Thursday, August 27, 2020

BUAH HATIKU 25

 BUAH HATIKU  25

(Tien Kumalasari)


Bu Prastowo merasa heran, pengemudi taksi itu terus memperhatikan Surti, sambil masih membuka telapak tangannya yang telah memegang uang bayarannya.

“Mas sopir, itu nanti uangnya jatuh lho,” bu Pras mengingatkan.

“Oh eh… iya… ma’af bu..” jawab mas sopir lalu menggenggam uangnya.

“Kok ngelihatin terus.. dia itu Surti, bekas pembantu anak saya. Tertarik ya? Dia itu sudah punya suami, bahkan sudah mengandung.”

“Ooh.. iya bu.. saya itu.. kalau melihat.. mm.. wanita mengandung kok rasanya bagaimanaaaa gitu.”

“Bagaimana itu maksudnya apa?”

“Saya belum punya anak bu, ingin sekali punya anak.”

“Lha sudah punya isteri belum?” bu Pras  malah ngajakin ngobrol.

“Sudah bu, tapi isteri saya itu tidak bakalan punya anak. Rahimnya sudah diangkat karena tumor.”

“Oh, kasihan…”

“Ya sudah bu, terimakasih banyak.”

Mas sopir menutup pintunya lalu melaju pelan meninggalkan bu Pras yang masih berdiri didepan pagar.

Ketika bu Pras berbalik lalu berjalan kearah rumah, dilihatnya Surti menunggunya sambil duduk di tangga teras.

“Lha si Darmi kemana ya, bukankah Seruni sudah punya pembantu bernama Darmi? Kok pintunya juga dikunci?”

“Saya juga sedang berfikir demikian bu, apa mungkin ikut pak Indra menjemput ke bandara?”

“Menjemput apa, aku menunggu sampai lelah dia tidak juga datang, aku menelpon berkali-kali juga tidak diangkat,” gerutu bu Pras sambil duduk di kursi teras.

“Lha kalau begitu pak Indra sama bu Indra kemana ya?”

Tiba-tiba seorang wanita yang umurnya tampak jauh lebih tua dari Surti datang mendekat. Surti segera mengenalnya sebagai Darmi, pembantu Seruni yang baru.

“Lho, mbak Surti.. sudah lama? Eh, ada tamu ?” katanya ketika melihat bu Pras.

“mBak Darmi, itu bu Prastowo, ibunya pak Indra,” terang Surti.

Darmi segera  mendekat dan menyalami bu Prastowo.

“Ma’af bu, saya baru datang,” katanya lalu membuka pintu.

“Lha mbak Darmi dari mana ? Pak Indra dan bu Indra kemana?” Tanya Surti sambil mengangkat tas yang dibawa bu Prastowo kedalam.

“Lho, pak Indra sama bu Indra tadi bilang mau menjemput ibu ke bandara. Kok ibu datang sendiri?” tanya Darmi heran.

“Aku menunggu dia tidak segera datang, ya aku naik taksi.”

“O.. padahal berangkatnya pagi-pagi. Sebentar bu, saya buatkan minum, bawaan ibu dimasukkan ke kamar saja, kemarin sudah saya bersihkan dan ditata rapi,” kata Darmi kepada Surti.

Bu Pras jadi kepikiran. Kalau mereka berangkat pagi, mengapa bisa terlambat menjemputnya? Pikir bu Pras. Perasaannya jadi tidak enak.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

“Nah, ini baru dari Indra, hallo Ndra, kamu ini kemana?”

“Ma’af bu, kalau ibu kelamaan menunggu, ibu naik taksi saja?”

“Lha kamu kenapa to? Ini aku sudah ada dirumah kamu.”

“Oh, ma’af bu, tadi sebelum sampai bandara Seruni mengeluh perutnya sakit sekali, jadi saya kembali dan melarikannya ke rumah sakit.”

“Kerumah sakit?”

“Iya bu, sedang menunggu Seruni mau melahirkan.”

“Oh, Seruni mau melahirkan? Kalau begitu aku mau menyusul ke rumah sakit saja,” kata bu Pras yang langsung panik.

“Surti… Surti..!”

“Ya bu..  itu barang-barang ibu sudah saya masukkan kedalam kamar.”

“Oh ya, biarkan saja, ayo ke rumah sakit, panggilkan taksi sekarang. Menantuku mau melahirkan.”

“Baiklah bu, rumah sakit mana ya bu, oh pasti rumah sakitnya dokter Melani. Baik saya pesankan taksi bu.”

“Ibu, silahkan diminum,” kata Darmi sambil meletakkan cawan teh keatas meja.

“Ya.. ya, “ bu Pras meneguk tehnya, dengan gelisah.

“Saya tadi disuruh kepasar oleh bu Indra, karena katanya ibu akan datang, jadi saya harus masak untuk ibu. Belanjaannya macam-macam bu.”

“Ya.. ya, gampang. Surtii… sudah taksinya?”

“Baru dalam perjalanan bu.”

“Mau kemana bu?” Tanya Darmi yang merasa heran karena tamunya mau pergi lagi.

“Menantuku mau melahirkan, aku sama Surti akan kerumah sakit. “

“Oh, Alhamdulillah… tidak mengira secepat itu. Kalau begitu sekalian baju-baju  bu Indra dan perlengkapan bayi yang sudah disiapkan dibawa sekalian ya.” kata Darmi senang.

***

Bu Pras dan Surti bergegas masuk kedalam, langsung keruang bersalin.  Dilihatnya Indra berjalan mondar mandir dengan gelisah.

“Indra,” kata bu Pras hampir berteriak.

Indra menoleh, bergegas mendekati ibunya dan mencium tangannya.

“Ma’af bu… tadi…..”

“Tidak.. tidak apa-apa.. bagaimana Seruni ?” Tanya bu Pras memotong kata-kata Indra.

“Masih ditangani bu.. silahkan duduk dulu bu, Surti.. kamu ikut bersama ibu?”

“Saya tadi menunggu bu Pras dirumah, terkejut ketika bu Pras datang sendiri.”

“Iya, tiba-tiba Seruni kesakitan, dan ternyata mau melahirkan.”

“Tapi nggak ada masalah kan Ndra?”

“Tidak bu.. “

“Semoga lancar.. “ kata bu Pras sambil duduk, diikuti Surti.

Indra tetap saja berdiri dan mondar-mandir didepan pintu ruang bersalin.

“Duduklah disini Ndra, dan berdo’a, jangan mondar mandir begitu,” tegur ibunya.

Indra menurut, duduk disamping ibunya, tangannya saling menggenggam, mulutnya komat kamit memanjatkan do’a.

Tiba-tiba terdengar suara jerit melengking seorang bayi. Mengoyak segala lamunan dan kegelisahan yang memenuhi sanubari Indra dan ibunya.

“Apakah itu anakku?” bisik Indra gemetar.

Ia langsung berdiri, mendekati pintu ruang bersalin.

Terdengar kelutak kelutik dan lengkingan tangis yang sangat keras.

“Pasti anakku, lengkingannya sangat kuat.”

Dan lengkingan itu bagai sebuah kidung dari sorga yang memenuhi semua ruang dihatinya.

Ketika pintu terbuka,  dahi Indra terantuk karena tak beranjak dari depan pintu. Seorang dokter cantik keluar, tersenyum melihat Indra mengelus dahinya.

