Friday, December 9, 2022

KANTUNG BERWARNA EMAS 04

 

KANTUNG BERWARNA EMAS  04

(Tien Kumalasari)

 

Karina menjerit sekuatnya, sementara Nurani mengumpulkan pecahan piring yang terserak di lantai. Ada rasa was-was karena piring yang terlempar jatuh adalah piring yang biasa dipakai ibunya, dan yang satu adalah piring Rian, karena Rian juga belum makan.

“Apaan sih Mas, sakit. Tahu!” teriak Karina sambil memegangi pipinya yang memerah.

“Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menjambak rambut Nurani?”

“Aku lapar, mau makan, tapi makanan belum ada.”

“Kamu kira Nurani itu pembantu?”

“Biasanya dia kan yang memasak.”

“Mulai sekarang tidak biasa. Kalau kamu lapar, ambil saja apa yang sudah bisa dimakan. Kecap, atau goreng telur, tapi lakukanlah sendiri.”

“Apa maksudmu Mas?” protes Karina.

“Jangan perlakukan Nurani seperti pembantu.”

“Bukankah biasanya juga begitu?”

“Tidak. Itu tidak biasa. Lagi pula kenapa kamu pulang di jam segini?”

Aku ijin pulang, perutku sakit.”

“Perut sakit atau lapar? Biasanya ketika perut terasa sakit, lalu tidak akan doyan makan.”

“Perutku melilit.”

“Kalau tetap ingin makan, ambil sendiri apa yang sudah ada.”

Rian membantu Nurani membersihkan pecahan piring, menyapu, kemudian mengepelnya.

“Sudah Mas, biar aku saja.”

“Tidak, lanjutkan memasak, dan jangan hiraukan Karina. Kalau dia keburu lapar, biar membuat lauk sendiri. Aku baru tahu kelakuan Karina yang buruk, hari ini. Karena aku selalu tak ada di rumah saat siang, dan Karina juga sedang bekerja. Apakah dia selalu berbuat begitu?”

Nurani tersenyum, tapi dia menggelengkan kepalanya.

“Jangan takut melawan, kalau dia menindas kamu. Lama-lama dia jadi besar kepala.”

Tak lama kemudian terdengar pintu kamar Karina dibanting sangat keras, sampai Nurani terlonjak kaget.

“Anak manja!”

Nurani hanya tersenyum, melanjutkan mengaduk sayur, dan menyiapkan ikan goreng yang sudah dibumbui.

“Ini harus digoreng?” tanya Rian.

“Iya, biar aku saja.”

“Biar aku menggorengnya. Mana wajan?”

Nurani tersenyum. Kalau Rian sudah punya kemauan, dihalangi juga tak akan mempan. Karena itu ia memasang wajan di atas kompor, kemudian menyalakannya, setelah menyiapkan minyak secukupnya.

“Tunggu kalau sudah panas, baru masukkan ikannya, tapi hati-hati, kalau tidak, Mas bisa kena percikan minyak panas.”

“Oh ya?”

“Iya, biasanya kalau sudah dimasukkan, kemudian meletup-letup.”

“Kalau begitu setelah dimasukkan harus ditutup dong, wajannya.”

“Iya, pintar,” kata Nurani sambil menyiapkan tutup wajan.

Rian senang sekali. Hari itu dia tidak masuk kuliah. Setelah pulang dari mengantarkan Nurani ke sekolah, dia membantu memasak di dapur, sambil sesekali bercanda. Nurani sangat senang hari itu, tanpa menduga, rupanya Karina menelpon ibunya sambil menangis.

“Ada apa menangis?”

“Karina lapar, tapi jam segini belum ada masakan yang matang,” rengeknya.

“Kenapa kamu sudah pulang?”

“Karina capek. Gudang banyak sekali barang, dan Karina disuruh ikut menghitung dan mencocokkannya dengan catatan. Lalu Karina pamit pulang. Tapi di rumah belum ada makanan yang siap dimakan.”

“Nurani ngapain?”

“Nggak tahu, barangkali tidur sejak pagi dan baru mulai memasak.”

“Ibu segera pulang.”

***

Nurani sedang menata makanan di meja, setelah menyiapkan piring dan segala perlengkapan makan di sana. Ia sudah menyelesaikan memasak sayur, dan goreng ikan dengan dibantu Rian, itu sebabnya dia bisa menyelesaikannya dengan cepat. Nurani hampir selesai melakukannya, ketika tiba-tiba ibunya muncul dan menarik rambutnya keras, kalau tidak bisa dibilang menjambak, soalnya yang ditarik lebih sedikit, dan rasa pedihnya lebih parah.

“Auuuw! Ibu.”

“Apa yang kamu kerjakan sejak pagi, sehingga jam segini baru selesai memasak? Dan karena itu pula Karina yang sedang sakit tidak bisa segera makan?” hardiknya.

“Bukankah ibu sudah tahu, kalau tadi pagi saya ke sekolah dengan diantar mas Rian?”

“Lalu berapa jam kamu berada di sekolah? Sambil jalan-jalan ya? Sehingga baru bisa memasak saat hari sudah siang? Sehingga semua orang kamu biarkan kelaparan?”

“Saya agak lama di sekolah, karena beberapa guru menge tes saya.”

“Hm, bagus. Itu karena mereka tidak percaya bahwa kamu akan bisa menjalani sekolah SMA setelah berhenti sekian tahun bukan? Dan kamu masih akan nekat memaksa ingin melanjutkan sekolah kamu?”

“Besok pagi saya sudah bisa masuk,” jawab Nurani kesal. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba dia berani menjawab kata-kata ibunya, setelah sekian lama hanya diam ketika diomelin, bahkan dengan kata-kata kasar.

Bu Candra terbelalak.

“Kamu mimpi kan? Apa kamu salah mendengar kata petugas sekolah, yang mengatakan tidak bisa masuk besok tapi kamu mendengarnya bahwa kamu bisa masuk?”

“Saya tidak salah dengar,” katanya sambil beranjak ke belakang, karena dia juga harus menyiapkan jus buah di meja makan.

Tiba-tiba terdengar bu Candra berteriak.

“Mengapa aku kamu beri piring yang ini? Mana piringku yang biasanya?”

Nurani kembali ke meja makan dengan membawa beberapa gelas jus yang sudah disiapkannya.

“Pecah.”

“Apa?” bu Candra berteriak. Barangkali lantai tempatnya berpijak ikut bergetar karena teriakannya yang teramat keras.

“Ada apa sih Bu? Baru saja Ibu datang sudah terdengar teriakan-teriakan begitu keras. Malu sama tetangga dong Bu.”

“Kamu ternyata masih ada di rumah? Hm, bagus. Lihat ini, piring ibu yang biasanya ibu pakai, diganti dengan piring biasa. Katanya pecah. Enak sekali dia menjawabnya. Siapa yang tidak marah coba?”

“Ibu mau tahu? Piring itu pecah karena ulah Karina. Ada dua piring yang pecah. Piring Ibu, dan satu lagi piring Rian, karena yang ditata di sini adalah kedua piring itu, mengingat yang biasa makan siang di rumah hanya Ibu dan Rian.”

Mata bu Candra membulat sempurna.

“Kamu bilang apa? Piring pecah karena ulah Karina? Kamu jangan asal menjelek-jelekkan adik kamu sendiri demi membela Nurani.”

“Karina mau pingsan karena kelaparan, karena masakan belum matang. Lalu karena marah,  dia menggebrak meja sekuat tenaga, dan dua piring terlempar jatuh ke lantai.”

“Dan itu adalah karena kesalahan Nurani bukan? Karena sudah siang belum selesai memasak?”

“Nurani ke sekolah, dan Rian mengajaknya belanja pakaian seragam dan segala perlengkapannya. Apakah Karina tidak punya tangan untuk sekedar menggoreng telur, kalau dia sudah sangat kelaparan?”

“Rian!!” hardik bu Candra marah.

“Nurani bukan pembantu. Dia juga saudara Rian dan Karina, karena Nurani anak kandung bapak.”

“Kamu sudah keterlaluan. Kamu lupa siapa Karina yang adalah adik kandung kamu. Kamu membeda-bedakan antara dia dan Nurani. Apa itu pantas?”

“Bukankah Ibu yang membeda-bedakan antara Nurani dan Karina?”

