Saturday, December 3, 2022

JANGAN PERGI 41

 

JANGAN PERGI  41

(Tien Kumalasari)

 

Tapi Listi tak mau terhanyut oleh perasaan sakitnya. Ia langsung membalikkan tubuhnya, mengambil tas dan menggandeng bu Cipto dan bu Tijah untuk diajaknya keluar.

Ratri lah yang menyambut kedua tamu istimewa, yang memang datang untuk menjemput mereka.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Ratri.

“Bulan depan,” sahut Dian bercanda.

Ratri dan Radit tertawa.

“Mbak Listi, ayo.”

“Aku naik mobil sendiri saja, sama kedua ibuku,” teriak Listi dari dalam.

Listi memang menganggap bu Cipto juga ibunya, karena bu Cipto juga ibunya Ratri. Hal itu membuat bu Cipto senang, karena setelah bertemu ibu kandungnya, Ratri bukannya meninggalkannya, tapi membuatnya bertambah saudara dan merasa jiwanya lebih hangat, karena Listi maupun Tijah begitu baik dan akrab bagai sudah kenal selama bertahun-tahun.

“Baiklah, kalau begitu aku juga bareng Mbak Listi saja.”

“Tidak Ratri, kamu bareng aku. Masa aku sendirian? Tega banget sih," protes Radit.

“Lhoh, bukannya Mas Radit sama sopir?”

“Iya kan sopir, aku butuh teman, tahu,” kata Radit merengut.

“Ya ampun, kok setelah sembuh jadi galak sih,” kata Ratri.

“Biasa Tri, mas Radit butuh dimanja oleh kamu, setelah beberapa hari dimanja oleh teman-teman dokternya,” canda Dian.

“Iya, dimanja dengan jarum suntik,” kata Radit.

“Ayo berangkat, kok masih pada berdiri di sini,” kata Listi sambil menggandeng bu Cipto dan bu Tijah di kiri kanannya, mengajaknya masuk ke dalam mobilnya

Ratri mengunci pintu rumah lalu mengikuti Radit, sedangkan Dian kembali ke mobil bersama kerabatnya.

***

Acara lamaran itu adalah acara lamaran seperti layaknya pihak calon pengantin laki-laki melamar calon istri yang dipilihnya. Penuh ramah tamah dan gelak tawa diantara kedua belah pihak. Listi duduk di samping Ratri. Hanya diam mendengarkan. Tapi tiba-tiba Listi mencolek lengan Ratri keras, membuat Ratri terkejut.

“Ada apa?” tanya Ratri pelan.

“Aku ingin tanya sama kamu. Kenapa tadi menginjak kaki aku keras sekali?” tanya Listi, juga dengan suara pelan.

“Ya ampun, kenapa Mbak Listi bicara tentang rendang? Kan ibu-ibu kita tidak tahu menahu tentang rendang yang ditolak?”

“Kenapa kamu tidak bilang saja terus terang?”

“Aku harus menjaga perasaan mereka dong, sudah memasak susah-susah kok ditolak, dengan marah pula.”

“Oh, aku tidak tahu. Aku kira mereka sudah tahu.”

“Tidak, dan jangan sampai tahu.”

“Aku tadi kurang paham, tapi mendengar kamu membelokkan percakapan dan bilang bahwa rendang itu tumpah, aku terpaksa diam, walau tidak mengerti sepenuhnya. Padahal bukan rendang yang tumpah itu yang membuat bu Listyo marah kan?”

Ratri tertawa kecil sambil menutup mulutnya.

“Bisik-bisik apa sih?” tanya Radit yang sedari tadi mengawasi dari jauh.

Listi dan Ratri tertawa.

“Nggak penting. Ini rahasia perempuan,” kata Ratri sambil tersenyum.

***

Ratri tidak pulang bersama mereka, karena Radit langsung membawanya menemui ibunya.

“Ada apa sih? Aku takut deh.”

“Kenapa takut? Apa ibuku menakutkan?”

“Iya sih, aku pernah ketakutan waktu itu.”

“Waktu membawa rendang?”

Ratri tertawa. Mengapa pembicaraan tentang rendang itu menjadi perbincangan di mana-mana? Di rumah Listi, di tempat acara lamaran, dan sekarang di mobilnya Radit.

“Maafkan ibuku.”

“Apa yang harus dimaafkan? Seorang ibu pasti memilihkan yang terbaik bagi anaknya. Aku tidak merasa apapun, karena menganggapnya wajar.”

“Tidak begitu. Kamu harus memaafkan karena perlakuan kasar ibuku. Aku juga baru tahu belakangan ini. Ibu sangat menyesal.”

“Ya, lupakan saja.”

“Kalau begitu kamu tidak usah berdebar, tenang saja.”

“Tetap saja berdebar,” gumam Ratri.

“Ibu hanya ingin bertanya, apa kamu mencintai aku, atau tidak.”

“Kok kamu tahu?”

“Tahu dong, aku sudah diberi bocorannya,” canda Radit.

“Curang.”

“Lalu apa jawabmu nanti, kalau ibuku bertanya seperti itu?”

“Entahlah.”

“Kok entah sih, sebenarnya kamu cinta sama aku tidak?”

“Kalau ditanya ‘cinta atau tidak’, dengan gampang aku bisa menjawabnya.”

“Gampang itu bagaimana?”

“Ya gampang, aku tinggal jawab, ya, aku cinta.”

“Asyiiik, aku bahagia mendengarnya.”

“Kan hanya ditanya masalah cinta.. Bukan yang lain lhoh."

“Ya pasti ada kelanjutannya dong.”

“Apa tuh?”

“Kapan aku bisa melamar kamu?”

Ratri tertawa.

“Kok jadi ngarang sendiri sih?

“Kita lihat saja nanti. Kalau kamu oke, ibu akan segera mengatur saat lamaran dan sekaligus pernikahan.”

Keduanya berbincang seru, lupa kalau di depannya ada sopir kantor yang mendengarnya sambil tersenyum-senyum.

***

Ratri duduk di ruang tamu sendirian, karena Radit meninggalkannya ke belakang untuk meminum obat. Ia terkejut ketika tiba-tiba bu Listyo datang dan langsung duduk di depannya.

Ratri berdiri, meraih tangan bu Listyo dan mencium tangannya.

