Friday, December 8, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 10

 BUNGA UNTUK IBUKU  10

(Tien Kumalasari)

 

Mendengar kakaknya memarahi Wijan dengan kata kasar, Nilam ikut naik pitam. Ia mendekati sang kakak dan menarik tangannya.

“Kenapa Mbak Hasti begitu jahat sama mas Wijan? Memang kenapa kalau mas Wijan punya ponsel baru?”

“Kamu anak kecil tahu apa? Minggir. Bodoh kalau kamu selalu membela dia,” kata Hasti sambil mengibaskan tangan Nilam.

“Yang bilang pada bapak bahwa Mbak ingin menukar ponsel itu aku. Bukan mas Wijan.”

“Kamu?”

“Iya, aku. Aku dengar ketika Mbak menelpon mas Wijan,” kata Nilam dengan berani.

“Dasar anak bodoh. Kamu jahat kepada kakak kamu sendiri.”

“Mbak Hasti yang jahat. Aku tidak mau membela yang jahat.”

“Sudah … sudah … jangan ribut, nanti bapak sama ibu mendengar, kalian akan dimarahi. Kalau mau menukar ponsel aku_”

“Jangan. Jangan mengalah sama mbak Hasti, dia akan semakin menindas, nanti.”

“Dasar anak bodoh. Dia itu bukan siapa-siapa.”

“Dia itu saudara kita, karena ayahnya juga ayah kita.”

“Diam, bodoh! Awas nanti aku bilang sama ibu atas kelakuan kamu itu,” kata Hasti yang kemudian beranjak pergi. Wijan menatapnya sedih. Bukan karena ponsel itu, tapi karena melihat saudara tirinya selalu jahat kepada dirinya. Wijan selalu bertanya, apa salahku? Belum ada jawab yang ditemukannya. Ia merasa sudah sangat patuh dan menuruti apa kata mereka, mengapa selalu salah dan dianggap buruk?

Nilam mendekatinya dengan tersenyum manis.

“Jangan sedih. Aku akan selalu membela mas Wijan.”

Wijan mengelus kepala adik tirinya dengan sayang. Kalau tidak ada Nilam, barangkali dunia akan menjadi semakin gelap baginya, karena ia jauh dari kasih sayang.

“Ayo lanjutin, nanti aku mau memetik mawar. Satu untuk mas Wijan, satu untuk aku,” katanya riang, seolah tak terjadi apa-apa yang menyakiti kakak tirinya. Nilam hanya ingin menghiburnya. Tapi ketika ia benar-benar akan memetik mawarnya, Wijan mencegahnya.

“Jangan dipetik. Biarkan mekar di tempatnya. Kalau dipetik, dia akan lebih cepat layu.”

“Benarkah? Tapi aku ingin memetiknya, untuk aku dan untuk mas Wijan.”

“Baiklah, untuk kamu dan untuk aku, kita titipkan saja di pohonnya. Biar dia merawatnya lebih lama.”

Nilam tersenyum. Kepada bunga saja Wijan juga menyayanginya. Benar-benar kakak yang luar biasa. Kasih sayangnya semakin besar kepadanya. Kasih sayang yang entah dari mana datangnya, yang membuatnya tak rela Wijan disakiti. Wijan yang baik, yang lembut dan penuh kasih sayang. Hanya dia yang ditemukannya di rumah ini. Bahkan bukan dari ibu kandungnya, serta kakak kandungnya sendiri, yang tak pernah memberikan kasih sayang begitu manis dan lembut.

“Nilaaam.”

Sebuah teriakan dari jendela kamar ibunya terdengar. Nilam menoleh dan wajahnya berubah murung ketika melihat tangan ibunya melambai. Pasti kakaknya sudah mengadu, dan sekarang dia akan dimarahinya.

“Cepat ke sana, ibu memanggil kamu,” kata Wijan.

Nilam yang sudah siap mengambil kembali selang airnya, terpaksa meletakkannya, dan melangkah ke dalam rumah.

Ia melihat ayahnya duduk sendirian di ruang tengah. Nilam dengan manis menyapanya.

“Bapak kok sendirian?”

“Iya, duduk sini, temani bapak.”

“Sebentar, ibu memanggil Nilam,” kata Nilam yang terus naik ke atas tangga, menuju ke kamar ibunya yang ada di lantai atas. Dari sana tadi sang ibu memanggilnya.

Ia membuka pintu kamarnya pelan, dan melihat sang ibu sedang bersama kakaknya.

“Ibu memanggil Nilam?”

“Dengar. Ibu tidak suka kamu membela Wijan,” kata ibunya sebelum Nilam kemudian disuruhnya duduk di depannya.

“Apa maksud ibu? Mas Wijan selalu di salahkan, padahal dia tidak bersalah. Mengapa ibu dan mbak Hasti sangat membencinya?”

“Bukan membencinya. Dia memang orang lain bagi kita.”

“Kalau orang lain, mengapa kita hidup di sini? Bukankah mas Wijan bagian dari keluarga ini?”

“Bodoh. Dia memang anak dari suami ibu, tapi dia bukan anakku, dan juga bukan saudara kamu.”

“Memangnya kalau bukan saudara, maka kita harus membencinya?”

“Kenapa kamu bisa berkata begitu? Apa dia sudah meracuni kamu?”

“Meracuni bagaimana? Nilam hanya membela yang tidak bersalah. Mbak Hasti selalu menindasnya. Dia begitu baik dan penurut, apa yang salah? Dia bahkan tidak pernah punya niat jahat. Racun apa yang dimiliki dia untuk meracuni Nilam?”

“Heh, anak kecil ini, bagaimana bisa bicara sepintar ini?” sambung Hasti sambil menjewer kuping Nilam.

Tentu saja Nilam berteriak kesakitan.

“Aduuh, sakit , tahu.”

“Dengar Nilam, kamu boleh saja berbaik-baik pada dia, tapi satu pesan ibu, jangan suka mengadu kepada ayah kamu. Kakakmu kena marah karena kamu mengadukannya tentang ponsel itu. Ya kan?”

“Memang mbak Hasti keterlaluan kan?”

“Sejak kapan kamu berani membantah kata-kata ibumu? Baiklah, dengar kata ibu. Jangan sekali-kali mengadu apapun pada ayahmu.”

Terdengar langkah menjauh dari depan pintu. Hasti terkejut. Ia segera membuka pintunya, tapi tak melihat siapapun di sana.

“Ada apa?” tanya Rusmi.

“Seperti ada suara di balik pintu, ternyata tidak ada,” jawab Hasti sambil kembali duduk.

“Apakah Nilam juga harus menutup mulut ketika melihat ibu bersama seorang laki-laki?”

“Apa?” Rusmi berteriak. Tapi Nilam sudah berdiri dan melangkah menuju pintu.

Hasti menarik tangannya.

“Kamu bilang apa?”

“Lepaskaaan! Atau aku benar-benar mengadu pada bapak,” pekik Nilam.

Hasti melepaskannya.

“Anak itu benar-benar berbahaya.”

“Mengapa dia tadi berkata begitu?”

“Ibu pergi sama siapa? Dan Nilam melihatnya?”

Rusmi hanya mengangkat bahu.

“Kamu turunlah, dengarkan, apa Nilam mengadu sesuatu pada ayahmu.”

***

Nilam turun dari tangga dan melihat ayahnya masih duduk di ruang tengah sambil mengotak atik ponselnya.

“Bapak,” kata Nilam sambil menggelendot manja. Baginya, Raharjo adalah ayah pengganti yang baik. Dia sangat melindungi, dan mengasihi ibu dan anak-anaknya.

Raharjo mengelus kepala Nilam.

“Ada apa ibu memanggil kamu?”

Mulut Nilam hampir saja terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi ia teringat pesan Wijan bahwa dia tak perlu mengatakan apa-apa tentang ibunya yang sedang bersama seorang laki-laki. Karena itulah Nilam diam.

“Ibu memarahi kamu?”

“Tidak. Hanya menyuruh Nilam segera mandi,” kata Nilam berbohong.

“Iya nih, Nilam belum mandi. Ayo mandi sana, bau lhoh,” canda ayahnya.

“Benarkah?” Nilam mencium ujung lengan bajunya.

Raharjo tertawa. Nilam masih kanak-kanak. Gadis yang baik, yang diharapkan akan terus menjadi baik. Itulah yang terbaca oleh Raharjo, melihat keseharian Nilam.

