.

"Panaskah?" Dita masih berusaha bercanda.

"Jangan main-main Dita.."

"mBak.. kalau aku benar-benar ketabrak, ya nggak mungkin lah aku bisa ketawa-ketiwi seperti ini. Makanya aku bilang nyaris, dan tu sebabnya aku tampak seperti orang kegirangan."

Namun Maruti tidak mengerti. Meskipun nggak jadi ketabrak, yang namanya hampir ketabrak mobil pastilah membuat orang berdebar debar untuk waktu yang cukup lama. Tapi Dita tidak.. 

"Sini mbak, aku ceritain, tadi itu.. pas aku menyeberang jalan setelah mengirimkan pesanan, tiba-tiba aku terkejut ketika sebuah mobil sudah berhenti tepat disamping aku. "

"Sembrono kamu memang." Maruti ngedumel.

"Terkejut sekali aku.. hadeeww.. hampir saja. Tapi mbak, ketika pengendara mobil itu membuka kaca depan lalu melongok kearahku, aku dibuatnya terpana. Debar jantungku ini tidak lagi disebabkan oleh ketakutan karena nyawaku hampir melayang.. tapi karena melihat wajah laki-laki itu." kata Dita bersemangat, membuat Maruti kemudian meninggalkannya lalu melanjutkan pekerjaannya menata meja. Kesal Maruti mendengar omong kosong itu.

"mBak, laki-laki itu guanteng banget, dan senyumnya itu... eh.. bukan.. tadinya dia melotot kearahku, lalu aku mengangguk dan mengucapkan ma'af sambil tanganku memegangi pintu mobilnya, dan gemetaran pastinya. Melihatku seperti itu dia kemudian tersenyum, sambil berkata maniis sekali.

”Lain kali hati-hati ya.”

“ Wouw.. itu kan senyuman yang mirip... apa ya.. ah.. pokoknya ketakutanku sirna lalu aku berjalan menepi. Dia juga menepikan mobilnya dan turun, sambil bertanya apakah ada yang luka? Aku menggeleng sambil tak henti menatapnya dan kemudian dia berkata lagi, lain kali hati2 ya. Hm.. kenapa ya dia nggak mau menawari aku naik ke mobilnya lalu mengantarku pulang?"

"Ya ogahlah.. mengantar pulang anak gadis yang sembrono seperti itu." Maruti menimpali sambil bersungut.

"Iya 'kali... ia malah kembali menaiki mobilnya dan pergi begitu saja. Tapi sungguh aku ingin bertemu dia lagi lho.."

"Ssst.. diam dan cuci kaki  tanganmu.. lalu bantu aku menyiapkan makan siang."

"Sayang aku nggak sempat bertanya siapa namanya. Ah.. ya malu kan kalau itu aku lakukan?" Dita masih saja mengomel.

"Dita..." tegur Maruti kembali.

"Iya.. iya..." sahut Dita sambil berdiri, lalu berjalan kearah kamarnya sambil masih saja terus bersenandung.

“Ya ampuuun... Anindita... dimana kamu,” bisiknya sendu.

Maruti teringat, laki-laki yang hampir menabrak itu adalah Panji, yang akhirnya menjadi suaminya.

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

Tuesday, October 26, 2021

MELANI KEKASIHKU -09

 

MELANI KEKASIHKU  09

(Tien Kumalasari)

 

Abi yang mendengar percakapan itu memutar mobilnya agar tidak segera sampai dirumah, supaya Andra bisa tuntas mengetahui tentang Melani.

“Jadi mbok, Melani itu bukan anaknya simbok?” Andra ingin mendengar lagi apa yang dikatakan simbok.

Simbok tampak mengusap air matanya.

“Kasihan sekali anak itu.”

“Jadi sebenarnya dia itu anak siapa mbok?”

“Pada suatu hari, seorang wanita cantik turun dari mobil, sambil menggendong anak perempuan kecil yang kira-kira berumur satu tahun. Anak kecil itu menangis dan meronta-ronta. Simbok menatapnya iba. Waktu itu simbok sedang berada dipinggir jalan besar, mau bekerja. Kan simbok pekerjaannya mencuci dan setelika dari rumah ke rumah untuk menyambung hidup. Tiba-tiba wanita itu menyerahkan anak kecil yang semula digendongnya, kepada simbok.”

“Bu, saya titip anak saya ya. Nanti beberapa hari lagi saya akan menjemputnya,” kata perempuan cantik itu.

