Monday, May 25, 2020

LESTARI PUNYA MIMPI 03

LESTARI PUNYA MIMPI  03

(Tien Kumalasari)

 

Tari melangkah pelan, menatap laki-laki setengah tua yang duduk dikursi tamu didepan kamarnya.

"Selamat sore, " sapa Tari.

Laki-laki itu berdiri dan mengulurkan tangannya dengan sopan, Tari menyambutnya sambil tersenyum.

"Bapak mencari siapa?"

"Saya ayahnya Asty,"

Tari tertegun.

"Oh, ayahnya Asty? Ma'af bapak, apakah bapak sudah lama menunggu?"

"Tidak, baru saja."

"Asty kebetulan lembur hari ini, mungkin sebentar lagi pulang."

"Iya, saya sudah menelpon dia nak."

"Baiklah, saya masuk dulu ya pak,"

Tari masuk kekamarnya, dan ketika keluar lagi ia membawakan minuman kemasan yang kemudian diletakkan dimeja tamunya.

"Bapak silahkan diminum dulu."

"Terimakasih nak."

Ketika masuk lagi kedalam untuk mandi dan berganti pakaian, Tari bertanya-tanya, mengapa bapaknya Asty datang kemari. Jangan-jangan untuk menjemput Asty.

Dan perkiraan itu hampir benar ketika keluar dari kamar mandi Tari mendengar suara Asty yang sudah datang dan ketemu bapaknya.

"Ya nggak bisa sekarang dong pak, Asty kan punya tanggung jawab pekerjaan juga," kata Asty.

"Kalau begitu kapan, bapak meninggalkan ibumu yang sakit, dan minta agar bapak segera menjemput kamu."

"Setidaknya Asty harus kekantor dulu nanti hari Senin, menyelesaikan dan menyerahkan semua tugas, baru Asty bisa pergi." 

"Lha kalau Senin ya bapak harus nginep dua hari jadinya."

"Mau bagaimana lagi, Asty tidak bisa langsung pergi pak, Asty harus menyerahkan semua tugas Asty dulu. Kemarin saja Asty sudah ditegur gara-gara pamit mendadak."

"Ya sudah, bapak akan menunggu  sampai Senin, bapak mau menginap di hotel saja kalau begitu."

 

*** 

"Besok jadi pulang Tari?" tanya Asty malam itu.

"Iya, kan aku sudah janji sama ibu bahwa mau pulang Minggu besok."

"Aku ikut kamu ya?"

Tari terkejut bukan alang kepalang. Besok Nugroho mau mengantarnya, bagaimana kalau Asty ikut?

"Ya..? Boleh kan ?"

"Asty, bukannya aku nggak ngebolehin, tapi kan bapak ada disini, kamu harus menemani bapak dong. Masa ada bapak menginap dihotel.. kamu malah mau ngeluyur kerumahku. Apa lagi aku kan pulangnya belum tentu siang atau sore, dan bisa jadi malam. Dan kalau ibu meminta aku menginap... bagaimana?"

Asty menghela nafas panjang.  Ia tampak tidak bersemangat untuk menemui bapaknya.

"Bapak terlalu memaksakan kehendak.Tidak perduli walau aku sudah bilang bahwa aku harus mempertanggungjawabkan semua tugasku."

"Tapi kan ada alasannya, aku dengar ibumu sakit, kan?"

"Iya sih..."

"Ya sudah, jangan mengecewakan bapak, apalagi ibu sakit. Jadi besok kamu temani bapak, ajak jalan-jalan atau apa, kasihan menunggu kamu sampai Senin.

"Tapi aku sedih berpisah sama kamu Tari. Kita sudah seperti saudara."

"Iya Asty, aku juga begitu, rasanya seperti mimpi harus berpisah sama kamu, apalagi tinggal sehari besok kita bersama, Seninnya kamu sudah harus pergi," kata Tari sedih.

"Aku pengin nangis Tari.." kata Asty lalu mendekati ranjang Tari, kemudian memeluknya erat.

Keduanya tenggelam dalam kesedihan, karena tinggal dua  malam saja bisa bersama.  Itu tak terduga. 

"Kalau tidak karena sudah berjanji pada ibu, aku pasti menemani kamu seharian besok."

"Tidak apa-apa Tari, kamu sendiri bilang bahwa orang tua harus diutamakan bukan?  Besok pagi-pagi sekali aku akan menemui bapak, akan aku ajak jalan-jalan. Supaya bapak juga tidak kesal karena harus menunggui aku sampai Senin Siang."

"Bagus Asty."

Tari ingin mengatakan tentang Nugroho, tapi kemudian diurungkannya, karena melihat Asty sudah kembali keranjangnya lalu merebahkan tubuhnya. Tampak lelah.

***

Pagi itu ketika Tari terbangun, dilihatnya Asty sudah rapi. Tampaknya dia sudah siap untuk pergi. Tari mengucek matanya.

"Sudah mandi?"

"Ya sudahlah,  sudah rapi dan wangi begini.." 

"Hm.. ma'af aku kesiangan."

"Tidak, ini masih pagi, jam setengah enam kurang , belum terlambat untuk sholat subuh."

"Mau pergi sekarang?"

"Iya, dikota ini enaknya jalan-jalan pagi. Aku mau mengajak bapak makan nasi liwet atau cabuk rambak di Nonongan. Biasanya bapak suka."

"Baiklah, titip salam buat bapak ya."

"Ya, nanti aku sampaikan, aku pergi dulu ya. Mau di oleh-olehin apa? Nasi liwet? Kamu biasanya doyan banget."

"Ya nggak lah, kalau aku pulangnya sore atau malam, pasti basi dong. Sudah, jalan sana.. hati-hati ya."

"Ya, kamu juga nanti harus hati-hati, jam berapa mau berangkat?"

"Nanti lah, gampang, cuma dekat saja."

"Ya sudah buruan, mandi lalu sholat." kata Asty kemudian beranjak keluar dari kamar.

Tari menghela nafas, lagi-lagi ia urung mengatakan tentang Nugroho.

"Ya sudahlah, barangkali ini tak begitu penting untuk Asty," gumamnya lalu pergi kekamar mandi.

***

Baru jam setengah delapan ketika tiba-tiba dilihatnya Nugroho memarkir mobilnya didepan pagar rumah kost itu. Kamar Tari terletak paling depan diantara deretan kamar lainnya, sehingga dia dengan leluasa bisa melihat kejalan, dari jendela kamar.

Berdebar hatinya ketika membuka pintu kamar dan menyambut Nugroho yang sudah turun dari mobil. Entah mengapa debar itu selalu muncul setiap kali melihatnya. 

"Kok pagi sekali mas?"

"Kamu sudah mandi kan?"

"Ya sudah, aku kan sudah rapi. Silahkan duduk sebentar," kata Tari  mempersilahkan.

Nugroho tersenyum, menatap Tari lekat-lekat. Itu membuat jantung Tari berdegup lebih kencang. Ia mengalihkan pandangannya ke kebun yang ada didepan kamarnya,.

"Ada apa sih?"

"Mengapa mas Nug menatap aku seperti itu?"

"Habisnya kamu cantik."

"Ah, bisa aja," katanya lalu melangkah  masuk kedalam kamarnya. Berdendang hatinya, dan kuncup-kuncup bunga seakan bermekaran memenuhi relung dadanya. Kaca hias dikamarnya menjadi sasaran pelampiasan kebahagiaannya. Ia berputar.. miring kiri.. miring kanan.. senyum.. merengut.. meringis.. ahaai.. benrkah aku cantik? Diambilnya sisir untuk merapikan rambutnya, lalu kembali tersenyum dikaca itu, kemudian mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar.

"Hm..." Nugroho menatapnya dengan mata berbinar, hati Tari semakin berdebar. 

"Ayo mas, kita berangkat sekarang?"

 

*** 

 

Ternyata Nugroho mengajaknya makan pagi dulu. Ia mengajaknya ke Nonongan untuk makan nasi liwet. Sudah agak siang sih, tapi untunglah masih ada beberapa yang berjualan. Nugroho menarik tangan Tari untuk duduk di tikar yang disediakan. 

"Hm, nikmat ya, makan nasi liwet berdua bersama pacar..?"

"Pacar ?" 

"Aku anggap saja pacar. Keberatan ?"

Tari tersenyum, lalu menggeleng. Memang dia tidak keberatan. Senang malah, eh lebih dari itu, bahagia, masih ditambahin bangettt... Aduhai..

"Aku pakai ampela ati ya bu," kata Nugroho kepada penjualnya.

"Ih, kolesterol tinggi tuh."

"Nggak apa-apa kalau sesekali."

"Aku biasa saja, pakai ayam suwir.."

Nyatanya sampai selesai makan kenikmatan itu masih terasa. Bukan hanya karena makanannya, tapi karena kebersamaan yang dirasakannya.

"Katanya mau beli oleh-oleh, dimana belinya?"

"Kalilarangan saja mas, barangkali ada yang aku cari."

"Siap, tuan puteri.."

"Iih, kok tuan puteri sih, jadi nggak enak..."

"Kalau kurang enak nanti ditambahin bumbunya.." seloroh Nugroho.

"Pintarnya cari kata-kata sih.."

"Kalau dekat gadis cantik aku selalu pintar berkata-kata."

"O, jadi sudah biasa ya? Berapa banyak gadis cantik yang sudah dikata-katain dengan manis begitu?"

Nugroho tiba-tiba tertawa keras.

"Kok  tertawa sih?"

"Itu kan kata-kata bernada cemburu? Tapi aku suka, cemburu itu berarti cinta, ya kan?"

Aduh, Tari ingin mencubit lengan kekar yang sedang memegang kemudi, tapi diurungkannya, takut dikira genit.

"Iya kan, hayo ngaku..."

"Eh itu..." tiba-tiba Tari berteriak.

"Ada apa?"

Tari tak jadi mengatakannya, membiarkan mobil terus meluncur. Hampir saja dia membuka kaca mobil dan berteriak memanggil, karena melihat Asty bersama bapaknya sedang berjalan.

"Ada apa sih ?"

"Nggak, nggak jadi.."

"Apa yang nggak jadi?"

"Aku salah, seperti melihat teman, ternyata bukan," jawab Tari sekenanya.

 

***

 

Ditoko penjual oleh-oleh itu Tari ingin hanya membelikan beberapa bungkus kue-kue, karena singkong keju yang dicarinya tak ada, tapi tanpa disangka Nugroho memilih beberapa macam makanan yang kemudian langsung dibayarnya berikut yang sudah dipilihnya.

"Mas... kok gitu.."

"Biar saja, sudah.. jangan bawel.."

Mereka keluar dari toko oleh-oleh dengan dua tas besar berisi makanan. Tari agak sungkan karena Nugroho membayar semuanya. 

"Mas Nugroho gitu sih, malu aku.. janji bawa oleh-oleh untuk ibu, tapi yang membelikan mas Nugroho."

"Memangnya kenapa kalau aku yang membawa oleh-oleh untuk calon mertuaku?"

Tari tertegun, sejauh itukah pemikiran Nugroho? Benarkah dia akan menjadikannya isteri? Dalam perjalanan kerumah orang tuanya itu Tari lebih banyak diam. Ia sungguh merasa gugup dengan semua yang dikatakan Nugroho. Tadi bilang pacar, sekarang malah menganggap orang tuanya sebagai calon mertua? Seperti mimpi rasanya mendengar semua itu.

"Mengapa diam ?"

"Mas Nugroho bicaranya ngaco kan?"

"Ngaco? Tentang aku bilang calon mertua itu?"

"Mas belum tau siapa aku, belum tau bagaimana orang tuaku, keluargaku, bagaimana begitu cepat mas mengatakannya?"

"Karena aku yakin pada pilihanku."

"Itu terlalu tergesa-gesa."

"Kamu tidak suka?"

"Bukan tidak suka, hanya menganggap pernyataan itu seperti sebuah gurauan. So'alnya mas belum begitu mengenal aku dan keluargaku."

"Baiklah, sebentar lagi aku akan mengenalnya bukan?"

"Jangan terburu-buru mengatakan itu, nanti kalau mas kecewa, aku akan merasakan sakit."

 

***

 

Kedatangan Lestari disambut dengan suka cita oleh kedua orang tua dan adik-adiknya. 

"Syukurlah kamu sudah datang, dari tadi adik-adikmu sudah menanyakan terus, soalnya Minggu kemarin kamu tidak pulang."

"Iya bu, tapi kan sekarang sudah pulang."

Tari tersenyum melihat adik-adiknya berrebut membawa kedua bungkusan yang dibawa Nugroho kebelakang.

"Bapak, ibu, ini mas Nugroho, teman Tari," kata Tari memperkenalkan Nugroho kepada ayah ibunya.

"Oh.. nak Nugroho?"

Nugroho mendekat, menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Tari.

"Eeh.. sini dulu kaliaan, beri salam untuk tamu kita.." teriak Tari kepada adik-adiknya.