“Tidak, bapak hanya bercanda.”

“Tadi Bapak bilang bau,” cemberut Nilam.

“Bau wangi kok.”

Nilam terkekeh, kemudian berlari meninggalkan ayahnya.

Raharjo tersenyum, dan ketika itulah ia melihat Hasti berdiri di tangga .

Raharjo melihatnya sekilas, kemudian kembali memegangi ponselnya. Rupanya ada yang belum selesai dilakukannya karena kedatangan Nilam.

“Bapak, mau Hasti buatkan minum?” tiba-tiba kata Hasti. Raharjo mengangkat kepalanya, menatap Hasti sekilas, kemudian menunduk lagi ke arah ponselnya.

“Tidak, tadi sudah diberikan bibik.”

“Hasti minta maaf ya Pak,” tiba-tiba Hasti mendekat. Raharjo kembali mengangkat kepalanya, menatap anak tirinya.

“Untuk apa?”

“Memang tadi sebenarnya Hasti yang minta tukar ponsel.”

“O, tidak apa-apa. Bapak perlu memberi dia ponsel, karena berharap bisa berkomunikasi setiap saat. Kalian, kamu dan ibumu sudah ada, tapi Wijan kan belum.”

“Iya, benar. Hasti minta maaf kalau tadi ingin menukar ponsel Wijan, karena menganggap Wijan masih kecil.”

“Wijan sudah besar. Dia sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Nanti kalau Nilam sudah SMA, barangkali bapak juga akan membelikannya.”

Hasti mengangguk, tapi senyum yang diperlihatkannya tampak tidak tulus. Raharjo membiarkannya ketika Hasti pamit untuk mandi.

***

Pagi hari itu anak-anak sudah berangkat ke sekolah dan kuliah. Raharjo sedang berkutat dengan mobilnya yang susah untuk distarter. Ia kemudian keluar dari mobil dan mendekati istrinya yang sedang mengantarkannya di teras.

“Bu, sepertinya aku harus membawa mobil ibu."

”Apa? Memangnya mobil Bapak kenapa?”

“Agak rewel tuh. Beberapa hari yang lalu sudah dibawa ke bengkel, tapi sepertinya belum bener juga.”

“Dibawa ke bengkel lagi saja.”

“Ya, nanti aku suruhan orang kantor untuk mengurusnya. Sekarang aku pinjam mobil kamu dulu.”

“Lhoh Pak, aku nanti akan ada acara sekitar jam sebelas an.”

“Masih jam sebelas kan? Setelah sampai di kantor, aku suruhan orang mengantarkan pulang, kemudian biar dia menelpon bengkel sekalian.”

“Tapi bener lho ya, segera dikirim pulang.”

“Iya, jangan khawatir."

Rusmi mengambil kunci mobil, dan menyerahkannya kepada suaminya.

“Aku juga akan membawa mobil itu ke tukang cuci mobil, nanti.” kata Rusmi.

Raharjo tak menjawab, ia langsung mengambil mobilnya yang ada di gudang, dan mengeluarkannya, langsung dibawanya berangkat ke kantor.

Rusmi baru saja masuk ke kamarnya, ketika tiba-tiba ponselnya berdering.

“Hei, pagi-pagi sudah menelpon? Sudah sangat kangen ya?” sambut Rusmi dengan riang ketika melihat siapa yang menelpon.

“Bu, aku sedang bergegas ke kantor nih, hampir telat.”

“Iya, kenapa menelpon?”

“Aku cuma mau bilang, tolong sembunyikan, jacket aku ketinggalan di mobil.”

“Apa?” Rusmi berteriak keras sekali.

“Kok berteriak, tolong selamatkan jacket itu, takutnya ketahuan pak Raharjo.”

“Kamu memang gila Bas, kenapa bisa ketinggalan?”

“Yah, namanya ketinggalan, berarti ya tidak sengaja. Kenapa berteriak?”

“Masalahnya, pagi ini mobilnya dibawa suami aku,” kata Rusmi masih dengan berteriak.

“Apa?” kali ini Baskoro yang berteriak.

“Kenapa kamu begitu bodoh, Bas!”

“Celaka kalau pak Raharjo melihatnya.”

“Ada apa Mas, kok berteriak?” terdengar suara perempuan dari seberang sana. Rupanya Suri heran mendengar suaminya pagi-pagi sudah berteriak saat menelpon.”

“Tidak, tidak apa-apa. Ya sudah, aku mau berangkat kerja,” katanya, yang kemudian tak mempedulikan lagi pada Rusmi yang masih memegangi ponselnya dengan tangan gemetar, lalu begitu saja menutupnya.

“Bagaimana Baskoro ini, jacket pakai di lepas segala. Bagaimana nanti kalau dia tahu, lalu bertanya tentang jacket itu?”

Rusmi yang merasa tidak tenang, berjalan mondar mandir di kamar sambil memikirkan jawaban apa yang akan dikatakannya kalau suaminya bertanya.

***

Suri heran ketika melihat sang suami kelihatan seperti orang kebingungan. Katanya harus buru-buru kerja, tapi malah mondar mandir saja di dalam rumah.

“Mas kenapa sih? Dari tadi seperti orang bingung begitu?”

“Jacketku … jacketku …”

“Jacketnya di mana? Perasaan ketika turun dari mobil kemarin itu, Mas tidak mengenakan jacket deh."

“Ya, itulah yang aku pikirkan?”

“Kalau ketinggalan di mobil ya tinggal nanti bertanya pada yang punya mobil, apa jacket mas ketinggalan di situ, apa tidak. Gitu saja kok repot.”

“Dasar bodoh!”

“Yah, kok Mas kasar begitu. Aku cuma mengingatkan, malah dibilang bodoh.”

“Kamu itu tidak tahu apa-apa,” katanya sambil menghampiri motor yang sudah disiapkannya di depan.

“Kalau sampai pak Raharjo tahu, mati lah aku,” gumamnya miris.

“Orang aneh!” hanya itu yang dikatakan Suri, ketika sang suami akhirnya pergi dengan sepeda motornya.

Suri masuk ke dalam rumah, siap belanja ke pasar karena kemarinnya diberi uang lumayan banyak oleh sang suami, tanpa sadar bahwa sang suami sedang ketakutan saat ini.

“Semoga yang dikatakannya benar, akan menambah uang belanja sehingga aku tak perlu kebingungan mencukupi semua kebutuhan,” gumam Suri, istri penurut yang tak pernah menuntut itu.

***

Sementara itu Raharjo yang sedang mengendarai mobil istrinya merasa aneh. Pewangi yang ada di dalam mobil, terkalahkan oleh bau tak sedap yang entah dari mana datangnya. Ia heran kepada istrinya. Kenapa wajahnya yang cantik terawat, tidak bisa merawat mobil yang dimilikinya dengan baik.

Lalu Raharjo teringat bahwa tadi istrinya mengatakan ingin mencuci mobilnya.

Ketika turun di halaman kantornya, tak terlihat satpam menyambutnya lalu membawakan tas kerjanya sampai masuk ke dalam ruangan kantornya seperti biasa. Pasti karena mobil yang dipakainya bukan mobil biasanya, dan belum seorangpun tahu bahwa yang dipakai adalah mobil istrinya.

Raharjo turun, dan barulah salah seorang satpam berlari menyambutnya.

“Maaf, Pak. Saya tidak tahu bahwa ini mobil Bapak,” kata satpam sambil terbungkuk hormat, lalu meminta tas kerja yang dibawa Raharjo.

“Ini mobil istriku,” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh, saya tidak tahu.”

“Tolong bawa mobil ini ke tempat cucian mobil, buat agar wangi dan menyegarkan,” perintah Raharjo sambil memberikan kunci mobilnya, lalu masuk ke dalam ruangan.

Tapi saat masih ada di lobi, pak Rangga tampak berlari-lari mengejarnya.

“Bapak pakai mobil baru?”

“Itu mobil istriku,” jawab Raharjo sambil tersenyum, lalu berjalan berdampingan dengan orang kepercayaannya.

“Sepertinya saya pernah melihat mobil ini.”

“Di mana? Istriku suka jalan ke mana-mana, temannya banyak.”

“Di depan kantor itu. Saya melihat Baskoro turun dari dalam mobil itu.”

Pak Raharjo tertegun. Ditatapnya pak Rangga dengan heran.

