Wednesday, December 13, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 14

 BUNGA UNTUK IBUKU  14

(Tien Kumalasari)

 

Raharjo tercekat. Perasaannya sangat tak enak. Ia belum tahu berita tentang siapa yang ditabrak Baskoro, dan sekarang sang anak benar-benar mengalami kecelakaan. Apakah Baskoro yang menabrak?

“Mana Wijan? Apa dia ada di rumah?”

“Di rumah, Pak, sedang ganti baju di kamar mandi.”

“Apa lukanya parah?”

“Kepalanya diperban, tangannya juga diperban. Lutut sebelah kiri terluka, hanya diplester. Nilam sedih Pak, kasihan mas Wijan,” Nilam kembali menangis.

“Kalau Wijan selesai, suruh menelpon bapak ya.”

“Itu sudah keluar dari kamar mandi. Mas, telpon dari bapak,” katanya kemudian kepada Wijan.

“Bapak,” sapa Wijan.

“Bagaimana keadaan kamu? Kecelakaan bagaimana kamu?”

“Seorang pengendara sepeda motor melanggar lampu merah karena tergesa-gesa, lalu menabrak saya Pak.”

“Keterlaluan. Kamu tahu siapa yang menabrak? Ada polisi tidak, waktu itu?”

“Dia membawa saya segera ke rumah sakit, dan membayar semua pengobatannya.”

“Siapa nama penabrak itu?”

“Katanya bernama Baskoro. Tapi dia mengenal Bapak.”

“Dia?” Raharjo berteriak.

Pengendara sepeda motor melanggar lampu merah karena tergesa-gesa. Pasti karena dia sudah terlambat kembali ke kantor.

Raharjo menutup ponselnya dengan marah.

“Betul Baskoro?” tanya pak Rangga.

“Iya. Dia tergesa-gesa, melanggar lampu merah, dan menabrak anakku.”

“Bagaimana keadaan mas Wijan?”

“Luka-luka. Aku akan segera pulang untuk melihatnya.”

“Saya antarkan Bapak pulang.”

“Tidak, aku kan membawa mobil sendiri.”

Raharjo bergegas pulang karena mengkhawatirkan keadaan anak semata wayangnya. Semua urusan diserahkannya kepada pak Rangga.

Tapi di lobi ia melihat Baskoro baru saja masuk, wajahnya kemerahan dan keringat bercucuran.

“Maaf Pak. Saya salah. Saya tidak mengira, dia adalah putra Bapak. Baru setelah selesai mengurusnya saya tahu, dari alamat yang dikatakannya.”

“Itu karena kamu melanggar lampu merah.”

“Iya Pak.”

“Dan karena kamu sudah terlambat untuk menghabiskan waktu istirahat kamu.”

“Maaf, Pak. Ada urusan.”

“Ada urusan lagi? Urusan yang tidak pernah selesai,” kata Raharjo sambil bergegas menghampiri mobilnya.

Ketika ia membuka pintu mobilnya, satpam berlari-lari dengan membawa bungkusan jacket.

“Pak, takut kelupaan lagi. Ini jacket Bapak.”

“Bukan jacketku. Masa jacketku bau. Lempar saja ke bagasi,” perintahnya dengan wajah muram.

Sementara Baskoro menatap bungkusan itu dengan mata nanar. Ia tahu itu adalah jacketnya, tapi dia tidak berani memintanya. Karenanya dia biarkan satpam itu memasukkannya ke bagasi mobil Raharjo.

Baskoro memasuki kantor dengan perasaan tak menentu. Sudah jelas Raharjo tidak suka kepada dirinya, dan itu bukan karena keterlambatannya saja. Barangkali benar apa yang dikatakan Rusmi, bahwa atasannya sudah menyimpan rasa curiga yang belum dilampiaskannya melalui kata-kata.

Sebelum masuk ke ruangannya, pak Rangga juga menatapnya tak senang. Bukan karena dia telah menabrak anak atasannya saja, tapi juga keterlambatannya yang memang sangat terlambat. Baskoro menghela napas panjang. Ia masuk ke ruangannya dan melihat pekerjaan sudah menumpuk. Baskoro membayangkan akan lembur sampai malam, hari itu.

***

Raharjo sangat kesal, begitu pulang ia melihat Wijan sedang menyirami tanaman. Segera ditariknya tangan anaknya untuk masuk ke dalam rumah.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu terluka dan kamu bekerja di kebun?”

“Ibu sudah melarangnya Pak, tapi dia nekat,” sambung Rusmi yang tadinya bermaksud menyambut kedatangan suaminya.

“Wijan tidak apa-apa, hanya sedikit luka,” jawab Wijan ketika ayahnya mengajaknya duduk di sofa ruang tengah.

“Kepalamu terbalut, lenganmu terbalut, kakimu juga, dan kamu mengatakan tidak apa-apa? Bapak bahkan masih melihat noda darah di perban itu.”

“Iya Pak, tapi.”

“Jangan membantah apa yang dikatakan Bapak. Diamlah dan beristirahat. Kamu tahu siapa yang menabrak?”

Tanpa sengaja, Wijan menatap ibu tirinya yang ikut duduk di sofa itu.

“Namanya Baskoro,” katanya lirih.

“Dia pegawai di kantor bapak.”

Wijan baru mengetahuinya. Jadi ia melihat ibu tirinya beberapa kali bepergian dengan bawahan ayahnya?

“Mas Wijan …” tiba-tiba Nilam mendekat dan duduk di samping Wijan. Ia menatap kakak tirinya dengan iba.

“Tadi Nilam melarang mas Wijan menyiram tanaman, tapi dia nekat,” kata Nilam. Nilam tidak tahu bahwa itu adalah tugas yang diberikan ibunya setiap sore, dan Wijan tak mau membantahnya. Tapi dia tak mengatakan apapun.

“Bagaimana rasanya? Mana yang sakit?” tanya Nilam lagi.

“Tidak sakit. Kan sudah diobati. Kamu yang sakit, harusnya tidur di kamar,” balas Wijan.

“Aku sudah sembuh.”

Raharjo menatap keakraban kedua saudara tiri itu dengan terharu. Nilam sangat menyayangi Wijan, demikian juga sebaliknya. Sikap berbeda yang dilihatnya, kebalikan dari sikap istrinya yang sekarang diketahuinya hanya berpura-pura menyayangi anak tirinya.

Tiba-tiba Raharjo teringat akan jacket itu.

“Jacket teman ibu ada di bagasi, ambillah,” perintahnya dengan wajah datar.

“Oh iya, biar ibu ambil, lalu akan ibu antarkan ke rumah Pingkan,” katanya sambil berdiri dan keluar mendekati mobilnya.

“Wijan, besok tidak usah masuk sekolah dulu. Kamu harus istirahat di rumah.”

“Tidak bisa Pak, Wijan harus masuk karena sebentar lagi ujian.”

“Tapi kamu seperti ini. Dan mana sepeda kamu?”

“Kata pak Baskoro, soal sepeda akan diurusnya. Sekarang sudah dibawanya ke bengkel, katanya.

“Bapak belikan sepeda motor saja.”

“Asyiiik,” yang berteriak senang adalah Nilam.Tapi Wijan menggelengkan kepalanya.

“Sepedanya masih bagus. Dan Wijan suka.”

“Sepeda sudah ditabrak motor, sudah cacat.”

“Kan bisa diperbaiki.”

Terkadang Raharjo juga kesal pada kesederhanaan Wijan. Ia sering sekali menolak pemberian ayahnya, walau sebenarnya dia membutuhkannya.

“Belikan sepeda motor saja, Pak, nanti Nilam ke sekolah dengan membonceng sepeda motor itu. Ya kan Mas?”

Wijan hanya tersenyum.

“Kalau kamu nekat mau masuk sekolah, besok bapak antarkan. Tapi benar, kamu tidak apa-apa?”

“Wijan baik-baik saja.”

“Besok kita ke rumah sakit dulu. Bapak harus memastikan bahwa kamu benar-benar baik-baik saja.”

“Tapi Wijan mau sekolah.”

“Ke sekolah setelah dari rumah sakit. Nanti bapak bilang pada guru kamu. Kalau saatnya pulang, telpon bapak, biar sopir kantor menjemput kamu.”

“Besok Nilam juga mau sekolah.”

“Nilam diantar mbak Hasti saja, karena mobilnya masih akan dipakai bapak. Mobil bapak masih di bengkel.”