“Pak Indra, selamat ya,” kata dokter Melani sambil mengulurkan tangan.

“Bagaimana anak dan isteri saya?”

“Bayinya laki-laki, sehat, tangisannya sangat kuat. Bu Indra juga sehat, diapun kuat.”

Indra menghempaskan nafas lega, air matanya berlinang karena bahagia. Sampai-sampai ia tak menjawab ketika sang dokter cantik berpamitan untuk meninggalkan tempat itu.

Indra setengah berlari mendekati ibunya.

“Benar, sudah lahir?”

“Cucu ibu laki-laki.. pasti ganteng seperti saya,” selorohnya sambil mengusap air matanya, lalu memeluk ibunya dengan erat.

Bu Pras juga menitikkan air mata.  Bahagia yang terurai, menyusup disekitar kalbu, bahagia yang terurai, bagai wangi bunga ketika kelopak bermekaran.

Surti juga menitikkan air mata, ia mengusapnya perlahan, lalu dengan lirih mengucapkan selamat kepada bekas majikannya.

“Selamat ya pak Indra. Bu Pras…”

Ketika pintu ruang bersalin terbuka, Indra segera menghambur kesana. Seorang suster menggendong sosok mungil yang terbungkus selimut.

“Ini putera bapak..” kata perawat itu.

“Anakku..”  Indra merengkuh bayinya, dan membisikkan adzan ditelinganya.

Seakan mendengarkan suara bapaknya, mata bayi itu terbuka, tampak bening bagai telaga. Bu Pras dan Surti yang semula duduk juga ikut menghambur mendekatinya.

“Ma’af bapak, saya bawa kekamar bayi dulu ya,” kata perawat meminta bayi yang digendong Indra. Indra melepasnya dengan enggan. Ia masih ingin mendekapnya berlama-lama.

“Kami boleh masuk kedalam?” Tanya Indra, perawat itu mengangguk.

Indra dan ibunya diikuti Surti langsung masuk kedalam. Indra memeluk isterinya dan menciuminya bertubi-tubi.

“Terimakasih telah menyempurnakan kebahagiaan kita, sayang.”

“Seruni, selamat, terimakasih telah memberikan cucu yang cakep untuk ibu,” bisik bu Pras yang juga memeluk Seruni erat.

“Terimakasih mas, terimakasih juga ibu, dan Surti,” suara Seruni masih lemah. Sesungguhnyalah bahwa melahirkan adalah pertaruhan nyawa. Dan Tuhan menyelamatkan semuanya.

“Terimakasih ya Allah, karuniaMu tak terhingga,” bisik Indra masih dengan mata berkaca-kaca.

***

“Apa? Malah sudah melahirkan ?” teriak pak Prastowo ketika menerima telpon dari isterinya.

“Ketika mau menjemput ke bandara, tiba-tiba Seruni kesakitan, Indra melarikannya ke rumah sakit, itu sebabnya aku menunggu tapi dia tidak segera datang. Tapi aku bahagia pak, kita punya cucu, laki-laki yang guanteng,” kata bu Pras dengan sangat bersemangat.

“Kalau ganteng pasti seperti aku,” seloroh pak Pras sambil mengusap air mata bahagianya.

“Huuh, sudah tua.. gantengnya sudah hilang,” balas bu Pras.

“Ini ibu masih dirumah sakit?”

“Iya, menunggu Seruni dipindahkan ke kamar rawat.”

“Kalau begitu aku akan menyusul besok.”

“Ya pak, kalau pekerjaan sudah bisa ditinggalkan ya secepatnya saja menyusul.”

“Sudah.. sudah kok. Muuuul…” teriak pak Pras sambil penutup ponsel nya.

Pak Mul tergopoh mendekat.

“Ya pak…”

“Besok kita berangkat ke Solo.. Kita naik pesawat saja.”

“Lhoh.. kok.. tiba-tiba pak?”

“Seruni sudah melahirkan Mul, aku harus segera kesana untuk melihat cucuku.”

“Oh, Alhamdulillah.. ikut bahagia saya pak.”

“Cucuku laki-laki, ganteng seperti aku Mul,” kata pak Pras yang tak tahan untuk tidak menitikkan air mata juga.

“Ikut bahagia pak… sungguh… semoga nanti Surti juga akan melahirkan lancar dan selamat seperti bu Indra.”

“Iya Mul, aku juga akan mendo’akan untuk anakmu. Sekarang bersiap-siaplah, aku akan suruhan membeli ticketnya.”

“Saya juga akan naik pesawat lagi pak?”

“Iya lah Mul, gimana kamu itu. Cepat sana… aku tak sabar menunggu besok..”

***

“Bagaimana perasaanmu sekarang Seruni? Apa yang sakit?”

“Tidak ada mas, semua rasa sakit sudah terobati dengan hadirnya anak kita. Ternyata dugaanku salah ya mas, kirain perempuan, ternyata dia laki-laki.”

“Dia akan menjadi laki-laki yang gagah, rajin, soleh, dan ganteng seperti bapaknya, sekarang sudah kelihatan kan? Hidungnya mancung, matanya bening, bibirnya tipis,  rambutnya ikal..semuanya seperti aku kan?”

“Kok semua seperti mas sih? Aku mana, kok nggak kebagian? “ kata Seruni cemberut. Indra tertawa lalu mencium kening isterinya.

“Nggak, aku bercanda. Matanya bening seperti matamu, bibirnya tipis seperti bibirmu,  semoga tidak cerewet seperti kamu.”

“Biarin  cerewet, kalau bapaknya nakal biar dicerewetin sama anaknya.”

Indra tertawa keras.

“Bapak begini baiknya, dimana letak nakalnya coba?”

“Seruni, ini aku belikan buah-buahan untuk kamu,” kata bu Pras yang datang bersama Surti.

“Lho, ibu.. kirain ibu pulang dan beristirahat.”

“Ibu tadi keluar bersama Surti, beli buah-buahan dan makanan,  tadi sudah sekalian makan soto sama Surti.”

“Baiklah bu, sekarang ibu saya antar pulang ya, seharian ibu tidak istirahat, ini sudah malam lho bu.”

“Sekalian Surti diantar pulang mas,” sambung Seruni.

“Iya benar. Mari bu.. ibu  harus istirahat, besok pagi kesini lagi.”

“Baiklah, kesininya menunggu bapakmu sekalian, besok bapakmu jam tujuh dari sana.”

“Waah, senangnya..” seru Seruni.

“Dan pak Mul  juga.”                                                                                                   

“Bapak saya juga bu?” Surti pun hampir bersorak karena senang.

***

Tikno masih sibuk membersihkan kamar dan menatanya, ketika Surti tiba-tiba muncul. Surti sudah mengabari bahwa Seruni sudah melahirkan, itu sebabnya Tikno tidak menjemputnya, karena yakin bahwa Surti pasti membantu kesibukan keluarga Indra.

“Mas.. kok bersih-bersih tidak menunggu aku?”

“Tidak, aku bisa sendiri, lihat, kamar bapak sudah rapi.”

Surti memandang kesekeliling kamar, benar-benar sudah rapi. Ranjang berseprei bersih, sarung bantal dan guling nyang berbau wangi. Meja yang diletakkan didekat almari agar kamarnya tampak lebih luas.