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

Thursday, December 7, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 09

 BUNGA UNTUK IBUKU  09

(Tien Kumalasari)

 

Nilam heran mendengar dering ponsel dari dalam kamar Wijan. Ia segera menarik tangan Wijan untuk masuk ke dalamnya.

“Mas Wijan punya ponsel?” tanya Nilam heran.

“Iya, baru saja bapak memberikannya. Tapi kok sudah ada yang menelpon? Memangnya siapa yang tahu nomor kontak aku? Aku saja belum tahu.”

“Coba lihat Mas, dan angkat.”

Wijan mengambil ponselnya dari dalam tas sekolahnya. Dengan heran dia membaca si pemanggil adalah Hasti. Kok dia tahu nomornya ya. Walau heran Wijan mengangkatnya. Baru saja diangkat, seseorang berteriak dari seberang.

“Wijan! Kamu tuli ya?”

Wijan menghela napas, itu suara Hasti, kakak tirinya. Bagaimana dia bisa mengetahui nomor kontaknya?

“Mbak Hasti ya?”

“Iya. Kamu heran aku bisa menelpon kamu? Bapak yang memberi tahu bahwa kamu sudah dibelikan ponsel dan ini nomor kontakmu.”

“Iya, Mbak, memangnya ada apa, Mbak menelpon aku?”

“Kamu itu anak kecil, nggak pantas pakai ponsel baru, nanti kamu berikan ponsel itu ke aku lho. Awas kalau tidak.”

“Apa maksudnya Mbak? Mengapa aku harus memberikan ponselnya pada Mbak Hasti?”

“Kamu masih kecil. Cukup ponsel bekas aku. Sama saja kok.”

Tiba-tiba suara bibik menjenguk ke kamar Wijan.

“Mas Wijan sama Mbak Nilam ditunggu bapak di ruang makan,” kata bibik.

“Ya sudah Mbak, kami dipanggil bapak," kata Wijan sambil mengakhiri pembicaraan yang membuatnya kesal itu. Sesabar-sabarnya Wijan, permintaan Hasti dianggapnya keterlaluan.

“Kenapa mbak Hasti? Mau menukar ponsel Mas yang baru?”

“Iya.”

“Jangan diberikan Mas, dia itu memang jahat,” kata Nilam sambil bersama-sama melangkah ke ruang makan.

“Siapa yang jahat?” tanya pak Raharjo yang mendengar perkataan Nilam.

“Itu Pak, mbak Hasti, tadi menelpon mas Wijan.”

“Oh iya, bapak juga memberi tahu nomor kontak kamu kepada Hasti dan ibunya,” kata pak Raharjo kepada Wijan yang mulai duduk di depan ayahnya.

“Mbak Hasti mau, ponsel mas Wijan diberikan sama dia,” kata Nilam dengan mulut mengerucut.

“Lhoh, diberikan bagaimana?”

“Maksudnya menukar ponsel mas Wijan dengan ponsel mbak Hasti.”

"Apa?"

“Jangan. Jangan boleh Mas, mbak Hasti itu suka cari menang sendiri,” sela Nilam yang kesal menyaksikan kakaknya selalu menindas Wijan.

“Mengapa dia mau menukarnya?”

“Nggak apa-apa Pak, bukankah sama saja?”

“Tidak. Hasti tidak boleh mau menang sendiri. Tetaplah ponsel itu menjadi milik kamu. Bapak sudah membelikan dia lebih dulu, lama sebelum ini.”

“Betul.” kata Nilam sambil mengacungkan jempolnya.

“Kalau dia nekat, suruh bilang sama Bapak, ya kan Pak?”

“Ya sudah, ayo kita makan dulu. Lupakan masalah ponsel.”

“Mas Wijan itu selalu mengalah Pak. Nanti mbak Hasti pasti akan memaksa.”

“Nanti bapak bilang sama dia. Tidak boleh ponsel ditukar-tukar. Dia sudah punya sendiri yang tidak kalah bagus kok.”

“Tuh, dengar Mas,” kata Nilam sambil meraih sepotong tempe goreng di piring di depannya.

***

Suri adalah istri Baskoro, yang kesal menunggu kepulangan suaminya yang pergi sejak pagi hari. Ketika dia datang, Suri sempat melihat mobil berhenti di depan pintu pagar, dan sang suami turun dari dalamnya.

“Diantar siapa, Mas?”

“Mobil kantor,” kata Baskoro sambil mengulurkan sebuah bungkusan untuk istrinya.

Suri hampir mengomel ketika tiba-tiba Baskoro memberikan bungkusan itu.

“Mau marah kan? Nih, aku yakin kamu tak jadi marah setelah membuka isinya."

“Apa ini? Baunya seperti ayam goreng,” kata Suri sambil tersenyum. HIlang rasa kesal, yang tadi sudah hampir ditumpahkannya.

“Bukankah kamu ingin makan ayam goreng? Aku ingat itu, makanya kamu aku belikan, tadi,” kata Baskoro sambil masuk ke dalam rumah.

“Ih, keringat Mas kok bau sekali sih? Habis nyangkul di sawah ya?”

“Enak aja,” kata Baskoro yang kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan menghilangkan bau keringat seperti yang diucapkan sang istri.

“Dari mana sih sebenarnya dia? Katanya rapat sebentar di kantor, pulangnya sudah hampir sore, trus bawa oleh-oleh ayam goreng pula. Aku sih seneng, sudah lama ingin, kata mas Baskoro suruh nunggu gajian. Makan ayam goreng secuil saja, harus  nunggu gajian,” omel Suri sambil menata makan di meja.

Tapi ketika sang suami muncul, dia menolak untuk makan.

“Makan saja sendiri, aku sudah kenyang.”

“Makan di kantor?”

“Di kantor?” tanya Baskoro yang lupa bahwa tadi pamit untuk rapat di kantor.

“Bukankah Mas dari kantor?”

“Oh, iya sih.”

“Jadi bukan makan di kantor?”

“Makan di rumah makan. Makanya sambil makan bersama para staf, aku pesan ayam goreng untuk kamu, biar sekalian dibayar orang kantor,” jawab Baskoro yang sekarang sudah pintar berbohong.

“Oh, gitu. Pinter ya suamiku ini.” katanya sambil mencomot paha, sebelum menyendokkan nasi ke piringnya.

“Bener, Mas nggak mau makan?”

“Memangnya kamu tadi masak apa?”

“Hanya sayur urap sama balur goreng. Tapi sekarang aku mau makan ayam gorengnya saja dulu. Enak, beli di mana?”

“Kamu tuh banyak tanya. Lanjutin makannya, aku mau tidur, capek sekali.”

“Cuma rapat saja capek. Kirain mencangkul di sawah,” ledek sang istri.

“Udara sangat panas. Wajar kan kalau di mana-mana terasa gerah,” katanya sambil ngeloyor pergi.

Suri yang asyik makan lauk kesukaannya, tak peduli. Badannya yang sedikit gemuk memang tidak bisa menahan lapar, jadi walaupun sudah makan di siang harinya, begitu melihat ada ayam goreng, dia langsung makan lagi dengan lahap.

***

Baskoro membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia memang bukan karyawan yang punya kedudukan tinggi di perusahaan Raharjo. Ia hanya kepala gudang. Tapi Raharjo sangat dekat dengannya, karena dia pintar meladeni, dan selalu siap kalau di suruh-apapun. Baskoro sebenarnya punya penghasilan yang baik, tapi dia lebih banyak menghabiskan uang gajinya untuk bersenang-senang, sehingga uang yang tersisa tak seberapa itulah yang diberikan kepada sang istri untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sang istri yang dinikahinya sejak sepuluh tahun lalu, belum juga melahirkan seorang anakpun untuk mereka. Terkadang Baskoro menyesalinya, tapi kesenangan diluar, membuatnya terhibur, dan sang istri cukup untuk dijadikan penunggu rumah dan pelayan yang menyiapkan segala kebutuhannya. Tapi pertemuannya dengan Rusmi, membuat Baskoro melupakan kesenangan lainnya. Rusmi bukan hanya memuaskannya tapi juga memberinya uang dan apa yang diinginkannya. Bibirnya mengulaskan senyum, ketika teringat bahwa Rusmi ingin menikah dengan dirinya. Tak semudah itu, bukan? Kalau hal itu terjadi, dia akan kehilangan semuanya. Rusmi bukan lagi wanita kaya yang bisa memanjakannya setelah bercerai dengan Raharjo, nanti. Jadi hal terbaik adalah mengadakan hubungan dengan sembunyi-sembunyi. Toh yang mereka inginkan hanyalah kesenangan dan kepuasan, dan itu bisa didapatnya dengan sembunyi-sembunyi. Bukankah Rusmi selalu punya waktu, dan dirinya siap melayani kapanpun diperlukan? Terkadang keinginan memiliki anak itu juga tersirat di pikirannya, tapi hamba nafsu seperti Baskoro tidak terlalu memikirkannya.

