Monday, June 27, 2022

KEMBANG CANTIKKU 06

 

KEMBANG CANTIKKU  06

(Tien Kumalasari)

 

“Maas, berhenti Maaas, Mas Wahyudiiii,” Sunthi terus mengejar sambil berteriak, tapi mana mungkin Wahyudi mendengar teriakannya? Mobil yang dikemudikan Nano semakin menjauh, dan menghilang di tikungan.

Sunthi menjatuhkan dirinya di tepi jalan, dan bersimpuh sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis terisak-isak. Orang-orang yang lewat hanya melihatnya sekilas, kemudian berlalu.

Tapi seorang pengendara sepeda motor berhenti di dekatnya.

“Apa kamu Sunthi?” tanya pengendara sepeda motor itu pelan. Ia seorang laki-laki muda bertubuh tegap.

Sunthi mengangkat kepalanya, membiarkan wajahnya basah oleh air mata.

“Sunthi? Kamu Sunthi kan?” laki-laki itu turun dari atas sepeda motornya.

“Mas Tino ?” tanya Sunthi lirih. Ia ingat Tino, karena sering ikut simboknya ke pasar, dan mengenalnya sebagai penjual bakso keliling yang mangkal di pasar itu setiap pagi.

“Iya, kamu kenapa?” tanya Tino sambil duduk di samping Sunthi. Duduk begitu saja tanpa alas. Udara memang panas, tapi tempat Sunthi duduk bersimpuh berada di bawah sebuah pohon rindang, sehingga keduanya tidak kepanasan.

“Ada apa? Kok siang-siang begini kamu ada di sini? Mana simbok? Kok kamu sendirian?” tanya Tino bertubi-tubi.

“Aak… ku … sedih … mas … “ jawabnya sambil mengusap air matanya.

“Kenapa? Dimarahi simbok? Atau bapak?”

“Bukan … dia … menghilang … tadi itu pergi begitu saja … aku melihatnya .. aku berteriak … dia tidak mendengar,” kata Sunthi begitu saja, tanpa sadar bahwa tentu saja Tino tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya.

“Kamu ngomong apa? Siapa yang kamu ceritakan itu?” tanya Tino bingung.

“Laki-laki yang lupa segala-galanya itu …”

“O, maksudmu dia? Iya, simbok penah cerita sama aku tentang laki-laki bernama Wahyudi. Dia yang kamu tangisi sampai wajahmu bengkak seperti itu?”

“Apa? Wajahku bengkak? Aku jelek sekali bukan?” tanya Sunthi sambil meraba wajahnya.

Tino tersenyum tipis. Ada rasa cemburu di hatinya karena sebenarnya dia jatuh hati sama anaknya mbok Tukiyo yang sangat dikenalnya di pasar. Dan mbok Tukiyo sendiri sudah pernah mengatakan bahwa ingin mengambilnya sebagai menantu, walau Tino tahu bahwa itu dikatakannya setengah bercanda.

“Jelek sekali,” canda Tino.

“Hmm … pantas dia tak pernah suka sama aku …” gumamnya pelan.

“Tidak, aku hanya bercanda. Kamu tampak sembab karena habis menangis. Tapi kamu tetap manis seperti gula.”

“Bohong … “

“Sungguh.”

“Aku tidak mau seperti gula, nanti aku dikerubutin semut.”

Tino tertawa.

“Semut tidak akan berani mendekati kamu, karena aku sudah melarangnya.”

“Huuhh, mana bisa kamu melarang semut mengerubutin gula?”

“Ya bisa dong, aku ini kan rajanya semut.”

Tak urung Sunthi tertawa mendengar canda yang dilontarkan Tino.

“Nah, gitu, tertawa, biar tambah cantik.”

“Mana mungkin aku cantik, kulitku kehitaman. Orang cantik itu kulitnya putih, bersih.”

“Bukan begitu. Orang cantik itu adalah orang yang punya budi pekerti luhur, baik, santun, penuh kasih sayang. Maka, jadilah orang cantik, walaupun kulitmu kehitaman.”

Mata Sunthi berbinar. Ia tidak banyak bergaul dengan pria manapun, tapi ia senang Tino memperhatikannya. Bahkan Wahyudi yang dibohonginya tentang dirinya yang calon isterinya, sama sekali tidak memperhatikannya, bahkan kelihatan cuek dan tidak peduli.

“Sebenarnya Wahyudi pergi ke mana?” Tino kembali bicara tentang Wahyudi, walau hatinya sedikit panas.

“Tadi bersama bapak pergi ke pasar, tapi tiba-tiba dia menghilang, bapak sudah mencarinya, tetap tidak ketemu. Karena penasaran, aku berangkat sendiri mencarinya, dan tadi aku melihatnya. Tapi dia bersama seorang laki-laki, dan naik mobil. Dia tak mendengar teriakan aku, mobil itu membawanya pergi.”

“Kalau begitu barangkali dia sudah ketemu keluarganya.

“Begitukah ?”

“Mungkin saja. Nyatanya kemudian dia pergi, naik mobil bersama orang lain.”

Sunthi termenung. Kemungkinan itu memang ada. Lalu dia ketakutan sendiri. Kalau Wahyudi sudah ketemu keluarganya, pasti dia akan segera mengerti bahwa Sunthi bukan apa-apanya.

“Kalau benar begitu, apa lagi yang kamu harapkan? Kamu bukan apa-apanya dia kan? Bisa jadi dia tak akan pernah kembali ke rumahmu.”

Sunthi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Maukah aku antar pulang?”

Sunthi ragu sejenak, tapi kemudian dia sadar, bahwa hari telah menjelang sore, dan dia sangat letih karena berlarian mengejar mobil yang ditumpangi Wahyudi tadi.

“Mau nggak?”

“Sampeyan nggak jualan?”

“Daganganku sudah habis.

“Oo, laris ya Mas.”

“Laris, syukurlah, aku sudah bisa nabung untuk melamar calon istri, besok.”

“Sampeyan mau kawinan?”

“Ya pastilah, masa aku harus membujang terus?”

“Oh, selamat ya Mas.”

“Selamat apanya?”

“Katanya mau kawinan?”

“Iya, itu sudah pasti, tapi yang mau aku jadikan istri belum ada.”

“Oo, kirain …  sudah ketemu jodoh.”

“Aku sudah ketemu orangnya, cuma belum tahu, dia mau apa tidak menjadi istriku.”

“Masa sih tidak ada yang mau.”

“Kamu carikan deh … “

“Aku tidak pernah ke mana-mana, ya nggak mungkin bisa mencarikan jodoh untuk sampeyan.”

“Kalau begitu kamu saja,” kata Tino sekenanya.

“Aku?”

“Daripada kamu mengejar laki-laki yang belum pasti, apa tidak lebih baik memilih aku saja?”

Sunthi tertunduk, tersipu. Ia jarang bergaul, dan apa yang dikatakan Tino membuatnya berdebar.

“Maukah? Atau … kamu sudah benar-benar cinta mati sama laki-laki yang belum jelas asal usulnya itu?” desak Tino.

“Entahlah. Aku hanya suka, karena dia ganteng sekali.”

“Aku juga ganteng lho. Coba kamu tatap aku. Pandangi aku, kurang ganteng apa aku ini?” kata Tino sambil beralih duduk di depan Sunthi.

Sunthi menatapnya sejenak, kemudian tersipu. Ia merasa aneh tiba-tiba. Terhadap Wahyudi, ia tidak merasakan jantungnya berdebar sekencang ini. Ia hanya suka karena Wahyudi ganteng, tapi debaran aneh di dadanya tidak pernah ada.

“Hei … memandangnya kurang lama, jadi kamu belum yakin,” canda Tino.

“Mas Tino aneh ah.”

“Ya sudah, ini sudah sore, aku antar kamu pulang ya,” kata Tino sambil berdiri.

“Ayo, berdiri sendiri, atau mau aku gendong?” lanjut Tino masih sambil bercanda.

"Tadi kok kamu tahu bahwa itu aku, bukankah wajahku tidak kelihatan?" tanya Sunthi.

"Baju yang kamu pakai itu kan yang beli simbok? Aku lho yang memilihkan warnanya. Jadi aku ingat. Dan tadi hanya kira-kira saja, ternyata benar."

Sunthi bangkit dari duduknya. Sisa air mata itu sudah tak ada. Bayangan Wahyudi sirna perlahan dari ingatannya, karena ada debar aneh yang saat itu dirasakannya.

***

Tukiyo sedang memarahi istrinya karena Sunthi tiba-tiba pergi tanpa pamit, ketika tiba-tiba sepeda motor Tino memasuki halaman kecilnya.

“Lho, itu Tino. Sama Sunthi kan?” teriak mbok Tukiyo.

