NAMAKU TETAP SENJA 61
(Tien Kumalasari)
Senja mengangkat tubuhnya, duduk menghadapi simboknya yang terbaring dengan wajah lesu.
“Jadi Senja harus menolaknya?”
“Nja, apa kamu juga mencintai dia?”
“Entahlah Mbok, Senja bingung.”
“Sepertinya kamu keberatan menuruti permintaan Simbok.”
“Bukan Mbok, Senja tidak keberatan. Senja juga mengerti kalau Senja tak pantas untuk mas Arka.”
“Kalau begitu tidak usah kamu pikirkan. Kamu bilang saja kamu dilarang Simbok.”
“Mas Arka sudah begitu baik sama kita. Dia rela antar jemput Senja setiap hari, saya sudah melarangnya tapi dia nekat.”
“Justru karena itu Nja. Simbok tidak meragukan kebaikannya, tapi Simbok akan merasa kasihan kalau pada suatu hari nanti dia menyesal. Banyak gadis cantik yang pintar, mengapa harus kamu? Pastilah dia akan menyesal. Entah kapan, dan hal itu hanya membuat hati kamu sedih.”
Senja kembali ambruk di samping simboknya, memeluk pinggangnya erat.
“Simbok hanya memikirkan kebahagiaan kamu. Simbok tak ingin kamu menderita.”
“Senja tahu, Simbok sangat menyayangi Senja dan juga Rimba.”
“Apa kamu menyesal terlahir dari rahim seorang miskin?”
“Mengapa Simbok berkata begitu? Senja dan Rimba bahagia menjadi anak Simbok, yang rela bersusah payah demi kami berdua.”
“Simbok hanya ingin, anak-anak Simbok pintar, tidak seperti Simbok yang buta hurup seperti ini. Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan, manusia hidup itu kan hanya sekedar menjalani, dan perjalanan hidup kita bukan kita yang menentukannya, tapi Yang Maha Kuasa.”
“Iya Mbok, Senja mengerti.”
“Bagaimana pekerjaan kamu?”
“Baik Mbok,” jawab Senja yang tak ingin menceritakan bahwa ada yang tidak menyukainya.
“Teman-teman kerjamu baik?”
“Sangat baik Mbok.”
“Kamu suka bekerja di sana?”
“Suka. Semua pekerjaan Senja suka. Walau sedikit, Senja senang bisa membantu Simbok.”
“Besok kalau kamu gajian lagi, jangan semua diberikan Simbok seperti kemarin. Kamu harus menyimpannya sebagian, menabungnya, untuk keperluan kamu sendiri.”
“Nanti kalau Senja butuh sesuatu, tinggal minta sama Simbok.”
“Kamu tidak ingin membelanjakan uang jerih payah kamu sendiri?”
“Apa bedanya Senja minta dari Simbok?”
“Ya sudah, jangan pikirkan masalah itu lagi, tidurlah, sudah malam. Jangan sampai besok pagi kamu bangun kesiangan.”
***
Arka sedang melamun sendirian, duduk di teras, tak peduli udara dingin yang menggigit.
Hampir tengah malam ketika tiba-tiba pak Wiguna keluar.
“Kamu belum tidur?”
“Bapak juga, mengapa belum tidur?”
“Bapak sudah tidur tadi, terbangun karena haus. Melihat kamarmu masih terbuka dan Bapak lihat kamu tidak ada di kamar.”
“Gerah.”
“Udara begini dingin, tapi kamu kegerahan?”
“Sekarang agak dingin.”
“Kamu sedang memikirkan sesuatu?”
“Tidak.”
“Bapak dengar kamu memindahkan Asih ke gudang pemasaran. Karena kamu lebih memilih Senja yang jadi sekretarismu?”
“Bukan karena saya memilih Senja. Sudah sebulan lebih Senja bekerja sama dengan baik, dan Senja sudah banyak mengerti.”
“Iya, aku tahu itu.”
“Tapi rupanya Asih mempunyai rasa tidak suka pada Senja.”
“Bapak kira itu wajar. Asih sudah lebih lama bekerja. Dia takut tersaingi.”
