Sunday, October 11, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 021

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  021

(Tien Kumalasari)

 

Ketika Menur mau langsung menuju ke arah belakang rumah, Lili menghentikannya.

“Apa suamiku mau mengajak kamu jalan-jalan naik pesawat?” tanyanya dengan nada tinggi, membuat Menur terkejut.

“Tidak, siapalah aku ini, maka suamimu mau mengajak aku jalan-jalan?” jawab Menur tenang, karena merasa tidak bersalah.

“Mama, aku yang minta agar bibi Menur ikut,” kata Ana yang tampaknya tahu bahwa sang mama tidak suka.

“Kamu minta papa agar mengajak kamu jalan-jalan naik pesawat?”

“Papa bilang, apa Ana mau jalan-jalan naik pesawat. Aku mau, Mama, tapi aku harus dengan bibi Menur.”

“Tidak usah dengan bibi Menur, Ana, kamu bisa mengajak mama kamu, atau bik Rumi,” sahut Menur.

“Nggak mau … nggak mau … aku hanya mau pergi kalau bersama bibi Menur,” rengek Ana.

“Dasar anak manja! Kamu kelewatan dimanja, jadi suka melakukan apa saja semau kamu!” sentak Lili.

“Mengapa Mama marah? Bukankah jalan-jalan itu tidak salah?” protes Ana.

“Bukankah kamu harus sekolah?”

“Kalau libur!” Ana hampir menangis.

“Ana, sudahlah. Bukankah tidak harus sekarang? Kapan-kapan saja kalau Ana libur. Sudah, jangan menangis,” kata Menur lembut, sambil menggandeng Ana masuk ke dalam.

Dari belakang Rumi berteriak.

“Non Ana belum makan, mengapa diajak jalan?”

“Bukan aku yang mengajak,” jawab Menur yang lama-lama juga kesal karena sikap Rumi seperti selalu mengajak bermusuhan.

“Aku yang mengajak bibi Menur. Mengapa marah sama bibi Menur?” Ana juga marah karena mamanya juga seperti marah pada bibi kesayangannya.

“Ya sudah, sekarang makanlah, sudah bik Rumi siapkan,” kata Rumi lebih lembut.

Ana tak menjawab.

“Ayo cuci kaki tangan dulu,” ajak Menur, yang kemudian memasuki kamarnya.

“Nanti setelah aku pulang kerja, aku mau bicara,” tiba-tiba suara Lili di depan pintu.

“Kalau pulangnya malam, maaf aku tidak bisa menunggu, aku juga harus merawat anakku,” jawab Menur.

“Akan aku usahakan pulang sore,” katanya sambil membalikkan badannya.

Ketika Menur dan Ana keluar dari kamar dan bersiap makan pagi, terdengar mobil nyonya Baroto keluar dari halaman.

***

“Mengapa piringnya hanya satu?” Ana berteriak ketika sudah duduk di kamar makan.

“Memangnya Non mau memakai piring berapa?” tanya Rumi.

“Aku mau makan sama bibi Menur.”

“Tidak Ana, bibi sudah sarapan di rumah. Kamu saja yang makan, ya, bibi menemani saja di sini,” kata Menur sebelum Rumi menjawabnya.

“Bibi selalu sarapan di rumah ya?”

“Iya, kan Rahman juga harus sarapan sebelum sekolah.”

”Apa Rahman suka sama bibi Menur?”

“Tentu saja suka. Bukankah bibi ini adalah ibunya?”

“Ana juga suka pada bibi Menur. Maukah bibi menjadi ibunya Ana?”

“Apa?”

Dari balik pintu, Rumi berdehem keras, pura-pura batuk. Kelihatan sekali kalau dia hanya pura-pura.

“Maukah bibi menjadi ibu Ana?” Ana mengulang pertanyaannya.

“Boleh saja bibi dianggap ibu Ana, tapi ibu Ana kan ada sendiri, yaitu mama Lili.”

“Mama tidak sayang sama Ana.”

“Tidak Ana, itu tidak benar. Semua orang pasti sayang pada anaknya.”