Baskoro hampir terlelap ketika tiba-tiba merasa sesosok tambun menindihnya.

“Hei, apakah kamu sudah gila? Aku mau tidur,” katanya sambil mendorong tubuh sang istri.

“Ini bukan waktunya tidur. Lebih baik kita berbincang-bincang.”

Baskoro meraih dompet yang diletakkannya di bawah bantal, lalu memberikan sejumlah uang kepada sang istri, kemudian mendorongnya semakin jauh. Suri hampir terguling ke lantai karena dorongan suaminya terlampau keras.

“Ya ampun Mas, aku hampir jatuh, tahu.”

Suri cemberut, tapi ketika melihat genggaman uang yang baru saja diberikan suaminya, bibirnya langsung tersenyum lebar.

“Tumben, belum gajihan sudah memberi aku uang?”

“Aku kan kerja lembur, apa kamu lupa?”

“Iya, aku lupa. Terima kasih ya Mas, uang ini bisa aku bayarkan kepada tukang warung sebelah.”

“Kamu ngutang?”

“Bagaimana tidak ngutang? Mas memberi gaji sangat minim, sekarang semuanya mahal. Belum untuk bayar kontrakan rumah dan bayar listrik, dan masih banyak lagi kebutuhan kita.  Memangnya cukup, uang yang Mas berikan setiap bulannya?”

“Mulai sekarang aku akan memberi kamu lebih banyak.”

“Benarkah? Kalau uang bulanan bertambah banyak, dan sering-sering ada uang lembur pula, setiap hari aku akan memasak untuk kamu, lauk yang enak-enak.”

“Ya sudah sana, aku mau tidur, aku lelah.”

“Aku sebenarnya ingin ngomong.”

“Apa lagi?”

“Bagaimana kalau besok kita ke dokter? Kata ibuku, kita harus periksa ke dokter kandungan, untuk melihat kemungkinan kita untuk mempunyai anak itu sejauh apa?”

“Aduh, sudah. Jangan lagi memikirkan anak, aku bisa bertambah pusing.”

“Bukankah kamu pernah bilang kalau ingin segera punya anak?”

“Sekarang keinginan itu sudah tak ada lagi.”

“Nanti kamu cari istri lagi, yang bisa mengandung anak kamu, bagaimana?”

“Kalau aku mencari istri lagi, bukan karena aku ingin punya anak, tapi karena kamu menyebalkan,” kesal Baskoro.

“Apa? Aku menyebalkan? Kamu punya istri yang sangat penerima, tidak pernah menuntut apapun, kamu masih bilang menyebalkan?”

Baskoro menatap istrinya, karena sekarang dia duduk di atas pembaringan dan memukulkan guling ke tubuhnya.

Dulu, Suri lumayan cantik. Itu sebabnya dia bersedia dinikahkan dengannya oleh orang tuanya. Tapi semakin ke sini, kecantikan itu pudar dengan menggelembungnya si tubuh, karena Suri kurang merawat diri. Dia paling suka makan, dan tidur setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, Memang sih, sebagai pengatur rumah tangga, Suri tidak mengecewakan. Dia terima gaji yang diberikannya tanpa mengeluh, walau sebagian besar gajinya lebih banyak dipergunakan untuk bersenang-senang. Tapi dia bukan lagi istri yang memuaskan diatas ranjang. Apalagi setelah bertemu Rusmi, yang walau tidak muda lagi tapi bisa melakukan hal yang membuatnya mabuk kepayang. Perempuan-perempuan lain, lewat. Yang ada hanyalah Rusmi. Rusmi yang menyenangkan dan royal soal uang, apa lagi yang kurang?

Sekali lagi Suri memukulkan guling ke wajahnya, tapi kemudian ia merosot turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Baskoro tahu, Suri marah, tapi itu tak akan lama. Lebih baik Baskoro mengistrahatkan raga, karena ia sungguh-sungguh merasa lelah.

***

Hari sudah sore ketika bu Rusmi dan Hasti pulang hampir bersamaan., walau kepergian mereka berbeda. Saat itu pak Raharjo sedang menikmati kopi buatan bibik, sambil menyaksikan acara televisi.

“Kok pulangnya bisa bareng?” tegur pak Raharjo melihat istrinya masuk ke rumah bersama Hasti.

“Kebetulan saja bareng. Ibu kan pergi lebih dulu, tadi,” kata Hasti yang terus beranjak ke kamarnya, demikian juga Rusmi yang langsung masuk ke kamarnya dan mandi. Khawatir sang suami mencium bau tubuhnya yang berkeringat.

Hasti tidak langsung menuju ke kamarnya. Dia berbelok masuk ke kamar Wijan terlebih dulu, saat Wijan mau keluar untuk menyiram tanaman di kebun.

“Mana?” langsung Hasti mengacungkan tangannya ke depan Wijan.

“Apanya Mbak?”

“Kamu tuli ya, bukankah tadi aku bilang bahwa kita bertukar ponsel saja?”

“Tapi ….”

“Kamu itu  masih kecil, untuk apa pakai ponsel baru?”

Wijan membalikkan tubuhnya, mengambil tas sekolahnya, ingin mengambil ponselnya. Tapi tiba-tiba pak Raharjo muncul di depan pintu.

“Ada apa?” tegur pak Raharjo dengan wajah muram, karena dia sudah tahu apa yang akan dilakukan Hasti.

“Itu, Wijan bilang nggak suka ponselnya, jad_”

“Tidak ada tukar menukar ponsel. Yang sudah aku berikan kepada kamu, ya itulah  milik kamu. Yang ada pada Wijan, akan tetap menjadi milik Wijan.”

“Ya sudah, itu tadi Wijan yang mau kok,” kata Hasti sambil berlalu. Pak Raharjo menatap anak tirinya tak senang. Sejak siang dia sudah tahu karena Nilam mengatakannya, bahwa Hasti ingin menukar ponselnya dengan ponsel Wijan. Jadi itu bukan kemauan Wijan. Sebuah kebohongan ditangkap oleh Raharjo, dan Raharjo yakin bahwa pasti masih banyak kebohongan yang disembunyikan. Entah itu apa, Raharjo belum mengetahuinya. Tapi bahwa tiba-tiba timbul kecurigaan diantara hubungan anak tiri dan anak kandungnya yang tidak wajar, perasaan itu tiba-tiba menggayuti hati Raharjo.

***

Wijan sedang membersihkan kebun bunga di halaman belakang, sementara Nilam membantunya dengan menyemprotkan air dari selang, ke arah tanaman-tanaman itu.

Keduanya melakukannya sambil tertawa-tawa, apalagi ketika Nilam dengan sengaja mengganggu kakaknya dengan menyemburkan air ke arahnya. Wijan pun berteriak, dan Nilam terkekeh senang.

Tiba-tiba Hasti mendekat dengan berkacak pinggang di hadapan Wijan.

“Dasar mulut busuk?” katanya sambil menatap Wijan penuh kebencian.

Wijan menatapnya tak mengerti, tapi matanya menatap tajam kakaknya dengan perasaan tidak senang.

“Ada apa dengan mulutku Mbak?”

“Kamu sudah pintar mengadu ya? Mengadu kepada bapak bahwa aku mau menukar ponsel kamu? Mentang-mentang kamu adalah anak kandung? Huh, jangan mengira kamu akan mendapat kemuliaan di rumah ini. Kamu pantasnya menjadi gembel, dan akan tetap menjadi gembel,” hardiknya sambil satu tangannya  terus berkacak pinggang, dan jari telunjuknya mengarah kepada wajah Wijan yang diam terpaku di tempatnya.

Tapi tanpa mereka sadari, ada pak Raharjo berdiri di balik sebuah pohon besar, dan mendengar semua yang diucapkan Hasti. Lalu dengan diam-diam pak Raharjo meninggalkan tempat itu.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, December 6, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 08

 BUNGA UNTUK IBUKU  08

(Tien Kumalasari)

 

Nilam melompat berdiri, menatap ke arah laju mobil ibunya.