“Diam Rian! Sejak kapan kamu berani menjawab perkataan ibu kamu?”

“Nurani, ayo kita makan,” teriak Rian sambil duduk di kursi makan.

“Apa maksudmu?”

“Nurani pasti capek, dan juga lapar, jadi biarlah dia makan bersama kita. Nuuuur!” kemudian Rian berteriak lagi.

“Aku nanti saja Mas, mau mencuci baju seragam aku, supaya cepat kering, supaya aku bisa menyetrika sebelum aku pakai untuk sekolah,” jawab Nurani dari tengah-tengah pintu dari arah dapur.

Bu Candra mencibir. Nurani seperti sedang memamerkan kepada dirinya, bahwa dia benar-benar akan masuk sekolah.

***

Dipagi buta Nurani sudah bangun, kemudian bersih-bersih rumah. Setelah itu ia menjerang air untuk minum seisi rumah, lalu memasak untuk sarapan pagi, sekaligus untuk makan siang. Ia melakukannya begitu cepat, karena tangan Nurani adalah tangan yang tangkas. Ia melakukannya karena ibunya memintanya.

Ketika seisi rumah bangun, minuman hangat sudah tersedia di meja ruang tengah, dan sarapan sudah ditata di meja makan.

Pak Candra mencium aroma sup ayam kesukaannya, lalu beranjak ke meja makan. Dilihatnya Nurani sudah siap dengan pakaian seragam SMA nya. Pak Candra mendekat, memegangi kedua bahu anaknya.

“Kamu siap masuk sekolah, sayang?”

“Ya, Pak,” jawab Nurani sambil mengangguk.

Pak Candra menyelipkan uang ratusan ribu di saku baju Nurani.

“Barangkali kamu butuh sesuatu. Sekarang ayo kita sarapan dulu, kamu kan harus berangkat lebih pagi.”

Nurani mengangguk, mengikuti ayahnya ke arah ruang makan. Tiba-tiba Rian muncul.

“Nanti berangkat bareng aku saja Nur, aku ada kuliah pagi,” kata Rian sambil ikut duduk di ruang makan.

“Bu, ayo sarapan sekarang saja, soalnya Nurani harus berangkat pagi,” teriak pak Candra.

Bu Candra muncul, masih dengan pakaian tidur.

“Ibu masak apa tadi? Bagus sekali, ibu tahu kalau Nurani mau masuk pagi, lalu bikin sarapannya pagi-pagi sekali,” puji pak Candra sambil menatap istrinya.

“Sup ayam nih, kesukaan bapak," lanjut pak Candra dengan gembira.

Bu Candra tak menjawab. Lalu duduk di samping suaminya.

“Nurani cantik sekali dengan seragam itu,” kata bu Candra sambil tersenyum manis. Nurani diam saja. Ia juga tak mau protes, walau ayahnya menganggap ibunya lah yang menyiapkan sarapan pagi. Setiap hari pasti ada sandiwara itu, Nurani sudah sangat hapal.

“Kasihan Ibu, sampai belum sempat mandi gara-gara menyiapkan sarapan untuk anak gadis bapak yang pintar ini,” kata pak Candra.

Nurani menyuapkan suapan terakhirnya.

“Karina mana? Apa masih sakit? Kemarin bilang sakit perut. Tapi semalam kan sudah ikut makan bersama kita?”

“ Sudah sembuh kok setelah aku beri obat. Tadi masih bersih-bersih kamar,” jawab bu Candra.

“Bersih-bersih apa. Dia masih molor tuh,” sergah Rian.

“Apa? Kamu jangan ngawur. Ibu lihat sendiri kok. Ya sudah kalian sarapan saja dulu, aku samperin Karina, lalu aku mandi dulu saja, gerah,” katanya sambil berdiri.

“Ya sudah, mandi sana, dan dandan cantik.”

“Nurani sudah selesai, mau berangkat dulu,” kata Nurani sambil berdiri.

“Eit, tunggu dulu, jangan berangkat sendiri, nanti bareng aku saja, aku antar sampai ke sekolah kamu,” kata Rian.

“Baik, aku kenakan sepatu aku dulu,” kata Nurani sambil beranjak ke kamarnya.

Pak Candra tersenyum.

“Ini awal yang sangat menggembirakan. Semoga Nurani berhasil meraih cita-citanya, sehingga harapanku terpenuhi,” gumam pak Candra yang sudah hampir menyelesaikan sarapannya.

“Harapan Bapak pasti terpenuhi, percayalah Pak,” kata Rian.

***

“Mengapa kamu belum bangun?” kata bu Candra sedikit kasar, sambil menarik selimut Karina.

“Aduh, Ibu … kaget aku.”

“Kaget … kaget … semua orang sudah sarapan. Bapakmu bertanya, kamu di mana, aku bilang kamu sedang bersih-bersih kamar, ee … malah masih tidur. Ayo bangun, cepat! Biar ibu yang merapikan tempat tidur kamu,” hardik ibunya kesal.

Karina menggeliat, lalu bu Candra menariknya turun.

“Segera mandi. Jangan sampai bapak menunggu,” katanya sambil melipat selimut Karina dan merapikannya.

***

Siang itu pak Candra mengajak Andre makan siang diluar, karena pekerjaan sudah selesai. Lagi pula hati pak Candra sedang sangat gembira. Betapa tidak, satu-satunya putri kandungnya yang semula enggan melanjutkan sekolah, tiba-tiba bersedia melakukannya, walau sudah empat tahunan berlalu setelah Nurani lulus dari SMP.

Mereka makan dengan lahap, sambil bercerita tentang banyak hal. Ya pekerjaan, ya keadaan rumah tangganya yang tampak penuh bahagia.

Andre mendengarkannya sambil sesekali memberi pujian atas berhasilnya pak Candra membujuk Nurani agar mau melanjutkan sekolah.

“Aneh ya Ndre, rasanya makan siang kali ini kok rasanya enak sekali?”

“Itu karena hati Bapak sedang gembira. Bahkan sangat gembira.”

“Itu benar. Aku benar-benar gembira hari ini. Oh ya, nanti setelah makan kita menjemput Nurani ya? Jam berapa biasanya anak SMA pulang?”

“Kalau tidak salah ya sekitar jam dua an.”

“Kalau begitu kita langsung ke sana saja. Biar dia senang karena ayahnya sangat memperhatikan.

“Baiklah Pak, itu benar, biar dia bertambah bersemangat.”

“Tapi aku mau menelpon Rian dulu, jangan-jangan dia sudah siap menjemput adiknya.”

Pak Candra mengambil ponselnya, dan mengatakan pada Rian bahwa tidak usah menjemput Nurani, karena dia akan melakukannya.

***

Sudah berjalan beberapa Minggu Nurani masuk sekolah, dan selalu menyelesaikan pekerjaannya sebelum berangkat. Selama itu pula pak Candra selalu mengira bahwa istrinya lah yang telah bersusah payah menyiapkan minum dan sarapan untuk semua orang. Memang sih, sebelumnya bu Candra yang selalu menyiapkan semuanya, agar suaminya mengira dia sangat perhatian kepada keluarganya. Tapi sejak Nurani bangun lebih pagi hanya karena harus memasak untuk makan siang mereka, maka Nurani sekalian menyiapkan makan untuk sarapan. Dan sejauh itu pula, pak Candra selalu menganggap bahwa semuanya adalah pekerjaan sang istri.

Tapi pagi itu ia terbangun lebih pagi, karena merasa haus. Dia tak melihat istrinya terbaring di sampingnya, pasti sudah berkutat di dapur seperti biasanya, pikir pak Candra.

Ia turun dari tempat tidur, lalu keluar kamar dan menuju ke ruang makan. Ia terkejut ketika melihat Nurani sedang menata lauk di atas meja.

“Sayang, kok kamu sudah bangun?”

Nurani hanya tersenyum. Baru sekali ayahnya melihat dia bangun pagi-pagi, hanya karena tak ingin membuat ibunya mengomel.

“Mana Ibu?” tanya pak Candra mencari-cari. Tapi ia tak melihat istrinya.

“Bapak mau minum hangat? Coklat susu sudah saya siapkan.”

“Oh ya? Bagus sekali, tolong bawa ke ruang tengah ya, bapak ke kamar mandi dulu,” kata sang ayah.

