Thursday, January 4, 2024

BUNGA UNTUK IBUKU 33

BUNGA UNTUK IBUKU  33

(Tien Kumalasari)

 

Hasti menatap nanar kearah seseorang yang mengetuk pintu. Wajahnya muram, dan ingin segera menutupnya kembali. Tapi seseorang itu menahan dengan tangannya yang amat kuat.

“Tolong dengarkan aku, Hasti.”

“Sam, sudahlah, jangan mendekati aku. Aku sudah tidak ingin melakukannya lagi, kenyataan ketika aku nyaris dibunuh oleh istri kamu, membuat aku sangat ketakutan. Aku mengerti kesalahanku. Aku sengsara karena salah dalam melangkah. Sekarang aku ingin bertobat.”

“Aku mengerti Hasti, aku datang kemari hanya untuk mengingatkan kamu. Jangan menyewa kamar di tempat ini.”

“Kenapa? Aku hanya bisa menyewa kamar yang murah. Aku harus bertahan hidup. Sudahlah Sam, jangan pedulikan aku lagi.”
”Hasti, sesungguhnya aku iba mendengar nasib kamu. Jangan dulu memotong perkataanku, aku sungguh merasa kasihan. Aku mencari kamu setelah kamu pergi, dan aku menemuimu di tempat ini. Lebih baik cari penginapan lain. Ini bukan tempat yang pantas untuk kamu.”

“Biarkan saja, sudah berkali-kali aku bilang, bahwa aku hanya ingin mencari tempat yang murah.”

“Akan aku carikan tempat yang lebih baik.”

“Dulu kamu juga begitu, tapi akhirnya apa? Kamu membuat aku masuk perangkap, dan aku nyaris dibunuh istri kamu. Memang sih, aku sangat lemah dan gampang terbujuk, dan itu cukup memberi padaku pelajaran berharga dalam hidup ini. Aku akan bertobat, dan menjalani hidup bersih.”

“Kalau kamu tetap di sini, kamu tidak akan menjalani hidup bersih seperti keinginan kamu.”

“Apa maksudmu?”

Ditempat ini ada lima kamar disewakan tak jauh dari sini ada limabelas kamar yang lain, semuanya perempuan, dan semuanya bekerja malam.”

“Apa?”

“Mereka menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang. Cepat atau lambat, akan ada yang membujukmu untuk mengikuti mereka.”

Hasti terkejut. Hal itu sudah terjadi. Perempuan genit itu menawarkannya untuk bekerja, mirip seperti apa yang dikatakan Samuel.

“Kamu mengerti kan? Ada tempat lain yang lebih aman untuk kamu, aku akan mengantarkan kamu sekarang juga.”

“Lalu kamu akan memperlakukan aku seperti yang telah lalu?”

“Tidak, sungguh aku tak ingin kamu terjerumus ke dalam dunia yang gelap ini.”

“Bagaimana kamu bisa mengikuti aku sementara istri kamu sedang marah besar?”

“Dia melarangku masuk ke rumah, dan sesungguhnya aku merasa kasihan terhadapmu, jadi aku mencari dan menemukan kamu di sini. Aku menunggu para perempuan itu keluar untuk bekerja, lalu aku menemui kamu. Percayalah aku hanya ingin menolong kamu.”

“Mengapa kamu melakukannya?”

“Melihat kamu pergi, aku merasa sangat berdosa. Aku hanya akan menolong kamu mencarikan tempat tinggal yang lebih baik. Aku sudah mendapatkannya. Sekarang juga kamu harus keluar dari tempat ini. Aku akan mengantarkan kamu.”

Meskipun belum sepenuhnya percaya kepada Samuel, tapi pertemuannya dengan wanita genit itu sebelum mandi tadi, membuatnya berpikir.

“Percayalah aku tidak akan melakukan apa-apa kecuali hanya akan menolong kamu. Setelah kamu sampai di pemondokan baru kamu, aku akan langsung pulang, dan tak akan pernah lagi mengganggu kamu.”

Hasti berkemas. Suasana di pemondokan itu sepi. Rupanya memang benar, semua sudah pada pergi. Samuel membantu membawa kopornya ke mobil yang diparkirnya di jalan, lalu mempersilakan Hasti masuk.

Ketika itu tiba-tiba Hasti melihat beberapa laki-laki masuk kehalaman. Dan sebelum Samuel menjalankan mobilnya, masih terdengar celoteh laki-laki itu.

“Benarkah dia cantik?”

“Sungguh dia cantik. Baru semalam dia datang. Kata Mami, dia memang sedang mencari pekerjaan. Itu makanan empuk bagi kita. Kita bisa menjualnya mahal.”

“Bagus sekali. Semoga dia tidak rewel ketika kita mengajaknya.”

“Dengan iming-iming uang , perempuan mana yang bisa menolak? Ayo cepat, biar aku bangunkan dia. Bos kita sudah menunggu,”

Lalu langkah-langkah menjauh terdengar, diiringi tawa mereka yang memuakkan.

“Mereka hampir membawa kamu,” kata Samuel sambil menjalankan mobilnya.

Hasti bergidik ngeri. Biarpun dia bukan gadis baik dan bergaul dengan bebas dengan kawan-kawannya, tapi ia bukan wanita penjual diri. Hal itu membuatnya bergidik ngeri.

Samuel sudah membawanya jauh, ketika kedua laki-laki itu menggedor kamar Hasti lalu membukanya paksa, dan menemukan kamar itu kosong. Maki dan sumpah serapah berhamburan dari mulut mereka.

Dari dalam mobil, Hasti menelpon pemilik rumah, dan minta maaf karena dia harus pindah tanpa berpamit, karena suatu hal. Pemilik rumah tak begitu peduli, karena Hasti sudah membayar sewanya selama sebulan.

***

Pagi hari itu, ketika RIna membuka pintu, dilihatnya Samuel tidur didepannya, beralaskan jacket yang digelarnya. Kemarahan yang semalam meledak-ledak, perlahan surut. Tapi tidak serta merta dia bersikap manis kepada suaminya.

Ia bahkan membiarkan Samuel masih tertidur walau dia sudah membuka pintunya lebar-lebar.

Rina melakukan tugasnya sehari-hari, berkutat di dapur, menyiapkan minuman hangat dan membuat sarapan dengan roti  bakar lapis coklat yang ditabur parutan keju. Ia sedang mengaduk coklat susunya, ketika tiba-tiba merasa seseorang memeluknya dari belakang.

“Aku mencium aroma roti coklat, jadi aku terbangun.”

Rina tidak menjawab, ia membawa coklat susu ke ruang makan, Samuel mengikutinya. Lalu ia duduk di salah satu kursi, dan meraih segelas coklat susu yang diletakkan istrinya.

“Ini untuk aku bukan?” katanya sambil tersenyum.

Rina masih cemberut. Tapi Samuel lega, karena sang istri tidak mengomel seperti semalam. Wajahnya masih terlihat masam, tapi kemarahan itu sudah mereda.

Rina mengambil roti bakar dari dapur, diletakkannya di meja.

Samuel meraihnya tanpa diminta.

“Jangan kamu kira, walaupun aku menyediakan ini semua untuk kamu, lalu aku sudah memaafkanmu,” katanya dengan mulut masih mengerucut.

“Permintaan maaf, biasanya tidak diberikan dengan tiba-tiba. Ada waktu untuk menerimanya dalam hati, lalu suatu saat baru terucap. Aku menyadari aku jahat, aku buruk dan busuk, tapi manusia kan tidak bisa luput dari dosa,” katanya sambil menggigit roti bakarnya.

“Jangan juga kamu kira dengan alasan manusia tidak luput dari dosa, lalu kamu dengan enteng melakukan dosa itu.”

“Aku sangat menyesal, aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi.”

“Jangan sembarangan mengucapkan sumpah.”

“Aku akan menepatinya. Aku hanya punya kamu, hanya kamu wanita yang aku cintai, aku sayangi, karena kamu adalah istri yang luar biasa baik.”

“Luar biasa baik karena memberi kamu kesempatan untuk menodai pernikahan kita, bukan?”

“Aku akan membasuh noda itu. Tolong dengarkan aku. Aku bersedia melakukan apa saja, asalkan kamu memaafkan aku.”

“Tidak semudah itu, aku harus yakin dengan kesungguhan kamu untuk menjaga rumah tangga ini dengan baik.”

“Baiklah. Aku akan bersabar menunggu. Semalaman aku tak tidur karena mengingat kamu akan menceraikan aku. Aku sungguh menyesal.”

“Apa? Tidak tidur? Ketika aku membuka pintu, kamu masih ngorok dan terlelap dengan nyenyak.”

