DARAH CINTA DAN AIR MATA 29
(Tien Kumalasari)
Dokter Harun menyimpulkan senyum yang seperti menyembunyikan sesuatu. Ia mengerdipkan sebelah matanya. Sarah ingin membantah, saat dia tahu bahwa yang dimaksud sopir adalah Bowo. Tapi ia sangat sungkan. Dokter Harun memberi perhatian istimewa kepada neneknya, bahkan mengunjungi ruangannya saat sang nenek sudah siap untuk pulang.
“Silakan, sopir sudah menunggu,” kata dokter Harun lagi.
“Ayo Sarah, menunggu apa lagi? Apa uangnya tidak cukup? Uang Nenek masih belum berkurang, entah apa yang kamu lakukan, ambil saja kalau kurang.”
“Tidak Nek, tidak kurang. Baiklah, ayo.”
Sarah menenteng tas besar berisi perabotan yang dipergunakan selama sang nenek berada di rumah sakit, sebelah tangannya menggandeng lengan nenek. Tapi nenek Suli mengibaskan tangannya pelan.
“Aku jalan sendiri saja, supaya pak dokter tidak mengira kalau aku masih sakit," kata nenek Suli ‘sombong’ membuat dokter Harun tersenyum.
“Tapi ingat ya Nek, Nenek tidak boleh bekerja terlalu keras, dan jangan banyak pikiran, supaya sakitnya tidak kambuh lagi,” kata dokter Harun sambil menatap nenek Suli serius.
“Iya, pak Dokter. Terima kasih banyak sudah merawat Nenek yang miskin ini. Sudah menyuruh sopir mengantarkan Nenek pulang.”
“Silakan Nek, sopir sudah menunggu,” ulangnya.
Sarah menghela napas. Diam-diam dia berdoa agar neneknya tidak mengajak ‘pak sopir’ berbincag, agar tak ketahuan siapa sebenarnya dia.
Mereka melangkah keluar, dan dokter Harun terus mengiringinya, sampai keduanya masuk ke dalam mobil.
***
“Alangkah baiknya pak dokter ya Sar, mau mengantarkan sampai kita masuk ke dalam mobil, masih meminjamkan mobil pula beserta sopirnya," kata nenek Suli ketika dalam perjalanan pulang.
“Iya Nek, memang beliau sangat baik.”
“Nak sopir, sudah lama ikut pak dokter Harun?”
Sarah terkejut. Mengapa neneknya mengajak bicara pak sopir.
Bowo terbatuk-batuk.
“Nek, sopir sedang serius mengendarai mobil, jangan diajak bicara,” tegur Sarah.
“Aku kan hanya bertanya saja, masa tidak boleh?”
“Orang kalau sedang menyetir, tidak boleh diajak bicara. Nanti konsentrasinya terpecah, padahal jalanan sedang ramai.”
“Tidak boleh ya?”
“Tidak boleh Nek.”
“Iya, aku jadi ingat. Waktu Nenek masih muda, lalu bepergian naik bis dengan ibumu, ibu kamu selalu mengingatkan, bahwa dilarang bicara dengan sopir, itu ada tulisannya, gitu kata ibumu.”
Sarah tersenyum, dan Bowo menahan tawa.
“Iya. Itu benar.”
“Apa di mobil ini ada tulisannya begitu?”
“Ya tidak Nek.”
“Kata ibumu, di bis itu selalu ada tulisannya begitu lhoh.”
“Bis itu kan kendaraan umum. Ini kendaraan pribadi, tidak perlu ada tulisannya.”
“Nanti saja, Nenek mau bicara sama sopirnya.”
“Nek, pak dokter tadi bilang bahwa sopirnya harus segera kembali ke rumah sakit. Ada tugas menunggu.”
“Susah amat. Besok-besok kalau kamu punya suami, jangan mencari suami yang jadi sopir. Nanti kamu takut bicara sama dia," canda sang nenek.
“Nenek ada-ada saja. Tidak boleh bicara itu kalau sedang menyetir.”
Nenek terdiam, lalu dilihatnya Sarah menyandarkan kepalanya di jok, dan memejamkan matanya.
“Kamu ngantuk ya?”
Sarah mengangguk, tapi sebenarnya dia sedang menghindari sang nenek bicara banyak, apalagi tentang ‘sopir pribadi’ dokter Harun.
Bahkan ketika mobil itu sudah sampai, Sarah yang kemudian membantu neneknya turun, segera mengajaknya masuk untuk menghindari sang nenek bicara dengan sopirnya.
***
Sarah bernapas lega ketika Bowo sudah pergi dengan membawa mobilnya.
“Sebenarnya ada baiknya tadi kamu buatkan minum dulu pada sopir pak dokter tadi, kasihan sudah mengantar Nenek sampai ke rumah.”
“Tadi kan Sarah sudah bilang, kalau pak dokter minta agar sopirnya segera kembali ke rumah sakit. Sekarang Nenek istirahat dulu, kamarnya sudah Sarah bersihkan kemarin.”
“Sarah, Nenek ingin bertanya, sesungguhnya siapa yang membayar biaya nenek ketika dirawat. Pasti mahal karena nenek tidur di kamar yang bagus.”
“Semua kamar rawat itu bagus Nek. Beda dengan kamar kita ini.”
“Tapi bayarnya mahal kan? Kamu dapat dari mana duitnya?”
“Banyak yang membantu kita selama Nenek dirawat. Salah satunya adalah mas Fajar yang berkali-kali menengok Nenek.”
“Oh, dia yang wajahnya seperti Bimo itu ya?”
“Iya Nek, banyak yang bilang begitu.”
“Kok dia baik banget, pasti banyak uang yang dikeluarkannya. Memangnya kita ini siapa?”