Dan mereka berebut keluar lalu menyalami tangan Nugroko satu persatu, kemudian kembali menghambur kebelakang.

Tari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Itulah mas, adik-adikku..."

"Tidak apa-apa, biasa anak-anak begitu."kata Nugroho sambil tersenyum senang.

"Silahkan duduk nak."

"Terimakasih pak.."

 Nugroho duduk. Mengamati suasana bahagia diantara keluarga itu, dirumah sederhana dengan segala perabotan yang sederhana juga. 

Sepasang kursi tamu dengan anyaman rotan yang sudah lusuh, ada pot tanaman disudut ruangan, lalu disudut sebelah sana ada mesin jahit yang sudah kuna juga, dengan beberapa kain tersampir dimeja sebelahnya. 

Salah seorang adik Tari keluar membawa nampan berisi gelas-gelas minuman, yang diletakkannya dimeja didepan Nugroho.

"Silahkan diminum nak," kata ibunya Tari.

"Terimakasih bu, itu tadi adiknya Tari?"

"Iya, adik yang nomor dua, sudah kelas 3 SMP, mau masuk SMA," kata Tari yang kemudian masuk kedalam rumah.

"Inilah nak, rumah orang kampung, tidak seperti rumah-rumah orang kota," kata bapaknya Tari.

"Bagus pak, tenang suasananya. Itu ibu suka menjahit?"

"Iya nak, untuk mencukupi kebutuhan. Penghasilan bapak di bengkel tidak seberapa." kata bapaknya Tari.

Nugroho mengangguk-angguk.

"Terkadang harus lembur ibu itu nak, habisnya mesin jahitnya sudah seumur ibunya Tari itu, jadi kalau sedang rewel.. pekerjaannya jadi tersendat," kata sang bapak lagi.

"Ini kan perjuangan hidup demi sekolah anak-anak, jadi biar susah ibu harus melakoninya," sambung ibunya.

Nugroho tersenyum. Ia merasa salut kepada keluarga sederhana yang mati-matian berjuang demi pendidikan anak-anaknya. Bahkan Lestari juga ikut memikul beban itu.

Setelah puas bercanda dengan adik-adiknya Lestari kembali menemui Nugroho didepan. Ketika sa'atnya makan siang, kepada Nugroho juga disuguhkan makan  bersama. 

"Ini masakan kampung nak, ma'af kalau tidak berkenan. Hanya pepes ikan, sayur asem, sambal, dan karak."

"Enak sekali bu, saya suka semuanya."

Dan nyatanya Nugroho makan dengan lahap, membuat senang yang punya rumah.

Nugroho yang tak pernah mempunyai saudara kandung merasa bahwa suasana itu sangat hangat dan mengesankan.

"Bahagia ya, punya banyak saudara?" katanya kepada Lestari.

"Ya beginilah mas, keadaan keluarga saya. "

"Ini keluarga yang bahagia. Senang melihatnya. Aku tak pernah merasakan sebahagia ini. Aku tak punya saudara."

"Tapi kalau sudah berantem juga rame mas."

"Tidak apa-apa kalau terkadang ada selisih, yang penting saling mengasihi dan melindungi."

"Benar mas."

"Siapa nama adik kamu yang mau lulus SMP itu ?"

"Suci mas."

Oh, Suci ya? Dia yang paling besar setelah kamu?"

"Iya, kami terpaut beberapa tahun."

Ketika kemudian Tari dan Nugroho berpamit, diam-diam Nugroho mendekati Suci dan berbisik-bisik, entah apa yang dikatakannya, tapi Suci kemudian mengangguk-angguk dan mengucapkan terimakasih.Lalu Nugroho juga memberikan sebuah catatan kecil yang ditulisnya.

"Apa sih mas..?" tanya Tari.

"Bukan apa-apa, ayo pulang.."

Lestari  mencium tangan bapak ibunya, diikuti Nugroho, dan adik-adik Lestaripun satu persatu menyalami Tari dan Nugroho. Ramai sekali. Rasanya enggan bagi Nugroho untuk meninggalkan mereka.

Tapi baru saja mobil Nugroho meluncur, ponsel Nugroho berdering.

"Dari ibu.." kata Nugroho.

Tari membiarkan Nugroho menerima telpon itu, dan melihat bahwa Nugroho tampak tak senang.

***

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.


Friday, May 22, 2020

LESTARI PUNYA MIMPI 02

LESTARI  PUNYA MIMPI  02

(Tien Kumalasari)

 

Lestari terpaku ditempatnya, demikian juga laki-laki itu.

"Lestari?"

"Mas Nugroho ?"

Senyuman Nugroho tampak memukau. Laki-laki itu pernah dilihatnya. Dia, laki-laki yang dilihatnya bersama Asty disupermarket itu. Laki-laki ganteng yang membuat Asty jatuh  bangun beneran, bukan hanya kiasan.

"Kita pernah ketemu ya?" kata Nugroho sambil mengulurkan tangannya. Tari menyambutnya dengan gemetar.

"Silahkan duduk," Nugroho menarik kursi didepannya dan mempersilahkannya duduk.

Tari menata batinnya. Apa yang akan dikatakan Asty kalau dirinya menemukan pria ganteng yang ketemu ketika mereka berbelanja.

"Senang bertemu Lestari," kata si ganteng itu.

Tari mengangkat kepalanya dan tersenyum manis.

"Mau pesan apa?"

"Terserah mas Nugroho saja." 

"Ini daftar menunya, silahkan memilih dan menulis sendiri.."

"Ini sudah menjelang sore, jam makan sudah lewat. Pesan nasi? Tidak, Tari memilih selat Solo, dan minum es kopyor kesukaannya. Lalu daftar menu dan catatan pesanan itu disodorkannya pada Nugroho.

"Kalau begitu aku memilih menu yang sama saja,  kata Nugroho sambil mengganti angka satu porsi dengan angka dua, lalu melambaikan tangannya kearah pelayan agar mengambil pesanannya.

Tari tersenyum. Ini sungguh  sesuatu yang aneh. Bertemu dengan seseorang yang sama sekali tak diduganya. Orang seganteng Roy Marten dimasa mudanya, mencari jodoh ? Serius? Jangan-jangan dia juga cuma iseng seperti dirinya pada awal bertelpon.

"Teman kamu yang menabrak aku sampai jatuh itu siapa?" pertanyaan itu mengejutkannya.

"Dia.. Asty, ingin kenalan sama dia?"

"Nggak, bukan itu, ingatanku akan kamu adalah ketika menolongnya bangun. Tapi aku lupa wajahnya, yang aku ingat adalah wajahmu."

"Aku ?"

"Iya, wajah tak acuh ketika melihatku, tampaknya kamu sombong."

"Masa?" lalu Tari tertawa, mana mungkin dia beramah tamah dengan seseorang yang belum dikenalnya?

"Itu menarik, dan aku berharap suatu hari bertemu lagi sama kamu."

"Oh ya?"

"Dan itu kesampaian."

Tari tersenyum senang. Laki-laki ganteng ini memang menarik. Ia selalu berkata dengan manis, dan selalu mengulaskan senyum yang menawan. Aduhai. Jatuh cintakah Tari pada pandangan pertama?

"Kamu tidak ingin bertanya mengapa aku mencari jodoh di halaman iklan?"

Tari menatap Nugroho. Mata tajam itu mengingatkannya pada mata Janto. Tajam dan memikat. 

"Aku patah hati dan sakit."

"Ini pelarian?"

"Bukan, aku benar-benar mencari jodoh. tapi bukan dari gadis yang pernah aku kenal."

"Ouwh."

"Kamu menarik hatiku, dari pembicaraan kita di telepon, kemudian setelah kita bertemu."

Pelayan datang menyajikan pesanan, lalu Nugroho meraih gelas dan menyedotnya perlahan setelah mengaduknya. Minuman berwarna merah dengan kelapa kopyor didalamnya sangat menerbitkan selera untuk segera mencecapnya.

"Silahkan.." katanya pada Tari, kemudian menyedot lagi minumannya dengan nikmat. Tari mengikutinya sambil meresapi kata-kata Nugroho barusan. Benarkah dia tertarik pada bicaranya, lalu pada dirinya setelah bertemu?

"Apa kesan kamu setelah kita bertemu?"

Tari merasa heran. Ditelpon dia bisa lancar berbicara, tapi setelah bertemu dia seperti orang bodoh. Tak bisa banyak mengeluarkan kata-kata. 

"Bagaimana ?"

 "Apa ?"

"Kesan kamu setelah bertemu bagaimana ?"

"Baik.."

"Baik itu bagaimana?"

"Ya baik," kata Tari sambil mengaduk minumannya dan menyendok kelapa kopyor beberapa kali, lalu mengunyahnya perlahan, seperti mengunyah manisnya pertemuan disore itu.

"Baik itu bagaimana? Jelaskan dong," kata Nugroho mendesak.

"Aku.. senang.. "

"Hm.. hanya itu?"

Tari merasa grogi, ia harus mengatakan apa, masa harus mengatakan bahwa dia langsung jatuh cinta?

"Pokoknya senang, semoga ..." Tari tak melanjutkan kata-katanya.

"Semoga apa?"

"Kamu iseng kan ?"Tari balas bertanya.

"Iseng? Tidak aku serius, aku suka bisa bertemu kamu, aku ingin pertemuan ini berlanjut."

Tari mengangkat wajahnya, menatap priya yang baru saja mengucapkan kata-kata yang mendebarkannya.

"Itu benar. Kalau kamu tidak keberatan."

Pertemuan itu berakhir dengan manis, walau Tari masih tampak gugup menghadapinya. Menjelang senja mereka baru beranjak dari rumah makan itu, Nugroho mengantarkan Tari ketempat kost dengan mobilnya.

***

"Wah, sampai jam segini? Bagaimana pertemuan itu? Bagaimana orangnya? Menarik? Ganteng seperti yang kamu bayangkan?" Asty memberondongnya dengan pertanyaan.

Tari hanya tersenyum. Ia enggan mengatakan bahwa dia adalah laki-laki yang ditabraknya di supermarket itu. Entah mengapa Tari belum ingin berterus terang.

"Gantengkah dia?" Asty mengulang pertanyaannya.

"Ganteng banget."

"Wauuw.. aku senang mendengarnya. Semoga bisa menjadi jodohmu kalau memang kamu suka."

"Semoga dia laki-laki yang baik."

"Aku akan mendo'akan kamu."

"Tapi wajahmu tidak tampak gembira sore ini. Ada apa?" tanya Tari ketika menatap wajah sahabatnya.

"Baru saja ayahku menelpon."

"Oh, senang harusnya. Pasti kangen karena sebulan lebih kamu tidak pulang."

"Tidak cuma itu. Bapak minta agar aku pulang dan tidak usah bekerja lagi."

Tari terkejut.

"Tampaknya aku dijodohkan dengan seseorang. "

"Wah, itu menyenangkan."

"Kamu tuh..."

"Kalau Allah menghendaki, jodoh itu akan datang sendiri. Ya kan?"

"Belum tentu aku suka."

"Apapun caranya, kalau itu memang jodoh kamu, ya pasti akan terjadi."

"Susah menentang kehendak bapakku. Aku belum tau bagaimana, tapi bulan depan ini aku benar-benar harus resign."

"Ya ampun, belum setahun kita bersama, sedih aku."kata Tari pilu.

"Mau bagaimana lagi, " kata Asty seakan pasrah.

 

*** 

 

 Tapi malam itu Tari tak dapat tidur. Terbayang selalu pertemuan sore tadi dengan Nugroho. Begitu tak terduga, dan begitu manis. Tari benar-benar tak menyangka, bahwa dialah laki-laki yang pernah dilihatnya di supermarket bersama Asty. 

Ia belum memberitahukannya pada Asty. Entah mengapa, ia ingin merahasiakannya. 

"Belum tidur juga?"

Tari terkejut, rupanya Asty pun belum tidur.

"Asty, aku kira kamu sudah mimpi jadi pengantin.." seloroh Tari.

"Perasaanku benar-benar tak enak. Bagaimana mungkin dijaman sekarang ada anak dijodoh-jodohin."

"Itu karena kamu nggak bisa cari sendiri."

"Ah, Tari.. mentang-mentang kamu sudah dapat, lalu ngeledekin aku terus."

"Sudah dapat apa... baru pendekatan, belum tentu cocok satu sama lain.."

"Tapi tampaknya kamu mikirin dia terus."

"Darimana kamu tahu Asty?"

"Dari tadi kamu belum tidur dan tampak gelisah."

"Aku lagi mikir orang tuaku.." kata Tari berbohong.

"Memangnya kenapa orang tua kamu?"

"Nggak apa-apa sih, besok aku pulang, kata ibu adik-adikku suka singkong keju, dan aku belum sempat beli  tadi."

"Ya .. cuma karena singkong keju saja nggak bisa tidur.."

"Iya.. aku lagi mikir juga, ibu tuh kalau aku bertanya pengin apa.. pasti jawabnya nggak pengin apa-apa deh. Aku bermaksud beli sesuatu, tapi apa.."

