DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01
(Tien Kumalasari)
Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalang baik mobil maupun sepeda motor sangat membuat bising. Tapi seorang gadis dengan rambut tertutup hijab, membelah keramaian itu di sebuah traviclight, sambil menggendong tumpukan koran. Ia mengacungkan selembar koran sambil menawarkannya ke setiap pengendara.
“Koran Mas … korannya Bapak, berita hangat hari ini … ada demo besar-besaran di depan balai kota, korannya … Bapak … koran baru … koran baru …”
Sebuah kaca jendela mobil terbuka, mengulurkan selembar uang duapuluhan ribu. Gadis itu menyerahkan korannya, lalu merogoh saku bajunya untuk mengambil uang kembalian. Tapi mobil itu bergerak maju.
“Sebentar Mas, sebentar … kembaliannya,” teriaknya sambil berlari mengejar.
“Ambil saja, nggak usah kembalikan,” pengemudi muda itu juga berteriak.
Sarah, gadis itu berhenti, menoleh kekiri dan ke kanan, menunggu sela karena kendaraan sudah bergerak setelah lampu hijau menyala.
Ia melambaikan tangan, meminta jalan, tapi seorang pengendara motor menyerempetnya.
Sarah terpelanting. Sebuah mobil hampir melindasnya, tapi seorang laki-laki muda membantunya berdiri, sambil menyetop kendaraan yang masih padat setelah berhenti di persimpangan.
Laki-laki itu memungut koran yang berserakan, memeluknya, lalu menarik tangan Sarah sambil meminta agar kendaraan yang lewat memberi mereka jalan.
Mereka sudah sampai di tepi. Laki-laki itu mengajak Sarah duduk di bawah pohon, untuk menanyakan apakah ada yang luka. Tapi sambil tersenyum manis, Sarah menggeleng.
“Benar, tidak ada yang luka. Di situ ada apotik, aku akan membelikan kamu obat.”
“Tidak. Aku benar-benar tidak apa-apa. Terima kasih sudah menyelamatkan aku.”
“Jangan pikirkan. Aku terkejut ketika melihat kamu terjatuh dan hampir terlindas mobil.”
“Aku berhutang nyawa pada Mas.”
Laki-laki itu tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya meninggalkan Sarah yang duduk sambil mengelus lututnya. Siapa bilang tidak sakit, lututnya mencium aspal yang keras, tapi ia tak ingin mengeluh dihadapan orang yang baru dikenalnya. Tapi diam-diam Sarah heran, laki-laki yang baru saja menolongnya ini, mengapa wajahnya mirip sekali dengan laki-laki yang membeli korannya dan memberikan uang duapuluh ribu tanpa meminta kembalian?
“Masa iya sih mirip, tapi mirip kok, sungguh mirip,” gumamnya pelan.
“Siapa yang mirip?” tiba-tiba laki-laki tadi datang sambil membawa dua botol minuman dingin. Lalu yang satu diulurkannya kepada Sarah.
“Minumlah, hari ini panas sekali,” katanya lembut.
Sarah tersenyum, dan laki-laki itu terpana melihat lesung pipit di pipinya. Sumpah gadis ini sesungguhnya sangat cantik. Wajahnya putih walau dia berpanas-panas, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan manis sekali kalau tersenyum, apalagi ditambah lesung pipit di kiri kanannya.
“Terima kasih Mas, mengapa Mas menatap aku seperti itu?” tanya Sarah sambil berusaha membuka tutup botol minuman.
Agak susah sih, tapi laki-laki itu meminta botolnya dan dengan sekali putar, botol itu terbuka, lalu mengulurkannya kembali kepada gadis di sampingnya.
“Terima kasih,” jawabnya, lalu menenggak minumannya sampai setengah botol.
“Haus ya?”
“Lumayan.”
“Kita belum berkenalan, namaku Bima.”
“Aku Sarah.”
“Rumahmu di mana?”
“Agak jauh, di dekat pasar.”
Tiba-tiba seorang pejalan kaki berhenti di dekat mereka. Ia melihat koran bertumpuk di samping Sarah.
“Jual koran ya?”