Bu Listyo menepuk bahu Ratri.

“Duduklah,” katanya lembut.

Ratri duduk di tempatnya semula.

“Ratri, aku ingin bilang, kapan kamu membawa lagi rendang masakan ibu kamu,” kata bu Listyo sambil tersenyum.

“Rendang lagi? Kenapa hari ini semua orang bicara tentang rendang?” kata batin Ratri.

“Aku minta maaf, waktu itu pasti menyakiti kamu.”

Ratri mengangkat wajahnya.

“Tentang rendang itu," lanjut bu Listyo.

“Oh, tidak Bu, Ratri sudah melupakannya.”

“Tapi aku serius tentang keinginan aku itu.”

“Tentang … rendang ?” Ratri mengucapkannya sambil menahan tawa. Kok jadi menyuruh datang hanya bicara tentang rendang sih?

“Ya, benar. Sebenarnya itu kesukaan aku, dan juga kesukaan Radit.”

“Nanti saya bilang sama ibu, supaya membuatkannya lagi. Itu dulu yang masak adalah ibu angkat saya, bu Cipto, dan ibu kandung saya, bu Tijah,” kata Ratri sambil menekankan kata ibu kandung, untuk mengingatkan bu Listyo bahwa dia punya ibu kandung yang mungkin tidak disukainya.

“Ya, aku tahu, karena Radit sudah bilang bahwa itu masakan ibu kandung kamu dan ibu Cipto.”

“Baiklah, nanti saya bilang sama ibu, biar dibuatkan khusus untuk Ibu,” kata Ratri sambil tersenyum. Dalam hati Ratri mengomelin Radit. Ternyata hanya bicara soal rendang. Tadi dia bohong kan, katanya mau ditanya soal cinta? Awas nanti, ancam Ratri.

“Ada hal lain yang ingin aku bicarakan sama kamu, Ratri.”

Ratri terkejut. Hal lain apa ya?

“Aku tahu kamu dan Radit sudah kenal lama, dan Radit juga sudah berterus terang sama ibu, tentang hubungan kalian.”

Sekarang Ratri benar-benar berdebar.

“Apa benar kamu mencintai Radit?”

Ratri mengangkat wajahnya, menatap bu Listyo dengan debaran yang semakin keras. Agak malu ketika ia menjawabnya, tapi memang dia harus menjawabnya. Mana mungkin dia bohong? Apapun akibatnya, dia harus berterus terang.

“Benarkah?” ulang bu Listyo karena Ratri tak menjawab.

“Ya Bu,” jawab Ratri lirih.

“Kamu tahu Ratri, aku menyukai kamu. Aku sudah mengerti siapa kamu, dan aku akan mengikuti apa kemauan Radit, yang ingin  memperistri kamu.”

Sekarang Ratri menundukkan kepalanya.

“Tapi saya hanya anak seorang wanita yang tidak berkasta.”

“Tapi wanita hebat karena melahirkan gadis baik dan mengagumkan seperti kamu.”

“Saya mohon Ibu memikirkannya sekali lagi, sebelum semuanya terjadi, agar tidak ada sesal di kemudian hari.”

“Selain baik, kamu juga bijak dalam bicara. Aku semakin mantap untuk membiarkan kamu menjadi pendamping Radit. Aku yakin dia akan bahagia di samping kamu.”

***

Tidak terlalu lama pembicaraan tentang perjodohan dua pasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu berlangsung. Mereka sepakat meresmikan pernikahan dalam dua bulan mendatang. Tapi berbeda dengan Dian yang tak ingin mengadakan resepsi pernikahan atas kesepakatan bersama Dewi, Radit harus memenuhi permintaan ibunya yang akan mengadakan resepsi besar atas pernikahan itu. Maklum, Radit satu-satunya putra bu Listyo.  Banyak relasi atau teman bisnis yang tak mungkin tidak diundang. Belum lagi teman-teman seprofesi Radit yang tak sedikit jumlahnya.

***

Dian yang akhirnya berhasil menikahi Dewi, dan ingin  langsung membawanya ke Jakarta. Sudah jauh-jauh hari Dewi mengundurkan diri dari jabatannya, atas permintaan Dian.

Pernikahan Radit dan Ratri hanya terpaut beberapa hari  setelah Dian. Dian masih sempat menghadiri resepsi besar-besaran itu sebelum berangkat ke Jakarta bersama istri dan anaknya.

“Aku bahagia melihat kamu juga bahagia Tri,” kata Dian ketika Ratri dan Radit mengantar mereka sampai ke bandara.

“Aku juga bahagia melihat kamu mendapatkan istri sekaligus anak,” kata Ratri yang disambut tawa semuanya.

“Tidak lama lagi akan ada adiknya Arina, ayuk kita berpacu,” tantang Dian.

“Iih, Dian …” Ratri tersipu.

“Aku akan mencetaknya lebih cepat,” seru Radit tanpa malu. Ratri mencubit lengannya.

Arina sangat senang melihat pesawat. Ia berlari ke sana kemari sambil sesekali melonjak-lonjak.

“Ariiin, sini!” Jangan jauh-jauh, kata Dewi yang mengejarnya, tapi Arina justru lari menghindari ibunya.

“Ariin.” Dian ikut berteriak.

Radit dan Ratri tertawa.

“Baru satu, nanti kalau sudah ada adiknya, teriakanmu harus lebih kencang,” kata Ratri.

Mereka pasangan berbahagia, yang akhirnya berpisah karena pekerjaan yang berbeda. Tapi janji untuk sesekali bertemu, sudah membuat mereka lega.

***

“Ibu, karena Ratri sudah punya suami, Ibu tinggal di rumah saya saja,” kata Listi kepada bu Cipto yang kali itu masih berada di rumahnya sendiri.

“Aduh, nanti saya merepotkan dong Nak.”

“Tidak Bu, saya senang kalau Ibu mau tinggal bersama kami. Rumah Listi lumayan besar, Listi sudah mendapat pekerjaan dan kalau dia bekerja, saya juga sendirian,” sambung bu Tijah.

“Iya Bu. Bu Cipto ini, karena ibunya Ratri, juga menjadi ibuku. Kami bahagia memiliki dua orang ibu. Saya yakin, bu Cipto tidak akan kesepian, demikian juga ibu Tijah. Ya kan Bu,” katanya kemudian kepada bu Tijah.