"O.. itu, beli saja apa yang kira-kira ibu butuhkan.."

"Itulah, aku lagi mikir.. Keluargaku itu keluarga sederhana Asty, bukan seperti keluargamu yang kaya raya."

"Ah, bukan kaya raya begitu Tari, kebetulan saja bapak tuh punya pensiun, jadi cukuplah untuk hidup hanya bersama ibu, sedangkan aku kan sudah bekerja. Tapi yaah, tak ada sebulan lagi aku sudah pergi dari sini."

"Karena sudah ada jodoh yang menunggu kamu. Berbahagialah kamu Asty."

"Do'akan saja, calonku itu ganteng tampan seperti Pangeran dari negeri Atas Angin."

 Tari terbahak mendengarnya.

"Negeri Atas Angin itu dimana?"

"Nggak tau aku asal ngomong aja."

"Negeri Angin itu dimana, sedangkan itu atasnya... gimana ngebayanginya .."

"Aku pasti kangen sama kamu Tari.."

"Apalagi aku, sa'at pulang kerja biasanya ngobrol sama kamu, belanja sama kamu, masak bersama kamu. Nanti kalau kamu tak ada lagi disini.. aku pasti akan sedih."

"Sesekali aku pasti akan mampir kemari untuk bertemu kamu."

***

"Tari..." sebuah panggilan mengejutkannya. Tari yang siap-siap melangkah pergi menoleh kebelakang, dilihatnya Harjanto setengah berlari mengejarnya.

"Ada apa mas?"

"Mau ngomong sebentar."

"Ya.. omong aja.."

"Itu.. teman kamu, kenapa tiba-tiba mau resign?"

"Oh, iya.. disuruh pulang sama orang tuanya."

"Sebenarnya nggak boleh resign tiba-tiba begitu."

"Kan masih bulan depan."

"Bulan depan itu tinggal seminggu."

"Oh iya.."

"Tapi dia memaksa. "

"Nggak diijinin?"

"Nggak akan diberi surat keterangan. Habisnya resign tiba-tiba."

"Dia itu anak orang kaya, aku kira tidak begitu butuh pekerjaan. Dia melamar kemari karena bosan dirumah saja. Bukan seperti aku, yang butuh uang untuk menyambung hidup."

"Oh, begitu. Padahal dia itu pintar. Pimpinan kita suka pada pekerjaannya."

"Iya sih, tapi mau bagaimana lagi? Orang tuanya yang menyuruhnya berhenti. Sebenarnya sayang, aku juga merasa kehilangan, kalau dia pulang aku jadi tidak punya teman sekamar."

"Kalau ingin lebih irit, carilah teman lain yang bisa patungan menyewa kamarnya."

"Iya, sedang aku pikirkan."

"Ini kamu sudah mau pulang?"

"Iya, Asty lembur, aku disuruh pulang duluan."

"Mau aku antar?"

"Nggak mas, ngrepotin."

"Nggak apa-apa, kan kita sejurusan."

Namun ketika Tari berjalan di parkiran, seseorang membunyikan klakson mobil, lalu membuka jendelanya, sesosok wajah melongok dari sana. Tari terkejut, itu mas Nug.

"Ayo Tari, naiklah."

"Nggak usah mas, kelihatannya aku dijemput."

"Oh, pacar kamu?"

"Bukan, hanya teman, terimakasih ya mas," kata Tari sambil bergegas mendekati mobil Nugroho.

"Mas, kok sampai kemari?"

"Sekalian pulang, kebetulan melihat kamu. Tampaknya ada yang mau mengantar ya? Apa aku mengganggu?"

"Tidak, itu manager personalia, kebetulan mau pulang."

"Ayo naik, " Nugroho turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Tari.

Sebelum mobil Nugroho berjalan, Harjanto melintas dan membunyikan klakson.

 

***

 

"Besok libur kan ?" tanya Nugroho dalam perjalanan mengantar Tari.

"Iya, kan hari Minggu."

"Mau jalan jalan sama aku?  Besok aku samperin."

"Ma'af mas, besok aku harus pulang, sudah janji sama ibu."

"Oh, dimana rumahnya?"

"Daerah Kartosuro, jauh."

"Besok aku antar ya?"

"Jangan mas, rumahku jauh.."

"Tidak apa-apa, mumpung liburan."

"Tapi aku malu mas."

"Mengapa malu?"

"Rumahku jelek, rumah orang kampung."

"Memangnya kenapa kalau rumahnya jelek."

"Aku malu mas."

"Jangan begitu, aku tidak melihat bagaimana rumah kamu. Aku melihat kamu."

"Memangnya aku kenapa?"

"Kamu cantik, baik, rajin, sangat memperhatikan keluarga, itu aku suka. Jarang ada orang seperti kamu."

Tari berdebar dipuji cantik. Rasanya ia ingin segera sampai dikamar kostnya dan berdiri didepan kaca. Secantik apakah dirinya?

"Masa sih? Aku kira semua orang akan bersikap sama. Siapa yang tidak sayang keluarga?"

"Ada.. Pokoknya besok mau pulang jam berapa?"

"Tapi aku harus mampir-mampir dulu."

"Nggak apa-apa, mampir kemana?"

"Cuma beli oleh-oleh buat adik-adik."

"Bagus itu, aku antar. Jam berapa berangkat?"

Semua yang dikatakan Nugroho sangat menggelitik hati Tari. Laki-laki ganteng, baik, penuh perhatian. Apakah Tari jatuh cinta beneran? Tapi apakah Nugroho juga mencintainya? Sebuah kebaikan sebaiknya tidak disalah artikan. Mungkin Nugroho lebih merasa kasihan kepadanya daripada menyukainya. Ketika bertemu kemarin Tari sudah mengatakan semua keadaannya, keadaan keluarganya, sehingga Nugroho bisa menentukan sikap, apakah bisa melanjutkan hubungan itu atau tidak. Tapi nyatanya dia mau menjemputnya ke kantor walau tidak diminta, bahkan ingin mengantarkannya pulang kerumah orang tuanya. Hati Tari berdebar, apakah Nugroho tertarik?Suka, atau justru cinta? Tidak, Tari menepis perasaan itu. Kali ini Nugroho hanya ingin tau seperti apa keluarganya, pantaskah Tari menjadi pendampingnya. Begitu lebih tepat. Lalu Tari mengibaskan perasaan bahagianya. Rupanya belum sa'atnya dia merasa sudah mendapatkan laki-laki yang mengagumkannya ini.

Ketika hampir sampai didepan rumah kostnya, Tari memintanya berhenti.

"Mengapa disini?"

"Nggak apa-apa, disini saja."

Nugroho membukakan pintunya, dan Tari keluar. Ada tatapan mata yang menggetarkan hatinya. Aduhai, jangan dulu mengartikan itu cinta, walau hati Tari menggelora.

Ketika mobil itu berlalu, Tari melangkah perlahan menuju rumah kostnya yang hanya beberapa meter didepannya. Sesungguhnya Tari tak ingin Asty melihatnya bersama Nugroho. Tari lupa bahwa Asty masih ada dikantor, lembur.  Lalu Tari bergegas menuju kamarnya, tapi tiba-tiba Tari terkejut melihat seorang laki-laki duduk disana.

 

***

 

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Thursday, May 21, 2020

LESTARI PUNYA MIMPI 01

 LESTARI  PUNYA MIMPI   01

(Tien Kumalasari)

 

Lestari menunggu giliran wawancara diperusahaan dimana dia melamar. Agak grogi juga melihat sesama pelamar yang rata-rata cantik dan berpenampilan menarik. Lestari harus bekerja membantu orang tuanya karena masih harus membiayai sekolah adik-adiknya. Ia mencoba melamar disebuah perusahaan swasta karena orang tuanya tidak lagi mampu membiayai kuliahnya yang baru setengah jalan. Tidak apa-apa bagi Lestari, yang penting adik-adiknya harus sekolah. Ia tak sampai hati melihat ayahnya yang  bekerja di bengkel dan ibunya yang penjahit kemudian harus memeras keringat untuk biaya kuliahnya. Karena itulah dia mengalah. Ia harus bekerja, agar adik-adiknya tak sampai putus sekolah.

Ketika giliran dia harus masuk dilihatnya seorang laki-laki muda duduk disebuah kursi.  Lestari dipersilahkan duduk, dan sepasang mata tajamnya serasa menghunjam jantungnya. Ia seperti pernah mengenal laki-laki itu. Sambil menunggu Lestari mengingat-ingat. Tapi sebelum ingatannya sempat menangkap siapa dia, sebuah sapa mengejutkannya.

"Kamu Lestari kan?"

Iyalah Lestari, kan ada nama saya disurat lamaran itu. pikir Lestari sambil menunduk. Tak tahan mata itu terus menatapnya tanpa berkedip.

"Kamu lupa sama aku?"

Sekarang Lestari mengangkat kepalanya, memandangi dan mencoba lagi mengingat-ingat.

Kita pernah satu sekolah di SMA, aku kelas tiga, kamu kelas satu. 

Lestari masih menatap lekat. Wajah itu memang seperti pernah dikenalnya, tapi belum ingat juga dimana. Kakak kelasku? Pikirnya lagi.

"Kamu pernah jatuh pingsan sa'at upacara bendera, lalu aku menggendong kamu masuk ke UKS. Belum ingat juga?"

Terbelalak mata Lestari.

"Mas Janto? katanya hampir berteriak. 

Lestari sekarang ingat, Harjanto kakak kelasnya yang suka usil mengganggunya. Ia ingat ketika Janto membawa seekor ulat diatas daun, lalu didekatkannya pada wajahnya, padahal dia sangat geli melihat ulat. Lestari menjerit-jerit dan Janto tertawa-tawa senang. Tapi Janto sangat baik, setelah membuatnya takut dia tak segan meminta ma'af.

"Ma'af ya, aku membuat kamu takut."

Lestari cemberut waktu itu, dan Janto terus meminta ma'af.

"Ma'af ya..  kalau tidak kamu ma'afkan aku tak mau pergi dari sini," katanya.

"Iya..iya..! kata Lestari kesal.

Sekarang Janto si usil itu duduk dihadapannya, menjadi manager personalia. Menatapnya sambil tersenyum-senyum ketika melihatnya kebingungan sebelum dia benar-benar mengingatnya.

"Sekarang kamu ingat?"

"Iya, lupa so'alnya penampilan kamu sekarang lain. Sudah jadi orang gedean, walau badan kamu tetap kecil," seloroh Lestari.

Janto tertawa. Benar, Janto memang berperawaan kecil, tapi tinggi. Wajahnya masih tetap tampan. Dulu sering menjadi rebutan diantara teman satu sekolahan, tapi Lestari tak pernah mengacuhkannya. Dianggapnya Janto itu usil dan seenaknya.

Janto tertawa mendengar kata-kata Tari.

"Iya nih, badanku tak pernah bisa gede, padahal makanku banyak lho."

"Cacingan 'kali," canda Tari yang mulai berani walau dihadapannya adalah manager yang semula membuat hatinya kebat-kebit.

"Enak aja !!"

"Emang iya."

"Sekarang kamu tinggal dimana?"

"Bapak sama ibu masih di kampung, tapi kalau aku diterima kerja akan kost saja didaerah yang dekat dengan tempat kerjaku."

"Kamu anak sulung ya, seingatku begitu."

"Benar, adikku empat dan masih sekolah, aku harus mengalah. Berhenti kuliah demi membantu orang tua. Mereka tak kuat membiayai kuliahku juga."

"Anak baik. Pasti kedua orang tuamu bangga memiliki kamu yang penuh pengertian."

"Ah, menurutku biasa saja. Apa anehnya seorang anak membantu orang tua?"

"Iya sih, tapi kan tidak semua begitu."

"Gimana nih, kapan mulai wawancara, diluar masih ada yang nungguin lho," tegur Tari.

"Oh, benarkah? Baiklah, kamu pulang saja dulu, nanti aku kabari," kata Janto.

"Lha kapan aku wawancaranya?"

"Tadi kan sudah?"

"Sudah?" tanya Tari heran.

"Kan kita sudah berbincang beberapa sa'at tadi, itu wawancara kita. Kamu tinggal menunggu berita dari aku.

"Oh.." Lestari masih tak mengerti.

"Ya sudah, kamu boleh keluar, katanya masih ada yang menunggu," kata Janto sambil tertawa melihat Tari kebingungan.

Dan Lestari pun keluar dari ruangan itu masih dengan perasaan tak mengerti.

 

***

 

Lestari baru mengerti ketika ia mendapatkan pesan singkat dari Janto, bahwa minggu depan dia boleh masuk bekerja.  Agak heran sih, tapi Lestari bersyukur bisa diterima bekerja. Mungkin karena Janto mengenalnya, atau karena memang keberuntungannya, entahlah.