“Terimakasih mas, bapak datangnya besok lho.”

“Besok ? Secepat itu?”

“Iya, begitu mendengar bahwa bu Indra sudah melahirkan, pak Pras langsung mengajak bapak berangkat besok pagi.”

“Bapak naik pesawat juga?”

“Iya, mau naik kereta dilarang oleh pak Pras.”

“Bapak mengabari kamu?”

“Tadi bu Pras yang bilang, tapi tadi dijalan bapak sudah menelpon aku. Bingung mau cari oleh-oleh apa untuk aku. Tapi aku melarangnya. Kasihan bapak, berangkatnya begitu mendadak, mana sempat belanja oleh-oleh.

“Iya, orang tua biasanya begitu. Ya sudah, kamu mandi dan beristirahat. Pasti kamu capai. “

“Aku nggak ngapa-ngapain mas, cuma ngantar bu Pras beli makanan,  cuma gitu-gitu aja kok mas, capek darimana?”

“Biasanya kan kamu tidur siang juga.”

“Nggak apa-apa mas, besok kalau aku melahirkan juga pasti merepotkan banyak orang.”

“Ya sudah, sekarang mandi dan istirahatlah, sudah aku siapkan air hangat lho. “

“Aduuh, mas Tikno kok ya repot-repot nyiapin air hangat buat aku segala, padahal mandi air dingin lebih segar lho mas.”

“Ini kan sudah malam Surti, sudahlah, jangan bawel.”

“Mas tadi seharian makan apa?”

“Kan kamu sudah masak sebelum berangkat, ya aku makan masakan kamu itu  lah. Ini kamu mau makan?”

“Tidak mas, sudah kenyang, tadi makan soto sama bu Pras. Kalau mas mau makan aku temani.”

“Aku nanti saja gampang, yang penting kamu segera mandi dan istirahat. Besok kamu nggak usah masak, paginya sarapan nasi pecel saja di Menangan, siangnya aku makan di kantor. Bukankah kamu akan ke bu Indra lagi?”

“Iya mas, nggak enak, mereka sudah baik sama kita. Nanti aku pulang sama bapak.”

“Iya, besok bapak sudah datang. Ya nanti gampanglah, yang penting besok tidak usah masak, aku nggak ingin kamu lelah.”

“Baiklah mas.”

“Nanti kalau capek aku pijitin..”

“Iih.. mas Tikno tuh, jangan terlalu memanjakan aku .. nanti keterusan lho.”

“Biar saja keterusan, aku suka melakukannya,” kata Tikno sambil merangkul isterinya dari belakang, lalu mendorongnya ke kamar mandi.”

***

Pagi itu Surti langsung kerumah sakit, karena dia yakin pasti ayahnya bersama pak Pras juga akan langsung kesana. Tikno memboncengkannya, sekalian masuk bekerja.

Ketika dia datang Seruni sedang menyusui bayinya.

“Waduuh.. senangnya.. makan pagi ya dik ?” kata Surti sambil mendekat.”

“Kok pagi-pagi sudah sampai sini Sur?”

“Iya, sekalian bareng sama mas Tikno.”

“Oh, iya. Ini mas Indra juga pulang, karena bapak kan akan datang. Jadi nanti mas Indra sekalian menjemput ke bandara.”

“Saya kira akan langsung kerumah sakit.”

“Mungkin nanti dari bandara akan langsung kemari, bapak bilang nggak sabar ingin ketemu cucunya.”

“Iya bu. Ini ibu saya bawakan nasi liwet, apa ibu suka?”

“Oh.. ya ampun.. kamu masih ingat kalau aku suka nasi liwet ya Sur?”

“Tadi lewat, lalu ingat kesukaan bu Indra, lalu mampir sebentar.”

“Terimakasih Surti, nanti setelah adik selesai minum ASI aku makan.”

“ASI nya lancar ya bu?”

“Lancar Surti, kamu juga harus sering makan sayur dan buah, supaya ASI kamu lancar, anak kamu tidak usah minum susu formula.”

“Iya bu, susu formula kan mahal.”

“Benar, ASI itu murah tapi lebih sehat.”

“Iya bu.”

“Surti, aku mau minta tolong ya.”

“Iya bu,  ibu mau sesuatu?”

“Mas Indra lupa membawa sabun mandi, mungkin nanti akan dibawa, tapi aku ingin cepat-cepat mandi. Maukah kamu membelikannya  diluar?”

“Tentu saja bu, saya berangkat sekarang. Saya sudah tahu sabun yang biasa ibu pakai.”

“Ini uangnya Surti, ambil di dompetku itu.”

“Nanti saja bu, saya bawa uang, biar saya belikan saja dulu, nggak berani saya membuka-buka dompet ibu,” kata Surti sambil berlalu. Seruni hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

Surti langsung keluar dari rumah sakit, karena ketika bertanya  ditoko rumah sakit, sabun yang dimaksud tidak ada.

Ia menoleh kekiri dan kanan jalan, mencari dimana ada mini market atau toko terdekat.

Jalanan begitu ramai karena sa’atnya anak-anak berangkat kesekolah. Surti melihat diseberang  jalan ada toko yang dimaksud. Ia menunggu agar jalanan sedikit sepi.

Tapi tiba-tiba sebuah taksi berhenti. Surti terkejut, dan melangkah mundur.

“Padahal aku sudah minggir, kok masih saja dia nyelonong ketepi,”: gerutunya pelan.

Tiba-tiba pengemudi taksi itu membuka jendela mobil sebelah kiri, lalu menatap Surti tak berkedip. Surti ingin menyeberang, karena jalanan agak sepi, tapi terkejut ketika pengemudi mobil itu memanggil namanya.

“Surti !!”

Barangkali kalau ada halilintar menyambar sa’at itu, Surti tak akan begitu terkejut seperti ketika melihat wajah laki-laki itu.

***’

Besok lagi ya

Wednesday, August 26, 2020

BUAH HATIKU 24

BUAH HATIKU 24 

(Tien Kumalasari)

 

 Surti berdiri ketika mendengar sepeda motor memasuki halaman. Tikno menatap  isterinya dan tersenyum melihatnya sudah menunggu didepan rumah

“Ma’af aku terlambat,” katanya setelah turun dari sepeda motor dan mendekat. 

“Tidak apa-apa mas, aku sabar menunggu. Sebentar aku pamit bu Indra dulu,” kata Surti sambil bergegas kebelakang.

Indra sudah keluar begitu mendengar Tikno datang.

“Lembur ya mas ?”

“Iya pak, minggu ini akan sering lembur, karena pesanan meningkat,” kata Tikno sambil menyalami Indra.

“Ya begitulah mas, orang bekerja  terkadang harus bisa menyediakan tenaga ekstra, kalau ada pekerjaan menumpuk begitu.”

“Benar pak Indra.”

“Waah, mas Tikno cari duit gede nih, lembur terus.. “ kata Seruni yang tiba-tiba  keluar, diiringi Surti dari belakang.

“Iya bu Indra, habisnya mau punya anak nih,” kata Tikno sambil menatap isterinya.

“Ayo, silahkan duduh dulu,” ajak Indra.

“Iya, minum teh hangat dulu mas Tikno,” sambung Seruni.