“Ternyata pergi sama Tino, kok tidak bilang sama orang tuanya,” kata Tukiyo sambil keluar dari dalam rumah, menyambut datangnya Tino dan Sunthi, dengan wajah masam.

Tino sudah turun dari motornya, mengikuti Sunthi yang segera berjalan mendekati rumah.

“Dari mana kamu?” hardik Tukiyo.

“Maaf Pak, aku …”

“Kamu juga, kalau mau membawa anak gadis orang, bilang dulu sama orang tuanya,” katanya kepada Tino tanpa ada keramahan sedikitpun.

“Maaf Pak, saya bukan membawa Sunthi dari rumah. Saya menemukan Sunthi menangis di tepi jalan, dan sekarang mengantarkannya pulang,” terang Tino, sementara Sunthi sudah lari masuk ke dalam rumah.

“Sunthi menangis di tepi jalan? Di mana?” sela mbok Tukiyo kaget.

“Di dekat pasar Mbok, di depan toko-toko pakaian.”

“Jadi Sunthi tidak pergi sama kamu?” tanya Tukiyo sambil merendahkan nada suaranya.

“Tidak Pak.”

“Bapaknya Sunthi itu, belum-belum sudah main marah saja,” gerutu istrinya.

“Sunthiiii !” teriak Tukiyo.

Sunthi datang sambil menundukkan wajahnya.

“Apa yang kamu lakukan? Mengapa menangis di tepi jalan?” kata Tukiyo kesal.

“Aku … melihat mas Wahyudi … “

“Melihat Wahyudi? Di mana?” tanya Tukiyo dan istrinya hampir bersamaan.

“Dia habis belanja … bersama seorang laki-laki., lalu naik mobil, pergi begitu saja.”

“Siapa dia?” tanya Tukiyo.

“Nggak tahu, aku panggil dia, tapi sepertinya tidak mendengar.”

"Jangan-jangan kamu salah orang," kata simboknya.

"Dia memakai bajunya bapak kok. Jadi aku yakin."

“Siapa ya yang membawanya?” gumam Tukiyo.

“Mungkin ketemu salah seorang kerabatnya,” kata istrinya.

Tukiyo menghela napas.

“Kalau benar demikian, ya syukurlah. Kasihan dia. Tapi kenapa kamu menangis?” tanya Tukiyo sambil menatap Sunthi.

“Aku berteriak-teriak, dia tidak mendengar.”

“Memalukan. Dan kamu pergi tidak pamit sama bapak, sama simbokmu?”

Sunthi tidak menjawab, hanya menundukkan wajahnya.

“Ya sudah, ini malah Tino tidak segera di suruh duduk. Ayo No, masuk dulu, simbok buatkan wedang anget,” kata mbok Tukiyo ramah.

“Sudah Mbok, terima kasih, saya mau langsung pulang saja. Sudah sore,” jawab Tino.

“Maaf lho No, aku tadi marah-marah sama kamu. Habis kami bingung tiba-tiba Sunthi menghilang begitu saja.

“Tidak apa-apa kok Pak, saya maklum. Baiklah, saya permisi, Pak, Mbok.”

“Iya No, terima kasih ya, sudah mengantarkan Sunthi,” kata Tukiyo dan istrinya serempak.

“Sama-sama, hanya kebetulan saja saya lewat,” kata Tino sambil mendekati sepeda motornya, menstarternya, kemudian berlalu.

“Dasar anak tidak tahu malu, mengapa coba kamu menangisi laki-laki yang bukan siapa-siapa kamu, dipinggir jalan pula. Pasti kamu menjadi tontonan di sana,” omel Tukiyo sambil masuk ke dalam rumah.

“Untung ketemu Tino,” sambung istrinya.

“Coba kalau tidak, lebih lama menjadi tontonan di sana.”

Sunthi hanya terdiam.

“Tino itu baik, apa dia belum punya istri?” tanya Tukiyo tiba-tiba.

“Belum Pak, dia pernah bilang sama aku, katanya pengin jadi menantuku,” jawab istrinya.

“Kalau dia bujangan, dan jelas, kenapa tidak?”

Sunthi setengah berlari masuk ke dalam kamar. Ia ingin bertanya kepada hatinya, apa yang sebenarnya terjadi. Mana yang lebih disukainya, Wahyudi, atau Tino.

***

Bu Kartiko membawa Wahyudi masuk ke dalam rumah, di ruang tengah, di mana suaminya sedang duduk di atas kursi roda, sambil melihat acara televisi.

Wahyudi sudah mandi, dan berganti pakaian bersih dan lebih pantas. Dia kelihatan gagah dan tampan.

“Pak, ini yang namanya Wahyudi. Dia akan menemani dan melayani Bapak,” kata bu Kartiko sambil meminta Wahyudi agar duduk di sofa, di depan pak Kartiko.

Pak Kartiko menatap Wahyudi, dari kepala sampai kaki.

“Hm, kamu lumayan tampan. Namamu Wahyudi?” tanya pak Kartiko tanpa melepaskan pandangannya ke arah Wahyudi.

“Ya Pak,” jawab Wahyudi sambil menganggukkan kepalanya.

“Istriku bilang, kamu tidak ingat apapun?”

“Benar Pak.”

“Bagaimana bisa terjadi?”

“Maaf Pak, itu juga saya tidak bisa menjawabnya. Saya lupa semuanya.”

“Hm, baiklah, berarti tidak banyak yang bisa aku tanyakan sama kamu, bukan?”

“Saya mohon maaf.”

“Kamu tahu, bahwa kamu harus melayani aku?”                     

“Ya Pak, itu yang Ibu katakan sama saya.”

“Aku ini lumpuh, tidak bisa berjalan. Apapun harus dilayani. Dari makan, mandi, bahkan menjelang tidurpun aku butuh seseorang untuk membantu aku. Sebelum ini, ada perawat yang dibayar oleh istriku. Perawat laki-laki, pastinya, tapi aku tidak suka. Dia suka mengeluh dan sering lupa mengingatkan aku untuk makan dan minum obat. Akhirnya selama sebulan ini istriku sendiri yang melayani aku. Aku kasihan sama dia. Dia itu kan tua nya sama saja seperti aku. Kalau terlalu capek, jangan-jangan dia juga akan jatuh sakit, lalu kami sama-sama sakit. Bagaimana, susah kan?”

Wahyudi mengangguk.

“Aku mau mencarikan perawat lain, tapi bapak tidak mau Nak, semoga sampeyan bisa meladeninya,” sambung bu Kartiko.

“Saya akan mencobanya Bu, tapi saya mohon, panggil nama saya saja, tidak usah pakai ‘nak’. Saya jadi tidak enak.”

“Baiklah, tidak apa-apa. Nanti akan aku beri kamu catatan, tentang jam tidur bapak, jam makan, dan obat-obat yang harus di minum.”

“Baiklah.”

“Kalau hari Minggu kamu boleh libur. Demikian juga Nano, supir di rumah ini. Kecuali ada hal-hal mendesak yang mengharuskan kami membatalkan liburan kalian. Dan untuk itu ada uang lembur bagi kalian.”

“Bagi saya, tidak mendapat uang juga tidak apa-apa, karena saya sudah mendapat tempat tinggal yang layak dan makan cukup.”

“Tidak, jangan begitu. Mana mungkin kami tidak membayar tenaga orang yang bekerja untuk  kami. Oh ya, kamar kamu bersebelahan dengan kamarnya Nano. Nano itu sebenarnya namanya Marno, kami cari enaknya saja. Nano, lebih gampang,” kata bu Kartiko.

Wahyudi mengangguk. Ia berharap bisa melakukan tugasnya dengan baik, sehingga tidak mengecewakan orang yang sudah menolongnya.

“Baiklah, kamu boleh istirahat dulu sekarang, mulailah bekerja besok pagi, sementara aku akan membuatkan catatan tugas kamu dulu.

“Baik … Bu.”

“Oh ya, satu lagi, kalau siang, cucuku Karmila ada di sini bersama pengasuhnya, karena ayah dan ibunya bekerja dari pagi sampai sore. Sepulang bekerja, mereka menjemput anaknya kemari.

Wahyudi mengangguk. Pantas ketika pulang dari belanja dia tak lagi melihat Mila di rumah itu.

“Mereka mengendalikan usaha kami, karena pak Kartiko sudah tidak lagi mampu bekerja.”

“Anakku, laki-laki, namanya Wisnu. Istrinya Aqila namanya," sambung pak Kartiko.”

Wahyudi terkejut mendengar nama itu. Qila … Qila … dan gadis kecil berkepang dua itu kembali terbayang di benaknya.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

 

 

 

 



Saturday, June 25, 2022

KEMBANG CANTIKKU 05

 

KEMBANG CANTIKKU  05

(Tien Kumalasari)

 

Seorang wanita cantik turun dari dalam mobil, segera meraih anak kecil yang digendong Wahyudi. Wahyudi membungkukkan badannya.

