Monday, October 19, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 022

 SEORANG PEGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  022

(Tien Kumalasari)

 

Rahman sangat heran melihat sikap ibunya. Tampak sekali kalau sang ibu sangat membenci om ganteng bernama Baroto yang sangat baik kepada dirinya. Tak tahan hanya bertanya dalam hati, Rahman mengutarakannya kepada saeng ibu.

“Mengapa ibu sangat membenci om Baroto?”

Menur menatap sang anak dengan wajah kusut.

“Apa salah om Baroto?”

Sang ibu tidak menjawabnya.

“Bukankah ibu pernah bilang bahwa tidak baik membenci seseorang? Bahkan kalau ada orang berbuat salah kepada kita, maka kita harus memaafkannya?”

Aduh, ini namanya senjata makan tuan, pikir Menur.

Bagaimana dia mengatakan alasannya kepada sang anak? Lalu berterus terang siapa sebenarnya Baroto? Sikap Baroto bukan sekedar orang yang memperhatikan kebutuhan orang lain. Ia tak mungkin melakukannya kepada setiap orang. Ada sesuatu, dan itu adalah bahwa dia sudah tahu bahwa Baroto adalah anaknya.

Menur tak ingin menyesali jalan yang telah dilaluinya. Barangkalai sudah kehendak Yang Maha Kuasa bahwa ia harus bertemu Baroto, orang yang sebenarnya masih sangat dicintainya. Tapi dalam keadaan yang sangat menyulitkan baginya ini, sama sekali Menur sangat menyesalinya. Di satu pihak dia kasihan pada Ana, dipihak lain dia enggan sering bertemu Baroto. Lagipula kehadirannya membuat orang sakit hati, misalnya Rumi. Kecuali itu sikap Lili, yang walaupun sudah tahu bahwa dia masih termasuk kerabatnya, kelihatan sekali kalau dia tidak menyukainya. Cara dia berbicara, Menur bisa menangkap rasa tidak suka itu. Bagaimana dia bisa lari dari itu semua? Hal-hal yang dialaminya, semua terasa mengikatnya.

“Mengapa ibu diam saja? Apa Ibu marah? Apa saya harus mengembalikan ponsel ini? Bagaimana mengatakannya?”

Berderet pertanyaan Rahman tak satupun dijawabnya.

“Ibu marah?”

“Tidak Rahman.”

“Mengapa ibu diam saja? Wajah Ibu juga muram.”

”Ibu tidak marah. Diberi dan dikasihani orang itu adalah beban. Apa kamu tahu?”

“Maksud Ibu apa? Beban itu apa?”

“Kalau kita diberi seseorang, pasti ada rasa berhutang budi. Nah hutang budi itu adalah beban.”

Rahman diam, sungguh dia tidak mengerti.

Tiba-tiba ponsel itu berdering, membuat Menur dan Rahman terkejut. Rupanya ponsel itu sudah diseting oleh bapak kepala sekolah, bahkan sudah ada nomor yang tercatat di sana.

Tadi kepala sekolah juga sudah mengajarinya, bagaimana cara mengangkat telpon kalau ponselnya berdering. Jadi tadi kepala sekolah sudah mencoba menelpon ke ponsel yang diberikan kepada Rahman.

Lalu Rahman melihat siapa yang menelpon. Gambar seorang laki-laki berkuda tampak di ponsel itu. Rahman segera mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussaalam. Om Baroto ya?”

“Bagus sekali kamu bisa menerima telpon Om. Apa kamu senang?”

“Yah, senang atau tidak, namanya dikasih. Mengapa Om memberi ponsel untuk Rahman?”

“Supaya kalau om kangen bisa langsung menelpon Rahman. Om senang mendengar suara Rahman, dan itu sudah sedikit mengobati rasa kangen Om.”

“Terima kasih.”

“Ibu sudah pulang?”

“Sudah, apa Om mau bicara dengan ibu?”

Tapi mendengar kata-kata Rahman, Menur menggoyang-goyangkan rangannya.

“Ya, berikan ponselnya pada itu.”

Rahman terpaksa memberikannya, yang diterima Menur dengan wajah tetap muram.

“Mengapa kamu melakukannya?”

“Menur, mengapa selalu galak terhadapku? Aku minta maaf kalau dulu kelihatan seakan aku meninggalkan kamu, tapi aku kan sudah mengatakan alasannya?”