“Hanya sebentar, hampir pagi aku tidur.”

Semalam, Samuel mengantarkan Hasti ke sebuah rumah dan membayar sewa kamar untuk Hasti selama setahun. Tapi bukan berarti Samuel berharap akan bisa mengunjunginya seperti sebelumnya. Samuel benar-benar mengasihani dan hanya ingin membantu. Lalu ia ingin melupakan semuanya. Setelah itu ia pulang ke rumah, mendapati rumahnya tetap terkunci, tapi ia tak ingin membangunkan istrinya. Ia yakin, kalaupun ia menggedor pintu sampai roboh, Rina tak akan membukakan pintu untuknya. Karenanya ia menggelar jacketnya dan tidur, asal bisa merebahkan tubuhnya.

“Ya sudah, bersiaplah ke kantor, kamu hampir terlambat.”

“Aku tidak akan ke kantor hari ini, aku akan mengajak kamu jalan-jalan dan bersenang-senang.”

Rina mencibir. Tak mudah memaafkan kesalahan yang dianggapnya begitu menyakitkan. Rina akan memberinya kesempatan Samuel untuk bertobat. Samuel merasa lega, karena cibiran itu sudah jauh dari amarah, walau belum sepenuhnya bisa memaafkannya.  Samuel berjanji akan menebus semua kesalahannya dengan tetap menyayangi istrinya dengan sepenuh hati.

***

Hari terus berjalan. Malam itu Nilam sudah selesai belajar, tapi dia tak bisa tidur. Sekarang Nilam sudah  SMA dengan prestasi yang bagus. Suri senang, dan merasa mendapat karunia dengan menemukan seorang anak yang baik dan pintar.

Suri sudah selesai menyiapkan dagangan untuk besok pagi, bermaksud pergi tidur, tapi ia tertegun di pintu melihat Nilam masih melamun di ruang tengah.

“Nilam.”

Nilam terkejut. Ia sedang teringat pada laki-laki yang dikiranya pengemis, dan sangat mirip ayahnya. Ia sangat menyesal tak sempat berkata-kata dan menanyakan namanya. Tapi wajah laki--laki itu terus menerus membayang di benaknya.

“Nilam sedang apa? Mengapa belum tidur juga? Ini sudah malam, lhoh.” tegur Suri sambil duduk di sampingnya.

“Iya Bu, kenapa ya, Nilam belum merasa ngantuk.”

“Apa kamu memikirkan sesuatu? Sekolah kamu lancar kan?”

“Lancar Bu. Tidak terasa, beberapa tahun lagi Nilam sudah lulus SMA."

“Kamu akan melanjutkan kuliah, nanti?”

“Tidak Bu, tidak usah. Kuliah itu kan mahal.”

“Nanti akan ibu usahakan mencari dananya. Kalau kamu tekun_”

“Tidak. Nilam ingin bekerja saja.”

“Lulusan SMA, bisa bekerja jadi apa?”

Nilam terdiam. Tiba-tiba dia teringat akan ayah tirinya. Dulu dia ingin membantu Wijan di kantor ayahnya, dan sang ayah mengatakan bahwa dia harus rajin belajar. Terbersit keinginan untuk bekerja di kantor itu. Bisakah? Ayahnya tidak ada, maukah pak Rangga menerimanya? Laki-laki tangan kanan ayahnya itu sangat baik dan ramah kepada dirinya.

“Nilam mau kok. Jadi tukang bersih-bersih juga mau. Yang penting bisa mendapatkan uang, dan tidak memberatkan ibu lagi,” kata Nilam bersemangat.

“Ke mana kamu akan mencari pekerjaan itu? Lulusan SMA jadi apa?"

“Entahlah, Nilam masih belum memikirkannya. Kan masih lama?"

“Yang penting kamu harus menekuni sekolah kamu ini dulu.”

“Oh iya Bu, tadi ada bu RT yang mau memesan nasi dengan lauk ayam panggang, sebanyak lima puluh kotak.”

“Iya, ibu sudah tahu, tadi ketika pulang sudah ketemu bu RT.”

“Sebenarnya kalau ibu berjualan di rumah saja, ibu tidak capek jalan ke mana-mana lhoh. Jualan di depan rumah situ, jadi sepulang sekolah Nilam bisa membantu.

“Iya, ibu pernah memikirkannya. Tampaknya memang lebih baik begitu. Mereka yang sudah mengenal ayam panggang buatan ibu, pasti akan datang kemari.”

“Tuh, kan. Mulai besok ya Bu?”

Suri mengacak rambut anak angkatnya.

“Kok terus besok. Ibu harus menyiapkan tempat untuk berjualan dulu. Mungkin bangku untuk menata dagangan, atau entahlah.”

“Tapi ibu mau kan?”

“Ibu sangat ingin melakukannya.”

“Nah, kalau jualan di rumah, jadi tidak capek.”

“Ya sudah, sekarang tidurlah, sudah malam lhoh.”

Nilam berdiri, lalu masuk ke dalam kamarnya. Malam sudah larut ketika Nilam akhirnya tertidur, lalu bermimpi ketemu pak tua yang dulu duduk di bawah pohon, dan sedang mengantuk. Lalu tiba-tiba pak tua itu berubah menjadi ayahnya.

Nilam tersenyum dalam tidurnya.

***

Pagi hari itu Wijan terbangun dari tidurnya. Termenung di tepi ranjangnya, memikirkan sesuatu yang mengusik perasaannya tak henti-hentinya.

Saat ini dia sudah bisa menyelesaikan sekolah SMA nya dengan percepatan belajar yang dijalaninya. Ia sedang mendaftar ke sebuah perguruan tinggi yang ada di kota itu. Beruntung ayahnya mengisi tabungannya dengan cukup, sehingga tak ada kesulitan baginya untuk membayar semua beaya yang diperlukan.

Pagi itu ia akan melihat pengumuman tentang diterima atau tidaknya dia di perguruan tinggi tersebut. Ia memilih jurusan ekonomi.

Tapi pagi itu ia merasa sangat malas. Mungkin badannya sedang kurang enak, atau mungkin karena teringat akan mimpinya.

Semalam ayahnya datang dan memeluknya erat. Tapi tiba-tiba ayahnya bertanya tentang sebuah sepatunya yang hilang. 

Wijan terbangun dengan sedih. Wijan menatap sepatu sebelah yang ditatanya di dekat sepatunya sendiri.

Ia merasa sendirian. Ia ingin berbincang, tapi dengan siapa? Ia ingat Nilam, pasti Nilam sudah melupakan dirinya. Lalu ia teringat bibik. Bibik yang sangat mengasihinya.

Wijan membuka ponselnya, dia lupa apakah nomor kontak bibik masih disimpannya. Wijan gembira karena menemukannya. Ia menginginkan seseorang untuk berbincang. Lalu ditekannya nomor kontak bibik.

Agak lama, tapi akhirnya diangkat juga.

“Ini siapa ya?”

“Bibik? Aku Wijan, Bik.”

“Mas Wijan? Ya Tuhanku, ini Mas Wijan?” bibik berteriak dengan gembira.

“Iya Bik, beruntung masih menyimpan nomor bibik.”

“Apa kabar Mas Wijan? Sekarang ada di mana?”

“Aku baik-baik saja Bik, sudah mau kuliah nih, doakan ya Bik.”

“Ya ampun Mas, bibik pernah bertemu seseorang, wajahnya persis dengan bapak.”

“Apa? Di mana?”

“Tapi dia namanya Bejo.”

Wijan tergetar mendengar cerita bibik.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Wednesday, January 3, 2024

BUNGA UNTUK IBUKU 32

 BUNGA UNTUK IBUKU  32

(Tien Kumalasari)

 

Bejo merasa kesal. Menurut simboknya, ia harus mengantarkan dompet beserta isinya itu kepada pemiliknya. Tapi ketika ia menemukan alamatnya, orangnya tidak ada. Bejo agak kepikiran tentang perkataan tukang sampah tadi. Pak Raharjo kecelakaan, sudah beberapa bulan tidak ketemu? Jangan-jangan … jangan-jangan …

Bejo beristirahat dibawah sebuah pohon. Ia teringat perkataan simboknya, bahwa ia menemukan dompet itu ketika menemukan dirinya hanyut dipinggir sungai?  