“Benar Bu, kalau kita menjadi satu rumah, kita tidak akan kesepian,” rayu bu Tijah.

“Benarkah saya tidak merepotkan?”

“Tentu saja tidak Bu, Listi justru senang, karena Ibu ada temannya berbincang. Belanja bersama, masak bersama. Pasti menyenangkan.”

“Baiklah, saya akan bicara sama Ratri juga.”

“Ratri pasti setuju Bu. Bulan depan saya sudah mulai bekerja,” kata Listi.

“Baiklah, barangkali ini yang terbaik.”

***

Ratri dan Radit akan berlibur keluar kota, tapi Ratri minta agar mampir dulu ke toko untuk membeli sekedar cemilan, karena Radit suka ngemil.

Ketika Radit sedang menunggu Ratri belanja, tiba-tiba dia dikejutkan oleh ketukan di jendela mobilnya.

“Koran Pak … koran …”

Radit membuka kaca jendelanya dan tersenyum ke arah penjual koran yang tentu saja dikenalnya.

Melihat Radit, penjual koran itu membalikkan tubuhnya, sungkan, pastinya. Tapi ketika berbalik itu, ia menabrak seseorang.

“Uups. Maaf,” kata penjual koran itu. Sekarang di depannya ada Ratri.

“Bu Tarmi?”

Radit membuka pintu mobilnya.

“Bu Tarmi bagaimana, saya mau beli korannya, kok malah pergi?”

“Ya, mm … maaf,” kata bu Tarmi yang sesungguhnya selalu merasa sungkan kepada orang yang sudah tahu siapa dan apa yang pernah dilakukannya.

“Ini, sama ini Mas?” tanya Ratri yang lebih dekat dengan bu Tarmi, dan mengambil dua koran sekenanya. Radit mengangguk. Dia bukannya butuh membaca koran, tapi ingin memberi bu Tarmi uang.

“Ini Bu, uangnya,” kata Radit yang kemudian memberikan uang lima puluh ribu kepada bu Tarmi.

“Tidak usah Bu, kembaliannya untuk Ibu saja,” kata Ratri, yang kemudian buru-buru masuk ke mobil, begitu melihat bu Tarmi merogoh kantung uang dari saku bajunya.

Bu Tarmi menatap mobil Radit yang berlalu, dengan mata berkaca-kaca.

“Aku melakukan kejahatan sama dia, tapi dia membalasnya dengan kebaikan,” gumamnya sambil mengusap air matanya.

***

“Bu Tarmi itu aneh, setiap ketemu bawaannya selalu ingin lari saja,” kata Radit.

“Sesungguhnya dia merasa bersalah, dan sungkan bertemu kita.”

“Sangat bagus, merasa bersalah dan mengakui kesalahannya, ditambah lagi mau bertobat.”

“Semoga Allah mengampuni dosanya, sehingga dia bisa menemukan kehidupan yang lebih baik,” kata Ratri.

“Aamiin. Adem rasanya punya istri yang hatinya baik,” gumam Radit.

“Semua orang akan melakukan hal yang sama.”

Mereka terus menuju ke arah luar kota. Ada vila milik keluarga yang akan menjadi tempat mereka berbulan madu. Tidak usah keluar negri, keluar kota sudah cukup, karena yang penting adalah kebersamaan, bukan kemewahan. Radit mengerti, karena istrinya adalah orang yang sederhana.

“Berapa lama kita berlibur? Jangan lama-lama, aku hanya cuti tiga hari,” kata Ratri.

“Yah, tidak bisa dong, paling tidak seminggu,” kata Radit protes.

“Ya ampun, itu kelamaan Mas.”

“Aku bisa menyuruh orang untuk membuat surat permohonan perpanjangan cuti kamu. Bagaimana mungkin hanya tiga hari? Kamu lupa kalau kita sedang berpacu sama mas Dian? Kalau bu Dewi lebih dulu hamil, kalah dong kita.”

Keduanya terkekeh lucu.

Sederhanakah bahagia? Sederhana kalau sudah bisa mencapainya. Tapi jalan yang dilalui terkadang penuh liku. Kalau sudah begitu, pasti kalimatnya adalah, bahagia itu indah. Ya kan?

 

 

T A M A T……

Sebuah penggilan di malam buta mengejutkan Nurani yang nyaris memejamkan mata. Ia bangkit, lalu perlahan keluar dari rumah kecil yang dihuni bersama ibu tirinya.

Tapi sampai di luar, hanya desir angin yang menyengat kulitnya, membuatnya menggigil.

 

Tungguin ya, ada cerita yang mudah-mudahan seru nih. KANTUNG BERWARNA EMAS.

***

BESOK-BESOK LAGI YA.

Friday, December 2, 2022

JANGAN PERGI 40

 

JANGAN PERGI  40

(Tien Kumalasari)

 

Listi menatap tajam laki-laki bekas suaminya yang duduk di depannya. Listi melihat rona tegang di wajah Dian.

“Kamu bercanda?”

“Ini permintaan Dewi.”

“Kenapa? Mengasihani aku?”

“Maksudnya_”

“Aku tampak memelas? Pantas dikasihani?”

“Bukan begitu.”

“Iya. Ini begitu.”

“Listi, aku hanya_”

“Hanya usulan Dewi karena dia kasihan melihat aku? Dengar Dian, aku bukan wanita lemah. Aku juga bukan benda yang terjatuh kemudian bisa dipungut lagi. Aku adalah Listiani, wanita tegar yang bisa menerima apapun dan karena apapun. Aku sudah melakukan sesuatu kesalahan, aku sadar itu, dan aku sudah bertobat. Segala akibat atas kelakuan itu, akan aku terima dengan segala keikhlasan yang ada. Lihat aku. Apa aku tampak memelas? Aku juga tidak mau melakukan sesuatu yang kemudian hanya akan menyiksa aku. Menyiksa aku karena suami aku tidak lagi mencintai aku. Aku akan akan diselimuti oleh belas dan iba. Ya Tuhan, aku tidak mau!” nada suara Listi tampak meninggi.

