Sunday, October 26, 2025

RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA 06

 RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA  6

(Tien Kumalasari)

 

Kelimanya terjatuh di sebuah tanah lembab, yang untunglah tidak membuat tubuh mereka terluka kecuali hanya sakit karena terbentur tanah. Untungnya juga karena tanah itu tidak keras.

Suara ah uh ah uh dari mereka segera terhenti ketika mereka bisa bersandar di sebuah dinding berbatu. Gelap di sekeliling mereka.

“Celaka. Kita benar-benar terkubur hidup-hidup,” keluh Sarman.

“Ini tempat apa? Disekeliling lobang ini adalah dinding batu.”

“Seperti sebuah sumur kering.”

“Apa kita bisa naik ke atas? Ada bongkahan-bongkahan batu di dinding ini, yang barangkali bisa kita panjat agar bisa keluar dari sini,” kata Sanusi.

“Ayo kita coba memanjat keatas,”

Sanusi mendahului teman-temannya memanjat, dengan dibantu oleh batu-batu yang menonjol di dinding lobang.

“Hati-hati, agak licin,” seru Sanusi.

Tapi akhirnya Sanusi sampai juga ke bibir lobang. Tapi ia menyentuh sesuatu yang keras.

“Apa ini? Celaka, sumur ini tertutup batu besar,” kata Sanusi yang kemudian turun lagi ke bawah.

“Tertutup batu besar?”

“Siapa yang menutupnya?”

“Suara gemuruh ketika kita terjatuh tadi rupanya suara batu yang menutup lobang di atas kita,” kali ini Alvin bersuara.

“Benar, suara batu yang menutup lobang itu.”

“Jadi benar, tak ada jalan keluar.”

“Sedih melihat kegelapan.”

“Ada yang membawa korek api? Ada ranting-ranting kering di sini. Kita bisa membakarnya untuk penerangan,” kata Hasto yang tangannya meraba-raba. Tapi tak seorangpun diantara mereka yang membawa korek api.

“Cari batu untuk pemantik, siapa tahu bisa,” kata Sarman.

Mereka meraba-raba, dan akhirnya menemukan sebuah batu sebesar genggaman. Mereka memukulkan batu itu sekeras-kerasnya sehingga muncullah api. Agak susah sebenarnya, karena batu itu lembab. Hanya sekejap muncul pijaran api, tapi kemudian tak mampu membakar daun dan ranting-ranting yang ada di sana.

Tiba-tiba Rasto berteriak.

“Ternyata aku membawa korek api.”

Semuanya bernapas lega. Dengan segera mereka bisa membakar daun dan ranting-ranting kering, yang kemudian membuat ruangan sempit itu menjadi benderang.

“Tempat apa ini? Tak mungkin tiba-tiba ada sumur berbatu. Pasti ini dibuat oleh manusia. Entah manusia di jaman apa.”

Kelimanya kemudian berjalan mengitari lobang, lalu tiba-tiba ada yang menginjak sesuatu. Ada batu menonjol yang kemudian setelah diinjak, membuat dinding didepannya terbuka.

“Haaa, ada ruangan lain.. yang lebih luas?”

Mereka memasuki ruangan itu. Ada banyak batu-batu besar. Ada meja dan kursi terbuat dari kayu. Mereka berlarian mendekatinya.

“Aneh.”

“Ini dulunya adalah tempat tinggal. Lihat, ada tumpukan kayu pemanas di sana.”

“Bagus sekali, kita bisa menyalakannya untuk penghangat dan penerangan.”

Mereka mengitari ruangan itu, yang ternyata sangat luas. Ada kamar-kamar, lalu ia melihat sebuah kayu berbentuk tempat tidur yang berukir.

“Ini kamar siapa?”

“Rumah apa?”

Pertanyaan yang pastinya tak terjawab karena kelimanya sama-sama pendatang dan tidak tahu apa-apa.

Api yang mereka nyalakan di luar telah padam. Kegelapan kembali melingkupi setiap ruangan. Mereka mulai meraba-raba.

Tiba-tiba Hasto menjerit. Tangannya meraba sesuatu, dan itu adalah tulang manusia.

“Ada apa?”

“Tu … tulang manusia …” lalu Hasto berlari kalang kabut mengitari ruangan karena terkejut dan ketakutan.

“Hasto, tenanglah,” kata Rasto yang kemudian menyalakan koreknya.

Tiba-tiba di sudut ruangan mereka menemukan sebuah benda yang ternyata adalah lampu minyak. Yang aneh adalah, masih ada minyak yang menggenangi sumbunya.

Alvin meminta korek api yang dibawa Rasto, lalu menyalakan lampu itu. Benar, bisa menyala. Suasana menjadi sedikit terang.

“Apakah ini masih malam? Bukankah ketika kita terperosok ke dalam lobang aneh itu hari sudah malam?”

“Entahlah. Dan mengapa kita bisa bernapas lega? Semuanya rapat di tempat ini.”

“Benar, aku yakin pasti ada lobang di mana oksigen bisa masuk ke dalam. Kalau tidak pasti kita sudah mati lemas.”

“Lobang tempat kita masuk tadi.. pasti ada celah-celahnya.”

Hasto menghampiri kursi yang ada di tengah ruangan. Menyandarkan tubuhnya sambil terengah-engah.

“Ada tengkorak di ruangan itu,” katanya gemetar.

Sanusi mengambil sebatang kayu kecil yang kering, kemudian menyalakannya dari lampu minyak itu. Agak lama, tapi akhirnya menyala juga. Ruangan menjadi lebih terang, dan sedikit hangat. Sarman mencari kayu-kecil supaya mudah dibakar dan agar ruangan menjadi lebih terang lagi.

Suasana menjadi mencekam karena masing-masing diliputi rasa takut.

Lebih baik kita duduk dan menenangkan pikiran.

“Tapi … ini kub..buran …” kata Hasto dengan suara bergetar.

“Kita tidak tahu, kalau bisa tenangkan diri kita, agar bisa tidur.”

“Lebih baik berdekatan dengan tengkorak yang diam, daripada dengan manusia siluman seperti tadi,” kata Sanusi yang paling berani diantara mereka.

Ia meminta teman-temannya agar selalu mengingat Tuhan dengan cara masing-masing, agar bisa mendapatkan pertolonganNya.

“Ini gara-gara Alvin,” kata Hasto yang merasa lebih tenang.

“Maaf. Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat itu. Aku bersyukur bisa bertemu kalian, sehingga aku bisa terlepas dari pengaruh siluman itu.”

“Siluman, tapi cantik,”

“Cantik tapi siluman. Kita berempat juga nyaris menjadi mangsanya.”

“Bukankah perempuan bernama Widuri itu akan membantu kita?”

“Kamu tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya? Dia membantu, tapi minta imbalan. Bukan uang atau barang yang dia inginkan, tapi tubuh kita. Masa kalian tidak tahu maksudnya?”

Yang lain kemudian berpikir, dan merasa bahwa apa yang dikatakan temannya adalah benar. Siluman itu menghendaki tubuh mereka. Seketika bulu kuduk mereka meremang.

"Lebih baik kita tidur untuk menenangkan pikiran,” kata Alvin yang tiba-tiba teringat pengalamannya sendiri. Ia lupa apa yang terjadi, tapi dia ingat ketika teman-temannya menemukannya.

***

Sementara itu pertarungan antara Widuri dan Kenanga sudah berakhir. Mereka baru menyadari kalau orang yang mereka perebutkan sudah tidak ada. Siluman juga bisa tertipu. Mereka tahu kalau Alvin sudah tak ada, bahkan empat kawan yang ditemukan Widuri, ketika mbok Wungkuk menuding-nuding kedalam, membuat pertarungan itu berhenti. Keduanya memburu ke dalam rumah, dan mendapati Alvin dan teman-temannya tak ada. Selendang pengikat hati Alvin tergeletak dilantai. Kenanga baru menyadari bahwa teman-teman Alvin bukan orang biasa, tapi yang memiliki kedekatan dengan Sang Pencipta. Kemudian mereka bertiga berusaha mengejar, lalu melihat kelimanya terperosok ke dalam sebuah lobang. Entah mengapa Widuri dan Kenanga tak berani mengusik mereka ke dalam lobang. Ia kemudian menyuruh mbok Wungkuk menutup lobang itu dengan sebuah batu besar.

Kenanga dan Widuri kemudian pergi ke masing-masing tempatnya, sambil mengobati luka-luka akibat pertarungan itu. Siluman juga bisa terluka, dengan caranya. Tapi apakah mereka akan berhenti?

