Thursday, October 8, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 26

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  26

(Tien Kumalasari)

 

Pak tua itu adalah pak Karimun, dan istrinya. Beberapa hari yang lalu mereka berbincang tentang salah seorang kerabatnya yang hidup sendirian. Terpikir oleh mereka untuk mengunjunginya, dan kalau mungkin minta agar diijinkan tinggal bersamanya, sekaligus menemani di hari tua. Hal itu terpikirkan setelah berpuluh tahun menderita, dan kali itu mereka datang untuk mencarinya. Dalam keadaan lelah dan letih, pak Karimun mendapat kabar bahwa orang yang dicarinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan rumah peninggalanya sudah dijual oleh kerabat yang lain. Pak Karimun melihat bentuk rumahnya saja sudah jauh berbeda, menjadi rumah cantik yang dihuni oleh orang kaya.

Pak Karimun kembali menemui istrinya yang ditinggalkan di pinggir jalan karena kelelahan.

Dan mereka menganggapnya sebuah keajaiban ketika tiba-tiba ada orang yang meninggalkan keranjang berisi makanan yang bisa mereka santap karena mereka memang kelaparan.

“Aku heran. Siapa ya orang itu?” gumam bu Karimun pelan, sambil mengunyah roti yang dicomotnya sekali lagi.

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Aku seperti pernah melihat orang tadi.”

“Orang yang meninggalkan keranjang berisi makanan ini?”

“Iya.”

“Kita pernah pergi kemana-mana dan bertemu dengan banyak orang. Mungkin saja kamu memang pernah bertemu. Mengapa kamu memikirkannya?”

“Entahlah, mengapa juga aku memikirkannya? Ini terasa aneh.”

“Karena kamu kelaparan jadi pikiranmu melayang ke mana-mana dan berkhayal yang tidak-tidak.”

“Mungkin juga Pak.”

“Aku pikir, sekarang kita mau ke mana?”

“Kalau pulang, terlalu jauh.”

“Lalu kita akan menginap di mana. Hari hampir sore. Sebentar lagi gelap.”

“Apa boleh buat, kita cari tempat yang bisa untuk meletakkan tubuh lelah ini.”

“Kamu tidak lelah kalau kita berjalan lagi?”

“Sudah terobati, ayo kita jalan.”

***

“Kamu sudah pulang Bim?”

“Baru saja Bu, ini kan sudah sore? Ibu jadi pergi ke rumah nenek Suli?”

“Sudah. Rumahnya kosong. Kata tetangganya, nenek Suli dirawat di rumah sakit.”

“Dirawat? Dan itu sebabnya mengapa berhari-hari Sarah tidak jualan koran. Pasti menunggui neneknya di rumah sakit.”

“Pastinya begitu. Kamu datanglah menjenguknya. Besok kan hari Minggu?”

“Ibu juga?”

“Ibu kan jualan dulu, nanti setelah kamu pulang, Ibu  mau ke sana. Tadi sebenarnya Ibu sudah beli makanan dan buah-buahan untuk nenek Suli.”

“Kalau begitu biar besok Bimo bawa saja, jadi tidak usah beli oleh-oleh lagi.”

“Makanan dan buah itu sudah Ibu berikan kepada orang.”

“Ibu berikan? Kepada siapa?”

“Ketika Ibu sedang menunggu angkutan kota lewat, ibu melihat seorang perempuan duduk di bawah pohon besar. Ketika melewatinya, tiba-tiba perempuan itu pingsan. Eh bukan pingsan, tiba-tiba dia terguling roboh. Tampaknya dia lemas, mungkin karena haus dan lapar. Ibu membantunya duduk kembali dan memberinya minum.”

“Lalu Ibu berikan makanan itu?”

“Sekeranjang penuh ibu tinggalkan. Kasihan sekali dia.”

“Tidak apa-apa Bu, menolong itu kan perbuatan mulia.”

“Yang ibu heran, sepertinya ibu pernah bertemu perempuan itu.”

