MELANI KEKASIHKU 10
(Tien Kumalasari)
“Melani tidak mengerti mbok, seperti ada sesuatu yang ditutupi. Ada apa sebenarnya ?” tanya Melani curiga. Andra merasa telah keceplosan bicara, lupa bahwa Melani memang belum tahu keadaan yang sebenarnya.
“Melan, nanti kalau sudah sampai rumah, simbok mau bicara.”
“Apakah itu ada hubungannya dengan Melan? Atau ayah Melan yang kata simbok sudah lama meninggalkan simbok ?”
“Tidak, sudahlah, jangan dipikirkan. Simbok akan bicara nanti setelah sampai dirumah. Bukan apa-apa kok.”
Melani terdiam, tapi perasaan curiga itu terus menghantuinya. Ia mendengar Andra bicara tentang iklan, dan menyebut nama dirinya. Pastilah itu ada hubungannya dengan dirinya.
“Maaf Melani, kamu tidak perlu memikirkannya. Ini bukan sesuatu yang buruk.”
Melani bertambah curiga. Kata-kata simbok dan Andra sangat sulit dipahami. Tapi dia akan bersabar, karena simbok mengatakan akan menceritakan semuanya nanti setelah sampai di rumah.
Begitu sampai di rumah. simbok langsung masuk kedalam kamar, dan keluar sambil membawa sebuah bungkusan, berisi pakaian-pakaian anak kecil. Melani heran, ia belum pernah melihat pakaian-pakaian itu.
“Ini pakaian siapa?”
“Ini pakaian kamu waktu masih bayi Melani.”
Andra ikut membuka bungkusan itu dan mengamatinya satu per satu.
Lalu ia melihat sebuah pakaian berwarna putih dengan kembang-kembang, dan dibawahnya tertulis nama ‘MELANI’ dengan sulaman yang indah.
“Ini bagus, simbok yang menyulamnya?” tanya Melani.
Simbok hanya tersenyum, dan membiarkan Andra memotret pakaian itu.
“Untuk apa ini mas?”
“Melan, nanti simbok akan bercerita. Semuanya akan simbok ceritakan. Sekarang tolong buatkan minum untuk mas Andra ya,” kata simbok.
Melani mengangguk, lalu beranjak ke belakang.
“Maaf mbok, aku kelepasan bicara,” kata Andra penuh sesal.
“Tidak apa-apa mas, barangkali memang sekaranglah saatnya saya mengatakan semuanya. Tidak selamanya rahasia ini ditutup-tutupi. Semoga dengan upaya mas Andra ini, siapa orang tua Melani segera terkuak.”
“Semoga ya mbok, saya segera pamit saja kalau begitu.”
“Sebentar mas Melani sedang membuatkan minum untuk mas Andra, nanti dia kecewa.”
“Baiklah, setelah minum aku pamit ya mbok, barangkali aku harus segera mengurus iklan itu. Semoga akan membuahkan hasil.”
“Ini minumnya mas,” kata Melani yang sudah keluar dengan membawa nampan.
“Repot-repot amat Melan, tapi terimakasih, aku memang lagi haus,” kata Andra yang langsung merah gelas berisi teh hangat itu dari nampan yang dibawa Melani, sebelum sempat diletakkannya di meja.
Melani tersenyum senang. Adalah sangat menyenangkan ketika sebuah pemberian dinikmati dengan suka cita, seperti sikap yang ditunjukkan Andra.
“Enak tehnya. Konon rasa secangkir teh itu berbeda-beda, tergantung siapa yang membuatnya. Bukan begitu mbok?”
“Benar. Buatan simbok dan buatan Melani akan berbeda rasanya. Simbok tidak tahu mengapa, tapi itulah yang sebenarnya. Ada orang yang pekerjaannya membuat minuman, tapi rasa teh buatannya terasa hambar. Tapi ada yang kalau membuat teh, rasanya sedap.”
“Aneh tapi nyata ya mbok? Baiklah, seperti tadi aku bilang, setelah minum, mau segera pamit. Terimakasih teh sedapnya, Melan,” katanya sambil tersenyum menatap Melan.