***

Kelima sahabat itu sudah terlelap setelah bersusah payah berusaha mengendapkan kegelisahan mereka.

Tapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Kelimanya mendengar semua dan terbangun bersama-sama.

Remang masih terasa, karena yang menyala tinggal lampu minyak sedangkan nyala api pada kayu telah padam entah kapan.

Mereka menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi tak ada bayangan apapun. Mereka duduk berdesakan di sebuah kursi panjang. Telinganya dipasang dengan seksama.

Tapi suara langkah kaki itu tak terdengar lagi. Masa kelimanya kompak mendengar suara yang sama?

Tapi tak lama kemudian mereka mendengar suara aneh, seperti air yang menetes dari tempat tinggi. Ting … ting … ting… ting… berulang-ulang.

Hasto merangkul tangan sahabatnya. Keringat membasahi tangan itu.

“Itu suara apa? Tadi ada orang berjalan kan?”

“Ini seperti suara air yang menetes. Apakah ada air di sekitar tempat ini?”

“Entahlah. Mengapa baru sekarang kita mendengarnya?"

Kantuk yang semula membuat mereka terlelap, lenyap seketika, berganti kegelisahan dan ketakutan yang menghentak. Doa-doa yang mereka panjatkan menjadi kacau oleh perasaan takut itu sendiri.

Tak lama kemudian suara tetes air itu sudah tak terdengar lagi. Walau begitu rasa takut masih tersisa.

Mereka bahkan tak berani bergerak. Kalau bisa, mereka akan menahan napas mereka agar tak menimbulkan suara.

Tiba-tiba lampu minyak di sudut ruangan itu tampak berkebat kebit, bergerak-gerak, seperti tertiup angin, padahal tak ada angin dirasakan oleh mereka. Lagipula angin dari mana? Tak ada lobang di tempat itu.

Mereka memejamkan mata. Rapat-rapat. Berharap tak melihat apapun yang membuat mereka semakin ketakutan.

Ternyata perkiraan mereka meleset. Lepas dari lingkungan siluman yang mengganggu, sekarang mereka masuk ke dalam suasana yang lebih menyeramkan. Bukan siluman cantik yang menggoda, tapi suasana yang lebih mencekam. Ini membuat dada mereka terasa sesak.

Dan tiba-tiba lagi Hasto menjerit, karena sesuatu menyentuh kakinya.

“Ttooollloong…”

Keempat temannya terkejut, lalu melihat tikus sebesar kucing meluncur menjauh entah kemana.

“Ya ampun, itu tikus …?”

Belum tenang dari rasa terkejutnya, tiba-tiba terdengar angin menderu-deru.

“Angin? Dari mana ada angin ?"

“Pastinya di luar.”

“Berarti ada lobang yang bisa membawa kita keluar, karena kita bisa mendengar suara angin.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

Saturday, October 25, 2025

RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA 05

 RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA  05

(Tien Kumalasari)

 

Perempuan itu menatap mereka satu persatu. Tampak ada keraguan pada wajah-wajah kuyu karena lelah dan letih.

“Kalian tidak percaya padaku? Lihatlah di sana, apa yang kalian lihat?”

Perempuan itu menunjuk ke sebuah arah. Sanusi dan teman-temannya melihat lentera berkedip, ada rumah di sana. Mengapa mereka baru melihatnya sekarang?

“Apa temanku ada di sana?”

“Tentu. Dia sedang lupa segala-galanya. Ada peri keji yang menguasainya.”

“Peri keji?”

“Ia tak akan mengijinkan temanmu itu pergi.”

“Apa kami bisa mengajaknya pergi?” tanya Hasto, ragu. Demikian juga teman-temannya.

“Aku datang kemari untuk menolong kalian. Mengapa kalian kelihatan ragu?”

“Apa kamu manusia?” tanya Sanusi memberanikan diri, padahal sebenarnya ada rasa takut melihat sebuah kedatangan yang tiba-tiba. Ia yakin perempuan itu bukan manusia biasa, atau bahkan bukan manusia.

Perempuan itu tertawa. Giginya berderet rapi, seperti barisan mutiara yang ditata rapi. Mereka mengakui, bahwa perempuan itu cantik sekali. Cantik yang tidak biasa, karena ada daya magis yang terkandung dari ucapannya. Itu membuat mereka terpana dalam ketakutan yang tersembunyi. Bagaimana tidak takut? Malam begitu gelap, bahkan saling memandang diantara teman saja terlihat remang, tapi perempuan itu datang tiba-tiba tanpa suara sebelumnya. Apakah dia tidak menginjak tanah? Rasto melirik ke arah bawah, tapi kain mengkilap yang dipakainya tampak menyentuh tanah. Mana bisa melihat kakinya?

“Manusia atau bukan, apa bedanya? Tapi aku punya nama, panggil aku Widuri, kalau itu penting buat kalian. Bukankah kamu ingin membawa temanmu pulang? Dan kalau aku bisa dan mau membantu, pentingkah mengetahui aku ini apa dan siapa?”

“Baiklah, kalau memang kamu bisa membantu, bawa kami menemui Alvin dan bantu kami keluar dari sini.”

“Tapi jangan kira kamu mendapat pertolongan aku dengan cuma-cuma.”

“Apa maksudmu?” kata Sanusi dan teman-temannya hampir bersamaan.

“Itu tidak cuma-cuma.”

“Tapi jangan keterlaluan kalau kamu minta bayaran ya, kami tidak membawa uang banyak, kecuali hanya sekedar uang untuk makan.”

Widuri tertawa, kali itu keras sekali, dan bahkan sampai terpingkal-pingkal.

“Uang? Aku tidak butuh uang.”

“Lalu apa? Kami tidak punya apa-apa.”

“Tapi kamu punya apa yang kami inginkan.”

“Apa maksudmu?”

“Nanti kalian akan tahu. Sekarang ikuti aku.”

Perempuan itu melenggang pergi, memberi isyarat agar keempatnya segera mengikuti.

Merekapun sambil terus saling berpegangan, mengikuti langkah perempuan itu, yang gampang dilihat karena baju dan kain yang dipakainya berkilat-kilat. Ia berjalan dengan ringan, seperti tak menyentuh tanah. Mereka tak peduli apa yang akan diminta Widuri, nanti Widuri boleh menggeledahnya kalau tak percaya bahwa mereka tak punya apa-apa. Yang penting bisa bertemu Alvin dan membawanya pulang.

Lentera itu tampak semakin nyata, berarti mereka sudah semakin mendekati rumah itu.

Tapi sebelum sampai, bayangan seseorang menghadang. Langkah perempuan itu terhenti, tentu saja keempat orang sahabat itu juga berhenti. Mereka menatap bayangan seorang perempuan tua yang bongkok. Lebih jelas karena lentera di sudut rumah itu menerangi alam sekitar.

“Minggir!” terdengar perempuan cantik bernama Widuri itu menghardik. Tapi perempuan bongkok itu menggoyang-goyangkan tangannya.

“Kamu adalah gedibal bau yang tak tahu malu. Sudah wajahmu jelek, selalu ikut campur urusan orang. Minggir, aku ingin menghajar majikan kamu.”

Perempuan tua itu tetap berdiri menghadang. Widuri maju selangkah, melayangkan pukulan kearah perempuan bongkok yang memang adalah mbok Wungkuk. Tapi mbok Wungkuk bukan sembarang perempuan. Ia bisa menghindar, bahkan melawan dengan jurus yang tak dapat dilihat, tapi membuat Widuri terjengkang, membuatnya menjerit, tapi dalam sekejap dia bangun dan langsung menyerang mbok Wungkuk lagi.

Sanusi dan kawan-kawannya minggir, dan bingung harus melakukan apa. Membantu? Mereka tidak bertarung seperti orang sedang berkelahi. Ada gerakan-gerakan aneh yang menimbulkan angin kencang yang terkadang membuat mereka terhuyung.

Lalu terdengar jeritan-jeritan keduanya, ketika saling bisa mencakar dan melukai.

Mbok Wungkuk rupanya kewalahan. Bagaimanapun kuatnya dia, tapi mbok Wungkuk sudah tua, tidak segesit Widuri. Tapi dia tak mau berhenti dan terus bertahan.

“Rupanya kamu membela mati-matian bendoro kamu yang licik dan jahat itu. Jadi aku harus menyingkirkan kamu terlebih dulu,” geram Widuri.