Apa berarti pak Raharjo kecelakaan di sungai itu, lalu dompetnya jatuh, kemudian ditemukan simboknya? Tapi mengapa, seorang kaya, sampai kecelakaan di sungai? Lagi-lagi Bejo merasa pusing. Ia menyandarkan kepalanya di batang pohon besar, dimana dirinya berlindung. Ia memejamkan matanya. Ia bahkan tak ingat kalau waktu itu dia sedang memancing, lalu hanyut, dan ditemukan simboknya di pinggir sungai. Apakah ada orang lain yang hanyut bersamanya? Dan orang itu adalah pak Raharjo?

Lagi-lagi kepala Bejo terasa semakin berdenyut. Semakin dia berpikir, semakin kepalanya terasa pusing. Pusing yang amat sangat. Satu-satunya jalan adalah mengendapkan pikirannya, melepaskan semua yang dipikirkannya. Tidur.

***

Hari itu adalah hari Minggu. Nilam bersikeras ikut ibu angkat, menjajakan ayam panggang berkeliling kota. Suri sudah melarangnya, tapi Nilam tidak mau mendengarnya. Gadis itu merasa bahwa ibu angkatnya bekerja sangat keras, bahkan demi dirinya, demi membiayai sekolahnya. Nilam anak yang baik, ia ingin ikut merasakan bagaimana susahnya mencari rupiah demi rupiah, demi mencukupi segala kebutuhan.

Siang hari itu, setelah dagangannya habis, Suri mengajak Nilam makan di sebuah warung. Merasa bosan setiap hari makan ayam, Suri kemudian membeli dua bungkus nasi untuk dimakan di rumah. Lalu mereka mencari angkot yang akan membawanya ke rumah sewa mereka.

Tiba-tiba Nilam melihat Bejo tidur bersandar pada sebatang pohon. Pakaiannya yang kumal, dan wajahnya yang kusam, membuatnya mengira bahwa laki-laki itu adalah pengemis.

“Bu, nasi Nilam akan Nilam berikan kepada pengemis itu, boleh kan?”

Suri menatap laki-laki yang tertidur nyenyak itu dengan perasaan iba. 

"Boleh saja, berikan punya ibu sekalian. Lauknya kering, pasti bisa dimakan sampai nanti sore,” kata Suri.

“Tambahkan juga minuman yang ibu bawa ini,” lanjut Suri sambil memberikan minuman botol.

Nilam mendekati Bejo, tapi tak ingin membangunkannya. Ia meletakkan keresek berisi dua bungkus nasi dipangkuannya, bersama sebotol minuman.

Terkesiap Nilam menatap laki-laki yang sedang tertidur itu. Ia menatapnya tak berkedip.

“Nilam, ayo cepat, kita harus segera sampai di pemberhentian angkot, jangan sampai harus menunggu angkot berikutnya.”

Nilam mengikuti ibu angkatnya yang sudah berjalan lebih dulu, tapi sesekali menoleh ke arah belakang.

“Kamu itu kenapa?”

“Laki-laki itu, sangat mirip bapak,” katanya sendu.

“Kamu itu ada-ada saja. Dia kan pengemis, masa bapakmu jadi pengemis.”

“Dia kan tidak mengemis Bu, hanya tampak seperti seorang papa yang sedang kelelahan di jalan,” tiba-tiba Nilam tak rela laki-laki yang ditemuinya disebut pengemis.

“Iya, tapi masa ayahmu berpenampilan seperti itu.”

“Wajahnya sangat mirip.”

“Di dunia ini, banyak orang yang wajahnya mirip. Lagipula kamu pasti sedang merindukan ayah kamu, jadi melihat laki-laki tadi jadi seperti mirip ayah kamu.”

“Bapak seorang yang baik, dan sangat sayang pada Nilam," katanya lirih, sambil berlinang air mata.

“Berdoalah agar ayahmu segera diketemukan.”

“Benarkah bapak belum diketemukan? Aku ingin sekali lewat di depan rumah bapak, siapa tahu bapak sudah pulang.”

“Nilam, beberapa hari yang lalu ibu lewat di depan rumah itu, gerbangnya digembok. Satpam yang biasanya berjaga juga tidak kelihatan. Kata orang yang kebetulan ibu tanya, pak Raharjo belum diketemukan, dan beberapa hari yang lalu, bu Raharjo ditangkap polisi bersama selingkuhannya, siapa lagi kalau bukan Baskoro. Syukurin.” lalu Suri menutup mulutnya, ketika sadar bahwa bu Raharjo adalah ibu Nilam.

“Maaf, Nilam.”

Bagaimanapun ada rasa sakit di hati Nilam. Dia mengira, Rusmi adalah ibu kandungnya, karena ketika dipungut, dia masih bayi.

Nilam menggelengkan kepalanya, ada sedih yang menusuk dadanya. Suri yang mengerti bagaimana perasaan Nilam, kemudian merangkulnya.

“Dunia terus berputar, demikian juga perjalanan hidup manusia. Kamu harus mulai mengerti, ada saatnya menanam, ada saatnya mengunduh,” katanya lembut.

Nilam menyandarkan kepalanya dibahu ibu angkatnya.

Pembicaraan itu berhenti, karena angkot yang ditunggu sudah berhenti. Keduanya segera naik menuju pulang.

***

Rina kesal melihat tingkah suaminya akhir-akhir ini. Alasan lembur tak henti-hentinya, setiap kali pulang larut malam. Hal itu terjadi sejak Hasti pergi dari rumahnya. Rasa curiga di hati Rina, membuatnya kemudian memata-matai sang suami di dekat kantornya, untuk melihat apakah benar suaminya lembur, atau pergi ke tempat lain sepulang kerja.

Rina masih berada di dalam taksi yang dicarternya, ia mengawasi setiap karyawan yang keluar dari area kantor. Dan tiba-tiba dia melihat mobil suaminya keluar. Ia segera memerintahkan si tukang taksi agar mengikutinya.

Rina kemudian menelpon suaminya.

“Ya, Rin, ada apa?”

“Mas masih di kantor?”

“Iya, masih.”

Tuh kan, bohong dia. Kata batin Rina.

“Nanti Mas pulang jam berapa?” berusaha tegar, Rina melanjutkan pertanyaan untuk memancing kebohongan berikutnya.

“Belum tahu Rin, perusahaan sedang banyak pekerjaan nih, jadi berhari-hari aku harus lembur. Kalau kamu lapar, makan saja dulu, biasanya kalau lembur disediakan makan dari kantor kok.”

Rina menahan air matanya. Bagaimanapun, kebohongan  itu menyakitkan.

“Kamu sabar ya Rin, semua ini mas lakukan demi kamu juga. Kalau aku tidak ikut dalam kesibukan kantor yang sedang seperti ini, bisa-bisa aku dianggap tidak loyal, dan itu mempengaruhi kredibilitasku di kantor.”

“Ya sudah Mas, aku hanya ingin tahu saja.”

Rina menutup ponselnya, masih berusaha tegar, agar pengemudi taksi tidak mendengar isaknya. Malu kan?

***

Mobil Samuel berhenti disebuah rumah mungil, agak di pinggiran kota, lalu masuk ke halaman. Rina minta agar taksinya berhenti, agak jauh dari pagar masuk ke halaman rumah itu.

Ia berjalan keluar dari dalam taksi, dan berjalan perlahan mendekati pagar.

Darahnya kemudian terasa mendidih ketika melihat seseorang keluar dari pintu rumah, menyambut suaminya dengan sebuah pelukan hangat.

“Kurangajar!! Hasti? Benar-benar perempuan murahan!”

Keduanya masuk ke dalam rumah sambil terus berpelukan. Rina menekan didih darahnya, berjalan memasuki halaman, dan tanpa permisi langsung masuk ke dalam rumah.

“O, disini rupanya lemburnya?” teriak Rina penuh amarah.

Hasti dan Samuel terkejut. Melepaskan tangan mereka yang masih saling peluk, bahkan bertambah erat karena berada di dalam rumah. Sebelum pelukan itu berlanjut ke adegan yang lain, Rina sudah menghentikannya.

“Rina?” Samuel terhenyak.

“Perempuan jahanam itu membuatmu lembur setiap hari? Lembur apa yang kalian lakukan di sini? Aku akan membunuhmu!”

Rina tiba-tiba menubruk Hasti dan menjambak rambutnya, membuat Hasti berteriak kesakitan. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba tangan Rina sudah memegang sebilah pisau.

“Rina, hentikan!” teriak Samuel.

“Kamu ingin membelanya? Aku akan membunuh jahanam ini dengan tanganku.”

Rina memiliki tubuh lebih besar dan sangat kuat. Dengan rambut masih digenggam ditangan Rina, Hasti tak mampu melawannya, kecuali kedua kakinya menyepak-nyepak. Rina terus menjambaknya, lalu tangan satunya mengarahkan belati itu pada wajahnya.

