KANTUNG BERWARNA EMAS
04
(Tien Kumalasari)
Karina menjerit sekuatnya, sementara Nurani
mengumpulkan pecahan piring yang terserak di lantai. Ada rasa was-was karena
piring yang terlempar jatuh adalah piring yang biasa dipakai ibunya, dan yang satu adalah piring Rian, karena Rian juga belum makan.
“Apaan sih Mas, sakit. Tahu!” teriak Karina sambil
memegangi pipinya yang memerah.
“Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menjambak rambut
Nurani?”
“Aku lapar, mau makan, tapi makanan belum ada.”
“Kamu kira Nurani itu pembantu?”
“Biasanya dia kan yang memasak.”
“Mulai sekarang tidak biasa. Kalau kamu lapar, ambil
saja apa yang sudah bisa dimakan. Kecap, atau goreng telur, tapi lakukanlah
sendiri.”
“Apa maksudmu Mas?” protes Karina.
“Jangan perlakukan Nurani seperti pembantu.”
“Bukankah biasanya juga begitu?”
“Tidak. Itu tidak biasa. Lagi pula kenapa kamu pulang
di jam segini?”
Aku ijin pulang, perutku sakit.”
“Perut sakit atau lapar? Biasanya ketika perut terasa
sakit, lalu tidak akan doyan makan.”
“Perutku melilit.”
“Kalau tetap ingin makan, ambil sendiri apa yang sudah
ada.”
Rian membantu Nurani membersihkan pecahan piring,
menyapu, kemudian mengepelnya.
“Sudah Mas, biar aku saja.”
“Tidak, lanjutkan memasak, dan jangan hiraukan Karina.
Kalau dia keburu lapar, biar membuat lauk sendiri. Aku baru tahu kelakuan
Karina yang buruk, hari ini. Karena aku selalu tak ada di rumah saat siang, dan
Karina juga sedang bekerja. Apakah dia selalu berbuat begitu?”
Nurani tersenyum, tapi dia menggelengkan kepalanya.
“Jangan takut melawan, kalau dia menindas kamu.
Lama-lama dia jadi besar kepala.”
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar Karina
dibanting sangat keras, sampai Nurani terlonjak kaget.
“Anak manja!”
Nurani hanya tersenyum, melanjutkan mengaduk sayur,
dan menyiapkan ikan goreng yang sudah dibumbui.
“Ini harus digoreng?” tanya Rian.
“Iya, biar aku saja.”
“Biar aku menggorengnya. Mana wajan?”
Nurani tersenyum. Kalau Rian sudah punya kemauan,
dihalangi juga tak akan mempan. Karena itu ia memasang wajan di atas kompor,
kemudian menyalakannya, setelah menyiapkan minyak secukupnya.
“Tunggu kalau sudah panas, baru masukkan ikannya, tapi
hati-hati, kalau tidak, Mas bisa kena percikan minyak panas.”
“Oh ya?”
“Iya, biasanya kalau sudah dimasukkan, kemudian
meletup-letup.”
“Kalau begitu setelah dimasukkan harus ditutup dong,
wajannya.”
“Iya, pintar,” kata Nurani sambil menyiapkan tutup
wajan.
Rian senang sekali. Hari itu dia tidak masuk kuliah.
Setelah pulang dari mengantarkan Nurani ke sekolah, dia membantu memasak di
dapur, sambil sesekali bercanda. Nurani sangat senang hari itu, tanpa menduga,
rupanya Karina menelpon ibunya sambil menangis.
“Ada apa menangis?”
“Karina lapar, tapi jam segini belum ada masakan yang
matang,” rengeknya.
“Kenapa kamu sudah pulang?”
“Karina capek. Gudang banyak sekali barang, dan Karina
disuruh ikut menghitung dan mencocokkannya dengan catatan. Lalu Karina pamit
pulang. Tapi di rumah belum ada makanan yang siap dimakan.”
“Nurani ngapain?”
“Nggak tahu, barangkali tidur sejak pagi dan baru
mulai memasak.”
“Ibu segera pulang.”