”Namanya di dunia, kan kita sering bertemu orang kan Bu, jadi tidak aneh kalau merasa pernah bertemu.”

“Iya juga sih.”

“Oh iya, sebenarnya tadi Bimo bertemu dengan teman sekelas Sarah. Kok dia tidak cerita tentang Sarah ya?”

“Bagaimana kamu bisa bertemu dengan teman Sarah?”

“Teman Sarah yang bernama Mentari itu putrinya pak Pranoto.”

“Pak Pranoto pimpinan kamu itu”

“Pemilik perusahaan itu. Nah, dia tuh teman sekelasnya Sarah. Kok tidak cerita ya.”

“Harusnya kamu bertanya pada dia.”

“Kenapa tidak kepikiran untuk menanyakam Sarah ya.”

Tapi di dalam hati Bimo merasa, bahwa dia tidak berpikir sejauh itu, karena sedang terpesona melihat kecantikannya.

“Iya juga sih. Ya sudah,  ibu mau menata belanjaan dulu lalu mandi. Udara panas sekali. Kamu mandinya belakangan saja ya?”

***

Hari sudah sore. Suara  adzan maghrib membuat pak Karimun mengajak istrinya berhenti di sebuah mushala terdekat. Mereka meletakkan barang bawaannya, sebuah keresek berisi baju-baju ganti mereka, dan keranjang yang masih berisi makanan dan buah pemberian seseorang pada siang harinya.

Mereka ikut berbaur dengan orang-orang yang melakukan ibadah di saat maghrib. Berdoa memuja Sang Junjungan dan memohon pertolongan dari segala kesulitannya.  Dan nyatanya kemudian perasaan mereka lebih ringan, dan segala sengsara tidak lagi membebani pikiran.

Keduanya duduk di pelataran masjid, memakan apa yang masih bisa dimakan, sekedar mengganjal perut mereka.

Mereka harus berhemat, esuk hari masih akan ada perjalanan yang entah kemana dan sampai kapan kakinya terus melangkah.

“Apa yang sebenarnya kita cari Pak?”

“Apa lebih baik kita pulang saja ke gubug lama kita, karena harapan untuk mendapatkan naungan yang lebih pantas ternyata tidak kesampaian.”

“Baiklah, apa boleh malam ini kita tidur di emperan mushala ini?”

“Asalkan tidak membuat kotor, barangkali tidak apa-apa. Besok pagi setelah subuh kita pulang.”

“Tapi kita pulang akan naik apa? Kita sudah tidak punya lagi uang yang cukup.”

“Nanti aku akan mencari kerja semampuku. Pokoknya kita istirahat dulu, percayalah bahwa Allah akan memberikan jalan terang bagi kita, asalkan kita jangan mengemis. Bekerja dan mendapat uang, itu lebih mulia.”

***

“Ayo mas, cepetan,” teriak Mentari karena merasa Fajar terlalu lama.

“Sebentar, baru mencari kunci mobil nih. Di mana ya?”

Mentari kembali masuk dan menemukan kunci mobil Fajar terjatuh di lantai.

“Nih, dasar teledor.”

“Dimana ini tadi?"

 "Di lantai, jatuh.”

“Oh, ya ampuun.”

“Mau ke mana sih ini?” tanya sang ayah.

“Mau bezoek Pak,” jawab Mentari.

“ Bezoek orang sakit?”

“Iya.”

“Siapa yang sakit?”

“Neneknya teman Mentari. Dia teman baik Mentari, namanya Sarah.”

“Fajar juga kenal teman kamu itu?”

“Kenal dong Pa, mas Fajar suka sama dia,” kata Mentari seenaknya.

“Tari!!” hardik sang kakak dengan wajah kesal.

Mentari terkekeh.

“Jadi Fajar suka sama teman kamu itu?”

“Jangan dengarkan omongan Mentari Pak, dia itu kan suka ngomong sembarangan. Ya sudah Pak, kami berangkat dulu,” kata Fajar sambil mencium tangan sang ayah, Mentari mengikutinya.