“Tapi saya tidak mengistimewakan Senja, dalam segi apapun. Gaji Asih masih tetap seperti biasa, dan Senja jauh lebih sedikit karena dia baru, dan tingkat pendidikan mereka berbeda.”
“Tapi namanya manusia kan bisa saja ada rasa khawatir.”
“Tadi Asih merubah surat yang dibuat Senja, maksudnya supaya Senja melakukan kesalahan, dan itu fatal. Dia mengganti angka penawaran harga yang jauh lebih mahal. Itu akan merugikan kita. Kejahatan itu yang membuat saya menyingkirkan Asih. Bukan memecatnya, hanya memberinya pelajaran.”
“Apa kamu menyukai Senja?”
“Bukan karena menyukai lalu saya menghukum Asih.”
“Yang Bapak tanyakan, apa kamu menyukai Senja?”
Agak lama Arka menjawabnya.
“Ini ada apa, malam-malam berbincang di sini?” tiba-tiba bu Wiguna keluar.
“Ibu bangun? Di sini dingin.”
“Kalau begitu masuklah, kalau memang ada pembicaraan penting. Nanti ibu buatkan minuman hangat.”
Pak Wiguna mengangguk.
“Aku sedang menunggu jawaban Arka.”
“Jawaban tentang apa?”
“Apa Arka sebenarnya menyukai Senja … itu pertanyaannya.”
“Bagaimana Ka, ibu juga ingin tahu jawabannya.”
“Apakah Bapak atau Ibu keberatan kalau Arka menyukai Senja? Dia hanya gadis anak penjual beras. Pendidikannya hanya sampai SMA. Nanti Bapak bilang kalau dia tidak sepadan dengan keluarga kita.”
“Ibu bagaimana?” tanya pak Wiguna yang urung masuk rumah karena serius membicarakan Senja.
“Terserah Bapak saja. Mana yang sebaiknya Arka lakukan. Kalau Bapak setuju, Ibu juga.”
“Bapak sudah mengerti kalau harta tidak selalu membuat kita bahagia. Perilaku yang baik bisa lebih menenangkan. Ya kan? Aku belajar dari keinginan aku dulu, yang berharap bisa punya menantu anak orang kaya. Tapi apa, ternyata dia gadis yang tidak bener, malah sekarang mendekam di penjara.”
“Senja gadis yang jujur, dan sangat bersemangat. Dia tidak menyukai harta. Dia sangat rendah hati, dan tidak akan memeras kita,” kata Arka bersemangat melihat sikap ayahnya tampak lunak dan tidak berteriak-teriak ketika tidak menyukai sesuatu.
“Janganlah merasa bahwa kebahagiaan terletak kepada harta. Ketika kita berjalan dijalan yang benar, maka itulah bahagia,” kata bu Wiguna sambil melirik ke arah suaminya.
Bukankah bu Wiguna tahu perilaku pak Wiguna yang membawanya kepada kebohongan yang bertubi-tubi? Tapi bu Wiguna sangat bijak, tak ingin mengungkit penyelewengan sang suami. Menurutnya ketika suaminya sudah kembali ke jalan yang benar, itu sudah cukup.
“Kalau begitu terserah Arka. Hidupmu adalah kamu sendiri yang menentukannya. Kapan kamu meminta Bapak dan Ibu melamar? Kalau lamaran itu diterima, keluarga Senja akan aku suruh menempati rumah yang ada di perumahan baru itu, aku sudah membayarnya lunas.”
Pak Wiguna kelepasan bicara padahal masalah rumah itu istrinya dianggapnya tidak tahu.
“Lhoh, jadinya Bapak beli rumah? Yang brosurnya aku temukan itu?" kata bu Wiguna pura-pura terkejut.
Pak Wiguna berdiri lalu menggandeng lengan istrinya.
“Bu, aku pernah melakukan kesalahan, nanti aku ceritakan semuanya, termasuk rumah itu. Tapi aku sudah sadar, aku mengerti bahwa di sinilah rumahku,” kata pak Wiguna sambil berjalan masuk.