***
Nurani sedang menata makanan di meja, setelah
menyiapkan piring dan segala perlengkapan makan di sana. Ia sudah menyelesaikan
memasak sayur, dan goreng ikan dengan dibantu Rian, itu sebabnya dia bisa
menyelesaikannya dengan cepat. Nurani hampir selesai melakukannya, ketika
tiba-tiba ibunya muncul dan menarik rambutnya keras, kalau tidak bisa dibilang
menjambak, soalnya yang ditarik lebih sedikit, dan rasa pedihnya lebih parah.
“Auuuw! Ibu.”
“Apa yang kamu kerjakan sejak pagi, sehingga jam
segini baru selesai memasak? Dan karena itu pula Karina yang sedang sakit tidak
bisa segera makan?” hardiknya.
“Bukankah ibu sudah tahu, kalau tadi pagi saya ke
sekolah dengan diantar mas Rian?”
“Lalu berapa jam kamu berada di sekolah? Sambil
jalan-jalan ya? Sehingga baru bisa memasak saat hari sudah siang? Sehingga
semua orang kamu biarkan kelaparan?”
“Saya agak lama di sekolah, karena beberapa guru menge
tes saya.”
“Hm, bagus. Itu karena mereka tidak percaya bahwa kamu
akan bisa menjalani sekolah SMA setelah berhenti sekian tahun bukan? Dan kamu
masih akan nekat memaksa ingin melanjutkan sekolah kamu?”
“Besok pagi saya sudah bisa masuk,” jawab Nurani
kesal. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba dia berani menjawab kata-kata
ibunya, setelah sekian lama hanya diam ketika diomelin, bahkan dengan kata-kata
kasar.
Bu Candra terbelalak.
“Kamu mimpi kan? Apa kamu salah mendengar kata petugas
sekolah, yang mengatakan tidak bisa masuk besok tapi kamu mendengarnya bahwa
kamu bisa masuk?”
“Saya tidak salah dengar,” katanya sambil beranjak ke
belakang, karena dia juga harus menyiapkan jus buah di meja makan.
Tiba-tiba terdengar bu Candra berteriak.
“Mengapa aku kamu beri piring yang ini? Mana piringku
yang biasanya?”
Nurani kembali ke meja makan dengan membawa beberapa
gelas jus yang sudah disiapkannya.
“Pecah.”
“Apa?” bu Candra berteriak. Barangkali lantai
tempatnya berpijak ikut bergetar karena teriakannya yang teramat keras.
“Ada apa sih Bu? Baru saja Ibu datang sudah terdengar
teriakan-teriakan begitu keras. Malu sama tetangga dong Bu.”
“Kamu ternyata masih ada di rumah? Hm, bagus. Lihat
ini, piring ibu yang biasanya ibu pakai, diganti dengan piring biasa. Katanya
pecah. Enak sekali dia menjawabnya. Siapa yang tidak marah coba?”
“Ibu mau tahu? Piring itu pecah karena ulah Karina.
Ada dua piring yang pecah. Piring Ibu, dan satu lagi piring Rian, karena yang
ditata di sini adalah kedua piring itu, mengingat yang biasa makan siang di
rumah hanya Ibu dan Rian.”
Mata bu Candra membulat sempurna.
“Kamu bilang apa? Piring pecah karena ulah Karina?
Kamu jangan asal menjelek-jelekkan adik kamu sendiri demi membela Nurani.”
“Karina mau pingsan karena kelaparan, karena masakan
belum matang. Lalu karena marah, dia
menggebrak meja sekuat tenaga, dan dua piring terlempar jatuh ke lantai.”
“Dan itu adalah karena kesalahan Nurani bukan? Karena
sudah siang belum selesai memasak?”
“Nurani ke sekolah, dan Rian mengajaknya belanja
pakaian seragam dan segala perlengkapannya. Apakah Karina tidak punya tangan
untuk sekedar menggoreng telur, kalau dia sudah sangat kelaparan?”
“Rian!!” hardik bu Candra marah.
“Nurani bukan pembantu. Dia juga saudara Rian dan
Karina, karena Nurani anak kandung bapak.”
“Kamu sudah keterlaluan. Kamu lupa siapa Karina yang
adalah adik kandung kamu. Kamu membeda-bedakan antara dia dan Nurani. Apa itu
pantas?”
“Bukankah Ibu yang membeda-bedakan antara Nurani dan
Karina?”
“Diam Rian! Sejak kapan kamu berani menjawab perkataan
ibu kamu?”
“Nurani, ayo kita makan,” teriak Rian sambil duduk di
kursi makan.