“Sudah pamit sama ibumu?”

“Sudah Pak,” kata Fajar yang langsung menarik tangan adiknya, khawatir Mentari masih mengoceh tentang sesuatu yang belum tentu disukai orang tuanya.

“Iiih, mas Fajar, sakit lengan aku.”

Tapi Fajar tak mengacuhkannya. Ia segera membuka pintu mobil dan mendorong Mentari masuk.

“Mas Fajar tuh, sakit, tahu!” keluh Mentari ketika Fajar sudah menjalankan mobilnya.

“Kamu sih, bicara sembarangan. Kalau bapak nggak suka, bagaimana?”

“Sarah kan cantik, bapak pasti suka. Mas Fajar serius?” tanya Mentari penuh selidik.

“Dia gadis yang baik bukan?”

“Sangat baik. Dia teman sekelasku yang sangat pintar.”

Fajar hanya mengangguk. Tapi ia teringat pada perkataan sang ibu yang tampaknya berpegang pada status dan derajat, dan itu membuatnya kecut.

”Ibu tidak suka.”

“Mas pernah bilang pada ibu kalau Mas suka pada Sarah?”

“Tidak sepenuhnya bilang, tapi ibu mengedepankan status yang sama seandainya kita menyukai seseorang.”

“Oo gitu yah?”

***

Mereka tiba di rumah sakit yang dituju, tanpa mencari karena Fajar sudah tahu di mana nenek Suli dirawat.

Ketika Fajar  menunjukkan di mana kamar nenek Suli, Mentari langsung nyelonong menuju pintu, dan siap membukanya. Tapi tiba-tiba di depan pintu sudah berdiri seseorang, yang membuat Mentari berteriak.

“Bimo?”

Dan di belakang Bimo berdiri Sarah yang melihat Fajar dengan wajah berseri.

Ada rasa bercampur aduk diantara mereka. Rasa yang membingungkan, tapi membuat mereka merasa aneh.

***

Besok lagi ya.

28 comments:

  1. πŸ„πŸͺΊπŸ„πŸͺΊπŸ„πŸͺΊπŸ„πŸͺΊ
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_26
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    πŸ„πŸͺΊπŸ„πŸͺΊπŸ„πŸͺΊπŸ„πŸͺΊ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan jeng Sari

      Delete
  2. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga... Aamiin ya Robbal Alamin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan bapak Endang

      Delete
  3. Trmksh mb Tien, smg sht sllπŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan Yangtie

      Delete
  4. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~26 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan pak Djodhi

      Delete
  5. Alhamdulillah DeCeDeAaeM_26 sdh tayang....
    Terima kasih mBak Tien, salam SEROJA, semoga mBak Tien sehat selalu dan selalu sehat. Aamiin Yaa Mujibassailiin πŸ€²πŸ™πŸ’—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan mas Kakek

      Delete
  6. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan pak Latief

      Delete
  7. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan ibu Endah.

      Delete
  8. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien... in Syaa Alloh selalu sehat ..ketemu di JF 7 Semarang awal Desember yang akan datang Aamiin❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan ibu Susi. Seneng banget bisa ketemu.. ❤️

      Delete
  9. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 26 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan ibu Uchu

      Delete
  10. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sampun tayang... doaku semoga bu Tien sekeluarga sll sehat walafiat dan penuh berkah ..salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan ibu Sri

      Delete
  11. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 26 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik kagem panjenengan pak Herry

      Delete
  12. Alhamdulillah,tambah seru nih critanya, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™❤️πŸ™

    ReplyDelete
  13. Matur nuwun Bunda Tien..srmoga sehat selalu ...barokalloh

    ReplyDelete
  14. Maturnuwun Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan selalu dlm lindungan Allah SWT aamiin

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 27

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  27 (Tien Kumalasari)   Sejenak saling pandang antara satu dan lainnya, kemudian terdengar Sarah menyambut dengan...