Friday, October 16, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 33

 DARAH CINTA  DAN AIR MATA  33

(Tien Kumalasari)

 

Fajar tersenyum melihat ulah pak Karimun yang menatapnya tajam.

“Mengapa Bapak menatap saya seperti itu?”

“Pak Fajar ….”

“Tunggu. Jangan memanggil saya dengan pak dong, Fajar, begitu saja.”

“Ya nggak bisa … sungkan aku sama pak Pranoto dan bu Pranoto, dikira tidak menghargai putranya.”

“Kalau Nak, bagaimana? Nanti saya dikira sudah bapak-bapak lho,” canda Fajar, membuat pak Karimun tersenyum.

“Baiklah, Nak.”

“Bapak belum menjawab pertanyaan saya. Mengapa Bapak menatap saya seperti itu?”

“Nak, saya tak habis pikir, mengapa nak Fajar begitu baik kepada saya? Nak Fajar tahu saya butuh pekerjaan, lalu saya dikasih pekerjaan. Nak Fajar tahu saya datang dengan berjalan kaki, saya ditawarin sepeda. Bahkan sebelumnya sepeda motor yang tentu saja saya tidak bisa mengendarainya. Mengapa saya selalu mendapat perlakuan yang sangat baik?” tanya pak Karimun dengan mata berkaca-kaca.

Fajar tersenyum, lalu menepuk pundak pak Karimun.

 "Saya juga heran, mengapa hati saya selalu luluh setiap mengingat pak Karimun.”

“Padahal kita baru sekali bertemu sebelum saya datang kemari mengantarkan dompet.”

“Entahlah, jangan ditanya, karena saya juga tidak bisa menjawabnya. Mungkin hati kecil saya mengatakan bahwa pak Karimun orang baik.”

“Terima kasih Nak, sungguh saya harus berterima kasih karena nak Fajar selalu mengentaskan saya dalam kesulitan.”

“Sudah, jangan dipikirkan. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama kalau melihat pak Karimun dengan keadaan seperti dulu itu.”

Pak Karimun mengangguk, dan kembali menatap wajah ganteng yang baik hati itu.

“Benarkah kamu anakku?” bisik hatinya sambil mengusap setitik air matanya.

“Ya sudah, pak Karimun sudah tahu apa yang harus dilakukan kan? Simbok akan menyiapkan kamar untuk istirahat pak Karimun dibelakang, jadi saatnya istirahat ya istirahat, lalu makan dan minum juga pasti disediakan, jangan sungkan ya Pak.”

“Baiklah, Nak.”

“Saya mau berangkat dulu, lalu akan cepat pulang. Nanti kita lihat sepeda yang digudang, masih layak dipakai atau tidak ya Pak.”

“Terima kasih, Nak.” 

Kali ini suara pak Karimun terdengar sangat lirih, karena menahan gejolak batin yang susah ditahannya.

***

“Mbok, suruh pak Karimun istirahat, dari tadi tidak berhenti membersihkan kebun.”

“Iya Nyonya, rajin sekali pak Karimun, dari tadi saya suruh berhenti karena saya menyiapkan minum di ruang belakang, belum juga mau berhenti.”

“Sekarang suruh istirahat, saatnya makan juga kan? Kasihan dia.”

“Iya Nyonya, sudah saya siapkan. Akan saya panggil lagi dia.”

Simbok bergegas ke kebun, di mana pak Karimun masih sibuk menyiangi rumput diantara pohon-pohon bunga.

“Pak Karimun, istirahat dulu.”

“Iya Mbok, sebentar lagi, ini kurang sedikit.”

“Dilanjutkan nanti saja, setelah makan. Ini nyonya yang nyuruh lho, di kamar belakang dekat gudang, sudah saya siapkan makan dan minum. Bapak istirahat dulu, makan dulu, minum dulu. Udara sangat panas, harus banyak minum.”

“Iya, baiklah.”

Pak Karimun menyingkirkan alat-alat berkebun yang tadi dipergunakan dan masih berserak, dikumpulkannya di bawah pohon mangga yang rindang daunnya.

“Pak Karimun, istirahat dulu,” kali ini bu Pranoto yang berteriak dari teras rumah.

Pak Karimun berdiri dan mengangguk hormat.

“Baik, Nyonya.”

Pak Karimun berjalan ke belakang, mengikuti simbok yang sudah mendahuluinya.

“Ini Pak, saya taruh di meja, makanan dan minumnya. Nanti Bapak bisa berbaring di sini sebentar, jangan kerja terus, nanti kecapekan.”

Pak Karimun mengangguk, lalu berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dekat kamar itu, membasuh kaki tangan dan wajahnya, sekaligus berwudhu di pancuran. Bibik menatapnya kagum. Biar orang tak punya, tapi selalu ingat beribadah juga.

Simbok meninggalkannya setelah menambahkan seteko air putih dingin di samping makanannya.

Ketika masuk ke rumah, bu Pranoto yang rupanya juga memperhatikan, kembali bertanya pada simbok.

“Sudah dimakan dan sudah minum?”

“Baru mau shalat Nyonya, saya lihat dia mengambil wudhu di pancuran.”

“Ah, benar-benar orang baik."

***

Bimo terkejut, ketika ia sedang mengusung barang, seseorang memanggilnya.

“Mas Bimo!”

Bimo menoleh, dan melihat Mentari melangkah kearahnya. Bimo meletakkan bawaannya, dengan hati berdebar.