“Apa maksudmu?”
“Nurani pasti capek, dan juga lapar, jadi biarlah dia
makan bersama kita. Nuuuur!” kemudian Rian berteriak lagi.
“Aku nanti saja Mas, mau mencuci baju seragam aku, supaya cepat kering, supaya aku bisa menyetrika sebelum aku pakai untuk sekolah,” jawab Nurani dari tengah-tengah pintu dari arah dapur.
Bu Candra mencibir. Nurani seperti sedang memamerkan kepada
dirinya, bahwa dia benar-benar akan masuk sekolah.
***
Dipagi buta Nurani sudah bangun, kemudian
bersih-bersih rumah. Setelah itu ia menjerang air untuk minum seisi rumah, lalu
memasak untuk sarapan pagi, sekaligus untuk makan siang. Ia melakukannya begitu
cepat, karena tangan Nurani adalah tangan yang tangkas. Ia melakukannya karena ibunya memintanya.
Ketika seisi rumah bangun, minuman hangat sudah
tersedia di meja ruang tengah, dan sarapan sudah ditata di meja makan.
Pak Candra mencium aroma sup ayam kesukaannya, lalu
beranjak ke meja makan. Dilihatnya Nurani sudah siap dengan pakaian seragam SMA
nya. Pak Candra mendekat, memegangi kedua bahu anaknya.
“Kamu siap masuk sekolah, sayang?”
“Ya, Pak,” jawab Nurani sambil mengangguk.
Pak Candra menyelipkan uang ratusan ribu di saku baju
Nurani.
“Barangkali kamu butuh sesuatu. Sekarang ayo kita sarapan
dulu, kamu kan harus berangkat lebih pagi.”
Nurani mengangguk, mengikuti ayahnya ke arah ruang
makan. Tiba-tiba Rian muncul.
“Nanti berangkat bareng aku saja Nur, aku ada kuliah
pagi,” kata Rian sambil ikut duduk di ruang makan.
“Bu, ayo sarapan sekarang saja, soalnya Nurani harus
berangkat pagi,” teriak pak Candra.
Bu Candra muncul, masih dengan pakaian tidur.
“Ibu masak apa tadi? Bagus sekali, ibu tahu kalau
Nurani mau masuk pagi, lalu bikin sarapannya pagi-pagi sekali,” puji pak Candra
sambil menatap istrinya.
“Sup ayam nih, kesukaan bapak," lanjut pak Candra dengan gembira.
Bu Candra tak menjawab. Lalu duduk di samping suaminya.
“Nurani cantik sekali dengan seragam itu,” kata bu
Candra sambil tersenyum manis. Nurani diam saja. Ia juga tak mau protes, walau ayahnya
menganggap ibunya lah yang menyiapkan sarapan pagi. Setiap hari pasti ada
sandiwara itu, Nurani sudah sangat hapal.
“Kasihan Ibu, sampai belum sempat mandi gara-gara
menyiapkan sarapan untuk anak gadis bapak yang pintar ini,” kata pak Candra.
Nurani menyuapkan suapan terakhirnya.
“Karina mana? Apa masih sakit? Kemarin bilang sakit
perut. Tapi semalam kan sudah ikut makan bersama kita?”
“ Sudah sembuh kok setelah aku beri obat. Tadi masih
bersih-bersih kamar,” jawab bu Candra.
“Bersih-bersih apa. Dia masih molor tuh,” sergah Rian.
“Apa? Kamu jangan ngawur. Ibu lihat sendiri kok. Ya
sudah kalian sarapan saja dulu, aku samperin Karina, lalu aku mandi dulu saja,
gerah,” katanya sambil berdiri.
“Ya sudah, mandi sana, dan dandan cantik.”
“Nurani sudah selesai, mau berangkat dulu,” kata
Nurani sambil berdiri.
“Eit, tunggu dulu, jangan berangkat sendiri, nanti
bareng aku saja, aku antar sampai ke sekolah kamu,” kata Rian.
“Baik, aku kenakan sepatu aku dulu,” kata Nurani sambil
beranjak ke kamarnya.
Pak Candra tersenyum.
“Ini awal yang sangat menggembirakan. Semoga Nurani
berhasil meraih cita-citanya, sehingga harapanku terpenuhi,” gumam pak Candra
yang sudah hampir menyelesaikan sarapannya.