“Ini, dititipkan kepada saya?” kata saya heran sambil memeluk anak itu dalam gendongan saya. Saya menepuk-nepuk punggungnya lembut.

“Iya, saya sedang ada masalah, rumah ibu dimana?”

“Itu, masuk gang, nama saya Karti, setiap orang disitu sudah tahu nama saya.”

“Bagus, nitip dulu ya, nanti saya ambil,” kata wanita itu sambil mengulungkan uang limaratus ribu dan sebuah bungkusan berisi pakaian.

“Saya belum sempat menanyakan siapa dia, dia sudah menaiki kembali mobilnya dan memacunya cepat sekali. Saya memeluk anak kecil itu, yang entah mengapa, dalam pelukan saya tangisnya mereda, tinggal isaknya yang terdengar pelan.

“Sayang, apa yang terjadi dengan orang tuamu ?” kata saya samil terus menciumi pipinya.

“Anak kecil itu menatap saya, mata beningnya memerah. Saya menahan haru yang sangat, lalu saya peluk dia erat-erat. Lalu saya membawanya pulang. Hari demi hari terlewati, tapi wanita itu tak pernah datang ke rumah saya. Sebulan, setahun, dan bertahun-tahun kemudian, tak ada yang datang untuk menanyakan anak itu. Saya merawatnya dengan kasih sayang. Menganggapnya sebagai anak sendiri. Menyekolahkannya sampai sekarang,” lanjut simbok.

“Lalu simbok memberinya nama Melani?”

“Nama itu tertulis pada baju yang dikenakannya waktu itu. Ada sulaman bunga, dibawahnya tertulis Melani, jadi sampai sekarang saya memanggilnya Melani.”Hati Andra bergetar. Ingin ia menitikkan air mata atas nasib si kecil yang ditinggalkan oleh orang tuanya begitu saja.

“Bagaimana seorang ibu tega meninggalkan anaknya begitu saja?” kata Andra seperti kepada dirinya sendiri.

“Simbok mengira, Melani bukan anak wanita itu.”

“Mengapa simbok mengira demikian?”

“Melani kecil menangis meraung-raung dalam gendongan ibunya? Lalu terdiam ketika berada dalam gendongan saya? Rasanya tak mungkin. Saya mengira wanita itu menculiknya dari orang tua yang sesungguhnya,” kata simbok yang lagi-lagi mengusap air matanya.

“Mengapa simbok tidak melaporkannya pada polisi?”

“Ya Tuhan, saya tidak tega mas. Lagi pula dia berjanji akan menjemput, dan selama menunggu dia datang, rasa cinta saya tumbuh sangat besar terhadapnya. Saya takut kehilangan dia. Biarlah saya dihukum atas entah kesalahan apa tentang anak itu, saya sangat mencintainya.”

“Simbok masih tinggal dirumah yang dulu simbok merawat Melani saat masih kecil ?”

“Tidak, saya mengajaknya pindah agak dekat kota, ketika saya ingin menyekolahkan Melani. Ya rumah yang saya tempati itu sampai sekarang itu, dan ditinggali Melani saat saya bekerja mas.”

“Sayang tidak ada fotonya ketika Melani masih bayi ya mbok?”

“Aduh, mana simbok berfikir tentang foto? Tapi baju-baju Melani masih saya simpan sampai sekarang.”

Ketika simbok tampak sudah menyelesaikan ceritanya, barulah Abi memacu mobilnya menuju pulang untuk mengantarkan simbok.

“Cerita simbok sungguh mengharukan. Hati saya tersentuh atas nasib Melani kecil saat digendong wanita asing sambil menangis meronta-ronta.”

“Iya mas, kasihan sekali anak itu. Entah anak siapa dia.”

Tiba-tiba Andra mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada simbok.

“mBok, coba simbok lihat dan ingat-ingat, apakah wanita yang menyerahkan bayi itu wajahnya seperti ini?”

Simbok mengamatinya.

“Ini? Bukan.. bukan ini, wajah kedua wanita ini sangat lembut, cantik lembut. Sedangkan wanita yang menyerahkan bayi itu matanya kelihatan galak dan seperti sangat kejam. Biarpun dia cantik, tapi seperti menakutkan begitu. Terbukti Melani saat itu menangis keras sekali.”

Diam-diam Andra merasa lega. Seandainya benar Melani anak tantenya, bukan tantenya yang melakukan hal kejam seperti itu.

