Saturday, October 17, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 34

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  34

(Tien Kumalasari)

 

Apa yang terjadi pada anak-anak muda itu? Status, derajat, pangkat bukan penghalang?

“Lho, Bimo makan sama apa itu? Tadi bu Karimun masak sup ayam untuk kamu lho. Itu apa?”

“Katanya diberi temannya Bu, nasi rendang,” jawab bu Karimun.

“Diberi teman? Kok tidak seperti biasanya. Ada teman yang memberi ayam rendang,”

“Ibu mau? Ini banyak lho Bu.”

“Nggak, Ibu sudah makan sama bu Karimun tadi. Habiskan saja, supaya temanmu tidak kecewa. Tapi siapa temanmu itu, tumben kamu dibawain nasi rendang.”

“Ini bukan sembarang teman Bu. Katanya dia tidak makan nasi bekalnya, lalu diberikan pada Bimo.”

“Bu, kata nak Bimo, nasi itu pemberian putrinya pimpinan di kantornya. Dia gadis, pastinya cantik.”

“Bu Karimun bisa saja.”

“Menurut saya, dugaan tentang hal itu tidak keliru, karena ketika saya bilang dia gadis dan cantik, nak Bimo hanya senyum-senyum.”

“Kami tidak ada hubungan apa-apa Bu, mimpi saja kalau bisa. Saya siapa, dia juga siapa.”

“Iya Nak, jadi orang jangan menjangkau terlalu tinggi. Bagi Ibu, kamu lebih cocok sama Sarah.”

“Siapa Sarah Bu?” bu Karimun ingin tahu.

“Dia anak tetangga saya, dulu sebelum saya pindah kemari. Tapi kemudian Allah mempertemukan dia tanpa sengaja, dan ternyata dia hidup bersama neneknya, sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal.”

“Sarah belum tentu suka sama Bimo.”

"Mungkin dia belum berpikir tentang jatuh cinta, kan dia masih kecil.”

“Masih kecil?”

“Masih sekolah Bu.”

“Nah, yang memberi nasi rendang ini temannya Sarah.”

“Oh, begitu? Jadi kamu kenal karena Sarah?”

“Dia pernah membeli koran yang dijual Sarah. Anak orang kaya, tapi baik.”

“Ibu senang kamu berteman dengan orang-orang baik.”

Bimo hanya tersenyum. Ia tahu Sarah tidak menyukainya, entah kapan Sarah membuka hati untuk dirinya.

“Seperti Ibu pernah berkata, jodoh tidak akan ke mana, bukan?” kata Bimo.

“Ya sudah, selesaikan makanmu. Sudah saatnya bu Karimun pulang. Ini sudah sore.”

“Tidak apa-apa Bu, saya tunggu nak Bimo makan dan membersihkan piring kotor, baru saya pulang.”

Bu Saptari tersenyum, dan tiba-tiba ia ingat lagi, seperti pernah bertemu bu Karimun sebelum ini. Ia menatapnya lekat-lekat, membuat bu Karimun heran.

“Bu Saptari, mengapa menatap saya seperti itu? Ada yang salah kalau saya melayani nak Bimo makan sampai selesai?”

“Eh, bukan itu Bu, maaf, jangan salah sangka. Sebenarnya saya sudah lama ingin bertanya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya ya Bu?”

Bu Karimun tertegun. Ia juga pernah memikirkan hal itu, tapi tak berani mengatakannya. Ia menatap bu Saptari dan tersenyum.

“Benarkah Bu?”

“Iya, lupa-lupa ingat.”

“Saya juga ingin mengatakan hal yang sama. Saya pernah bertanya-tanya, seperti pernah melihat bu Saptari. Bahkan sejak bu Saptari memberi saya sekeranjang makanan dan buah-buahan saat saya lemas di pinggir jalan.”

“Oh ya? Berarti memang kita pernah bertemu. Tapi menurut bu Karimun kampung asalnya tidak sama dengan kampung di mana saya berasal. Berarti bukan tetangga.”

“Mungkin hanya bertemu sekilas.”

“Iya juga sih.”

“Eh, nak Bimo, biar saja piringnya saya yang nyuci,” teriak bu Karimun ketika Bimo membawa piring bekas makannya ke balakang.

“Biar saya sendiri Bu. Selama bu Karimun ada di sini kok saya merasa dimanja.”

“Biarkan Bu, biasanya dia juga mencuci piring bekas makannya sendiri. Sekarang bu Karimun siap-siap pulang. Nasi untuk makan pak Karimun sudah saya siapkan.”

“Terima kasih banyak Bu,” kata bu Karimun terharu.

Dia juga merasa selalu bertemu dengan orang-orang baik.

***

“Lhoh, Bapak kok naik sepeda? Dapat uang berapa sampai bisa beli sepeda?” teriak bu Karimun ketika melihat suaminya datang dengan menaiki sepeda.

Pak Karimun tertawa.

“Bukan beli Bu, gajian juga belum, darimana bisa beli sepeda. Gajinya berapa aku juga belum tahu. Mendapat pekerjaan saja aku sudah sangat bersyukur”

“Kalau begitu itu sepeda siapa? Bukan nemu kan?”

“Ini diberi nak Fajar.”

“Diberi?”