“Rina ! Hentikan. Baiklah, aku minta maaf. Lepaskan dia.!” teriak Samuel yang ketakutan melihat belati di depan wajah Hasti.

“Maaf? Begitu gampang meminta maaf setelah apa yang kamu lakukan? Baiklah, sekarang juga usir perempuan tempat kamu lembur setiap malam ini. Usir dari rumah ini, sebelum aku membunuhnya.

“Baiklah, tolong lepaskan aku, aku mau pergi sekarang juga. Tolong Rina, aku minta maaf. Lepaskan aku, biarkan aku pergi.”

Rina mendorong tubuh Hasti sehingga hampir jatuh tertelungkup. Samuel ingin menangkapnya, tapi Rina menghalanginya.

“Cepat kemasi barang-barang kamu, dan pergi.”

Tak ada yang bisa dilakukan Hasti kecuali masuk ke dalam kamar dan mengemasi semua barangnya. Baju-baju yang dibelikan Samuel, dan semuanya, dimasukkan ke dalam kopor. Rupanya Samuel juga membelikannya sebuah kopor. Tapi ketika Hasti ingin mengambil ponselnya, Rina merebutnya kasar.

“Untuk apa ponsel ini? Menghubungi lagi suami aku, dan mengencaninya di tempat lain?”

Rina membanting ponsel itu sehingga hancur berkeping-keping.

Hasti keluar dari kamar sambil menarik kopornya, lalu melangkah keluar rumah dengan air mata bercucuran.

Samuel menatapnya tanpa berani melakukan apa-apa.

“Laki-laki busuk. Besok aku laporkan kelakuan kamu ke kantor, lalu kita urus perceraian kita,” kata Rina tandas.

“Rina, jangan begitu. Aku hanya khilaf, aku minta maaf.”

“Tidak ada maaf untuk laki-laki pecundang seperti kamu.”

Samuel terduduk lemas, sesal yang menyakitkan.

***

Bejo terbangun ketika remang terasa di sekelilingnya. Ia bangkit, tapi terkejut melihat sesuatu di pangkuannya. Ada bungkusan yang ketika dibukanya berisi nasi beserta lauknya. Dan sebotol minuman. Siapa memberinya? Bejo menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada siapapun. Tiba-tiba Bejo teringat sebuah mimpi ketika dia terlelap. Ada seorang gadis cantik menarik-narik tangannya, dan memanggilnya bapak. Ahaa… aku menjadi bapak? Bejo teringat perkataan simbok sebelum meninggal, yang berharap dia segera mencari istri. Tapi dia bermimpi tentang seorang anak, gadis yang cantik dan menawan.  Bejo mengusap wajahnya, lalu rasa lapar mengganggunya. Sambil mengucapkan terima kasih entah kepada siapa, dia melahap nasi berlauk lele goreng itu.

Hari semakin gelap ketika Bejo kemudian bangkit. Ia harus kembali ke desanya, tapi kemudian dia teringat sebuah rumah bagus milik Raharjo. Ia merasa aneh ketika tanpa sadar kakinya melangkah kembali ke sana. Ia sudah berjalan jauh, tapi dia merasa tidak berbelok ke mana-mana ketika meninggalkan rumah itu. Jadi dengan gampang ia menemukanya kembali. Hari sudah gelap ketika itu. Ada lampu di teras rumah, Bejo menatapnya tak berkedip. Ia melihat seorang gadis dan seorang anak muda sedang bercanda di sana. Gadis itu adalah gadis seperti yang hadir dalam mimpinya. Berarti rumah itu sudah ada penghuninya. Bejo berdiri di depan gerbang, tapi gerbang itu masih digembok. Ia menatap lagi ke arah teras rumah, tapi bayangan gadis dan anak muda itu lenyap begitu saja. Bejo mengerjap-ngerjapkan matanya. Benar-benar hanya rumah yang senyap. Canda itu tak lagi tampak, hanya kesunyian yang mencekam. Bejo merasa dirinya sakit. Sakit jiwa. Lalu kepalanya kembali pusing. Ia duduk mengelesot di depan gerbang, menyandarkan kepalanya di sana. Banyak hal yang membuatnya bingung. Tapi setiap kali pikirannya meraba-raba, mengingat apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya menjadi berdenyut pusing. Hanya satu yang bisa menghilangkan rasa pusing itu, tidur.

***

Hasti berjalan tak tentu arah sambil menarik kopor. Air matanya mengalir, menyesali kelemahannya sehingga membuatnya lebih menderita. Ketika bertemu Samuel, awalnya dia masih mengingat bahwa Samuel adalah suami sahabatnya. Tapi rayuan Samuel, iming-iming uang dan pertolongan saat dia tak memiliki tempat untuk berteduh, membuatnya terlena. Lalu apa yang didapatnya? Ia kembali terlunta-lunta. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantunya? Ia memiliki sedikit uang, tapi bisakah dia terus bertahan. Ia ingin menjual ponselnya, tapi Rina menghancurkan ponsel itu menjadi kepingan-kepingan tak berguna.

Hasti merasa kesal, tapi dia juga menyesal. Bersama Samuel dia hanya mendapat beberapa potong baju, uang  dan penginapan untuk beberapa hari. Bagaimana kelanjutan hidupnya? Ia merasa didalam perutnya ada mahluk yang harus dilindungi dan dilahirkannya. Ia tak ingin membuangnya seperti saran ibunya. Ibu angkatnya yang ternyata jahat.

Malam itu dia bermalam di sebuah stasiun kereta, pura-pura menjadi penumpang yang sedang menunggu, sehingga dia bisa tidur dengan lebih tenang.

Pagi harinya, dia keluar dari stasiun itu, untuk mencari rumah sewa yang sederhana.

“Aku harus mencari pekerjaan, entah pekerjaan apa, asalkan bisa menyambung hidupku.”

Hasti keluar dari kamar yang disewanya, hanya sebuah kamar, yang kamar mandinya hanya satu, untuk lima orang penyewa. Ia sedang mengantre untuk mandi, ketika seseorang menyapanya.

“Orang baru ya?”

Hasti menatapnya, ia seorang perempuan cantik dengan dandanan menyolok, berbicara dengan aksen yang bukan seperti orang jawa, dan bersikap genit.

“Iya, Mbak.”

“Kerja di mana?”

“Baru mau mencari Mbak.”

“Mau kerja apa?”

“Apa saja, asalkan bisa untuk menyambung hidup.”

”Aku bisa membantu kamu.”

“Benarkah?

“Benar. Kamu cantik, pasti gampang mendapatkan pelanggan.”

Hasti terkejut mendengar kata ‘pelanggan’.

“Pelanggan apa ya?"

“Pekerjaan ringan, tapi banyak suka. Laki-laki suka wajah cantik dan seksi seperti kamu. Kalau mau, nanti malam ikut aku. Kamu akan dengan mudah mendapatkan uang. Mau?”

Hasti bukan orang bodoh. Ia pasti tahu apa yang dimaksud wanita genit itu. Tapi Hasti tidak tertarik. Apa yang pernah dialaminya adalah sebuah pengalaman buruk yang menyakitkan. Ia akan bertobat.

“Bagaimana? Kamu akan cepat kaya lhoh.”

“Maaf, Mbak, saya tidak tertarik.”

Wanita itu tampak tersinggung, tapi ketika ingin mengucapkan sesuatu, wanita itu sudah mendapat giliran memasuki kamar mandi. Hasti merasa lega. Ia kembali masuk ke kamarnya, tak berharap ketemu wanita itu lagi.

Tapi pada malam harinya, ia mendengar kamarnya diketuk orang. Hasti tak ingin membukanya, tapi ketukan itu terus berlanjut. Hasti terpaksa membuka sedikit pintu kamarnya, tapi ia terkejut melihat siapa yang datang.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Tuesday, January 2, 2024

BUNGA UNTUK IBUKU 31

 BUNGA UNTUK IBUKU  31

(Tien Kumalasari)

 

 

Simbok mengibaskan tangannya ke arah Bejo, ketika melihat bahwa Bejo terus menatap dompet itu, seperti orang bingung.

"Jo, memang simbok tidak bilang sama kamu tentang dompet itu. Simbok khawatir, kamu tertarik mengambilnya, karena ada uangnya yang cukup banyak. Pasti yang punya orang kaya. Hanya saja, simbok tidak berani memakainya, karena itu bukan milik kita. Jadi pesan simbok, kamu jangan sekali-sekali punya keinginan untuk mengambil barang-barang itu. Itu bukan milik kita. Kalau kamu bisa, antarkan saja kepada pemiliknya. Mengerti Jo?” kata simbok wanti-wanti, dengan suara lemah.