“Iya, Pak.”
“Minta satu.”
Sarah memberikan selembar koran, dan menerima sepuluh ribu yang diulurkannya.
“Kembaliannya Pak,” kata Sarah ketika orang itu berlalu.
“Nggak usah, ambil saja.”
“Terima kasih Pak,” katanya riang.
“Hari ini banyak orang-orang baik. Banyak rejeki untuk Sarah,” gumamnya senang.
“Alhamdulillah, aku juga ikut senang,” sahut Bima.
“Ya sudah Mas, aku mau menjajakan koran lagi, masih sisa ini, barangkali masih ada yang mau,” kata Sarah sambil berdiri.
“Ini sudah sore, nanti kamu kemalaman.”
“Tidak apa-apa Mas, sudah biasa. Saya menjual koran sepulang sekolah, sampai sore.”
“Oh kamu masih sekolah?”
“Saya sekolah SMA Mas, sebisa mungkin saya cari uang sendiri, supaya tidak memberatkan nenek saya,” katanya sambil menjauh, menuju ke arah perempatan yang ketika itu kendaraan berhenti karena lampu merah.
Bima menatapnya kagum, tapi juga iba. Seorang gadis, mencari uang sendiri untuk beaya sekolah? Bukan main. Dan Bima tak beranjak dari tempatnya duduk, hanya saja dia berdiri terpaku, menatap Saras yang mengacung-acungkan korannya, dan ikut senang karena ada tiga orang yang membelinya, sebelum kemudian Sarah berlari ke tepi dengan hati-hati.
“Lhoh, kok Mas masih di sini?” tanyanya heran ketika melihat Bima masih berdiri di tempatnya semula.
“Rumahku di dekat situ, masuk gang. Aku sudah pulang kerja.”
“Mas kerja kantoran?”
“Ya, di kantor, tapi aku hanya OB.”
“Oh ya sudah … Mas pasti capek. Aku juga mau pulang. Korannya tinggal dua lembar, harus aku kembalikan ke agen, sekalian setoran. Ayuk Mas,” kata Sarah sambil melenggang pergi.
“Agennya di mana?”
“Itu setelah perempatan, ayuk Mas.”
Bima menatap punggung Sarah yang pergi menjauh. Rasa kagum itu masih ada, rasa iba juga ada.
Sambil melangkah pulang, Bima masih terbayang bagaimana ia tadi mengenal gadis yang sangat menarik baginya.
***
“Sarah, kamu sudah pulang?” suara seorang perempuan tua dari dalam, ketika mendengar Sarah membuka pintu rumah.
“Iya, Nek,” katanya sambil terus masuk ke dalam.
Ia langsung ke kamar mandi, setelah meletakkan dompet kecilnya di meja makan.
Nenek membuatkan minum untuk cucunya, segelas teh manis hangat, lalu meletakkannya di meja. Ia juga menyediakan makan untuk cucunya. Sepiring nasi dengan lauk tahu bacem dan pecel, dengan sayuran bayam, kacang panjang dan kecambah.
Ketika selesai mandi dan berganti pakaian rumah, Sarah mendekati neneknya yang duduk menunggu di meja makan.
“Kamu pasti capek. Maksud Nenek, kamu tidak perlu setiap hari jualan koran. Dua hari sekali, atau tiga hari sekali, gitu. Nanti kalau kamu kecapekan, kamu tidak bisa belajar. Kamu kan mau ujian?”
“Nggak apa-apa kok Nek, Nenek tenang saja, kalau capek, pasti Sarah akan beristirahat.”
“Bagaimana hari ini?”
“Lumayan, koran hampir habis, dan ada orang yang tidak mau diberi kembalian.”
“Kamu tidak memberikannya?”
“Sarah beri Nek, mereka yang tidak mau. Barangkali kasihan melihat perempuan kecil jualan koran di hari panas pula,” kata Sarah sambil mencecap teh buatan sang nenek.
“Nenek sudah punya penghasilan, dari mencuci dan menyeterika di tetangga-tetangga, itu cukup untuk makan kita berdua, dan bayar sekolah kamu.”