Nilam merengut, tapi dia tak berani membantahnya.

***

Hari sudah malam ketika Baskoro memasuki rumahnya. Sang istri yang menyambutnya dengan segelas teh hangat, tidak bertanya apapun, karena Baskoro sering pulang sampai malam.

“Minum dulu, dan istirahat sebentar. Capek ya Mas?” tanya Suri penuh perhatian.

“Tentu saja capek. Namanya bekerja. Bukan seperti kamu, hanya makan dan tidur sampai badanmu gembur kayak tambur,” katanya sambil menghirup tehnya tanpa duduk terlebih dulu.

“Enak saja. Aku tuh tidur kalau sudah selesai pekerjaan rumah. Bersih-bersih, mencuci, setrika, masak, menyiapkan makan kamu.”

“Tapi benar kan, kamu suka tidur?”

“Nungguin Mas itu capek. Terkadang pulang malam, ya tidur lah, aku,” cemberut sang istri. Tapi kemudian pergi ke belakang untuk menyiapkan makan malam suaminya.

“Aku tidak makan, mau langsung tidur.”

Suri menghentikan langkahnya.

“Padahal aku menggoreng bandeng presto dibalut telur, sama sayur lodeh dan_”

“Besok saja, aku mau mandi lalu tidur,” katanya sambil melangkah ke dalam kamar.

Suri mengikutinya dengan cemberut. Tapi ia tetap meladeni suaminya melepas pakaiannya, lalu menyiapkan pakaian ganti, dan membawa yang kotor ke belakang. Baskoro hanya menatapnya datar. Menurutnya, istri hanyalah yang meladeni semua keperluannya, yang tak harus selalu diajaknya bersenang-senang, karena kesenangan bisa didapatnya diluar. Ia mencium bau wangi dari tubuh sang istri. Ia juga melihatnya berdandan dengan sangat berbeda. Barangkali ada harapan dari Suri untuk menghabiskan malam dengan memetik kidung-kidung cinta, setelah lelah bekerja. Tapi harapan itu sebenarnya sudah pupus sejak melihat wajah suaminya yang dingin. Baskoro pun tampak tak berselera. Apalagi pikirannya sedang terbebani oleh sebuah rencana yang dicetuskan Rusmi siang tadi. Ada sebuah harapan untuk bisa mengayuh cinta bersama Rusmi dengan tenang dan tentu saja senang. Tapi ia harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Karenanya ia lebih baik segera beristirahat dan menyusun apa-apa yang harus dilakukannya.

***

Pagi hari itu, Nilam yang nekat masuk sekolah terpaksa mau diantar Hasti. Di sepanjang perjalanan itu Hasti tak henti-hentinya mengomel tentang sikap Nilam yang terlalu baik pada Wijan. Tapi Nilam tak menggubrisnya. Ia tahu bahwa Hasti, dan juga ibunya, sangat jahat kepada Wijan. Padahal Wijan sangat baik dan selalu bersikap santun kepada mereka.

“Jangan diam kalau diberi tahu. Kamu benar-benar bandel,” kesal Hasti karena Nilam mengacuhkannya.

“Kalau aku jawab, Mbak pasti marah. Jadi lebih baik aku diam,” jawab Nilam sambil mengalihkan pandangan ke jendela di sampingnya.

“Mbak marah karena jawaban kamu memang membuat marah.”

“Yang jelas aku tidak setuju dengan apa yang Mbak katakan. Mas Wijan anak yang baik. Dia selalu patuh walau ditindas. Tapi Mbak, apalagi ibu, selalu memperlakukannya dengan buruk.”

“Kamu selalu membela dia.”

“Karena dia tidak bersalah.”

“Mbak ini, seperti juga ibu, berbuat untuk kebaikan kita. Baru tahu rasa kamu kalau nanti Wijan sudah tidak ada.”

“Apa maksudnya?”

“Tunggu saja nanti. Masa kita harus selalu bersama-sama dengan orang yang bukan darah daging kita.”

Nilam menatap kakaknya dengan mengerutkan keningnya.

“Apa maksud Mbak?” desak Nilam.

“Nanti juga kamu akan tahu.”

“Kalian akan mengusir mas Wijan?”

“Lihat saja nanti. Tuh, sudah sampai di sekolah kamu. Awas nanti ya, jangan pulang dulu kalau aku belum menjemput kamu,” kata Hasti dengan nada keras.

Nilam turun dengan perasaan penuh tanda tanya. Apa lagi maksud kakaknya itu, setelah ia juga mendengar ucapan-ucapan ibunya yang aneh saat bertelpon.

***

Dengan diantar ayahnya, Wijan pergi ke rumah sakit. Ia tidak percaya pemeriksaan sekilas yang dilakukan atas anaknya. Ia terjatuh, dan kepalanya terluka, pasti ada benturan. Ia membawanya ke rumah sakit besar agar diperiksa secara keseluruhan, bukan di klinik kecil seperti dilakukan Baskoro, yang hanya dilihat dari luka luarnya saja.

“Wijan, sebentar lagi kamu akan menyelesaikan SMA kamu kan?” kata sang ayah dalam perjalanan ke rumah sakit.

“Masih setahun lebih. Setelah ini, kalau naik kan Wijan baru kelas tiga. Tapi sebenarnya Wijan ingin mencoba mengikuti percepatan pelajaran, sehingga bisa mengikuti ujian akhir.”

“Wouw, bapak suka. Apa kamu bisa?”

“Akan Wijan coba.”

“Baiklah. Dengar Wijan. Kamu adalah satu-satunya anak bapak. Usaha yang bapak rintis ini, adalah kewajiban kamu untuk mengurusnya.”

“Wah, berat ya Pak?”

“Tidak ada sesuatu yang berat, ketika kita menjalaninya dengan sepenuh hati. Tanggung jawab ini tidak ringan, paling tidak, bisa mempertahankan, tapi lebih bagus bisa mengembangkan. Semua ini membutuhkan ketekunan kamu dalam mempelajari semuanya. Sekarang selesaikan sekolah kamu, lalu kuliah. Bapak akan menyimpan uang dalam tabungan kamu sendiri untuk keperluan sekolah dan kuliah kamu, sehingga kamu bisa mempergunakannya saat kamu membutuhkan. Hati-hati dalam mengelolanya. Kalau bapak sedang tidak ada, kamu bisa menemui pak Rangga untuk bicara. Nanti akan bapak ajak kamu ke kantor, agar bisa mengenal pak Rangga, yang adalah orang kepercayaan bapak.”

Wijan berdebar. Tanggung jawab itu tidak mudah. Tapi Wijan bukan anak muda yang lemah. Biarpun suka mengalah tapi dia punya kepribadian yang kokoh. Apa yang menjadi tanggung jawabnya adalah sesuatu yang harus digenggamnya erat.

“Bapak percaya kamu bisa melakukannya.”

“Wijan selalu memerlukan bimbingan bapak.”

“Kamu masih sangat muda, tapi bapak harus memberi tahu kepada kamu tentang semua ini. Ini kesempatan untuk berbincang, karena selama ini bapak sibuk dengan pekerjaan dan kurang memperhatikan kamu. Kamu tahu, bapak membuka cabang di kota lain. Saat ini bapak sedang merintisnya. Besok minggu depan bapak mau ke sana melihat perkembangannya.”

Wijan sangat kagum kepada ayahnya. Walaupun tidak muda lagi, tapi semangat berbisnis masih sangat kuat.

“Apakah ibu sambung kamu memperlakukan kamu dengan baik?” Raharjo memancing.

Wijan terdiam sejenak, tapi dia mengangguk pelan.

“Sangat baik, Pak.”

Raharjo tersenyum. Anak laki-lakinya luar biasa. Bersedia menyembunyikan kebusukan yang dilakukan kepada dirinya. Sudah beberapa tahun berlalu, dan dia baru menyadari bahwa anak semata wayangnya teraniaya. Raharjo diam-diam memarahi dirinya sendiri.

***

Menyadari bahwa Wijan baik-baik saja, Raharjo merasa lega. Memang benar hanya luka luar, dan tak ada yang membuatnya khawatir.

Hari itu Raharjo pergi ke luar kota, hanya diantar sopir dan juga sekretarisnya. Tak ada yang berbeda ketika Raharjo melangkah keluar dari rumah setelah sopir dan sekretaris menjemputnya.