Tapi ketika pak Candra masuk ke ruang tengah dan menyalakan lampunya, dilihatnya sang istri meringkuk di sofa. Tertidur pulas.

***

Besok lagi ya.

Thursday, December 8, 2022

KANTUNG BERWARNA EMAS 03

 

KANTUNG BERWARNA EMAS  03

(Tien Kumalasari)

 

Nurani masih terdiam, menundukkan kepala. Tapi begitu ia mengangkat kepalanya, tatapan mata bengis itu langsung menghunjam ke arah jantungnya.

“Nurani, bapak sedang bicara sama kamu.”

Nurani gelagapan. Ia ingin bersorak, kalau itu benar terjadi. Tapi mata garang itu membuatnya mengurungkan bibirnya yang nyaris terbuka.

Pak Candra tiba-tiba menoleh ke arah istrinya. Maksudnya akan meminta istrinya agar ikut membujuk Nurani. Tapi ia heran sang istri menatap tajam kepada Nurani.

“Bu, mengapa kamu menatapnya seperti itu?”

Bu Candra terkejut, tak mengira suaminya melihat sorot matanya yang pastinya tidak enak untuk dinikmati. Tapi bukan bu Candra kalau tak memiliki jawaban untuk menghindar.

“Aduh, itu lho Pak, gemes banget melihat Nurani tidak segera menjawab. Apa yang Bapak katakan itu kan sebuah niat baik, yang pastinya juga untuk kebaikan dia.”

Pak Candra menatap ke arah Nurani kembali.

“Nur, ibumu juga kesal karena melihat kamu ragu-ragu. Ini kan sebuah niat baik untuk kamu? Agar kelak, kalau Bapak sudah meninggal, bapak punya sesuatu yang bisa bapak wariskan untuk kamu, yaitu ilmu yang bermanfaat. Kamu mampu melakukannya. Raih ilmu itu, demi masa depan kamu.”

Nurani menatap ayahnya, menikmati mata lembut dan senyuman penuh kasih sayang yang memancar dari wajah ayahnya. Rasanya tak tega mematahkan angan-angan dan cita-cita ayahnya, demi dirinya.

“Bagaimana Nak?”

Tiba-tiba sebuah kekuatan menelusuri setiap aliran darahnya, setiap detak nadinya, menyalakan sebuah keberanian yang tak pernah dimiliki sebelumnya. Persetan dengan tatapan serigala yang terus menyala, semua ini demi ayahnya. Hanya demi ayahnya. Lalu kepala Nurani mengangguk pelan. Tapi itu cukup membuat senyuman pak Candra merekah. Ia meraih tubuh anak gadisnya, membuat Nurani bersimpuh didepannya, lalu dipeluknya erat. Mata serigala itu menyemburkan api, tapi tetesan embun kedamaian memadamkannya.

“Rian!” teriak pak Candra memanggil Rian.

Terdengar langkah cepat mendekat, lalu tiba-tiba Rian muncul diantara mereka.

Ia melihat Nurani bersimpuh dihadapan ayahnya, yang kemudian dibangunkan olehnya.

Nurani kembali duduk di tempatnya semula, tapi tak berani menatap kearah ibunya, atau memang tak ingin menatapnya, karena percikan api dari mata itu bisa saja melukai kulit mulusnya.

“Ya Pak?” tanya Rian.

“Besok, kamu urus sekolah untuk adikmu ini. Dia mau melanjutkan sekolahnya. Tak apa walau terlambat bukan?”

“Tentu saja tidak. Baiklah, Rian akan mengurusnya.”

“Sebelum bapak berangkat kerja, ingatkan agar meninggalkan uang untuk urusan itu. Semuanya bapak serahkan sama kamu,” tandas pak Candra.

“Siap Pak. Senang mendengarnya,” kata Rian sambil mengelus kepala Nurani, yang menatapnya dengan senyuman lembut.

Nurani berdiri, dan melangkah ke belakang, diikuti Rian.

“Aku senang Nurani mau sekolah. Tapi apa sudah Bapak pikirkan untung ruginya?” tiba-tiba bu Candra nyeletuk.

“Apa maksudmu dengan ucapan untung rugi itu?” tanya pak Candra sambil mengerutkan keningnya.

“Aku tuh kok melihat, dia itu tak begitu tertarik untuk sekolah. Bagaimana kalau nantinya hanya akan mengecewakan saja?”

“Tidak akan. Dia mau kok.”

“Kalau maunya karena merasa bapak yang memaksanya?”

“Nurani tidak bodoh, dia akan bisa melakukannya. Coba saja tanya sama Rian, dia sudah membuktikan bahwa sebenarnya Nurani pintar.”

Bu Candra diam. Rasa kesalnya kemudian tertuju kepada anak laki-lakinya. Memang dia selalu melihat bahwa Rian selalu bersikap baik pada Nurani, tapi bukan masalah selagi Nurani masih patuh pada dirinya. Tapi kemudian membujuk ayahnya agar meminta Nurani melanjutkan sekolah, sungguh membuatnya marah.

***

“Mengapa kamu membujuk ayah kamu agar mau menyekolahkan Nurani?” kata bu Candra dengan wajah kesal.

“Mengapa Ibu sepertinya nggak rela? Nurani itu pintar, agak mengherankan kalau dia tiba-tiba tak mau melanjutkan sekolahnya.”

“Dia pintar, menurut kamu, tapi dia itu malas. Setidaknya malas untuk berpikir, itu sebabnya dia tak mau melanjutkan sekolah, memilih mengerjakan pekerjaan rumah tangga.”

“Yang malas berpikir itu Karina, bukan Nurani.”

“Apa maksudmu Rian? Adik sendiri dijelek-jelekin?”

“Bukan dijelek-jelekin, memang dia malas kok. Kalau tidak, pasti dia mau melanjutkan kuliah. Mengapa memilih bekerja dengan pendidikan hanya sebatas SMA? Sementara bapak mampu menyekolahkannya.”

“Buktinya selepas SMP, Nurani tidak mau sekolah lagi kan? Kenapa dipaksa juga? Kamu biang keladinya.”

“Kenapa Ibu marah hanya gara-gara Nurani mau melanjutkan sekolah? Apa Ibu takut tak ada yang membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah? Bukankah Ibu bisa mencari pembantu?”

“Kamu itu memang nyebelin ya Rian, menentang kemauan ibu saja.”

“Apa Ibu benci sama Nurani?”

“Omong kosong apa itu,” kata bu Candra sambil melangkah keluar dari kamar Rian, menuju ke kamar Karina. Hanya Karina yang sepaham dengan dirinya, sedangkan Rian selalu menentangnya.

Tapi bu Candra kesal melihat Karina masih meringkuk di ranjangnya, pulas sampai terdengar dengkurnya.

“Hei! Malas! Bangun !!” kata bu Candra sambil menarik selimut anaknya.

Karina menggeliat, lalu membuka matanya.

“Eh, sudah pagi ya? Aku terlambat kerja? Bapak marah pasti.”

“Mimpi kamu ya. Ini sudah menjelang malam, siapa bilang pagi?”

“Oh, ya ampuun. Malam ? Ada apa sih Bu, membuat aku panik saja, kirain terlambat masuk kerja, dan bapak sudah berangkat duluan,” omelnya sambil bangun.

“Ibu tuh mau ngomong sama kamu. Kesel banget rasanya.”

“Masalah apa nih?”

“Bapakmu memaksa Nurani agar melanjutkan sekolah.”

“Dia pasti tidak mau kan? Sejak dulu kan dia tidak mau sekolah? SMP sudah bagus bagi dia, yang penting bisa membaca dan menulis sedikit-sedikit, ya kan?”

“Dia mau. Ayahmu memaksanya.”

“Oh ya? Sudah ketuaan kalau dia mau sekolah lagi. Teman-temannya sudah pada punya anak, dia baru mau masuk SMA.”

“Kakakmu mendukungnya. Besok akan mulai di daftarkan.”

“Ini kan belum awal pelajaran?”

“Nggak tahu tuh. Ibu kesal pokoknya.”

“Biarin saja. Paling juga akan berhenti di tengah jalan. Mana betah dia berteman dengan anak-anak ABG?”

“Nggak tahu. Ibu sekarang memikirkan, bagaimana kalau dia sekolah, ibu jadi tidak bisa kemana-mana dong.”