“Harapan Bapak pasti terpenuhi, percayalah Pak,” kata
Rian.
***
“Mengapa kamu belum bangun?” kata bu Candra sedikit
kasar, sambil menarik selimut Karina.
“Aduh, Ibu … kaget aku.”
“Kaget … kaget … semua orang sudah sarapan. Bapakmu
bertanya, kamu di mana, aku bilang kamu sedang bersih-bersih kamar, ee … malah
masih tidur. Ayo bangun, cepat! Biar ibu yang merapikan tempat tidur kamu,”
hardik ibunya kesal.
Karina menggeliat, lalu bu Candra menariknya turun.
“Segera mandi. Jangan sampai bapak menunggu,” katanya
sambil melipat selimut Karina dan merapikannya.
***
Siang itu pak Candra mengajak Andre makan siang
diluar, karena pekerjaan sudah selesai. Lagi pula hati pak Candra sedang sangat
gembira. Betapa tidak, satu-satunya putri kandungnya yang semula enggan
melanjutkan sekolah, tiba-tiba bersedia melakukannya, walau sudah empat tahunan
berlalu setelah Nurani lulus dari SMP.
Mereka makan dengan lahap, sambil bercerita tentang
banyak hal. Ya pekerjaan, ya keadaan rumah tangganya yang tampak penuh bahagia.
Andre mendengarkannya sambil sesekali memberi pujian
atas berhasilnya pak Candra membujuk Nurani agar mau melanjutkan sekolah.
“Aneh ya Ndre, rasanya makan siang kali ini kok
rasanya enak sekali?”
“Itu karena hati Bapak sedang gembira. Bahkan sangat
gembira.”
“Itu benar. Aku benar-benar gembira hari ini. Oh ya,
nanti setelah makan kita menjemput Nurani ya? Jam berapa biasanya anak SMA
pulang?”
“Kalau tidak salah ya sekitar jam dua an.”
“Kalau begitu kita langsung ke sana saja. Biar dia
senang karena ayahnya sangat memperhatikan.
“Baiklah Pak, itu benar, biar dia bertambah bersemangat.”
“Tapi aku mau menelpon Rian dulu, jangan-jangan dia
sudah siap menjemput adiknya.”
Pak Candra mengambil ponselnya, dan mengatakan pada
Rian bahwa tidak usah menjemput Nurani, karena dia akan melakukannya.
***
Sudah berjalan beberapa Minggu Nurani masuk sekolah,
dan selalu menyelesaikan pekerjaannya sebelum berangkat. Selama itu pula pak
Candra selalu mengira bahwa istrinya lah yang telah bersusah payah menyiapkan minum
dan sarapan untuk semua orang. Memang sih, sebelumnya bu Candra yang selalu
menyiapkan semuanya, agar suaminya mengira dia sangat perhatian kepada
keluarganya. Tapi sejak Nurani bangun lebih pagi hanya karena harus memasak
untuk makan siang mereka, maka Nurani sekalian menyiapkan makan untuk sarapan.
Dan sejauh itu pula, pak Candra selalu menganggap bahwa semuanya adalah
pekerjaan sang istri.
Tapi pagi itu ia terbangun lebih pagi, karena merasa
haus. Dia tak melihat istrinya terbaring di sampingnya, pasti sudah berkutat di
dapur seperti biasanya, pikir pak Candra.
Ia turun dari tempat tidur, lalu keluar kamar dan
menuju ke ruang makan. Ia terkejut ketika melihat Nurani sedang menata lauk di
atas meja.
“Sayang, kok kamu sudah bangun?”
Nurani hanya tersenyum. Baru sekali ayahnya melihat
dia bangun pagi-pagi, hanya karena tak ingin membuat ibunya mengomel.
“Mana Ibu?” tanya pak Candra mencari-cari. Tapi ia tak
melihat istrinya.
“Bapak mau minum hangat? Coklat susu sudah saya
siapkan.”
“Oh ya? Bagus sekali, tolong bawa ke ruang tengah ya,
bapak ke kamar mandi dulu,” kata sang ayah.
Tapi ketika pak Candra masuk ke ruang tengah dan
menyalakan lampunya, dilihatnya sang istri meringkuk di sofa. Tertidur pulas.
***
Besok lagi ya.