“Baiklah, aku mengerti. Tapi ingat kondisi kamu sekarang. Kamu tidak pantas melakukannya,” Menur keluar rumah ketika berbicara, khawatir Rahman mendengarnya, kemudian bertanya-tanya.

“Aku bisa mengaturnya.”

“Apa maksudmu mengaturnya? Menceraikan istri kamu? Aku tidak mau menanggung beban dosa dengan memisahkan sebuah keluarga. Sudahlah, lupakan saja semuanya. Aku bisa menjalaninya, dan kamu juga harus bisa.”

“Aku mau bicara dengan baik-baik dengan Lili, dan mengatakan bahwa Rahman itu anakku.”

“Tidak usah melakukan apa-apa, biar begini saja.”

Menur menghentikan pembicaraan dan mengulurkan ponsel itu kembali kepada Rahman.

***

Malam itu Ana ngambeg, tidak mau makan, dan langsung masuk ke kamarnya. Rumi membujuknya dengan suara lembut, berharap Ana mau mendengarkannya, tapi Ana tetap bergeming.

“Pokoknya aku tidak mau makan.”

“Nanti kalau Non tidak mau makan, bisa sakit.”

“Aku menunggu nenek datang, aku mau bilang kalau aku ingin bibi Menur boleh menjadi ibuku.”

Rumi membelalakkan matanya.

“Ya ampun Non, bukankah Non sudah punya ibu?”

“Aku tidak punya ibu, aku hanya punya mama. Yang sayang sama anaknya itu ibu. Seperti Rahman yang punya ibu, aku tidak punya, aku mau punya ibu.”

Saat itu dipintu berdiri sang nenek, yang kebetulan datang.

Nyonya Sasa masuk ke dalam kamar Ana, yang sedang ngambeg. Rayuan Rumi untuk memintanya agar makan tak mempan. Ana duduk di tepi ranjangnya dengan wajah cemberut.

“Ada apa cucu nenek ngambeg?”

Ana terkejut. Ia mendengar suara sang nenek, nangsung menoleh kemudian turun dan menghambur ke arahnya.

“Nenek ….”

“Ada apa? Kata mama kamu, kamu nggak mau makan?"

“Ana nggak mau makan.”

“Kenapa?

“Mama tidak ngijinin Ana minta ibu.”

“Minta ibu bagaimana maksudnya?” kata nyonya Sasa sambil duduk di ranjang Ana, sambil memangku cucu kesayangannya itu.

“Nenek kan tahu, Rahman punya ibu, jadi Rahman disayang ibunya. Ana juga mau punya ibu. Ana mau, bibi Menur juga menjadi ibuku.”

“Bukankah kamu sudah punya mama?”

“Mama beda dengan ibu. Mama tidak sayang Ana, kalau ibu kan sayang?”

Nyonya Sasa tersenyum. Anak sekecil Ana merasa bahwa ibu dan mama itu beda. Hanya karena sang mama dirasa tidak menyayanginya, jadi menurutnya mama itu tidak sayang, jadi dia butuh ibu. Pemikiran yang sederhana, bukan tak ada sebabnya. Ia tahu, Lili kurang menyayangi ana dalam arti yang sebenarnya. Bukan karena pembelian-pembelian mainan yang diguyurkan setiap saat, tapi pelukan penuh kasih yang tak bisa diberikannya. Ana merasakan itu, dan ia mendapatkan apa yang dicarinya itu dari Menur.

“Ana, sebenarnya mama itu juga ibu.”

“Beda, nenek.” kata Ana keras.

Sang nenek tak bisa menerangkannya secara gamblang, karena kesalahan bukan terletak pada Ana. Keinginan yang sebenarnya adalah di butuh kasih sayang melalui sentuhan.

“Mengapa mama tidak mengijinkan? Bibi Ana bisa menjadi ibuku, aku mau.”

“Baiklah sekarang Ana makan saja dulu, nanti nenek akan bicara pada mama kamu.”

“Benarkah?”

“Iya, tentu saja. Rumi, bawa Ana ke kamar makan, dia mau makan,” perintahnya kemudian kepada Rumi.

***

“Apa maksud mama? Ana meminta Menur menjadi ibunya, apakah itu berarti Menur juga istri mas Baroto?” kata Lili ketika sang ibu menegurnya.