Ibunya memeluk haru mendengar Lestari sudah mendapat pekerjaan. Ada perasaan kecewa karena tak bisa membiayai kuliah Tari sampai selesai, tapi apa dayanya, memang keadaan ekonomi keluarganya sangat memprihatinkan.

Lestari kemudian sibuk mencari tempat kost yang dekat dengan kantornya, supaya tidak kebanyakan mengeluarkan transport, karena bapak ibunya tinggal dipinggiran kota.

Dan tanpa disangka ia bertemu dengan seorang gadis yang sedang bersama-sama mencari tempat kost, dan kebetulannya lagi adalah dia akan menjadi rekan kerja, karena diterima di perusahaan yang sama.

"Kita belum kenalan, namaku Asti," kata gadis itu.

"Namaku Lestari."

"Tampaknya tempat kost itu lumayan bagus. Bagaimana kalau kita memilih yang satu kamar untuk berdua?" tanya Asti setelah melihat-lihat tempat kost itu.

"Aku setuju, itu akan lebih menghemat uang kita," jawab Lestari.

Akhirnya mereka tinggal ditempat kost yang sama, dan dikamar yang sama pula. Rumah Asty jauh dikota lain, bukan seperti Tari yang hanya ada dipinggiran kota.

Dengan gembira Lestari mulai bekerja. Dia ditempatkan di bagian administrasi, dan Asti ditempatkan di bagian logisik.

 

***

 

"Lestari,  bapak terharu mendengar kamu sudah mulai bekerja. Bapak minta ma'af karena tidak mampu menyekolahkan kamu sampai selesai," kata pak Marno ayah Lestari.

"Mengapa bapak berkata begitu? Lestari memang sudah lama ingin bekerja. Sekolah itu bisa dilanjutkan nanti pak, jangan menyesali semua ini. Yang penting adik-adik bisa terus bersekolah."

"Terimakasih ya nduk."

"Ah, bapak, tidak usah berterimakasih, ini kewajiban seorang anak. Bapak juga tidak usah terlalu memikirkannya.  

Pak Marno memeluk anaknya dengan terharu. Ada kebanggaan tersirat dimatanya ketika nenyadari betapa besar perhatian anak sulungnya kepada keluarganya.

"Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang labih baik dari kedua orang tuamu ini Tari."

"Aamiin, bukankah orang tua juga akan selalu mendo'akan anaknya? Restu bapak dan ibu sangat penting dalam perjalanan hidup."

"Kamu sudah dewasa.."

"Iya, bukan sa'atnya merengek untuk dibelikan baju baru, atau minta mainan seperti milik teman-temannya, iya kan pak ?"

"Iya .. iya," kata pak Marno sambil tersenyum.

"Tari akan pulang setiap libur."

"Pastinya, karena kalau tidak bapak ibu dan adik-adik kamu pasti kangen."

"Kita tidak berjauhan, Tari hanya ingin supaya dekat dengan kantor sehingga tidak banyak kehilangan uang untuk transport."

"Semoga apa yang kamu cita-citakan berhasil," kata ibunya yang sedari tadi diam menyaksikan perbincangan Tari dan ayahnya. Sang ibu juga terharu, dan sesekali mengusap air matanya. Walau tak begitu jauh, pasti sedih tidak setiap hari melihat sosok anak sulungnya yang sesungguhnya pintar dan rajin ini.

Lestari pun memeluk ibunya dengan kasih sayang.

***

"Tari, kamu sudah punya pacar?" tanya Asty pada suatu malam ketika menjelang tidur.

"Pacar ?" Tari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kamu itu cantik, mengapa belum punya pacar ?"

"Memangnya ukuran punya pacar itu dari cantik dan tidak nya seseorang?"

"Biasanya gadis cantik cepat punya pacar."

"Nggak juga Asty, aku belum memikirkannya. Kamu sendiri ..?"

"Kamu kan tau, aku tak pernah kemana-mana kecuali bekerja. Jadi mana mungkin aku pacaran?"

"Nah, kamu juga cantik tapi belum punya pacar .."

"Ayuk kita cari pacar.." kata Asty mengejutkan Lestari.

"Haa.. Bagaimana mencari pacar? Kamu ada-ada saja Asti."

"Kalau begitu ayo cari jodoh."

Lestari tertawa.

"Ada-ada saja kamu ini.. "

"Kita ini sudah cukup tua untuk mendapatkan jodoh. Lihat saja, banyak teman seumuranku sudah pada anak satu atau dua."

"Tidak usah iri pada mereka, jodoh itu akan datang apabila Allah sudah memberikanNya. Sabarlah Asty."

"Kalau kita tidak berusaha, mana mungkin bisa dapat? Kita hanya tinggal dirumah kost ini, lalu ke kantor, lalu kembali lagi kesini dan tidur."

"Memangnya kenapa?"

"Kalau begini terus, kapan dapat jodohnya?"

"Kalau Allah menghendaki, jalan itu pasti ada,"kata Tari sambil membalikkan badannya memeluk guling dan memejamkan matanya."

"Tari.." tampaknya Asty masih ingin bicara.

"Asty, sudahlah, ayo tidur, aku sudah mengantuk."

Tari tetap memejamkan matanya, tapi tiba-tiba dia sadar bahwa apa ya ng dikatakan Asty itu benar. Mereka sudah cukup tua untuk mendapatkan pacar atau calon suami.

 

***

 

Ketika mereka sedang berbelanja sore itu, Asty berbisik pelan.

"Lihat, didepan ada cowok ganteng."

"Issh... kamu ni As.." kata Tari, tapi tak urung matanya menatap juga kearah laki-laki ganteng yang sedang berjalan sendirian.

"Hayo... kamu ni malu-malu tapi mau kan?" goda Asty. 

"Jangan malu-maluin ah," tegur Tari.

"Lha itulah kamu, malu-malu tapi mau," kata Asty sambil menggandeng Tari mendekati pria itu.

"Asty...." tegur Tari.

Lalu dengan tanpa diduga Tari menabrak laki-laki ganteng yang sedang mengamati sesuatu disebuah etalase, kemudian Asty terjatuh.

Tari memekik terkejut.

"Asty, kamu kenapa ?"

Laki-laki itu serta merta menunduk dan membantu Asty berdiri.

"Ma'af ya, " kata Asty sambil menatap laki-laki itu.

"Tidak apa-apa mbak, ada yang sakit ?"

"Nggak, nggak apa-apa, ma'af.." kata Asty.

Lestari menarik tangan Asty menjauhi laki-laki itu.

"Iihh.. kamu tuh sudah gila?"

Asty hanya tertawa, lalu membiarkan Tari menariknya jauh-jauh dari laki-laki itu.

"Huh, laki-laki sombong, aku kira dia kemudian mengajak kita kenalan, ternyata cuma begitu saja."

"Jangan berkhayal yang tidak-tidak, masa hanya karena kamu menabraknya lalu dia mengajak kamu kenalan? Ayo ketempat sayuran, katanya pengin masak sendiri malam ini."

"Tapi dia tadi tuh benar-benar ganteng kan?"

"Ganteng juga kenapa, siapa tau punya orang," gerutu Tari sambil memilih beberapa sayuran yang dibutuhkannya.

 

***

 

Malam hari itu selesai makan malam dari hasil memasak bersama, Asty membuka buka koran dikursi depan kamarnya.

Tari sedang mengabarkan keadaan rumahnya, karena kemarin mendengar ibunya sakit.

"Bagaimana keadaan ibu sekarang?"  tanya Tari di telepon.

"Baik Tari, ibu hanya masuk angin."

"Ibu harus hati-hati, jangan sampai kecapean."

"Dua hari yang lalu sempat menjahit sampai malam, karena ada langganan yang minta agar bajunya buru-buru diselesaikan, ada undangan hari Minggunya."

"Ibu jangan sampai memforsir tenaga begitu. Kalau memang tidak sanggup ya katakan saja tidak bisa, biar dia mencari penjahit lain."

"Nggak enak nduk, namanya sudah langganan. Dia itu kalau bukan ibu yang menjahit bajunya katanya kurang puas."

"Tapi kalau kemudian ibu jadi sakit, apa dia bertanggung jawab ?"

"Namanya orang bekerja Tari, pasti ada resikonya. Ibu tidak ingin mengecewakan langganan. Kalau dia kemudian tidak mau lagi menjahitkan bajunya ke ibu, kan ibu yang rugi."

"Ibu benar, tapi lain kali jaga kesehatan ya, besok Minggu Tari pulang, ibu mau dibawakan apa?"

"Nggak usah bawa apa-apa , kamu pulang saja ibu sudah senang."

"Ah, ibu pasti begitu deh. "

"Bawain singkong keju saja seperti kemarin, adik-adik mu sama bapak suka tuh."

"Baiklah bu, nanti Tari bawakan, sudah itu saja?"

Tiba-tiba terdengar teriakan Asty sambil mendekat kearahnya.

"Tari... lihat!! Aku dapat! Oh, ma'af, lagi teleponan ya?" 

"Sudah ibu, sampai Minggu besok ya." kata Lestari lalu menutup ponselnya.

"Ada apa sih?"

"Lihat, ada dua cowok mencari jodoh."

"Ya ampuun, kamu tuh... kirain ada apa."

"Dengar Tari, ini bagus, yuk kita hubungi mereka. Ini ada dua, kamu yang atas ini, aku yang bawah."

Tari tersenyum. Tiba-tiba ia tertarik pada ajakan Asty.Ini ide yang dianggapnya gila, tapi ia tergoda ingin mencobanya.

 "Baiklah, iseng-iseng saja ya," kata Tari.

Lalu Asty memberikan satu nomor telepon yang tertera dikoran itu, satu lagi untuk dirinya.

"Ini sudah malam, nggak enak menelpon," kata Tari.

"Baiklah, besok pagi saja." 

***

Dan Tari benar-benar menelponnya. Ada saling tanya jawab ketika saling menelpon, yang ternyata Tari suka melakukannya. Dia ramah, dan suaranya merdu lho. Tari merasa suara itu seperti menggelitik telinganya lembut, dan membuatnya merinding.

"Suaranya bagus banget," gumamnya sambil tersenyum.

"Sudah janji ketemuan?" tanya Asty.

"Belum, suaranya bagus banget, semoga orangnya ganteng.

Asty tertawa.

"Siapa namanya?"

"Dia mengatakan namanya Nugroho, siapa ya kepanjangannya aku lupa."

"Nggak penting lah kalau nama, yang penting kan orangnya. Awas ya, kalau nanti kamu ketemuan, jangan sampai kamu terusin kalau orangnya jelek."

Tari membayangkan suara Nugroho, masa sih suara sebagus itu orangnya jelek? Jelek itu yang bagaimana sih, yang penting kan orangnya baik, setia, menyayangi sepenuh hati.

"Kamu bagaimana?" tanya Tari.

"Aku nggak cocog," kata Asty sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Nggak cocog apanya?"

"Dia itu duda, anaknya tiga, yang dua masih balita. Tampaknya dia bukan mencari isteri tapi mencari baby sitter," geritu Asty.

Lestari tertawa tergelak-gelak mendengar kata-kata Asty.

"Ya udah, sama Nugroho itu saja,  Bagaimana?"

"Nggak mau, tu sudah jatahmu, aku do'akan semoga berhasil," kata Asty.

"Hm, ya udah, jangan menyesal ya kalau ternyata dia ganteng."

"Nggak, aku percaya takdir. Bukankah kemarin kamu sendiri yang mengatakan bahwa kalau Allah menghendaki kita mendapatkan jodoh, pasti akan ada jalannya."

"Iya, tapi ini kan hanya iseng, belum tentu jadi sungguhan."

"Siapa tau jadi sungguhan."

"Hanya Allah yang tau. Do'akan yang terbaik untuk aku ya?"

"Pasti Tari."

***

Sejak sa'at itu hampir setiap hari Tari bertelpon dengan Nugroho. Akhirnya Nugroho bermaksud bertemu Tari disebuah rumah makan.

"Aku nanti memakai kaos biru, pakai topi putih ya," pesan Nugroho.

"Baiklah, aku juga akan memakai baju putih berkembang biru," jawab Tari.

Berdebar juga hati Tari ketika memasuki rumah makan dimana mereka janjian. 

"Aduh, gimana nih, maksudnya hanya iseng kok kemudian jadi sungguhan," katanya dalam hati.

Tari melangkah memasuki rumah makan itu. Hari sudah menjelang sore, karena janjiannya setelah pulang kantor. Tak banyak orang duduk dirumah makan itu.

Tari menoleh kekiri dan kekanan. Mana laki-laki berkaos biru bertopi putih?'

Haaa... rupanya dia sudah duduk disana, agak kebelakang, dekat dengan taman bunga yang ada disisi rumah makan itu.

Tari mendekat, laki-laki itu belum menoleh kearahnya. 

Jangan-jangan orang yang kebetulan memakai baju dan kaos sama seperti yang dikatakan Nugroho.Pikir Tari.

Tari berdehem, laki-laki itu menoleh, berdesir jantung Tari menatap laki-laki itu.