“Terimakasih bu Indra, ini keringat sudah bau asem…  pengin cepet-cepet mandi,” kata Tikno sambil menyalami lagi Indra untuk berpamit.

“Baiklah mas Tikno, ati-ati dijalan ya.”

“Surti, kalau  bonceng pegangan yang kenceng  ya..” pesan Seruni.

“Baiklah bu Indra.”

Indra menggandeng isterinya masuk kerumah, setelah Tikno dan Surti pergi.

“Menurut mas, apakah Sardiman itu berbahaya? “

“Entahlah, aku tidak tahu. Mungkinkah akan mengganggu Surti?”

“Ah, aku kira tidak. Dia kan tidak pernah mengenal Surti sebelumnya. Mana dia perduli sama Surti?”

“Iya sih.. Semoga saja tidak terjadi apa-apa.”

“Mas,  kenapa ya, perutku akhir-akhir ini sering kenceng-kenceng begitu?”

“Kan dokter Melani sudah  bilang bahwa kalau sudah sa’atnya akan begitu. Jadi kamu tidak usah kebanyakan melakukan aktivitas pekerjaan rumah.”

“Sudah banyak  berkurang mas, tapi kan harus sering jalan-jalan, kalau tiduran terus juga kurang bagus.”

“Iya benar. Oh ya, aku sudah ditawari teman kantor, ada seorang perawat teman dia yang mau bekerja untuk kita.”

“Benarkah ? Kapan dia datang kemari?”

“Mungkin besok, kata temanku dia bukan hanya bisa merawat bayi tapi juga rajin mengerjakan semua pekerjaan rumah.”

“Syukurlah, tapi aku ingin melihatnya dulu, semoga sama-sama cocok.”

“Iya, besok mau kemari, kamu temui saja dan ajak berbincang.”

“Iya mas, aku juga memikirkan Surti, kalau kita sudah punya pembantu kan Surti bisa istirahat dirumah. Kasihan masih selalu mem perhatikan kita.”

***

“Pak, kalau tidak salah sudah dekat sa’atnya Seruni melahirkan. Saya boleh ke Solo kan pak?” kata bu Prastowo kepada suaminya pada suatu sore.

“Sebetulnya bapak juga ingin, tapi kan pekerjaan sedang menumpuk. Ada proyek baru yang harus aku tangani sendiri.”

“Aku berangkat sendiri saja juga nggak apa-apa kan pak?”

“Terserah kamu saja bu, kalau mau berangkat sendiri, kabari Indra supaya bisa menjemput kamu di Bandara, so’alnya kamu kan sendirian.”

“Iya, nanti aku akan mengabari Indra.”

“Ya sudah, kapan kamu mau berangkat, biar aku suruh orang pesan ticket.”

“Hari Minggu saja pak,  Indra kan libur, jadi bisa menjemput.”

“Ya sudah, bersiaplah. Nanti aku menyusul sama Mul.”

“Iya, pasti Mul juga sudah ingin ketemu anaknya. Kabarnya Surti juga sudah mengandung.”

“Benar, Mul pasti suka nanti kalau aku ajak kesana.”

“Surti kan sudah seminggu ini tidak bekerja dirumah Indra.”

“Ya karena sudah ada pembantu  disana, lagian Surti juga mengandung, kasihan kalau masih harus bekerja.”

“Itu pak Mul, sudah selesai menyiram taman.”

“Mul.. sini Mul.”

“Ya pak…”

“Kamu mau nggak ke Solo?”

“Waduh mau dong pak.. bapak mau ke Solo?”

“Tidak sekarang Mul, pekerjaan sedang banyak. Ibu yang mau berangkat duluan, nanti kalau pekerjaan bisa aku tinggalkan baru aku menyusul, sama kamu.”

“Iya pak, terimakasih banyak. Tapi saya mau naik kereta saja pak.”

“Lha kenapa? Diajak naik pesawat yang bisa cepat sampai kok memilih naik kereta.”

“Nggak apa-apa pak.”

“Nanti gampang, wong belum sekarang.”

“Saya besok mau pamit sebentar pak.”

“Mau kemana ?”

“Mau membersihkan gubug saya pak, sudah sebulan saya tidak menengok.”

“Rumah kamu itu mbok disewakan saja ta Mul, dengan begitu kamu bisa dapat duit, sekaligus ada yang merawat rumah kamu.”

“Rumah jelek begitu apa laku pak?”

“Ya ditawarkan dulu, siapa tahu, kan tidak semua orang cari rumah bagus, yang penting terjangkau.”

“Coba nanti saya bersihkan dulu pak, atau dicat biar kelihatan bersih.”

“Iya pak Mul, sepertinya dibelakang masih ada cat yang belum dipakai lho, cari saja di gudang sana, kan bisa untuk mengecat rumah kamu,” sambung bu Pras.

“Terimakasih  bu, iya nanti saya cari digudang.”

“Ya sudah, istirahat saja dulu, ini sudah sore.”

***

Walau perutnya semakin besar, dan sudah ada pembantu dirumah, tapi Seruni masih rajin memasak sendiri.  Ia senang karena Indra selalu memuji masakannya, bahkan sejak awal mereka menikah dulu.

“Seruni, ibu bilang, besok mau ke Solo,” kata Indra sa’at pulang makan siang dirumah.

“Oh ya mas? Sama bapak kan ?”

“Tidak, ibu sendiri. Kalau sama bapak pasti tidak akan memberi tahu. Bapak kan  suka bikin kejutan.”

“Kalau begitu mas harus menjemputnya dong.”

“Iya, besok aku jemput.”

“Aku ikut ya mas.”

“Iya, boleh…”

“Berangkat agak pagi, pengin nasi liwet nih..”

“Tuh kan, anak bapak paling suka nasi liwet ya?”

“Iya bapak..”

“ Ini  masakan kamu atau mbak Darmi?” Tanya Indra. mBak Darmi itu pembantu yang juga akan menjadi perawat anak mereka nanti.

“Aku sama mbak Darmi, Kenapa mas? Nggak enak ?”

“Enak dong, kan aku nambah sampai dua kali tadi.”

“Kirain mau bilang nggak enak.”

“Enak, masakan isteriku selalu enak.”

“Terimakasih, sayang. Oh ya mas, nanti sore antar aku jalan-jalan ya.”

“Jalan-jalan kemana?”

“Ada keperluan bayi yang masih kurang, daripada nanti repot beli ketika sudah sa’atnya lahir.”

“Iya tidak apa-apa, aku nanti pulang agak sorean .”

“Hm, senangnya…”

“Ini  akhir Minggu, harusnya aku nggak ke kantor kan, tapi karena ada urusan ya kekantorlah,  sebentar saja.”

“Ya sudah, sekarang aku mau membersihkan kamar samping untuk ibu, jadi kalau besok datang kamarnya siap dipakai.”

“Jangan kamu, biar mbak Darmi saja.”

“Iya, tapi kan aku harus memberi tahu bagaimana baiknya.”

***

Surti dan Tikno tinggal dirumah sederhana, tapi  tertata rapi dan manis dipandang. Sebelumnya Tikno juga rajin membersihkan rumah, dan sekarang Surti lah yang menatanya lebih apik, karena kebanyakan wanita kan suka tanaman bunga, maka pelataran kecil yang ada didepan rumah sudah banyak ditanami bunga-bunga. Ada mawar, melati, dan banyak lagi. Bukan bunga atau tanaman mahal, tapi kalau ditata rapi pasti elok dipandang.