“Kamu mau menculik cucuku?” tanyanya dengan tatapan tajam.

“Tidak Bu, anak kecil ini lari ke jalan, tanpa sadar ada sepeda motor lewat, lalu saya menggendongnya dan mengajaknya minggir.

“Haah? Tinah ? Betul yang dikatakan pria ini?” tanyanya sambil memandang wanita berbaju putih yang menundukkan kepala, ketakutan.

“Jawab Tinah!” kata sang nyonya dengan nada tinggi.

“Iy .. iya Bu, ssaya … tidak tahu ..ttad … tadi.” Tinah ketakutan.

“Bagaimana kamu ini? Momong anak kecil saja tidak becus? Lagi ngapain kamu tadi? Pasti mainan ponsel, ya kan?”

“Mm … maaf Bu, lain kali tidak lagi,” jawabnya gemetar.

“Maaf … maaf … kamu pikir dengan permintaan maaf itu kamu merasa sudah cukup? Bagaimana kalau cucuku kenapa-kenapa? Untung ada masnya ini yang menyelamatkannya, bagaimana kalau tidak?”

Tinah menangis terisak.

“Kamu mau saya pecat?” hardik nyonya itu sambil menunjuk ke arah hidung Tinah.

“Jangan Bu, saya mohon. Maafkan … saya … dan jangan pecat ss… saya Bu, saya mohon, ampuun Bu … saya tidak akan mengulanginya. Tadi saya baru menerima kabar, saudara ada yang sakit, tidak sadar, Mila lari ke jalan … ampun Bu … saya janji … tidak akan mengulanginya …” isaknya sambil berlutut di kaki sang nyonya,

Wahyudi hendak berlalu, tak sampai hati melihat Tinah berlutut sambil menangis. Tapi sang nyonya melihatnya.

“Eh Mas … tunggu Mas …”

Wahyudi berhenti.

“Sampeyan mau ke mana?”

“Saya … mau … pullang Bu ..” katanya ragu, karena sebenarnya dia tidak tahu harus pulang ke mana.”

“Rumahnya mana? Ayo masuklah dulu …” kata nyonya cantik yang sedang menggendong cucunya itu, sambil memintanya masuk ke rumah.

Wahyudi mengikutinya, dengan  perasaan masih merasa ragu. Sungguh dia akan kebingungan apabila mendapatkan banyak pertanyaan tentang dirinya.

“Ayo masuklah. Mm … baiklah, duduk di teras sini saja,” katanya sambil masih menggendong cucunya. Tiba-tiba anak kecil berkucir dua dan bernama Mila itu merosot turun dan menghampiri Wahyudi. Wahyudi merengkuhnya, lalu mendudukkan di pangkuannya.

Sang nyonya cantik tersenyum cerah.

“Mila kok tiba-tiba suka sama sampeyan? Berarti sampeyan ini orang baik, karena anak kecil lebih peka perasaannya. Dia tidak akan lengket dengan orang yang berniat jahat.”

“Terima kasih Bu,” dan lagi-lagi Mila berdiri di pangkuan Wahyudi, lalu mempermainkan rambut ikalnya.

“Rumahnya di mana Nak?” kata nyonya itu sambil membuka dompetnya, kenudian  menyerahkan sejumlah uang, diulungkannya pada Wahyudi.

“Oh, ini … untuk apa?”

“Sebagai rasa terima kasih saya Nak, karena sampeyan telah menyelamatkan cucu saya.”

“Tidak Bu, saya melakukannya bukan karena menginginkan uang. Mana mungkin saya akan membiarkan seorang anak mengalami celaka di jalan? Pasti semua orang juga akan melakukannya.”

“Baiklah, itu benar, tapi tolong terimalah ini. Kalau kurang akan saya tambahin. Ini hanya satu juta.”

“Ya ampun, bukankah itu sangat banyak?”

“Apa artinya dibandingkan dengan nyawa cucu saya?”

“Tolong Bu,” Wahyudi menolaknya.

“Tolong juga Nak, jangan membuat saya berhutang.”

“Ibu tidak akan berhutang apapun sama saya. Saya tidak menghutangkan apapun.

“Ya Tuhan, bagaimana ada orang sebaik sampeyan? Tapi tolong terimalah.”

Wahyudi menggelengkan kepalanya pelan, tapi merasa kasihan melihat nyonya cantik itu memohon-mohon sambil tetap mengulurkan uangnya.

Wahyudi menerimanya dengan gemetar dan berlinang air mata. Sesungguhnya bukan uang itu yang diinginkannya, tapi kembalinya ingatannya.

“Terima kasih Nak. Senang sekali, sampeyan mau menerimanya. Tapi sampeyan belum menjawab pertanyaan saya. Dimana rumah sampeyan?”

“Saya … “ Wahyudi tampak bingung.

“Jauhkah?”

“Sesungguhnya, saya tidak ingat apa-apa …” jawabnya dengan wajah pilu, tapi kemudian dia mencium pipi Mila ketika gadis itu mengusap air matanya.

“Tidak ingat apa-apa? Apa maksudnya Nak?”

“Saya … sakit, tidak ingat siapa saya dan apa yang terjadi. Saya bingung dimana rumah saya, siapa keluarga saya.”

“Ya Tuhan. Bagaimana bisa begitu?”

Wahyudi menggelengkan kepalanya pelan.

“Kalau nama … ?”

“Katanya, nama saya Wahyudi.”

“Kok katanya? Kata siapa?”

“Kata … orang yang menolong saya, atau … entahlah, saya juga bingung.”

“Siapa yang menolong sampeyan?”

“Seseorang, namanya Tukiyo, tapi saya juga bingung, bagaimana asal mulanya. Mungkin dia menemukan saya dalam keadaan sakit, lalu ditolongnya, tapi anak pak Tukiyo mengatakan bahwa saya ini calon suaminya.”

“Jadi sampeyan calon menantu orang yang bernama Tukiyo itu?”

“Entahlah, saya bingung sekali.”

“Di mana rumah Tukiyo itu?”

“Saya tidak tahu Bu, saya tadi mengikutinya, tapi saya jalan sendiri dan tersesat, lalu saya bingung. Jangan bertanya apapun, saya tidak akan bisa menjawabnya.”

“Ya ampuun, pasti calon istri sampeyan juga bingung mencari sampeyan.”

“Entahlah, saya tidak suka dia. Entah kapan saya berniat mau memperistrikannya, saya tidak pernah merasa suka, tapi saya tidak bisa menolaknya.”

Nyonya cantik itu geleng-geleng kepala. Ikut bingung mendengar kisah Wahyudi.

“Lalu sekarang sampeyan mau ke mana?”

“Entahlah … saya tidak tahu.”

Nyonya cantik itu diam sesaat, merasa iba melihat wajah ganteng yang tampak kusut itu.

“Maukah sampeyan tinggal disini?”

“Ssaya? Tinggal disini?”

“Iya, maukah ? Saya yakin sampeyan bukan orang desa, walaupun pakaian sampeyan sangat sederhana. Kulit sampeyan begitu bersih, tutur kata sampeyan sangat bagus dan santun.”

“Entahlah Bu, saya bingung.”

“Disini rumah saya. Saya tinggal bersama pak Kartiko, suami saya. Kami punya sebuah usaha dibidang properti. Sampeyan tahu apa itu properti?

“Itu … usaha … bangun perumahan .. dan sebangsanya, bukan?”

“Benar. Nah, ternyata sampeyan tidak bodoh. Sampeyan hanya bingung. Suami saya sakit strook dan tidak bisa berjalan. Barangkali sampeyan juga bisa membantunya melayani suami saya, Apa sampeyan mau? Sampeyan bukan saya anggap sebagai pembantu, tapi keluarga."

“Maksud ibu?”

“Bekerjalah sama saya, dapat gaji.”

“Tapi … saya kan”

“Coba saja. Daripada sampeyan berjalan tanpa tujuan. Nanti kalau ada keluarga sampeyan yang mencarinya kan gampang. Bagaimana?”

Wahyudi masih termangu.

“Mengapa Ibu percaya pada saya? Bagaimana kalau sebenarnya saya ini orang jahat yang bisa saja mencelakai keluarga Ibu?”

Bu Kartiko tak bisa menjawabnya. Ia menatap Wahyudi tanpa berkedip. Iya juga sih, mengapa dia sangat mempercayai Wahyudi, dan malah ingin mempekerjakannya?

“Kalau sampeyan menanyakan hal itu, saya  tak bisa menjawabnya. Tiba-tiba timbul rasa iba di hati, karena yakin bahwa sampeyan orang baik.