Hari masih pagi, dan Raharjo berpamit pada keluarganya. Ia juga berpesan kepada Wijan agar selalu berhati-hati. Entah mengapa ia mengatakannya, bahkan dengan mata berkaca-kaca. Ada perasaan berat yang melandanya. Ia memeluk Wijan dengan hangat, dan Wijan pun menyambutnya dengan haru yang menyesak.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, December 12, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 13

 BUNGA UNTUK IBUKU 13

(Tien Kumalasari)

 

Baskoro masih belum mengerti apa yang dimaksudkan Rusmi. Ia segera menutup pembicaraan itu, dan bergegas masuk ke dalam, untuk segera menekuni tugasnya di kantor, sebelum Raharjo datang.

Beruntung bagi Baskoro, setelah dia masuk ke kantor, mobil hijau lumut milik Rusmi yang dikendarai atasannya memasuki halaman.

Ketika ia turun dari mobil, satpam berlari-lari mendekatinya.

“Pak, mohon maaf. Ini bungkusan jacket yang kemarin Bapak suruh menyimpan di kantor satpam, saya lupa menyerahkannya pada Bapak.

“Apa itu?” kata Raharjo sambil menatap bungkusan plastik yang dibawa satpam.

“Ini, jacket yang Bapak suruh bungkus kemarin.”

“Aduh, biar di situ saja dulu. Nanti saja kalau pulang. Itu entah milik siapa, istriku yang tahu,” kata Raharjo sambil berlalu.

Satpam membawa bungkusan jacket itu kembali ke ruangannya dengan benak penuh tanda tanya.

Baru saja Raharjo duduk di ruangannya, pak Rangga masuk dengan membawa berkas, yang kemudian diletakkannya di meja atasannya.

“Ini Pak, dari pak Rully. Kemarin sore beliau kemari, tapi Bapak sudah pulang. Saya ingin menghubungi Bapak, tapi pak Rully melarangnya.”

Pak Rully adalah notaris yang dipanggil Raharjo beberapa hari yang lalu.

“Dia bilang apa?”

“Hanya menyerahkan berkas ini, agar dipelajari oleh Bapak. Kalau sudah sesuai, maka dia akan datang kemari untuk segera menggarapnya.”

“Baiklah, nanti aku baca dulu. Kemarin aku pulang awal, meminta sopir agar mengantarkan aku ke bengkel, ternyata mobilku belum siap. Katanya baru hari ini.”

"Harusnya Bapak beli lagi yang baru,” canda pak Rangga.

Raharjo tertawa.

“Biar saja dulu, masih layak pakai.”

Pak Rangga mengangguk mengerti. Ia tahu, atasannya adalah seorang pengusaha yang sederhana. Tidak suka memamerkan kekayaan, atau menunjukkan kemewahan. Ia baik kepada semua bawahan dan tidak membedakan status mereka, diluar area pekerjaan. Itu sebabnya dia sangat disegani dan dihormati.

“Kalau tidak ada yang Bapak inginkan, saya akan kembali ke ruangan saya.”

“Baiklah, tinggalkan saja dulu berkas ini. Kalau sudah selesai, pak Rangga akan saya panggil kemari. Ini masalah yang sangat penting, jadi jangan sampai ada yang terlewat. Ini juga cara menyelamatkan perusahaan, bukan?” kata Raharjo dengan wajah serius.

“Dan jangan lupa, Minggu depan aku akan ke kantor cabang,” lanjutnya.

“Hampir saya mengingatkan Bapak, tapi Bapak sudah mengatakannya. Sekretaris Bapak pasti sudah mempersiapkan semuanya.”

“Ya, aku akan berangkat sendiri, aku harap pak Rully sudah menyelesaikan semuanya sebelum aku berangkat.”

“Baiklah,” kata pak Rangga yang kemudian berdiri dan keluar dari ruangan.

Raharjo membuka berkas yang diserahkan pak Rangga dan mulai membacanya dengan seksama.

***

Nilam merasa bosan tiduran di kamar. Ia turun dari atas ranjang dan berjalan keluar. Keadaan di dalam rumah sangat lengang, karena semua orang pergi. Tapi tidak, Nilam mendengar suara dari kamar ibunya yang tidak terkunci. Nilam mendekat perlahan, berdiri di dekat pintu.

“Apa kamu tidak merasa takut? Bagaimanapun hal itu harus bisa terlaksana. Kita akan menyingkirkannya. Harus…. tentu saja, kamu tidak akan kehilangan, demikian juga aku. Aku merasa sedang berada diujung tanduk. Dia menyimpan kecurigaan itu, dan sewaktu-waktu akan menciptakan bom mematikan untuk kita, lalu kita tak bisa berbuat apa-apa…. Baiklah, sedang aku pikirkan rencana terbaik. Kita harus segera melakukannya, sebelum dia yang menghancurkan kita… Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan kehilangan apapun setelah dia kita singkirkan. Baiklah, tunggu sampai aku menghubungi kamu lagi.”

Nilam bergegas pergi dari pintu itu dan kembali menyelinap ke dalam kamarnya. Ada sesuatu yang membuatnya berdebar. Apa sebenarnya yang direncanakan ibunya? Siapa yang akan disingkirkan? Siapa dan curiga tentang apa, lalu ada kata-kata sedang berada diujung tanduk.

Nilam merasa gelisah sendiri. Ia mencatat seluruh kata-kata yang dia dengar, dan menyimpannya di dalam benaknya. Dia akan berusaha menguraikannya. Tiba-tiba Nilam ingin segera ketemu Wijan. Ia pasti bisa memecahkan teka teki ini. Tapi benarkah? Wijan terlalu santun. Ia selalu mengatakan, jangan ikut campur, diamlah, biarkan saja, atau apalah, yang penting tidak akan membuat ribut. Tapi yang didengarnya bukan sebuah pembicaraan sederhana. Ada yang harus disingkirkan karena dirinya berada diujung tanduk. Apakah itu?

Nilam memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.

“Mbak Nilam, makan dulu ya,” suara bibik mengejutkannya. Nilam mengusap keringat yang tiba-tiba saja membasahi dahinya.

“Mbak Nilam kenapa? Kok berkeringat.”

“Tidak apa-apa. Aku mau keluar saja, makan di ruang makan.”

“Mbak Nilam kan harus istirahat. Ini sudah bibik bawakan bubur yang sangat enak. Cobalah.”

“Aku nggak mau bubur. Aku sudah sembuh,” katanya sambil bangkit, lalu turun dari ranjang.

“Nanti ibu marah lhoh.”

“Aku sudah tidak sakit, ibu tak akan marah.”

Dan sang ibu memang tidak akan marah, karena saat itu dia melihatnya keluar dari rumah dengan dandanan yang rapi.

Nilam mengamati punggungnya, lalu melihat taksi menunggu di dekat gerbang,

“Ayo Bik, aku makan nasi saja. Nggak mau buburnya.”

***

Pak Rangga dan Raharjo sedang berjalan menuju parkiran, ketika melihat Baskoro sedang bertelpon dengan serius.

“Lagi menelpon siapa dia? Serius sekali?” tanya Raharjo.

“Nggak tahu Pak, mungkin dengan keluarganya, atau mungkin dengan perempuan yang dikencaninya,” jawab pak Rangga enteng.

Siang itu mereka akan makan bersama di luar, karena akan membicarakan hal yang sangat penting. Sebelum masuk ke mobilnya, ia melihat Baskoro menyudahi pembicaraan di telpon, lalu dari jauh mengangguk ke arah kedua atasannya.

“Kamu mau ke mana?” tanya pak Rangga.

“Pulang Pak. Makan di rumah.”

“Di rumah istri atau di rumah yang lain?” canda pak Rangga sambil masuk ke dalam mobil.

Baskoro hanya nyengir kuda, lalu iapun mengendarai motornya keluar dari halaman, setelah mobil Raharjo mendahuluinya.

***

Rusmi masih ada di dalam taksi ketika Baskoro menelponnya.

“Jangan makan di tempat biasanya.”

“Kenapa?”

“Pak Raharjo dan pak Rangga juga sedang keluar. Takutnya ketemu di suatu tempat. Cari warung kecil saja.”

“Warung kecil?”

“Hanya tempat itu yang tak mungkin dikunjungi para bos.”

“Baiklah, katakan alamatnya,” kata Rusmi.

“Tapi aku tak bisa lama. Aku tak ingin kembali terkena teguran.”

“Kamu benar, jangan berbuat sesuatu yang membuatnya curiga.”