“Terimakasih juga karena telah mengantar kami pulang mas.”
***
Sepulangnya Andra, simbok kembali membenahi baju-baju kecil yang beberapa diantaranya diambil fotonya oleh Andra. Melani memegang tangan simboknya
“Sebentar mbok, saya akan melihat-lihat baju-baju ini. Bagus sekali mbok, baju-baju kecilku. Rupanya simbok pintar menyulam ya? Hampir semuanya ada sulamannya, yang dua ini ada namaku pula, indah sekali,” kata Melani dengan wajah sumringah.
Simbok diam terpaku. Dia menyulam begitu indah? Menjahitpun dia tak mampu. Pikirannya kembali menerawang kearah puluhan tahun lalu, ketika Melani kecil masih berumur setahun, menangis sambil meronta-ronta dalam gendongan seorang perempuan cantik, kemudian terdiam ketika berada dalam dekapannya. Simbok masih teringat, mata kecil yang memerah menatapnya seakan meminta perlindungan darinya. Ya Tuhan, simbok tak tahan lagi, air mata kemudian sudah merebak dipelupuknya. Melani yang sedang asyik melihat-lihat baju itu, terkejut ketika melihat simbok meraih tissue untuk mengusap air matanya.
“mBok ? Simbok menangis?” tanya Melani heran.
“Melani, simbok amat mencintai kamu nak..” kata simbok yang kemudian merengkuh tubuh Melani kedalam pelukannya. Melani membalas pelukan itu, dan mengusap air mata simbok perlahan. Seharian ini dia sudah dua kali mengusap aliran air mata dari dua orang ibu. Ibu Maruti dan simbok Karti.
“Kenapa simbok bilang begitu? Bukankah Melani juga sangat mencintai simbok ?”
Simbok terisak perlahan ketika melepaskan pelukan itu.
“mBok, ajari Melan nyulam ya mbok? Nggak nyangka simbok pintar menyulam,” kata melani lirih. Maksudnya ingin agar simbok senang mendengar permintaannya, tapi justru air mata itu kembali mengaliri pipinya.
“Kenapa mbok?”
Simbok menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Simbok tidak mau?”
“Bukan simbok yang menyulamnya.. bukan simbok,” katanya diantara tangis.”
“Baiklah, kalau memang bukan simbok, simbok tidak usah menangis ya, Melani bisa belajar sendiri nanti.”
“Kamu lupa bahwa simbok berjanji akan menceritakan sesuatu sama kamu Melan?”
Melani baru teringat, benar simbok mau bercerita. Melani lupa karena asyik mengagumi baju-baju kecil dengan sulaman indah itu.
“Iya ,. Melani lupa,” kata Melani sambil melipat kembali baju-baju kecil itu dan menumpuknya dengan rapi.
“Puluhan tahun yang lalu, seorang wanita cantik menitipkan bayi berumur kurang lebih setahunan kepada simbok,” simbok memulai ceritanya.
Melani menatap simbok, yang matanya menerawang jauh ke arah depan. Mata tua itu masih tergenang air bening.
Melani meraih tangan simbok dan menciuminya dengan kasih sayang.
“Melan, apa kamu mencintai simbok?”
“Mengapa simbok berkata demikian? Simbok adalah satu-satunya milik Melan yang sangat berharga, sangat Melan sayangi, sangat Melan cintai,” katanya sambil meremas jemari simbok.
“Bahkan setelah kamu mendengar cerita simbok nanti?”
“Sebenarnya apa yang akan simbok ceritakan?”
“Berjanjilah pada simbok, bahwa kamu akan tetap mencintai simbok, apapun yang terjadi.”
“Tentu saja Melani akan selalu mencintai simbok, apapun yang terjadi. Percayalah mbok, apakah Melan harus bersumpah?”
“Tidak, tidak. Baiklah akan simbok lanjutkan. Wanita cantik itu meninggalkan bayinya yang masih kecil. Meninggalkannya begitu saja tanpa pesan apapun, kecuali akan menjemput beberapa hari kemudian.”