Selama Surti tidak bekerja dirumah Indra, Tikno selalu memerlukan pulang sa’at makan siang. Bahagia rasanya, makan masakan isteri, dan ditunggui pula.

“Kalau kamu capai, tidak usah dipaksa untuk bekerja, apalagi memasak. Kita kan hanya berdua, bisa beli saja masakan matang di warung.

“Iya mas, aku tahu, tapi sekarang aku baik-baik saja, mas tidak usah khawatir.

“Syukurlah, perutmu sudah kelihatan buncit. Beberapa bulan lagi melahirkan. Rumah kita akan meriah dengan tangis bayi.”

Surti tersenyum bahagia. Tak disangkanya akan ada seorang laki-laki asing yang tiba-tiba bersedia mengangkatnya dari hidupnya yang papa dan nyaris membuatnya putus asa. Bahkan juga mencintai bayi yang ada didalam kandungannya. Tak terasa matanya berkaca-kaca.

“Mengapa Surti? Gampang sekali kamu menitikkan air mata. Kamu tidak percaya pada ketulusan hatiku?” kata Tikno sambil memeluk  isterinya.

“Mas Tikno, terimakasih banyak ya. Aku menangis karena terharu. Mas Tikno sungguh mulia. Ketika aku hampir menghabisi nyawaku bersama bayi ini, mas Tikno menyelamatkan aku, dan mengasihi aku beserta bayiku. “

“Sudah, itu tidak usah diulang-ulang lagi. Aku melakukannya karena memang aku ingin melakukannya. Aku mencintai kamu dengan segala yang kamu  miliki Surti, aku juga akan mencintai anakmu seperti aku mencintai anak kandungku.”

Surti tenggelam dalam tangis haru, memeluk suaminya seakan tak ingin melepaskannya.

“Sudah, dan jangan lagi mengucapkan itu, janji ya,” kata Tikno sambil mengusap lembut kepala isterinya.

Dering ponsel membuat Surti melepaskan pelukannya.

“Mas, sepertinya bapak..” kata Surti sambil mengangkat ponselnya.

“Hallo, bapak..”

“Surti, kamu baik-baik  saja?”

“Surti dan mas Tikno baik-baik saja pak, ini mas Tikno kebetulan habis makan siang dirumah.”

“Oh, baiklah.. tidak libur hari ini? Ini kan akhir pekan?”

“Tidak pernah libur Sabtu pak, liburnya  hanya Minggu.”

“Kirain libur. Bagaimana kandunganmu? Sudah menginjak berapa bulan ini nduk?”

“Sudaaah….mm…” Surti tampak berfikir..

“Tiga bulanan bapak..” jawab Surti sekenanya. Ia belum ingin berterus terang tentang kejadian yang menimpanya, dan sepertinya memang tak ingin mengatakannya. Biarlah semuanya menjadi  rahasia dirinya dan suaminya, serta juga rahasia keluarga Indra tentunya.

“Pasti perutmu sudah kelihatan buncit.”

“Iya bapak..”

“Tak lama lagi bapak akan kemari.”

“Benarkah? Kapan bapak ? Biar mas Tikno menjemput di stasiun.”

“Belum pasti harinya, menunggu pak Pras, karena beliau juga akan ke Solo. Katanya ingin menunggui bu Indra melahirkan.”

“Iya, memang sudah sa’atnya bu Indra melahirkan.. “

“Bu Pras besok akan berangkat ke Solo, tapi sendiri, pak Pras baru menyelesaikan urusannya di kantor, jadi aku nanti akan bareng pak Pras.”

“Oh, jadi besok bu Pras datangnya? Surti mau kesana pak, lama tidak ketemu bu Pras.”

“Kamu ingin apa? Nanti aku  nitip sama bu Pras, kalau bu Pras tidak keberatan.”

“Tidak usah bapak, nanti merepotkan bapak dan juga bu Pras. Nanti saja kalau bapak datang, saya mau, apapun yang bapak bawakan.”

“Baiklah, ya sudah.. sampaikan salamku untuk suamimu ya nduk.”

“Wa’alaikum salam, bapak.”

Surti tersenyum, tampak senang mendengar bapaknya mau datang.

“Bapak mau kesini mas.”

“Oh ya, kapan?”

“Masih nunggu pak Pras, besok bu Pras datang sendiri, karena pak Pras harus menyelesaikan urusan di kantornya.”

“Jadi bapak bareng pak Pras?”

“Iya mas. Tapi harinya belum pasti.”

“Besok aku akan membersihkan kamar disebelah kamar kita, biar ketika bapak datang semuanya siap.”

“Biar aku saja mas.”

“Jangan, harus  mengangkat meja segala, biar aku yang menatanya, kamarnya kecil  biar kelihatan agak luas.”

“Ya sudah, terserah mas saja.”

***

Pagi hari itu Indra bersama Seruni siap menjemput bu Pras di bandara. Tapi Seruni minta agar mampir dulu di penjual nasi liwet. Masih  banyak waktu untuk bisa sampai ke bandara sebelum pesawat yang ditumpangi bu Pras mendarat, sehingga mereka bisa makan dengan santai.

“Kali ini aku makan banyak ya mas, kok pengin nambah lagi,” kata Seruni sambil menggigit ampela ati yang tinggal sepotong.

“Ya sudah, tambah saja, daripada anak kita ngiler.”

“Tambah satu lagi ya bu, sama minta yang dibungkus dua porsi, sayurnya disendirikan,”  pesan Seruni.

“Buat ibu ya?”

“Iya mas, kan dirumah Seruni belum sempat memasak.”

“Iya benar, dan ibu juga pasti suka.”

Seruni tersenyum senang. Tiga porsi nasi liwet dihabiskannya dengan nikmat. Indra menatap isterinya dengan  menahan senyum. Tapi senang melihat isterinya makan dengan lahap.

“Sudah ya mas, perutku semakin membengkak nih,” kata Seruni sambil membuang pincuk nasi liwet terakhir kekeranjang sampah.

Indra menarik tangan Seruni, untuk membantunya berdiri.   Lalu membayar makanannya, dan menuntunnya kearah mobil.

Indra memacu mobilnya kearah bandara. Senang sekali ibunya akan datang untuk menemani menunggui Seruni sa’at melahirkan.

Tapi kira-kira sepuluh menit sebelum sampai bandara, tiba-tiba Seruni meringis kesakitan.

“Aduh mas..,” keluhnya sambil memegangi perutnya.

“Ada apa?” Tanya Indra khawatir melihat wajah isterinya yang meringis menahan sakit.

“Perutku sakit sekali nih…”

“Tuh, kamu kekenyangan barangkali..”

“Bukan mas, ini beda, lihat, perutku terasa kenceng-kenceng, jangan-jangan aku mau melahirkan.”

Spontan Indra menghentikan mobilnya. Hatinya berdebar-debar.

“Sakit sekali mas… nggak tahan aku..”

Indra memutar mobilnya, dan memacunya kearah rumah sakit.

“Maaas..”

“Tahan Seruni, sabar ya… sabar..”

“Ibu.. bagaimana ?”

“Sudah, ibu gampang, aku harus mengantar kamu kerumah sakit terlebih dulu.”