“Ibu harus tegas dong. Boleh masuk kuliah kalau semua pekerjaan sudah selesai, begitu. Enak saja menyuruh ibu bekerja sendiri.”

“Iya, nanti ibu bilang sama dia.”

***

Nurani masih berkutat di dapur ketika Rian menghampirinya.

“Hei, ayo, kita harus berangkat pagi.”

“Kemana?” tanya Nurani tak mengerti.

“Ya ampun, daftar sekolah untuk kamu. Nih, bapak sudah memberi uangnya.”

“Masa aku harus ikut sih Mas. Nggak usah.”

“Bagaimana sih? Calon muridnya itu kamu, jadi kamu harus ikut.”

“Malu aku Mas.”

“Aku akan menceritakan semuanya. Biar mereka menge test kamu. Apa kamu takut?”

“Bukan masalah takut. Tapi masalah malu.”

“Kamu anak pintar, mengapa malu? Biar calon guru kamu terheran-heran melihat kecakapan kamu.”

“Tapi, aku belum selesai. Mau memasak dulu.”

“Tidak usah masak dulu. Masak nanti kalau sudah pulang, aku bantuin. Ayo !” kata Rian sambil menarik tangan adiknya. Tapi sebelum masuk ke kamarnya, Nurani berpapasan dengan ibunya yang sudah siap hendak bepergian.

“Kok ditinggal? Sudah selesai masaknya? Pasti belum kan?”

“Iya Bu, ini mau ….”

“Nurani akan pergi ke sekolah. Rian akan mengantarkannya.” Kata Rian.

“Sekarang? Ini belum tahun ajaran baru kan?”

“Baru mau bicara dulu sama pihak sekolah. Ayo Nur, aku tunggu di depan. Ganti baju yang bagus dan rapi,” perintah Rian kemudiaan kepada Nurani. Nurani segera masuk ke kamarnya.

Bu Candra mengetuh pintu kamar Nurani yang terkunci, lalu berteriak dari luar.

“Kamu boleh pergi, atau sekolah sekalipun, tapi semua pekerjaan rumah harus beres. Aku tak mau cari pembantu.”

Nurani mendengarnya, tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia melanjutkan berganti pakaian, karena Rian sudah menunggu.

***

“Selamat pagi Pak Candra,” sapa Andre ketika pak Candra masuk ke dalam kamarnya.

“Pagi, Andre,” jawab pak Candra dengan wajah berseri.

“Bapak tampak senang pagi ini,” kata Andre.

“Iya, hari ini Rian mendaftarkan Nurani masuk sekolah.”

“Oh ya? Tapi ini belum tahun ajaran baru kan?”

“Baru mau bertanya-tanya tentang kemungkinannya, mengingat Nurani sudah terlambat empat tahun sejak kelulusannya dari SMP.”

“Semoga semuanya berjalan lancar Pak.”

“Aamiin, semoga impianku untuk menjadikan dia anak yang pintar, bisa berhasil.”

“Tampaknya dia pintar. Saya bisa menangkapnya saat berbicara sama dia ketika pagi-pagi ke rumah Bapak waktu itu.”

“Oh ya?”

“Ya, cara dia berbicara tidak menunjukkan suatu keterbelakangan, maksudnya untuk orang yang berpendidikan rendah. Dia santun dan tegas dalam bicara. Saya kalah Pak.”

“Benarkah?” tanya pak Candra sambil tertawa.

“Itu benar.”

“Baiklah, sekarang kita akan membahas tentang stok barang habis yang diajukan. Kamu sudah memeriksanya?”

“Baru diberikan ketika saya mau pulang Pak, hari ini saya akan memeriksa laporannya, lalu segera mengecek keadaan fisiknya.”

“Bagus Andre. Segera putuskan tentang permintaan barang, apa benar harus segera disiapkan. Aku janjian akan bertemu klient siang ini. Saya harap kamu sudah selesai, karena kamu juga harus mendampingi aku.”

“Siap Pak, akan segera saya kerjakan.”

Tiba-tiba Karina masuk ke ruangan pak Candra, membuat pak Candra terkejut.

“Karina, mengapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu? Kamu tahu aturannya kan? Etikanya bagaimana kalau mau masuk ke ruangan orang lain?”

“Ini kan ruangan Bapak,” bantah Karina yang seenaknya duduk di depan meja kerja ayahnya.

“Di kantor ini tidak ada hubungan keluarga yang bisa membedakan setiap etika yang harus dipatuhi, termasuk kamu. Sekarang keluar lagi, dan ketuk pintunya, baru boleh masuk ketika dipersilakan,” tegas kata pak Candra.

“Tapi Pak.”

“Cepat lakukan.” Perintahnya tandas. Andre menahan senyum mendengar percakapan ayah dan anak itu. Bagus sekali, pak Candra selalu memegang aturan dengan keras, termasuk kepada anaknya sendiri.

Karina berdiri, lalu melangkah keluar, kemudian mengetuk pintu agak keras.

“Masuk,” kata pak Candra.

Lalu Karina membuka pintunya, dengan wajah cemberut.

“Duduk.”

Karina duduk, masih dengan muka masam.

“Begitu seterusnya, camkan itu.”

Karina mengangguk. Agak ngeri melihat sinar mata ayahnya yang tajam menusuk.

“Sekarang katakan, ada apa.”

“Saya mau pulang sekarang.”

“Apa? Ini belum tengah hari.”

“Perut saya sakit Pak.”

Pak Candra mengawasi wajah Karina yang seperti menahan sakit. Kalau memang sakit, mau bagaimana lagi.

“Bolehkah mas Andre mengantarkan saya?”

“Apa? Andre itu banyak pekerjaan. Biar sopir perusahaan mengantarkan kamu,” kata pak Candra sambil memencet interkom ke ruangan sopir di depan.

Karina bertambah merengut.

“Tunggu dia di depan,” perintah pak Candra, membuat Karina tak bisa membantah, kemudian melangkah ke luar ruangan.

Pak Candra baru saja membuka map yang harus ditanda tanganinya, ketika ponselnya berdering. Dari Rian.

“Ya Rian,” sapa pak Candra.

“Apakah Rian mengganggu?”

“Tidak, kalau tidak terlalu lama, ada apa? Kamu jadi mengantarkan Nurani kan?”

“Jadi Pak, ini sudah mau pulang. Nurani memang sangat hebat. Entah menyalahi prosedur atau tidak, beberapa guru bertanya tentang pelajaran SMA, dari kelas satu sampai kelas tiga, Nurani bisa menjawabnya. Membuat para guru keheranan.”

“Oh ya?” sahut pak Candra gembira.

“Besok Nurani sudah langsung bisa masuk, bulan depan boleh mengikuti tes kenaikan kelas. Kalau lolos, boleh langsung masuk ke kelas dua.”

“Anakku luar biasa,” kata pak Candra bangga.

“Bayarnya bagaimana?” lanjutnya.

“Sudah saya bayarkan, dan disuruh membeli pakaian seragam dan segala perlengkapannya. Saya sudah langsung membelikannya.”

“Rian, kamu anak baik. Apa uangnya kurang? Bapak transfer sekarang.”

“Tidak Pak, sebagian memakai uang saku Rian.”

“Hitung saja, besok bapak ganti, berikut bunganya.”

“Lhoh, Bapak kok ngajarin riba?”

Pak Candra tertawa. Baiklah, bukan bunga, bapak lebihin untuk uang jajan kamu.”

“Terima kasih Pak.”

***

Karina sampai di rumah, ketika Nurani belum selesai memasak. Ia bergegas ke belakang karena mencium bau masakan.

“Nurani, aku mau makan,” teriaknya.

“Sebentar Karina, belum selesai nih.”

“Apa? Belum selesai? Ini jam berapa Nur? Kamu tidur ya sesiang ini?”

“Aku baru kembali, dan tidak mengira kamu sudah pulang sesiang ini.”

“Apapun alasannya, seharusnya masakan sudah matang di jam segini ini. Ini kan  waktunya orang makan siang?” kata Karina menggebrak meja, sehingga terdengar suara keras, dan ada dua piring terpelanting kebawah, lalu pecah berantakan.

“Ya ampun Karin, mengapa kamu kasar sekali?” teriak Nurani yang marah melihat kelakuan Karina.