Rusmi menutup ponselnya, dan menunggu Baskoro mengirimkan alamat yang akan ditujunya, lalu memerintahkan kepada pengemudi taksi itu agar menuju ke arah yang diperintahkannya.

***

Di ruang makan, bibik menunggui Nilam yang sedang menyendok makanannya dengan ogah-ogahan. Wajah Nilam tampak kusut, seperti sedang memikirkan sesuatu. Sebentar-sebentar ia berhenti menyendok, seperti melamun.

“Mbak Nilam, kenapa makan sambil melamun?”

“Sudah kenyang.”

Baru sedikit kok sudah kenyang?”

“Aku menunggu mas Wijan saja.”

“Tapi Mbak Nilam kan harus minum obat setelah makan? Dan mas Wijan belum tentu pulang jam berapa.”

“Ya sudah, aku minum obatnya dulu.”

“Lha makannya saja belum selesai.”

“Yang penting kan sudah makan?”

Bibik mengambilkan obat yang sudah disiapkan, lalu meminta Nilam agar meminumnya. Lalu Nilam pergi ke ruang tengah, menyetel televisi, yang kemudian dimatikannya lagi. Batinnya sedang bertanya-tanya tentang apa yang dibicarakaan ibunya, dan dengan siapa.

“Bibiik ….” panggilnya. Si bibik bergegas mendekati.

“Ya Mbak. Kok nggak tiduran di kamar saja sih Mbak. Biar cepet sehat.”

“Hiih, aku sudah nggak sakit, Bibiiiiiik,” kata Nilam, gemas.

“Ya sudah, manggil bibik ada apa?”

“Mau pinjam ponsel Bibik.”

“Mbak Nilam mau menelpon siapa?”

“Mas Wijan. Mau tanya, dia pulang jam berapa.”

“Ya ampun, kenapa harus ditanya. Kalau dia masih di kelas bagaimana? Kan nggak boleh anak sekolah telponan di kelas?”

Nilam merengut. Ia benar-benar gelisah. Lalu kemana sekarang ibunya pergi?

“Mobil ibu di mana?”

“Mobil ibu dipakai bapak. Bibik dengar mobil bapak masih di bengkel.”

“Pantesan tadi naik taksi. Kemana ya ibu pergi?”

“Mbak Nilam itu lebih baik istirahat saja. Dipakai tidur, nanti kan tahu-tahu mas Wijan sudah pulang.”

Nilam tidak menjawab, tapi kemudian dia masuk ke kamarnya, mencoba tidur seperti saran bibik.

***

Wijan pulang agak awal di hari itu. Gurunya ada rapat atau apa, sehingga murid-murid dipulangkan lebih awal. Ia bersyukur, karena sesungguhnya dia mengkhawatirkan keadaan Nilam, yang hari ini tidak masuk sekolah. Ia mengayuh sepedanya dengan cepat, berharap bisa segera sampai di rumah.

Tapi di sebuah perempatan, sebuah sepeda motor menerobos lampu merah, dan menendang sepedanya, membuat Wijan terlempar. Untung tidak ada kendaraan melintasinya sehingga dia tidak terlindas.

Beberapa orang berlari mendekatinya dan membantunya menepi. Sepedanya rusak, pelg bagian depan bengkok.

Seorang pengendara sepeda motor yang tadi menabraknya, semula akan melarikan diri, tapi kemudian mendekat, karena orang-orang disekitar memaksanya.

“Luka ya dik?” tanya pengendara sepeda motor itu.

Wijan mengangkat wajahnya, dan menatap laki-laki bercambang yang sudah beberapa kali dilihatnya. Laki-laki teman ibu tirinya.

“Mana yang sakit? Mana yang luka?”

Tidak usah bertanya juga sudah kelihatan luka yang diderita Wijan. Lengannya berdarah, pipi sebelah kiri terluka. Baju sekolahnya robek.

“Cepat bawa ke rumah sakit, kalau ada polisi lewat urusan bisa lebih panjang."

Laki-laki penabrak itu adalah Baskoro, yang akan kembali ke kantor setelah bertemu Rusmi. Ia segera menitipkan sepeda Wijan yang rusak di sebuah warung, lalu membawa Wijan ke rumah sakit terdekat.

***

Nilam yang berusaha tidur tak berhasil memejamkan mata. Sudah jam tiga lewat, Wijan belum juga datang. Ia mendengar langkah-langkah kaki memasuki rumah, lalu terdengar suara ibunya di ruang tengah.

“Apa? Menabrak apa? Anak sekolah? Kamu ceroboh. Berapa? Baiklah, aku transfer sekarang juga. Pastikan kamu membereskan semuanya, jangan sampai menjadi kasus yang membawa-bawa polisi. Bawa sekalian sepedanya ke bengkel. Baik, aku tahu. Sekarang juga aku transfer ke rekening kamu.”

Nilam berdiri di balik pintu, menatap ibunya yang mengutak atik ponselnya.

Siapa yang menabrak? Apa atau siapa yang ditabrak? Mengapa ibunya sibuk memikirkannya dan mentransfer sejumlah uang yang entah berapa jumlahnya. Nilam semakin tidak mengerti. Sebenarnya ibunya berhubungan dengan siapa? Tadi tentang sebuah rencana yang pastinya adalah rencana jahat, sekarang tentang kecelakaan?

Tiba-tiba bibik setengah berlari mendekati Rusmi yang baru saja menutup ponselnya.

“Bu, ini mas Wijan telpon. Katanya dia ditabrak sepeda motor, jadinya pulang agak terlambat.”

“Apa?”

Bukan hanya Rusmi yang terkejut. Nilam segera menghambur mendekati bibik.

“Mas Wijan kenapa?” Nilam panik.

“Baru saja menelpon bibik. Dia ada di rumah sakit. Tapi tidak harus dirawat. Sekarang sudah mau pulang."

“Bagaimana keadaannya?”

“Katanya sih, hanya luka ringan. Semoga tidak apa-apa.”

Nilam berlari ke arah teras, duduk menunggu kepulangan Wijan, sedangkan Rusmi termenung di ruang tengah.

“Mengapa begitu kebetulan? Jangan-jangan yang ditabrak Baskoro adalah Wijan,” gumam Rusmi. 

Ia ingin bertanya pada Baskoro, kejadiannya di mana dan siapa yang di tabrak, ketika tiba-tiba Wijan datang dengan kepala dibalut perban, demikian juga lengannya.

“Mas Wijaaaan!” teriakan Nilam sangat memilukan. Ia berlari lalu menubruk kakaknya dengan tangis yang mengharu biru.

“Mas Wijan kenapa? Sakit ya lukanya?”

Wijan mengelus kepala Nilam, tersenyum haru menyaksikan betapa sayang adik tirinya ini kepada dirinya.

“Mas tidak apa-apa. Mengapa kamu menangis? Diamlah, biar Mas ganti baju dulu.”

Rusmi berdiri di teras, menatap anaknya yang merangkul kakak tirinya sangat erat.

“Kecelakaan di mana?”

“Perempatan dekat kantor pos, Bu,” jawab Wijan sambil mengajak Nilam masuk ke rumah.

“Nilam kenapa sih, seperti anak kecil saja,” tegur ibunya yang segera menelpon Baskoro.

***

Pak Rangga mendapat laporan, ada barang datang tapi Baskoro belum kembali ke kantor. Pak Rangga menggerutu tak habis-habisnya, karena akhir-akhir ini Baskoro kurang fokus pada pekerjaannya. Sering keluar kantor dan kembali melebihi jam yang sudah ditentukan.

Ia menelpon Baskoro tapi tak diangkat.

“Katanya pulang ke rumah. Apa dia ketiduran?” gumam pak Rangga kesal.

Sebuah panggilan dengan interkom dari Raharjo, membuatnya bergegas mendatangi ruangannya.

“Baskoro barusan menelpon,” kata Raharjo.

“Saya menghubunginya tapi tidak bisa.”

“Dia menabrak anak sekolah. Jadi harus mengantarkan ke rumah sakit, dan mengurus sepedanya ke bengkel.”

“Anak itu naik sepeda?”

“Katanya begitu. Aku jadi khawatir. Anakku kalau sekolah juga bersepeda.”

“Kenapa Bapak tidak menghubungi putra Bapak. Oh ya, apakah itu Wijanarko?”

“Ya, Wijan selalu naik sepeda setiap sekolah. Baiklah, akan aku telpon dia.