“Aduhhhhh…” Seruni terus mengelus perutnya..

“Sabar ya nak.. sabar.. sebentar lagi sampai… “ kata Indra sambil sebelah tangannya mengelus perut isterinya.

***

“Hallo.. bapak..” bu Pras menelpon suaminya.

“Ya bu, sudah sampai?”

“Ibu sudah sampai di bandara pak, tapi kok Indra belum kelihatan menjemput ya.”

“”Coba ibu telpon dia, mungkin kena macet.”

“Sudah ibu coba menelpon, tapi tidak diangkat pak.”

“Lho, bagaimana Indra ini. Coba bu, biar bapak menelpon.”

Pak Pras mencoba menelpon Indra tapi tetap saja Indra tidak mengangkatnya. Lalu pak Pras menelpon Seruni, tapi sama saja tidak  diangkat.

“Mungkin macet atau apa ya, kok bapak telpone juga tidak bisa. Bahkan ponsel Seruni juga tidak ada yang mengangkat,” kata pak Pras ketika menelpon kembali isterinya.

“Ya sudah pak, ibu naik taksi saja kalau begitu.”

“Berani ibu naik taksi sendiri ?”

“Ya berani dong pak, masa tidak berani.”

“Ya sudah, hati-hati, nanti kalau sudah sampai telpon bapak lagi ya.”

“Iya pak.. iya.. nggak apa-apa ibu sendiri.”

***

Pagi itu Surti sudah sampai dirumah Indra. Tapi rumah itu kosong, semua  pintu terkunci.

“Pasti pak Indra dan bu Indra sedang menjemput ke bandara. Biar aku tunggu saja disini,”  gumam Surti sambil duduk di tangga teras.

Tak lama setelah itu, Surti melihat sebuah taksi berhenti didepan pagar. Surti heran, masa sih pak Indra naik taksi, mobilnya kemana? Pikir Surti.

Penasaran Surti melangkah kedepan, dan terkejut melihat siapa yang turun.

“Lho, bu Pras?” tergopoh Surti mendekati, dan meminta barang bawaan bu Pras.

“Kamu disini Surti ?”

“Iya, menunggu ibu, tapi rumahnya kosong, saya kira pak Indra menjemput ibu.”

“Tidak, aku juga heran, berkali-kali menelpon tidak diangkat. Sebentar, aku bayar taksinya dulu, bawa barang-barangku masuk, sekuatnya saja Surti, jangan semuanya. Biar nanti aku bantu.”

“Iya bu.”

Surti berlalu, tapi tanpa disadarinya, pengemudi taksi itu terus menatapnya tak berkedip.

“Ini uangnya pak..” bu Pras mengulurkan uang ongkos taksi.

“Oh.. iya.. iya..,’ jawab si pengemudi taksi sambil menerima uangnya tapi matanya terus menatap punggung Surti.

***

Besok lagi ya

 

 


Monday, August 24, 2020

BUAH HATIKU 20

BUAH HATIKU 23

(Tien Kumalasari)

Indra jengkel, klakson dibunyikannya berkali-kali, tapi Lusi tak mau surut. Indra menjalankan mobilnya.

“Aku tabrak kamu !!” teriak Indra lagi.

“Tabrak saja kalau berani.”

Mobil itu berhenti, tepat  dihadapan Lusi. Hampir menyentuh tubuhnya.

“Satpaam !! “ Indra berteriak. Tapi Lusi mendekat dan dengan marah memukul pintu mobil disamping kemudi.

“Kalau kamu tak mau turun dan berbicara, aku akan berteriak-teriak  tak perduli kamu malu atau apa.”

“Orang gila !!”

Indra memberi  isyarat agar satpam yang sudah mendekat kemudian menjauh.

Indra memundurkan mobilnya, berhenti disamping gerbang kantor. Lalu turun dengan mata merah menyala.

“Apa sebenarnya mau kamu?” hardiknya sambil berkacak pinggang.

“Indra, kamu keterlaluan! Kamu menolak  aku tapi kamu membuat Surti hamil. Berapa kamu bayar laki-laki itu agar mau menikahi Surti?”

Dada Indra hampir meledak karena marahnya. Ia mendekati Lusi dan dengan sekali  ayun dia berhasil menampar pipinya.

“Mulut busuk ! Darimana kamu mendapatkan berita bahwa Surti hamil, orang gila!!”

“Auh..!”

“Aku tahu sendiri, aku memegang perutnya.”

“Dan mulut busuk kamu mengira aku melakukannya? Aku akan memanggil polisi agar kau ditangkap karena pencemaran nama baik.”

“Indra, kamu tidak bisa punya anak, mengapa kau biarkan Surti...”

Plaakkk! Sekali lagi Indra menampar Lusi.. sebelum wanita itu melanjutkan ocehannya.

“Buka mata kamu perempuan edann!  Isteriku sendiri hamil !! Dan jangan lagi memfitnah Surti dan  juga  berhentilah mulut busukmu  berbicara.”

Lusi memegang pipinya yang tampak merah. Ia tak sempat menjerit karena mendengar kata-kata Indra bahwa isterinya sedang hamil.

“Seruni hamil? Pasti dia berbohong !!” gumamnya sambil menatap Indra. Ia mengelus pipinya yang semakin memerah.

“Pergi dari hadapanku atau aku laporkan kamu ke polisi.!”

Indra meninggalkan Lusi yang masih mengelus pipinya, menaiki mobilnya dan melaju memasuki halaman kantor. Di gardu penjaga dia melambatkan mobilnya.

“Awas ya, jangan biarkan perempuan itu masuk. Kalau nekat seret dia ke kantor polisi karena membuat onar disini.”

***

Lusi terpaku ditempatnya. Pipi kiri kanannya terasa tebal dan perih. Hatinya apa lagi, ia  ingin terus mengganggu Indra, tak pernah berhasil. Terakhir didengarnya Seruni hamil?

“Yang benar saja, aku akan menelpun bu Prastowo,” pikiran gilanya tak hendak  berhenti  juga.

Lusi naik kedalam mobil dan mencoba menelpon bu Prastowo. Baru kemarin dia bertemu Surti dirumah pak Mul, bersama laki-laki yang diakuinya sebagai calon suami. Ia terus saja merasa curiga.

“Aku kira Indra membayar laki-laki itu agar menikahi Surti, ternyata tidak? Mana yang benar, penasaran aku.” Gumamnya sambil memutar nomor bu Prastowo

“Hallo, “ sapa Lusi ketika sudah tersambung .

“Siapa ini?” tanya bu Prastowo.

“Saya Lusi ibu..”

“Oh, nak Lusi, ada apa pagi-pagi menelpon ? Saya baru didapur, memasak bersama simbok.”

“Ma’af bu, mengganggu.. bagaimana kabarnya Indra.. dan juga isterinya?” tanya Lusi memancing.

“Oh, mereka baik-baik saja .. dan sedang berbahagia, karena Seruni sedang  mengandung.”

“Lhoh, ibu bilang Seruni mandul?”

“Ya, dulu diperkirakan begitu, ternyata sekarang hamil, saya senang sekali, akan mendapat cucu.”

“Ohh.. jadi Seruni sudah mengandung?”

“Sudah menginjak tiga bulan.. eh.. empat bulan sepertinya..”