Sebuah selendang tiba-tiba sudah berada ditangan Widuri. Dengan menyabetkan selendang itu, angin keras gemuruh menyerang mbok Wungkuk tanpa ampun. Perempuan bongkok itu terlempar sangat jauh, lalu terjatuh ke tanah, menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

“Rasakan Wungkuk. Itu akibatnya kalau terlalu membela bendoro yang tak tahu malu. Kemarin kamu sudah terluka, dan sekarang masih berani menentang?"

Widuri mengibaskan bajunya, seperti sedang menghalau debu yang menempel. Tapi selendang yang tadi dipakainya sebagai senjata tak tampak lagi. Entah Widuri menyembunyikannya di mana.

Lalu Widuri memberi isyarat kepada Sanusi dan kawan-kawannya agar mengikutinya mendekati rumah yang menurut mereka sangat aneh itu. Aneh, karena rumah itu begitu kokoh, berbentuk seperti rumah-rumah kuno yang antik, tapi berdiri di tengah-tengah belantara.

Tapi begitu kaki mereka menginjak halaman rumah itu, tiba-tiba pintu rumah terbuka, dan seorang perempuan tak kalah cantik muncul dari dalam.

“Kamu membuat keributan di sini, Widuri? Apa maksudmu, apalagi dengan membawa empat manusia yang ganteng-ganteng ini? Apa kamu ingin memamerkan bahwa kamu berhasil menaklukkan mereka berempat? Bukan main Widuri, aku ingin mengatakan bahwa kamu hebat.”

“Mereka ingin menjemput laki-laki bernama Alvin yang sedang bersama kamu.”

“Apa?”

Widuri tertawa terbahak-bahak.

“Rupanya kamu yang sudah mendapatkan empat perjaka ganteng ini masih juga menginginkan Alvin? Ya ampun, ternyata kamu sangat serakah.”

“Jaga mulut kamu Kenanga.”

“Sejak kemarin kamu sudah mengatakan bahwa kamu menginginkan laki-laki aku, lalu aku menolaknya, lalu kamu memancingnya dengan gelang mutiara sakti, tapi tak berhasil bukan? Baguslah Alvin urung mengambil gelang itu. Kalau saja dia berhasil, maka dia pasti akan mencari-carimu dan kamu akan bahagia bukan? Tapi Alvin adalah milikku. Tak seorangpun boleh mengambilnya.”

Sanusi dan kawan-kawannya merasa terkejut. Rupanya Alvin menjadi rebutan antara perempuan yang dipanggil Kenanga, dan Widuri yang bersedia membantu mereka.

“Apa yang harus kita lakukan?” kata Sarman lirih.

“Alvin ada di dalam. Sementara kedua perempuan itu berhantam, kita akan masuk melalui pintu belakang, lalu membawa Alvin keluar dari situ,” kata Sanusi, juga berbisik.

“Aku setuju.”

“Sebelum melakukannya, sebut nama Allah, mohon pertolonganNya agar kita berhasil menyelamatkan Alvin,” kata Sanusi.

“Tunggu setelah ada waktu yang baik.”

“Jadi apa yang sekarang kamu inginkan, Widuri?”

“Berikan Alvin padaku.”

“Ahahahaaaaaah ….” Kenanga tertawa.

“Jangan tertawa. Aku bersungguh-sungguh.”

“Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan?”

“Melumpuhkan kamu lalu membawa Alvin pergi dari sini.”

“Oh ya? Kamu yakin bisa melakukannya?”

Tanpa menunggu lama, Widuri lebih dulu menyerang dengan pukulan dahsyat. Tapi Kenanga dengan mudah menghindar dan miring ke samping. Pertarungan menjadi seru, Keduanya saling mengirimkan pukulan dengan jurus-jurus maut, membuat suasana sekitar menjadi gemuruh seperti ada angin ribut.

Tak ada salah satu dari mereka yang mengalah.

“Gedibalmu yang tua bangka sudah aku robohkan, siapa yang akan membantu kamu?” kata Widuri sambil menyerang.

Kenanga yang sangat marah, tak sudi mengalah. Ia terus menghindar dan menyerang, dan keduanya tampak sama kuat.

Sementara itu Sanusi dan kawan-kawannya khusuk dalam menyebut nama Tuhan sesembahan mereka. Perlahan mereka beringsut, lalu bisa menemukan pintu belakang rumah aneh itu.

Dalam suasana remang oleh lampu minyak di setiap sudut ruangan, mereka mencari di mana Alvin berada.

Ternyata Alvin sedang tidur di atas pembaringan yang nyaman. Sanusi lebih dulu mendekat dan membangunkannya.

“Alvin, bangunlah, ayo kita pergi,” bisiknya.

Alvin membuka matanya, tapi tak ada wajah gembira ketika melihat sahabatnya.

“Ayo kita pergi dari sini. Kami berempat mencari kamu sejak kemarin.”

“Tidak, aku akan bersama Kenanga.”

Keempat sahabatnya tertegun. Alvin sudah terkena pengaruh perempuan siluman itu, dan enggan meninggalkannya.

Sanusi melihat Alvin mendekap sebuah selendang. Sanusi ingin merebutnya, tapi Alvin menggenggamnya sangat erat.

Bahkan dengan dibantu oleh teman-temannya, Alvin tetap tak mau melepaskannya. Sanusi dan teman-temannya yakin, selendang itu punya kekuatan gaib. Dengan melepaskan selendang itu, barangkali Alvin bisa terlepas dari genggaman kekuatan gaib itu.

“Berdoalah lagi dan sebut nama Tuhan kalian,” bisik Sanusi, sedangkan Sanusi kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Alvin. Barangkali sebuah doa, yang kemudian membuat tangan Alvin melemah. Lalu selendang itu terlepas dari tangannya.

Alvin terbelalak. Ia baru sadar sedang bertemu dengan teman-temannya. Ia bangkit duduk, tapi Sanusi dan teman-temannya segera menariknya untuk membawanya pergi dari tempat itu.

Tapi di depan pintu keluar di bagian belakang rumah itu, tiba-tiba mbok Wungkuk berdiri di tengah-tengah pintu. Matanya yang hanya sebelah menyala marah. Tak ada yang diucapkan, dan ternyata mbok Wungkuk itu bisu. Walau begitu dia berdiri di tengah pintu bermaksud menghadang mereka berlima.

“Pergilah, majikan kamu dalam bahaya,” kata Sanusi sambil menekan rasa takutnya. Takut kalau nenek bongkok itu menggagalkan niat mereka.

Nenek bongkok itu kelihatan terkejut, ia meninggalkan mereka berlima dan tertatih lari ke arah depan, di mana terdengar sebuah pertempuran dahsyat yang belum berakhir.

Sanusi segera mengajak teman-temannya pergi dari tempat itu, dan selalu mengingatkan mereka agar selalu mengucapkan doa dalam setiap langkahnya.

Alvin yang sedikit sadar dari pengaruh Kenanga, ikut-ikutan berdoa, yang selama  ini dia lupakan.

Mereka terus berlari menyusupi belantara sambil terus menyebut Tuhan mereka.

Tapi tiba-tiba mereka berlima terkejut, ketika menginjak serumpun rumput yang lembut dan ternyata dibawahnya adalah sebuah lobang. Kelima-limanya terperosok ke dalam lobang, yang entah isinya apa. Lalu terdengar suara gemuruh, seperti ada sesuatu terjatuh yang menutupi lobang itu.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, October 24, 2025

RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA 04

 RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA  4

(Tien Kumalasari)

 

Alvin mengucek-ucek matanya lalu menatap ke sekeliling. Ia tak melihat apapun. Suara jeritan perempuan-perempuan juga tak lagi terdengar.

“Aku tidur, dan bermimpi?”

Saat itulah tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang memanggil namanya. Alvin berdiri, menajamkan pendengarannya. Itu benar, ada yang memanggil-manggil namanya.

“Apa itu suara Sanusi? Ada beberapa orang, suaranya berbeda, ada suara Hasto juga? Di mana mereka?”

Tapi suara itu kemudian tak terdengar lagi. Sekarang Alvin yang berteriak.

“Sanusiii ….!”

“Hastoooo.”

Tapi tak ada jawaban. Dan suara memanggil itu lama sekali tak terdengar lagi. Alvin berjalan kearah datangnya suara … sambil memanggil-manggil. Ada dua suara yang dikenalinya, yaitu Sanusi dan Hasto. Ada suara lain, tapi Alvin tak begitu bisa menangkapnya, entah itu suara siapa.

“Di mana dia? Mengapa mereka datang kemari? Mencari aku? Aduuh, bagaimana ini, pasti mereka juga tersesat seperti aku. Tapi ada di mana mereka? Jangan-jangan aku justru berjalan semakin jauh dari mereka.”