Bejo mengangguk. Lalu menyimpan kembali dompet itu ke dalam kaleng, tapi uang simpanan simbok ditaruhnya diatas bangku yang terletak di samping tempat simbok berbaring.

“Simpan saja uang simbok itu, mengapa kamu taruh di situ?”

“Aku akan membawa simbok berobat. Uang itu akan Bejo gunakan untuk membeli obat.”

“Emoh Jo, simbok nggak mau. Simbok ini sudah tua, diobati juga tidak ada gunanya. Simbok hanya berpesan untuk kamu Jo, biarpun kamu orang tidak punya, jangan sampai melakukan hal buruk dan tidak terpuji. Cari pekerjaan kalau kamu tidak mau berjualan sayur dari kebun simbok, dan cari istri supaya kamu tidak sendirian. Tidak semua perempuan hanya mau pada orang yang punya uang. Ada yang memilih pemuda baik-baik, yang jujur, yang setia, yang sayang sama istri. Kamu itu kan sebenarnya ganteng Jo, coba simbok lihat. Ah, mata simbok ini kan sudah kabur Jo, tapi sejak masih awas dulu, simbok tahu kalau kamu itu ganteng seperti almarhum bapakmu,” kata simbok panjang lebar.

Bejo tak menjawab, dia yakin simboknya butuh obat, tapi harus dibawanya ke rumah sakit. Bejo tidak tahu di mana rumah sakitnya, pokoknya simbok harus dibawanya berobat. Apalagi ketika ia memegang dahinya simbok, terasa sangat panas. Ia mendekati simbok dan berbisik di telinganya.

“Mbok, ayo Bejo antar simbok berobat,” katanya sambil meraih uang yang tadi ditaruhnya di bangku, dimasukkannya ke dalam saku.

“Nggak mau Le, biar saja. Kalaupun simbok  meninggal, biarlah di rumah saja.”

“Simbok tidak akan meninggal, ayo, biar Bejo gendong.”

Dan tanpa menunggu jawaban simbok, Bejo langsung menggendong simboknya, dibawanya keluar dari rumah, menuju ke jalan raya. Meskipun dari rumah ke jalan itu cukup jauh, tapi Bejo tetap menggendong simboknya. Di jalan, Bejo tidak tahu, di mana letak rumah sakitnya. Ketika ada orang lewat, Bejo bertanya dimana rumah sakit terdekat.

“Oh, agak jauh dari sini Mas, tapi nanti ada angkutan lewat sini, sampeyan naik saja, dan minta turun di rumah sakit, begitu.”

“Terima kasih Pak.”

Bejo masih menggendong simboknya, yang untunglah segera ada angkot lewat. Seperti dikatakan oleh orang tadi, Bejo bilang minta diturunkan di rumah sakit.

***

Bejo turun dari angkot, dan melihat bahwa di depannya memang ada sebuah rumah sakit. Bejo melangkah masuk, tanpa ragu. Berbekal uang tabungan simbok di sakunya, ia ingin agar simboknya sembuh.

Bejo duduk di bangku tunggu ketika simbok dibawa ke ruang pemeriksaan. Simbok tak bicara apapun saat Bejo menggendongnya. Barangkali juga simbok pingsan, entahlah. Bejo gelisah menunggu, dan berdoa semoga simboknya mendapat pertolongan dan sembuh.

***

Rusmi dan Baskoro sudah kembali ke rumah, dengan membawa sejumlah uang. Mereka bergandengan tangan dengan mesra ketika memasuki rumah, dan melupakan semua kekecewaannya, karena membawa sejumlah uang yang diharapkan bisa dipergunakan untuk modal berdagang.

“Kalau perlu, perabot di rumah yang tidak diperlukan dijual saja semuanya, biarlah rumah ini kosong tak berperabot.”

“Aku sependapat denganmu. Kita kosongkan rumah ini, dengan menjual semua perabot. Hanya itu yang bisa kita jual. Lalu kita mencari rumah yang lebih kecil. Untuk sementara ngontrak dulu juga tidak apa-apa. Daripada kita tinggal di rumah bagus tapi tidak punya modal cukup untuk berdagang.”

“Aku akan segera mencari pembeli. Barang bagus pasti banyak yang berminat,” kata Baskoro sambil membuka pintu rumah.

Tapi sebelum pintu itu terbuka, dua orang berseragam polisi tiba-tiba sudah ada di depan teras.

“Selamat siang,” kata salah satu diantaranya.

Baskoro dan Rusmi membalikkan tubuhnya.

“Bapak mencari siapa ya?”

“Apakah ini rumah ibu Rusmini?”

“Ya, rumah saya.”

“Dan Bapak ini adalah Bapak Baskoro?”

“Be … benar,” Baskoro mulai gemetar. Apalagi Rusmi.

“Kami mendapat perintah untuk menangkap penghuni rumah ini, yang bernama Ibu Rusmini, dan Bapak Baskoro.”

Degg.

Jantung keduanya serasa melompat keluar.

“Aaap..pa, salah saya?”

“Ini surat penangkapannya. Tuduhannya adalah percobaan pembunuhan."

“Ti.. tidak … tidak … saya tidak …” kata Rusmi dan Baskoro bersahutan.

"Bapak dan ibu bisa memberikan keterangan di kantor. Sekarang harus ikut kami.”

Lalu kedua polisi itu memborgol tangan keduanya, yang berteriak-teriak memelas. Tapi kedua polisi itu tak peduli. Diluar, sebuah mobil mengangkut tahanan telah bersiap menunggu.

***

Bejo masih berkomat-kamit membaca doa, ketika tiba-tiba seorang wanita setengah tua lewat, kemudian menatapnya tak berkedip. Ia bahkan masih menoleh ketika sudah berjalan menjauh. Bejo merasa risih. Apakah ada yang aneh pada dirinya, sehingga ada yang menatapnya seperti itu? Memang sih, Bejo hanya memakai celana kombor sebatas lutut, dan baju kaos dekil. Apakah itu memalukan? Bejo kemudian mengacuhkannya, dan kemudian menatap ke arah pintu ruang UGD yang  masih tertutup. Tapi tiba-tiba, wanita yang tadi melewatinya dan terus menerus menatapnya, lalu kembali dan mendekatinya.

“Ini … ini  … pak Raharjo bukan?” tanya wanita itu.

“Apa? Saya Bejo.”

“Kok Bejo sih, ini pak Raharjo kan? Ini saya bibik Pak, bibik pembantu bapak.”

Bejo kebingungan. Ia punya pembantu? Wanita didepannya pasti bermimpi.

“Bibik?”

“Iya, saya bibik Pak. Kok Bapak ada di sini? Kok Bapak berpakaian seperti ini?”

“Bibik salah orang, saya ini Bejo, anaknya mbok Supi. Saya sedang mengantar simbok saya berobat, tuh, masih di dalam.”
Lalu wanita itu melongo. Dia memang bibik, bekas pembantu keluarga Raharjo. Dia sedang membezoek saudaranya yang dirawat di rumah sakit itu, dan heran melihat orang yang mirip majikannya. Tapi karena ternyata dia bernama Bejo, anaknya mbok Supi, kemudian bibik pun berlalu, walau merasa heran karena si Bejo sangat mirip dengan majikannya. Lagipula bagaimana mungkin pak Raharjo berpakaian seperti itu?

Bejo tak lagi memikirkan wanita yang salah alamat itu. Ia sedang gelisah menunggu simboknya yang masih ada di dalam sana. Tak sabar menunggu, ketika ada seorang perawat keluar dari ruangan itu, Bejo memburunya.

“MBak, bagaimana simbok?”

“Maksudnya, mbok Supini?”

“Iya.”

“Saya justru keluar sedang mencari keluarganya, Bapak keluarganya?”

“Iya, saya anaknya.”

“Pak, ketika di bawa kemari, bu Supini sudah parah. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain,” kata perawat itu, prihatin.

“Apa? Simbok meninggal?” Bejo berteriak, kemudian menghambur ke dalam, merangkul simboknya dan menangis sesenggukan.

“Kenapa simbok pergi? Kenapa simbok meninggalkan Bejo sendirian? Bangun Mbok, Bejo akan bersama siapa kalau Simbok meninggalkan Bejo? Bejo bingung Mbok, Bejo sendirian,  Simbok tega. Ternyata apa yang simbok katakan tadi adalah pesan terakhir simbok.”