Dian merasa serba salah. Sebenarnya dia hanya melakukannya atas permintaan Dewi. Dan bodohnya dia karena tidak melihat situasi hati Listi yang sudah tertutup untuk semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Bodohnya dia tidak mendengarkan kata Ratri tentang keinginan Listi yang sekarang. Sesungguhnya Dian hanya kasihan, mengingat Listi kemudian tidak bisa mengandung, walau itu karena ulahnya sendiri. Rasa kasihan, benar memang dia merasa kasihan, mengira Listi menderita karena tidak lagi bisa mengandung, dan dia mengira Listi pasti menyesal dan menderita. Tapi kata tegas yang meluncur dari mulut Listi membuatnya sadar, betapa kuatnya Listi. Betapa semua yang dijalani sebelumnya, lalu menimbulkan konsekuensi yang sekarang diterimanya, memang sudah diterimanya secara ikhlas.

“Apa kamu juga merasa kasihan terhadapku?” tajam kata itu diiringi dengan mata berkilat.

“Maaf Listi. Sungguh aku minta maaf,” kata Dian pelan.

“Kalau begitu tinggalkanlah aku. Dan jangan pernah berpikir bahwa aku perempuan yang harus dikasihani,” kata Listi tandas.

Listi menatap punggung laki-laki bercambang itu dengan tatapan nanar. Ia juga tidak berdiri mengiringi kepergiannya.

“Apakah aku pantas dikasihani?” bisiknya pilu.

Listi mengusap air matanya, tanpa sadar ibunya tiba-tiba sudah ada di depan pintu.

“Ada apa?”

Listi terkejut, ia berusaha tersenyum, dan berharap tak ada lagi sisa air mata di wajahnya. Tapi tidak. Sang ibu sempat melihat mata merah yang membuat wajahnya sembab.

“Kamu menangis?”

“Tidak. Ibu mengada-ada,” jawabnya masih tetap dengan senyumnya.

“Dia itu bekas suami kamu kan?”

“Iya.”

“Mau apa dia kemari?”

“Itu, hanya bilang bahwa dia akan menikahi … eh … menikah lagi.”

“Dan kamu menangisinya? Apa kamu masih mencintainya? Bukankah kalian sudah bercerai? Mengapa dia harus mengabari kalau mau menikah lagi?” sederet pertanyaan yang membuat Listi untuk sesaat kehilangan jawaban.

“Dia menyakiti kamu?”

“Tidak Bu, sungguh tidak ada yang harus dikhawatirkan. Listi baik-baik saja.”

Tijah mengerti, ada masalah pribadi yang orang lain tak boleh tahu, walaupun itu ibunya sendiri. Ia mengelus kepala Listi perlahan.

“Ibu tak ingin kamu bersedih.”

“Listi tidak sedang bersedih. Listi bahagia ada Ibu di samping Listi.”

***

Dian duduk di teras depan di rumah Dewi, setelah memberikan oleh-oleh mainan untuk Arina, kemudian anak itu asyik bermain di temani pembantu mereka.

Dewi menatap wajah Dian yang tak seperti biasa.

“Mas Dian dari mana?”

“Dari rumah Listi.”

Dewi terkejut.

“Dari rumah Listi? Ya ampun, aku belum sempat mengatakan pada Mas tentang Listi,” sesal Dewi yang sudah berbincang dengan Ratri beberapa hari yang lalu.

“Mas bilang apa?”

“Seperti permintaan kamu.”

“Apa jawab dia?”

“Sesungguhnya aku tidak mau. Tapi mendengar cerita Ratri bahwa dia tak lagi bisa mengandung, aku jadi kasihan. Aku mencoba bicara, seperti yang kamu inginkan.”

“Diterima?”

“Dicaci maki.”

“Tuh kan. Harusnya Mas bicara dulu sama aku.”

“Setelah Ratri cerita, aku justru merasa kasihan sama dia. Lalu aku mencoba menuruti kemauan kamu, dan bicara dulu sebelumnya sama dia. Ternyata aku salah. Baiklah, memang sebenarnya itu bukan kemauan aku." 

Sesaat keduanya terdiam

"Sekarang kita bicara saja soal lamaran besok pagi, sekaligus acara pernikahan kita, soalnya kita itu bukan pengantin muda, ya kan? Apa kamu ingin diadakan pesta yang meriah?”

“Tidak, sama sekali tidak. Yang penting ijab dan selesai. Simpel dan tidak usah pakai hura-hura.”

“Baiklah, besok kita bicara sekalian, resminya kan keluarga aku harus datang dulu, dan bicara. Sekarang acara main bersama Arina,” kata Dian sambil berdiri dan bergegas menemui Arina, yang bersorak begitu melihat Dian mendekatinya.”

“Ayo om… main ama Ain..” teriaknya.

“Nggak boleh om sekarang, panggil bapak.”

“Apak?”

“Iya sayang, bapak, nggak boleh om.”

Dan Arina berkali kali berteriak … apaak … apaaak … apaaak… Ibunya tersenyum bahagia.

***

“Dian, apa yang kamu lakukan? Kamu menemui mbak Listi dan memintanya agar kamu bisa menikahinya?” kata Ratri ketika menelpon Dian pagi itu, setelah Listi menceritakan tentang kedatangan Dian kemarin sore.

“Maaf Tri, aku yang salah.”

“Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa mbak Listi tidak ingin menikah lagi? Mengapa kamu nekat menemuinya?”

“Justru karena mendengar cerita kamu, aku merasa kasihan kepadanya, dan menyetujui permintaan Dewi.”

“Kamu masih mencintai mbak Listi?”

“Tidak. Sebetulnya tidak.”

“Keterlaluan kalau kamu memperistrikannya bukan karena cinta, tapi karena belas kasihan. Dia sudah bilang, sangat marah sama kamu.”

“Maaf Tri, tolong katakan padanya bahwa aku menyesal. Aku pikir Dewi akan bisa membuatnya senang, dan anak Dewi akan bisa menjadi anaknya juga.”

“Omong kosong apa itu.”

“Ya sudah, aku sudah berkali-kali minta maaf kan.”

“Bu Dewi sudah mengerti saat aku bicara sama dia. Aku tidak tahu kamu langsung menemuinya.”

“Aku merasa salah langkah. Aku mohon lupakanlah.”

Ratri hanya terdiam.

“Aku sedang membicarakan rencana pernikahan aku hari ini, itu sebabnya aku datang pagi-pagi. Aku berharap, kamu dan juga ibu ikut menghadiri acara lamaran itu. Tapi nanti aku tidak akan mengadakan resepsi. Hanya syukuran sederhana diantara kerabat dan teman dekat saja.”