Wijan meraih tangannya dan memintanya kembali duduk. Wajah Nilam gelap bagai mendung.

“Ibu bersama siapa tadi?”

Wijan sudah pernah melihat ketika ibu tirinya bergayut manja di lengan seorang laki-laki, jadi dia tidak terkejut seperti Nilam ketika melihat pemandangan yang mirip. Hanya bedanya adalah, ketika itu mereka sedang berjalan memasuki rumah makan, tapi yang baru saja mereka lihat, keduanya ada di dalam mobil. Iya, terlihat jelas, karena kaca mobil depan belum ditutup sempurna, pengemudinya seorang laki-laki. Dia juga kah? Laki-laki bercambang yang pernah Wijan melihatnya?

“Itu benar, mobil ibu bukan?”

“Banyak mobil berwarna sama,” jawab Wijan santai.

“Tidak, itu mobil ibu. Yang membawa mobil itu adalah seorang laki-laki, disampingnya adalah ibuku,” kata Nilam sambil memekik-mekik.

“Nilam, kita hanya melihat dari kejauhan.”

“Tapi mataku masih bisa melihat jelas. Ayo kita ke sana,” kata Nilam sambil menarik tangan Wijan.

“Ke mana?”

“Kita ikuti mobil itu.”

“Jangan bercanda, Nilam. Mana ada sepeda mengikuti lajunya mobil?”

“Ayolah Mas,” Nilam merengek sambil menarik tangan Wijan.

“Kita tak mungkin bisa mengejarnya Nilam. Lagipula kenapa kamu harus tahu tentang ibu? Barangkali ibu sedang ada keperluan yang mengharuskan dia pergi bersama entah itu siapa.”

“Pokoknya aku ingin ke sana, aku harus tahu apa yang ibu lakukan.”

“Mana mungkin kita bisa mengejarnya, Nilam.”

Wajah Nilam mulai memerah, matanya sembab oleh air mata yang nyaris tumpah. Runtuh hati Wijan melihat wajah adik tirinya. Walau merasa bodoh, dengan sepeda harus mengejar lajunya mobil, tapi dia menurutinya, agar Nilam terpuaskan, walau nantinya juga akan kecewa.

Wijan berdiri lalu mendekati sepedanya, mempersilakan Nilam untuk duduk di boncengan, sambil mengusap air matanya dengan jari jempolnya.

“Nggak usah nangis, jelek,” ledek sang kakak, yang dibalas pukulan pelan pada punggungnya.

Wijan mengayuh sepedanya, ke arah dimana mobil ibu tirinya melaju.

***

Nilam yang merasa kasihan karena Wijan mengayuh sepedanya dengan sangat kencang, kemudian menepuk punggungnya dan meminta agar mereka kembali saja. Lagipula saat itu mereka sudah berada di luar kota.

“Sudah Mas, ayo kita kembali saja.”

Wijan tersenyum, walau agak kesal terhadap kerewelan adik tirinya. Ia memutar sepedanya kembali ke arah semula.

“Kamu sekarang tahu kan, bahwa sepeda kayuh tidak akan bisa mengejar lajunya mobil?”

“Aku hanya penasaran karena melihat ibu bersama orang lain yang aku belum pernah melihatnya.”

“Biarkan saja. Kamu masih kecil, mana tahu kebutuhan orang tua?”

“Aku bukan anak kecil. Aku sudah hampir SMA, tidak sampai dua tahun lagi, tahu.”

Wijan tertawa. Tapi kemudian di sebuah warung dia melihat mobil itu. Tadi dia tak menoleh ke kiri dan kanan karena maksudnya mengejar, dan tak mengira bahwa mobil itu ada di situ. Rupanya mereka kelaparan dan mencari makan di warung.

“Itu dia ! Berhenti Mas!” teriak Nilam.

Tapi Wijan malah mengayuh lebih cepat.

“Maaas.”

“Tidak usah berhenti, kita sudah tahu bahwa mereka mencari makan. Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku ingin tahu, siapa teman ibu itu.”

“Lalu kenapa?”

“Mas Wijan kok gitu. Ibu tidak boleh pergi sama laki-laki lain. Kalau bapak tahu, pasti ibu dimarahi.”

“Ya sudah, kita tidak usah bilang apa-apa sama bapak. Tidak akan ada yang marah, bukan? Ayo kita belok saja ke jalan kecil itu. Nanti kalau ibu tahu bahwa kita ada di sini, justru ibu yang akan marah kepada kita.”

Tanpa menunggu jawaban Nilam, Wijan membelokkan sepedanya melewati jalan kampung yang ada di depannya. Setelah kira-kira tidak akan lagi bertemu mobil itu, Wijan mengajak Nilam berhenti di sebuah warung kecil.

“Ngapain ke sini Mas?”

“Haus, tahu,” kesal Wijan karena dia telah menguras tenaganya demi mengejar mobil hijau lumut itu.

Nilam terkekeh.

“Iya, ternyata aku juga haus. Adakah es dawet di situ?”

“Entahlah, aku hanya ingin minum teh panas.”

“Minum panas? Hawanya sudah panas, kenapa minum panas?”

“Justru di saat kita kepanasan, dilarang minum minuman dingin,” kata Wijan sambil menghentikan sepedanya.

Mulut Nilam cemberut bagai kerucut. Wijan menggandengnya masuk ke dalam warung sambil tersenyum lucu. Nilam ini terkadang bandel, tapi sering menurut setiap kali diberi tahu.

Keduanya duduk sambil menunggu pesanan mereka, minuman hangat. Tubuh Wijan berkeringat, demikian juga Nilam. Tapi mereka menghirup minuman hangat itu dengan nikmat. Nilam tersenyum.

“Ternyata enak.”

Wijan tertawa.

“Mau pesen makanan?”

“Nggak mau, masih kenyang. Aku mau pisang goreng itu,” katanya sambil menunjuk ke arah pisang goreng yang ada di dalam ruang kaca. Si penjual mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa pisang goreng, yang disodorkannya ke arah kedua pembeli yang masih muda itu.

“Silakan. Ini pisang raja yang sudah matang, rasanya legit.”

“Iya Bu, kelihatannya enak.”

“Tentu saja enak. Kalau pisangnya pisang muda, walaupun kelihatan matang, kalau digoreng pasti ada rasa sepat-sepatnya, begitu.”

Nilam menggigit sebuah pisang, dan mengunyahnya sambil manggut-manggut.

“Iya, enak, manis, legit.”

Sejenak wajah kuyu kesal itu lenyap, dengan seri yang manis, Nilam menggigit pisang gorengnya sampai habis.

“Mau makan, Nak?” si penjual warung menawarkan. Tapi keduanya menggelengkan kepalanya.

“Tidak Bu, ini saja.”

Ketika Wijan ingin mengajak Nilam untuk melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dilihatnya wajah Nilam kembali muram. Wijan menyentuh bahunya lembut.

“Kita pulang?”

“Nanti aku mau bilang pada bapak.”

“Apa?”

“Bahwa tadi ketemu ibu.”

“Jangan, Nilam. Itu tidak baik.”

“Supaya bapak mengingatkan ibu. Itu kan tidak baik.”

“Jangan. Belum jelas baik buruknya, nanti malah membuat suasana rame dan tidak enak didengar. Diam saja. Anggap kita tak pernah melihat apapun.”

“Tapi … “

“Dengar kataku, Nilam. Aku membenci keributan. Itulah sebabnya aku selalu diam. Biarlah semuanya berjalan seperti biasa. Biarlah yang baik dan yang buruk itu terbuka dengan sendirinya. Jangan sampai kita ikut campur tentang apapun yang tidak kita pahami.”

Nilam tidak sepenuhnya bisa menerima anjuran Wijan, tapi dia berusaha mengangguk, sambil kemudian berdiri.

“Ayo pulang.”

Wijan membayar apa yang mereka makan dan minum, kemudian menghampiri sepedanya. Wajah Nilam masih cemberut. Wijan menjewer kupingnya pelan.

“Ingat apa yang mas katakan, ya.”

Wijan mengayuh sepedanya pelan. Udara panas semakin menyengat. Mereka harus segera sampai di rumah.

***

Bu Rusmi dan Baskoro ternyata masih kembali ke bungalow yang tadi ditinggalkannya, hanya untuk mengisi perut yang sejak pagi belum terisi, karena sibuk mengayuh kesenangan yang sudah ditahannya sejak mereka bisa ketemuan di jalan.