“Tidak apa-apa Nek, uang Nenek yang tersisa, ditabung saja, siapa tahu pada suatu hari Nenek butuh sesuatu.”
“Kamu memang bandel.”
Sarah tertawa.
“Nenek yang sudah tua saja bekerja, masa Sarah yang masih muda tidak boleh bekerja.”
“Kamu kan harus sekolah juga.”
“Iya sih, tapi tidak apa-apa kok. Nenek tidak usah memikirkan Sarah. Pokoknya Sarah bisa mengatur waktu. Untuk sekolah, untuk jualan koran, juga untuk belajar.”
“Ya sudah sekarang makanlah, ayo Nenek temani.”
Sarah mengambilkan nasi ke piring sang nenek dulu, baru untuk dirinya sendiri.
“Nenek tahu tidak, tadi tuh Sarah kan jatuh di perempatan.”
“Haah? Kamu ini gimana, sampai jatuh segala. Mana yang sakit? Luka tidak?”
“Tidak Nek, hanya biru sedikit, memar. Tidak apa-apa, sudah dioles minyak punya Nenek di kamar.”
“Lain kali hati-hati, bagaimana bisa jatuh?”
“Ada pengendara sepeda motor nyerempet pundak Sarah, lalu Sarah jatuh. Untunglah ada orang baik menolong Sarah. Namanya Bima.”
“Sarah, lain kali kamu harus hati-hati. Jualan di jalanan yang rame itu berbahaya,” kata Nenek yang tentu saja sangat khawatir.
“Iya, Sarah akan hati-hati.”
Setelah makan dan mencuci piring kotor, Sarah ke kamar untuk mengambil buku-buku pelajarannya, dan menggelarnya di meja makan itu juga. Di situlah dia belajar, karena ia tidak punya meja belajar yang khusus.
“Sarah, tadi bu Lurah datang kemari.”
“Bu Lurah? Mau minta tolong Nenek? Bersih-bersih rumah? Tumben. Dia kan sudah punya pembantu.”
“Bukan, dia bilang, ingin mengambil kamu sebagai menantu.”
“Apa?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteMksh bunda Tien sehat selalu doaku ADUHAI
ReplyDeleteMatur nuwun Mbak Tien, epusode pertama sdh tayang, semoga ceritanya gayeng.
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku DARAH, CINTA DAN AIR MATA telah tayang perdana.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda Tien. Cerbung baru udah tayang. Semua ga Bunda dan keluarga besar sehat walafiat.
Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~01 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
ππͺ»ππͺ»ππͺ»ππͺ»
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung baru Darah,
Cinta dan Air Mata
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππͺ»ππͺ»ππͺ»ππͺ»
Alhamdulillah sudah tayang cerbung barunya
ReplyDeleteterima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Suwun mb Tienπ
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 01 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien πcerbung perdananya,...pasti seru judulnya romantis, Darah,Cinta dan Airmata... semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ππ
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung baru sdh tayang Mtrnwn Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien
Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu
Alhamdulillah cerbung baru sdh tayang ....mks bunda....selamat mlm smg bunda beserta kelrg senantiasa sehat, bahagia sejahtera
ReplyDeleteAlhamdulilah maturnuwun bu Tien, cerbung barunya Darah, cinta dan air mata waduuuh lihat judulnya sereeem ini ... pasti seruuu ... salam sehat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteSalam sehat juga ibu Sri. Aduhai aduhai
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *DARAH CINTA DAN AIRMATA 01* sudah hadir...
Semoga selalu sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteMatur nuwun, Bu Tien. Cerbung baru sdh tayang. Sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien. Cerbung baru sdh tayang. Sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteAlhamdulillah Darah ,Cinta dan air mata sudah hadir.
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien, semoga bunda dan keluarga sehat, π€²
Alhamdulillah Darah ,Cinta dan air mata sudah hadir.
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien, semoga bunda dan keluarga sehat, π€²
Alhamdulillah Darah ,Cinta dan air mata sudah hadir.
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien, semoga bunda dan keluarga sehat, π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sifa
DeleteAlhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 01 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin π€²πππππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
Delete