Arka tersenyum lucu. Ia tahu semuanya, ia juga yakin sang ibu juga tahu. Tapi ia senang ayahnya mengakui kesalahannya.
***
“Ini suratnya pak, maaf agak lama, karena saya harus berpikir sendiri,” kata Senja sambil menyodorkan sebuah arsip ke meja Arka.
“Aku tahu kamu bisa melakukannya. Duduklah dulu, aku mau bicara.”
Senja berdebar. Ia tahu apa yang akan dikatakan Arka. Dan ia juga tahu apa jawab yang akan diutarakannya. Simboknya sudah mewanti-wanti panjang lebar.
“Kamu sudah memikirkannya?”
Senja menundukkan wajahnya. Kedua tangan yang ada dipangkuannya saling meremas, dan berkeringat.
“Jangan takut menjawab tidak.”
“Maaf Pak, tidak,” kata Senja takut-takut.
“Tidak? Kamu menolak lamaran aku?”
“Saya harus tahu diri, saya takut Bapak akan menyesal. Saya bukan siapa-siapa, dan hanya akan membuat malu keluarga Bapak.”
“Aku tulus Senja. Aku mencintai kamu. Aku akan menunggu, kapan kamu siap menerimanya.”
“Maaf Pak,” Senja berdiri, bergegas keluar sambil mengusap air matanya. Tapi Arka tahu, dibalik pandangan mata Senja, ada cinta kepada dirinya. Ia hanya tahu diri karena perbedaan statusnya.
***
Hari itu hari Minggu. Senja dan Rimba ada di rumah. Simbok memilih tidak berdagang beras, karena ingin memasak untuk anak-anaknya.
Senja sedang bercanda dengan adiknya di depan, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil berhenti di jalan depan rumah mereka.
Senja terkejut, itu mobil Arka. Wajahnya mendadak berubah sedih. Pasti Arka akan menanyakannya lagi, walau dia sudah menjawabnya. Tapi tiba-tiba Rimba berteriak.
“Mas Arka sama siapa itu?”
Senja yang semula menundukkan wajahnya juga terkejut. Arka tidak sendiri. Ada pak Wiguna dan istrinya berjalan di belakangnya.
“Apakah … pak Wiguna akan … memarahi aku karena … anaknya mencintai aku? Lalu .. aku akan dipecat?” kata batinnya, ketakutan.
Rimba berlari ke belakang, memanggil simboknya.
Senja berdiri sambil mencoba tersenyum walau wajahnya pucat.
“Senja, apa kamu tidak mengenalku?” kata pak Wiguna sambil tersenyum. Dan senyuman itu membuat ketakutan Senja berkurang. Ia menyalami tamu-tamunya penuh hormat.
“Tentu saya mengenal Bapak, ta … tapi …,“ Senja menatap Arka yang tersenyum-senyum, membuat Senja kebingungan.
“Bolehkah kami duduk?”
“Ss … saya … kk ..kami tidak punya kursi …lal … lalu.. “
“Itu bangku kan, bisa untuk duduk kan?” kata pak Wiguna yang mengajak istrinya duduk di bangku, membuat Senja ketakutan.
“Tap … ppi.. aduh … sebenarnya … ada apa?”
“Senja, mengapa kamu terlihat bingung begitu? Bapak dan ibuku suka kok duduk di situ.”
“Senja, kami mau ketemu simbokmu.”
“App.. apa, siapa in..ni?” Simbok tiba-tiba sudah muncul, dan bingung melihat orang-orang berpakaian perlente duduk di bangku kayunya yang pastinya berdebu.
“Mbok, jangan bingung, duduklah di sampingku sini,” kata bu Wiguna ramah.
“Ini … bagaimana …”
“Mbok, ini bapak dan ibuku …," kata Arka.
“Apa … kkah … Senja melakukan kesalahan?” ketakutan mbok Mangun.
“Tidak Mbok, kami datang untuk melamar Senja.” langsung pak Wiguna mengatakannya.
Mbok Mangun hampir terjatuh kalau saja tidak berpegang pada pintu rumahnya.
“Saya sudah tahu keadaan Senja dan keluarganya bagaimana, tapi itu bukan masalah bagi kami. Yang penting Arka jatuh cinta pada Senja.”