Melani berdebar. Dirinyakah bayi itu ?
“Tapi berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, wanita yang entah siapa itu tidak pernah menjemput bayi itu. Wanita cantik itu tampak kejam dan tak sedikitpun punya belas kasihan. Tangis bayi yang meronta-ronta ketika dalam gendongannya, menunjukkan bahwa bayi itu tidak merasa nyaman bersamanya.”
“Maksudnya, wanita itu bukan ibunya?”
“Tampaknya bukan. Seorang ibu akan membuat anakny tenang dalam gendongannya. Ibu mengira wanita itu telah menculik bayi yang diberikannya pada simbok.”
“Kasihan sekali. Lalu dimanakah bayi itu sekarang?”
Simbok membalas genggaman tangan Melani, dan menatapnya lembut.
“Bayi itu adalah kamu Melan.”
Mata sipit indah itu terbelalak, sesaat lamanya ia tak bisa berkata-kata. Seperti mimpi rasanya mendengar apa yang dikatakan simbok. Simbok yang menurutnya adalah orang tuanya, ternyata hanya orang yang menerima titipan dirinya.
Walau sudah menggambarkan sebelumnya, ketika mendengar kata-kata awal simbok, Melani terkejut juga. Alangkah sakitnya, dipisahkan dari orang tuanya, lalu diserahkan kepada seseorang yang bukan siapa-siapanya.
Alangkah menderita bayi itu ketika berada dalam tangan penculik yang pastinya memperlakukannya dengan sangat bengis dan kejam. Dibentak-bentak, atau bahkan dipukul. Aduhai. Melani tiba-tiba menubruk simbok dan menangis tersedu didada wanita yang berpuluh tahun mencintainya.
“Simbok, terimakasih telah mencintaiku...”
Simbok mengelus kepala Melani.
Hati Melani terasa bagai dicabik-cabik. Ternyata dia bukan anaknya simbok, dan ada kemungkinan dia diculik seseorang, yang berarti dia dipisahkan dari orang tuanya. Bisa dia bayangkan, betapa sedih hati orang tuanya karena kehilangan anak selama berpuluh tahun.
“Ya Tuhan... ya Tuhan...” desis Melani sambil berlinangan air mata.
“Apa yang kamu pikirkan Mel? Menyesal menjadi anak seorang hina seperti simbok?”
Melani menatap simbok yang masih saja berurai air mata.
“Hina? Siapa yang hina? Simbok hina? Tidak, simbok adalah wanita mulia yang sangat berharga. Simbok bagai lentera yang menyinari hidup Melani dengan kasih sayang yang tak terhingga. Simbok, aku bangga punya simbok.”
“Mengapa kamu menangis?”
“Bisakah simbok bayangkan, betapa sedih hati orang tua Melan karena kehilangan Melan?”
“Pasti dia sangat sedih. Entah bagaimana dia dan siapa dia, semuanya gelap. Tapi simbok berharap, orang yang dicari keluarganya mas Andra adalah orang tua kamu, karena melihat wajah kamu yang katanya sangat mirip dengan tantenya mas Andra.”
“Sekarang Melani mengerti, apa yang dimaksud mas Andra tentang iklan-iklan itu,”
“Semoga dengan itu kamu bisa bertemu orang tua kamu, dan semoga juga benar bahwa ibu kamu adalah tantenya mas Andra.”
***
“Aku berharap, Melani ada hubungannya dengan Anindita,” kata Panji sore itu.
“Sungguh luar biasa ya mas, kok bisa persis begitu. Itu kan wajahnya Anin saat masih remaja?”
“Iya benar. Hanya Anin kan agak kemayu gitu, sedangkan Melani pendiam.”
“Pendiam lah mas, kan baru kali itu bertemu kita. Kalau nanti sudah terbiasa kemudian ternyata ceriwis.. ya kita nggak tahu. Tapi suaranya persis ya mas.”