“Iya Bu. Mungkin dia melihat aku datang dengan berjalan kaki, lalu dia menawarkan sepedanya yang sudah lama tidak dipakai. Tadinya ini kusam, berdebu karena tidak pernah dipakai, tapi tadi aku disuruh membersihkan dan mencoba, ternyata masih bagus. Hanya bannya gembos, Sudah aku pompa, bukannya bocor, hanya gembos.”

“Kelihatannya sepeda bagus, masih mengkilap ya Pak.”

“Iya, kelihatannya sepeda mahal. Bersyukur lagi lah kita. Entah ini diberikan atau dipinjamkan, yang jelas aku berangkat bekerja lebih enteng, tidak berjalan kaki lagi.”

“Ya sudah, Bapak mandi dulu, terus makan.”

“Dibawain makan lagi sama bu Saptari?”

“Iya, bagaimana menolaknya, sebelum aku pulang sudah disiapkan.”

“Alhamdulilah untuk semua keberuntungan kita ya Bu. Seandainya dulu kita bisa makan cukup, mana mungkin kita akan berpisah dengan anak-anak kita.”

“Ya sudah, Bapak mandi sana dulu, nanti kita bicara lagi. Bapak jangan lagi memancing rasa sedih kita. Oh ya,  ada yang ingin aku ceritakan pada Bapak.”

“Apa itu?”

“Mandi saja dulu, nanti kebanyakan omong terus lupa mandi. Mumpung kamar mandinya kosong tuh, jadi tidak usah menunggu penyewa yang lain yang juga ingin mandi.”

***

Sejak kepulangan nenek Suli dari rumah sakit, Sarah belum mulai berjualan koran lagi. Ia ingin menunggu sang nenek dan melihat sampai neneknya benar-benar sehat kembali.

“Sarah, kamu belanja pakai uang apa? Tabungan Nenek masih utuh, ambil saja.”

“Nanti saja kalau kurang Nek, Sarah masih punya. Bukankah Sarah juga menabung? Lagipula tetangga kiri kanan selalu memberi kita makanan, sehingga kita tidak kekurangan.”

“Sebenarnya Nenek sungkan, mereka semua baik-baik pada Nenek.”

“Itu karena Nenek juga baik pada mereka, sering membantu mereka. Ya kan?”

“Nenek ingin segera bisa bekerja kembali seperti dulu.”

“Jangan dulu Nek, bukankah dokter menyuruh Nenek agar benar-benar istirahat sampai pulih? Dua hari lagi Nenek juga harus kontrol ke rumah sakit kan?”

“Nanti Nenek berangkat sendiri saja,  kamu tidak perlu bolos sekolah lagi.”

“Nanti gampang, Sarah akan pikirkan sebaik-baiknya. Nenek tidak usah memikirkannya.”

“Nenek ini selalu menjadi beban buat kamu.”

“Nenek kok ngomong begitu lagi? Aku inilah yang selalu menjadi beban bagi Nenek.”

“Tapi Sarah, kamu masih sangat muda.”

“Sudah, Nenek tidak usah bicara lagi. Sekarang Sarah mau beli gula di warung sebentar, persediaan gula sudah habis.”

“Pakai uang Nenek.”

“Ini masih ada, nanti kalau habis Sarah minta pada Nenek," kata Sarah sambil berlalu.

Nenek Suli duduk termenung, sambil menatap punggung Sarah yang berjalan menjauh.

“Sarah masih sangat muda. Boleh dikatakan masih bocah, seharusnya dia belum bisa memikirkan hal-hal berat seperti sekarang ini. Dia masih sekolah, masih mencari uang dengan berjualan koran, lalu sekarang dia terbebani dengan kebaikan orang yang telah membiayai ketika akub sakit.”

Nenek Suli mengusap air matanya.

“Assalamu alaikum …”

Tiba-tiba terdengar orang mengucapkan salam di luar sana.

“Wa’alaikumussalam,” jawab nenek Suli.

Ia bangkit perlahan, dan tertatih berjalan ke arah depan.

“Selamat sore Nek.”

Nenek Suli terbelalak, wajahnya muram seketika.

“Kamu?”

***

Besok lagi ya.

17 comments:

  1. Alhamdulillah.....
    Yessss, DCDAM_34 sdh tayang.
    Matur nuwun Dhe dalam SEROJA

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 34 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin1

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, telah tayang.
    Sehat selalu bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  6. Alhandulillah.... Maturnuwun bu Tien cerbung DARAH, CINTA DAN AIRMATA 34. Semoga bu Tien sehat wal'afiat bersama keluarga yg tercinta. Slalu dalam Lindungan Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~34 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah, maturnuwun cerbung kesayangan sampun tayang... semoga ibu Tien sll sehat bahagia dan penuh berkah . Salam hormat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah sdh tayang, terimakasih bunda Tien. Salam sehat selalu dan selamat beristirahat...

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Toen
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  12. Al, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™❤️

    ReplyDelete
  13. Al, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™❤️

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah cerbung DC & AM sudah tayang.
    Terima kasih bunda
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🀲🀲

    ReplyDelete
  15. πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_34
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 34

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  34 (Tien Kumalasari)   Apa yang terjadi pada anak-anak muda itu? Status, derajat, pangkat bukan penghalang? “Lho...