Rimba heran, ternyata lamaran untuk kakaknya? Lamaran yang aneh, orang kaya duduk di bangku butut depan rumah?
“Tuan … Nyonya … bagaimana ini, kami orang miskin, kami takut nanti Tuan dan Nyonya, juga mas Arka akan menyesal. Rumah saya seperti ini, bagaimana nanti .. saya takut … sungguh. Mohon dipikirkan lagi," kata mbok Mangun yang mulai bisa bicara lancar.
Senja tidak terlihat, dari tadi dia masuk ke rumah, menangis dibalik pintu.
“Mas Arka bagaimana, tiba-tiba mengajak orang tuanya,” kata batinnya.
“Kami sudah memikirkannya. Arka sudah memilih, kami merestuinya,” kata pak Wiguna kemudian.
“Arka, besok jemput mbok Mangun, ajak ke rumah yang tadi saya tunjukkan, biar dia melihat dulu rumah yang akan ditempatinya nanti,” kata pak Wiguna, membuat keluarga mbok Mangun semakin bingung. Ia belum menjawab apapun, tapi pak Wiguna seperti sudah yakin kalau lamarannya tak akan ditolak. Bagaimana menolaknya? Rasa sungkan dan bahagia berbaur menjadi satu.
***
Derita itu adalah ujian, dan bahagia adalah kelulusannya. Tampaknya penderitaan mbok Mangun akan segera berakhir. Malaikat ganteng itu akan benar-benar menjadi menantunya. Mimpi? Bukan, itu adalah kenyataan.
***
T A M A T.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah trnyt Tamat
DeleteSenja di batas kota
Mksh bunda Tien sehat selalu doaku
ADUHAI ADUHAI ADUHAI
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien, senja sdh hadir, doaku semoga bu Tien sekeluarga selalu sehat bahagia dlm lindungan Allah SWT, Salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulilah.
ReplyDeleteNAMAKU TETAP SENJA sudah tamat. Semoga mbok Mangun dalah yal ekonomi dll nya ada perubahan. Senja dan Arka bahagia juga dalam mengarungi rumah tangganya.
Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu. Ditunggu cerbung selanjutnya.
πΈππΈππΈππΈπ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_61
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
πΈππΈππΈππΈπ
Aduh bunda saya ikut senang deh, akhirnya senja seklrg menemui kebahagiaan yg benar nyata, mks bun selamat mlm, salam sehat salam bahagia
ReplyDeleteAlhamdulillah mtrnwn Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung NTS sudah,
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien,
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat dan bahagia.
Aamiin YRA π€²
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Akhirnya senja dan mbok mangun bahagia
Semoga bunda tien sehat walafiat
Ditunggu cerbung berikutnya
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah trmksh mb Tienπ
ReplyDeleteAlhamdulilah wa syukurillah NTS 61 sdh bu Tien tayangkan. Semoga bu Tien sehat2 slalu berbahagia bersama keluarga tercinta dan dlm Kasih Perlindungan Allah SWT.
ReplyDeleteAlhamdullilah bunda cerbungnya sdh tayang..slmt mlm slmt istrht.slm seroja dan aduhai unk bunda ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah..terimaksih bunda Tien...
ReplyDeleteBiasanya ada sinopsis cerbung selanjutnya ....
ReplyDeleteAlhamdulillah, senja telah bahagia dng Arka, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat dan masih semangat berkarya mnulis cerbung ,bahagia selalu bersama keluarga tercinta ❤️π
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteHappy End
Syukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah.... Cerbung NTS sudah tamat dgn kebahagiaan. Terimakasih bunda Tien, ditunggu cerbung asyik berikutnya. Sehat dan bahagia selalu....
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,61 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteπ·Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 61 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteBu Tien... Kok endingnya cepet banget... Biasanya landai π€π
ReplyDeleteTerimakasih bu Tien
Di tunggu serial berikutnya
Smoga ibu tansah pinaringan sehat... Aamiin π€²
Alhamdulillah Heppy end
ReplyDelete