“Oh.. begitu ? “ Lusi  merasa terpukul, dugaannya salah. Tapi mengapa sebetulnya harus terpukul? Lusi benar-benar seperti tak terima dengan kehamilan Seruni. Keinginan mengganggu Indra patah begitu saja.

“Ya sudah nak, ibu mau melanjutkan memasak dulu ya,” kata bu Prastowo yang tak ingin berbincang lebih lama.

“Iya bu, eh.. sebentar.. kalau Surti.. bukankah dia juga mengandung?” mulut usilnya masih ingin mengoceh.

“Surti? Tidak, dia justru mau menikah, mungkin dalam waktu dekat, menunggu ayahnya keluar dari rumah sakit.”

“Oh.. tidak ya? Sebentar bu...” Lusi masih ingin bicara, tapi rupanya bu Prastowo sudah menutupnya.

Lusi memukul-mukul kemudi dengan gemas. Semua yang disangkakannya ternyata kandas dalam kenyataan yang tak pernah dibayangkannya.

***

“Seruni, kalau kamu ketemu Lusi atau mendapat telpon dari dia, tak usah digubris  ya,” pesan bu Prastowo ketika menelpon menantunya setelah selesai memasak.

“Memangnya ada apa bu?”

“Pagi tadi tiba-tiba dia menelpon, menanyakan Indra dan kamu. Aku bilang bahwa kamu sudah mengandung, tampaknya dia tidak suka. Biarkan saja. Lalu dia tiba-tiba bertanya, apakah Surti juga mengandung? Gila kan?”

“Dia bertanya begitu ?”

“Iya, mulutnya sungguh usil. Yang bukan urusannya juga dibicarakan, sebel aku, belum selesai dia ngomong, aku tutup ponselku.”

“Dia menanyakan apakah Surti mengandung?”

“Iya, aku jawab saja tidak, bahkan mereka akan segera menikah, begitu. Itu bukan urusannya kan, untuk apa dia menelpon ibu cuma mau menanyakan itu.”

“Ya sudah bu, tidak usah difikirkan saja. Bagaimana kabarnya pak Mul bu? Surti juga belum mengabari.”

“Kelihatannya pak Mul sudah semakin baik, tiap hari bapakmu menengok ke rumah sakit.”

“Syukurlah bu, mungkin kedatangan Surti membuatnya gembira, jadi  bisa mempercepat kesembuhannya.”

“Benar Seruni, dan lamaran laki-laki yang kata bapakmu baik itu, juga membuatnya senang  pastinya.”

“Iya bu. Seruni juga senang mendengarnya.”

“Besok kalau Surti menikah, pasti dia kemudian mengikuti suaminya, lalu siapa yang membantu kamu? Nanti ibu carikan pembantu ya.”

“Tidak usah bu, nanti gampang.”

“Harus ada yang membantu mengurus anak kamu lho. Kasihan kalau kamu sendiri.”

“Iya bu, pasti nanti ada, tapi tidak sekarang. Mas Indra juga sudah  memikirkannya.”

“Baiklah, kalau butuh apa-apa, kabari ibu ya?”

“Terimakasih bu, titip sungkem buat bapak, dan salam untuk pak Mul kalau bapak ke rumah sakit lagi.”

“Iya Seruni, nanti ibu sampaikan.

***

 “Dasar orang gila, tidak kapok-kapoknya, lain kali akan aku hajar bener-bener dia,” gerutu Indra sambil melepas sepatunya sepulang dari kantor.

“Lho, pulang-pulang kok marah-marah.”

“Tidak bisa berhenti marah aku, sejak pagi dan selama mengikuti meeting, pikiranku kearah ucapan dia terus.”

“Apa sih mas, mas marah sama siapa?”

“Lusi, pagi-pagi sudah mencegat aku digerbang kantor.

“Lusi lagi ?”

“Ucapannya itu lho. Jadi dia itu bilang, katanya aku mengahamili Surti, lalu aku membayar seorang laki-laki agar mau menikahi Surti.”

“Astaghfirullah... dia bilang begitu?”

“Aku tampar tadi dia, sampai dua kali. Lain kali aku tidak akan hanya menamparnya, akan aku hajar dia sampai dia bilang kapok.”

“Ya sudah, redakan dulu marahnya, ini teh hangat buatan isteri mas yang cantik, harus dinikmati dulu. Malu terdengar anak kamu lho mas, kalau mas marah-marah terus.”

Indra mencium pipi isterinya, lalu mengelus perutnya, baru menerima cawan berisi teh hangat yang disuguhkan isterinya.

“Terimakasih sayang, benar-benar lega setelah minum teh buatan isteri cantikku.”

 

“Ibu tadi menelpon. “

“Ibu ?”

“Ya, ibu.. mungkin ada hubungannya dengan pertemuan mas dengan Lusi pagi tadi.”

“Ibu bilang apa?”

“Dia terkejut dan tampak tidak senang mendengar bahwa aku telah hamil. Lalu dia juga bertanya, apakah Surti juga hamil.”

“Ibu bilang apa?”

“Ibu bilang tidak, dan mengatakan bahwa Surti mau menikah.”

“Heran aku, ada orang seperti itu.”

“Saking gandrungnya sama suamiku yang ganteng ini..”

“Hm... senangnya.. dipuji sama isteriku... memang sih aku ganteng...”

“Tapi bau asem..” ledek Seruni  sambil mendorong suaminya masuk kekamar mandi.

***

Hari itu pak Mul sudah bisa duduk  dan tampak segar. Surti melayaninya makan dan meminum obat, sedangkan Tikno menunggui didekatnya.

“Aku ingin segera pulang,” kata pak Mul.

“Iya, nanti kita tanya dulu pada dokter, apakah bapak sudah boleh pulang atau belum.”

“Kalau bapak masih harus dirawat, sebaiknya tidak tergesa pulang dulu,” sambung Tikno.

“Tapi aku sudah merasa sehat. Kalau sudah tidak diinfus, tidak pakai bantuan oksigen untuk pernafasanku, berarti kan bisa dirawat dirumah.”

“Iya bapak, coba nanti kita bicara sama dokter ya.”

“Nak Tikno sudah tiga malam disini, cutinya hampir habis kan?”

“Tidak apa-apa pak, masih ada waktu. Menunggu bapak sembuh dulu.”

“Iya pak, nanti aku bicara sama dokternya ya.”

“Berapa juta uang yang dikeluarkan pak Pras untuk aku, jadi nggak enak.”

“Bapak tidak usah memikirkan itu, nanti saya mau bicara sama pak Pras mengenai biaya ketika  bapak     dirawat disini, saya bisa mengganti kok,” kata Tikno.

“Aduuh, belum jadi menantu sudah repot untuk bapak..” keluh pak Mul.

“Ada apa ini, kok namaku disebut-sebut?” semuanya terkejut, pak Pras tiba-tiba muncul.

“Pak Pras...” seru pak Mul.

Surti dan Tikno mundur kebelakang, dan mempersilahkan pak Pras duduk dikursi.

“Kamu sudah bisa duduk, dan kelihatan sehat Mul.”

“Iya pak.. maka dari itu saya nanti akan minta rawat jalan saja.”

“Ya jangan kamu yang menentukan Mul, dokternya bagaimana.. kalau masih harus tinggal ya sabarlah dulu.”