“Eeh, kamu berani memaki aku?” kata Karina sambil mendekati Nurani lalu menjambak rambutnya,

“Aaaugh, Karina !!” teriak Nurani.

Tapi tiba-tiba sebuah tangan menampar pipi Karina.

***

Besok lagi ya,

Wednesday, December 7, 2022

KANTUNG BERWARNA EMAS 02

 

KANTUNG BERWARNA EMAS  02

(Tien Kumalasari)

 

Laki-laki itu tertegun.

‘Bukan Mbak, saya mencari Mbak Nurani, putrinya pak Candra.

Nurani kebingungan. Bukankah dirinya yang bernama Nurani? Adakah Nurani yang lain di rumah itu?

“Adakah? Ada pesan dari pak Candra yang harus saya sampaikan.”

“Kalau Mas mencari Nurani, saya lah Nurani.”

“Putri pak Candra?”

“Saya Nurani, putri pak Candra. Ada yang membuat Anda ragu? Kalau begitu kembalilah pada pak Candra, katakan bahwa Anda bertemu Nurani yang lain,” kata Nurani setengah bercanda.

Laki-laki itu tersenyum.

“Maaf. Jadi Mbak, yang bernama Nurani?”

“Apakah saya harus mengatakannya lagi? Anda telah membuang waktu saya. Masakan yang saya tinggal bisa gosong,” akhirnya Nurani merasa kesal.

“Tidak … tidak, saya minta maaf. Soalnya _”

“Soalnya pakaian saya lusuh seperti pembantu? Saya memang sedang memasak di dapur, setelah bersih-bersih rumah dan menjemur pakaian.”

“Maaf, bukan begitu. Saya ….”

“Anda membayangkan Nurani adalah gadis cantik yang modis seperti Karina?”

“Tidak, sungguh saya minta maaf. Pastilah, Mbak kelihatan lusuh, karena rajin bekerja. Baiklah, saya minta maaf ya, Kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.

“Saya Andre, anak buah pak Candra.”

“Saya Nurani, kalau Anda percaya.”

“Baiklah, tentu saja saya percaya.”

“Katakan apa pesan ayah saya.”

“Ada map berwarna hijau di kamar pak Candra, terletak di atas meja, di atasnya ada kaca mata  milik pak Candra. Semuanya ketinggalan karena pak Candra tergesa-gesa.”

“Saya harus mengambilkan barang-barang itu?”

“Ya, itulah yang dikehendaki pak Candra.”

“Duduklah dulu sebentar, saya akan mengambilkan barang-barang bapak seperti yang Anda katakan.”

Laki-laki bernama Andre itu mengangguk sambil tersenyum, kemudian duduk seperti Nurani mempersilakannya.

Nurani bergegas kekamar. Ia melihat barang-barang yang dimaksud ayahnya memang teronggok di atas meja. Tapi sebelum ia meraih barang-barang itu, ia melirik ke arah kaca besar yang ada di kamar itu. Ditatapnya wajahnya.

“Memang aku tampak lusuh. Pantas saja laki-laki bernama Andre itu tidak percaya bahwa aku anak bapakku. Kasihan Bapak, nanti kelihatan sekali bahwa kalau di rumah aku seperti teraniaya,” gumamnya sambil bergegas masuk ke kamarnya.

Dilepaskannya pakaian kumuh yang tadi dikenakannya, lalu digantinya dengan pakaian yang bersih dan lebih bagus. Ia menyisir rambutnya yang berombak,  dan mengelap wajahnya yang berkeringat. Tak usah dibubuhi bedak, nanti tamunya mengira bahwa dia gadis pesolek.

“Aku kira begini sudah cukup, aku tampak lebih rapi bukan? Tidak seperti pembantu. Jangan sampai bapak malu kalau nanti Andre melaporkan bahwa penampilan aku kumuh dan dekil,” gumamnya, lalu kembali memasuki kamar ayahnya.

Diambilnya map dan kaca mata yang terletak di atasnya, kemudian dia bergegas keluar. Andre masih duduk terpaku, kemudian bertambah terpaku ketika melihat Nurani keluar.

“Ini barang yang dimaksud bapak kan?” kata Nurani sambil mengulurkan barang-barang itu.

“Ini … ini … mbak Nurani yang tadi ya?”

“Bukan, yang tadi adalah pembantu,” canda Nurani.

Andre tersipu.

“Saya minta maaf. Sungguh saya minta maaf,” katanya sambil menerima map dan kaca mata yang diulurkan Nurani.

“Saya permisi,” katanya sambil tersenyum.

Nurani membalas senyuman itu. Senyum ramah seorang laki-laki asing yang belum pernah ditemuinya.

Nurani melangkah kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya. Dan  dia terkejut ketika tiba-tiba seseorang menutup kedua matanya dari arah belakang.

“Heeiiii … siapa nih?”

“Coba terka … aku siapa.”

“Mas Rian, pasti deh, sukanya mengganggu saja.”

Rian melepaskan kedua tangannya dari mata Nurani sambil terkekeh.

“Kok tahu kalau itu aku?”

“Tahu lah, suaranya itu.”

“Oh iya, aku lupa. Tahu begitu aku tadi tidak harus bersuara.”

“Sana Mas, jangan nggangguin, aku lagi masak.”

“Aku libur, aku bantuin kamu memasak.”

“Mana bisa laki-laki memasak? Sudah sana. Paling hanya mengganggu saja.”

“Nggak. Nggak akan. Aku justru akan membuat acara masak kamu cepat selesai.” Kata Rian sambil menarik seikat sayur ke hadapannya, lalu dia duduk di kursi, dan memetik sayurnya.

“Eeh, jangan ditaruh di meja,” kata Nurani sambil mengambil bakul kecil dari plastik, untuk wadah sayuran yang sudah dipetik.

“Oh iya, lupa. Terima kasih adikku,” kata Rian sambil cengengesan.”

Nurani tersenyum senang. Satu-satunya orang yan menaruh perhatian dan bersikap baik terhadap dirinya, hanyalah Rian. Kecuali ayahnya pastinya.

“Oh iya, aku lupa. Sebentar,” kata Rian sambil berdiri dan bergegas ke kamarnya, lalu ketika kembali, ia membawa sebungkus coklat.

“Ini untuk adik tersayang aku, yang cantik, yang rajin, yang pintar, yang paling aku sayangi,” katanya sambil mengulurkan sebungkus coklat berwarna biru itu.”

“Ya ampun, ini kan enak.”

“Enak dong, masa sih, beliin adik tersayang kok yang nggak enak? Pernah makan itu, kok bisa bilang enak?”

“Pernah, dikasih bapak, beberapa kali.”

“Berarti aku kompak dong sama bapak.”

“Kalian baik semua, makanya kompak.”

“Memangnya yang lain nggak baik?”

“Oh, tidak, baik semua kok,” kata Nurani sambil beranjak ke arah kompor, karena dia sedang menjerang air untuk sayur gudeg. Rupanya air sudah mendidih, jadi dia tinggal memasukkan rebung yang sudah dirajang dan dicuci bersih.

“Nurani, aku tahu terkadang ibu dan Karina sangat jahat sama kamu.”

“Kata siapa? Nggak kok. Biasa saja.”

“Biasa galak dan ketus kan?”

“Itu kan kalau aku berbuat kesalahan. Kalau tidak ya nggak pernah digalakin.”

“Kenapa kamu tidak ingin sekolah lagi selepas SMP?”

“Aku ingin kok.”

“Sebenarnya kamu ingin?”

“Iya sih. Eh, tidak …” Nurani tiba-tiba ingat bahwa ibunya yang memaksanya agar dia tak melanjutkan sekolah lagi. Tapi ia tak ingin mengatakannya pada siapapun, karena sang ibu mengancamnya.

“Apa maksudmu iya .. eh tidak?”

“Itu … kadang aku ingin … kadang ogah …” katanya sambil mengaduk rebung dan melihat apakah sudah empuk atau belum.

“Apa sih? Nggak jelas.”

“Udah telat kalau ingin sekolah.”

“Kalau kamu mau, aku mau bilang sama bapak.”

“Jangaaan!” tukasnya buru-buru. Bisa ada gempa kalau sampai ibunya tahu.

“Kenapa?”