“Tapi yang sebelah kiri ini kok mirip sekali sama Melani ya mas? Benar, sangat mirip, hanya matanya yang berbeda sedikit,” kata simbok sambil terus mengamati foto itu.

“mBok, sesungguhnya aku sedang mencari dia. Yang ada di foto itu adalah ibu aku dan adiknya.”

“Jadi yang mirip Melani ini ibunya mas Andra?”

“Bukan, yang mirip Melani adalah adiknya ibuku mbok. Yang saat ini kami sedang mencari-carinya karena selama berpuluh tahun tidak ada kabar beritanya dan tidak tahu dimana dia berada. Itulah sebabnya begitu melihat Melani lalu saya ingin tahu siapa sebenarnya dia.”

“Jangan-jangan Melani memang  ada hubungannya dengan yang sedang mas Andra cari itu?”

“Tapi kan semuanya kemudian menjadi gelap mbok, karena tidak diketahui siapa yang menyerahkan Melani pada simbok.”

“Iya ya mas, simbok jadi ikut bingung.”

“Apakah Melani tahu bahwa simbok bukan ibunya?”

“Saya belum pernah mengatakannya mas. Entah nanti.”

“mBok, bolehkah kapan-kapan aku mengajak Melani untuk menemui ibuku?”

“Silahkan saja mas, tapi besok saya mau pulang. Kangen saya sama dia.”

“Kalau begitu besok saya jemput simbok dirumahnya Abi, lalu saya antar pulang, terus simbok sama Melani saya ajak ke rumah saya.”

“Wah, pakai dijemput segala, nggak enak ah mas. Biar saya pulang sendiri.”

“Tidak apa-apa mbok, mas Andra itu sahabat aku, dan dia baik. Jadi besok simbok pulangnya setelah mas Andra menjemput kerumah. Ya kan Ndra,” sambung Abi,

“Iya ,mbok. Tunggu aku besok.”

“Ya sudah kalau begitu. Ini nanti simbok mau masak untuk makan beberapa hari. Ibu sudah bilang apa yang harus simbok masak, jadi saat simbok tidak ada, sudah ada lauk yang tersedia di kulkas, tinggal menghangatkan saja.”

***

“Benarkah Ndra? Dia bukan anak simbok?”

“Bukan bu, menurut perkiraan simbok, Melani diculik oleh seseorang, lalu diserahkannya sama simbok.”

“Bagaimana dia tahu kalau yang menyerahkan itu bukan ibunya?”

“Ketika Andra menunjukkan foto ibu bersama tante, dia bilang bukan itu orangnya. Dia malah heran kenapa wajahnya bisa mirip Melani.”

“Aduh Ndra, tampaknya kita masih harus mencari. Tapi sebelumnya ibu ingin sekali bertemu gadis itu.”

“Besok kan hari Minggu, besok mau Andra ajak Melani dan simbok kemari untuk ketemu ibu.”

“Benarkah?” kata Maruti dengan wajah berbinar.”

“Iya, Andra sudah bilang sama simbok, dan dia mau.”

“Syukurlah Ndra, ibu sangat penasaran dan ingin bertemu dia. Benar tidak ya dia anaknya Dita? Kalau benar, siapa yang menculik, dan dimana sebenarnya Dita?”

“Besok Andra akan memasang iklan lagi, dan kali ini akan membawa nama Melani.”

“Maksudnya Ndra?”

“Mencari tahu, apakah beberapa tahun yang lalu ada yang kehilangan bayi bernama Melani.”

“Tapi kamu harus bicara dulu sama simbok kan Ndra?”

“Iya bu, tentu saja Andra akan bicara dulu, karena saat ini kan Melani itu menjadi anak simbok. Sayang sekali waktu menerima bayi itu simbok tidak memotretnya ya.”

“Iya lah Ndra, mungkin waktu itu simbok tidak punya ponsel, atau tidan berpikir sejauh itu.”

“Benar bu, tapi semoga dengan iklan itu nanti akan ada tanggapan dari keluarga yang pernah kehilangan seorang anak bayi. Oh ya, nanti foto baju Melani yang dikenakan ketika diserahkan sama simbok akan Andra sertakan di iklan itu.”

“Syukurlah, simbok masih menyimpannya.”

“Iya bu, nama Melani juga diambil dari sulaman pada baju yang dikenakannya waktu itu, jadi bukan simbok yang memberinya nama.”