“Ada apa Non?”

“Panggil saya Mentari.”

“Nggak mau, nanti saya ditegur pak Pranoto, atau bahkan dipecat, bagaimana? Masa memanggil anak juragan hanya dengan namanya begitu saja.”

Mentari tertawa, memperlihatkan deretan gigi putih yang menambah manis wajahnya.

“Kan aku yang menyuruh.”

“Nggak mau. Sekarang katakan ada apa, saya harus segera membawa barang ini ke mobil.”

“Ini, aku bawakan makan siang.”

“Waduh, saya sudah makan Non, waktu istirahat sudah lewat.”

“Ini tadi bekal aku ke sekolah, tidak aku makan, karena diajak makan bakso sama teman-teman aku.”

“Tapi ….”

“Tidak ada tetapi, pokoknya harus diterima. Nih,” kata Mentari sambil memaksa Bimo untuk menerima bungkusan yang dibawanya.

“Tapi saya harus membawa ini dulu.”

“Taruh di meja kerja kamu dulu, barangnya ini biar aku tungguin di sini.”

Bimo terpaksa menuruti kemauan Mentari. Ia membawa bungkusan yang diberikan, kemudian meletakkannya di meja kerjanya.

Ketika Bimo keluar, Mentari masih berdiri di tempat semula.

“Sudah?”

“Sudah, sekarang saya mau membawa ini dulu ya Non.”

“Baiklah, aku mau ke kantor bapak dulu,” kata Mentari sambil membalikkan tubuhnya, dan bergegas menuju ruang kantor sang ayah.

Ia langsung nyelonong masuk begitu selesai mengetuk pintu.

“Kamu? Ada apa kamu kemari? Jangan bilang sepeda motor kamu gembos, lalu kamu tinggal di bengkel lagi.”

“Tidak Pak, tadi Mentari naik taksi.”

“Mengapa naik taksi?”

“Udara sangat panas Pak.”

“Mengapa tidak bareng kakak kamu saja?”

“Mas Fajar berangkatnya agak siang, kelamaan menunggu dia, bisa-bisa Mentari terlambat.”

“Lalu kamu kemari mau pulang bareng bapak? Masih lama bapak pulangnya.”

“Diantar sopir dong. Tapi nanti-nanti saja.”

“Ngapain kamu di sini?”

“Istirahat sebentar di sini Pak, masa nggak boleh?”

Pak Pranoto melanjutkan pekerjaannya, membiarkan Mentari duduk di sofa sambil mengutak atik ponselnya.

“Tumben-tumbenan kamu suka sekali mampir ke kantor bapak.”

Mentari tak menjawab. Ia juga tak tahu, mengapa ia suka mampir ke kantor ayahnya. Pasti tidak sekedar minta diantar dengan mobil sang ayah. Ada sesuatukah?

***

Bu Karimun sedang menyiapkan makan untuk Bimo, dan siap mempersilakan segera menyantap makanannya, ketika Bimo mengeluarkan sebuah kotak makanan.

“Saya membawa makanan juga Bu, ini.”

“Lho, ini makanan dari mana? Tadi bekalnya hanya dibungkus kan? Bukan dengan wadah kotak?”

“Ini dari seseorang Bu, coba lihat isinya apa.”

Bu Karimun membantu membuka kotaknya.

“Wah, enak sekali Nak, rendang daging lauknya. Dari mana ini?”

“Dikasih seseorang.”

“Tidak biasanya ada yang ngasih makanan.”

“Nggak tahu kenapa tuh, tiba-tiba saya diberi ini.”

“Teman kerja?”

“Bukan.”

“Pacar?”

Bimo tertawa. Seandainya si pemberi itu adalah pacarnya, pasti dia senang sekali. Mimpi saja Bimo, siapa kamu dan siapa dia?

“Kalau sudah punya pacar, bu Karimun dikasih tahu ya Nak. Pasti dia cantik. Kapan diajak ke rumah?”

Bimo tertawa. Bu Karimun seperti ibunya saja.

“Bukan pacar Bu, dia anak direktur perusahaan.”

“Wah, anak direktur? Dia cantik? Baik banget dia sama nak Bimo. Jangan-jangan dia suka sama nak Bimo.”

Bimo kembali tertawa. Ia duduk dan menatap nasi rendang yang sudah dipindahkan bu Karimun ke dalam piring. Dan dalam rendang itu bayangan Mentari melintas.

***

Besok lagi ya.

14 comments:

  1. Alhamdulillah episode 33 sdh hadir.
    Tur nuwun, Dhe.

    ReplyDelete
  2. Maturnuwun bu Tien , cerbung kesayangan sampun tayang...
    Salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 33 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin1

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~33 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, telah tayang.
    Sehat selalu bunda....aamiin.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah
    Matur nuwun Bunda. Semoga sehat slalu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah cerbung DC & AM sudah tayang
    Terima kasih bunda,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat dan bahagia 🤲🤲

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah
    Terima kasih binda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Sallam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  11. 🌷🌿🌷🌿🌷🌿🌷🌿
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung DeCeDeAaeM_33
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🌷🌿🌷🌿🌷🌿🌷🌿

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 33

  DARAH CINTA  DAN AIR MATA  33 (Tien Kumalasari)   Fajar tersenyum melihat ulah pak Karimun yang menatapnya tajam. “Mengapa Bapak menatap s...