Rasa haru menyelimuti seluruh ruang, karena mereka melihat laki-laki itu menggendong simboknya yang sakit, lalu kehilangan harapan untuk melihat simboknya sembuh. Apa boleh buat. Manusia berusaha, tapi Allah Yang Maha Kuasa penentunya.

***

Pemakaman mbok Supini dilakukan bersama tetangga terdekat, yang sebenarnya mereka heran karena laki-laki itu mengaku anak Supini bernama Bejo. Padahal Bejo sudah dikuburkan beberapa bulan yang lalu. Tapi karena Bejo tetap mengaku Bejo, mereka kemudian menganggap bahwa Supini memiliki anak yang lain.

Bejo kembali ke rumah simbok yang tiba-tiba terasa lengang mencekam. Biarpun dia anaknya simbok, tapi dirinya masih merasa asing  di rumah itu. Kemarin masih ada simbok yang menemaninya, memintanya mencari sayur untuk dijual, atau mengomelinya saat dia pergi terlalu lama karena takut kehilangan, dan sampai akhir hayatnya simbok masih saja membisikkan kata-kata bijak dalam kehidupan. Benar-benar perempuan dusun yang berhati bersih.

Pagi hari itu Bejo bersih-bersih rumah  simbok, juga halaman disekitarnya. Dia menemukan celana panjang yang sobek di sana sini, dan baju yang tak karuan bentuknya. Rupanya saat dia memancing dan hanyut, dia memakai pakaian itu. Bejo meraihnya, karena baju dan celana itu masih tersampir di sebuah ranting pohon, kemudian membuangnya di tempat sampah. Tapi ketika melihat sepatu sebelah yang ada di sudut rumah, Bejo merasa sayang untuk membuangnya.

“Padahal sepatu hanya sebelah, untuk apa aku menyimpannya?" 

Ketika tangannya sudah meraih sepatu itu dan ingin membuangnya, ia seperti mendengar suara memanggil dari dalam rumah.

“Jo!”

Bejo meletakkan sepatu itu kembali, lalu masuk ke dalam rumah. Tak ada siapa-siapa di sana. Bejo masuk ke kamar simbok, kosong, tentu saja. Bukankah simbok sudah pergi tiga hari yang lalu?

Tiba-tiba Bejo melihat kaleng usang yang berada di kolong. Bejo meraihnya, lalu membukanya. Ia kembali melihat dompet itu, dan membuka-buka isinya. Ia ingat pesan simbok, jangan sekali-sekali mengambil uang itu, karena itu bukan milik kita. Kalau bisa, antarkan kepada pemiliknya.

Bejo mengelus dompet itu, apakah ada petunjuk tentang dompet itu milik siapa? Bejo membukanya lagi, lalu melihat ada kartu-kartu yang entah kartu apa. Tapi tiba-tiba Bejo tahu, itu adalah kartu bank.  Bejo heran, bagaimana dia bisa tahu bahwa itu adalah kartu bank, sebangsa ATM, begitu, padahal dia selamanya kan orang desa miskin anaknya mbok Supi? Entahlah. Kepala Bejo tiba-tiba terasa sangat pusing. Ia bersandar pada dinding bambu kamar simbok, memijit-mijit kepalanya.

Lalu tiba-tiba ia menemukan sebuah kartu berwarna biru, ada fotonya, tapi foto itu telah pudar, tak jelas foto siapa. Ada namanya. Sambil memincingkan mata Bejo mencoba mengeja kata demi kata yang tertulis. Ia tidak tahu, dulu simbok menyekolahkannya sampai kelas berapa, tapi nyatanya dia bisa membaca,

“Raharjo. Haaa … Raharjo itu kan sebuah nama yang disebutkan wanita itu … yang ketemu waktu aku mengantar simbok ke rumah sakit? Siapa dia, dan bagaimana aku mencari wanita itu. Namanya saja aku tidak tahu, lalu kenapa dia di sana, aku juga tidak menanyakannya. Tapi malah aku yang dikira Raharjo. Mungkin ini yang dimaksud? Kelihatannya pemilik dompet ini orang kaya, dan wanita itu pembantu dari pak Raharjo. Pastilah orang yang punya pembantu itu kaya. Apakah ada hubungannya? Dan kalau ada, bagaimana aku menghubungkannya?”

Bejo terus bergumam. Dan kepalanya semakin berdenyut sakit. Akhirnya dia tertidur di ranjang simbok.

***

Bejo terbangun ketika gelap menyelimuti gubug simbok. Rupanya hari mulai malam. Bejo berdiri, lalu keluar dari kamar dengan meraba-raba.

Rasa pusing sudah banyak berkurang, tapi perutnya melilit karena seharian belum terisi. Ia ingat tadi merebus jagung, yang diambilnya dari kebun. Tangannya meraba-raba dan menemukan korek api diatas meja. Ia menyalakannya dan mencari lampu minyak di sudut ruangan.

Kelap-kelip lampu itu membuat ruangan menjadi lebih terang. Walaupun samar, Bejo masih bisa melihat jagung rebus itu di atas meja. Bejo meraihnya, lalu memakan dua buah sampai habis.

Malam itu Bejo  tidur dengan perasaan yang tidak menentu. Tentang nama Raharjo di kartu itu, tentang wanita yang  mengaku bibik pembantu Raharjo, semuanya terasa gelap.

Pagi harinya, ia kembali membuka dompet itu. Bukan karena uangnya, tapi karena kartu bertuliskan nama Raharjo itu. Bukankah itu Kartu Penduduk?

Bejo sendiri tak tahu, apakah dia punya kartu penduduk atau tidak. KTP nya simbok juga tidak diketemukannya, entah di mana.

Bejo bersimpuh di lantai tanah, kembali memegangi dompet itu dan membaca kembali kartu biru kusam itu.

“Pasti ada alamatnya,” gumam Bejo.

Bejo kembali mengeja hurup demi hurup, dan menemukan alamat di sana.

"Aduh, bukan di sini tempatnya. Solo kota yang jauh dari sini."

Bejo teringat pesan simbok tentang kepemilikan dompet itu, dan tiba-tiba tergugah hatinya untuk mencari alamat yang tertera. Biarpun hurupnya terputus-putus, tapi pasti akan ada kejelasannya, Bejo bisa bertanya-tanya. Lalu hari itu dia bertekad mencari alamat yang kurang jelas tersebut, dari kota yang bisa terbaca.

***

Kegigihan Bejo untuk bertanya-tanya, akhirnya menemukan alamat tersebut. Sebuah rumah besar yang sangat bagus, dan membuat Bejo takjub.

“Tuh kan, ini rumah orang kaya. Rumahnya saja bagusnya bukan main. Tapi kok gerbangnya digembok? Pergi kemana pemiliknya ya?

Bejo sedang menoleh ke sana-kemari lalu melihat seorang tukang sampah sedang mendorong gerobagnya.

“Pak, mohon tanya Pak, ini rumah pak Raharjo ya?”

Tukang sampah itu menatap Bejo sangat lama.

“Kok laki-laki kumuh ini mirip pak Raharjo ya?” kata batinnya. Tentu dia mengenal pak Raharjo, karena setiap hari membersihkan sampah di sekitar perumahan itu.

“Pak, Bapak tahu tidak, ini rumah siapa?” tanya Bejo lagi, yang merasa risih karena tukang sampah itu terus menatapnya.

“Ini rumah pak Raharjo, tapi sudah berbulan bulan pak Raharjo mengalami kecelakaan. Entah meninggal atau tidak, belum ada kabarnya.”

“Apa rumah ini kosong?”

“Kosong, tiga hari yang lalu istrinya ditangkap polisi, bersama selingkuhannya,” kata pak tukang sampah yang tampaknya tak suka pada istri Raharjo.

“Oh, gitu ya, ada anaknya?”

“Anaknya pada kabur entah kemana. Saya tidak begitu paham, hanya dengar-dengar saja,” kata tukang sampah sambil berlalu.

Bejo mengeluh dalam hati. Sia-sia dia jauh-jauh datang ke rumah itu. Lalu Bejo pun pergi, mencari kendaraan untuk pulang kembali ke rumah simbok.

***

Besok lagi ya. 

Monday, January 1, 2024

BUNGA UNTUK IBUKU 30

 BUNGA UNTUK IBUKU  30

(Tien Kumalasari)

 

Pak Rangga menatap Barno dengan tatapan tajam. Tak percaya Barno mengatakan hal yang sama sekali tak diduganya. Barno yang baik, yang setia mengabdi kepada pekerjaannya, tega melakukan hal sekejam itu?

“Maafkan saya,” lalu Barno menangis terisak.

“Mengapa kamu melakukannya?

Barno terguguk.