Tapi yang menjawab adalah Nilam.

“Hallo, Bapak. Mas Wijan kecelakaan,” jawabnya dengan tangis.

***

Besok lagi ya.

 

 

 


Monday, December 11, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 12

 BUNGA UNTUK IBUKU  12

(Tien Kumalasari)

 

Rusmi terkejut ketika menyadari sang suami sudah berdiri di tengah-tengah pintu. Dengan menampakkan wajah sedih dia memegang pundak Wijan.

“Saking sayangnya pada kakaknya ini, Nilam selalu minta bonceng dia saat pergi dan pulang sekolah. Itu pasti karena Wijan sangat menyayanginya. Ya kan Jan?” katanya lembut kepada Wijan.

Raharjo tak menggubris apa yang dikatakan sang istri. Ia mendekati ranjang dimana Nilam berbaring, dengan tempelan lap basah di dahinya. Raharjo mengambilnya, mengganti dengan lap baru yang disediakan bibik di atas nakas.

“Kamu kenapa?”

“Nilam hanya merasa lemas. Tadi ekstrakurikuler sampai sore,  Nilam capek.”

“O, jadi kalian baru pulang agak sore? Memangnya kamu mengikuti ekstrakurikuler apa?”

“Menari?”

“Wow, kamu suka menari rupanya. Menari apa? Balet? Tari-tari modern? Baru sekarang bapak mendengar kamu suka menari.”

“Tari Jawa.”

“Haaa, tari Jawa? Bagus sekali. Bapak suka kebudayaan Jawa.”

“Kalau sudah sembuh, Nilam mau menari buat Bapak.”

Raharjo tertawa. Entah mengapa, anak tirinya yang satu ini selalu membuatnya senang.

“Benar? Bibik, apa Nilam sudah diberi obat?”

“Belum Pak, mbak Nilam juga belum makan.”

“Lhoh, kenapa belum makan? Wijan tidak mengajak adiknya makan?” tanyanya kepada Wijan.

“Kami baru datang.”

“Makan dulu ya?” kata Raharjo sambil memberi isyarat kepada bibik agar mengambilkan makan untuk Nilam.

“Nggak mau, perutnya mual.”

”Ini karena kamu terlambat makan. Apa kamu tidak membawa bekal?”

“Membawa dong Pak, tadi ibu bawakan dua potong roti dengan potongan besar. Biasanya juga begitu." Sambung Rusmi

“Nilam berikan kepada teman.”

“Apa? Kenapa diberikan teman? Dan kamu sendiri kelaparan?”

“Kasihan sama dia.”

Bibik masuk ke ruangan dengan membawa makanan, dengan kuah sup hangat.

“Mbak Nilam makan dulu, ya.”

“Perutnya mual.”

“Harus makan dulu, sedikit juga nggak apa-apa.”

“Mau makan sama mas Wijan.”

Bibik mundur, menoleh kepada Wijan. Tapi Wijan bergeming. Ada ibunya di situ, pasti akan melarangnya mendekat. Tadi saja dia sudah didorong kesamping agak menjauh.

”Kamu manja sama kakakmu ya. Kamu itu sudah besar. Wijan, sini,” kata Raharjo sambil melambaikan tangan ke arah Wijan. Wijan pun mendekat.

“Suapin adikmu.”

Nyatanya Nilam mau dua tiga sendok setelah Wijan menyuapinya. Pada suapan ke empat, Nilam menolaknya.

“Sudah, aku mau muntah.”

Wijan terpaksa tak berani memaksanya.

“Jangan beri obat apapun. Kita panggil dokter langganan saja,” perintah Raharjo.

Rusmi bergegas menelpon dokter.

“Bibik, sebaiknya baju Nilam diganti dulu,” kata Wijan yang kemudian membawa sisa makanan Nilam keluar dari kamar. Raharjo mengikutinya.

“Kamu sudah makan?”

“Nanti saja.”

“Ayo makan bareng bapak. Bapak juga belum makan,” kata Raharjo yang kemudian menggandeng tangan Wijan ke arah ruang makan.

***

Setelah suaminya pergi, Rusmi mengomeli Nilam dengan nada kesal.

“Ini semua karena kamu tidak menurut apa kata ibu. Membonceng sepeda itu terkena angin, dan panas. Bahkan hujan, kalau sedang musim hujan. Dan itu tidak baik untuk kesehatan kamu. Kenapa kamu tidak mendengar kata-kata ibu? Sebegitu besarnya pengaruh Wijan atas diri kamu?”

Sebenarnya Nilam enggan untuk berkata-kata, karena tubuhnya terasa lemas. Tapi ia sangat tidak menyukai apa yang dikatakan ibunya. Karena itu walau dengan suara lirih, maka dia mengatakannya.

“Ibu lupa ya? Waktu saya masih SD, saya bahkan berjalan kaki setiap berangkat dan pulang sekolah. Kita tidak punya sepeda, apalagi mobil,” katanya sambil membalikkan tubuhnya memunggungi ibunya.

“Apa? Kamu sekarang pintar berkata-kata. Siapa mengajari kamu?”

“Nilam sudah besar. Nilam tahu apa yang baik dan buruk,” katanya lalu menutupi kepalanya dengan bantal.

Rusmi membanting banting kakinya dengan marah. Ketika itulah suaminya masuk, diiringi dokter yang dipanggilnya.

“Kamu kenapa?”

“Ini … Nilam itu kan sangat bandel. Eh, selamat datang dokter, silakan diperiksa, itu, anak saya yang bandel.”

Dokter perempuan langganan keluarga Raharjo itu segera memeriksa Nilam. Rusmi keluar untuk mencari bibik, agar membuatkan minuman. Di ruang makan ia berhenti sejenak untuk memelototi Wijan yang sedang duduk di meja makan. Ia sudah hampir menyemburkan kata-kata menyakitkan ketika tiba-tiba suaminya muncul di belakangnya.

“Maaf Wijan, bapak tinggal sebentar, karena harus mempersilakan dokter yang akan memeriksa Nilam,” katanya sambil kembali duduk.

Rusmi segera merubah wajahnya yang semula menyala, menjadi lembut.

“Wijan, makan yang banyak. Ini sudah terlambat waktunya makan. Mulai besok ibu akan membawakan kamu bekal agar bisa dimakan di sekolah, jadi tidak sampai menjadi sakit perut seperti Nilam tuh,” katanya sambil menyentuh bahu Wijan.

Wijan hanya mengangguk. Tapi Raharjo tak terusik dengan ucapan manis itu. Rupanya ia sudah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati istrinya, dan bagaimana sikap sebenarnya sang istri dan Hasti kepada anak semata wayangnya itu.

Rusmi menemaninya duduk.

“Ibu makan nanti saja, menunggu dokternya selesai memeriksa Nilam. Katanya sambil meletakkan sepotong paha ayam di piring Wijan.

“Wijan sudah hampir selesai, Bu,” kata Wijan yang ingin mengembalikan paha ayam itu, tapi Rusmi menahannya.

“Makan saja, dan habiskan. Badan kamu kurus ceking begitu. Makan yang banyak, biar gemuk. Kalau kamu agak gemukan sedikit, kamu pasti bertambah ganteng,” katanya manis.

Wijan menggigit paha ayam itu, yang serasa tersekat di tenggorokan. Ia sadar semua itu tidak tulus. Hanya sebuah pameran yang diperlihatkannya di depan ayahnya. Wijan paham benar.

“Apa kamu ingin agar bapak membelikan kamu mobil?” tanya Raharjo tiba-tiba.

Bukan hanya Wijan yang terbelalak, tapi Rusmi pun begitu. Mobil untuk Wijan?

“Bapak bicara sama Wijan?” tanya Wijan heran.

“Iya, tentu saja. Kan kamu yang belum punya mobil di rumah ini. Supaya kamu tidak kelihatan seperti gembel,” katanya tajam, tapi wajah Rusmi menjadi pucat. Dia baru saja mengatakan ungkapan gembel itu ketika mengomeli Nilam.

Wijan tertawa lirih.

“Bapak ada-ada saja. Memangnya gembel itu apa? Seseorang menjadi gembel, bukan karena dia menginginkannya. Itu adalah takdir yang harus diterimanya, dan bukan berarti dia adalah manusia hina,” katanya, lalu kembali menggigit paha ayamnya.