Tiba-tiba seekor kera melompat dan tiba-tiba sudah ada di depannya. Kera bongkok itu lagi. Alvin sebenarnya kurang suka melihat kera bongkok itu, karena mengingatkannya pada pelayan Kenanga yang wajahnya menakutkan. Tapi dua kali kera bongkok itu membantunya. Saat kelaparan dan saat ia kehilangan pakaiannya.

“Mengapa kamu berdiri menghalangi aku?”

Kera itu tentu saja tak menjawab. Ia hanya menampakkan dua giginya yang menonjol keluar. Alvin memalingkan muka. Mengapa kera bongkok selalu mengingatkannya kepada mbok Wungkuk?

“Ada beberapa temanku yang juga tersesat di tempat ini. Maukah kamu menolongnya? Sepertinya mereka sedang mencari aku. Bawa aku kepada mereka, atau bawalah mereka kemari. Kasihan, bukan?”

Mata kera yang hanya sebelah itu berkedip-kedip. Untunglah dia tak lagi memperlihatkan giginya, sehingga Alvin tak harus mengingat sang nenek Wungkuk.

“Kamu kera yang baik. Dua kali kamu menolongku, sekarang tolonglah aku lagi.”

Tiba-tiba kera bongkok itu melesat dan pergi dari hadapannya. Alvin tak tahu, apakah kera itu mendengar permintaannya lalu mau menolongnya, atau mengacuhkannya.

Alvin duduk di di bawah sebuah pohon sambil merenung sedih.

“Apakah selamanya aku akan berada di tempat ini dan tak bisa keluar? Bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan ibu yang pasti selalu menangis memikirkan aku,” bisik Alvin yang kemudian akhirnya menitikkan air mata.

Betapapun kuatnya dia, ketika menghadapi situasi yang tak menentu ini, tentu saja membuatnya bingung.

Tiba-tiba Alvin mendengar suara wanita berteriak-teriak, bukan hanya satu. Seperti tadi, apakah ada lagi perempuan bertengkar? Alvin mencari datangnya suara itu, seperti dekat, tapi tak tampak. Alvin bingung.

“Sebenarnya ini tempat apa? Semuanya serba membuat aku bingung.”

Lalu Alvin menjadi takut. Sekarang ia sadar bahwa dirinya sedang berada di sebuah dunia lain, yang sangat berbeda dengan dunianya. Dunia manusia adalah dunianya, dan ini adalah dunia yang serba tak tampak. Suasana remang karena matahari tak sepenuhnya bisa menerangi tempat itu, membuat Alvin semakin ketakutan.

Suara jeritan-jeritan itu kemudian mereda, lalu suasana menjadi senyap. Alvin yang menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon, tiba-tiba melihat kera bongkok itu melintas. Agak jauh, tapi jelas itu adalah dia, karena kera itu berjalan terbongkok-bongkok. Sekilas ia melihat darah mengucur di pundak kera bongkok itu, tapi dia tidak berjalan ke arahnya, dan lagi-lagi dalam sekejap dia menghilang.

“Mengapa tiba-tiba dia terluka?”

Alvin ingin menjerit sekuat-kuatnya karena perasaan kacau yang meliputi hatinya. Ia memejamkan matanya, dan berharap tidak ketiduran agar tidak bermimpi yang aneh-aneh. Ia merasa pasrah, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.

***

Seperti Alvin, Sanusi dan kawan-kawannya juga berputar-putar tak tentu arah. Rasa lapar mulai mengganggu, tapi apa yang harus dimakan? Di sekitarnya hanya ada pohon pohon kayu yang entah ada buahnya atau tidak.

Hasto yang paling penakut, mulai gemetaran. Ia hampir menangis, kalau saja ketiga temannya tidak menghiburnya.

“Bertahan Hasto, kita pasti akan menemukan jalan keluar,” kata Sarman.

“Dari tadi kalian ngomong begitu. Nyatanya kita masih berada di tempat ini dalam keadaan yang semakin menyedihkan.”

“Sabar … kamu harus kuat,” kata Rasto sambil menepuk punggungnya.

“Aku lapar …” rintihnya.

“Kita merasakan hal yang sama.”

“Mengapa kita melupakan Tuhan?” tiba-tiba Sanusi bangkit.

“Ayo berdoa, bersujud menurut keyakinan kita masing-masing, memohon pertolongan kepadaNya.”

“Benar. Hanya Tuhan yang bisa menolong kita."

Maka keempat dari merekapun mulai mendekatkan diri kepada *Tuhan/Allah* mereka. Sanusi dan Hasto yang muslim segera shalat dengan perangkat dan tata cara seadanya, sedangkan Sarman dan Rasto juga berdoa menurut keyakinannya._

Seekor kera bongkok menatap mereka dari kejauhan. Sebelah tangannya menyeret setandan pisang masak.

Selesai beribadah dan berdoa, hati mereka merasa lebih tenang. Tiba-tiba ketika mereka kembali duduk bersandar pada batang pohon, seekor kera datang.

“Itu kera bongkok itu lagi,” pekik Sanusi.

“Mau apa dia?”

Tanpa menunggu mereka berkata-kata, kera bongkok itu meletakkan setandan pisang masak.

“Pisang? Kamu membawakan ini untuk kami?” tanya Rasto.

Kera itu tak menjawab, lalu membalikkan tubuhnya.

“Eh, pundak kera itu terluka,” pekik Hasto.

“Benar, berdarah!”

Tapi tiba-tiba kera bongkok itu sudah lenyap dari hadapan mereka.

“KIta tersesat di dunia lain,” kata  Sanusi yang kemudian meraih pisang yang entah pisang apa namanya, tapi kemudian beberapa buah pisang itu sudah beralih ke dalam perut mereka.

“Sanusiiiii !”

“Hastooooo!”

Keempatnya terkejut.

“Itu suara Alvin.”

“Di mana dia?”

“Alviiiin, kamu di mana?”

“Alviiiin”

Mereka berdiri.

“KIta sudah tahu kalau benar Alvin ada di sini.”

“Suara itu dari sana. Ayo kita ke sana.”

Mereka berjalan ke satu arah, di mana mereka yakin bahwa dari arah itu terdengar suara Alvin.

Sambil berjalan itu mereka berteriak-teriak memanggil nama Alvin.

“Mengapa dia tahu kalau aku ada di sini?”

“Yang dia panggil nama kamu dan Hasto. Kok bisa tahu?”

“Berarti dia mendengar kita berteriak, dan mengenali suara kamu yang cempreng, dan Hasto yang menggelegar,” kata Rasto.

“Semoga Allah mendengar doa kita, dan mempertemukan kita dengan Alvin.”

“Aamiin.”

Tapi kemudian suara mereka yang berteriak-teriak tak mendapat balasan.

“Kok dia menghilang lagi?”

“Alviiin, kamu di mana?”

***

Alvin juga bingung. Ia tak lagi bisa mendengar suara kawan-kawannya. Ia sudah berteriak, tapi tak mendapat jawaban.

Tak terasa hari semakin gelap. Malam mulai merambah bumi, dan kegelapan ada di mana-mana. Alvin tak tahu harus berbuat apa. Ia duduk di bawah sebuah pohon, membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.

Tiba-tiba Alvin melihat sesuatu yang bersinar tak jauh dari hadapannya, di samping sebuah batu. Alvin mendekati benda bersinar itu sebuah gelang dengan hiasan mutiara di sekitarnya. Sebelum ia memungutnya, terdengar suara memanggilnya.

“Alvin, jangan diambil.”

Alvin menghentikan tangannya yang hampir menyentuh benda itu, menoleh ke arah datangnya suara. Ia terkejut melihat Kenanga berdiri di depan teras sebuah rumah dengan bangunan antik. Rumah yang semalam ditemukannya? Ada lampu minyak berkelip di sana.

Alvin terpaku. Ia tak melihat rumah itu sejak seharian. Bagaimana tiba-tiba ada rumah di sana?

“Alvin, jangan bengong. Kemarilah,” suara merdu itu menggelitik telinganya, membuatnya seperti tersedot oleh sebuah magnet yang tak bisa ditahannya.

Tiba-tiba saja dia sudah berhadapan dengan Kenanga. Harum bunga kenanga menyentuh hidungnya. Wajah cantik menawan dengan rambut terurai hampir menyentuh tanah itu tersenyum begitu ayu. Lagi-lagi menampakkan deretan mutiara yang memukau.