“Kalau begitu uang Ibu saya kembalikan saja.”

“Lho, bagaimana sih Nak?”

“Kan saya sudah boleh tinggal di sini dan bekerja, dan dapat gaji.”

“Dengar, sampeyan bisa mempergunakan uang itu untuk beli pakaian yang lebih pantas. Nanti Nano sopir saya akan mengantarkan sampeyan belanja, tapi sekarang istirahatlah dulu. Sampeyan belum makan bukan?”

Wahyudi tertunduk malu.

“Nano …” teriak bu Kartiko memanggil sopirnya.

“Ya Bu,” kata Nano, sopir yang umurnya sebaya Wahyudi, sambil mendekat.

“Ini lho No, ini namanya Wahyudi. Dia akan bekerja disini, tapi dia tidak punya pakaian pantas. Nanti ajak dia makan dulu di belakang sana, lalu antarkan dia beli pakaian beberapa potong. Pokoknya pakaian ganti, dari pakaian dalam sampai luar, dan semua kebutuhannya. Tidak usah yang mahal, tapi yang bagus dan pantas. Belikan juga sepatu dan sandal untuk harian. Dia sudah membawa uang, kalau kurang, tolong pinjamin dulu, nanti aku ganti.”

“Baiklah Bu,” katanya sambil menatap Wahyudi. Wahyudi mengangguk sopan.

“Ini namanya Wahyudi, dan ini, Nano sopir saya Nak,” kata Bu Kartika sambil mengambil Mila dari pangkuan Wahyudi, lalu masuk ke dalam.

“Ajak makan dulu sekarang No.”

“Iya Bu”

Sunguh unik nasib Wahyudi. Tiba-tiba saja ada yang menaruh iba, tiba-tiba mendapat uang satu juta, tiba-tiba juga disuruh bekerja, tanpa curiga. Tapi bukankah orang baik selalu mendapatkan kebaikan?

***

Tukiyo masih mondar mandir di sekitar tempat dia berpisah dengan Wahyudi. Lalu berjalan ke arah pertokoan, barangkali Wahyudi ingin beli sesuatu, ke deretan warung-warung, barangkali Wahyudi merasa haus dan lapar. Tapi tak ada gambaran kemana Wahyudi menghilang.

Tukiyo pulang dengan tangan hampa.

Sunthi yang terus menungguinya di depan rumah, sangat kecewa melihat ayahnya pulang sendirian.

“Tidak ketemu Pak?” tanya mbok Tukiyo yang berdiri di samping anaknya.

Pak Tukiyo menggeleng, pasrah. Ia duduk di bangku yang ada di pelataran, tampak letih.

“Aku nggak punya calon suami dong,” celetuk Sunthi sedih.

Tukiyo terkejut, menoleh ke arah anaknya yang kemudian bersimpuh begitu saja di tanah.

“Apa maksudmu?” tanya Tukiyo.

Sunthi terkejut. Tadi ia tak sadar mengucapkannya, dan merasa malu ketika ayahnya menatapnya.

“Mengapa kamu menganggapnya sebagai calon suami? Apa dia pernah melamar kamu? Mengatakan sama kamu bahwa kamu akan diambilnya sebagai istri?”

“Maaf Pak, aku hanya berharap.”

“Apa?”

“Pak, Sunthi itu suka sama nak Wahyudi. Dia bahkan menipu nak Wahyudi, bahwa dia adalah calon istrinya,” terang mbok Tukiyo yang khawatir suaminya akan semakin marah.

“Memalukan. Kalau dia sudah melamar kamu, boleh saja kamu bilang begitu.”

“Tapi mas Wahyudi tidak menolak kok.”

“Kamu mempergunakan keadaannya yang lupa ingatan untuk membohongi dia? Kalau dia tiba-tiba ingat dan ternyata kamu bukan calon istrinya, apa kamu tidak malu? Pantesan kemarin dia ngomong aneh, dan aku tidak mengerti,” kesal Tukiyo.

Sunthi menundukkan kepalanya.

“Kalau suatu hari dia pulang kemari, kamu harus minta maaf sama dia dan mengatakan bahwa kamu bersalah telah membohongi dia,” tegas kata Tukiyo.

“Yaah, Pak … aku malu dong.”

“Sebuah kejujuran tidak membuat seseorang mempermalukan kamu,” kata Tukiyo bijak.

“Bukankah lebih memalukan kalau dia teringat kemudian ternyata sadar bahwa kamu bukan calon istrinya?” lanjutnya.

Sunthi menundukkan wajahnya.

“Benar apa yang dikatakan bapakmu nduk, kalau memang dia jodohmu, pasti akan terjadi. Jodoh itu pemberian dari Gusti Allah,” hibur simboknya.

“Besok aku akan mencarinya lagi,” kata Tukiyo sambil berdiri, kemudian masuk ke dalam rumah.

“Simbok gimana sih, kok nggak bantuin Sunthi?” gerutu Sunthi ketika simboknya juga beranjak memasuki rumah.

“Kamu sudah melakukan kesalahan. Bagaimana aku bisa membantu kamu? Sekarang yang kamu lakukan adalah menunggui dia untuk meminta maaf.”

“Simbok kok gituuu!” kata Sunthi setengah berteriak.

Tapi tiba-tiba terbit keinginan Sunthi untuk pergi mencarinya.

***

“Siapa dia yang kamu maksud itu Bu?” tanya pak Kartiko ketika istrinya mengatakan bahwa akan ada yang melayaninya.

“Dia itu namanya Wahyudi. Tadinya dia menolong cucu kita yang mau tertabrak sepeda motor di jalan, tapi dia itu sedang sakit, ibu kasihan sama dia.”

“Ibu gimana, orang sedang sakit, kenapa disuruh melayani aku? Nanti aku ketularan sakit, bagaimana?”

“Dia itu bukan sakit karena penyakit pak, tapi sakit ingatan.”

“Dia gila?”

“Bukan juga. Dia lupa segala-galanya, bahkan namanya juga karena diberi orang dengan nama itu. Tapi dia itu baik, jujur, ibu beri dia uang, tadinya menolak mentah-mentah, sampai aku memohon-mohon, barulah dia menerima. Sekarang dia sedang pergi sama  Nano, ibu suruh beri pakaian.”

“Beli pakaian?”

“Iya, soalnya pakaian yang dipakainya itu warnanya sudah lusuh, dan celananya itu celana pendek selutut, komprang. Padahal orangnya bersih, dan kelihatannya bukan orang desa.”

“Mengapa Ibu tidak menyuruhnya ketemu aku dulu, supaya aku tahu seperti apa dia. Kalau aku tidak suka dilayani dia, bagaimana?”

“Tadi Bapak sedang tidur, jadi ibu tidak menyuruhnya ketemu Bapak dulu. Memang ibu tidak melihat ke dalam, tapi waktu itu adalah waktu tidurnya Bapak. Nanti kalau dia datang, ibu suruh ganti pakaian dulu, supaya kelihatan bersih dan rapi, lalu biar ketemu Bapak.”

“Semoga saja aku suka.”

“Bapak pasti suka, dia baik kok.”

“Ibu baru saja ketemu, bagaimana bisa bilang bahwa dia baik?”

“Dari cara dia bicara, dari sikapnya, kan kelihatan Pak.”

“Jaman sekarang banyak orang tipu-tipu.”

“Tidak, ibu yakin tidak. Entah mengapa ibu merasa iba, dan sangat percaya sama dia. Tapi kalau nanti Bapak memang tidak suka, akan ibu kasih dia pekerjaan lain. Tampaknya dia bingung mau pergi ke mana, gitu. Habis dia lupa segala-galanya. Kalau dia bisa bekerja dengan baik, ibu akan membawanya ke dokter.”

“Ya sudah, terserah Ibu saja. Tapi kalau ternyata dia bukan orang baik, ibu tanggung sendiri akibatnya ya.”

Bu Kartiko hanya tersenyum, dia yakin tak akan mengecewakan suaminya.

***

Hari itu Sunthi berjalan-jalan di sekitar pasar. Dia pergi ketika ayahnya sedang beristirahat kelelahan. Dia sungguh tidak terima kalau Wahyudi tidak bisa ditemukan.

“Masa dia mau menghilang begitu saja? Tapi kan nyatanya dia memang menghilang?” gumam Sunthi sambil terus mencari-cari.

Ia terus berjalan, dan sampai di sebuah deretan pertokoan.

“Masa, dia akan berjalan sampai kemari? Bukankah dia tak punya uang, dan bapak hanya memberinya duapuluh ribu rupiah?

Tiba-tiba Sunthi terbelalak, melihat bayangan Wahyudi sedang membawa beberapa bungkusan besar, bersama seorang laki-laki muda.