“Semoga berhasil ya Ndra, dan semoga juga benar bahwa Melani anaknya tante kamu.”

“Iya bu, aamiin.”

***

“Benarkah simbok besok mau pulang?” tanya Melani yang saat itu sedang menerima telpon dari simbok.

“Iya Mel, besok mas Andra yang akan mengantarkan simbok pulang.”

“Mas Andra? Mengapa dia mau mengantarkan simbok?”

“Dia akan mengajak simbok dan kamu untuk menemui ibunya mas Andra.”

“Untuk apa mbok ?”

“Saat ini ibunya mas Andra sedang kehilangan adiknya yang puluhan tahun tidak ketemu.”

“Iya, mas Andra pernah bilang.”

“Wajahmu katanya mirip sekali dengan tantenya mas Andra itu, jadi dia penasaran ingin melihat kamu.”

“Ya ampuun, aku kan anaknya simbok, dan kemiripan wajah itu kan bisa saja terjadi pada siapa saja.”

“Iya benar, tapi untuk memenuhi keinginan ibunya mas Andra kan tidak apa-apa, supaya dia tidak penasaraan.”

“Simbok juga ikut kan ?”

“Iya, sama simbok juga.”

“Ya sudah, terserah simbok saja. Melani sebenarnya juga sudah melihat foto tantenya mas Andra. Benar seperti Melani wajahnya, hanya beda di mata saja.”

“Mas Andra juga menunjukkan foto itu sama simbok.”

“Lho simbok bertemu dimana kok bisa melihat foto punya mas Andra juga?”

“Kemarin simbok kan belanja, pulangnya dijemput mas Abi. Waktu itu mas Abi sedang bersama mas Andra, lalu kami bicara banyak.”

“Kasihan ya mbok, keluarganya mas Andra.”

“Iya Mel, ya sudah, simbok mengabari kamu supaya ketika simbok datang kamu tidak terkejut, dan tidak banyak bertanya ketika mas Andra mau mengajak kita ke rumahnya.”

“Iya mbok, Melani juga mau menata kamar juga, supaya kalau simbok menginap bisa tidur dengan nyaman.”

***

“Jadi ikut penasaran mbak, ada gadis yang mirip Anindita,” kata Laras ketika Maruti menelponnya.

“Senang sekali besok bisa ketemu dia, Laras, datanglah kerumah. Besok Andra mau mengajaknya.”

“Waduh mbak, sayang sekali besok kami mau ke Jakarta, mungkin beberapa hari.”

“Lho, ada acara apa?”

“Saudaranya mas Agus mantu disana.”

“Sasa juga ikut ?”

“Tidak, kan dia harus bekerja. Jadi kami hanya berdua, kebetulan mas Agus mendapat cuti dari kantornya.”

“Wah, senangnya, bisa jalan-jalan dong.”

“Iya mbak, sudah lama tidak liburan nih.”

“Sayang sekali Laras, coba kalau kamu ada.”

“Suatu hari nanti saya ingin bertemu dia. Dan kemungkinan dia anaknya Dita ada kan mbak, bukankah dia bukan anaknya simbok? Sasa sudah cerita sama aku.”

“Iya Laras, semoga benar dengan perantaraan Melani aku bisa menemukan Anindita.”

“Saya ikut berdoa mbak.”

“Terimakasih Laras.”

***

Ketika Melani dan simbok benar-benar sudah sampai dihadapannya, Maruti tak sabar segera memeluknya sambil berlinangan air mata.

“Kamu seperti adikku, kamu seperti adikku..” isak Maruti, membuat mata Melani memerah. Pelukan ibunya Andra seperti pelukan yang penuh kerinduan. Pelukan seorang kerabat yang lama tidak bertemu.

Melani mengusap air mata di pipi Maruti dengan jari tangannya, ketika pelukan itu dilepaskan.

“Ibu jangan menangis. Suatu hari nanti pasti ibu akan bertemu.”

“Melani, suara kamupun seperti suara dia.”

“Benarkah ?”

“Benar nak, ada getar aneh ketika memeluk kamu, kamu seperti bukan orang lain.”

“Saya kan anaknya simbok. Tapi saya berbahagia sekali kalau ibu menganggap saya keluarga,” kata Melani yang lagi-lagi mengusap air mata Maruti, kali ini dengan tissue yang ada diatas meja.