Keringat yang mengucur, tak membuat mereka gerah. Bu Rusmi sangat bahagia selalu bisa meneguk kesenangan dengan laki-laki bawahan suaminya, yang masih tampak perkasa dan memesona.

“Bas, kamu tahu apa yang aku pikirkan?”

“Apa, tuh?”

“Aku ingin bercerai dari suami aku.”

“Eh, jangan.”

“Aku juga ingin kamu menceraikan istri kamu, lalu kita menikah. Nggak enak begini terus, seperti maling. Apa kamu suka?”

“Bukan masalah suka atau tidak suka. Setiap langkah harus kita pertimbangkan.”

“Apa maksudmu? Kamu keberatan meninggalkan istri kamu yang gemuk tambun itu?”

“Bukan itu. Dengar. Kamu kan tahu bahwa aku ini laki-laki miskin. Apa kamu siap menerima laki-laki miskin sebagai suami kamu, sementara selama ini kamu hidup bersama seorang bos yang kaya raya?”

“Tapi aku tidak mau pertemuan kita harus dilakukan seperti maling. Kamu tahu, Bas. Aku sangat membutuhkan kamu. Hanya kamu yang bisa membuat aku bahagia.”

“Bahagia, tapi miskin? Kalau kamu bercerai dengan pak Raharjo, maka kamu tak akan bisa menikmati kesenangan seperti ini. Dari mana kita dapat uang, sedangkan kalau kita menikah, sudah pasti pak Raharjo akan memecat aku.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Nanti kita akan memikirkan mana yang terbaik. Tapi untuk sementara ini, biarlah begini saja dulu. Tidak apa-apa seperti maling. Kita ini pasangan yang sama-sama membutuhkan, karena semua itu tak bisa kita dapatkan di rumah, dan hanya ini jalan untuk mendapatkan kesenangan. Kamu mengerti?”

“Tapi sampai kapan, Bas?”

“Nanti pasti ada jalan. Kita tetap bersama, tapi kita tetap bisa menikmati harta suami kamu.”

Bu Rusmi terdiam. Diam-diam sebuah pikiran melintas di benaknya, lalu senyumnya mengembang. Dengan mesra dia kembali memeluk Baskoro, sebelum kemudian mereka harus pulang karena hari sudah menjelang sore.

***

Ketika Wijan memasukkan sepedanya ke garasi belakang, didengarnya ayahnya sedang menyapa Nilam. Ibunya belum terlihat pulang. Dan seperti biasa, Hasti pun tak ada di rumah.

“Main ke mana saja tadi?”

“Pokoknya jalan-jalan saja. Terus tiba-tiba Nilam melihat_”

“Sawah dan perkebunan jagung,” sahut Wijan yang tiba-tiba menyela, khawatir Nilam mengatakan tentang mobil berwarna hijau lumut itu.

“Kamu suka ya, main ke tempat-tempat yang penuh pohon-pohon dan persawahan?”

“Iya, soalnya udara di sana sangat sejuk.”

Wijan melihat Nilam yang wajahnya cemberut, pergi ke kamarnya. Tapi Wijan merasa lega, karena Nilam tak jadi mengatakan apa yang mereka lihat tentang mobil ibunya. Wijan harus selalu mengingatkan, agar Nilam mengerti, bahwa mengadukan hal buruk akan berakibat tidak baik bagi keluarganya.

Ketika Wijan hendak berdiri untuk segera membersihkan diri, tiba-tiba sang ayah menahannya.

“Tunggu Wijan. Jangan pergi dulu. Ada sesuatu yang ingin bapak berikan ke kamu,” kata pak Raharjo sambil menunjukkan sebuah bungkusan yang sudah sejak tadi berada di atas meja, di depan ayahnya.

“Ini untuk kamu, Jan.”

Wijan terkejut. Ia tahu bahwa itu sebuah ponsel. Ayahnya pernah mengatakan bahwa akan membelikan ponsel untuknya, dan dia menolaknya. Tapi sang ayah tetap saja membelikannya.

“Mengapa Bapak belikan ini untuk Wijan?”

“Kamu sudah dewasa, dan komunikasi itu perlu. Terimalah, sudah ada nomor bapak, nomor ibu dan kakak kamu.”

Wijan menerimanya dengan segan. Ponsel itu sangat bagus. Dan meskipun ia belum pernah memilikinya, tapi dia tahu bahwa ponsel itu bukan ponsel yang murah. Ia pernah melihat punya teman sekolahnya. Temannya yang suka pamer itu bilang bahwa harganya lebih dari sepuluh juta. Wijan mengamatinya dengan seksama.

“Kenapa? Kamu tidak suka?”

“Sangat suka, tapi untuk apa Bapak membelikan ini untuk Wijan? Ponsel yang biasa saja kan cukup untuk Wijan.”

Pak Raharjo tertawa. Ia tahu anak laki-lakinya tidak menyukai barang-barang mewah, meskipun dia anak seorang pengusaha kaya. Wijanarko sangat santun dan sederhana, tak pernah menginginkan yang aneh-aneh, seperti layaknya anak orang kaya. Barangkali sang ayah tidak tahu sama sekali, bahwa sikap Wijan yang seperti  itu dipicu oleh hardikan-hardikan ibu tirinya setiap saat, bahwa dia tidak pantas memiliki barang-barang bagus seperti yang diminta Hasti, kakaknya.

“Simpan baik-baik, dan bawa kemanapun kamu pergi. Setiap saat pasti bapak ingin menghubungi kamu, menanyakan keadaan kamu, sekolah kamu, melalui ponsel itu. Karena bapak tahu bahwa bapak sering tidak berada di rumah, sehingga kita jarang bisa berkomunikasi.”

Wijan mengangguk. Ketika ia akan berdiri, pak Raharjo memberikan lagi selembar uang ratusan ribu.

“Ini untuk apa?”

“Uang saku kamu. Beberapa hari ini bapak lupa memberikannya.”

“Masih ada kok Pak.”

“Tidak apa-apa, simpan atau tabung saja. Barangkali suatu hari kamu memerlukan sesuatu. Masih ada berapa uang kamu?”

Wijan tersipu. Ia tak pernah membelanjakan uang sakunya secara berlebihan, atau kalau memang tidak sangat diperlukan.

“Masih banyak kok Pak, Wijan jarang membeli sesuatu.”

“Kalau begitu tabung di bank saja, lebih aman.”

Wijan mengangguk, Lalu ia berdiri.

“Wijan mau ganti baju dulu.”

“Baiklah, dan bilang bibik, bahwa bapak mau makan. Pastinya kalian belum makan juga kan?”

Wijan mengangguk, lalu beranjak ke belakang, mengatakan kepada bibik tentang apa yang diminta ayahnya.

“Baik Mas, bibik sudah siapkan, karena bapak memang belum mau makan, katanya menunggu mas Wijan pulang,” kata bibik.

Wijan tersenyum, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia mengeluarkan ponselnya, mengamatinya sebentar, lalu memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya, dan menyimpan bungkusnya ke dalam almari.

Ketika keluar setelah selesai bersih-bersih badan dan berganti pakaian, ia belum juga melihat Nilam. Ia masuk ke ruang makan, dan melihat ayahnya sudah duduk di sana.

“Ayo makan, bapak menunggu kamu. Mana Nilam?”

Wijan membalikkan tubuhnya, kemudian memasuki kamar Nilam yang tidak terkunci. Dilihatnya Nilam sedang duduk di atas sofa, menaikkan kedua kakinya ke atas dan memeluk lututnya.

“Hei, ayo makan. Bapak menunggu kamu. Bukankah kamu lapar?”

“Mengapa mas Wijan melarang aku mengatakannya pada bapak?”

“Mengapa kamu harus mengatakannya? Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin ibu sedang ada keperluan yang kita tidak tahu. Apa jadinya kalau tiba-tiba bapak marah sedangkan ternyata ibu tidak bersalah? Runyam kan? Jadi rame, jadi ada ribut-ribut dan pertengkaran.

“Aku tidak suka melihat itu.”

“Jangan bandel, ayo makan dan dilarang melakukan apa yang mas Wijan larang,” kata Wijan sambil menarik tangan adik tirinya.