***

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

"

 



Tuesday, May 19, 2020

KEMBANG TITIPAN 31

KEMBANG TITIPAN  31

(Tien Kumalasari)

Timan melangkah dengan hati-hati, agar langkahnya tak menimbulkan bunyi. Siapa yang duduk diteras dan menyalakan lampu ya?

Perlahan Timan naik keteras, lalu menepuk jidatnya sambil tertawa.

"Ya ampuun, Lastri sama bu lurah?"

Marni dan Lastri tertawa.

"Oh, rupanya kita dikira maling yu.." kata Lastri sambil merengut.

"Lha mana yang lainnya?" seru Marni.

"Masih diluar, melihat ke teras kok ada yang duduk, jangan-jangan anak buah Basuki. Lha pak lurah mana?"

"Baru beli bensin. Sama aku nitip rujak," kata Lastri."

"Haa, malam-malam pengin rujak juga?"

"Iya tuh, ini .. yang minta anaknya mas Bayu." 

"Oh, gitu ya, kalau lagi hamil dan pengin sesuatu, alasannya yang minta anaknya?"

Lastri hanya tertawa.

"Mana yang lainnya?" tanya Marni.

"Walaah, habisnya nggak kelihatan ada mobil, jadi nggak bisa nebak siapa yang datang. Saya khawatir ada orang jahat, jadi saya suruh tunggu dulu diluar. Sebentar, saya masukkan mobil dan isinya," kata Timan sambil tertawa, lalu setengah berlari kembali ke mobil.

"Ada apa mas?" hampir semua bertanya dengan khawatir.

"Tidak apa-apa, tenang saja, turun nanti kalau sudah didepan rumah," kata Timan sambil masuk ke mobilnya dan membawanya masuk ke halaman. 

Begitu para 'penumpang' turun, terdengar teriakan-teriakan haru, saling peluk dan bertangisan diantara mereka.

"Alhamdulillah Sri, kamu selamat, mbah Kliwon juga selamat," tangis Marni.

"Senang melihatmu sehat Sri...bahagia kamu sudah kembali," kata Lastri sambil memeluk erat Sri.

"Atas do'a saudara-saudaraku ini," kata Sri yang kemudian menarik Mery.

"Ini mbak Mery, siapa yang belum kenal?"

"Aku yang belum," kata Lastri yang kemudian mengulurkan tangannya kearah Mery, dan disambut hangat oleh Mery.

"Saya Mery,"

"Saya Lastri, isterinya mas Bayu, anak desa juga seperti Sri."

"Anak-anak desa yang luar biasa," kata Mery memuji.

"Lhah ini apa?" tiba-tiba Timan berteriak sambil menunjuk kearah meja.

"Itu, aku sama yu Marni  membawa nasi dan lauk pauk, karena yakin kalau kalian pasti lapar."

"Itu kamu yang masak Tri?' tanya Bayu kepada isterinya.

"Ya bukan lah, aku mencium bau bumbu saja mau muntah. Kami beli dijalan. Ayo Sri, dibawa kebelakang, " kata Lastri.

"Wah, yu Lastri repot-repot, tapi syukurlah, tadi aku berencana masak setelah sampai. Ee.. sudah ada makanan, ayo mbak kita bawa kebelakang," ajak Sri kepada Mery.

"Mana pak lurah?" tanya Bayu.

"Lagi keluar, Lastri pengin rujak."

"Tuh kan, kamu merepotkan pak lurah Tri?" tegur Bayu sambil merangkul isterinya.

"Tidak mas Bayu, mas Mardi sekalian mau isi bensin." kata Marni.

"Itulah, karena tidak kelihatan mobilnya, jadi aku curiga, siapa yang menyalakan lampu dan duduk-duduk diteras."

"Jadi tadi pada takut, dikira kami pencuri," kata Marni.

"Kalau yang ini memang pencuri bu lurah," kata Bayu sambil menunjuk kearah isterinya.

Lastri melotot menatap suaminya, yang tertawa-tawa.

"Aku mencuri apa sih mas? tanya Lastri masih dengan cemberut.

"Kamu mencuri hatiku?" kata Bayu akhirnya yang disambut Marni dan Timan dengan tertawa keras.

Lastri mencubit pinggang suaminya.

"Iih, mas Bayu, agak kesana, kamu bau."

"Lho, sudah dipeluk dari tadi baru terasa kalau bau?" kata Bayu sambil menjauh.

"Iya, tadi nggak terasa, lama-lama perutku mual."

"Mas, permisi kebelakang dulu, takut Lastri marah-marah karena bau keringat."

"Aku bawa bajumu mas, ini.. ganti sana," kata Lastri sambil membuka tasnya.

"O, sudah siap-siap rupanya."

Bayu meraih bajunya dan langsung pergi kebelakang.

Timan dan Marni hanya tertawa.

"Semoga besok kalau isteri saya mengandung justu suka mencium bau keringat saya," kata Timan.

"Iih, nggak mungkin deh mas.  Bau keringat selalu membuat mual."

"Waduh, kalau begitu aku juga mau mandi nih," kata Timan yang langsung berdiri dan bergegas kebelakang.

"Hari ini benar-benar menyenangkan," kata Marni.

"Eh, mbah Kliwon sama pak Darmin mengapa duduk mojok disitu?"

"Tidak apa-apa bu lurah, mau mandi dulu, nungguin ngantri kamar mandi," kata pak Darmin.

"Lha itu kang Mardi datang. Aduuh.. mudah-mudahan rujaknya dapat.." kata Lastri senang.

 

***

 

  Malam itu pak Darmin dan mbah Kliwon juga Sri dan Mery masih ada dirumah Timan. Mereka masih ingin menenangkan diri disana. 

Pak lurah dan Bayu sudah pulang ,

Timan ingin menutupkan pintu ketika dilihatnya pak Darmin masih duduk diteras.

"Lho, bapak kok masih duduk disitu ? Ini sudah malam lho pak," tegur Timan.

"Iya nak, sebentar lagi, bapak belum bisa tidur."

Timan mendekat dan duduk dihadapan calon mertuanya.

"Bapak sedang memikirkan apa?"

"Nak, bapak ingin mengatakan lagi., bahwa bapak benar-benar titip Sri ya nak. Dia sudah banyak menderita." 

"Mengapa bapak berkata begitu? Bapak harus percaya bahwa saya benar-benar mencintai Sri. Saya berjanji akan selalu melindungi dia, dan membuatnya bahagia."

"Terimakasih nak," kata pak Darmin dengan linangan air mata. Ia teringat hari-hari yang telah dilaluinya, dan diyakininya pasti sangat membuat Sri mnderita/

"Aku ini orang tua yang tidak becus."

"Sudahlah pak, jangan berfikir begitu. Bapak sudah melewati semuanya dengan baik, dan bapak sudah berjanji akan melakukan hal yang baik juga. Itu harus bapak pegang dan jangan lagi menoleh kebelakang. Kita akan menjalani susah dan senang bersama-sama."


"So'alnya bapak tau bahwa bapak tak akan luput dari hukuman."

"Oh, bapak memikirkan itu?"

"Basuki pasti akan mengatakan bahwa dia telah membayar bapak untuk semua hutang bapak, dan seakan bapak telah menjual anak bapak. Itu bisa menjerat bapak dengan hukuman yang lumayan berat."

"Pak, kami melaporkan Basuki atas penculikan terhadap Sri. Tapi tak bisa dipungkiri semua akan terlibat. Sri, mbak Mery, pak Marso, semua harus hadir ketika dipanggil dipersidangan. Tapi jangan khawatir, banyak yang akan membantu."

"Tapi kalau Basuki bercerita tentang hutang bapak itu?"

"Kita semua berharap yang terbaik pak, bapak harus menyerahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sekarang bapak istirahat saja, jangan memikirkan terlalu berat. Saya akan mendo'akan yang terbaik bagi kita semua."

Timan berdiri, merengkuh pak Darmin dan diajaknya masuk kedalam. Ketika masuk kekamar, dilihatnya mbah Kliwon sudah terlelap.

***

 

Basuki adalah orang yang kasar, keras, diktator. Ia merasa bahwa harta yang dimilikinya bisa mewujudkan apa yang diinginkannya. Ia tak pernah ditentang, ia seakan disembah-sembah karena gelimang kekayaannya. Ia tak pernah susah dan ia tak pernah merasa sakit hati.

Tapi kali ini ia merasa menjadi orang yang berbeda. Meringkuk dalam ruang pengap, tak seorangpun menaruh hormat. Sebelumnya dia dicaci maki. Justru oleh seorang belia yang dia gandrungi. Basuki merasa aneh. Ia benar-benar jatuh cinta. Ia benar-benar ingin memiliki seorang isteri, dan isteri itu adalah Sri. Gadis yang berbeda. Kembang dusun yang cantik dan polos, yang tak bergeming oleh iming-iming harta miliknya. Ini adalah perempuan idaman dan Basuki ingin memilikinya. Namun langkah yang salah membuatnya terjebak dalam kubangan derita.

"Sri.. Sri... ini semua karena kamu  Sri..." bisiknya pilu. Baru kali ini Basuki merasa sedih. 

"Apapun aku tetap mencintai kamu Sri, aku berharap kamu bahagia, bukankah ini cinta sejati? Aku ingin melihat kamu bahagia, aku menerima semua ini karena perbuatanku. Aku pengecut ya Sri, aku nista.. aku hina.. Bibir tipismu yang mengatakan itu, merajang-rajang jiwaku sampai lumat berkeping-keping," lalu Basuki mengusap air matanya. 

***

Pagi itu ketika Sri terbangun, dilihatnya Mery sudah mandi dan berdandan rapi.

"mBak Mery kok sudah cantik, mau kemana ?"

"Tidak mau kemana-mana Sri, semalam aku tidak bisa tidur."

"Mengapa mbak? Kangen sama Basuki?" ledek Sri.

Mery mencubit lengan Sri pelan.

"Tidak Sri, aku sudah melupakannya."

"Lalu mengapa tidak bisa tidur?"

"Dengar Sri, aku punya beberapa juta rupiah didalam tas merah itu. Aku bermaksud memakainya sebagai modal berdagang."

"Bagus mbak. bukankah mas Timan sudah berjanji akan membantu? Besok kalau aku sudah menikah, kita akan tinggal disini bersama-sama."

"Aku titipkan uang itu kepada kamu ya Sri."

"Mengapa? Bukankah mbak Mery bisa membawanya sendiri? Kalau kita pergi ke desaku nanti, biar saja uang itu didalam almari."

"Kamu tau Sri, kalau Basuki disidang nanti, aku pasti kena. Dan kemungkinan besar aku juga akan dihukum."

"Mengapa mbak Mery mengatakan itu?"

"Basuki dituduh menculik. Bagaimana cara dia menculik, kan kamu tau sendiri Sri, akulah orangnya yang membawa kamu kepada Basuki."

"Tapi mbak Mery sudah berbuat baik, membebaskan aku dari cengkeraman Basuki. Percayalah mbak Mery tak akan terkena hukuman."

"Aku juga berharap begitu, tapi seandainya terjadi, rawatlah uang itu. Aku akan mempergunakannya ketika aku keluar dari penjara," kata Mery berlinang air mata.

Sri memeluk Mery.

"Jangan berfikir begitu mbak, semoga yang terbaiklah untuk kita semua. Mas Timan sudah berjanji akan mencari pengacara."

"Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk. Sekarang mandilah, aku ingin ikut mas Timan kepasar dan berjalan jalan seperti beberapa hari yang lalu.Aku ingin melihat peluang yang ada. Mungkin aku akan berjualan buah, tapi mungkin juga akan membuka sebuah warung makan."

"Waah, itu hebat mbak."

"Tapi aku harus belajar masak dulu sama kamu."

"Ah, mbak Mery, nanti aku bantuin. Kita akan belajar bersama-sama ya," kata Sri lalu mengambil handuk dan bergegas kekamar mandi.

***

 

  Ketika sa'at persidangan itu, Sri melihat Basuki duduk dikusri pesakitan. Matanya merah, tidak segarang biasanya. Namun ketika Basuki menatapnya, Sri merasa bahwa Basuki sudah berubah. Tak ada mata garang, tak ada mata nyalang dan kurangajar seperti yang dulu pernah dilihatnya. Ia justru melihat genangan air mata dipelupuknya.

Basuki mendengarkan semua dakwaan dengan tenang. Tapi ketika ditanyakan mengapa menculik Sri, dia mengatakan baha dia mencintainya. Tak disebutkannya bahwa dia pernah membayar hutang pak Darmin. Dia juga mengatakan bahwa penculikan itu dibantu oleh Mery yang mendapat ancaman darinya. Mery tidak berperan dalam penculikan itu kecuali mendapat paksaan.

Pak Darmin yang berdebar menghadiri persidangan itu merasa lebih tenang. Tak ada namanya disebutkan. Mery juga hanya dipanggil sebagai saksi.