“Iya, suaranya persis. Masih ingat ketika dia merengek minta diajak jalan.”
“Anak itu sebenarnya inginnya dimanja.”
“Memang manja kan, apalagi kalau sama kakaknya.”
“Duh mas, jadi semakin kangen aku.”
“Sabar ya .. dan selalu berdoa, semoga semuanya lancar..”
Maruti mengangguk.. terbayang kembali polah Anindita yang lincah dan kemayu..
"Dengar mbak, aku tadi nyaris ketabrak mobil." enteng suaranya ketika mengucapkan itu, dan Maruti terbelalak memandangi adiknya.
"Kamu ngomong apa? Nyaris ketabrak mobil dan kamu malah bersikap seperti orang yang sedang bergembira begitu?"
Maruti mendekati adiknya dan memegang dahinya.
"Panaskah?" Dita masih berusaha bercanda.
"Jangan main-main Dita.."
"mBak.. kalau aku benar-benar ketabrak, ya nggak mungkin lah aku bisa ketawa-ketiwi seperti ini. Makanya aku bilang nyaris, dan tu sebabnya aku tampak seperti orang kegirangan."
Namun Maruti tidak mengerti. Meskipun nggak jadi ketabrak, yang namanya hampir ketabrak mobil pastilah membuat orang berdebar debar untuk waktu yang cukup lama. Tapi Dita tidak..
"Sini mbak, aku ceritain, tadi itu.. pas aku menyeberang jalan setelah mengirimkan pesanan, tiba-tiba aku terkejut ketika sebuah mobil sudah berhenti tepat disamping aku. "
"Sembrono kamu memang." Maruti ngedumel.
"Terkejut sekali aku.. hadeeww.. hampir saja. Tapi mbak, ketika pengendara mobil itu membuka kaca depan lalu melongok kearahku, aku dibuatnya terpana. Debar jantungku ini tidak lagi disebabkan oleh ketakutan karena nyawaku hampir melayang.. tapi karena melihat wajah laki-laki itu." kata Dita bersemangat, membuat Maruti kemudian meninggalkannya lalu melanjutkan pekerjaannya menata meja. Kesal Maruti mendengar omong kosong itu.
"mBak, laki-laki itu guanteng banget, dan senyumnya itu... eh.. bukan.. tadinya dia melotot kearahku, lalu aku mengangguk dan mengucapkan ma'af sambil tanganku memegangi pintu mobilnya, dan gemetaran pastinya. Melihatku seperti itu dia kemudian tersenyum, sambil berkata maniis sekali.
”Lain kali hati-hati ya.”
“ Wouw.. itu kan senyuman yang mirip... apa ya.. ah.. pokoknya ketakutanku sirna lalu aku berjalan menepi. Dia juga menepikan mobilnya dan turun, sambil bertanya apakah ada yang luka? Aku menggeleng sambil tak henti menatapnya dan kemudian dia berkata lagi, lain kali hati2 ya. Hm.. kenapa ya dia nggak mau menawari aku naik ke mobilnya lalu mengantarku pulang?"
"Ya ogahlah.. mengantar pulang anak gadis yang sembrono seperti itu." Maruti menimpali sambil bersungut.
"Iya 'kali... ia malah kembali menaiki mobilnya dan pergi begitu saja. Tapi sungguh aku ingin bertemu dia lagi lho.."
"Ssst.. diam dan cuci kaki tanganmu.. lalu bantu aku menyiapkan makan siang."
"Sayang aku nggak sempat bertanya siapa namanya. Ah.. ya malu kan kalau itu aku lakukan?" Dita masih saja mengomel.
"Dita..." tegur Maruti kembali.
"Iya.. iya..." sahut Dita sambil berdiri, lalu berjalan kearah kamarnya sambil masih saja terus bersenandung.
“Ya ampuuun... Anindita... dimana kamu,” bisiknya sendu.
Maruti teringat, laki-laki yang hampir menabrak itu adalah Panji, yang akhirnya menjadi suaminya.
***
Besok lagi ya