“Maaf ya mbok, saya begitu bersemangat memeluk Melani.”

“Tidak apa-apa bu, barangkali kedatangan Melani kemari akan sediki mengobati kerinduan ibu pada adik ibu,” kata simbok yang ikut berlinangan air mata.

“Iya, aku seperti linglung, mengira Melani adalah adikku. Habis wajahnya persis, suaranya juga hampir sama. Ya kan mas?” kata Maruti sambil menoleh kepada suaminya, yang juga selalu memandang Melani dengan perasaan heran.

“Iya, ini sebuah keajaiban. Melani seperti  kembaran Anin ,” kata Panji.

Pertemuan penuh haru itu berlangsung hampir seharian. Maruti tepaksa merelakan Melani pulang saat hari sudah menjelang sore. Dalam perjalanan pulang itu Andra yang mengantarkan simbok dan Melani mengutarakan maksudnya tentang iklan yang akan dipasang. Simbok mengijinkan, sementara Melani mendengarkan dengan bingung.

“Mengapa harus ada iklan ?”

Simbok menahan keinginannya untuk menceritakan semuanya.

***

Besok lagi ya.





Monday, October 25, 2021

MELANI KEKASIHKU 08

 

MELANI  KEKASIHKU  08

(Tien Kumalasari)

 

Andra urung masuk kedalam mobilnya. Dihalaman yang sempit itu, membuat jarak diantara penunggang sepeda motor dan dirinya tidak begitu jauh. Andra penasaran melihat cara pandang laki-laki itu. Ia merasa tak bersalah apa-apa, sementara laki-laki itu menatapnya dengan pandangan garang.

“Ada apa mas?” kata Andra ketika melihat laki-laki itu masih terus menatapnya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin tahu ada perlu apa anda datang kemari.”

Andra mengangkat wajahnya. Memangnya siapa laki-laki ini sehingga ingin tahu urusannya datang kerumah Melani.

“Saya hanya ingin bertandang saja. Memangnya kenapa?”

“Asal anda tahu, bahwa saya Aris, calon suaminya, sehingga saya tidak suka melihat laki-laki asing mendekati dia,” katanya pelan tapi tandas. Barangkali ada rasa takut kalau Melani yang masih berdiri di teras mendengarnya.

“Oh, begitu, kalau begitu saya minta maaf.”

Melani yang melihat keduanya berbincang agak lama, dan sesekali  Aris menoleh kearahnya, lalu turun dan mendekat.

“Ada apa ya mas ?”

“Maaf Melani, calon suami kamu tampaknya curiga sama aku. Dia mengira....”

“Apa?” pekik Melani memotong kata-kata Andra.

“Calon suami kamu mencurigai aku.”

“Calon suami ? Siapa calon suami?” tanya Melani sambil memandang marah kepada Aris.

“Maaf Melan, aku hanya ingin melindungi kamu..”

“Melindungi apa? Memangnya aku dalam bahaya? Dia seorang sahabat yang tidak punya maksud buruk. Kamu berbohong dan lancang dengan mengatakan itu.”

“Baiklah, kalau maksud baik aku tidak kamu terima,” kata Aris yang kemudian menstarter sepeda motornya dan berbalik keluar dari halaman.

“Maaf ya mas Andra, dia memang laki-laki pengganggu.”

“Aku kira dia benar-benar calon suami kamu.”

“Dimana-mana dia bilang begitu. Saya sudah berkali-kali menolak kedatangannya, dan kali ini dia nekat.”

“Kamu sendirian dirumah ini?”

“Ya mas, karena simbok kan bekerja.”

“Dia pulang setiap bulan?”

“Kadang-kadang lebih, kalau dirumah majikannya sedang repot.”

“Kamu harus hati-hati, tampaknya dia akan terus mengganggu kamu.”

“Iya mas, saya selalu mengunci pintu rumah saya.”

“Baiklah, sekali lagi hati-hati. Saya pamit ya.”

“Ya mas, terimakasih atas kedatangannya.”

Andra berlalu dengan mobilnya. Ada rasa iba dihati Melani mendengar bahwa Andra kehilangan tantenya sudah puluhan tahun..

“Seandainya aku bisa membantu,” bisiknya sambil masuk kedalam rumah dan menguncinya.

***

“Inikah gadis itu ? Ya ampuun... ini tante kamu Ndra..!” pekik Maruti ketika Andra menunjukkan foto Melani.