Tampaknya Basuki ingin memikul semua kesalahan itu diatas pundaknya. Itu sangat mengejutkan, sekaligus melegakan.

***

"mBak Mery mengapa melamun?"

"Sikap Basuki itu. Tampaknya aneh. Dia bukan seperti Basuki yang aku kenal. Dia sangat lemah dan tak berdaya, dia pasrah, dan dia memikul semua kesalahan tanpa membawa orang lain bersamanya."

"Kita harus bersyukur, bapak kan sudah ketakutan."

"Aku juga Sri."

"Lalu apakah kita harus mema'afkannya?"

"Sebaiknya kita mema'afkan dia. Dia sudah terhukum."

"Aku kasihan melihat dia berlinang air mata ketika menatapku."

"Dia berubah karena kamu Sri. Dia sungguh-sungguh mencintai kamu."

"Itu sangat menakutkan mbak."

"Tapi cinta itu tidak bisa disalahkan Sri, dia bisa saja datang kepada siapa saja, dan dia mempunyai kekuatan yang maha dahsyat. Buktinya dia bisa berubah karena cinta itu."

"Iya mbak, kalau teringat waktu itu ya mbak, saya hampir putus asa,"

"Dan kamu memilih mati bukan?"

"Wakt u itu bayangan saya hanya mati."

"Ya sudahlah, jangan diingat-ingat lagi. Kapan kita pulang ke desamu?"

"Besok ya mbak, sudah lama kita tinggal disini. Lagian simbah sama bapak sudah pulang duluan. Simbah bilang mau membersihkan kamar buat kita."

"Mengapa simbah Sri, aku kan bisa membersihkannya sendiri."

"Itu kemauan simbah, dan bapak juga ingin segera membersihkan rumahnya. Ya sudah biarkan saja mbak, yang penting mereka sudah merasa senang dan lega."

"Tinggal membicarakan hari pernikahan kamu Sri."

"Ah, mbak Mery.." kata Sri tersipu.

"Alangkah membahagiakan jadi pengantin.." gumam Mery.

"mBak Mery juga tidak bisa selamanya sendiri. Mudah-mudahan segera ada yang melamar mbak Mery juga."

"Tidak Sri, aku sudah tua, umurku jauh diatasmu, bukan masanya berharap mendapatkan suami."

"mBak Mery masih kelihatan muda dan cantik lho."

"Sudah, ayo bicara tentang usaha saja. Bagaimana ya sebaiknya, jadi jualan buah atau warung makan ya."

"Terserah mbak Mery saja, aku selalu mendukung mbak Mery kok."

"Nanti bicara sama mas Timan, dan sebaiknya usaha itu dimulai kalau kamu sudah menikah. Supaya tidak mengganggu mas Timan. Kan sekarang lagi siap-siap mau jadi pengantin.

"Iya lah, gampang, nanti kita bicara lagi, yang jelas aku ingin segera mengajak mbak Mery melihat desaku."

"Iya, aku juga ingin nih."

 

***

 

Didesanya, Sri mengajak jalan-jalan Mery mengitari desa dengan berjalan kaki.  Mery sangat takjup melihat pemandangan yang sangat indah disana.

"Ada tempat untuk orang-orang berwisata disana mbak,"

"Aku pernah mendengar Telaga Sarangan. Jauhkah dari sini?"

"Tidak, pak lurah berjanji akan mengajak kita kesana, biar mbak Mery tau."

"Iya Sri, aku mau.  Aku juga kagum kepada yu Lastrimu itu. Katanya ia merintis usaha pengumpulan pedagang sayur dan buah disini."

"Desa ini maju setelah kang Mardi jadi lurah. Dibantu yu Lastri kehidupan para petani disini menjadi lebih baik. Aku bekerja membantu yu Lastri bersama simbah, Setelah yu Lastri menikah, usaha ini dipegang sendiri oleh kang Mardi. Aku tetap membantu bersama simbah."

*** 

Didesanya, pak Darmin hanya menikahkan Sri dan Timan secara sederhana. Tidak ada pesta kecuali hanya syukuran diantara tetangga sekitar. Namun begitu Darmin merasa lega dan pastinya bahagia mendapatkan menantu yang baik seperti Timan.

Setelah seminggu Timan mengadakan syukuran dirumahnya. Tamunya lebih banyak, karena sesama pedagang dipasar juga diundang. Bayu ikut mengatur acara itu, karena Timan sudah tidak punya orang tua.

Timan sangat bahagia, dia terus menggandeng isterinya dan menyalami setiap tamu undangan yang hadir.

Banyak sahabat pedagang pasar mengagumi kedua mempelai. Mereka bak pangeran dan puteri dari kerajaan antah berantah. Yang satu ganteng, yang satu sangat cantik. Siapa mengira Sri gadis desa yang lugu sekarang tampak seperti puteri. digandeng sang pangeran. Sunggingan bahagia menghiasi bibir mereka.

Jam sepuluh malam, tamu-tamu sudah bubar. Mery letih dan pulas dikamarnya.  

Tapi Timan dan Sri masih terjaga. Mereka sedang mengamati hadiah-hadiah yang diberikan para sahababatnya.

Tiba-tiba Sri melihat sebuah bungkusan kecil berwarna merah jambu. Tidak begitu besar, tapi terbungkus sangat apik. 

"Dari siapa ini ya mas? Bagus sekali."

"Buka saja Sri."

Sri membuka bungkusan dengan hati-hati. Seakan merasa sayang apabila sampai merusak bungkusan itu.

Ada kotak kecil didalamnya, berselimut beludru berwarna kuning keemasan.

Sri berdebar membukanya. 

"Haa.. sebuah kalung emas, dengan leontin berbentuk jantung berwarna merah."

"Indah sekali. Dari siapa ini mas ?" kata Sri sambil menempelkan kalung itu didadanya."

"Coba sini aku kalungkan," kata Timan yang kemudian memasangkan kalung itu kepada isterinya.

"Wah, cantik sekali Sri. Itu ada tulisannya, dari siapa ya."

"Sri mengambil secarik kertas kecil terselip didasar kotak."

UNTUK SRI DAN SUAMINYA, SEMOGA BAHAGIA. PAKAILAH KALUNG INI AGAR KAMU SELALU MENDENGAR DETAK JANTUNGKU. 

DARI AKU, BASUKI.

Sri melepaskan kertas itu dan terburu-buru mencopot kalungnya.

"Mengapa Sri?

"Dari Basuki, aku tidak akan memakainya."

"Jangan begitu Sri, dia memang mencintaimu. Dan jatuh cinta itu bukan dosa." kata Timan yang mengenakan kalung ini kembali dileher  isterinya.

Sri memeluk suaminya. Cinta itu bukan dosa.

Ada api memercik diperaduan, ada kidung-kidung sorga mengalun disana..

T A M A T

Sekilas info.

Seorang wanita memeluk bayi yang baru dilahirkan. Disampingnya seorang wanita terbaring lemah.  Matanya menatap sendu, lalu berbisik lirih.

"BAYI YANG SEHARUSNYA AKU LAHIRKAN."

Penghianatan cinta itu menyakitkan. Tapi siapa salah kalau setangkai cinta harus luput dari genggaman?

           M I M P I   L E S T A R I

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 


 














Monday, May 18, 2020

KEMBANG TITIPAN 30

KEMBANG TITIPAN  30

(Tien Kumalasari)

 

"Marso !! Mery mengulang panggilannya karena laki-laki tersebut seperti tak mendengarnya. Tapi pada panggilan kedua ini Marso berhenti melangkah. Ia menoleh dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.

"Bu Mery ?"

"Awas, jangan lari! Ada polisi disekitarmu ! Teriak Mery."

Tapi Marso memang tak ingin lari. Ia justru menunjuk kearah mobil polisi yang diparkir tak seberapa jauh dari mobilnya Timan.

"Bu Mery ada disini ?"

"Ya, kamu sedang mengikuti junjunganmu kan?" 

Timan turun dari mobil, dan juga polisi-polisi serta Bayu ikut turun mendengar Mery berkata-kata dengan keras.

"Saya tadi beli sesuatu di mini market itu dan melihat ada mobil polisi, saya justru ingin melapor."

"Melapor tentang apa pak?" tanya salah seorang polisi.

"Ini salah satu anak buah Basuki pak, tangkap saja dia."

"Tunggu pak, saya justru akan melaporkan bahwa tuan Basuki ada disekitar sini."

"Bohong kalau dia bilang mau melapor pak," sergah Mery.

"Bukankah bu Mery melihat saya berjalan kearah situ? Saya dari mini market yang ada disebelah sana, lalu saya melihat mobil polisi dan justru ingin melapor."

"Dimana Basuki ?"

"Dirumah itu, kira-kira seratus meter dari sini," kata Marso sambil menunjuk kearah rumah dimana Basuki ada disana.

"Apa simbahku ada disana?" tiba-tiba Sri sudah ada disamping Mery.

"Laki-laki tua itu? Ada, Dia sekamar dengan saya.

"Dimana? Dimana?" kata Sri penasaran.

"Ayo kita kesana."

"Tolong, jangan bilang kalau saya melaporkan."

"Mengapa tiba-tiba kamu melaporkan majikan kamu?"

"Saya lelah, lama-lama saya tidak suka apa yang dilakukannya, saya ingin bertobat."

"Dimana rumahnya?"

"Yang ada pohon mangga, kiri jalan, cat biru,"

Salah seorang polisi menggandeng Marso karena belum sepenuhnya percaya apa yang dikatakan Marso.

Sri sudah lari lebih dulu, tapi kemudian Timan mengejarnya.

"Sri, sabar Sri, tunggu dulu, Basuki itu berbahaya, bagaimana kalau kamu ditangkap sekalian?"

Sri menurut, ia berjalan dibelakang polisi dengan digandeng Timan. Tak tahan rasanya ingin segera bertemu simbahnya.

 

***

 

"So.. Marso..." " teriak Basuki.

"Marso sedang keluar tuan," jawab salah satu anak buahnya.

"Apa? Keluar kemana?" kata Basuki berteriak.

"Katanya mau beli rokok tuan."

"Orang gila! Eddan ! Mengapa keluar?" Aku mendengar sirene mobil polisi. Apa kamu tuli dan tidak mendengarnya?"

"Ya tuan, saya mendengarnya."

"Mengapa kamu biarkan Marso keluar?"

"Dia bilang hanya akan membeli rokok."

"Sudah lama dia tidak merokok, mengapa tiba-tiba ingin beli rokok?"

"Tadi bilang ingin sekali, begitu tuan."

"Mana sekarang, mengapa belum kembali? Tadi aku mendengar sirene mobil polisi, Jangan-jangan dia ditangkap. Celakalah kita."

Lalu Basuki memasuki kamar mbah Kliwon. Dilihatnya mbah Kliwon berbaring sambil memejamkan mata.

"Pak Tua, bangun.. kita harus pergi."

"Kemana lagi? Aku capek."

"Tidak boleh capek, pak tua harus mengikuti aku terus. Ayo bangun !!"

Basuki menyuruh anak buahnya untuk menarik mbah Kliwon. Terpaksa mbah Kliwon bangun. Tadi mbah Kliwon juga mendengar sirene mobil polisi. Semoga segera ada pertolongan, batin mbah Kliwon berharap.

"Mana Marso, mengapa lama sekali ?"

"Iya, saya juga heran mengapa lama sekali. Padahal ada mini market didekat situ."

Basuki melangkah kedepan rumah, diikuti anak buahnya yang menggandeng tangan mbah Kliwon.

Ia bermaksud membuka garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Namun tiba-tiba dilihatnya beberapa polisi sudah berdiri dihalaman.

Basuki terkesiap. Ia merasa bahwa itu adalah ancaman.

"Berdiri disitu dan jangan bergerak!" hardik salah seorang polisi.

Basuki tiba-tiba menarik tubuh mbah Kliwon, lalu ia mengeluarkan sebilah pisau belati yang sebenarnya selalu siap terselip dipinggangnya.

" Biarkan saya pergi, atau saya bunuh orang tua ini !" ancam Basuki dengan mata merah. Sesungguhnya dia ketakutan. Bauki belum pernah berurusan dengan polisi. Ia punya segalanya dan banyak anak buah, tapi tak seorangpun menentangnya karena ia banyak uang. Sekarang ia harus berhadapan dengan polisi, itu membuatnya takut.

Tiba-tiba dua orang wanita muncul, Mery dan Sri. Mata Basuki menyala menatap Mery.

"Penghianat busuk !!" umpatnya sambil menudingkan belati itu kearah Mery.

"Simbaaah !!" tiba-tiba Sri berlari mendekat ketika melihat simbahnya dalam ancaman. Tapi Timan yang ada dibelakangnya melompat dan memegang lengan Sri.

"Sabar Sri, bahaya kalau kamu mendekat," tegur Timan sambil memegangi lengan Sri.

"Aku mau simbah... simbah.."

"Sri, aku baik-baik saja.." kata mbah Kliwon dengan linangan air mata.