“Sudah terlanjur bilang nggak mau. Nanti bapak malah marah.”

“Nggak akan, bapak begitu sabar dan tidak pernah marah kan?”

“Pokoknya jangan. Biarlah begini saja. Aku lebih suka mengerjakan semua pekerjaan rumah, dari pada belajar.”

Tapi Rian tidak percaya. Di hari lain, dia membeli buku-buku pelajaran untuk SMA, diberikannya kepada Nurani. Tentu saja Nurani terkejut, sekaligus senang. Ia suka membaca apa saja, dan mudah mengerti apa yang dibacanya.

“Sudah terlambat kalau aku belajar lagi. Aku kan sudah tua.”

Rian terkekeh.

“Tahu tidak? Tak ada kata terlambat untuk belajar.”

Dan dengan heran Rian mengetahui bahwa Nurani melahap semua buku yang diberikan. Ia belajar sendiri, pastinya dengan diam-diam, saat ibunya tak ada, atau malam sebelum tidur. Dan hanya dalam beberapa bulan Nurani bisa menguasai semuanya. Bahkan ketika Rian memberikan soal ujian SMA, dengan gampang Nurani bisa menjawabnya. Padahal dia belajar sendiri, tanpa ada guru yang membimbingnya. Hanya kadang-kadang saja Nurani bertanya kepada Rian tentang sesuatu yang kurang dimengertinya.

“Nurani, kamu luar biasa. Kamu harus sekolah, dan kuliah. Karina saja tidak memiliki nilai sebagus kamu. Sungguh.”

Nurani hanya tersenyum.

“Kapan sih kamu belajarnya? Kok bisa melahap semua buku yang aku berikan?”

“Ya kalau pekerjaan sudah selesai, terutama tengah malam, saat sudah sepi, sehingga aku bisa begitu mudah mengerti apa-apa yang aku baca. Kalau sepi kan gampang konsentrasi.”

Rian mengangguk mengerti, tapi tetap menganggap bahwa Nurani adalah seorang yang genius. Ia heran ketika mengetahui Nurani tak ingin sekolah lagi, padahal dia sangat pintar.

***

Andre sedang mengerjakan tugasnya, ketika pak Candra mendekatinya. Andre adalah orang kepercayaan pak Candra, sekaligus sebagai sekretarisnya. Sekretaris tidak harus wanita cantik, yang penting dia bisa mengerti tugasnya, dan memuaskan hasil kerjanya. Hal itu ditemukannya pada Andre, seorang ekonom yang sudah tiga tahun ini bekerja pada perusahaannya.

“Belum selesai?” tanya pak Candra.

“Sebentar lagi Pak. Apa Bapak buru-buru?”

“Tidak. Kamu sepertinya kewalahan mengerjakannya.”

“Tidak juga Pak. Apa Bapak perlu sekretaris?”

“Tidak, kalau kamu bisa mengerjakannya. Dan aku puas dengan cara kerja kamu.”

“Barangkali Karina bisa membantu,” kata Andre hati-hati.

“Karina? Mana bisa dia mengerjakan pekerjaan seberat ini? Dia itu hanya lulusan SMA, itupun tidak dengan nilai yang bagus. Memang benar dia anakku, tapi menurut aku dia kurang cakap untuk sesuatu yang besar. Dia tidak ingin kuliah, hanya ingin segera bekerja. Aku tidak bisa memaksanya.”

“Bagaimana dengan … Nurani?”

“Nurani? Kamu kenal dia?”

“Ketika Bapak menyuruh saya mengambil map Bapak yang tertinggal, dengan kaca mata. Bukankah saya harus menemui Nurani?”

“Oh .. ya … ya, benar. Kenapa aku bisa lupa?”

Pak Candra diam sejenak.

“Nurani itu sebenarnya pintar. Saat sekolah nilainya selalu bagus. Aku tidak tahu mengapa dia tidak mau melanjutkan sekolah. Aku bujuk-bujuk, tetap saja dia tidak mau.”

“Rupanya dia lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga?”

“Naa, rupanya itu yang disukainya. Sayang sekali.”

“Kasihan dia.”

“Kasihan? Kamu melihatnya seperti apa?”

“Maaf, seperti … seseorang yang letih.”

“Letih? Apakah pekerjaan rumah itu membuatnya letih? Memang benar, kami tidak punya pembantu, tapi istriku bilang, dia bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan baik. Jadi tidak perlu pembantu.”

“Waktu saya ke sana, ibu tidak ada di rumah, Nurani baru selesai membersihkan rumah.”

“Mungkin istriku sedang belanja atau apa. Dia sangat menyayangi keluarga aku, juga terhadap Nurani, walaupun dia anak tiri.”

Andre terkejut. Rupanya pak Candra keceplosan bicara.

“Anak tiri?”

“Baiklah, aku akan ceritakan, sudah terlanjut ngomong sih, dan ini hanya untuk kamu, karena aku percaya sama kamu.”

“Tidak apa-apa kalau Bapak tak ingin mengatakannya. Barangkali itu rahasia keluarga Bapak.”

“Bukan rahasia sih, sebenarnya ini wajar dalam berumah tangga.”

Pak Candra berpindah duduk di atas sofa, tak jauh dari meja kerja Andre.

“Ketika Nurani berumur lima tahun, ibunya meninggal. Tiga tahun lamanya aku hidup bersama Nurani dan seorang pembantu. Lalu aku menikah lagi dengan Amirah, istriku yang sekarang. Waktu itu dia membawa dua orang anak, Rian dan Karina.”

“O, jadi Karina itu … anak tiri Bapak?

“Ya, tapi aku tidak membedakan diantara mereka dan anak kandung aku. Seperti juga Amirah mencintai Nurani. Karina seumuran dengan Nurani, jadi mereka bisa bermain bersama.  Sedangkan Rian tiga atau empat tahunan diatas mereka.”

Andre mengangguk mengerti. Tapi entah mengapa, tumbuh rasa iba dihati Andre, ketika melihat Nurani yang pertama kali. Gadis itu tampak letih. Apa terlalu bekerja berat?

“Rian sudah kuliah dan hampir menyelesaikannya. Tapi aku selalu berpikir tentang Nurani. Dia tidak bodoh. Sungguh.

“Mungkin kasihan melihat ibunya bekerja sendirian di rumah.”

“Nah, apa itu penyebabnya?”

“Mungkin juga Pak.”

“Nanti aku akan membicarakannya lagi. Belum terlambat kalau dia mau.”

***

“Bapak, saya ingin bicara,” kata Rian pada suatu malam, ketika ayahnya sedang duduk sendirian.

“Ya, ada apa? Tentang kuliah kamu?”

“Bukan. Tentang Nurani.”

“Ada apa?”

“Menurut Rian, dia seharusnya melanjutkan sekolah.”

“Seharusnya begitu. Bapak juga memikirkannya. Tapi kan dia sendiri tidak mau?”

“Sayang kalau tidak mau. Kecuali Bapak tidak mampu membiayainya.”

“Kamu itu ngomong apa? Bapak masih bisa bekerja, dan menyekolahkan kalian sampai kejenjang tertinggi sekalipun.”

“Kalau begitu, paksa Nurani agar mau melanjutkan sekolah, lalu biarkan dia kuliah.”

“Mengapa tiba-tiba kamu berpikiran seperti itu?”

“Rian sering memberikan buku-buku untuk pelajaran sekolah. Dia sanggup menguasai semuanya. Bahkan ketika Ryan menyodorkan soal ujian sekolah, Nurani dengan mudah bisa mengerjakannya. Dia lulus SMA bapak. Hanya kan itu penilaian Ryan, tidak ada surat resmi yang mengatakan itu. Jadi ….”

“Jadi dia harus sekolah?”

“Rian yakin dia akan menyelesaikannya dalam satu atau dua tahun.”

“Benarkah? Panggil dia sekarang,” perintah pak Candra.

Nurani datang tak lama setelah Rian memanggilnya. Dan tanpa diduga, bu Candra mengikutinya.

“Ada apa Pak? Kelihatannya penting sekali?” tanya bu Candra.

“Sangat penting Bu, ini tentang Nurani. Duduklah Nur,” kata pak Candra kemudian kepada Nurani.

Nurani duduk ragu dihadapan ayahnya, dan bu Candra duduk di sebelah suaminya. Rian sudah masuk ke dalam kamarnya.