“Iya kan bu? Lalu ini.. lihat.. ini ibunya... Melani berfoto sama ibunya.” kata Andra sambil menunjukkan foto Melani yang sedang berdua sama simbok.

“Ini dia bersama ibunya?”

“Iya bu..”

“Ah, enggak deh..  nggak ada mirip-mirip nya..”

“Benar bu, tapi Melani sendiri juga tidak tahu apa-apa. Menurutnya, dia itulah ibunya..”

“Ada perasaan aneh ketika ibu memandangi wajahnya Ndra. Ini seperti bukan orang lain. Ini keluarga kita Ndra..”

“Satu-satunta jalan ialah kita harus menemui ibunya dan menanyakannya. Tapi sayangnya ibunya jarang pulang. Tidak selalu pulang sebulan sekali.”

“Ndra, kamu tetap harus minta tolonga sama Abi.”

“Minta tolong bagaimana bu? Abi sudah mengatakan bahwa sungkan menanyakan pada simbok.”

“Bukan Abi yang menanyakannya, tapi kamu, dengan sebuah alasan yaitu dalam rangka mencari tahu dimana tante kamu berada. Kamu harus minta tolong pada Abi, ketika simbok pulang, mintalah agar Abi mengabari kamu.”

“Oh, iya bu, ibu benar. Andra akan menghubungi Abi.”

“Lakukan Ndra, ibu merasa bahwa tante kamu sudah dekat dengan kita.”

“Ibu sabar ya.”

“Iya Ndra, tentu ibu akan bersabar menunggu, semoga segera datang berita baik untuk kita.”

“Aamiin bu.”

“Sekarang kamu mandi dulu, bapak sudah menunggu kamu, karena kamu pulang dari kantor masih agak siang.”

“Benar, takut tidak ketemu Melani, kalau Andra pulang kesorean.”

***

“Tumben kamu pulang bersama om Panji ?” tanya Laras kepada Sasa.

“Iya, kan Sasa tidak bawa mobil ?”

“Biasanya Andra yang mengantar.”

“Mas Andra lagi sibuk mencari tahu tentang gadis yang mirip tantenya itu bu, tadi pulang agak siangan, supaya bisa menemui dia.”

“Sudah ketemu kah?”

“Belum tahu bu, dia tidak mengabari Sasa sih.

“Semoga segera mendapat informasi yang jelas tentang tantenya Andra.”

“Iya bu, mas Andra bilang ibunya sangat sedih memikirkan adiknya.”

“Pastilah sedih, ibu bisa maklum. Dulu ketika masih remaja mereka selalu berdua.”

“Nanti Sasa akan menelpon mas Andra untuk menanyakannya. Apakah benar gadis itu ada hubungannya dengan tante Dita.”

“Ibu ikut prihatin. Ketika datang kesini, tante Maruti tampak sangat tertekan. Apalagi kalau siang kan dia hanya sendirian dirumah.”

“Mengapa ibu tidak minta agar setiap hari main kesini sehingga tante Maruti tidak kesepian dan semakin sedih ?”

“Ibu sudah minta, tapi ya tidak enak barangkali kalau dia setiap hari datang kemari. Besok setelah memasak gantian ibu yang mau kesana.”

“Nah, ibu ide bagus bu, nanti pulangnya Sasa jemput ya bu.”

“Nggak usah, nanti ibu pulang sendiri saja. Kalau menunggu kamu bisa kesorean, kan harus menyiapkan makan buat bapak juga.”

“Ya sudah, terserah ibu saja kalau begitu. Oh ya bu, om Panji itu lucu deh..”

“Lucu bagaimana ?”

“Masa dia mau mengambil Sasa menjadi menantunya?”

“Oh ya? Kamu mau?”

“Ya enggak lah bu, Sasa kan lebih tua dari mas Andra. Sekarang Sasa mangggilnya pakai ‘mas’ karena dia kan atasan Sasa. Dulu sih aku juga cuma memanggil dia Andra saja.”

“Tidak apa-apa, mas itu kalau bahasa Jawanya bisa berarti kangmas, untuk yang lebih tua, dan dimas untuk yang lebih muda. Jadi itu bukan masalah.”

“Oh, gitu ya bu.”

“Tapi kadangkala sebuah perjodoah tidak ditentukan oleh umur seseorang lho. Ada yang isterinya jauh lebih muda, ada juga yang jauh lebih tua.”

“Ibu setuju sama om Panji ?”