Alvin melupakan gelang yang tadi ditemukannya. Ia menurut saja ketika Kenanga menggandeng tangannya, meremas jemarinya lembut, membuat Alvin tak mampu menolak ajakannya.

“Mbok, siapkan minuman hangat, lalu air untuk mandi tamu kita,” kata Kenanga.

Alvin terkejut. Mbok Wungkuk lagi?

“Dan dalam sekejap dua cangkir minuman hangat yang masih mengepulkan asap terhidang di meja. Lalu wajah mengerikan itu membalikkan tubuh dan lenyap.

Tapi sebelum menghilang, Kenanga masih sempat menyapa.

“Pundakmu masih sakit?”

Alvin terpaksa menoleh ke arah pundak  mbok Wungkuk. Ada darah membasahi bajunya.

Mbok Wungkuk hanya meringis, manampakkan dua giginya yang membuat Alvin kemudian mengalihkan pandangannya.

“Tadi dia diserang oleh orang yang ingin berbuat jahat. Untunglah dia bisa mengatasinya.

Alvin teringat ketika ia mendengar suara suara seperti wanita bertengkar, atau mungkin saling cakar. Ia tiba-tiba juga melihat pundak kera bongkok itu terluka dan berdarah. Lalu mbok Wungkuk juga terluka di pundak, diserang oleh orang yang ingin berbuat jahat? Alvin menghubungkan keadaan luka mbok Wungkuk dan kera bongkok itu. Mengapa bisa sama? Mata yang buta sebelah, dua buah gigi yang menonjol keluar, dan juga sama-sama bongkok. Apakah kera itu …

“Alvin, minumlah, keburu dingin,” suara itu membuyarkan lamunannya.

Alvin meraih cangkir dan meneguk minuman hangat itu. Rasa segar menelusuri seluruh aliran darahnya.

“Mengapa melamun?”

Alvin ingin menanyakan apa yang dipikirkannya, tapi diurungkannya.

“Mbook, jangan lupa airnya.”

Alvin menghabiskan minumannya.

“Mandilah, nanti aku siapkan baju ganti untuk kamu.”

Alvin tersipu, melirik bajunya yang kotor dan sobek. Tapi tidak, Alvin heran, dia mengenakan sarung yang semalam diberikan Kenanga, dan baju yang juga diberikannya.

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Bagaimana aku masih bisa mengenakan baju ini?”

“Bajumu yang sobek dan kotor sudah dibuang oleh mbok Wungkuk.”

“Aku merasa aneh.”

“Alvin, kamu baru saja bangun tidur dan bermimpi.”

“Tadi aku masih memakai bajuku yang kotor, aku tidur di atas rumput dan kelaparan, lalu ada kera bongkok memberi aku pisang. Lalu ….”

“Alvin, kamu sedang bermimpi. Lupakan semuanya.”

“Mimpi?”

Kenanga tertawa, wajah cantiknya bersinar, seperti rembulan sedang purnama.

Sejenak Alvin terpana, lalu ia melihat mbok Wungkuk keluar dari kamar mandi.

“Air hangat dan wangi sudah siap. Mandilah supaya badanmu segar.”

Alvin berdiri, lalu mengikuti Kenanga yang menariknya ke kamar mandi. Seperti malam sebelumnya, Alvin melepaskan semua pakaiannya, lalu menceburkan dirinya ke dalam jembangan berisi aneka bunga dan menguarkan aroma harum.

***

Sanusi dan kawan-kawannya duduk saling berpegangan tangan, karena takut kehilangan seperti sebelumnya.

Kegelapan membuat mereka bahkan tak mampu saling melihat wajah mereka.

“Sampai kapan akan begini?” Hasto mengeluh lagi.

“Kamu tidurlah, biar kami berjaga.”

“Mana bisa aku tidur, perasaanku tidak enak.”

“Ya sama, kita juga merasa sedih dan bingung.”

Tiba-tiba sebuah bayangan mendekat. Mereka terkejut karena tak mendengar langkah kaki orang, tiba-tiba saja sudah ada yang berdiri di depan mereka. Pakaian gemerlap yang dikenakannya, menunjukkan bahwa dia seorang wanita. Dan gemerlap itu juga memantulkan cahaya yang menerangi wajah wanita itu. Begitu cantik, membuat mereka terpana.

“Kalian sedang mencari temanmu?” suaranya begitu lembut, seperti sedang berdendang.

“Benar, kamu tahu di mana dia?”

“Kalau kamu ingin tahu, ikutlah aku. Seorang peri jahat sedang menguasainya.”

Keempatnya segera berdiri. Wanita yang tiba-tiba muncul itu juga bukan manusia. Dia datang tanpa suara, melesat bagai angin yang tiba-tiba membawanya ke hadapan mereka. Tapi mereka tak peduli apapun, karena perempuan yang entah siapa itu akan menunjukkan di mana Alvin berada.

***

Besok lagi ya.

Thursday, October 23, 2025

RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA 3

 RUMAH KENANGA DITENGAH BELANTARA  03

(Tien Kumalasari)

 

Alvin terkejut bukan alang kepalang. Sudah jelas ada yang melihatnya tanpa busana, dan itu adalah perempuan-perempuan. Ia menenggelamkan dirinya semakin dalam, tinggal hidung dan matanya yang kelihatan.

“Tolong, pasti kalian sembunyikan bajuku, kembalikanlah.”

Tapi tak ada sahutan. Tiba-tiba Alvin teringat akan dongeng ibunya saat dia masih kecil. Laki-laki bernama Jaka Tarub mengintai tujuh bidadari sedang mandi di sebuah telaga, lalu ia menyembunyikan salah satu baju bidadari itu, yang akhirya karena tak bisa terbang kembali ke kahyangan maka bidadari bernama Nawangwulan itu dijadikannya istrinya. Tapi ini kan Alvin yang sedang mandi? Apakah kebalikannya, lalu ada tujuh bidadari mengintai?

“Tolong kembalikan bajuku. Tolooong,” katanya memelas dengan sama sekali tak berani mengangkat tubuhnya dari dalam air.

Alvin sudah menggigil kedinginan karena hari masih pagi, dan air sungai itu memang dingin sekali. Kalau sekedar mandi, mungkin menjadikan tubuhnya segar, tapi ini Alvin berendam sudah lumayan lama.

“Tolonglah ….”

Tiba-tiba ia kembali melihat kera besar itu. Kera bongkok yang tadi memberinya buah pisang. Entah siapa yang menyuruh maka dia membawakan pisang untuknya. Lalu sekarang dia datang lagi? Tanpa suara dia meletakkan tumpukan baju di atas batu. Bajunya sendiri. Jadi kera itukah yang nakal dengan menyembunyikan baju dan celananya?

Dan tanpa suara pula kemudian kera itu membalikkan tubuhnya, meninggalkan Alvin yang bengong seperti sapi ompong. Dan kemudian bayangan kera itu lenyap begitu saja. Alvin merinding. 

Masa kera bongkok itu yang menyembunyikan bajunya? Ia tahu, kera terkadang nakal. Tapi mengembalikan barang yang sudah diambilnya, itu susah. Pernah ia pergi bersama ibunya ke sebuah perkebunan, lalu tiba-tiba seekor kera melarikan tas ibunya yang pastilah kemudian berteriak-teriak. Kera itu tak peduli, bahkan membawa tas itu ke atas pohon. Ia mau melepaskan tas itu ketika seseorang mengiming iminginya dengan buah-buahan.

“Alvin menggaruk kepalanya karena bingung. Banyak hal aneh dilaluinya. Ada perempuan cantik membuatnya tergila-gila, ada kera baik yang mengriminya pisang dan sekarang mengembalikan bajunya. Siapa gerangan pelakunya? Siapa pula perempuan-perempuan yang tertawa cekikikan ketika ia bingung mencari bajunya?

Alvin sudah benar-benar menggigil kedinginan. Baju itu tidak bisa dengan mudah dijangkau, ia harus keluar dari sungai dan berjalan beberapa langkah. Kalaupun bisa diraih, mana mungkin mengenakan baju dan celana dari dalam air.

Alvin menoleh ke kiri dan ke kanan, berputar melihat ke sekeliling, barangkali ia melihat bayangan orang. Tapi tak ada. Monyet bongkok itu bisa menghilang secepat angin, jadi tak ada mahluk hidup di sekelilingnya. Alvin naik ke atas, bergegas mengenakan celana dan bajunya, juga sepatunya. Selendang milik Kenanga masih ada  diantara tumpukan baju. Bahkan pisang yang dimasukkan ke dalam sakunya juga masih ada.