“Banyak orang berbuat baik, selama kita juga melakukan hal baik. Sekarang Nenek istirahat, jangan banyak pikiran.”
“Nenek kan hanya bertanya tentang uang.”
“Dan itu akan membebani Nenek kan? Semuanya sudah selesai. Nanti kalau Sarah sudah bekerja, Sarah akan mengganti semua yang sudah mereka lakukan.”
“Sarah, anak baik. Kamu masih bocah, tapi sudah banyak beban.”
“Kata siapa Sarah banyak beban? Sudahlah Nek, Nenek harus istirahat. Kata dokter Nenek kan tidak boleh banyak pikiran?”
“Baiklah, Nenek juga masih merasa mengantuk, tapi Nenek mau ke kamar mandi dulu. Tidak usah diantar, Nenek bisa sendiri. Nenek sudah sembuh,” kata nenek Suli.
Sarah mengangguk. Ia tidak merasa terbebani, karena antara dirinya dan sang nenek hidup bersama dan segala susah senang akan mereka pikul bersama.
***
“Mengapa tiba-tiba kamu mendukung keinginan Bowo yang tidak pantas itu, Harun? Kamu kan tahu pemikiran dia itu sama sekali tidak disertai pemikiran matang?” kata bu Lurah kesal ketika dokter Harun mencoba membicarakan tentang perasaan Bowo kepada Sarah.
“Mbak kan tahu, bagaimana rasanya jatuh cinta?”
“Terus kenapa? Cinta itu boleh saja, tapi ya kira-kira dong, siapa yang kita cintai, pantas tidak, sejajar dengan kita tidak, kan gitu? Tapi Bowo itu masih bocah, hanya memikirkan kesenangan, tidak memikirkan pantas atau tidaknya.”
“Bowo itu sudah dewasa Mbak, bukan anak kecil lagi.”
“Bukan orangnya, tapi cara dia berpikir yang tidak dewasa. Sudah, kamu jangan ikut-ikutan, biar bagaimanapun aku tidak akan pernah mengijinkan Bowo mendekati keluarga miskin itu.”
“Apakah kaya dan miskin itu perlu dipergunakan untuk pertimbangan?”
“Tentu saja sangat perlu. Mau ditaruh di mana muka kita kalau aku harus berbesan dengan nenek tua itu? Dengar ya, dulu aku tuh pernah mengalah karena Bowo terus merengek-rengek, aku temui nenek Suli, aku bicara baik-baik bahwa Bowo suka sama Sarah. Tapi kamu tahu tidak, dia tidak mau menerimanya. Itu kan namanya menghina aku sebagai orang tua Bowo? Dan karena merasa terhina itu sekarang aku tidak sudi walau Bowo menangis-nangis.”
Dan dokter Harun merasa upayanya menemui jalan buntu.
***
Pagi hari itu Sarah sudah membuatkan bubur dan sayur untuk sang nenek. Ia sudah memakai seragam sekolah dan siap berangkat ke sekolah.
“Nek, makan dulu lalu minum obatnya ya.”
“Kamu itu mau sekolah mengapa memikirkan nenek? Biar Nenek masak sendiri, apa kamu kira nenek tidak bisa?”
"Jangan begitu Nek, selama Nenek masih harus istirahat seperti saran dokter, Sarah akan melayani Nenek. Hanya membuat sayur bening dan membuat bubur, masa Sarah tidak bisa? Dan sekarang Nenek harus makan karena minum obatnya harus setelah makan.”
“Sarah, kamu kan harus sekolah? Siapkan saja semuanya, nanti Nenek makan sendiri dan minum obatnya sendiri.”
“Masih ada waktu sebelum berangkat Nek, ini masih pagi. Sarah bawa makanannya ke kamar?”
“Jangan, biar saja di ruang makan, nanti nenek ambil sendiri.”
“Kali ini Sarah harus menunggui Nenek makan, dan minum obatnya, nanti kalau sudah terbiasa, Nenek bisa makan dan minum obatnya sendiri.”
Nenek Suli menurut, karena berharap Sarah bisa segera berangkat sekolah.
***
Sarah merasa lega setelah ia juga menyiapkan makan siang untuk sang nenek. Ia melangkah keluar rumah dengan seribu satu pesan untuk sang nenek tentang makan dan minum obatnya.
Ia sudah sampai di jalan besar, dan bergegas menuju sekolah. Tapi ia terkejut, tiba-tiba dua mobil dengan arah berlawanan berhenti tepat di sampingnya. Ia tahu, itu mobil Fajar, dan yang satu lagi adalah mobil Bowo.
Sarah bingung ketika keduanya keluar dari mobil mereka.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda yg ke 28 udah tayang. Semoga bunda dan keluarga sehat wakafiat
Maaf yg ke 29 udah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~29 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulilah, cerbung kesayangan sampun tayang.. maturnuwun bu Tien.. doaku semoga bu Tien sll sehat walafiat, penuh berkah dan bahagia ... salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien π
ReplyDeleteSugeng dalu.
πͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄π
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung DeCeDeAaeM_29
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
πͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄π
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteterima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
salam aduhai hai hai
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah terima kasih bunda,cerbung DC& AM sudah tayang .
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga selalu sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta π€²π€²
Maturnuwun mb Tienπ
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien
Semoga Ibu Tien sekeluarga sehat selalu
Cinta segi 4. Rumit. Entah siapa nanti. Bowo sudah jadi baik. Fajar jelas baik. Bimo jelas baik dan sederajat. Tapi hati Sarah cuma ke Fajar ya bu?
ReplyDeleteAlhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 29 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
ReplyDeletebersama keluarga tercinta . Aamiin1
Alhamdulillah,cerbung DCAM ke 29 telah tayang, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta π❤️π
ReplyDelete