“Benarkah dia mas Wahyudi? Tapi itu pakaian yang dikenakan, bukankah itu pakaian bapak?”

Dia memang Wahyudi, yang sedang berbelanja pakaian bersama Nano. Beberapa bungkusan besar dibawa keduanya, kemudian Nano masuk kedalam mobil.

Sunthi melongo, terpaku tak tahu harus bagaimana. Ia sadar dan berteriak, ketika mobil itu berlalu. Sunthi terkejut, berlari mengejarnya sambil terus berteriak.

***

Besok lagi ya

 

Thursday, June 23, 2022

KEMBANG CANTIKKU 04

 

KEMBANG CANTIKKU  04

(Tien Kumalasari)

 

mBok Tukiyo tertegun mendapat jawaban Wahyudi. Mengapa dia mengatakan bahwa Sunthi adalah calon istrinya? Dari arah dapur Sunthi masuk, kemudian menatap ibunya, yang melotot menatapnya. Sunthi menutup mulutnya, menahan senyum.

“Pasti ulah Sunthi yang membuat Wahyudi merasa seperti itu. Dassarr!” gerutu mbok Tukiyo dalam hati.

“Tapi saya belum bisa memastikan kapan mau menikahi dia Mbok.”

Mbok Tukiyo mengangguk.

“Saya mengerti."

“Keadaan saya belum normal. Masih bisa dikatakan sakit. Saya masih bingung dengan keadaan saya,” kata Wahyudi dengan wajah muram. Sungguh Sunthi bukan gadis yang disukainya. Ia masih mengingat-ingat, kapan melamar Sunthi dan ingin menjadikannya calon istri.

“Yaa nak, yang penting kamu sudah mengerti,” kata mbok Tukiyo kemudian berdiri karena tak tahu harus ngomong apa,  lalu beranjak ke belakang.

Dengan mata melotot, dipukulnya bahu Sunthi pelan.

“Apa-apaan kamu itu? Kamu mempergunakan keadaannya yang lupa ingatan untuk menipu dia? Kalau bapakmu mendengar kamu pasti dimarahi,” omel mbok Tukiyo pelan, khawatir Wahyudi mendengarnya.

“Iya mbok, kan sebenarnya aku hanya ingin mengganggunya,” kata Sunthi menahan senyum.

“Aku bisa ngomong baik-baik sebenarnya, jadi kacau. Kan aku juga malu, dikira sudah tahu kok masih ngomong mau mengambil mantu lagi.”

“Iya Mbok, maaf,” kata Sunthi sambil mengangkat nasi dari kukusan.

“Dasar !”

“Tadinya kan aku hanya mau bercanda, tapi tampaknya aku kemakan candaanku sendiri mbok, kok tiba-tiba bisa jadi suka beneran.”

“Benar kata bapakmu, kamu itu kok tidak malu mengatakan itu.”

“Kan aku bercanda sih Mbok.”

“Jangan melakukan hal yang tidak pantas. Kamu itu perempuan. Kalau yang ngomong simbok, beda lagi. Simbok kan orang tua, wajar kalau ingin mengambil mantu orang yang sekiranya pantas. Tapi bukan kamu yang kelihatan banget seperti tergila-gila.”

“Lalu dia ngomong apa?”

“Dia tidak mau menikah sekarang. Tunggu kalau ingatannya sudah pulih.”

“Yaaah, sama saja batal dong Mbok. Kalau dia pulih, mana mau sama Sunthi. Apalagi kalau dia ternyata sudah punya istri.”

“Memang sebaiknya begitu.”

“Simbok itu mau membantu Sunthi atau tidak sih.”

“Kalau melalui jalan yang wajar, ya tidak apa-apa. Artinya begini, simbok bilang ingin mengambil menantu, lalu dia mau, itu beda lagi. Kalau terjadi apa-apa … kan dia juga mau. Lha kalau dia bilang tunggu dulu, ya kamu harus terima. Dan teruslah berdoa agar ternyata dia masih bujangan, lalu kemudian suka kamu, walaupun ingatannya sudah kembali.”

“Wah, susah. Tampaknya dia juga tidak suka sama aku,” kata Sunthi dengan mulut cemberut.

“Lha kalau kamu sudah tahu bahwa dia tidak suka, kenapa kamu nyosor?”

“Iih, simbok, siapa yang nyosor?”

“Kamu suka kan? Kamu ngarep kan?”

“Tapi itu bukan nyosor Mbok. Kalau Sunthi nekat ngerayu dia, itu baru nyosor. Sikap Sunthi biasa-biasa saja kok.”

“Biasa, tapi kamu meyakinkan dia bahwa kamu calon istrinya kan?”

Sunthi tak menjawab, tapi mulutnya cemberut, dan wajahnya gelap tertutup mendung.

“Dengar ya nduk, sebenarnya simbok suka kalau bisa menjadikannya menantu. Tidak punya apa-apa juga nggak masalah, nanti kan bisa bekerja di sawah atau di kebun orang kaya sana.  Tapi simbok nggak mau main tipu-tipu.”

Sunthi meletakkan cething nasi di meja dapur, lalu mengangkat sayur dan diletakkannya semua di meja. Wajahnya masih cemberut. Ternyata simboknya tidak mendukung sepenuhnya. Lalu ia merasa bersalah telah mengganggu Wahyudi dengan omong kosongnya.

***

Siang itu seperti biasa, keluarga Tukiyo makan siang dengan sayur masakan Sunthi, dan ikan yang baru dibawa Tukiyo, kemudian di goreng oleh Sunthi.

“Tadi jalan-jalan ke mana Nak?” tanya Tukiyo sambil makan.

“Cuma di sekitar pedesaan situ, lalu pulang.”

“Kalau mau jalan-jalan, ke arah barat sana, agak dekat dengan perkotaan. Besok bapak bawain sedikit uang, barangkali dijalan haus, kan bisa beli es di pinggir jalan.”

“Ya Pak.”

“Eh, jangan jalan jauh-jauh. Nak Wahyudi nanti bingung tidak bisa pulang,” seru mbok Tukiyo khawatir.

“Ya sudah, besok jalannya bareng saya saja, kalau mau menyetor ikan ke juragan di pasar.”

“Na, kalau sama Bapak beda lagi,” kata mbok Tukiyo.

Sunthi hanya mendengarkan, wajahnya lebih banyak menunduk. Ia merasa perasaannya jadi tak menentu setelah mendengar penuturan simboknya. Ya malu, ya menyesal. Tapi rasa suka itu tidak bisa dihilangkannya. Salahnya, mengapa wajahmu ganteng banget sih, kata batinnya.

“Kamu kok diam saja sih nduk?” tegur bapaknya.

“Nggak apa-apa kok Pak.”

“Dan lagi, ini ikan gorengmu kok agak ke asinan. Ya kan Nak?” tanyanya kemudian kepada Wahyudi.

“Iya, sedikit,” jawab Wahyudi tanpa senyuman.

“Katanya kalau masak keasinan itu tandanya pengin kawin,” canda Tukiyo.

Sunthi mengangkat kepalanya, demikian juga Wahyudi.

“Bapak bisa saja,” keluh Sunthi tersipu.

Tapi Wahyudi mengartikannya lain. Ia merasa keluarga Tukiyo ingin agar dirinya segera menikahi Sunthi.

“Tapi kalau saya belum ingin menikah kok Pak, tunggu kalau saya sudah benar-benar waras,” kata Wahyudi.

“Lhoh, siapa yang menyuruh nak Wahyudi menikah? Saya kan cuma mengejek Sunthi karena menggorengnya ke asinan,” kata Tukiyo tak mengerti.

Tapi mbok Tukiyo dan Sunthi mengerti, mengapa Wahyudi berkata begitu.

Wahyudi tak menjawab, ia meneruskan makan sampai selesai, tanpa mengucapkan apapun.

***

Setelah beristirahat sejenak, Tukiyo menuju ke depan rumah, mengumpulkan kayu-kayu kering yang diambil dari ranting-ranting pohon, kemudian dibawa ke belakang, supaya mudah kalau Sunthi membuat api untuk memasak.

Wahyudi yang merasa tak enak, kemudian membantu.

“Kalau kehabisan kayu, saya biasa mencari ke hutan sana Nak.”

“Kemana?”

“Yang dekat tebing. Banyak kayu-kayu di sana. Tapi ke sana nya paling hanya dua atau tiga hari sekali.”

“O iya, saya pernah melihat Bapak membawa kayu-kayu kering dari luar. Mengapa tidak menyuruh saya membantu?”

“Jangan dulu Nak, sampeyan kan baru sembuh dari sakit, dan tampaknya belum sehat benar.”

“Tapi sekarang saya merasa tidak enak kalau hanya duduk saja.”