“Bukan begitu, kalau ibu sih terserah yang menjalani. Andra laki-laki baik, dan walau lebih muda dari kamu, tapi dia tampak lebih dewasa.”

“Rasanya nggak pantas bu, lagian Sasa tidak pernah berpikir sampai kesitu. Kami kan sahabatan sejak masih kecil.”

“Iya benar, terserah kamu saja. Lagipula apakah Andra juga suka sama kamu, kita kan tidak tahu?”

“Benar, setiap hari bertemu, kami seperti kakak adik saja kok.”

***

“Ini kok tumben kamu datang ke kantor aku?” tanya Abi ketika Andra datang ke kantornya siang itu.

“Apakah aku mengganggu ?”

“Tidak, mau keluar makan siang bareng aku?”

“Boleh saja, tapi nanti dulu, aku sebenarnya cuma mau minta tolong sama kamu.”

“Oh, baiklah, apa yang bisa aku bantu ?”

“Bagaimana kalau pas simbok, pembantu kamu itu pulang, kamu mengabari aku?”

“Maksudnya, kamu mau menjemputnya kerumah aku, lalu mengantarkannya pulang?”

“Tidak Bi, mana mau dia aku jemput. Nanti dikira aku mau menculik dia, kan kami belum pernah kenal?”

“Oh, cuma mengabari saja?”

“Sebenarnya aku ingin ketemu dia.”

“Tentang Melani ?”

“Aku ingin tahu, siapa sebenarnta Melani, apa benar dia anak kandungnya, atau bukan.”

“Bagaimana kalau dia tersinggung? Sudah lama kami ingin menanyakan hal itu, tapi takutnya dia tersinggung.”

“Aku kan punya alasan Bi.”

“Oh, baiklah, aku tahu. Nanti kalau simbok pulang aku akan mengabari kamu.”

“Terimakasih sebelumnya ya Bi.”

“Kita kayak bukan sahabat saja Ndra, apapun pasti aku akan membantu.”

“Aku tahu kamu sahabat sejatiku..”

“Kamu sudah ketemu Melani ?”

“Sudah, aku memancing-mancing tentang hubungannya dengan simbok, tapi dia tetap merasa bahwa simbok adalah orang tuanya. Aku memptret dia, ibuku langsung berteriak bahwa itu foto adiknya. Aku jadi sedih. Kasihan ibu.”

“Semoga nanti kalau ketemu simbok kamu bisa menemukan jawabannya.”

“Terimakasih Bi.”

“Ayo kita keluar, sudah lama sekali kita tidak makan bersama.”

“Baiklah, senang nih, ditraktir bos besar.”

“Sembarangan kalau ngomong, kamu sendiri kan juga bos.”

“Aku nih kecil Bi.”

“Tidak, sudahlah, apa bedanya bos besar atau kecil? Kita tetap sahabat bukan? Ayo berangkat.”

***

“Sa, kamu mau dibelikan apa?” tanya Andra ketika menelpon Sasa, saat makan bersama Abi.

“Kamu dimana?”

“Lagi makan sama Abi nih, nanti kamu mau dibungkusin apa? Kamu kan belum makan?”

“Terserah kamu saja deh.”

“Kok terserah aku sih.”

“Kamu kan sudah tahu aku sukanya makan apa?”

“Baiklah, tapi tahan dulu laparnya, kami baru mau makan nih.”

“Ya, nggak apa-apa, aku selesaikan dulu pekerjaan aku.”

“Siapa dia ? Pacar kamu ?” tanya Abi ketika Andra selesai menelpon.

“Bukan, sekretaris aku, tapi dia juga sahabat aku.”

“Perhatian benar kamu sama dia.”

“Kami sahabatan sejak kecil, lalu dia berkerja di kantor aku. Biasanya kami keluar makan berdua, tapi akhir-akhir ini aku sedang banyak pikiiran. Jadi sering makan sendiri-sendiri, atau saling membelikan makan kalau hanya salah satu diantara kita yang keluar makan.”

“Oh, bagus sekali itu, siapa tahu berjodoh.”

“Ngawur kamu.”

Tiba-tiba ponsel Abi berdering.

“Sebentar, ada apa nih, ibu menelpon.”

“Ya bu,” Abi menjawab telpon ibunya.

“Kamu lagi dimana Bi ?”

“Lagi makan sama Andra nih. Ada apa bu?”