“Tidak apa-apa. Yang penting nikah. Baiklah, nanti aku akan pergi. Barangkali ibu juga mau datang.”

“Aku samperin?” tawar Dian

“Terserah. Nanti aku bicara sama mbak Listi, barangkali dia mau datang juga. Tapi sebaiknya datang bersama-sama, karena kami kan mewakili keluarga kamu.”

“Baiklah.”

Lalu Ratri menghampiri Listi yang ternyata duduk di ruang tamu, dan mendengarkan saat Ratri bertelpon.

“Dian akan melamar bu Dewi siang ini. Mbak Listi masih marah?” tanya Ratri, hati-hati.

“Siapa bilang aku marah? Aku hanya tidak terima dikasihani.”

“Dian sudah minta maaf. Aku harap mbak Listi memaafkannya.”

“Sudah aku maafkan. Lupakan saja.”

“Nanti mau ya, ikut lamaran di rumah bu Dewi? Ibu Cipto dan ibu Tijah juga diminta ikut sebagai keluarga Dian.”

“Jam berapa?”

“Aduh, aku kok nggak nanya jam berapanya ya, nanti aku tanyakan lagi, yang penting mbak Listi mau datang.”

“Aku pasti ikut, supaya mereka tidak mengira aku marah. Aku biasa-biasa saja kok. Aku hanya ingin, mereka mengerti.”

“Iya, mereka sudah mengerti.”

Tapi tiba-tiba ponsel Ratri berdering lagi.

“Dari mas Radit,” gumamnya sambil meraih ponselnya.

“Ya Mas.”

“Bisakah kamu datang ke rumah? Ibu mau bicara.”

“Tapi sekarang tidak bisa Mas. Dian akan melamar bu Dewi siang ini, aku dan ibu diminta ikut sebagai keluarga dia.”

“Lamaran? Sekarang? Kalau begitu aku ikut. Jam berapa?” kata Radit bersemangat.

“Baru mau aku tanyakan. Kalau begitu biar Dian nyamperin mas Radit.

“Tidak, aku membawa mobil sendiri, lalu  nyamperin kamu. Kamu masih di rumah Listi?”

“Masih. Sebenarnya kami mau keluar kota, mbak Listi ngajakin jalan-jalan, tapi karena ada acara, jadi kami urungkan, mungkin minggu depan jalan-jalannya.”

“Baiklah, aku siap-siap, segera kabari aku jam nya ya.”

***

“Mau kemana?” tanya bu Listyo ketika melihat Radit berdandan rapi.

“Mau mengantar Dian, melamar.”

“Kamu kan belum sehat benar, masih harus banyak istirahat di rumah. Ratri aku minta datang kemari kan karena kamu belum sehat juga.”

“Radit sudah sehat Bu, percayalah.”

“Kemarin kamu masih bilang pusing, bukan?”

“Sedikit Bu, sekarang sudah baik kok.”

“Kamu tuh ya, sudah dewasa, bukan anak kecil lagi kan, tapi kalau dikasih tahu, bandel bener. Kalau kamu anak kecil, bisa ibu ikat kaki kamu, aku masukkan ke dalam kamar, dikunci dari luar, beres. Lha sudah segede itu, harusnya menurut mendengar petuah baik. Kamu tidak,” omel bu Listyo.

Radit tertawa, kemudian duduk di samping ibunya, merangkul pinggangnya.

“Ibu lupa ya, Radit kan dokter, jadi Radit sudah tahu apa yang harus Radit lakukan kalau merasa sakit. Ibu jangan khawatir.”

“Apa? Kamu saat di rumah sakit, ribut ingin pulang, nyatanya keadaan kamu belum baik, dan dokter-dokter melarang kamu kan?”

“Iya, waktu itu masih sakit beneran, sekarang sudah sembuh.”

Bu Listyo merengut.

“Baiklah, ibu nggak jadi ngomong sama Ratri kan? Ya sudah.”

“Eeh, ibu kok gitu. Ini nanti Radit juga bersama Ratri. Nanti sepulang dari sana, Radit bawa Ratri kemari.”

“Memangnya mau melamar ke mana, dan siapanya kamu yang namanya Dian itu.”

“Dian itu sahabat Radit Bu. Radit ikut melamar, biar segera ketularan.”

“Ketularan apa?”

“Ketularan melamar dong Bu, Radit juga sudah ngebet nih Bu.”

Bu Listyo merengut, tapi dia bukannya marah. Ia hanya tak ingin Radit yang belum sembuh benar tidak pergi ke mana-mana.

“Jam berapa ke sana?

“Radit sedang menunggu kabar dari Ratri, jamnya belum diberi tahu.

“Kalau begitu tilpon sopir kantor biar mengantarkan kamu.”

“Kok gitu sih Bu, nanti Radit nggak bisa berduaan sama Ratri dong.”

“Kalau tidak mau ya sudah, tidak usah pergi saja. Ibu nggak akan beri ijin,” kata bu Listyo tandas.

“Ya sudah, Radit tilpon pak Mardi ya,” kata Radit mengalah.

“Seperti anak kecil saja,” omel bu Listyo.

Radit hanya tertawa, sambil menunggu jawaban dari sopirnya.

***

“Apa kamu mau melanjutkan hubungan kamu sama nak Radit?” tanya bu Cipto ketika mereka sedang menunggu kedatangan Dian.

“Ratri belum tahu Bu. Bagaimana menurut Ibu?” jawab Ratri.

“Yang menjalani kan kamu.”

“Kalau calon mertuanya bersikap baik, berarti merestui, kenapa harus memutuskan hubungan? Aku lihat dia laki-laki baik,” sambung bu Tijah.

“”Iya sih, dan hari ini harusnya saya diminta datang ke sana. Mau apa ya kira-kira?”

“Datang saja ke sana. Kita lihat apa yang dikatakannya. Tapi aku tidak mau bu Listyo menerima kamu karena terpaksa,” sambung Listi yang duduk bersama di teras rumah.

“Benar. Bisa jadi dia terpaksa, karena nak Radit sakit kemarin itu.”

“Jadi apa yang harus Ratri katakan nanti?”

“Kan belum jelas dia mau bicara apa,” kata Listi.