Ketika menuju ke ruang makan dan melewati kamar Wijan, didengarnya suara dering ponsel. Dari arah kamar Wijan. Wijan tertegun, kok sudah ada yang menghubunginya?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, December 5, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 07

 BUNGA UNTUK IBUKU  07

(Tien KUmalasari)

 

Wajahnya berseri, ketika panggilan telponnya diangkat oleh Baskoro.

“Pagi, cantikku,” jawaban dari seberang.

“Bas, jangan lupa ingatkan ke dealer, kirimnya jangan lama-lama. Nanti kita makan siang bersama, seperti biasanya.”

“Oke, bidadari cantik, siap, laksanakan.”

Wajah Rusmi berseri-seri mendengar sebutan bidadari cantik dari selingkuhannya.

“Benarkah aku cantik?”

“Tentu saja sayang. Kamu sangat cantik dan menyenangkan.”

“Kamu lagi di mana? Bicara begitu, apa tidak terdengar oleh istri kamu?”

“Tidak, dia sedang ada dibelakang, dan aku di halaman. Aku sudah siap mau berangkat, senang mendengar suara kamu yang bisa menambah semangat aku.”

“Bas, kamu selalu bisa menyenangkan hatiku, kamu memang selalu membuat aku puas.”

“Ini baru suara aku, belum kalau kita ada dan berdekatan.”

Mereka berbincang layaknya anak muda yang sedang pacaran. Terkadang mengikik aneh, terkadang terdengar bu Rusmi menjerit kecil. Entah gurauan apa yang membuatnya begitu.

Bibik yang sedang mengambil gelas-gelas bekas minum majikannya, melongok mendengar suara-suara aneh saat nyonya majikannya bertelpon, lalu geleng-geleng kepala, kemudian beranjak ke dapur sambil bergumam.

“Apa sebenarnya yang sedang diperbincangkan, dan dengan siapa ibu bertelpon. Seperti aneh.”

Tapi kemudian bibik mengangkat bahunya dan melanjutkan pekerjaannya.

Ketika sedang sibuk membersihkan dapur dan mempersiapkan alat masak yang akan dipergunakan, bu Rusmi mendekatinya.

“Bik, nanti kalau ada orang datang membawa mobil, tolong disuruh menunggu ya, aku mau mandi dulu.”

“Yang membawa mobil? Maksudnya, tamunya nanti pasti naik mobil, atau bagaimana Bu?”

“Bagaimana sih Bibik ini, tamu naik mobil … tamu naik mobil …”

“Maaf, Bu, saya tidak mengerti.”

“Makanya hentikan dulu pekerjaan kamu, menatap aku, dan dengar baik-baik apa yang aku katakan,” kesal bu Rusmi.

“Baik Bu. Maaf, hanya bersiap memasak, jadi ….”

“Hentikan dulu. Dengar baik-baik. Nanti ada orang yang akan mengirimkan mobil. Mobil untuk aku. Jelas?”

“Ada orang yang mengirimkan mobil?”

“Ya, begitulah. Itu mobil aku. Kamu suruh dia menunggu dulu, aku mau mandi. Kamu nanti bilang, supaya aku bisa cepat-cepat menemuinya. Mengerti?”

“Baik, Bu. Saya mengerti.”

Bu Rusmi membalikkan tubuhnya, masuk ke kamar, untuk mandi dan bersiap menunggu kedatangan mobil yang selalu diinginkannya.

Bibik melanjutkan pekerjaannya, sambil lagi-lagi bergumam.

“Jadi, ibu mau beli mobil? Hm, tidak ada mobil saja sudah sering pergi, nanti kalau ada mobil, apalagi.”

Sesungguhnya bibik merasa bahwa itu bukan urusannya, karena dia hanyalah pembantu di rumah itu. Tapi kelakuan sang nyonya hari ini sungguh membuatnya kesal. Sering bersikap kasar, dan yang membuatnya sakit hati adalah perlakuannya terhadap Wijan, anak nyonya majikannya yang sudah almarhumah. Wijan anak baik, penurut, santun dan tak pernah menyakiti siapapun, tapi ibu tiri dan kakak tirinya memperlakukannya dengan semena-mena. Hal itulah yang membuat bibik tidak bisa menghormati nyonya majikannya dengan rasa tulus, kecuali hanya berbasa-basi karena dia hanyalah pembantu.

Bibik sudah mulai memasak ketika mendengar langkah mendekat.

“Belum ada yang datang?”

Bibik menoleh, melihat sang nyonya sudah berdandan rapi, bersolek dengan luar biasa tebal, sehingga menutupi usianya yang sebenarnya sudah menjelang senja.

“Hei, kok bengong. Kamu itu kalau diajak bicara kok seperti tidak perhatian begitu.

“Maaf Bu, saya hanya … terpesona.”

“Terpesona bagaimana?”

“Ibu kelihatan sangat cantik,” katanya memuji, hanya untuk meredakan amarahnya.

Dan benar. Bu Rusmi tersenyum lebar.

“Benarkah aku cantik?”

“Tentu saja, Bu. Sangat cantik.”

“Oh ya, tadi aku bertanya, belum ada tamu datang?”

“Belum ada, Bu.”

Bu Rusmi membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah depan. Tapi kemudian dia berbalik lagi.

“Nanti kalau tamunya datang, kamu harus cepat membuatkan minuman untuk mereka. Mengerti?”

“Iya, Bu.”

Lalu bu Rusmi melanjutkan langkahnya.

***

Bu Rusmi agak kesal, karena mobil yang ditunggu baru datang setelah jam duabelas siang. Ia menandatangani tanda terima mobil dan bicara seperlunya, sampai petugas dealer itu pergi.

Bibik yang keluar dengan membawa dua cangkir kopi terpaksa balik kanan karena tamunya sudah pulang.

“Dasar pekerja lelet, kalau aku jadi majikannya, sudah aku pecat dia,” omelnya sambil mendekati mobil. Ia segera masuk dan menelpon Baskoro.

“Kok baru menelpon? Aku sudah menolak ajakan pak Raharjo untuk makan di luar tadi.”

“Mobilnya baru saja dikirim, aku belum mencobanya juga. Kamu segera keluar, aku akan nyamperin kamu di sebelah barat pintu masuk. Agak jauh ke barat.”

“Baiklah.”

Rusmi masuk kembali ke dalam rumah, mengambil tas dan tanpa bicara apapun kepada bibik, langsung saja keluar dengan membawa mobilnya.

Bibik geleng-geleng kepala menyaksikan ulah nyonya majikannya. Tapi ia merasa curiga, sang nyonya pasti melakukan hal yang tidak benar.

“Masa sih, seorang istri bicara begitu sama laki-laki lain. Laki-laki lah, pastinya, masa iya sesama perempuan akan bicara dengan manja, dengan kemayu seperti dilakukan ibu. Kasihan bapak, ia pasti tak tahu apa yang dilakukan istrinya. Mobil baru itu pasti bapak yang membelikannya. Tapi mana tahu apa yang dilakukan istrinya. Ah, entahlah. Meskipun kesal, tapi aku bisa apa, aku kan hanya pembantu. Tugasku hanya bekerja dan melakukan apa perintah mereka.”

Bibik melanjutkan pekerjaannya. Bersiap memasak untuk para majikan.

***

Pak Raharjo sangat kesal. Waktu istirahat sudah habis, tapi Baskoro belum juga kembali ke kantor. Tadi dia mengajak makan di luar, tapi Baskoro menolak, katanya harus pulang karena ada keperluan. Katanya dia akan makan di rumah. Tapi kenapa begitu lambat dia kembali?

Seorang sekretaris masuk ke ruangannya, dan menyerahkan seberkas surat-surat yang harus ditanda tanganinya.

“Baskoro belum kembali?”

“Saya belum melihatnya, Pak. Tadi kata satpam dia keluar tapi tanpa membawa motornya.”

“Oh ya, lalu dia pergi naik apa?”

“Tampaknya ada yang menjemput.”

Pak Raharjo mengerutkan keningnya. Siapa yang menjemput, padahal Baskoro tadi pamit pulang? Apa keluarganya, dan karena ada keperluan yang sangat penting?

Sampai sekretarisnya keluar, pak Raharjo masih sibuk menelpon Baskoro, tapi tak ada tanda-tanda ponsel Baskoro menerima panggilannya. Rupanya Baskoro mematikan ponselnya.

Lalu pak Raharjo menelpon dealer, menanyakan tentang mobil yang dipesannya. Tapi dari pihak dealer mengatakan bahwa mobil sudah dikirim sejak beberapa jam yang lalu. Lalu pak Raharjo menelpn istrinya, tanpa jawab juga.