“Bulan depan tahun ajaran baru, kamu harus sekolah,” kata pak Candra tiba-tiba, mengejutkan Nurani, apalagi bu Candra yang kemudian menatap tajam kearah Nurani.

***                                                                                                                                       

Besok lagi ya.

Tuesday, December 6, 2022

KANTUNG BERWARNA EMAS 01

 

KANTUNG BERWARNA EMAS  01

(Tien Kumalasari)

 

Nurani sedang menjemur pakaian di halaman belakang, ketika sebuah teriakan mengejutkannya.

“Nurani! Kenapa baju Karina belum kamu setrika?”

Nurani terkejut. Meletakkan kembali baju yang sudah dipegangnya, memasukkannya kembali ke ember, lalu bergegas masuk ke dalam rumah, menghampiri Amirah yang berdiri diambang pintu dapur sambil berkacak pinggang.

“Ya Bu,” kata Nurani dengan hati ciut.

“Kamu tidak dengar aku mengatakannya? Baju Karina yang harus dipakai pagi ini, belum kamu strika. Bodoh atau apa sih kamu?” hardik Amirah dengan mata menyemburkan api.

“Baju yang mana Bu?”

"Baju yang mana, baju yang mana. Yang akan dipakai pagi ini. Itu seragam kerja, tahu?”

“Bukankah hari ini dia harus memakai atasan berwarna kuning muda?”

“Nah, itu kamu tahu. Kenapa belum disetrika?”

“Tapi sudah saya setrika dan sudah saya siapkan di gantungan, di dalam kamar,” jawab Nurani.

“Apa? Disetrika apa? Kalau disetrika, mengapa masih kusut? Ini mau aku pakai nih,” suara keras terdengar dari dalam kamar Karina.

Nurani bergegas masuk ke kamar Karina.

“Mana Rin? Tuh, sudah aku gantung di situ sejak kemarin, karena aku tahu kamu harus memakainya pagi ini.”

"Ini? Kusut nih?"

“Tapi aku sudah_”

“Sudah apa? Sudah apa? Lihat nih, lihat.”

Karina melemparkan atasan kuning  ke arah wajah Nurani. Nurani menangkapnya.

“Ini kemarin sudah aku setrika.”

“Tidak usah banyak cakap, buktinya masih lecek, tuh lihat, dibagian pinggang masih lecek! Kerahnya juga.”

Nurani menghela napas. 

"Biar aku setrika lagi Rin,” Nurani membawa baju itu keluar kamar, menuju ke arah ruang cucian, dimana masih sebakul penuh yang belum sempat dia setrika.

Dari luar ruang terdengar suara ayahnya.

“Ada apa sih, pagi-pagi sudah ribut?”

“Itu Pak, Karina berteriak, baju yang akan dipakai masih kusut," jawab istrinya.

“Apa tidak bisa disetrika sendiri? Mengapa pakai berteriak? Seperti anak kecil saja,” omel pak Candra.

“Dasar Karina, anak manja. Susah ibu marahin, tapi Nurani memintanya, dan memaksa akan menyetrikanya lagi,” kata bu Candra sambil masuk ke dalam ruang cucian.

“Nurani, sayang, mengapa kamu menyetrikanya? Biarkan Karina melakukannya sendiri,” kata bu Candra yang tiba-tiba terdengar begitu manis, tapi matanya menatap tajam dan marah penuh kebencian, sambil berdiri ditengah pintu.

Nurani diam saja. Sudah biasa kalau ibu tirinya bersikap manis terhadapnya dihadapan ayahnya, tapi kemudian berubah menjadi bengis saat ayahnya pergi.

“Sudah sayang, taruh saja, biar Karina melakukannya sendiri,” kata mulut manis itu lagi.

Tapi Nurani tetap melakukannya, menyemprotkan spray wangi ke baju itu dan menyetrikanya sampai halus mulus.

Bu Candra sudah pergi dari sana, dan Nurani mengelus dadanya.

“Sabar, Ya Allah, beri hamba kesabaran,” bisiknya pelan.

“Nur, kok kamu masih menyetrikanya? Suruh Karina melakukannya,” tiba-tiba terdengar suara ayahnya di depan pintu, sangat lembut dan membuatnya terharu. Sudah bertahun-tahun ia mengalaminya. Mendapat tekanan dan siksaan dari ibu tirinya, tapi dihadapan ayahnya semua orang berkata lembut dan manis. Kecuali Rian, kakaknya Karina yang selalu bersikap manis padanya.

Ibunya meninggal ketika dia berumur lima tahun, lalu tiga tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan istrinya yang sekarang. Ibu tirinya itu membawa dua orang anak, Rian yang tertua, dan Karina sang adik.  Saat awal berada di rumah, sikap sang ibu tiri masih begitu manis dan sangat menjaganya seperti kepada dua orang anaknya. Karina yang seumuran, dan Rian yang tiga tahun lebih tua. Tapi setelah Nurani lulus SMP, sikap ibunya berubah. Ia bahkan memaksa dirinya tidak usah melanjutkan ke sekolah SMA seperti Rian dan Karina. Ia mengancam Nurani, agar keinginan berhenti sekolah itu atas kemauannya sendiri, bukan kemauan ibu tirinya, sehingga ayahnya bisa menerima karena yang menjalani memang tidak mau.

“Nilai kamu bagus, mengapa tidak mau melanjutkan, Nur?” tanya ayahnya waktu itu.

“Tidak Pak, Nurani selalu merasa pusing kalau terlalu banyak perpikir.”

“Sayang, kalau kamu kecapekan berpikir, kan bisa istirahat dulu?” kata sang ibu lembut.

Nurani diam saja, hanya menundukkan kepalanya.  Dalam hati dia mengeluh, kenapa ada orang sejahat ibu tirinya? Tapi Nurani tak bisa melakukan apa-apa. Ibu tirinya selalu mengancam akan menyiksanya kalau dia membantah keinginannya.

“Ya sudah, biarlah tahun ini Nurani berhenti dulu sekolahnya, nanti tahun depan saja ya Nur?” kata sang bapak.

Nurani lagi-lagi tak menjawab. Betapa ingin dia melanjutkan sekolah, betapa ingin ia mencapai pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, toh ayahnya yang seorang Direktur sebuah Perusahaan besar mampu membiayainya.  Tapi Nurani tak berdaya. Ancaman demi ancaman selalu membuatnya tak berkutik.

“Ini sudah selesai Pak,” kata Nurani sambil tersenyum, lalu membawa kembali baju Karina ke dalam kamarnya.

“Lain kali biar dia menyetrika sendiri baju-bajunya. Dia kan sudah besar,” omel ayahnya sambil masuk ke dalam kamar.

Di pagi hari, semua orang sibuk. Pak Candra siap masuk ke kantor, Rian akan pergi kuliah, dan Karina siap bekerja di kantornya sang ayah. Ia tak mau melanjutkan kuliah karena ingin segera bekerja, dan hanya di perusahaan ayahnya dia diterima bekerja. Itu pun karena rekomendasi dari sang ayah. Lulusan SMA tidak bisa mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan, tapi Karina menerimanya. Ia hanya menjadi pembantu kepala gudang yang paling tidak menjadi orang yang dihormati, karena dia adalah anak sang direktur utama.

Sang ibu tiri yang pelit tidak mau memiliki pembantu. Dia bilang, akan melakukannya sendiri. Tapi kenyataannya, Nurani lah yang lebih banyak melakukan pekerjaan rumah. Bersih-bersih rumah, memasak, mencuci dan menyetrika pakaian semua orang, kecuali Rian, yang selalu menyetrika pakaiannya sendiri.

“Biar aku saja Mas,” kata Nurani waktu Rian menyetrika sendiri baju-bajunya.

“Tidak Nur, pekerjaan kamu sudah banyak. Hanya menyetrika baju aku sendiri saja kan tidak apa-apa,” kata Rian sambil tersenyum manis.

Nurani tersenyum. Kebahagiaannya di rumah ini hanya kalau ada ayahnya, dan kakak tirinya yang satu itu. Ia selalu baik, dan selalu membantunya. Bahkan kalau tidak ada kuliah, Rian membantunya menyetrika pakaian yang belum sempat dilakukan Nurani karena pekerjaannya menumpuk.