Raharjo yang sekarang membelalakkan matanya. Begitu takjub kata bijak itu keluar dari mulut seorang muda seumur Wijan. Siapa mengajarkannya?

Rusmi diam terpaku. Wajahnya pucat. Ia meraih minuman yang tersedia di depannya.

“Bukankah yang hina adalah perilaku yang tidak terpuji?”

“Baiklah. Tapi kamu mau kan?”

“Mau apa? Mobil? Tidak. Wijan belum memerlukannya. Naik sepeda lebih nyaman, dan lebih sehat lhoh,” kata Wijan sambil meletakkan tulang pahanya.

Raharjo tersenyum. Sesungguhnya Raharjo hanya mengatakan tentang beli mobil untuk Wijan itu, untuk menyindir istrinya yang tadi mengatakan bahwa naik sepeda itu seperti gembel. Satu demi satu catatan tentang istri dan anak-anak tirinya dirangkai di benaknya.

“Bapak bangga sama kamu,” katanya bergetar, penuh haru.

Rusmi segera berdiri, sebelum dia pingsan mendengar pembicaraan ayah dan anak yang serasa mengiris perasaannya itu.

“Ibu mau melihat dokternya dulu, barangkali sudah selesai,” katanya sambil berlalu.

***

Ternyata tidak ada yang mengkhawatirkan pada sakit yang diderita Nilam. Ia hanya telat makan dan tidak memperhatikan saat-saat makan dengan baik. Ada sedikit gangguan lambung yang kemudian dokter memberinya resep yang diberikannya kepada Rusmi.

“Apa kata dokter?” kata Raharjo di ruang makan, setelah dokter itu tergesa pulang karena sudah saatnya praktek di rumah.

“Ada gangguan di lambung. Dia memberikan resep, ini resepnya.”

“Wijan, setelah kamu makan, belikan obat untuk adik kamu di apotik,” perintah Raharjo kepada Wijan.

“Baik, Pak. Saya sudah selesai makan.”

Wijan bergegas berdiri sambil membawa ke belakang piring kotornya, lalu kembali kepada sang ayah untuk meminta resepnya.

“Tunggu, uangnya akan bapak ambilkan.”

***

Rusmi merasa, sikap Raharjo sangat berbeda beberapa hari terakhir ini. Ia menyesal telah kelepasan bicara yang nggak enak dan kedengaran oleh suaminya. Karenanya ia kemudian menebusnya dengan bersikap sangat manis, bahkan dengan Wijan yang selalu dianiaya.

Ketika pulang dari apotik, Rusmi bahkan memberikan segelas jus jeruk kepada anak tirinya, dengan sikap yang berbeda, walau suaminya tak ada di dekatnya. Siapa tahu tiba-tiba dia muncul dan memuji kebaikan hatinya.

“Wijan, udara sore sangat panas bukan?"

"Ya, bu."

 "Sudah obatnya?”

“Sudah, ini Bu,” kata Wijan sambil menyerahkan obatnya.

“Anak baik, terima kasih ya. Oh ya, ini ada jus jeruk, minumlah, agar gerahnya hilang. Bukankah apotik lumayan jauh dari rumah?”

“Sudah Bu, nanti Wijan ambil sendiri.”

“Jangan begitu, ibu sudah susah-susah menyiapkannya untuk kamu lhoh, ayo, minumlah.”

Wijan menerimanya dengan benak penuh tanda tanya. Tak kelihatan ada sang ayah, tapi sikap ibu tirinya begitu manis. Ia pun meneguk jus jeruk itu setelah mengucapkan terima kasih.

Rusmi memasuki kamar Nilam sambil membawa obatnya.

“Nilam, ini obatnya. Diminum ya, mas Wijan tadi yang membelikannya. Pasti manjur deh, karena yang membelikan adalah kakak yang menyayangi,” katanya sambil menyiapkan obatnya.

Nilam membuka matanya, menatap ibunya heran. Ia melongok ke pintu, ibunya menyebut kakak yang menyayanginya, pasti yang dimaksud adalah Wijan, mengapa begitu manis? Adakah sang ayah di kamar itu? Ternyata tidak. Ini terasa aneh. Tapi Nilam tak sempat berpikir lama, karena ibunya sudah membantunya duduk untuk meminumkan dua macam obat kepadanya.

***

Pagi itu Wijan bersiap untuk berangkat ke sekolah sendirian, karena Nilam tidak diijinkan masuk sekolah terlebih dulu, walau badannya sudah merasa lebih enak.

“Kamu harus istirahat dulu, paling tidak sehari ini, supaya benar-benar sembuh,” kata sang ayah ketika menjenguk ke dalam kamarnya.

“Baik, Pak. Apa mas Wijan sudah berangkat?”

“Sepertinya belum. Dia baru selesai sarapan. Nanti akan bapak suruh dia pamit sama kamu.”

Nilam mengangguk sambil tersenyum.

Raharjo masuk ke dalam kamarnya, sayup didengarnya sang istri sedang bicara dengan Wijan. Begitu bersahabat, seperti ibu dan anak.

“Wijan, ini bekal untuk kamu. Jangan sampai pulang dengan rasa lapar. Nanti perut kamu sakit seperti Nilam.”

“Terima kasih Bu.”

Bibik yang sudah menyiapkan bekal untuk Wijan seperti biasa dilakukannya, urung menyisipkan bekal ke dalam tas sekolah Wijan, karena nyonya majikannya sudah menyiapkan nasi dan ikan goreng yang diberikannya kepada anak tirinya. Bibik pun merasa heran. Sepertinya tak ada sang tuan, tapi ibu tiri yang biasanya kejam itu bersikap sangat manis.

“Tumben. Apakah ada setan lewat?” gumam bibik dalam hati.

Ia kemudian melihat Wijan masuk ke kamar Nilam untuk berpamitan.

“Baik-baik di rumah ya, istirahat saja, jangan keluar dari kamar,” pesan Wijan sambil mengacak rambut adiknya.

“Iya, tapi aku sebenarnya sudah nggak sakit.”

“Jangan bandel,” kata Wijan sambil memelototi adiknya.

Nilam tersenyum.

“Galak benar. Hati-hati ya Mas,” pesannya sambil melambaikan tangan.

***

Raharjo bersiap untuk berangkat ke kantor, Rusmi menyerahkan kunci  mobilnya.

“Mobil Bapak kan belum jadi? Pakai saja mobil ini, aku tidak akan pergi ke mana-mana.”

Raharjo menerima kunci mobil itu. Memang sebelumnya dia akan memakai mobil istrinya karena mobilnya belum jadi.

“Jacket itu masih tertinggal di kantor satpam. Aku lupa menanyakannya, dan satpam juga agaknya lupa menyerahkannya.”

“Tidak apa-apa, nanti aku bilang pada Pingkan tentang jacket itu,” katanya sambil mencium tangan suaminya.

Raharjo tak menanggapi. Ia masih saja merasa bahwa sikap istrinya tampak dibuat-buat. Ia langsung menuju ke mobil, dan membawanya keluar tanpa mengucapkan apapun.

Namun begitu suaminya sudah tak kelihatan lagi, Rusmi segera masuk ke kamarnya, mengambil ponselnya dan menelpon Baskoro.

Tapi lama sekali panggilan itu tidak segera diangkat. Rusmi sudah merasa kesal. Seperempat jam kemudian panggilan itu baru tersambung.

“Kenapa lama sekali?” tegurnya.

“Aku sedang di jalan, mana berani mengangkat telpon. Jalanan ramai sekali.”

“Sekarang kamu sudah di kantor?”

“Di parkiran. Ada apa? Aku harus buru-buru masuk ke dalam, jangan sampai keduluan pak Raharjo.”

“Oh, begitu ya. Ya sudah. Nanti saja saat istirahat aku menelpon lagi.”

“Sudah sangat kangen, baru sehari saja tidak ketemu? Nanti mau mengajak ketemuan?”

“Tidak. Aku sudah bilang, jangan dulu.”

“Lalu kenapa menelpon?”

“Aku akan membicarakan sebuah rencana. Perasaanku mulai gerah.”

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, December 9, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 11

 BUNGA UNTUK IBUKU  11

(Tien Kumalasari)

 

Ketika Raharjo tertegun, pak Rangga pun tertegun. Ada banyak pertanyaan, bagaimana istri pak Raharjo mengantarkan Baskoro ke kantor. Atau, ada sopir yang mengantarnya? Masa bu Raharjo sendiri mengantarkan Baskoro? Ingin ditanyakannya oleh pak Rangga, tapi tak sampai hati mengeluarkan kata-kata itu. Apakah itu sepengetahuan pak Raharjo atau tidak ya. Ia sudah tahu bahwa Baskoro suka main perempuan, tapi masa ia juga berani main-main dengan istri atasannya?