“Kalau bilang ingin bicara, berarti ya tentang hubungannya dengan Ratri dan Radit,” kata bu Tijah lagi.

“Kamu kan bisa melihat nanti, sikap baiknya dibuat-buat atau tulus. Kalau dibuat-buat, tolak saja. Laki-laki bukan hanya anaknya bu Listyo.

“Listi, kamu tidak boleh begitu,” tegur bu Tijah.

“Listi kesal sama dia, sejak dia menyakiti Ratri ketika membawa rendang itu,” kata Listi keceplosan.

“Membawa rendang apa?” tanya bu Cipto.

Ratri menginjak kaki kakaknya.

“Aduhh,” Listi berteriak kesakitan.

“Eh, maaf. Keinjek ya?” tanya Ratri sambil tertawa, melihat Listi melotot kepadanya.

“Rendang apa sih?”

“Bukan Bu, bukan apa-apa. Ketika membawa rendang, tanpa sengaja rendangnya tumpah, lalu bu Listyo marah sama Ratri.”

“Ya ampuun, tumpah? Pantesan nak Radit tidak tahu menahu tentang rendang itu,” kata bu Cipto.

“Maaf ya Bu. Ratri tidak berani bilang sama Ibu, takut Ibu memarahi Ratri.”

“Kamu itu. Kalau kamu bilang, pasti ibu ganti rendangnya. Waktu itu di rumah masih banyak lho.”

“Tidak apa-apa Bu, lain kali Ibu masak rendang lagi, biar diantar Ratri ke rumahnya. Tapi kalau Ratri benar diterima menjadi menantunya lho,” kata Listi yang masih kesal kakinya diinjak oleh adiknya.

Tiba-tiba beberapa mobil berhenti. Rupanya Dian telah datang bersama kerabat dekatnya, bahkan bersamaan dengan mobil Radit.

“Lho, mas Radit sudah sehat?” sapa Dian ketika melihat Radit turun.

“Sehat, demi mas Dian,” kata Radit, lalu keduanya melangkah ke arah rumah. Beberapa kerabat Dian menunggu di mobil.

Listi menatap nanar dua laki-laki ganteng yang berjalan berjajar, gagah dan menawan. Sekali lagi ada nyeri mengiris, melihat orang-orang yang pernah mengisi hidupnya.

***

Besok lagi ya.

Thursday, December 1, 2022

JANGAN PERGI 39

 

JANGAN PERGI 39

(Tien Kumalasari)

 

Dian menatap Dewi tak berkedip. Meyakinkan apa yang didengarnya, apakah benar, atau salah. Dewi tersenyum ke arahnya.

“Mengapa menatap aku seperti itu?”

“Kamu bicara apa? Kamu sadar apa yang kamu katakan?”

“Tentu saja aku sadar.”

“Coba ulangi.”

“Aku ingin, kamu juga menikahi Listi.”

“Ini gila! Tidak mungkin aku melakukannya.”

“Tolong ingatlah. Listi pasti sangat menderita. Bekas pacarnya, mencintai adiknya. Bekas suaminya, mencintai wanita lain beranak satu.”

“Lalu kenapa? Hanya bekas dan bekas. Bukan berarti menyengsarakan dia kan? Bukan berarti aku membuat dia menderita kan?”

“Tapi dia pasti menderita.”

“Pasti?”

“Pasti. Kamu ingat ketika dia mendatangi bu Ratri di rumah makan. Dia marah karena bu Ratri dekat dengan bekas pacarnya. Lalu mengamuk di sekolah, mengira aku merebut kamu darinya. Itu berarti, jauh dilubuk hatinya, dia masih mengharapkan cinta mas Dian.”

“Dan mengharapkan cinta mas Radit juga, karena dia pernah marah-marah pula sama Ratri?”

“Kamu tidak mengerti, bagaimana seorang wanita.”

“Tentu, aku tidak mengerti apa yang kamu inginkan. Banyak wanita tak mau dimadu, tapi kamu menginginkannya. Kamu belum merasakan, bagaimana rasanya diduakan? Banyak cerita tentang kejadian seperti itu. Banyak sekali cerita, rumah tangga rusak karena tidak  seorangpun mau dimadu. Apa lagi? Kamu ingin mencobanya? Lalu kalau hati kamu sakit, aku yang akan kamu salahkan?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Lalu apa?”

“Aku sungguh kasihan sama Listi.”

“Apa dia minta dikasihani?”

“Tidak. Aku yang merasa kasihan.”

“Omong kosong apa itu.”

“Mas, aku serius”

“Aku tidak mau dengar.”

“Aku akan bicara sama dia.”

“Apa? Bicara sama Listi? Melamarkan dia untuk aku? Begitu?”

“Lebih kurangnya ‘ya’.”

“Aku tidak mau.”

“Tidak mau? Mas tidak mau memenuhi permintaan aku?”

“Mintalah bulan turun ke bumi, mintalah bintang jatuh dari langit, aku bisa mengerti, karena itu kan hanya lagu atau puisi. Tapi minta dimadu? Itu adanya hanya dalam dongeng.”

Dewi merengut.

“Dengar ya, jangan sekali lagi kamu ulangi kata-kata kamu itu. Aku tidak mau dengar, apalagi melakukannya. Aku bukan orang yang bisa berbagi cinta. Cintaku hanya untuk satu, dan tidak untuk yang lain.

“Tapi aku …”

“Arinaaa … sudah mainnya ya, ayo kita pulang,” kata Dian sambil berdiri, mendekati Arina yang asyik bermain bersama teman sebayanya.

Dewi mengikuti Dian. Ia merasa, memang dia salah, tapi sungguh dia merasa kasihan mengingat Listi. Dia mengira sebenarnya Listi masih mencintai Dian.

“Aku akan bicara padanya,” gumam Dewi sambil mengikuti Dian yang sudah menggendong Arina menuju keluar dari arena bermain itu.

***

Tak ada yang bicara di sepanjang perjalanan pulang, hanya celoteh Arina yang kadang terdengar, dan membuat keduanya tersenyum, sampai kemudian Arina tertidur kelelahan.

Hari memang sudah malam, tak sepantasnya Dian berada lebih lama di rumah Dewi, setelah mereka sampai. Dian menggendong Arina yang sudah terlelap, menidurkannya ke dalam kamarnya, kemudian dia pamit untuk pulang.