“Iya pak, nanti menunggu dokternya.” Sambung Surti.

“Aku tadi sudah ke bagian administrasi, aku  bayar semua biaya kamu selama dirawat. Masih ada sisa, barangkali masih kurang seandainya kamu belum boleh pulang.”

“Itulah yang selalu menjadi pikiran saya pak,” kata pak Mul sambil menundukkan kepalanya.

“Itukah tadi sebabnya maka aku mendengar namaku disebut-sebut? Tidak Mul,  aku memberikannya dengan ikhlas, tidak minta ganti, dan tidak mau kalau diganti. “

“Terimakasih banyak. Surti, Tikno.. dengar  apa yang dikatakan pak Pras,  kalian harus berterimakasih ..” katanya kemudian kepada Surti dan Tikno.

Surti dan Tikno mendekat. Surti meraih tangan pak Pras, menciumnya sambil matanya berkaca-kaca.

“Apa yang harus saya lakukan untuk membalas semua kebaikan bapak ini? Kami selalu merepotkan,” katanya lirih dengan bibir bergetar.

“Apa yang kamu katakan Surti, aku tidak menghutangkan apa-apa, semua aku lakukan karena Mulyadi bukan orang lain bagiku. Sudah.. sudah.. jangan menangis. Bapakmu orang baik, dan semua orang akan memperlakukannya dengan baik pula.”

Surti mengangguk, dan mengusap air mata harunya.

“Sudah Mul, jangan memikirkan apa-apa, kamu cepat sehat, dan segera memikirkan anakmu itu. Mereka harus segera dinikahkan, supaya kamu lebih merasa tenang karena anakmu sudah ada yang menjaga.”

Pak Mul menatap Tikno.

“Saya sanggup melakukannya kapan saja asal bapak mengijinkan,” kata Tikno mantap.

“Tuh Mul, tunggu apa lagi?”

Pak Mul tersenyum, mengelus kepala Surti yang berdiri dekat disampingnya.

“Saya sudah tidak punya orang tua pak. Kalau harus secara resmi saya akan mengajak saudara saya.”

“Nanti dibicarakan kalau aku sudah pulang ya nak..”

“Dan kamu Mul, nanti kalau anak kamu sudah menikah, kamu tetap saja tinggal dirumahku, kalau dirumah sendiri kan sepi, sedang dirumahku banyak orang.”

“Iya pak, terimakasih atas semuanya.”

***

Berbulan berlalu ketika Surti menikah dengan Tikno, Surti tidak langsung keluar dari pekerjaannya dirumah Indra. Dia datang pagi dan pulang  pada sore harinya. Tikno dengan rajin mengantar Surti dan menjemput bersamaan dengan waktu kerjanya.

“Surti, kandungan kamu sudah kelihatan membesar, kalau kamu mau berhenti bekerja juga tidak apa-apa. Kasihan anak kamu kalau kamu harus bolak balik kesini dan kerumah kamu.

“Tidak apa-apa bu, saya juga kasihan kalau melihat bu Indra yang perutnya sudah semakin membesar harus bekerja sendiri.”

“Tidak apa-apa Surti, kan aku dirumah aku sendiri, sedangkan kamu harus bolak balik kesana kemari.”

“ Nanti kalau ibu sudah ada pembantu, saya bisa melepaskan pekerjaan ini.”

“Pak Indra akan mencarinya nanti.. karena dia juga kasihan sama kamu. Aku yang dimarahi, dikira tidak memikirkan kandungan kamu.”

“Tidak apa-apa bu, kan saya yang mau.”

“Kamu itu hebat Surti, sementara aku sudah sering malas-malasan, kamu masih sanggup mengerjakan semuanya.”

“Iya lah bu, kan kandungan bu Indra sudah semakin besar. Mungkin sudah sa’atnya melahirkan ya bu?”

“Perkiraan dokter masih awal bulan depan.”

“Tuh, sudah sa’atnya kan? Tidak heran kalau sudah sering merasa malas atau gampang capek.”

“Kamu sendiri  juga sudah kelihatan buncit lho Sur.. Meskipun aku nanti sudah melahirkan, kamu juga harus rajin memeriksakan kandunganmu lho.

“Iya bu, kata dokter Melani,  sebulan sekali harus periksa kandungan.”

“Betul Sur.. kamu harus menjaga kandungan itu dengan baik.”

“Benar bu, saya jadi ingat.. dulu sering ingin mati karena kandungan ini.”

“Itu karena pikiranmu gelap, merasa bahwa segalanya harus diselesaikan dengan kematian, padahal sekarang kamu merasakan kebahagiaan bukan?”

“Karena mas Tikno selalu menjaga saya dan sangat mencintai saya bu.”

“Aku senang Sur.. semoga kamu akan selalu  bahagia..”

“Seperti  ibu dan pak Indra..”

Seruni tersenyum. Memang dia merasa sangat bahagia, dengan suami yang sangat mencintai, dengan akan hadirnya seorang anak yang segera lahir.

“Semoga aku melahirkan dengan selamat, lancar, agar kebahagiaanku sempurna,” bisiknya  dengan senyum bahagia.

“Aamiin, bu, saya akan selalu mendo’akan  untuk kebahagiaan ibu dan pak Indra.”

“Terimakasih Surti.”

***

Sore itu Indra pulang ketika Surti belum dijemput suaminya.

“Lho, mas Tikno belum menjemput kamu Surti?” tanya Indra.

“Belum pak, tadi bilang mau lembur sampai agak sorean.”

“Ya sudah, kamu istirahat saja, jangan sampai lelah, karena kamupun  juga sedang mengandung.”

“Ya  pak, ini juga banyak istirahatnya,  kalau siang bu Indra juga menyuruh saya tidur.”

“Betul Surti,” kata Indra sambil melangkah kebelakang. Seruni menyambutnya dengan pelukan, lalu Indra  mencium perut isterinya dengan sayang.

“Apa kabar anak bapak seharian ini?”

“Banyak menendang-nendang  bapak, habisnya bapak nggak pulang-pulang,” kata Seruni sambil mengambilkan minum untuk suaminya.

“Oh, gitu ya.. tampaknya anak bapak laki-laki nih, habisnya suka menendang-nendang.”

“Katanya perempuan, karena ibunya cantik dan rajin.”

“Kalau ibunya sih, selalu cantik..”

“Terimakasih, bapak...” kata Seruni sambil menggelendot manja.

Keduanya tertawa bahagia. Indra meneguk  minuman hangat yang dihidangkan isterinya.

“Surti belum dijemput ya.”

“Katanya, mas Tikno lembur sore ini. “

“Oh iya Seruni, kamu tahu nama laki-laki yang dulu memperkosa Surti?” kata Indra pelan.

“Nggak, Surti juga nggak mau mengatakannya, mungkin ngeri kalau teringat kembali. Katanya.. jangankan menyebut namanya, mengingat wajahnya saja  tak sudi. Memangnya kenapa mas kok tiba-tiba mengatakan itu?”

“Aku membaca berita dikoran, ada beberapa narapidana di Lembaga Pemasyarakatan  Ngawi, kabur, salah satunya bernama Sardiman, terdakwa pemerkosa beberapa bulan lalu.”

“Ssst, jangan sampai Surti mendengarnya,” kata Seruni pelan.

***

Besok lagi ya

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...