Sri menatap Basuki dengan mata berapi-api.

"Laki-laki pengecut !!" hardiknya keras.

Basuki menatap Sri dengan sendu. Gadis yang diimpikannya, dicintainya, berdiri dihadapannya dengan kemarahan yang meluap-luap. Sejenak hati Basuki bergetar. Karena gadis itulah semuanya ini terjadi. Basuki yang setengah tua, mencintai gadis belia yang polos dan lugu, Ini dirasakan Basuki. Ia belum pernah mencintai, baru kali ini. Dan ternyata dia tak tau bagaimana seorang pecinta harus bersikap. Ia terlalu sombong dan mengira bahwa semua keinginanya pasti akan tercapai. Sekarang ini, mendengar Sri menghardiknya, seketika kesombongannya tumbang. Gadis idamannya itu mengatakan dirinya pengecut. Teriris batin Basuki.

"Sri, jangan membenciku, aku hanya ingin bertahan."

"Kamu laki-laki pengecut ! Tidak berani  menghadapi akibat dari kesalahan yang selama ini kamu lakukan, dan mempergunakan seorang tua sebagai tameng. Benar-benar menjijikkan ! Aku kira kamu laki-laki perkasa yang tak terkalahkan, ternyata bukan, kamu laki-laki lemah tapi merasa kuat!! Kamu tak berdaya! Kamu nista! Kamu hina!!" teriak Sri sambil menangis. Ia juga tak mengerti, darimana datangnya keberanian itu. Barangkali karena sangat marah melihat simbahnya dicengkeram lengannya dan diacungi belati di tengkuknya.

Basuki terpana. Tak menyangka gadis polos yang digandrunginya bisa memakinya demikian tajam. Bagai sembilu yang mengiris-iris jantungnya.

Belum pernah selama ini ada yang berani memakinya, semua orang terbungkuk-bungkuk dihadapannya, tunduk takluk akan semua perintahnya. Darimana datangnya sembilu yang ada dibibir tipis menawan itu dan kemudian melukai hatinya?

"Lepaskan simbahku kalau kamu memang laki-laki !!" teriak Sri lagi sambil menuding kearah Basuki. Sementara polisi sedang menunggu sa'at baik untuk melumpuhkan Basuki, Sri berhasil melumpuhkannya dengan kata-kata pedasnya. Basuki merasa lemas, tangannya terkulai dan belati ditangannya terlepas.

Dengan sigap polisi melompat kearahnya dan meringkusnya, berikut salah seorang anak buahnya.

Sri berlari menubruk simbahnya, merangkulnya sambil menangis haru.

"Cucuku, cucuku yang perkasa, kamu berhasil membebaskan simbah," bisik mbah Kliwon ditelinga Sri.

Basuki diringkus dengan pasrah. Sebelum polisi memaksanya pergi, ia menatap Sri dengan pilu. 

"Sri, aku mencintai kamu Sri, semua ini karena kamu, aku ingin memiliki dan membahagiakanmu," katanya ketika melewati Sri yang masih merangkul simbahnya. Sri melepaskan pelukannya, menatap laki-laki gagah yang nyaris menyiksa hidupnya, dan melihat air mata mengambang dipelupuknya. Ada rasa iba terbersit dihati Sri ketika melihatnya. Ya Tuhan, cinta bisa membuat hidup seseorang menjadi porak-poranda. Cinta yang melalui jalan sesat. Aduhai.

Basuki menurut ketika borgol membelenggu tangannya. Sebelum masuk ke mobil polisi, ia sempat menatap Mery yang memandangnya tak acuh, dan melihat Marso berdiri disana. Oo.. ternyata kamu, kata batin Basuki, tapi dia tak berdaya. Ia duduk terbelenggu dengan salah seorang pembantunya. Merasa seperti mimpi ketika sang tuan sekarang duduk sebagai pesakitan.

 

***

 

  Bayu yang semula ikut bersama polisi sekarang mendekati mobil Timan.

"Mas Timan, aku mau duduk dibelakang bersama pak Darmin," kata Bayu.

"Aku juga mau dibelakang bersama simbah," teriak Sri nyaring. Nyaring dan ringan, setelah semua beban terasa lepas.Tangannya terus menggandeng simbahnya.

"Aku juga mau dibelakang kalau begitu." kata Mery.

Mobilnya ada sebuah, mobil colt terbuka, tapi mereka dengan riang beramai-ramai duduk dibelakang. Wajah-wajah mereka ceria.

"Waduh, aku sebenarnya juga ingin duduk dibelakang kelihatannya rame nih.. Tapi apa mobilnya bisa berjalan sendiri ya?" teriak Timan sambil tertawa.

"Ya sudah, saya didepan menemani calon menantu saya," kata pak Darmin yang kemudian membuka pintu depan. 

Yang lain tertawa tawa sambil berdesakan duduk di jok belakang.

Timan mendekati Marso. Tadi polisi sudah mencatat alamat rumah dan ponsel Marso.

"Bapak mau pulang sendiri atau bersama saya?"

"Saya pulang sendiri saja pak, banyak angkutan umum."

"Baiklah, ini sekedar buat ongkos ya pak."

Timan memberikan sejumlah uang yang diterima Marso dengan senang hati.

"Terimakasih banyak pak,"

"Jangan lupa, suatu sa'at bapak pasti akan dipanggil untuk menjadi saksi. "

"Ya pak, tadi sudah diberi tau."

"Saya mengucapkan terimakasih karena bapak telah melakukan hal terbaik, sehingga bisa membebaskan mbah Kliwon."

"Sama-sama pak, saya tergugah untuk melaporkan juga karena mbah Kliwon."

"Oh ya?"

"Saya juga mulai jenuh dengan kehidupan yang tidak menentu. Saya ingin terlepas dari semuanya, dan ingin hidup tenang."

"Semoga yang terbaik untuk bapak ya. Hati-hati pak, saya pamit dulu."

"Selamat jalan pak, saya menunggu angkutan umum dulu.

***

Dalam perjalanan itu mbah Kliwon banyak bercerita tentang pengalamannya selama disandera Basuki. Ia juga mengatakan bahwa yang menunjukkan rumah Timan pastilah anak buah yang tadi ikut dibawa polisi, karena mbah Kliwon pernah memberinya minum dan menyuguhkan ketela rebus. 

"Jadi simbah tidak mengira kalau itu mata-mata Basuki?" tanya Sri.

"Sama sekali tidak. Simbah baru pulang dari rumah pak lurah, melihat dia celingak-celinguk didepan rumah, saya tanya katanya mau minum seteguk air. Lha salahnya mulut orang tua ini, saya ngoceh tentang Sri yang berada dirumah nak Timan, tentang maksud saya akan menengok kerumah nak Timan segala."

"Jadi setelah itu dia terus mengawasi simbah lalu mengikuti simbah ketika berangkat kerumah mas Timan bersama pak lurah?"

"Mungkin itulah yang terjadi. Ma'afkan orang tua ini ya, jadi merepotkan banyak orang."

"Tidak apa-apa mbah, bukankah karena itu lalu kita bisa menangkap Basuki?" kata Bayu menimpali.

"Iya mbah, jangan merasa bersalah."

"Tertangkapnya Basuki justru karena simbah bicara dengan orang yang salah itu," kata Bayu lagi.

"Yah, barangkali memang inilah jalannya."

Mery hanya mendengarkan mereka berbincang. Ia menemukan dunia yang benar-benar belum pernah dialaminya. Persahabatan, persaudaraan, saling dukung dan berbagi, itu terasa indah. Mery tidak menyesal telah pergi dari kehidupannya bersama Basuki, karena ia merasa lebih nyaman sekarang. Namun ada sesuatu yang mengiris, sa'at Basuki mengucapkan cinta kepada Sri. Laki-laki yang dicintainya, yang menemukan banyak wanita tapi tak pernah mengucapkan cinta, sekarang kepada gadis belia yang lugu itu ia benar-benar mengucapkannya. Tapi tidak, Mery tau bahwa ia harus memupus rasa cintanya. Ia yakin cintanya terjatuh pada orang yang salah. Ia ingin melupakannya.

"mBak Mery kok diam saja?" tiba-tiba kata Sri mengejutkannya.

"Oh, apa ?"

"mBak Mery melamunkan apa?"

"Tidak ada, aku kan.. mendengarkan cerita mbah Kliwon itu. Seru ceritanya."

"Iya mbak, semoga setelah ini kita hidup lebih nyaman ya mbak?"

"Benar Sri. Sudah aku bayangkan apa yang ingin aku lakukan nanti."

"Besok kita pulang kedesaku dulu ya mbak?"

"Iya Sri, kemanapun kamu, aku ikut."

"Tapi itu desa lho mbak, sepi dan tidak ramai seperti disini."

"Aku justru ingin merasakan bagaimana kehidupan desa, yang jauh dari hiruk pikuk dan keramaian. Melihat sawah dan kebun yang menghijau, pasti menyenangkan."

"Iya mbak, kita nanti tinggal dirumah yu Lastri, boleh kan mas Bayu?" tanya Sri kepada Bayu.

"Tentu saja boleh, kan Lastri sudah menyerahkan rumah itu untuk ditinggali mbah Kliwon."

"Iya nak, dari rumah simbah yang reyot dan sekarang sudah dirobohkan, simbah lalu tinggal dirumah Lastri yang lebih bagus. Tidak apa-apa nanti ramai-ramai tinggal disana. Menikmati ketela dan jagung rebus kalau sa'atnya panen." kata mBah Kliwon.

"Hm, membayangkannya sudah senang. Jagung rebus ya, atau bakar barangkali lebih nikmat ya mbah." kata Mery.

"Ya, pastinya nak. Apa nak Mery pernah makan jagung juga?" 

"Ada tukang masaknya Basuki yang pernah membawakan jagung manis mentah, lalu dibakar, enak sekali.. manis- sangit.. begitu." kata Mery.

"Iya, yang enak kan sangitnya itu," kata Bayu. 

Perjalanan itu sungguh perjalanan yang penuh suka cita.

Didepan Timan berbincang dengan pak Darmin. Timan mengatakan ingin segera mengikat Sri secara resmi.

"Ya nak, terserah nak Timan saja kapan, tapi seperti nak Timan ketahui, saya ini miskin, tidak punya apa-apa, jadi ya nanti sederhana saja nikahnya." kata pak Darmin.

"Tidak apa-apa pak, bagi saya yang penting adalah resminya. Nanti di Solo akan saya rayakan bersama teman-teman pasar, soalnya sudah pada ribut pengin datang di pernikahan saya nanti.

"Ya nak, terserah nak Timan. Ya beginilah nak, kalau orang tidak mampu."

"Yang penting bukan tidak mampu karena hartanya pak, tapi bapak sudah bisa melewati kehidupan buruk yang selama ini bapak jalani."

"Saya sudah mertobat nak, sungguh menyakitkan kalau diingat. "

"Semoga dengan kehidupan sekarang kita akan merasa lebih tenang."

"Ya nak, aamiin."

Wah, dibelakang ramai sekali ya, pasti gembira dengan kembalinya simbah."

"Sudah sejak tadi mereka ramai bercanda. Biarkan saja, sudah lama Sri menderita, semoga selanjutnya dia bisa merasa kan hidup tenang dan senang. Saya serahkan Sri kepada nak Timan nanti, jaga dan kasihilah dia karena selama ini saya tidak bisa melakukannya." kata pak Darmin sendu.

"Saya berjanji tak akan membiarkan lagi Sri menderita."

Ada telepon dari lurah Mardi yang menanyakan perkembangan pencarian mbah Kliwon. Dengan gembira Timan menjawab kalau sudah selesai.

"Sudah ketemu mbah Kliwon?"

"Sudah pak lurah, ceritanya panjang, ini hampir sampai Solo, nanti saya akan cerita lebih lengkap."

"Syukurlah, ini saya sudah di Solo, dirumah mas Bayu. Tapi mas Bayu saya telepon tidak diangkat."

"Ooh, mereka duduk dibelakang, dan ramai sekali, mungkin tidak mendengar, pak lurah."

"Ya sudah, saya menunggu saja, hati-hati dijalan mas Timan. Ini saya bersama isteri dan Lastri lagi berbincang. Senang mendengar berita baik ini.

 

*** 

Sudah malam ketika mobil Timan memasuki kota Solo. Ia langsung menuju rumah, untuk menurunkan Sri dan lain-lainnya dulu, setelahnya baru akan mengantarkan Bayu. Karena memang lebih dulu melewati rumahnya daripada kerumah Bayu.

Namun ketika hampir memasuki halaman, Timan terkejut. Lampu teras sudah menyala, dan ada orang duduk disana, entah siapa karena yang kelihatan hanya kepalanya.

Karena khawatir, ia menghentikan mobilnya diluar pagar, kemudian berjalan kearah rumah sendirian. Ia melarang yang lainnya ikut turun.