“Bisakah ibu minta tolong? Tadi simbok ibu tinggalkan di mal, ibu suruh belanja. Ibu janji, sopir akan menjemputnya setelah mengantar ibu, tapi rupanya ibu harus pergi lagi kelain tempat.”

“Maksud ibu, ibu suruh Abi menjemput simbok ?”

“Iya bi, kasihan, belanjaannya agak banyak, karena besok dia mau pulang, jadi ibu suruh belanja dulu. Cuma dia kan nggak tahu jalan, ibu suruh naik taksi nggak berani katanya, jadi tetap menunggu. Tolong kamu jemput dia ya Bi?”

“Di mal mana dia bu?”

“Yang biasanya ibu belanja itu, kamu kan sering mengantar ibu kalau sopir nggak ada?”

“Baiklah bu, ibu beritahu simbok agar menunggu, soalnya Abi baru makan nih.”

“Ya, ibu akan menelpon simbok.”

“Kamu mau menjemput simbok?”

“Simbok lagi belanja, belanjaannya banyak, sopir tidak bisa menjemputnya, jadi ibu minta aku menjemputnya.”

“Nggak disuruh naik taksi saja?”

“Simbok itu nggak pernah berani naik taksi sendiri.”

“Kalau begitu aku ikut dong.”

“Oh iya, bagus kalau begitu, nanti kamu bisa bicara sama simbok.”

“Iya benar, kan mobilku ada di kantor kamu, jadi aku bisa ikut. Nanti aku akan bicara sama simbok.”

“Dan itu lebih baik daripada dirumahnya Ndra, kalau kamu bicara dirumah, nanti Melani akan mendengarnya. Pasti dia heran kalau mendengar kamu ragu bahwa Melani bukan anaknya simbok.”

“Kamu hebat Bi, itu benar, lebih baik aku bicara tanpa Melani mendengarnya.”

***

“Aduuh.. simbok ini penakut, nggak berani naik taksi sendiri, jadi ya begini ini, merepotkan mas Abi,” kata simbok setelah naik ke mobil Abi, sedangkan Andra duduk di sebelahnya.

“mBok, perkenalkan, saya Andra, yang pernah hampir menabrak Melani,” kata Andra memperkenalkan diri,

“Oh, iya.. Melan pernah cerita.. ini yang namanya mas Andra, ganteng banget. Seperti mas Abi juga ganteng,” kata simbok.

“Saya minta maaf ya mbok..”

“Tidak apa-apa mas, Melani bilang, yang salah dia, karena mau menyeberng tidak melihat jalan. Sudah simbok marahin dia.”

“mBok, sebenarnya saya mau minta tolong sama simbok.”

“Minta tolong apa mas? Masak buat mas Andra? Mas Andra masih bujang ?”

“Bukan itu mbok, iya sih saya masih bujang, tapi bukan minta tolong simbok untuk memasak buat saya.”

“Lalu apa? Simbok orang kampung yang pastinya bodoh, bisa membantu apa?”

“Ibu saya kehilangan adik kandungnya.”

“Oh, dimana hilangnya? Umur berapa dia? Masih kecil ? Kok aneh.. adiknya ibunya mas Andra masih kecil? Bisa hilang ?”

“ Bukan hilang mbok, sudah puluhan tahun tidak bertemu, dan juga tidak bisa menghubunginya, juga tidak tahu dimana dia berada.”

“Oh, kasihan benar.”

“Ketika saya melihat Melani, saya merasa wajahnya sangat mirip dengan tante saya itu.”

“Oh.. mirip Melani?” kata simbok yang kemudian menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.”

“Mohon maaf ya mbok, saat ini saya sedang mencari tahu keberadaan tante saya itu. Saya berharap, karena wajahnya sangat mirip, Melani ada hubungannya dengan tante saya. Tapi saya kecewa, karena Melani kan anaknya simbok? Ibu saya sedih sekali karena ternyata Melani tidak ada hubungannya dengan adiknya.”

Simbok tiba-tiba diam. Sebelah tangannya masih menutupi mulutnya.

“Maaf lho mbok, saya hanya berharap terhadap simbok, ternyata saya salah. Berarti Melani tidak ada hubungannya dengan tante saya.

“Sesungguhnya mas, sesungguhnya.. Melani bukan anak kandung saya.”

“Bukan ?”

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

 

AKU ANAK SIAPA 05

  AKU ANAK SIAPA  05 (Tien Kumalasari)   Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang y ang...