“Saya begitu jahat. Busuk. Pantas mendapat hukuman lebih dari ini.”

“Mengapa kamu melakukannya? Bukankah pak Raharjo sangat baik kepada kamu?”

“Setan-setan itu, membujuk saya, dengan iming-iming uang.”

“Setan-setan itu? Setan yang mana?”

“Bu Raharjo dan pak Baskoro,” lalu Barno menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Pak Rangga terhenyak di tempatnya, juga salah seorang staf yang ikut bersamanya, dan berdiri di samping ranjang.

“Jadi mereka yang menyuruh kamu?”

“Bagaimana kabar pak Raharjo? Bisa diketemukan? Saya sangat menyesal. Sesal itu datang ketika saya berada di rumah sakit. Mereka datang dan memberikan uang tambahan, tapi saya menolaknya. Bahkan uang yang diberikan pertama kali sebelum saya melakukannya, masih saya simpan, dan nanti akan saya kembalikan. Saya terus menerus dihantui perasaan bersalah, saya ingin melupakannya tapi tidak bisa.”

Barno mengucapkannya dengan sebentar sebentar berhenti sambil mengusap air mata yang bercucuran.

“Saya tidak ingin membawa rahasia ini dalam kematian saya. Saya tidak takut mereka mengancam saya kalau saya membuka rahasia ini, dan saya sekarang berani mengatakannya.”

“Kamu diancam juga?”

“Kalau saya mengatakannya, maka mereka akan menghabisi keluarga saya.”

Pak Rangga menatap Barno dengan iba. Ia melihat penyesalan yang mendalam pada matanya.

“Jadi mereka menyuruh kamu menceburkan mobil ke jurang ketika sedang mengantarkan pak Raharjo, dan kamu menyelamatkan diri dengan meloncat ketika mobil itu terjun ke jurang?”

“Mereka mengajari saya berbuat itu, agar hanya pak Raharjo yang celaka. Saya menyesal, sungguh saya menyesal.”

“Baiklah, aku mengerti. Hal ini akan saya laporkan kepada polisi, kamu harus mau bersaksi ya, supaya hukuman kamu diperingan.”

“Saya akan melakukan apa saja. Kalau saya bebas dan Allah memperpanjang umur saya, saya akan mencari pak Raharjo sampai ketemu, walau hal itu  tidak memungkinkan juga, pasti akan tetap saya jalani.”

Barno masih menangis ketika pak Rangga meninggalkannya.

Ia membawa bungkusan yang dibawa istri Barno, yang berisi uang, yang akan dijadikan salah satu bukti kejahatan Rusmi dan Baskoro di hadapan yang berwajib.

Ia juga meminta agar Barno diberi tempat yang lebih layak di rumah sakit itu, dan mendapat perawatan lebih maksimal, walau masih diperlakukan seperti seorang pesakitan. Pak Rangga membayar semuanya.

***

Hasti menumpang di rumah salah satu temannya, Rina. Agak kurang nyaman juga karena Rina menerimanya seperti hanya setengah hati. Maklum, Rina sudah bersuami, dan ketika Hasti datang, sang suami tampak terus menatap Hasti dengan pandangan aneh.Ia bahkan sering memergoki sang suami mencuri pandang kearah Hasti. Itu sebabnya Rina kemudian menemui Hasti pada malam itu, ketika sang suami sedang keluar. Samuel, sang suami, sedang memenuhi undangan syukuran temannya yang bertunangan, tapi dia enggan untuk ikut bersamanya, dengan alasan harus menemani Hasti.

“Hasti, sebelumnya aku minta maaf. Bukan karena aku tak mau menolong kamu. Tapi … rasanya … aku,” Rina ragu-ragu mengatakannya.

“Kamu keberatan? Bagaimana kalau aku membayarnya? Tapi aku hanya punya sedikit uang yang diberikan ibuku. Tadinya aku bermaksud menggugurkan kandunganku, atas saran ibuku juga, tapi aku tidak tega melakukannya.”

“Tidak. Bukan karena uang. Kamu kan tahu, bahwa aku bersuami, jadi aku ingin menjaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.”

“Maksudmu … aku akan menggoda suami kamu?”

”Suamiku yang tergoda,” kata Rina, berterus terang. Ia adalah teman Hasti yang tadinya bersahabat dengannya.

“Rina, biarpun aku dulu mempunyai banyak pacar, aku bukan sejahat itu untuk menggoda suami kamu. Kamu kan sahabatku.”

Tapi Rina tidak percaya begitu saja. Hasti sangat cantik, kehamilan yang masih sangat muda, tidak mengurangi keindahan tubuhnya yang menawan. Suaminya seorang laki-laki normal, yang tampaknya selalu menatap Hasti dengan pandangan aneh. Itu membuat Rina curiga.

“Suamiku yang tergoda,” Rina mengulangi perkataannya.

Hasti menarik napas panjang. Tampaknya dia tak harus bertahan.

“Sekali lagi aku minta maaf. Menurut aku, kamu bisa menyewa sebuah kamar yang bisa kamu tinggali untuk sementara, selama ibu kamu masih marah. Pasti suatu saat kemarahan itu akan mereda, dan kamu akan diterimanya kembali. Masa sih seorang ibu akan begitu tega membiarkan anaknya sengsara?”

“Aku bukan anaknya,” katanya sedih.

Tiba-tiba Hasti merasa sendirian. Seorang sahabatpun keberatan menerimanya. Tapi Hasti bukan tak tahu diri. Ia segera masuk ke kamarnya dan mengemasi beberapa baju yang dibelinya sembarangan, karena saat dia keluar dari rumah, dia tak membawa apapun kecuali baju yang melekat pada tubuhnya.

Katika ia keluar dari kamar dengan membawa tas sederhana, Rina menegurnya.

“Hasti, kamu tidak harus pergi sekarang. Ini sudah malam. Besok pagi saja.”

“Tidak apa-apa, aku tak ingin mengganggu kamu lebih lama.”

“Hasti, apa kamu marah?”

“Tidak, aku tidak marah. Aku minta maaf karena telah mengganggu kamu selama beberapa hari ini,” katanya terus berlalu menuju ke arah luar rumah.

“Hasti, aku minta maaf, tunggu sebentar,” Rina membalikkan tubuhnya, dan keluar sambil memberikan sejumlah uang.

“Ini untuk sekedar membayar uang sewa kamarmu nanti.  Lagi pula malam-malam begini kemana akan mencari rumah atau kamar untuk disewa?” katanya sambil mengulurkan uang yang baru saja diambilnya.

“Tidak usah, aku masih ada. Terima kasih banyak. Soal rumah, gampang, kan ada hotel yang buka disepanjang siang dan malam,” katanya sambil terus melangkah.

“Hasti, maafkan aku,” bisik Rina yang sebenarnya tidak tega mengusir sahabatnya. Itupun sebenarnya bukannya Rina ingin agar Hasti pergi malam itu.

***

Hasti melangkah perlahan, menembus kelamnya malam yang mulai larut. Ia tidak tahu ke mana harus mencari sebuah kamar yang bisa disewa. Hotel, pasti ada, tapi ia harus menghemat uang yang dibawanya.

Ia terus melangkah, dan terus merasakan kesendirian dalam hidupnya. Ibu angkat yang sebenarnya bibinya pun tega mengusirnya, apalagi Rina, yang hanya temannya.

Ia mulai menyusuri hari-hari yang dilaluinya. Dari sejak hidup melarat bersama ibunya, kemudian menjadi seorang nona terhormat di keluarga kaya, dimanja dan diberikan apa keinginannya, kemudian terjerumus ke dalam pergaulan bebas, kemudian jatuh cinta kepada laki-laki beristri yang juga kekasih ibunya, lalu ketika dia hamil, semua orang membuangnya. Bahkan Baskoro yang diyakini adalah ayah dari bayi yang dikandungnya pun tak sudi mengulurkan tangannya untuk membantu.

Air mata bercucuran disepanjang langkahnya yang gontai karena lelah.

Hasti hampir roboh ketika sebuah mobil berhenti di sampingnya. Ia bahkan kemudian bertumpu pada mobil itu ketika ia tak kuat lagi menahan berat tubuhnya.

Seorang laki-laki keluar dari mobil itu, lalu ia segera meraih tubuh Hasti yang terkulai.

“Hasti. Kamu mau ke mana?”

Hasti menatap laki-laki yang menyangga tubuhnya, lalu ia berusaha mendorongnya.

“Lepaskan aku, biarkan aku pergi.”

“Kamu mau pergi ke mana?”

“Istrimu mengusir aku,” katanya lemah.