Alvin meninggalkan tempat itu, melanjutkan langkahnya. Ia harus turun, karena ia sadar sedang berada di atas bukit.

Sambil melangkah itu Alvin terus berpikir tentang semua hal yang dia alami, seperti mimpi, tapi nyata. Buktinya adalah selendang Kenanga yang masih tersampir dipundaknya, dan sekarang dilingkarkannya ke leher agar tidak terjatuh. Mengapa Alvin seperti takut kehilangan selendang itu? Alvin juga tidak tahu alasannya. Ada rasa sayang untuk membuangnya, apakah karena baunya yang seperti bunga kenanga? Entahlah.

Banyak hal aneh yang dialami, yang membuatnya terheran-heran. Nenek Wungkuk yang membuatnya merinding, kera bongkok yang selalu membantunya. Siapa menyuruh kera itu melakukan sesuatu untuknya?

Alvin terus melangkah, tapi ia kembali heran ketika menemukan tempat semula, di mana dia terbangun dari tidur itu lagi.

Alvin menjatuhkan tubuhnya ke atas rumput. Tak tahu harus melakukan apa. Sedih dan bingung melingkupi hatinya. Ia terpisah dari keramaian, terpisah dari teman-temannya dan menghilang dari keluarganya. Tak bisa dibayangkan bagaimana sedihnya orang tuanya kalau mengetahui dirinya tak bisa ditemukan. Apa yang bisa dilakukannya? Ia kembali menekuk kedua kakinya lalu merangkulnya sambil menyembunyikan kepalanya diantara lutut.

***

Sementara itu di rumah keluarga Alvin sudah sejak pagi terjadi keributan. Ribut oleh tangis kedukaan karena Alvin menghilang. Upaya sudah dilakukan. Ada beberapa orang yang bersedia menolong, yang kemudian nekat menaiki bukit, karena menurut penduduk di sana, kemungkinan besar Alvin naik ke bukit itu, oleh karena kekuatan gaib yang menariknya. Orang-orang itu adalah empat teman-teman Alvin yang berbekal kenekatan dan keberanian. Mereka adalah Rasto, Sanusi, Sarman dan Hasto. Bukit itu memang pantas disebut Bukit Senyap, karena tak ada suara apapun di sana. Suara angin juga tidak. Barangkali anginpun menghindar daripada berurusan dengan penduduk yang tak tampak di sana.

Perasaan mencekam tiba-tiba meliputi setiap hati mereka. Tanpa suara pula, mereka mendaki naik. Terkadang mereka harus bergandengan tangan ketika menaiki tanah yang terjal.

“Apa benar, Alvin datang kemari?”

“Aku juga berpikir begitu. Tidak mudah naik ke atas, jalanan begini sulit.”

“Untuk apa juga Alvin naik kemari. Apa yang dicarinya, coba?”

“Siapa tahu ada kekuatan gaib yl11

llllllllang menariknya sampai ke sini.”

“Aduh, kalau masalah gaib aku nggak tahu. Tapi kita sudah berjanji akan membantu menemukannya, jadi mau tak mau kita harus menemukannya bukan?”

“Kita akan berusaha, tapi kalau benar ada kekuatan gaib yang membuat Alvin menghilang, maka kita tidak bisa mencarinya dengan jalan begini.”

“Apa maksudmu?”

“Lihat, kita sudah berjalan jauh. Tak ada tanda-tanda kita bisa menemukan dia.”

“Alviiiiin!” salah satunya berteriak.

“Alviiiinnnn!!” mereka bersahutan, dan yang terdengar hanya gaung suaranya sendiri, yang membubung tinggi seakan menembus langit.”

“Tobat aku.”

“Aku tadi bilang apa, kita lebih baik turun.”

“Lalu apa?”

“Harus ada orang pintar yang bisa membuka tabir hilangnya Alvin. Jadi lebih baik kita turun, tak akan ada hasilnya.”

Maka mereka benar-benar turun, tapi tiba-tiba pandangan mereka menjadi gelap.

“Hei.. apa hari sudah malam? Di mana kalian?” salah seorang yang bernama Rasto berteriak.

“Heeiii, kalian di mana,” kali ini Sanusi berteriak.

Demikian juga Hasto dan Sarman. Tapi masing-masing tak bisa menemukan teman-teman mereka. Semuanya seperti terpisah oleh kegelapan yang tiba-tiba menyergap.

Sanusi atau bahkan yang lainya juga berpikir sama. Belum lama mereka berbincang, lalu sepakat untuk turun, tiba-tiba kehilangan satu sama lain? Teriakan demi teriakan mereka seperti terpisah oleh sebuah tabir yang tak bisa tertembus suara.

Tidak saling melihat, apalagi mendengar. Walau gelap, harusnya bayangan orang itu pasti ada. Tapi mereka hanya melihat bayangan pohon-pohon besar tegak di sekitar mereka, seperti hantu yang siap menerkam.

Lalu mereka masing-masing berusahs untuk berjalan turun. Tapi tanpa disadari, mereka justru sedang berjalan menanjak. Jalan yang dilalui serasa tak begitu berat, kecuali hanya semak-semak yang sebenarnya juga sangat menghambat langkah mereka.

Gelap masih melingkupi suasana, membuat mereka berjalan meraba-raba.

Tiba-tiba kegelapan itu sirna. Sanusi melihat ada empat kawannya berdiri di suatu tempat. Saling berhadapan, saling bertatapan dengan perasaan heran.

“Celaka, kita sudah terkena pengaruh gaib,” Sanusilah yang pertama kali mengatakannya.

“Ini tempat apa?”

“Ya Allah, kita tersesat,”

“Apa berarti kita tidak bisa kembali?”

“Apa Alvin ada di sekitar tempat ini?”

“Jangan-jangan iya.”

“Alviiiiin….”

“Alviiiiiiiin..”

“Bodoh, mengapa kita tidak mencoba menghubungi ponselnya?”

Tapi tak satupun ponsel dari mereka menyala.

“Celaka, bukankah sebelum berangkat aku sudah mengecasnya penuh?”

“Sama, aku juga begitu.”

Tiba-tiba ada yang melempari mereka dengan batu. Memang tidak mengenai tubuh mereka dan menyakitinya, tapi membuat mereka terkejut. Lalu memandang ke sekeliling.

Tak ada siapa-siapa, tapi Sanusi melihat seekor kera agak jauh dari tempat mereka.

“Lihat! Ada kera!” teriaknya.

“Besar sekali, sebesar manusia, tapi kera itu mengapa berjalan terbungkuk-bungkuk?” mereka berbicara pelan.

“Kera itu memang bongkok. Awas, jaga diri kalian, kalau-kalau kera itu menyerang kita.”

Tapi kera itu diam di tempat, menatap tak berkedip. Sanusi mengawasinya, sambil bersiaga, kalau kera itu tiba-tiba menyerangnya.

“Kera itu hanya mengawasi kita. Maukah dia menolong kita ya?”

“Memangnya dia tahu bahasa manusia? Bisa-bisa kita malah diserangnya.”

“Mata kera itu buta sebelah.”

“Kisanak, maukah kamu menolong kami?” tanya Sanusi sambil menatap kera itu.

“Ssst, mengapa kamu panggil dia kisanak?” bisik Sarman.

“Biar dia tahu kalau kita ingin berteman,” jawab Sanusi, sambil berbisik pula.

“Memangnya dia tahu bahasa manusia? Jangan-jangan dia yang melempari kita batu.”

Tiba-tiba mereka mundur selangkah. Kera itu menampakkan giginya, seperti kalau dia sedang marah. Yang aneh adalah gigi kera itu tinggal dua, menonjol keluar.

Mereka berpikir, kenapa kera ada yang ompong? Pemikiran yang sama, tapi tak berani mengatakannya.

“Maaf … maaf … “ kata Sarman yang mulai ketakutan.

“Sebenarnya kami sedang mencari teman kami, namanya Alvin,” Sanusi seperti tak peduli, apakah kera itu mengerti atau tidak, dia terus saja bicara.

Tapi kera itu tiba-tiba membalikkan badannya, pergi lalu lenyap dalam sekejap.

Tanpa sengaja mereka saling berpegangan. Ketakutan mulai merayapi hati mereka.

“Ayo kita pergi dari sini,” kata Sanusi yang kemudian melangkah pergi, entah ke mana karena mereka juga tidak tahu harus ke mana.

“Kita cari jalan kembali. Itu bukan sembarang kera. Dia bisa menghilang,” kata Hasto sangat lirih.

Mereka berjalan beriringan, maksudnya menuju turun.