Pak Rangga menepis perasaannya sendiri.

Tapi Raharjo merasa aneh. Kapan Baskoro diantar istrinya ke kantor? Kalau ke kantor mengapa tidak menemuinya? Dan disaat apa sang istri harus mengantarkan Baskoro? Kenapa dia tidak pernah tahu?

Sampai ke depan ruang kerja Raharjo, pak Rangga masih tetap tak mengucapkan apapun tentang mobil itu. Tapi Raharjo justru bertanya.

“Kapan Baskoro diantar mobil istriku?”

“Mm … itu … beberapa hari yang lalu, ketika Baskoro terlambat kembali ke kantor, dengan alasan ada urusan keluarga.”

“Tapi benarkah yang pak Rangga lihat itu benar mobil seperti yang aku bawa?”

“Rasanya saya tidak salah lihat. Plat nomornya adalah plat nomor mobil baru.”

“Oh, mungkin mereka ketemu di jalan,” kata Raharjo sambil meraih gagang pintu ruang kerjanya,

“Tapi Baskoro bilang diantar keponakannya.”

Raharjo hanya menatap pak Rangga, tanpa mengucapkan apapun. Ia masuk ke ruang kerjanya, tapi kemudian ia membuka lagi pintunya.

“Pak Rangga.”

Pak Rangga berhenti melangkah, kembali mendekati atasannya.

“Yang saya bicarakan kemarin, pak Rangga sudah mengerti kan?”

“Sudah Pak, akan segera saya urus.”

“Baiklah, dan ingat. Hanya pak Rangga yang mengetahui semua itu, karena saya hanya mempercayakannya pada pak Rangga.”

“Saya mengerti.”

Raharjo mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamar kerjanya.

Ketika ia duduk di kursi kerjanya, ia baru ingat untuk menyuruh sopir kantor untuk menghubungi bengkel karena mobilnya mogok.

Raharjo masih kepikiran tentang Baskoro yang diantar istrinya. Atau ada orang lain yang membawa mobilnya lalu disuruhnya mengantarkan Baskoro kembali ke kantor? Tapi siapa, mengapa?

Raharjo menghubungi ruangan Baskoro  melalui interkom. Terdengar jawaban gugup dari sana.

“Ke ruanganku sekarang.”

Baskoro gemetar saat menarik pintu ruangan sang atasan.

Ia langsung duduk di depannya, menatap sang atasan dengan wajah pucat.

“Kamu sakit?” tanya Raharjo. Tak ada nada kemarahan pada ucapan itu.

“Saya, baik-baik saja, Pak.”

“Tapi wajahmu tampak pucat.”

“Hanya sedikit masuk angin.”

Raharjo mengangguk.

Mobilku mogok, tapi masih di rumah. Tolong hubungi bengkel untuk mengambil dan mengurusnya.

Hati Baskoro mencelos. Rupanya Raharjo bukan ingin memarahinya.

“Mobil istriku sedang dicuci, mungkin di tempat cucian yang tidak jauh dari sini. Tolong kalau sudah siap, kamu antarkan ke rumah, ya.”

“Saya?” tanya Baskoro tak percaya

“Kenapa? Bukankah biasanya kamu yang mengetahui bengkel langganan aku? Jadi sekalian saja antarkan mobilnya ke rumah.”

“Ya Pak, benar.”

“Ya sudah, lakukan sekarang. Tunggu  mobil Rusmi selesai dicuci.”

“Baik.”

Baskoro bergegas keluar dari ruangan itu, tujuannya satu, menyusul ke tempat cucian mobil untuk mengambil jacketnya. Dia merasa beruntung, Raharjo tidak tahu ada jacket orang lain yang ada di dalam mobil. Baskoro bernapas lega. Buktinya dia tidak mendapat teguran, juga pertanyaan apapun.

***

Ketika sampai di tempat cucian mobil, ia menemukan mobil hijau lumut itu sedang dibersihkan. Petugas sedang menyemburkan air dari selang untuk mengguyur mobil tersebut. Karena buru-buru ingin mengambil jacket yang menurutnya masih ada di dalam itu, maka tanpa sengaja tubuhnya terguyur air. Ia berteriak dan gelagapan.

“Hei, apa kamu tidak melihat ada orang?” teriaknya sambil menghapus wajahnya dari guyuran air, sedangkan pakaiannya pun basah kuyup.

Petugas yang tidak sengaja itupun merangkapkan kedua tangan dengan meminta maaf bertubi-tubi.

“Maaf Pak, sungguh saya minta maaf. Habis bapak datang tiba-tiba, sementara saya sedang membawa selang yang mengucur. Aduh, pakaian Bapak basah kuyup begini. Maaf ya Pak, bagaimana ini?”

“Dasar bodoh! Ceroboh!!”

Tapi tanpa memperhatikan pakaiannya yang basah kuyup, ia melongok ke dalam mobil, mencari keberadaan jacket yang tertinggal.

“Maaf, Bapak mencari apa?”

“Jacket. Kamu melihat jacket di dalam sini?”

“Oh, jacket hitam?”

“Iya, mana?”

“Sudah diambil oleh satpam itu.”

“Apa?”

“Diambil satpam itu. Takutnya jacket bapak direktur basah ketika mobil dibersihkan.”

“Celaka. Kemana dia?”

“Kenapa celaka Pak? Dia sudah kembali ke kantor, nanti katanya akan diambil sekitar satu jam lagi.”

“Celaka …!”

Baskoro setengah berlari kembali ke kantor, yang memang letaknya tidak jauh dari tempat pencucian mobil itu.

Di halaman kantor, di ruang satpam, Baskoro menjadi bahan tertawaan karena badannya basah kuyup.

“Pak Baskoro kenapa?”

“Kalau mandi pakaiannya dibuka dong pak?”

“Ini … gara-gara ke tempat cucian mobil,” jawab Baskoro dengan wajah bingung.

Dan beberapa orang terbahak-bahak.

Baskoro tak peduli, yang dipikirkannya adalah jacket itu.

“Kamu mengambil jacket di mobil pak Raharjo?” tanyanya kepada satpam.

“Iya. Takutnya basah kalau dibiarkan.”

“Mana jacket itu?”

“Sudah aku serahkan ke pak Raharjo.”

“Apa?”

“Memangnya kenapa Pak? Itu bukan punya pak Baskoro kan?”

“Buk … bukan .. Eh, ya sudah, aku mau pulang dulu. Ganti pakaian,” kata Baskoro yang tubuhnya serasa melayang-layang karena ketakutan yang melanda. Ia menuju ke arah parkiran, mengambil motornya dan kabur pulang. Niatnya untuk berganti pakaian. Tapi tentu saja pikiran menjadi tidak tenang.

***

Sementara itu di kantor, pak Raharjo sedang menelpon istrinya, yang dijawab dengan ketakutan juga.

“Jadi jacket siapa yang tertinggal di dalam mobil kamu? Baunya apak sekali.”

“Oh … ya ampun … itu kan … itu kan … tadi ibu jalan … eh … kemarin jalan sama Pingkan, teman arisan, untuk … itu Pak, mencari rumah teman lama kami yang ada di luar kota. Karena harus mencari-cari … Pingkan menyuruh sopirnya untuk membawa mobil ibu. Mm … mungkin itu jacket sopirnya deh.”

”Baunya … huhh, kenapa juga jacketnya dilepas di dalam mobil? Dan karena itu mobil kamu sedang dicuci di tempat cucian mobil.”

Pak Raharjo menutup ponselnya dengan sedikit kesal. Ia segera menyuruh OB untuk membungkus jacket itu rapat-rapat, agar baunya tidak menguar keluar, lalu menyuruh juga meletakkannya di kantor satpam.

“Aneh, dari tadi urusan jacket. Pak Baskoro menanyakan jacket, lalu pak Raharjo menyuruh meletakkan jacket itu di sini setelah dibungkus rapat. Sebenarnya jacket siapa sih ini?”

Sekarang Raharjo sedang mencari Baskoro, yang tiba-tiba menghilang.

“Pak Baskoro pulang Pak, katanya mau ganti pakaian,” jawab satpam jaga yang ditanyainya.