Ana cemberut. Ia merasakan yang namanya sayang, yang bukan didapat dari mamanya. Ia justru mendapatkannya dari Menur. Perasaan nyaman ketika dipeluk saat pertama kali bertemu, selalu terbawa dalam hari-harinya. Ia ingin sekali Menur menjadi ibunya.

“Bibi Menur sayang sama Ana. Bukankah mama.juga sayang?

”Tidak."

“Tidak benar. Mama tetap sayang sama Ana. Percayalah.”

Ana melanjutkan makan dengan bibir mengerucut. Ia tak percaya sang mama menyayanginya. Ia tak pernah memeluknya. Tak pernah menepuk-nepuk pantatnya saat ingin tidur. Tak pernah mengajaknya pergi kalau mamanya sedang jalan-jalan.

***

Memang benar, Lili pulang sore di hari itu, sebelum Menur beranjak pulang. Menur segera mendekati Lili ketika Lili duduk di ruang tengah.

Tapi Lili tidak mengatakan apa-apa, ia punya harga diri. Tiba-tiba sungkan menanyakan hal seperti yang diadukan Rumi kepadanya. Malu kalau kelihatan cemburu kepada kerabatnya sendiri. Jadi dia hanya bicara tentang hari-hari yang dilalui Menur bersama anak semata wayangnya.

Sikapnya ini membuat Mrnur heran. Hanya untuk berbincang, mengapa harus dibela-belain pulang sore. Menur mengira ada sesuatu yang sangat penting.

Akhirnya dia mengijinkan Menur pulang.

“Ya sudah, ini sudah sore, kamu pulanglah.”

Menur mengangguk. Ketika ia berdiri sambil pamit, tiba-tiba Ana berlari dari belakang.

“Mama, bolehkah bibi Menur menjadi ibuku?”

Menur sangat terkejut.

Lili menatap anak gadisnya dengan pandangan tajam. Semestinya dia sadar bahwa ucapan seorang anak kecil bisa saja ceplas-ceplos semaunya, tapi gosokan demi gosokan yang dihembuskan Rumi sedikit membakar hatinya. Hanya saja tadinya dia berusaha menahannya, karena merasa tak semestinya dia bersaing dengan Menur. Dia cantik, kaya, terpelajar, pengusaha yang sukses walau berjalan sendiri tanpa suami. Sedangkan siapa Menur? Walaupun sedarah, tapi Lili merasa tidak level kalau mencemburui Menur. Hanya saja, ucapan Ana tiba-tiba menyalakan api di seluruh aliran darahnya yang semula sudah mulai mendingin.

“Mama, boleh kan?”

Ana tetap mengucapkannya, tanpa sadar bahwa ucapan itu membuat sang mama marah. Menjadi ibu Ana? Berarti menjadi istri Baskoro? O, tidak. Baskoro adalah suaminya, miliknya walau ia belum berhasil merenggut cintanya. Di hatinya sendiri, yang namanya cinta itu serasa baru saja bersemi. Butuh pupuk dan penyiraman yang membuatnya tumbuh subur.

“Apa maksudmu? Bukankah aku ini ibumu?” sentaknya, yang membuat Ana mundur setapak.

“Mama adalah Mama, tapi bibi Menur adalah ibu. Itu beda kan?”

Menur yang memang sudah waktunya pulang segera pamit.

“Lili, aku pamit dulu, anakku sudah menunggu.”

Lili hanya mengangguk, lalu dilihatnya Ana merangkul erat ketika Menur berpamit padanya.

“Sampai ketemu besok Bibi, jangan terlambat ya,” pesan Ana sambil berteriak, ketika Menur sudah berada di halaman. Menur hanya melambaikan tangannya.

Ada perasaan kesal di hati Lili, karena dia dan Ana tidak se akrab itu. Tapi yang membuat Lili kesal adalah keinginan Ana agar Menur menjadi ibunya.

“Mama, boleh kan Mama?” tanpa diduga Ana mengulangi pertanyaannya.

“Tidak boleh.” sentak Lili.

Ana mengerucutkan bibirnya, lalu pergi menjauhi mamanya, tapi sambil menjauh itu Ana berkata:

“Aku mau bilang pada nenek saja,” walau setengah bergumam, tapi Lili mendengarnya. Itu kan senjata Lili, kalau menginginkan sesuatu dan tidak kesampaian, maka neneknya yang menjadi sandaran.