Tiba-tiba mereka menemukan sebuah sungai. Barangkali itu adalah sungai di mana Alvin pernah mandi tanpa busana di situ. Mereka bergegas menuju sungai, lalu mencopot sepatunya, dan menceburkan dirinya ke air.

“Lumayan segar.”

“Ini jam berapa?”

Satu-satunya yang membawa arloji adalah Hasto. Tapi ketika menengok ke arah arloji tangannya, arloji itu mati.

“Kok mati?”

“Kita tak bisa berhubungan dengan dunia luar. Kita harus mencari jalan untuk keluar dari sini.”

“Aku sudah bilang tadi, jangan nekat naik. Ini akibatnya,” kata Hasto yang mulai ketakutan.

TIba-tiba terdengar suara kecipak air sungai, seperti ada orang yang sedang mandi. Mereka juga mendengar mereka saling bercanda dan tertawa cekikikan. Berarti yang mandi lebih dari satu dan pastilah wanita.

Tanpa sengaja mereka menoleh ke arah datangnya suara, tapi betapa terkejutnya ketika melihat yang mandi adalah empat ekor kera.

“Haaaa …”

Sanusi dan kawan-kawannya segera mengentas kaki mereka dan buru-buru mengenakan sepatu, kemudian lari tunggang langgang.

Kera bisa mandi seperti manusia, dan tertawa seperti tawa manusia. Perempuan pula.

Keempatnya jatuh bangun karena ketakutan.

***

Sementara itu Alvin masih duduk sambil menyembunyikan kepalanya di antara lututnya. Tak terasa ia mendengar sesuatu, seperti sedang bermimpi.

Ada suara dua orang wanita sedang bertengkar.

“Kamu jangan berani menyentuhnya. Dia milikku,” itu seperti suara Kenanga.

“Kenapa kamu serakah? Setiap laki-laki tampan selalu kamu yang harus memilikinya?” jawab wanita yang lain.

“Memang aku yang menemukannya, dan dia sudah jadi milikku. Dia perjaka yang aku cari selama ini.”

“Kita lihat saja siapa yang akan berhasil memilikinya.”

“Tetap saja aku, karena aku yang menemukannya.”

“Aku pernah melihat dia mandi, aku melihat semuanya dan aku menginginkannya.”

“Seruni, jangan membuatku marah,” Kenanga berkata tandas.

“Aku bunuh kamu Kenanga.”

“Awas saja kalau berani!”

Lalu terdengar seperti jeritan-jeritan dua orang perempuan yang sedang cakar-cakaran.

Alvin membuka matanya. Ia merasa tak tidur, ia mendengar dengan jelas suara-suara itu, seperti sangat dekat dengannya, tapi ia tak melihat apa-apa.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, October 21, 2025

RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA 02

 RUMAH KENANGA DI TENGAH BELANTARA  02

{Tien Kumalasari)

 

Alvin mengundurkan badannya ke sisi lain untuk menjauhi sosok yang tergolek di sampingnya. Ada debar aneh yang tiba-tiba serasa seperti semut menggerogoti seluruh tubuhnya.

Ia ingin melompat turun ketika sebuah sentuhan halus menahannya.

“Mau ke mana?” lagi-lagi suara itu seperti alunan sebuah kidung yang menyentuh perasaan.

“Mau … eh … ada apa?” kata Alvin yang urung melompat turun.Q“Malam masih larut. Istirahat saja di sini.”

Tapi Alvin tak bisa istirahat. Perasaan yang kalut, dan ketakutan, tapi juga ada rasa lain yang berjubel memenuhi syarafnya.

“Apa kamu takut? Aku suka laki-laki yang masih takut-takut, bukan yang rakus seperti kucing melihat ikan.”

“Mendekatlah, bukankah malam begitu dingin?”

Dan anehnya Alvin menuruti kemauan perempuan cantik berbau harum tersebut.

Dan lampu minyak di sudut ruangan tiba-tiba padam. Alvin tak bisa melihat apapun, tapi Alvin merasakan sesuatu yang lain, yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Aroma kenanga terus menebar di seluruh ruangan. Menyirami jiwa yang berterbangan entah kemana. Malam semakin larut, senyap semakin mencekam.

***

Di sebuah kampung, teman-teman Alvin kehilangan Alvin, dan bersama penduduk sekitar mencarinya sampai ke bawah bukit.

“Ke mana dia?”

“Mengapa tiba-tiba pergi?”

“Ada apa dengannya?”

Beribu pertanyaan terlontar dari teman-teman Alvin, yang kelelahan mencari sahabat mereka.

“Jangan-jangan dia naik ke bukit itu.”

“Mana mungkin?”

“Untuk apa naik ke bukit? Malam-malam pula.”

“Sendirian pula.”

“Bagaimana kalau kita coba-coba mencarinya ke atas.”

“Ide yang tak masuk akal. Masa Alvin ke sana sendirian?”

“Bagaimanapun kita bisa mencobanya. Anak itu kan suka iseng.”

Tapi ketika mereka mau menaiki bukit, beberapa penduduk melarangnya.

“Jangan.”

“Cari mati apa? Kalau kalian naik, bisa dipastikan kalian tak bisa pulang."

“Itu Bukit Senyap. Tak ada mahluk berani naik ke sana.”

“Bukit Senyap?”

Bergantian teman-teman Avin menyebut nama bukit aneh itu.

“Ada apa? Banyak binatang buas?”

“Bukan binatang buas. Binatang buas kita bisa mengatasinya.”

“Lalu apa?”

“Ayo kita pergi dari sini saja,” ajak salah seorang penduduk yang menarik salah seorang teman Alvin, mengajaknya pergi, sehingga yang lain mengikutinya. Tapi pertanyaan tentang hal berbahaya yang menakutkan selalu menjadi pertanyaan mereka.

“Apa apa sih?”

“Apa yang berbahaya selain binatang buas?”

“Mahluk halus.”

“Haaa?” sekarang mereka memekik bersama-sama.

“Mahluk halus seperti apa?”

Ketika sampai kembali ke rumah, seorang tua dari penduduk sekitar mengatakan, bahwa di puncak bukit ada penunggunya.

“Bagaimana kalau Alvin naik ke sana?”

“Penunggunya seperti apa?”

“Ujudnya seperti perempuan tua yang wajahnya menakutkan. Ada yang menyebutnya Nenek Wungkuk atau Mbok Wungkuk.”

“Dia tidak sendiri. Ada yang lain berupa perempuan secantik bidadari. Berbau harum seperti bunga kenanga. Ada lagi yang lain. Entahlah, yang penting jangan ke sana."

“Bapak pernah melihatnya?”

“Tidak. Sudah bertahun-tahun cerita itu diketahui semua penduduk di sini. Kalau ingin melihat kebenarannya, silakan kalian membuktikannya sendiri.”

“Apa?”

“Bagaimana kalau Alvin naik ke sana?” salah seorang temannya khawatir.

“Ya ampun, jangan dong.”

“Aku mengira dia mendahului pulang.”

“Mengapa mendahului?”

“Tadi siang dia bilang ogah menginap. Kalau mau menginap dia akan pulang sendiri, karena neneknya ada di rumah, dia lama sekali belum bertemu sang nenek, jadi kangenlah. Begitu. Tapi dia tuh tadi masih ragu. Mau ikut teman-temannya atau pulang duluan.”

“Tapi kenapa nggak bilang-bilang kalau pulang”

“Coba kamu telpon dia.”

“Sudah aku telpon berkali-kali, ponselnya mati.”

“Aduuh, kenapa Alvin ini?” keluh teman-temannya.

“Kalau dia pulang, lalu naik apa? Mobil kita masih ada di sini.”

“Mungkin kendaraan umum.”

”Ya ampuun, bagaimana sih Alvin ini?”

Celoteh teman-teman yang kecewa diteruskan sampai pagi, sementara para penduduk yang tadi ikut mencari sudah pulang ke rumah masing-masing.

***

Matahari yang muncul terasa remang, karena rimbunnya pepohonan yang berada di sekitar Bukit Senyap.

Tapi kehangatan matahari pagi menyusup diantara dedaunan, menghangatkan sisa malam yang dingin menggigit tulang.

Alvin menggeliat. Ada mimpi yang membuatnya terlena. Rasanya enggan membuka mata karena kehangatan yang menyengat tubuhnya.

Ketika ia mengubah posisi tidurnya untuk miring ke kanan, tangannya bermaksud menggapai guling, atau apalah, pokoknya yang bisa didekapnya, tapi alangkah terkejutnya ia karena ia memeluk sesuatu yang keras dan dingin. Sebongkah batu.