Laki-laki itu adalah Samuel, suami Rina. Tampaknya dia baru mau pulang, entah dari mana. Tapi Hasti mencium bau alkohol dari mulutnya.

“Rina mengusir kamu?”

“Lepaskan aku, aku harus pergi.”

“Kamu jalan dari rumah aku sampai kemari? Ini jauh sekali. Pantas kamu tampak sangat lelah.”

“Lepaskan aku, biarkan aku pergi.”

Hasti meronta, dan berusaha melangkah pergi, tapi dia terhuyung dan nyaris jatuh, lalu lagi-lagi Samuel menangkapnya, dan kali itu ia menggendong tubuh Hasti, dibawanya masuk ke dalam mobil.

“Apa … yang kamu lakukan? Aku harus mencari penginapan, jangan kamu bawa aku ke rumah kamu. Rina tidak mau.”

“Aku carikan kamu penginapan. Ini sudah malam, hotel yang baik agak jauh dari tempat ini.”

“Aku tak kuat membayar hotel.”

“Aku yang akan membayarnya,” katanya sambil memutar kembali mobilnya ke arah yang berlawanan dari jalan pulang.

Hasti sangat lelah, ia tak kuasa mengatakan apapun, apalagi bergerak.

Samuel membawanya ke sebuah hotel, memesan kamar, lalu memapah Hasti ke dalam kamar itu.

Hasti terbaring lelah, Samuel memesan segelas coklat susu panas, yang segera diberikan kepada Hasti untuk segera meminumnya.

Hasti merasa lebih segar.

“Aku sudah membayarnya untuk kamu menginap selama tiga hari, sementara aku akan membantu mencarikan rumah yang bisa kamu tempati.”

“Aku berterima kasih karena kamu membantuku, tapi nanti aku akan mencari rumah itu sendiri, aku punya sedikit uang, jangan merepotkan kamu lagi.”

“Ya sudah, itu gampang, bisa dipikirkan nanti.”

“Sekarang kamu pulanglah, Rina menunggu kamu.”

Pulang? Samuel menatap Hasti tak berkedip. Sangat sayang meninggalkan perempuan secantik Hasti untuk tidak melakukan apapun.

Hasti terkejut ketika Samuel mendekatinya.

“Kamu sangat cantik.”

“Sam, apa yang kamu lakukan?”

“Sejak kedatangan kamu ke rumah aku, aku sudah menyukai kamu.”

Hasti mencium bau alkohol yang menyengat.

“Sam, ingat Rina. Aku tak mau menjadi penggoda, itu sebabnya aku pergi, karena tampaknya Rina juga mencurigai kamu.”

“Rina tidak akan tahu. Aku sudah lama mendengar tentang kamu,” katanya sambil berbaring begitu saja di samping Hasti.

“Jangan menolak aku, aku tahu siapa kamu.”

“Sam, aku sedang mengandung, jangan menganggu aku. Kamu sedang mabuk, Sam, sadarlah.”

“Ijinkanlah, walau hanya sekali saja.”

Dan teryata Hasti tak mampu menolaknya. Samuel yang mabuk tak bisa dihentikan. Dan menjelang pagi Samuel baru memasuki rumahnya.

Kalau malam itu Rina masih bisa menerima alasan yang dikemukakan Samuel atas kepulangannya yang menjelang pagi, tapi kemudian timbullah rasa curiga pada hari-hari selanjutnya.

***

Rusmi dan Baskoro sudah berhari-hari diam di rumah tanpa tahu harus berbuat apa. Rusmi sudah tahu bahwa dia tidak berhak menjadi pemilik perusahaan Raharjo. Dia juga tidak bisa menjual aset-aset yang ada, termasuk mobil, baik yang dipakainya sendiri maupun yang tadinya dipakai Hasti, karena dia tidak tahu di mana Raharjo menyiman surat-suratnya.

Berhari-hari dia mengubrak abrik almari Raharjo, tapi tidak menemukan apa yang dicarinya.

“Kita harus punya usaha, agar bisa melanjutkan hidup kita,” kata Baskoro.

“Usaha apa?”

“Suri menjual ayam bakar dengan berkeliling, dan tampaknya berhasil,” kata Baskoro.

“Apa? Maksud kamu aku harus berjualan, berkeliling masuk dari rumah ke rumah, untuk menjajakan dagangan?”

“Bukan begitu. Aku hanya memberi contoh saja. Maksudku  dengan usaha, kita bisa mendapatkan uang. Jangan melihat berkelilingnya, tapi usahanya itu. Pokoknya berjualan, kamu kan masih punya uang untuk modal? Nanti aku membantumu.”

“Kamu memang harus membantu. Tapi aku tidak bisa berjualan. Aku tidak punya bakat untuk berdagang."

“Kalau begitu berikan saja uangnya, biar aku yang berusaha.”

“Uangku tidak seberapa. Mau usaha apa?”

“Kamu kan bisa menjual perhiasan kamu. Nanti kalau berhasil, kita bisa membelinya lagi.”

Rusmi tampak berpikir.

“Kalau kamu tidak mau, aku akan pergi dari sini saja. Mencari uang dengan caraku, entah bagaimana nanti.”

Ucapan Baskoro itu seperti sebuah ancaman. Rusmi yang sesungguhnya sudah jatuh cinta pada Baskoro, kemudian merasa takut kehilangan. Karena itu tak ada yang bisa dilakukan kecuali menuruti kata Baskoro. Ia mengumpulkan semua perhiasannya.

Baskoro tersenyum.

“Ini sangat bernilai. KIta bisa membuat usaha kecil-kecilan.”

“Baiklah, terserah kamu saja. Sekarang saja kita bawa ini ke toko emas.”

“Bagus, lebih cepat lebih baik. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali berusaha mencari uang sendiri."

Hari itu juga, Rusmi dan Baskoro pergi untuk menjual perhiasan yang sudah dikumpulkan Rusmi. Tanpa mereka sadari  sepasang mata mengawasi, kemudian mengikutinya.

***

Hari itu Bejo merasa sedih, karena simboknya tidak keluar dari bilik. Badannya panas, dan dia tidak mau makan apapun. Bejo sudah membelikannya obat di warung. Obat penurun panas dan masuk angin, karena mengira simboknya hanya masuk angin. Tapi ternyata panasnya tidak berkurang.

“Mbok, makanlah dulu buburnya.”

“Jo, simbok ini memang sudah tua. Sakit tidak apa-apa. Mati juga tidak apa-apa.”

“Mengapa simbok berkata begitu? Kalau Simbok mati, aku hidup sama siapa?”

“Sekarang kamu tahu, dulu simbok menyuruh kamu menikah dengan anaknya Sinah, kamu menolak. Kalau kamu sudah menikah, seandainya simbok mati sewaktu-waktu, kan kamu tidak sendirian?”

“Apa ada perempuan mau sama laki-laki miskin seperti Bejo?”

“Dulu kamu juga bilang begitu, sekarang masih saja bilang begitu.”

“Simbok makan dulu, lalu obatnya diminum lagi.”

“Obat apa, simbok nggak mau. Sekarang tolong ambilkan kaleng yang ada di bawah kolong ini,” kata simbok sambil menunjuk ke bawah.

Bejo membungkuk, menengok ke bawah, lalu melihat sebuah kaleng butut.

“Ini Mbok?”

"Di dalam kaleng itu ada sesuatu yang simbok temukan, bersamaan ketika kamu simbok temukan di pinggir kali itu.”

Simbok menyuruh Bejo membuka kalengnya. 

"Keluarkan isinya. Itu tabungan simbok. Sisa uang dagangan setelah dibelikan makan untuk kita."

Bejo mengeluarkan beberapa lembar uang yang ditaruh begitu saja di dalam kaleng. Bejo menghitung uangnya, ada dua ratusan ribu terdiri dari pecahan puluhan ribu sampai ribuan dan receh.

“Uang simbok banyak. Ini apa, Mbok?” Kata Bejo sambil memungut sebuah dompet kulit yang sudah lusuh dan kotor.

“Itu yang simbok temukan ketika simbok juga menemukan kamu. Tapi simbok yakin itu bukan punya kamu. Masa kamu punya uang sebanyak itu di dalam dompet? Simbok sudah menjemur semua isinya, tapi setelah kering lalu simbok  masukkan lagi ke dalamnya,” kata simbok lirih, dan lemah.

Bejo mengeluarkan isi dompet itu. Banyak uang ratusan ribu yang kusut, tapi ada juga beberapa kartu yang nyaris hilang tulisannya.

Bejo terkejut. Ada sebuah getaran aneh ketika ia mengeluarkan isi dompet itu.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...