Lili mendiamkannya. Bayangan Baroto melintas. Laki-laki gagah yang menawan itu, mengapa baru sekarang dia menyadarinya?  Lalu perlahan perasaan suka merayapi hatinya.

Ketika Lili membayangkan sang suami berbisik-bisik di telinga Menur, apa itu benar? Jangan-jangan hanya kicauan Rumi saja karena dia iri pada Menur yang lebih disukai Ana daripada dirinya.

Lalu perlahan tangannya meraih ponsel yang ada di depannya. Ia ingin menelpon Baroto, hal yang belum pernah dilakukannya setelah bertahun-tahun menjadi suami istri.

Lili tersenyum ketika Baroto mengangkatnya.

“Ya, Lili?”

“Mas, kamu kapan pulang?”

“Memangnya kenapa? Baru kemarin aku pergi, dan tumben kamu menanyakannya. Ada hal penting?”

“Ada lah, pastinya ada,” kata Lili sambil sebelah tangannya memainkan ujung bajunya.

“Apa tuh?”

“Aku kangen kamu,” katanya enteng.

“Apa? Kamu mimpi ya?”

“Beneran.”

“Kamu sadar apa yang kamu katakan?”

“Tentu saja aku sadar. Apa tidak boleh seorang istri merasa kangen pada suaminya yang pergi jauh?”

“Lili, aku sedang ada di kantor, dan berbincang hal penting dengan teman bisnis. Sudah dulu ya.”

“Ponsel on terus ya, nanti aku menelpon lagi.”

Ponsel diletakkan dan Lili merasa kecewa karena tanggapan Baroto tidak seperti yang diharapkan.

“Apakah aku kurang cantik?”

Lili berdiri, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia berdiri di depan cermin, mengamati wajahnya yang cantik dan tak ada cacat celanya.

“Apa yang kurang pada diriku?”

***

Menur sudah sampai di rumah, dan melayani makan malam untuk anaknya. Ia membeli lauk di jalan, dan tak lupa ia membeli telur. Ia tak sempat masak karena seharian ada bersama Ana, jadi ia sering membeli nasi dan lauk matang. Hanya kalau pagi dia sempat memasak untuk sarapan anaknya.

Sore itu, begitu dia datang dan mengganti bajunya, Rahman sudah menunggu ibunya di ruang tengah.

“Bu, ada sesuatu yang diberikan pak kepala sekolah kepada Rahman.”

“Apa itu?”

Rahman menunjuk ke arah sebuah bungkusan di atas meja. Masih ada di dalam plastik sehingga Menur harus membuka ketika ingin melihat isinya.

Menur terkejut.

“Ini apa?”

“Sebuah ponsel.”

Menur membukanya semakin lebar. Memang sebuah ponsel.

“Mengapa bapak kepala sekolah memberi kamu ponsel?”

“Yang memberi bukan bapak kepala sekolah, tapi om Baroto.”

“Apa?”

“Aku tidak butuh ponsel,” kata Menur sambil menjauhkan kotak ponsel itu dari hadapannya.

“Itu bukan untuk Ibu. Kata bapak kepala sekolah, untuk Rahman, karena kadang-kadang om Baroto ingin ngobrol sama Rahman.”

Menur menghela napas panjang. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi Menur merasa bahwa Baroto telah mempersulit hidupnya.

***

Besok lagi ya.

 

11 comments:

  1. Maturnuwun mb Tien, smg sht sll🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan, Yangtie

      Delete
  2. Alhamdulillah,cerbung mingguan dah tayang,makin seru critanya👍, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan, ibu Tatik

      Delete
  3. Alhamdulillah terima kasih bunda cerbungnya.
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan Nya 🤲🤲

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah yg ditunggu sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 021 sudah hadir.
    Maturnuwun, semoga Bu Tien beserta keluarga tetap sehat dan bahagia senantiasa.. aamiin YRA 🤲

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah
    Matur nuwun Bu Tien semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 021

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  021 (Tien Kumalasari)   Ketika Menur mau langsung menuju ke arah belakang rumah, Lili menghen...