“Baiklah, lain kali bapak ajak nak Wahyudi ke hutan.”

***

Pagi harinya, Wahyudi ikut ke sungai untuk mencari ikan. Seperti biasanya, dia juga membawa kail, membantu Tukiyo memancing ikan. Beberapa hari ini memang dia sudah melakukannya. Tapi siang itu, Wahyudi mengikuti Tukiyo menyetorkan ikan yang didapat ke juragan ikan di dekat pasar.

Saat Tukiyo masih bicara sama juragan ikan itu, Wahyudi berjalan jalan ke sekeliling tempat itu. Pasar sudah sepi, karena hari sudah agak siang. Wahyudi terus berjalan tak tentu arah.

Akhir-akhir ini dia sering merasa bingung, karena berusaha sekuat tenaga untuk mengingat siapa dirinya, belum juga berhasil. Hanya satu yang diingat dan belum menemukan jawabnya, ialah sebuah nama, Qila.

“Qila … Qila … Qila … Siapa kamu? Wanita berambut riap-riapan itu, atau gadis kecil yang aku gendong. Tapi tampaknya gadis kecil itu yang namanya Qila. Aneh, mengapa dia datang dalam mimpiku? Apakah gadis kecil itu nyata? Atau hanya ada di dalam angan-angan dan mimpiku?” gumamnya pelan sambil terus berjalan.

Ia berjalan lumayan jauh, dan terkejut ketika menyadari bahwa tadi dia pergi bersama Tukyo. Namun dia salah jalan, dan tak bisa menemukan jalan yang tadi dilaluinya.

“Yaah, mana ya tadi jalan pulang? Kok ini tempatnya ramai, banyak rumah-rumah, tidak seperti rumah pak Tukiyo yang jauh dari tetangga,” gumamnya.

***

Sementara itu Tukiyo yang sudah selesai menerima bayarannya, bingung melihat Wahyudi tidak berada di tempat semula dia menunggu. Memang tadi dia agak lama, karena sang juragan sedang menemui tamunya.

“Kemana dia?”

Tukiyo berjalan ke sana kemari, dan tak menemukan yang dicarinya.

“Nak, Nak Wahyudi !!” ia berteriak memanggil, berharap Wahyudi akan mendengarnya lalu datang menemuinya. Tapi tak ada siapa-siapa.

“Mencari siapa Pak?” tanya seseorang yang kebetulan lewat.

“Anak saya, tadi berdiri menunggu saya disini, kok sekarang tidak ada?”

“Oh, anak kecil? Kenapa sampeyan meninggalkannya di jalan, sekarang banyak penculikan anak lho.”

“Dia bukan anak-anak. Sudah dewasa.”

“Oh, kalau sudah dewasa berarti tidak hilang, Pak. Mungkin sedang beli sesuatu,” kata orang itu sambil berlalu.

Tukiyo ingat, tadi ia memberinya uang.

“Barangkali dia kehausan, lalu membeli minum,” gumam Tukiyo sambil mencari barangkali ada tukang jual minuman di sekitar tempat itu.

Tapi tak ada. Ada juga tukang jualan makanan, tapi juga bilang tidak tahu ketika Tukiyo menanyakannya.

Tukiyo berjalan lagi dan berjalan lagi. Tapi Wahyudi seperti lenyap ditelan bumi.

“Berarti dia sudah pulang lebih dulu,” akhirnya gumam Tukiyo, kemudian berjalan ke arah pulang.

Tapi betapa terkejutnya ketika ternyata Wahyudi juga belum sampai di rumah. Kedatangannya justru membuat bingung seisi rumah, lebih-lebih Sunthi yang takut kehilangan laki-laki yang dikaguminya.

“Mengapa Bapak bisa berpisah dari dia?” tegur Sunthi sambil melongok ke arah jalan.

“Apa tadi tidak bersama sampeyan sih Pak?” mBok Tukiyo yang sudah sampai di rumah juga ikut berjalan keluar.

“Aku sedang menyetorkan ikan, lalu membantunya memasukkan di almari pendingin, sedangkan nak Wahyudi menunggu di luar. Saat aku keluar, dia sudah tidak ada.”

“Bapak tidak mencarinya, barangkali dia beli sesuatu, kan tadi bapak bilang mau memberinya uang?” kata Sunthi.

“Aku sudah mencarinya ke sana kemari. Tapi dia tidak ada.”

“Apa tidak ada yang  melihatnya, orang-orang di sekitar pasar sana?”

“Pasar sudah sepi, aku juga sudah bertanya-tanya pada setiap orang di sekitar sana, tapi tak ada yang tahu.”

“Waduh, dia kan orang bingung. Pasti ke sasar.”

“Gimana ini, aku juga bingung mau mencari ke mana lagi,” keluh Tukiyo sambil garuk-garuk kepala.

“Dia pasti nggak tahu jalan,” kata Sunthi yang kembali ke jalan lalu melihat ke kiri dan ke kanan. Tak ada bayangan orang yang dicarinya.

“Aku mau kembali ke sana, mencoba mencarinya lagi.”

“Bapak makan dulu saja. Kelihatan wajah sampeyan pucat begitu. Pasti haus, lapar dan juga lelah,” ujar mbok Tukiyo sambil menyiapkan makan untuk suaminya.

“Iya, baiklah. Aku cuci tangan dulu saja dan makan, nanti aku cari lagi.”

“Aku ikut,” seru Sunthi.

“Nggak usah, ngapain ikut. Panas-panas begini,” gerutu mbok Tukiyo.

***

Wahyudi terus melangkah, tanpa sadar bahwa dia berjalan semakin jauh dari asal dia berjalan bersama Tukiyo. Ia harus bertanya, tapi nama kampungnya Tukiyo dia juga tidak tahu. Wahyudi merasa sangat lelah. Ia ingat Tukiyo memberinya uang duapuluh ribu rupiyah. Ia kemudian duduk di sebuah bangku seorang penjual es, dan memesan segelas es buah sambil bertanya, takut uangnya kurang.

“Berapa harga segelasnya Pak?”

“Tujuh ribu rupiah Mas.”

Wahyudi mengulurkan uangnya, ia bahkan bingung apakah uang yang dibawanya kurang atau lebih dari harga es itu.

“Oh ya Mas, sebentar ya kembaliannya, saya ambilkan dulu pesanan sampeyan,” kata penjual es itu sambil menerima uang yang diberikan Wahyudi.

Wahyudi mengangguk. Ia menunggu pesanannya dengan perasaan lega karena uangnya masih ada kembaliannya.

Ia melihat ke sekeliling, semuanya tampak asing.

“Aduh, aku harus pergi ke mana ini?”

Wahyudi tersadar dari lamunannya ketika penjual es memberikan segelas es pesanannya, berikut uang kembaliannya. Ia memasukkan sisa uang ke dalam sakunya, lalu minum es nya perlahan sambil terus berpikir.

Tiba-tiba ia melihat seorang gadis kecil dengan dua kucir di rambutnya. Mata Wahyudi berbinar. Apakah itu Qila? Ia meletakkan minuman yang tinggal separo, kemudian berdiri.

Ia mengamati bocah kecil dengan dua kucir itu, yang sedang berlarian ke sana ke mari. Sedangkan seorang perempuan berbaju putih duduk di bawah pohon sambil bermain ponsel. Ia bahkan tak melihat bahwa anak kecil itu berjalan ke arah jalan.

Wahyudi terkejut karena dari arah kiri sebuah sepeda motor berjalan dengan kencang. Wahyudi berteriak sambil berlari ke arah bocah itu.

“Qilaa!!”

Wahyudi menubruk gadis kecil itu kemudian mengangkatnya, sehingga luput dari terjangan sepeda motor.

“Qila !!”

Perempuan berbaju putih itu terkejut mendengar teriakan Wahyudi. Ia melemparkan ponselnya dan berlari mendekat.

Gadis kecil itu tertawa-tawa, tidak takut sama sekali pada orang asing yang menggendongnya.

Bersamaan dengan itu, sebuah mobil memasuki halaman. Seorang perempuan di dalam mobil itu membuka jendela dan berteriak.

“Kenapa cucuku?”

Perempuan berbaju putih itu pucat pasi. Ia tegak berdiri di depan Wahyudi yang menggendong si kecil, yang tertawa-tawa memainkan rambut Wahyudi yang ikal.

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, June 22, 2022

KEMBANG CANTIKKU 03

 

KEMBANG CANTIKKU  03

(Tien Kumalasari)

 

“Nak Wahyudi … “ Tukiyo menggoyang-goyangkan tubuh Wahyudi, yang kemudian bangkit dengan bingung.

“Ada apa Pak? Sudah dapat banyak?”

“Belum, tapi nak Wahyudi tadi memanggil-manggil nama Qila. Siapa Qila?”