Alvin melompat dari tidurnya, dan menyadari bahwa dirinya sedang tidur diatas rerumputan, diantara dua pohon besar di kiri dan kanannya.

“Apa ini? Aku di mana? Bukankah aku tidur di sebuah kasur empuk  dan hangat, lalu gadis itu … Apa? Apa yang aku lakukan? Di mana gadis itu? Ini tempat apa? Bagaimana aku bisa tidur di sini? Rumah kenanga itu?”

Alvin mengendus-endus, mencari bebauan yang semalam membuatnya terdampar di sebuah rumah, berbau harum kenanga, disambut perempuan cantik yang rambutnya tergerai hampir menyentuh lantai.

Lalu dirinya mandi di jembangan penuh bunga, hangat dan nyaman, lalu berganti pakaian yang disiapkan gadis itu.

“Haaa? Bajuku …”

Ternyata Alvin masih memakai bajunya yang kotor dan robek terkoyak onak dan duri.

“Apa ini? Aku hanya bermimpi? Tapi … seperti nyata, ketika aku berbaring di tempat tidur yang nyaman, lalu di sampingku ada gadis itu, lalu dia merayuku, lalu aku lupa segalanya … lalu aku melakukan hal yang seharusnya tak aku lakukan … tapi … dia begitu menggoda … syukurlah hanya mimpi. Aku tidak melakukan dosa apapun. Bukankah itu hanya mimpi?”

Tapi ketika ia berdiri, sesuatu terjatuh dari pundaknya. Alvin memungutnya. Selendang beraroma wangi kenanga tercium dari selendang itu.

“Apa? Ini kan selendang perempuan itu. Bagaimana bisa tersampir di pundakku? Bukankah aku hanya mimpi? Berarti bukan mimpi, tapi nyata. Ya Tuhan, ampunilah hamba.”

Alvin menatap ke sekeliling, apakah karena keasyikan maka ia tak sadar melakukannya di atas rerumputan? Tapi mana rumah kenanga itu? Mana nenek wungkuk itu? Lalu Alvin merinding mengingat perempuan bongkok yang wajahnya mengerikan.

Dengan bergegas dia pergi dari tempat itu. Semua yang dipakai sejak awal masih melekat ditubuhnya, baju kotor yang robek, dan ponsel yang dibawanya masih terselip di kantongnya. Ia juga masih mengenakan sepatu.

Alvin mencoba menyalakan ponselnya, agar bisa menghubungi teman-temannya, tapi tak berhasil. Ponsel itu benar-benar mati.

Alvin melangkah dengan putus asa. Ia baru sadar bahwa telah bertemu dengan mahluk gaib ketika menyadari apa yang pernah dialaminya.

“Aku berada di atas bukit,” katanya ketika melihat hamparan sawah di bawah sana.

Lalu ia bermaksud turun. Selendang milik Kenanga masih tersampir di pundaknya. Ia ingin membuangnya ketika melewati sebuah jurang, tapi tak sampai hati. Jadi ia tetap menyampirkannya dipundak, melingkarkannya di leher, sambil berjalan mengikuti langkah kakinya.

“Pokoknya aku harus turun. Harus turun …" gumamnya terengah.

Ia sudah berjalan jauh, dan rasa lelah sangat membuat kakinya terasa berat.

Lalu betapa terkejutnya Alvin, ketika ternyata dirinya tidak turun, tapi hanya mengitari bukit. Ia ambruk ke tanah berumput tebal, yang tadi dibuatnya alas tidur.

Alvin berteriak sekuatnya.

“Tolooooong. Toloooong.”

Tapi suaranya seperti memantul ke setiap sisi bukit, Hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.

Alvin hampir menangis karena putus asa. Lalu dia berteriak lagi.

“Kenangaaaaa, di mana kamu? Tunjukkan jalan pulang untuk aku,”

Tapi suaranya tetap saja menjadi gema yang kemudian membuat kupingnya sakit.

Alvin kembali duduk di rerumputan. Hanya di situ ia bisa duduk nyaman, yang lain adalah tanah berbatu, atau tetumbuhan liar yang rimbun.

“Bagaimana aku bisa sampai di tempat ini? Teman-temanku pasti bingung mencari, demikian juga orang tuaku juga akan kehilangan aku,” sekarang Alvin benar-benar menitikkan air mata. Ia bingung bagaimana kakinya bisa membawanya ke tempat asing yang menyeramkan seperti tempat ini. Ia lelah, juga lapar. Ia mencari-cari dengan matanya, barangkali ada pohon buah-buahan yang bisa dimakan. Tapi ia tak melihatnya. Hanya pohon-pohon besar yang entah pohon apa, yang pasti umurnya sudah tua, berdiri tegak tak bergoyang. Suasana sangat sunyi.

Tiba-tiba ia melihat seekor kera mendekat. Alvin ketakutan. Darimana datangnya kera besar yang hampir sebesar orang hutan ini. Apakah dia akan datang menyerangnya, atau mencabik-cabik kulit dagingnya, menghirup darahnya. Untuk lari jelas tak mungkin. Kera itu semakin dekat.

Alvin menutup wajahnya, siap menunggu dan pasrah pada apa yang akan terjadi.

Tapi tak ada suara apapun. Alvin membuka matanya perlahan, kera itu membawa setandan pisang masak, diletakkan begitu saja di depannya, kemudian dia membalikkan tubuhnya, berjalan terbungkuk-bungkuk. Dan entah bagaimana, tiba-tiba kera itu lenyap begitu saja.

Kera itu bongkok? Alvin tiba-tiba teringat mbok Wungkuk. Apakah dia menjelma menjadi kera?

Tapi perut laparnya memaksa tangannya meraih pisang itu. Lalu dimakannya dengan lahap. Tiga buah pisang dihabiskannya. Lalu ia menekuk kedua kakinya dan merangkulnya, menyembunyikan wajahnya diantara lututnya.

“Apakah aku akan habis di tempat ini? Tidak, aku harus berusaha untuk keluar. Mustahil tak ada jalan keluar dari sini.”

Karena kekuatannya sedikit pulih, Alvin berdiri, dan mencoba lagi berjalan. Ia mengambil beberapa buah pisang lagi dimasukkan ke dalam sakunya, barangkali dia kelaparan di jalan lagi. Ia terus berjalan, menyibakkan semak yang melintang, tak peduli lagi pedih perih pada kaki dan tangannya.

Karena lelah, Alvin hanya bisa berjalan pelan. Di depannya, ia melihat sebuah sungai kecil. Alvin mendekat, dan untunglah tidak begitu sulit. Ia duduk di sebuah batu, kemudian melepas sepatunya, lalu menceburkan kakinya dan menggoyang-goyangkannya. Air dingin itu menyegarkan tubuhnya. Kalau pantas ia ingin masuk ke dalam sungai, berendam ber-lama-lama.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. 

"Bukankah tak ada siapa-siapa di tempat ini? Kalau aku mandi dan melepas pakaianku, tak akan ada yang melihatnya."

Dengan keyakinan bahwa tak akan ada orang yang melihatnya, Alvin melepas pakaiannya, meletakkannya di atas batu. Kemudian ia masuk ke dalam sungai yang tidak begitu dalam. Hanya sampai ke dadanya. Alvin berendam di sana, sambil menggosok-gosok tubuhnya, yang kemudian terasa perih karena ada luka-luka di sana-sini. Tapi Alvin tak peduli. Daripada lukanya terkena kotoran dan infeksi, lebih baik dia membersihkannya. Bukankah air sangat bening dan tidak tercemari oleh polusi?

Sejenak Alvin menghilangkan rasa sedihnya. Tapi tak lama berendam, Alvin segera naik ke atas, menuju ke arah batu di mana ia meletakkan baju-bajunya. Walau kotor, tapi baju itu kering kan?

Tapi betapa terkejutnya Alvin, ketika melihat tak ada apapun di atas batu. Bajunya lenyap entah kemana.

Alvin celingukan mencari, barangkali ia lupa meletakkan di batu yang lain. Tapi baju dan celananya benar-benar tak ada.

Alvin kembali menceburkan tubuhnya ke dalam sungai. Tiba-tiba ia merasa ada yang mengawasinya. Alvin merendam tubuhnya semakin dalam. Hanya kepalanya saja yang tampak. Rasa malu meliputi perasaannya. Dan tiba-tiba juga, ia mendengar suara mengikik, seperti tawa beberapa orang perempuan.

“Celaka. Ada yang melihatku?”

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...