“Besok aku kembali ke Jakarta, pagi,” katanya sebelum masuk ke dalam mobilnya.”

“Selamat jalan, hati-hati.”

“Kepulangan aku yang berikutnya, adalah untuk melamar kamu, lalu dua bulan berikutnya, kita menikah. Tapi ingat, hanya kamu yang aku nikahi.”

“Mas _”

“Titik!” potong Dian yang segera masuk ke dalam mobil, menstarternya, kemudian membawanya keluar.

Dewi menghela napas. Lalu masuk ke dalam rumah sambil menimbang-nimbang. Benarkah dia tidak akan bisa menjalaninya? Kalau saling mengerti diantara dirinya dan Listi, pasti rumah tangga itu akan tenang dan aman-aman saja.

Dewi tidak pernah berpikir, namanya manusia pasti punya rasa iri, dengki. Dan kalau itu timbul? Ketenangan mana yang bisa tercipta?

Sedangkan Dian merasa sangat kesal dengan permintaan Dewi. Malam sebelum tidur dia menelpon Ratri.

“Ya Dian, aduh … ada apa ini?”

“Kamu masih di rumah sakit?”

“Ya enggak lah, aku pulang setelah bu Listyo kembali ke rumah sakit. Tadinya dia pulang untuk sekedar beristirahat.  Sekarang aku di rumah mbak Listi.”

“Listi ada di dekat kamu?”

“Tidak, aku tidur di kamar sendiri bersama ibu Cipto. Listi di kamar lain bersama ibuku.”

“Aku nggak bisa tidur nih.”

“Ada apa? Bu Dewi marah gara-gara kamu datang ke sorean?”

“Tidak, bukan itu.”

“Lalu apa?”

“Aku bilang bahwa aku akan segera melamarnya, tapi dia punya permintaan aneh.”

“Apa? Minta seserahan yang mahal?”

“Lebih dari itu.”

“Apa maksudnya? Jauh lebih mahal? Berlian satu ton?” canda Ratri.

“Tidak. Dia minta aku juga menikahi Listi.”

“Apa?”

“Ini sungguh gila, dan dia tampak bersungguh-sungguh.”

“Tidak bisa begitu. Mbak Listi sudah memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.”

“Benarkah?”

“Iya, dia serius mengatakannya.”

“Kenapa? Dia masih muda dan cantik.”

“Dia sudah divonis tidak akan bisa punya anak, setelah keseringan menggugurkan kandungan.”

“Ya ampun, separah itu?”

“Jangan memikirkan hal itu. Mbak Listi sangat kuat, dia bisa menjalaninya. Janganlah terganggu dengan masalah itu. Aku akan bicara sama bu Dewi.

“Baiklah, aku prihatin mendengarnya. Menyesali mengapa dulu dia melakukannya.”

Setelah menutup pembicaraan itu, Dian justru merasa kasihan pada Listi. Tidak akan bisa mengandung lagi? Aduhai …

***

Saat bangun pagi hari, Radit mencari-cari, tapi yang dicari tidak ada.

Ia melihat ibunya tidur di sofa, dan bibi diatas karpet, dibawahnya.

Seorang perawat datang memeriksa infus yang masih tergantung dan nyaris habis, lalu menggantikannya dengan yang baru. Lalu tak lama seorang perawat pria membersihkan tubuhnya dan menggantinya dengan pakaian bersih.

“Bisa tidur nyenyak semalam, dok?” tanya perawat itu.

“Lumayan,” jawab Radit singkat.

Bu Listyo tampak menggeliat, melihat ke arah Radit yang sudah berganti pakaian. Di meja, tampak sebaki bubur dan lauknya, serta segelas susu.

Bu Listyo mendekat.

“Mau makan sekarang?”

“Mana Ratri?”

“Radit, Ratri kan harus bekerja. Semalam ibu suruh dia pulang setelah ibu datang. Kasihan, dia kan capek.”

“Ibu tidak berkata kasar kan?”

“Radit, mengapa kamu berkata begitu?”

“Radit khawatir, Ratri tidak mau mendekati Radit lagi.”

“Dia bilang, sepulang dari bekerja akan datang kemari. Kamu jangan seperti anak kecil dong Dit.”

“Radit takut kehilangan dia. Kalau dia pergi, lebih baik_”

“Hentikan, bicaralah yang baik-baik.”

“Beri restu untuk hubungan kami Bu, kalau tidak, Ratri tidak mau sama Radit.”

“Makanlah dulu.”

“Katakan dulu, ibu bersedia. Kalau tidak aku tidak mau makan.”

“Radit ….”

Radit menutup matanya, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi ibunya. Ia sudah melihat ibunya bersikap baik pada Ratri, tapi Radit belum yakin ibunya akan merestui hubungannya.

“Apakah wanita berbaju kuning itu tadi ibu kandungnya?”

“Ya. Apakah dia seperti kurang waras?”

“Entahlah.”

“Radit sudah bilang, dia hanya tertekan, dan sekarang sudah pulih.”

“Ibu ingat, pernah melihatnya di pasar, mengenakan baju seperti yang ibu berikan pada Ratri. Ternyata dia ibunya,” kata bu Listyo pelan.

“Ibu menyapanya?”

“Ibu terus menatapnya, dan menduga-duga. Ibu ingat baju itu, karena ibu yang memilihkannya. Tapi ibu tidak mengatakan apa-apa. Kan ibu belum kenal sama keduanya?”

“Dia bersama bu Cipto juga?”

“Ya, itulah yang ibu lihat.”

“Setelah mengetahui bahwa Listi dan Ratri anak kandungnya, kemudian bu Cipto dan bu Tijah seperti menemukan saudara. Radit ikut senang. Semuanya menjadi baik, kecuali ibu,” ejek Radit.

“Aku juga akan menjadi baik.”

“Benarkah? Berarti ibu merestuinya bukan?”

“Ibu akan bicara sama Ratri.”

“Tapi ibu merestuinya kan? Mengapa susah sekali ibu mengatakan itu,” kesal Radit.

“Kita akan bicara serius, setelah kamu sembuh."

“Yang ingin Radit dengar sekarang adalah, ibu merestui hubungan kami.”

“Baiklah, bandel. Ibu akan merestuinya.”