Ibunya? Apa pekerjaan ibu tirinya? Kalau pagi dia sibuk di dapur, membuatkan minuman untuk semua orang, termasuk Nurani, karena kalau tidak pasti suaminya akan mengerti bahwa dia membeda-bedakan kasih sayang kepada anak-anaknya.

Lalu dia membuat sarapan. Juga untuk semua orang. Pokoknya di mata suaminya, dia adalah seorang istri yang sangat baik, bukan hanya kepada anaknya sendiri, tapi juga kepada anak tirinya.

Tapi begitu semua berangkat, ia segera berangkat pergi, ketemuan dengan teman-temannya, belanja, dan tentu saja setelah dia memrintahkan kepada Nurani, masakan apa yang harus dibuatnya untuk seluruh keluarga. Kecuali di hari Minggu tentu saja, karena ada suaminya yang harus tahu bahwa dia adalah istri teladan, yang sangat memperhatikan keluarga dan siap memasak yang enak untuk suami dan anak-anaknya. Dan tentu saja, disaat seperti itu Nurani juga kebagian makan enak, dan duduk semeja bersama mereka.

***

“Mengapa ya, setelah dewasa, Nurani menjadi anak pendiam?” tanya pak Candra pada suatu hari ketika sedang bersantai di teras rumah.

“Menurutku, Nurani itu kan memang pendiam sih Pak, tidak cerewet seperti Karina,” jawab bu Candra sekenanya.

“Dulu waktu dia masih kecil, sangat cerewet dan terkadang lucu.’

“Namanya anak kecil, ya biasa dong, terkadang cerewet-cerewet lucu menggemaskan. Tapi setelah dia dewasa, kemudian kelihatan sifat aslinya.”

“Aku heran dia tidak suka melanjutkan sekolah.”

“Mungkin dia itu punya kelemahan dalam berpikir Pak, sehingga enggan memikirkan pelajaran sekolah. Sebaiknya kita biarkan saja, mana yang disukainya. Lagi pula dia kan anak perempuan. Kalau sudah menikah, paling dia juga hanya akan menjadi ibu rumah tangga, mengerjakan pekerjaan rumah. Ya seperti aku ini kan Pak. Akhirnya tidak bisa lagi bermain, bergembira seperti saat masih remaja.”

“Oh ya, jadi ingat. Sudah lama kita tidak rekreasi ke luar kota ya Bu, ke pantai, misalnya.”

“Oh, Bapak mau mengajak aku jalan-jalan? Asyik dong, ke pantai.’

“Bukan cuma Ibu dong, sama anak-anak juga.”

“Iya, aku tahu. Tapi … apa Nurani mau ikut ya. Anak itu terkadang susah. Pernah aku mengajak dia belanja ke mal, supaya dia mau memilih apa yang dia suka, tapi dia nggak mau tuh. Katanya lebih senang di rumah. Membaca buku-buku.”

“Nah, itu dia, dia suka sekali membaca, makanya aku sering membelikan dia buku-buku bacaan. Ya novel, ya buku pengetahuan, supaya walau dia itu nggak sekolah, dia bisa mengerti tentang pengetahuan, atau hal-hal yang belum pernah diketahuinya.”

“Jangan-jangan karena kebanyakan membaca, dia sesambat lagi kapalanya pusing,” gerutu bu Candra.

“Aku pernah menanyakannya, katanya dia suka kok.”

“Kalau begitu besok nggak usah diajak jalan-jalan saja, biar dia sibuk membaca di rumah, barangkali dia lebih suka.”

“Ibu tanya dulu saja sama dia, apakah dia mau ikut jalan-jalan bersama kita.”

“Baiklah, nanti saja aku tanyain dia. Semoga saja dia mau. Kasihan juga aku sama dia. Diajak seneng-seneng juga nggak pernah mau.”

“Iya tuh anak. Nanti Ibu tanyain dia ya, siapa tahu dia mau, kalau perlu dipaksa dikit, gitu lhoh Bu.”

“Iya, Ibu selalu maksa kok, tapi kalau dia nggak mau, bagaimana?”

“Coba nanti ibu bilang, kalau nggak berhasil juga, biar aku yang membujuk dia.”

“Baiklah. Tapi kapan sih mau ngajakin jalan-janannya Pak?”

“Ya Minggu depan ini lah Bu. Kebetulan sedang tidak banyak pekerjaan di kantor, jadi kita bisa berangkat hari Sabtu, pulangnya Minggu sore.”

“Wah, senengnya, nginep di pantai? Anak-anak pasti suka.”

***

Tapi bukannya bu Candra membujuk supaya Nurani ikut, dia justru meminta agar kalau ayahnya memintanya ikut, dia harus bilang tidak mau.

“Awas ya, kalau kamu ikut. Di rumah banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu juga harus memasak, supaya saat kita pulang hari Minggu sorenya, di rumah sudah ada makanan yang bisa kta makan.”

“Baik Bu.”

“Ya sudah, sekarang kerjakan semua pekerjaan. Aku mau belanja untuk bekal jalan-jalan nanti. Oh ya, aku juga butuk pakaian renang untuk bisa berenang di pantai. Yang lama sudah usang, sudah tidak pantas lagi dipakai,” kata bu Candra sambil meninggalkan Nurani sendirian di dapur.

“Apa Bu, siapa yang akan jalan-jalan ke pantai?” tanya Rian yang ternyata belum berangkat kuliah.

“Besok Sabtu, ayahmu mau mengajak kita jalan-jalan ke pantai. Senangnya, sudah lama kita tidak jalan-jalan, bukan?”

“Nurani ikut?”

“Ibu baru saja membujuknya, tapi dia tetap nggak mau ikut.”

“Masa sih? Diajak seneng-seneng kok nggak mau?”

“Memang iya. Coba saja kamu tanya dia, masa ibu berbohong?”

Rian beranjak ke arah belakang, mendekati Nurani yang sedang mencuci piring.

“Nur, besok Minggu kamu ikut kan?”

“Tidak Mas,” jawab Nurani tanpa memandang ke arah kakaknya.

“Lhoh, kenapa tidak ikut?”

“Nggak pengin saja. Mau baca-baca buku di rumah. Tentu saja setelah selesai mengerjakan tugas aku bersih-bersih dan yang lainnya.”

“Kamu itu jangan terlalu memikirkan pekerjaan rumah. Sekali-sekali harus keluar, mencari hiburan, jalan-jalan. Begitu.”

“Sudah sering jalan-jalan.”

“Kapan?”

“Tiap hari kan pasti pergi ke pasar?”

“Aduh, jalan-jalan ke pasar, tiap hari ke pasar. Cari pemandangan yang lain.”

Nurani hanya tersenyum. Biarpun ikut jalan-jalan, kalau bersama ibu tirinya dan juga Karina, pasti juga tidak akan menyenangkan. Paling juga akan disuruh-suruh, dibentak-bentak. Ya kan? Kata batin Nurani.

“Kalau begitu besok Minggu jalan-jalan sama aku saja,” kata Rian, mengejutkan Nurani.

“Mas Rian nggak ikut?”

“Nggak, kita jalan-jalan sendiri saja.”

Nurani hanya tersenyum, sambil melanjutkan pekerjaannya mencuci piring, sementara Rian membantu meletakkan yang sudah bersih, meletakkannya di rak piring.

“Sudah Mas, biar aku saja.”

“Nggak apa-apa, aku kuliah agak siang, bisa bantu-bantu kamu.”

“Nanti dimarahin ibu lho, mau kuliah kok ngerjain pekerjaan dapur.”

“Nggak apa-apa, daripada nggak ada pekerjaan,” kata Rian nekat.

***

Pagi hari itu bu Candra sudah pergi, entah kemana, dan Nurani sedang berada di dapur sendirian. Ia sedang meracik bumbu-bumbu masakan yang diperintahkan ibunya untuk dimasak, ketika mendengar suara bel tamu dari luar.

Nurani bergegas ke arah depan. Tak biasanya ada tamu pagi-pagi begini.

Ia terkejut melihat seorang laki-laki ganteng berdiri di teras.

“Selamat pagi,” sapa sang tamu.

“Selamat pagi. Mau mencari siapa ya?”

“Mau ketemu Mbak Nurani.”

“Saya?” tanya Nurani heran.

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...