Wahyudi mengerutkan keningnya.

“Qila? Siapa dia?”

Tukiyo menghembuskan napas kesal.

“Tadi sampeyan memanggil-manggil nama Qila … Qila … begitu.”

“Siapa ya?”

“Aduh, mana saya tahu. Tadi nak Wahyudi mimpi apa?”

“Mimpi?” Wahyudi mengerutkan keningnya, lalu dipejamkannya matanya. Ia mencoba mengingat ingat. Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.

“Ya sudah, sampeyan tidur lagi saja, saya mau melihat kail saya,” kata Tukiyo sambil menjauh.

Wahyudi kembali membaringkan tubuhnya.

“Apa tadi dia bilang? Qila … ? Nama itu seperti tak asing bagiku. Qila … Qila … Qila …” Wahyudi terus bergumam.

Tukiyo menoleh kearah Wahyudi, setelah meletakkan ikan yang tersangkut di kailnya, di keranjang.

“Siapa Qila yang dipanggilnya? Tapi kok aneh, dia tidak ingat sesuatu, padahal aku mendengar dengan jelas dia memanggil nama itu. Tadi aku berharap dia mengingat sesuatu, ternyata tidak, apakah Qila itu nama istrinya? Atau calon istrinya?” gumam Tukiyo sambil memasang umpannya lagi.

Sementara itu Wahyudi yang membaringkan kembali tubuhnya merasa bingung. Ia memijit-mijit keningnya karena sedikit pusing. Siapa Qila?

Tapi tiba-tiba terbayang lagi gambaran dalam mimpinya. Perempuan dengan rambut awut-awutan, anak kecil dengan kucir dua.

“Siapa yang namanya Qila? Perempuan dengan wajah bengis itu? Atau anak kecil yang … ah ya … aku menggendongnya. Wajahnya imut, lucu, siapa dia? Apakah aku hanya sekedar mimpi?”

Wahyudi masih merasa pusing, ketika Tukiyo mengajaknya pergi dari tempat itu.

“Saya mau menjual ikan-ikan ini, nak Wahyudi pulang saja ya? Kelihatannya kok seperti tidak sehat begitu.”

“Kepala saya pusing setiap mencoba mengingat sesuatu,” keluhnya sambil berjalan mengikuti Tukiyo.

“Belum ingat yang namanya Qila? Apa itu nama isteri nak Wahyudi? Atau calon istri?” Tukiyo masih mencoba bertanya.

“Entahlah,” keluh Wahyudi lagi.

“Baiklah, jangan dipaksa mengingat-ingat, pulanglah dan beristirahat.”

“Istriku? Calon istri? Laki-laki setengah tua ini masih memancing-mancing ingatanku. Bukankah calon istriku adalah Sunthi?” kata batin Wahyudi.

Tapi Qila … aku merasa nama itu tidak asing lagi. Ah … ya … aku pernah bermimpi sebelumnya. Mimpi yang sama. Kapan ya? Apakah nama Qila hanya ada di dalam mimpiku saja? Namanya aneh, tapi aku merasa akrab dengan nama itu, wajahnya juga. Imut, dengan rambut dikucir dua,” Wahyudi terus membatin.

“Nak, sampeyan kebablasan, rumah kita disana, jangan mengikuti saya, saya mau menyetorkan ikan ini ke juragan yang ada di pasar,” kata Tukiyo sambil berhenti, untuk mengingatkan Wahyudi yang terus saja berjalan.

“Oh, benarkah? Iya … harusnya saya ke sana. Maaf ya Pak,” kata Wahyudi sambil membalikkan badannya.

Di depan pintu rumah sederhana itu, Sunthi berdiri menunggu. Wahyudi merasa aneh. Nama Sunthi begitu asing. Juga wajah itu. Ia membuang muka, tak berani bertatap muka dengan ‘calon istrinya’.

“Mas, nggak ikut bapak ke pasar?” tanyanya sambil tersenyum manis. Ada rasa senang ketika mempermainkan Wahyudi dengan mengatakan bahwa dirinya adalah calon istrinya.

“Aku agak pusing,” jawabnya singkat, lalu masuk ke rumah. Sunthi mengikutinya.

“Alangkah senangnya kalau aku ini benar-benar calon istrinya. Semoga bapak sama simbok tidak tahu bahwa aku telah membohongi mas Wahyudi,” kata batin Sunthi, yang masih mengikuti di belakangnya.

“Mas, baju sampeyan kok banyak tertempel rumput?”

Wahyudi mengibaskan bajunya.

“Tadi tiduran di tepi sungai ya? Memang kalau di sana hawanya sejuk, rasanya hanya pengin tidur. Dulu saya sering ikut bapak ke sungai, dan tertidur di sana,” Sunthi mengoceh sambil mengibaskan potongan rumput yang tersisa di baju cah bagus bernama Wahyudi itu.

Wahyudi membaringkan tubuhnya di balai-balai, tempat dia tidur sebelumnya. Mimpi itu terus mengikutinya.

“Qila … siapa kamu?”

Wahyudi memejamkan matanya, ketika Sunthi membawakan nasi dengan sayur mbayung di sebuah mangkuk.

“Makan dulu mas. Sayur bobor mbayung, sama irisan kates.”

“Nanti saja, aku makan sendiri,” kata Wahyudi sambil memejamkan matanya.

Sunthi masih memegangi mangkuk itu, sambil menatapnya kagum.

“Kamu kok tampan banget sih mas, gemesss akuuu,” kata batin Sunthi sambil tersenyum.

Rupanya Sunthi terjerumus kedalam kata main-main yang diucapkannya, dan tumbuhlah rasa aneh di dalam hatinya.

“Celaka, aku benar-benar suka sama dia, bagaimana ini?” ia masih membatin sambil meninggalkan Wahyudi yang terbaring sambil memejamkan mata.

***

Malam itu Tukiyo dan istrinya sedang duduk di bangku bambu depan rumahnya.

“Bagaimana ya? Sudah sebulan lebih, nak Wahyudi belum bisa mengingat apapun,” keluh Tukiyo.

“Apa sampeyan keberatan kalau dia tinggal disini?” kata istrinya.

“Bukan keberatan mbokne, tapi berarti dia itu masih sakit, belum sembuh benar.”

“Iya sih, apa kita bawa ke dukun saja ya Pak?”

“Hush, dukun mana? Kamu tahu dimana ada dukun pintar?”

“Nggak tahu sih, nanti di pasar aku mau nanya-nanya, barangkali ada yang tahu.”

“Tadi waktu ikut aku ke sungai, dia tertidur. Dan dalam tidur itu dia menyebut sebuah nama.”

“Oh ya, berarti dia mengingat sesuatu?”

“Tidak. Nama yang di sebut itu Qila.”

“Qila? Nama kok aneh,” kata mbok Tukiyo.

“Jangan-jangan itu nama istrinya, atau calon istrinya.”

“Apa? Dia sudah punya istri?” tiba-tiba Sunthi menyusul kedua orang tuanya, lalu mengambil bangku kecil, dan duduk di depan mereka.

“Kamu itu bagaimana. Aku ya nggak tahu, orang dia sendiri juga nggak ingat,” kata bapaknya.

"Wah, seandainya … dia itu mau menjadi suami aku ya mbok?” Sunthi nekat.

“Hush! Kamu itu omong apa. Omong nggak jelas begitu. Nanti kalau keluarganya mencari, lalu kamu mau apa?” kata Tukiyo kesal.

“Iya sih … ‘

“Anak perempuan nggak boleh begitu. Malu!” tukas Tukiyo.

“Semoga saja nggak ada yang nyari sampai kemari,” kata Sunthi enteng.

“Sunthi !”

Sunthi lari masuk ke dalam rumah. Ia merasa sudah sangat nekat dengan mengucapkan kata itu di depan kedua orang tuanya. Dan dia kena marah. Bagaimana kalau mereka tahu bahwa Sunthi sudah mengatakan pada Wahyudi bahwa dia adalah calon istrinya? Celaka kan? Marah bapaknya bisa berujung tongkat melayang menggebugi tubuhnya.

Keluarga Tukiyo walaupun orang desa yang sederhana, tapi menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama. Seorang perempuan tidak boleh mendahului suka kepada laki-laki, apalagi sampai mengucapkannya.

“Bagaimana anakmu itu mbokne, tampaknya dia suka sama nak Wahyudi.”

“Iya sih, nak Wahyudi itu bagus alus. Perempuan mana yang tidak suka,” kata mbok Tukiyo sedikit membela anaknya.

“Tapi kan tidak boleh begitu itu. Kecuali kalau nak Wahyudi yang minta. Lagipula dia itu siapa, jangan-jangan sudah punya istri. Aku masih penasaran dengan nama yang disebutnya. Tampaknya nama seorang perempuan. Menurut aku, barangkali ingatannya bisa segera pulih. Tanpa dia sadari dia menyebut sebuah nama. Pasti nama itu punya arti untuk dia.”