“Terima kasih, Ibu,” kata Radit dengan mata berbinar, lalu meraih tangan ibunya dan menciumnya berkali-kali.

“Karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan ibu.”

***

Saat istirahat siang, Ratri menuju ke ruang kepala sekolah, duduk di depan Dewi dengan wajah serius.

“Ada apa Bu Ratri?”

“Saya ingin bicara sama Ibu.”

Dewi meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Serius sekali, tampaknya?”

“Semalam Dian menelpon saya. Dia tampak gelisah.”

“Oh ya?”

“Katanya memikirkan permintaan bu Dewi.”

“Oh, itu ya.”

Dewi tertawa.

“Saya hanya memikirkan bu Listi. Kasihan sama dia.”

“Mbak Listi tidak memikirkan apa-apa. Dia sudah memutuskan tak ingin menikah lagi.”

“Memangnya kenapa?”

“Entahlah, tapi yang jelas, karena dia sudah tidak akan bisa hamil lagi.”

Dewi menutup mulutnya.

“Tapi mbak Listi itu wanita yang kuat. Setelah beberapa kejadian menimpanya, tampak bahwa sebenarnya dia itu bisa menata hati dan perasaannya dengan baik. Dia juga pelindung yang luar biasa sebagai seorang kakak, dan anak tertua bagi ibu saya. Jadi tak ada yang perlu dikasihani dari dia. Nanti dia malah tersinggung.”

Dewi mengangguk-angguk.

“Saya bisa mengerti. Untunglah bu Ratri mengingatkan saya. Saya hanya teringat ketika dia mengamuk di sini, seakan menuduh saya merebut mas Dian dari dia.”

“Saat itu pikirannya sedang sangat labil, bingung, terkejut, entah apa lagi. Tapi sekarang dia sangat tenang. Itu sangat melegakan saya.”

“Baiklah, saya mengerti. Terima kasih sudah mengingatkan saya.”

“Saya hargai perhatian bu Dewi. Itu sesuatu yang mulia, bisa mengerti perasaan orang lain. Terima kasih juga untuk bu Dewi.”

***

Listi menjemput adiknya karena bu Cipto juga masih berada di sana. Tapi Ratri minta diantarkan ke rumah sakit.

“Langsung? Nggak makan dulu? Ibu masak enak lho,” Listi menggoda adiknya.

“Tapi aku janji mau langsung ke sana.”

“Ya ampun Tri, makan dulu masa nggak boleh? Oh ya, orang kalau lagi jatuh cinta tuh nggak ngerasa lapar ya?”

Ratri tertawa.

“Ibu masak apa sih?”

“Masak apapun, kalau yang masak ibu-ibu kita itu, pasti enak deh. Aku jadi nggak suka makan di restoran sekarang.”

“Itu peringatan buat Mbak Listi. Terlalu sering makan di restoran itu boros. Ngabisin uang. Tahu.”

“Hm, gantian memarahi aku nih?”

“Kakak adik itu kan harus saling mengingatkan.”

“Okey. Terima kasih sudah diingatkan. Tapi sekarang ke rumahku dulu. Makan, ganti baju. Masak sih nemuin kekasih badannya bau asem.”

“Eeh, badanku nggak bau, tahu.”

“Bau lah, namanya keringat, dari pagi sampai siang, bohong kalau nggak bau.”

“Baiklah, aku nurut saja kalau begitu.”

“Nah, itu baru namanya adik yang baik. Nanti setelah makan dan ganti baju, aku antar kamu ke rumah sakit. Tapi aku nggak akan ikut turun lho ya.”

“Kenapa nggak turun?”

“Ya enggak lah, masa aku harus nungguin orang pacaran.”

“Ya ampun, pacaran di rumah sakit? Lagian aku hanya ingin menyenangkan hatinya saja. Setelah sembuh aku belum tentu masih bisa menemani dia atau enggak.”

“Omong apa sih? Memangnya ibunya yang nyinyir itu masih saja menyakiti kamu? Kemarin seperti baik deh sikapnya.”

“Bukan itu. Sikap baik, bisa saja. Tapi menerima menantu seperti aku, belum tentu juga kan?”

“Tapi Radit nggak bisa pisah sama kamu. Kalau kamu benar-benar ingin pisah sama dia, aku khawatir dia akan bunuh diri.”

“Apa? Ngomongnya yang enggak-enggak saja deh,” kesal Ratri.

“Itu bisa jadi lho. Banyak orang putus cinta lalu bunuh diri.”

“Udah, jangan diterusin ngomong yang enggak-enggak.”

Listi terkekeh. Senang bisa mengerjain adiknya.

Tapi akhirnya, sebelum ke rumah sakit Ratri memang pulang dulu ke rumah Listi, makan timlo masakan ibu-ibu yang luar biasa, ada bakwan jagung dan perkedel juga.

Dan bukan hanya ganti baju, sebelum berangkat Ratri memerlukan mandi terlebih dulu.

“Nah, begitu. Ketemu kekasih harus bau wangi, bukan bau acem …” ledek Listi melihat tingkah adiknya, yang dibalas hanya dengan senyuman manis olehnya.

***

Hari terus berjalan, keadaan Radit sudah mulai membaik, dan sudah ribut ingin pulang, tapi teman-teman dokternya melarang. Karena keadaannya masih harus memerlukan perawatan.

Hari Sabtu sore itu Dian pulang, dan seperti janjinya, dia sudah mengabari kerabatnya untuk melamar Dewi.

Tapi sebelum pergi ke rumah Dewi untuk mengabari maksudnya tersebut, Dian pergi menemui Listi di rumahnya, membuat Listi terkejut.

“Kamu? Tumben kemari, bukannya ini jadwal main sama calon anak kamu?” tanya Listi ketika mereka duduk berdua.

“Ada yang ingin aku sampaikan.”

“Oh ya? Mengirim undangan?”

“Belum dulu. Begini. Entah nanti bagaimana prosedurnya, tapi aku ingin mengutarakan sesuatu. Ini seperti keinginan Dewi.”

“Apa tuh?”

“Apa kamu mau kembali menjadi istriku?” tanya Dian bersungguh-sungguh.

Listi berpegang erat pada tangan kursi yang didudukinya, takut terlonjak kemudian terjatuh akibat terkejut mendengar perkataan Dian.

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...