“Pulang? Ganti pakaian?”

“Iya Pak, datang dari tempat cucian mobil, bajunya basah kuyup.”

“Lhoh, kenapa?”

“Saya kurang tahu Pak, mungkin di sana dia keguyur air dari selang semprotan itu.”

Raharjo geleng-geleng kepala. Ada banyak hal aneh yang ditemukannya dan membuat benaknya bertanya-tanya. Ada rasa yang tak mampu diungkapnya karena semuanya terasa tak mungkin, lalu disimpannya saja di dalam hatinya.

Hari itu dia sedang membicarakan sesuatu dengan pak Rangga. Ada seorang notaris berbincang bersama tak lama setelah pak Rangga menelponnya. Rupanya ada hal penting yang harus mereka bicarakan.

***

Suri yang sedang memasak, merasa heran melihat suaminya pulang dengan baju basah kuyup. Ia mendekati sang suami yang sedang berganti pakaian dan menatap wajah sang suami yang tampak pucat.

“Ada apa sih Mas? Kok basah kuyup begini? Mas sakit?”

“Sudah, diam. Bawa baju-baju ini ke tempat cucian, jangan banyak bertanya.”

“Ya ampun, diperhatikan istri kok jawabnya sadis begitu,” kata Suri sambil memungut baju dan semua pakaian Baskoro yang terserak di lantai.

Baskoro tak bisa merasa tenang. Ia sudah berganti pakaian dan siap kembali ke kantor ketika ponselnya berdering. Dari Rusmi. Gemetar tangan Baskoro ketika mengangkatnya. Ia membayangkan sudah terjadi perang diantara atasan dan istrinya.

“Ya, Bu.”

“Bapak menanyakan jacket itu.”

“Ya Tuhan,” Baskoro merasa lemas.

“Sudah aku jawab. Semoga dia percaya.”

“Ibu jawab apa?”

“Jacket sopir teman aku yang tertinggal di mobil.”

“Ah …. syukurlah,” Baskoro bernapas lega. Sekarang dia memacu motornya untuk kembali ke kantor dengan perasaan lega. Ia merasa selamat dari kemarahan Raharjo, luput dari bencana pecat yang sudah dibayangkannya. Mana dia tahu bahwa masih ada sesuatu yang dipikirkan atasannya tentang dirinya.

***

Baskoro memasuki ruang kerjanya, dan memeriksa laporan barang-barang yang masuk dan keluar, karena itu memang tugasnya. Hatinya yang merasa lebih tenang, membuatnya bisa bekerja dengan baik. Ia bahkan punya tugas untuk mengantarkan mobil Rusmi setelah dicuci, bukankah itu menandakan bahwa pak Raharjo tidak mencurigainya?

Satu jam berlalu, tak ada perintah apapun dari Raharjo. Satpam yang mendapat tugas memasuki ruangannya, lalu menyerahkan kunci mobil.

“Pak Baskoro, ini perintah dari pak Raharjo, mobil yang dicuci sudah selesai, pak Bas diminta mengantarkan ke rumahnya.”

“Oh ya, baiklah, taruh saja di situ, aku selesaikan dulu pekerjaan ini.”

Satpam meletakkan kunci dan berlalu. Senyuman Baskoro melebar, sebaiknya diantar saat istirahat saja, pasti Rusmi sekalian mengajaknya makan dan bersenang-senang.

Lalu ia melanjutkan pekerjaannya, dengan senyum mengembang. Wajah cantik Rusmi melintas. Senyuman yang memikat, gaya yang menawan, pelayanan yang menghanyutkan, membuat dadanya berdegup kencang. Ia menengok jam di tangannya, satu jam lagi saat istirahat. Tapi tiba-tiba interkom di ruangannya berbunyi. Baskoro mengangkatnya dengan kesal.

“Ya.”

“Bas, antar mobilnya sekarang. Ibu mau memakainya jam sebelas ini,” perintah pak Raharjo yang membuatnya terkejut.

“Baik Pak, saya antarkan sekarang.”

Baskoro menutup berkas laporan yang sudah diperiksanya, kemudian beranjak pergi. Ini kan namanya pucuk dicinta ulam tiba?

Ia meraih kunci mobil Rusmi dan beranjak keluar ruangan. Lebih cepat ketemu Rusmi, akan lebih menyenangkan. Kalau ia terlambat kembali ke kantor, tak apa-apa, kan ada alasan bahwa sudah saatnya jam istirahat tiba?

***

Tapi ketika sampai di rumah Rusmi, ternyata Rusmi menolak untuk pergi.

“Hari ini lebih baik kita menahan semua keinginan Bas, perasaanku tidak enak.”

“Tidak enak bagaimana?”

“Tentang jacket itu, jangan-jangan bapak mencurigai sesuatu.”

“Bukankah kamu sudah memberikan alasannya? Lalu di mana sekarang jacket itu?"

"Entahlah, aku belum menanyakannya."

"Oh  semoga tidak menjadi masalah."

“Aku merasa gugup ketika menjawabnya. Kalau bapak curiga, bagaimana? Jadi sekarang lebih baik kamu tinggalkan saja mobilnya, kembalilah ke kantor segera. Barangkali kita perlu mendinginkan suasana, meredam rasa curiga, barangkali ada. Jadi maksudku, untuk beberapa hari ini lebih baik kita tidak bersama dulu.”

“Kamu membuat aku kecewa, tapi tidak apa-apa, aku bisa menerima maksud baik kamu. Barangkali itu benar, lebih baik kita mendinginkan suasana terlebih dulu, apalagi suasana hati yang sebenarnya sudah mendidih ini,” kata Baskoro sambil tersenyum nakal.

“Sekarang pulanglah.”

“Mobil pak Raharjo sudah diambil orang bengkel?”

“Sudah.”

Baskoro bersiap untuk pulang, tapi sebelumnya dia mencuri elusan di pipi Rusmi. Gemas rasanya kalau belum menyentuhnya. Rusmi terkekeh genit. Tapi tanpa mereka sadar, bibik melihat adegan tak senonoh itu. Bibik berlari cepat ke belakang sambil mengelus dadanya.

“Astaghfirullah … bagaimana mereka bisa melakukannya? Keterlaluan,” gumamnya dengan kaki gemetar.

***

Hari itu seperti biasa, Nilam pulang sekolah dengan membonceng Wijan. Mereka pulang agak sore, karena Nilam mengikuti tambahan ekstrakurikuler di sekolahnya.

Nilam melihat mobil ibunya ada di halaman, agak heran melihat ibunya tidak bepergian hari itu. Tapi ia tak peduli. Ia juga tak melihat ibunya ada di ruangan, pasti sedang berada di kamarnya. Nilam merasa badannya terasa tak enak. Ia segera masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya.

Bibik yang sudah menyiapkan makan siang untuk keduanya, terkejut ketika memasuki kamar Nilam untuk memberi tahukan bahwa makan siang sudah siap, dan melihat Nilam tertidur dengan memeluk guling, bahkan tanpa mengganti baju sekolahnya terlebih dulu.

“Mbak Nilam kenapa? Aduh, kok badannya panas sekali?” pekik bibik ketika memegang dahi Nilam. Ia segera bergegas kebelakang. Wijan yang sudah duduk menunggu di ruang makan, terkejut melihat bibik buru-buru masuk ke dapur, tampak seperti gugup.

“Ada apa Bik, mana Nilam?”

“Kelihatannya, mbak Nilam sakit. Badannya panas sekali. Bibik akan mengompresnya.”

Wijan terkejut. Ia bangkit dari kursinya dan bergegas memasuki ruangan adiknya.

“Nilam, kamu kenapa? Ya ampun, badan kamu panas sekali. Pantas sejak tadi kamu diam saja.

“Tidak apa-apa Mas, aku hanya merasa lemas.”

Bibik datang, kemudian mengompres kening Nilam dengan lap dingin.

Saat itulah Rusmi masuk.

“Ada apa?”

“Ini Bu, kelihatannya mbak Nilam sakit, badannya panas."

“Apa? Bagaimana bisa terjadi? Ini akibatnya kalau kamu setiap hari membonceng sepeda seperti gembel!!” teriak Rusmi sambil menyingkirkan tubuh Wijan yang berdiri khawatir di samping ranjang.

Raharjo yang baru pulang dari kantor terpaku dipintu mendengar ucapan istrinya.

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...