"Itu kan anggapan kamu. Ana hanya ingin ibu. Biarlah Menur dia sebut ibu, memangnya kenapa? Tak ada yang berubah kecuali sebutan itu. Sederhana sekali permintaan Ana itu, mengapa kamu menerimanya secara berlebihan?”

Lili terdiam. Hanya sebutan, tapi gosokan Rumi kembali menggelitik telinganya. Entah benar atau salah, nyatanya hal itu membuat hatinya terbakar.

“Bagaimana kalau mas Baroto suka?”

“Apa hubungannya dengan Baroto?”

“Sejak adanya Menur, permintaan Ana yang aneh-aneh saja.”

“Mengapa kamu tidak berkaca kepada diri kamu sendiri? Ini semua kesalahan kamu. Ana itu anak kecil, dia tidak butuh mainan bagus, baju-baju bagus. Ia butuh sentuhan dan kasih sayang. Apakah kamu melakukannya?”

“Mama kan tahu, aku selalu sibuk. Pagi sudah ke kantor, sore atau malam baru pulang. Sesungguhnya kan aku tidak punya banyak waktu untuk Ana.”

“Apapun alasan kamu, Ana butuh sentuhan dan kamu tidak memberikannya. Banyak ibu-ibu sibuk berbisnis, tapi dia tetap punya waktu untuk anaknya.”

“Sesungguhnya Lili tidak suka anak kecil.”

“Itu sebabnya kenapa kamu tidak segera punya anak.”

“Mas Baroto tidak mencintai Lili,” gumam Lili.

Sang ibu menatap tajam anaknya. Ia tak percaya apa yang dikatakan Lili. Berumah tangga bertahun-tahun tapi tidak cinta? Memang benar, dulu ayah-ayah mereka menjodohkannya karena ikatan bisnis. Tapi mengapa bisa tidak tumbuh cinta diantara mereka? Bukankah Lili cantik, Baroto ganteng, apa yang kurang dari keduanya?

***

Malam hari itu walaupun mata sudah ngantuk, tapi Lili menelpon Baroto. Ia ingin agar hubungan mereka menjadi semakin dekat dengan seringnya berinteraksi. Lili mengakui kesalahannya yang mengabaikan pernikahan yang sebelumnya tidak dikehendakinya. Sekarang saatnya ia meronce bunga-bunga cinta yang sedikit demi sedikit mulai merayapi hatinya. Barangkali Baroto belum bisa ditaklukkan, tapi masih banyak waktu untuk saling mengisi setiap Baroto pulang. Lili juga akan sering menelponnya, dan mengutarakan rasa kangennya.

“Ada apa Lili? Aku sedang dalam perjalanan menemui rekan bisnis,” kata Baroto ketika Lili menelponnya.

“Mas, tolong beri waktu untuk aku walau sedikit saja.”

“Apa sebenarnya maksudmu?

“Aku sedang kesal. Mungkin aku kurang bisa mendekati Ana, tapi aku nanti akan berusaha menjadi seorang ibu yang baik bagi Ana.”

“Mengapa tiba-tiba kamu berkata begitu?”

”Ana mengatakan kalau ingin menjadikan Menur sebagai ibunya.”

“Apa?”

“Dia terus merengek agar Menur boleh dijadikan ibunya. Siapa yang tidak kesal, coba?”

“Mengapa kamu kesal? Biarkan saja, berikan apa yang dia inginkan.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.l




10 comments:

  1. Terima kasih Bunda Tien, yang ditunggu setiap Minggu sudah hadir, semoga Bunda selalu sehat dan selalu dalam keberkahan Allah swt aamiin YR"A

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah. Bibi Menur udah tayang ditunggu tunggu. Terimakasih Bunda Tien. Sehat slalu

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah cerbung Pengais sampah sudah tayang,
    Terima kasih bunda.
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat dan bahagia,selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🤲🙏

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah Cerbung mingguan SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 022 telah hadir .
    Maturnuwun semoga Bu Tien beserta keluarga tetap sehat dan bahagia senantiasa . Aamiin YRA 🤲

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah
    Matur nuwun Bu Tien mugi2 Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah yg ditunggu sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun buTien
    Semoga sehat selalu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah,cerbung mingguan yg dinanti telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏❤️

    ReplyDelete
  9. Ibuu...ini jatah kemarin bukan ya? Berarti yang untuk hari ini belum tayang dong...😉

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...