“Kemana dia?”

Lalu ditelponnya bibik.

“Ya, Pak. Maaf, saya baru mencuci sayur,” jawab bibik dari seberang, yang meminta maaf karena terlambat mengangkat panggilan ponselnya.

“Ibu mana?”

“Ibu pergi, sudah dari tadi Pak.”

“Ke mana?”

“Tidak mengatakan apa-apa sih, Pak. Begitu ada mobil baru datang, ibu langsung pergi.”

“Jadi sudah ada mobil baru datang?”

“Iya, Pak. Sudah dari tadi.”

Pak Raharjo menutup ponselnya. Ada perasaan tak enak dengan mobil itu. Ia merasa bahwa sang istri tak akan membiarkan mobil barunya diam di rumah. Ia akan semakin sering bepergian. Ada sesal ketika ia harus membelikannya, tapi pak Raharjo sangat risih mendengar rengekan sang istri yang terus-terusan mengganggunya.

“Semoga dia bisa mengendalikan kesenangannya bepergian,” gumamnya sambil membuka berkas yang disodorkan sekretarisnya.

“Mungkin dia kesepian karena aku jarang ada di rumah,” lanjutnya, lalu ia mulai membaca berkas-berkas itu.

***

Di sebuah hotel, mobil berwarna hijau lumut itu meluncur keluar dari halaman. Sepasang asyik masyuk duduk di dalamnya dengan wajah berseri.

“Kita makan dulu?” tanya Rusmi.

“Tidak Bu, saya sudah sangat terlambat. Bingung mencari jawaban kalau nanti pak Raharjo bertanya."

“Kamu pasti lapar, karena kita belum makan dan langsung masuk ke hotel.”

“Nanti saya makan di kantin saja, soal makan itu gampang. Saya sedang mencari alasan kalau pak Raharjo  bertanya atas keterlambatan ini.”

“Mengapa susah-susah mencari alasan? Bilang saja istri sakit, harus mengantar ke dokter, gampang kan?”

“Alasan itu sudah saya kemukakan kemarin, dan sorenya saya terlanjur bilang bahwa dia sudah sembuh.”

“Alasan itu banyak. Jangan bodoh, Bas.”

“Iya, saya sedang memikirkannya.”

Ketika kemudian mobil itu sudah hampir sampai di kantor, Rusmi memberhentikannya. Agak jauh dari pintu masuk.

Baskoro turun setelah mencium tangan yang masih memegangi setir mobil.

“Besok lagi ya?” kata si pemilik tangan dengan wajah berseri.

Baskoro mengangguk, lalu menutupkan pintunya dan membiarkan mobil Rusmi berlalu.

Tapi tanpa di sangka, sebuah mobil memasuki pintu gerbang kantor. Mobil itu berhenti dan si pengemudi membuka kaca mobilnya.

“Bas, dari mana?”

Baskoro terkejut. Pengemudi mobil itu adalah pak Rangga, manager keuangan yang menjadi tangan kanan pak Raharjo.

“Ini … saya … dari rumah, Pak,” jawabnya agak gugup.

“Kok jalan? Siapa tadi yang mengantar?”

Baskoro terkejut, rupanya pak Rangga tahu bahwa dia diantar mobil, yang untunglah dia tidak tahu, siapa yang ada di dalamnya. Kalau tidak, mana mungkin dia bertanya.

“Itu … saudara saya … mm … tadi memang ada keperluan di rumah.”

“Oh ,” hanya itu jawaban pak Rangga, lalu mobil pak Rangga meluncur masuk ke halaman.

Baskoro melangkah masuk dengan hati berdebar. Seri wajah berbinar yang di sepanjang jalan tersirat, sudah lenyap diganti rasa khawatir kena marah.

Begitu dia duduk di kursinya, sebuah panggilan masuk, dan jantungnya hampir copot ketika mengetahui siapa yang memanggil.

Baskoro berdiri setelah meneguk minuman di mejanya, berharap hatinya bisa merasa sedikit tenang.

“Pak Bas baru datang? Dari tadi bapak mencari-cari pak Bas lho,” kata salah seorang bawahannya yang kebetulan berpapasan.

Baskoro tak menjawab, ia langsung menuju ruang atasannya.

“Kamu? Akhirnya kamu datang juga,” tegur pak Raharjo tak senang.

“Maaf Pak, saya sedang ada urusan keluarga,” jawabannya meluncur begitu saja, karena sudah dipersiapkan sebelumnya.

“Kamu pergi tanpa membawa sepeda motor kamu?”

“Iy .. iya Pak, saya dijemput keponakan.”

“Ya sudah, sana. Aku mau bicara sama pak Rangga dulu, lanjutkan pekerjaan kamu.”

Baskoro menarik napas lega. Dipanggil hanya untuk ditanya, dan rupanya sang majikan cukup puas dengan jawabannya. Ia langsung menuju kantin, karena perutnya sekarang terasa keroncongan. Tapi sebelum memasuki kantin, ia kembali berpapasan dengan pak Rangga.

“Mau makan? Kan tadi pulang, belum makan di rumah?” tegur pak Rangga.

“Belum, tadi belum sempat makan karena … ada pembicaraan penting dengan keluarga,” jawab Baskoro yang kemudian langsung masuk ke dalam kantin.

***

Hari Minggu sudah tiba. Dari pagi Nilam sudah merengek-rengek meminta agar diijinkan jalan-jalan bersama Wijan dengan naik sepeda, sementara sang kakak masih tidur tapi sang ibu sudah bersiap dengan baju rapi, duduk di samping suaminya, menemani minum segelas kopi.

“Kamu mau ke mana? Pagi-pagi sudah dandan?” tegur pak Raharjo kepada istrinya.

“Aku mau muter-muter sebentar dengan mobil baru.”

“Bukankah sudah berhari-hari kamu bepergian dengan mobil itu?”

“Iya, ini kan hari Minggu, siapa tahu ada teman bisa diajak jalan. Kalau sama Bapak, aku tidak sampai hati mengajak, kan ini kesempatan untuk beristirahat setelah selama seminggu bekerja,” katanya sambil mengelus lengan sang suami, bersikap seakan sangat perhatian.

“Kalau begitu ajaklah Wijan dan Nilam bersama kamu. Pasti mereka senang muter-muter sama ibunya dengan mobil baru.”

“Apa? Bukankah mereka ingin bersepeda pagi ini?”

“Kalau kamu mengajaknya, pasti mereka mau.”

“Nggak mungkin. Nilam bahkan menolak setiap kali ibu ingin mengantar dan menjemputnya. Ia memilih membonceng Wijan.”

“Nilaaam!” teriak pak Raharjo. Nilam yang sedang memakai sepatu langsung berlari menemui ayahnya.

“Lihat, ibu sudah bersiap mau jalan-jalan dengan mobil baru. Ajak mas Wijan ikut bersama ibu,” kata pak Raharjo.

“Nggak mau, Nilam mau membonceng mas Wijan jalan-jalan dengan sepeda.”

“Tuh kan, apa kata ibu,” kata Rusmi yang semula sudah khawatir Nilam akan menuruti permintaan ayahnya.

“Mas Wijaaan, ayo kita berangkaat,” kata Nilam sambil beranjak ke belakang untuk mengajak sang kakak agar segera berangkat.

“Kalau begitu ibu jalan dulu ya Pak, nanti Bapak mau dibawain apa?”

“Nggak usah, bapak ingin beristirahat saja,” kata pak Raharjo acuh tak acuh, kemudian meraih koran pagi yang ada di mejanya.

Rusmi seakan tak peduli. Ia langsung menghampiri mobilnya, dan berlalu dengan suatu tujuan, yaitu bersenang-senang bersama Baskoro.

***

Wijan dan Nilam sedang duduk di tepi sawah, tempat kesukaan mereka setiap pulang sekolah hanya untuk menikmati kesejukan yang menerpa saat udara panas mendera.

Tapi mereka bukan berada di tempat biasanya. Ada persawahan, dan ada bungalow kecil yang terletak agak jauh dari mereka duduk, sambil berbincang dan terkadang tertawa lucu. Mereka juga sedang menghilangkan rasa penat setelah berkayuh dan berkeringat.

Tiba-tiba Nilam melihat sebuah mobil keluar dari bungalow itu. Nilam terbelalak. Bukankah itu mobil baru ibunya?

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...