Mbok Tukiyo diam termenung. Ada sih keinginan untuk mengambil mantu Wahyudi, apalagi Sunthi itu bagi gadis desa seumurnya sudah waktunya punya suami.

Ia ingat penjual bakso keliling langganannya di pasar. Dia itu ya lumayan cakep, baik, dan tekun dalam bekerja. Mbok Tukiyo punya keinginan menjadikannya menantu, tapi kok Wahyudi lebih ganteng ya.

“Kamu mikir apa mbokne. Jangan katakan, kamu juga pengin mengambil nak Wahyudi jadi menantu,” kata Tukiyo sambil menoleh ke arah istrinya.

“Sunthi itu kan sudah dewasa, sudah saatnya punya suami,” kata mbok Tukiyo seakan mengeluh.

“Jodoh itu kalau sudah saatnya, pasti akan datang mbokne.”

“Siapa tahu, kedatangan nak Wahyudi itu memang diberikan Gusti Allah untuk anak kita.”

“Lhaaah, kok kamu punya pikiran begitu? Apa kamu tidak khawatir, kalau suatu hari nanti ada keluarga yang mencarinya, atau tiba-tiba ingatan nak Wahyudi pulih kembali. Kalau kita menjadikannya menantu, bisa kacau semuanya, apalagi kalau ternyata dia sudah punya istri.”

“Apa iya ya, dia sudah punya istri?” mbok Tukiyo masih berharap.

“Menurut aku, umur dia itu bukan muda lagi. Sudah lebih dari dewasa. Kelihatan kan wajahnya seperti apa?”

“Menurut aku, wajahnya ya ganteng, tampan, muda,” kata mbok Tukiyo ngeyel.

“Dasar perempuan,” kesal Tukiyo yang kemudian masuk ke rumah, meninggalkan istrinya yang masih termangu di pelataran.

***

Saat masuk rumah, mbok Tukiyo melihat Sunthi masih tergolek diatas tempat tidur di kamarnya, tapi dia belum memejamkan matanya.

“Nduk, kok belum tidur ?”

“Iya Mbok, kok susah banget mau tidur.”

“Kamu mikirin apa?”

“Nggak mikirin apa-apa,” katanya sambil membalikkan tubuhnya, memunggungi simboknya.

“Apa kamu suka sama dia?” kata mbok Tukiyo berbisik, takut Wahyudi yang tidur di luar kamar itu mendengarnya.

Sunthi menggelengkan kepalanya.

“Yang bener?”

Sunthi terdiam. Ia menyesal tadi mengungkapkan sesuatu tanpa disadarinya, dan membuat ayahnya marah.

“Kalau kamu memang suka, besok aku mau bicara sama dia?” kata mbok Tukiyo masih dengan berbisik.

Sunthi membalikkan lagi tubuhnya, tertelentang, lalu menatap simboknya yang duduk di tepi pembaringan.

“Kamu mau?”

Mata Sunthi berkedip-kedip. Wajah tampan itu melintas dimatanya. Lalu membuatnya berdebar-debar.

Lalu Sunthi menganggukkan kepalanya.

mBok Tukiyo mengusap kepala anaknya dengan lembut. Naluri seorang ibu, ia ingin anaknya berbahagia bukan?

“Ya sudah, tidurlah. Besok simbok mau bicara sama dia.”

Sunthi mengedipkan matanya lagi.

“Sudah, tidur. Besok kamu bangun kesiangan lho,” kata mbok Tukiyo sambil keluar dari kamar.

***

Pagi hari itu Wahyudi sudah bangun. Ia berharap mimpi seperti siang harinya, tapi ternyata mimpi itu tidak datang lagi. Ia hanya mencatat sebuah nama, Qila. Tapi siapa Qila, masih gelap baginya.

Mbok Tukiyo sudah berangkat ke pasar dengan menggendong kacang panjang sebakul yang baru saja dipanen.

Tukiyo sudah menyiapkan kail dan wadah ikan yang akan dibawanya ke sungai.

“Nak Wahyudi mau ikut lagi?”

“Nanti saja saya menyusul Pak, saya belum mandi.”

“Kalau mau, saya tunggu.”

“Tidak, nanti Bapak kesiangan.”

“Baiklah, saya berangkat dulu ya.”

Wahyudi mengantarkannya sampai ke pintu depan, lalu membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah. Tapi di pintu itu kebetulan Sunthi mau keluar, sehingga mereka bertabrakan, dan Sunthi jatuh terduduk.

“Adduuuh …” rintihnya.

“Maaf ya, tidak tahu aku, kalau kamu mau keluar.”

“Addduh,” Sunthi masih merintih sambil memegangi tubuh bagian belakangnya.

“Sakit?”

“Tidak. Namanya orang jatuh ya sakit,” jawabnya kesal.

“Bisa berdiri?”

“Tidak,” kata Sunthi sambil mengangkat tangannya, berharap Wahyudi mau menolongnya.

Wahyudi menarik tangannya, kemudian Sunthi berdiri. Ketika Sunthi mengulaskan senyuman yang menurutnya senyum termanis yang dimilikinya, Wahyudi sudah meninggalkannya. Ia ingin mandi, kemudian berjalan-jalan, entah kemana.

“Ya ampuun, sama calon isteri sendiri kok begitu amat,” keluhnya. Sambil mengelus punggungnya yang masih terasa nyeri.

Wahyudi sudah selesai mandi, kemudian berganti pakaian. Yang dikenakannya juga pakaian pak Tukiyo, karena hanya itu yang ada. Baju yang dipakainya saat datang dalam keadaan pingsan tidak ada di sekitar tempat itu. Entah Sunthi menyimpannya di mana dan Wahyudi juga tidak kepikiran untuk menanyakannya.

“Mau ke mana Mas?” tanya Sunthi ketika melihat Wahyudi berjalan keluar rumah.

“Jalan-jalan,” jawabnya tanpa menoleh.

“Aku temani ya?” kata Sunthi sambil mengejarnya.

“Tidak, aku mau menyusul bapak ke sungai,” jawabnya sambil terus melangkah.

Sunthi mengerucutkan mulutnya. Agak kesal melihat sikapnya yang dingin.

***

Tapi hanya sebentar Wahyudi menemani Tukiyo di kali, karena Tukiyo segera beranjak dengan membawa ikan-ikan yang di dapatnya agak banyak di hari yang belum begitu siang.

Wahyudi memilih pulang, karena ia merasa sangat letih. Barangkali karena kesehatannya belum pulih benar.

Ketika sampai di rumah, mbok Tukiyo ternyata sudah duduk di balai-balai tempatnya tidur, sambil membuka-buka sebuah bungkusan.

“Lha ini, nak Wahyudi sudah datang,” kata mbok Tukiyo gembira.

“Itu apa Mbok?”

“Ini nak, simbok membelikan dua potong baju untuk sampeyan,” kata mbok Tukiyo sambil mengangkat dua baju itu ke hadapan Wahyudi.

“Simbok punya uang?”

“Ya punya nak, kebetulan beberapa hari ini dagangan simbok selalu habis, tadi malah masih pagi sudah ada yang memborong. Cobain nak, tadi simbok mengukurnya dengan badannya Tino, tukang bakso di pasar yang badannya segede nak Wahyudi.

Wahyudi mengamati dua hem lengan pendek, yang satu berwarna orange menyolok, satunya merah muda.

“Bagus kan nak? Warnanya seger ya,” kata mbok Tukiyo yang berasa bangga dengan pilihan warnanya.

“Harganya nggak mahal, dan ini celananya, hanya satu, besok kalau ada uang lagi simbok belikan lagi.

Wahyudi mengernyitkan keningnya.

“Warna bajunya kok begitu amat. Itu kalau mata memandang apa tidak silau,” katanya dalam hati.

“Nggak suka to nak? Ini warna yang indah.”

“Iya Mbok, terima kasih, besok saja saya pakai,” katanya sambil meletakkan kembali celana warna biru muda itu, dan baju-bajunya.

“Nak, dengar, simbok mau bicara, duduklah dulu,” kata mbok Tukiyo.

Wahyudi duduk di samping perempuan tua yang hari itu dirasanya sangat berlebihan ramahnya.

“Saya ingin, nak Wahyudi menjadi menantu saya. Bagaimana?” kata simbok pelan.

Wahyudi terkejut, jawabannya diluar dugaan.

“Bukankah Sunthi itu calon istri saya? Kok simbok ngomong begitu lagi?”

***

Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA 05

  AKU ANAK SIAPA  05 (Tien Kumalasari)   Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang y ang...