***

besok lagi ya

 

 


Saturday, May 16, 2020

kembang titipan 29

KEMBANG TITIPAN  29

(Tien Kumalasari)

 

Sri berdebar, apakah kakeknya ada didalam mobil itu?

"Benarkah mbak Mery, itu mobilnya Basuki ?" tanya Timan.

"Benar, saya yakin. Plaat nomornya diganti, tapi saya tak bisa melupakan sticker yang ada di kaca belakang. Itu punya Basuki," kata Mery bersemangat.

Jalanan mendadak ramai,  beberapa mobil menyalip mobil Timan. 

"Adduh.. mengapa tiba-tiba jalanan ramai?" keluh Timan.

"Ada gedung pertemuan didepan, ini bubaran para tamu," kata Mery.

"Waduh... gimana mas?" kata Sri bingung. Sri sangat antusias agar bisa segera ketemu simbahnya. Tapi halangan ada saja yang menghadang.

"Sabar ya Sri, setelah keramaian ini nanti aku ngebut deh, supaya bisa mengejarnya," kata Timan melihat kegelisahan Sri.

Namun Sri benar-benar panik. Kepalanya terus melongok kedepan, dan panik karena mobil hitam bersticker bintang itu tak lagi tampak. Mery terus menepuk-nepuk tangan Sri untuk menenangkannya.

Kerumunan dan lalu lalang kendaraan itu mulai menyusut, Timan mempercepat laju mobilnya. 

Mobil hitam didepannya benar-benar tak tampak lagi. Timan terus memacu mobilnya.

"Hati-hati mas..." Mery mengingatkan.

Tiba-tiba Sri berteriak.

"Mas, berhenti dulu."

Timan serta merta menghentikan mobilnya kepinggir.

"Tolong mbak, aku mau turun sebentar." kata Sri karena memang Sri duduk ditengah.

Mery turun lebih dulu, membiarkan Sri turun. Pak Darmin melongok heran. Gemboskah ban mobilnya?

"Ada apa Sri?"

"Itu pak.."

Setengah berlari Sri menuju kebelakang mobil, dan menemukan serpihan lagi. Kali itu potongan berwarna abu-abu tua. Sri memungutnya lalu berlari mendekati mobil. Ditunjukkannya serpihan itu.

"Bapak, ini potongan celana simbah." kata Sri sambil menunjukkan potongan kain itu.

"Simbahmu memotong-motong bajunya lagi?"

"Ini potongan celananya," lalu Sri kembali naik ke mobil.

"Ada apa Sri? " tanya Timan.

"Ada lagi serpihan kain, ini celana simbah, coba mas ikuti, barangkali simbah kembali memberi tanda kepada kita."

"Oh iya, syukurlah, coba lagi didepan, apakah masih ada."

Dan serpihan-serpihan berwarna abu-abu itu terus ditemukannya disepanjang jalan.

Timan menelpone Bayu.

"Kami menemukan Rumah itu tapi sudah kosong," kata Bayu.

"Balik kearah timur mas, tampaknya dia menuju keluar kota. Kami menemukan lagi jejaknya."

"Posisi mas Timan dimana?"

"Saya sudah diluar kota, sharelok ya mas."

 

***

 

"Apa ada yang mengikuti kita?" kata Basuki sambil melihat ke spion.

"Tidak ada tuan."

"Perasaanku kok tidak enak."

"Tidak ada siapa-siapa yang tampak seperti mengikuti kita, tuan."

"Pak tua membuang apa itu, kok sebentar-sebentar membuka jendela?"

"Tissue kotor, kan aku sudah bilang bahwa aku suka mabuk?" jawab mbah Kliwon.

Basuki diam, entah mengapa hatinya terasa gelisah. Ia belum pernah merasakan yang seperti ini.

"Sebaiknya aku melalui jalan-jalan desa saja, kita hampir sampai."

"Kalau melalui jalan desa nanti kelamaan tuan, harus belok kesana kemari."

"Tidak apa-apa, aku kok merasa ada yang mengikuti."

"Ya sudah terserah tuan saja."

Basuki membelokkan mobilnya memasuki jalan kampung. 

mBah Kliwon terkejut, ia pura-pura batuk lalu membuang sesuatu lewat jendela, ketika mobilnya masih berada diujung jalan itu.

-"Pak tua itu sering kali membuang-sesuatu keluar sih."

"Lha apa saya muntahkan didalam? Kalau boleh bagi saya nggak apa-apa, yang penting perut saya lega," jawab mbah Kliwon seenaknya.

Basuki sangat kesal, tapi apa boleh buat. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali mendiamkannya.

Mobilnya terus berjalan, walau tidak secepat ketika dijalan raya.

"Nanti kalau ada warung, belilah nasi bungkus, dimakan disana. Rumah itu bagus, perlengkapan makan ada, kamar sudah ditata."

"Baik tuan."

"Barangkali begitu ada warung kamu turun So, mendung sangat tebal, kalau hujan kita tidak bisa berhenti," kata Basuki.

"Baik tuan, tuan mau makan apa?"

"Apa saja, pokoknya ada ikan, toh belum tentu aku makan. Yang penting kalian, aku tidak mau kalian mati kelaparan ketika bersama aku," kata Basuki seenaknya.

Kedua anak buahnya berpandangan lalu mengangkat pundaknya. Kendati dibantu mati-matian, selalu kata-kata kasar yang diucapkannya.

***

Mobil Timan sudah berjalan jauh, tapi serpihan-serpihan itu tak tampak lagi.Timan bingung, apalagi Sri.

"Kok tidak ada lagi? Jangan-jangan sebelum kita ketemukan serpihan terakhir tadi mereka berhenti, dan tiba ditujuan," kata Sri.

Sepertinya tak ada rumah atau tempat singgah," kata Timan sambil menghentikan mobilnya.

"Jangan-jangan dia berbelok, masuk jalan kampung," kata Mery.

"Baiklah, ayo kita kembali."

Timan pun memutar mobilnya kembali sambil mengamati kalau kalau ada belokan yang sekiranya dilewati mobil Basuki.

"Ada belokan kekiri, kita coba masuk ya," kata Timan sambil membelokkan mobilnya.

Dan memang benar, mereka menemukan serpihan-serpihan seperti semula. Rupanya mobil Basuki Keluar masuk kampung, tapi mereka tak akan kehilangan jejak karena  selalu ada tanda yang diberikan mbah Kliwon.

***

 

 Namun sebelum keluar lagi ke jalan raya, hujan turun dengan tak terbendung. Dijalan air menggenang, dan mengalirkan apa saja yang gampang hanyut. Timan benar-benar bingung.  Dimana-mana yang tampak hanyalah air.

"Aduuh, bagaimana ini?"keluh Sri.

"Tenang dulu Sri, bagaimana kalau kita berhenti dulu di warung, sambil makan dan minum. Nanti siapa tau kalau hujan reda, tanda-tanda itu akan tampak lagi," kata Timan.

Sesungguhnya Timan merasa kasihan kepada pak Darmin dan kedua wanita disisinya, sudah lewat sa'atnya makan siang, jadi semua harus dipaksa untuk makan. Tanpa menunggu jawaban mereka, Timan sudah membelokkannya kesebuah warung. Untunglah mobilnya bisa berhenti didepan warung dimana atapnya agak menjorok keluar, sehingga mereka bisa turun tanpa kehujanan.

Timan meminta Mery dan Sri turun, dan juga pak Darmin.

"Sebenarnya aku tidak lapar," kata Sri walau akhirnya mengikuti Timan masuk kedalam.

"Lapar atau tidak, kita harus makan, siapa tau perjalanan kita masih jauh." Kata Timan sambil memilih meja yang cukup untuk mereka berempat.

"Mari pak, silahkan mau pesan apa, Sri, mbak Mery."

"Sri mau makan apa?"

"Terserah mas Timan saja," kata Sri lesu.

"Jangan begitu Sri, ayo pesanlah. Ayo mbak Mery, bapak.."

"Ya sudah, berhubung hujan, makan makanan berkuah saja, biar anget,, soto juga nggak apa-apa." kata pak Darmin.

"Oh iya, apakah bapak kedinginan? Air hujan bisa masuk ya pak?" tanya Timan kepada Darmin, yang tadi duduk dibelakang.

"Tidak nak, kap nya rapat sekali, tidak ada air yang masuk."

"Ya sudah, syukurlah. Ma'af ya pak, belum bisa beli mobil bagus, yang bisa memuat lebih banyak orang," kata Timan tersipu.

"Tidak apa-apa nak, itu kan memang mobil untuk berdagang."

"Iya pak. nasi soto ya pak? mBak Mery apa? Sri apa?"

"Aku sama, nasi soto saja. Sri apa?" kata Mery.

"Aku sama saja."

"Minumnya? "

"Teh hangat saja," kata Mery yang kemudian diikuti yang lainnya.

Hujan masih sangat deras. Sri menatap kucuran air yang mengguyur diujung warung itu, melalui talang yang terpasang.

Bagaimanapun ia tak bisa menghilangkan rasa gelisah yang terus meremas-remas batinnya.  Mery yang duduk disampingnya selalu menepuk-nepuk tangan Sri agar Sri merasa lebih tenang.

Begitu pesanan terhidang, Sri hanya meneguk sedikit teh yang aesungguhnya menyegarkan diudara yang dingin itu. Sri juga hanya menyendok beberapa sendok nasi soto yang dipesankan untuknya.

Timan mendiamkannya. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Sri.

"Makan yang banyak Sri, nanti badan kamu lemas," kata pak Darmin yang sejak tadi memperhatikan anaknya.

Sri menatap ayahnya sekilas, lalu mengangguk pelan. 

Ponsel Timan berdering.

"Dari mas Bayu."

Timan menjawab telephone itu.

"Hallo mas,"

"Mas Timan dimana?"

"Kami sedang makan di warung mas, hujan deras sekali."

"Iya benar, kami juga sedang berhenti disebuah warung, Sudah mendapat titik terang?"

"Gara-gara hujan ini tanda-tanda itu hilang mas, coba nanti kalau sudah sedikit reda, karena dijalan penuh air."

"Iya, tumben hujan hari ini, beberapa hari tidak hujan ditempat saya."

"Ini mas, saya share lokasi ya. Syukur-syukur kalau sudah dekat kita bisa bertemu."

"Ya mas.. saya tunggu."

 

***

 

Mobil Basuki berhenti disebuah rumah kecil yang halamannya cukup luas. Rumah itu terletak dipinggiran kota. Basuki merasa dia lebih aman disitu. Ada garasi mobil disisi sebelah kiri rumah. Seorang laki-laki setengah tua membawakan payung, dan memayungi Basuki agar tidak kehujanan sampai di teras. Sedangkan Marso dan temannya berlarian masuk tanpa menunggu payung menjemputnya.

mBah Kliwon enggan turun. Ia menunggu laki-laki yang mungkin pemilik atau penunggu rumah itu datang dan memayunginya.

Basuki memasuki rumah dan memeriksa kedalam. Tampaknya semua memuaskan. Perabot yang tertata rapi, tiga kamar tidur yang sudah beralaskan sprei bersih ditiap kasurnya, dan dapur dengan segala kelengkapannya. Itu sesuai dengan apa yang dipesannya kepada pemilik rumah.

"Bagaimana pak? Apakah masih ada yang kurang?" tanya laki-laki yang tadi menyambutnya.

"Tidak ada, bagus, terimakasih banyak."

"Baguslah kalau begitu."

"Bapak yang punya rumah ini?"

"Bukan, saya penunggunya yang disuruh membukakan pintu untuk bapak."

"Oh, ya sudah, uang sewa untuk sebulan sudah saya trensfer tadi."

"Ya, ya.. ibu sudah bilang. Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa saya tinggal disebelah situ, ada bel  kalau bapak memerlukan sesuatu."

"Ya, baiklah."

"Ada mini market diujung jalan, kalau barangkali bapak ingin membeli sesuatu."

"Ya, ya, terimakasih banyak."

Laki-laki penunggu rumah itu berlalu. 

"Kalian makanlah, kan tadi beli nasi bungkus dijalan."

"Tuan tidak makan, didapur lengkap ada piring, sendok, mangkok."

"Tidak, aku ingin istirahat dulu."

"Jangan lupa..Kunci pintu depan dan aku ingin beristirahat. Ada dua kamar, tapi jangan biarkan pak tua tidur sendirian."

"Baik tuan."

"Oh iya So, masukkan mobil ke garasi. Kalau kelihatan dari luar akan sangat berbahaya," kata Basuki sambil melemparkan kunci mobil kearah Marso.

"mBah Kliwon masuk ke salah satu kamar, entah siapa yang akan menemaninya, yang penting ia ingin beristirahat. Nasi bungkus yang tadi diulurkan kepadanya ditinggal diatas meja yang ada diluar kamar itu.

Pikiran mbah Kliwon tidak tenang sekarang. Hujan deras sejak keluar dari kota sampai sekarang, apakah tidak membuat serpihan yang dibuatnya menjadi hanyut ? Dan sebenarnya adakah yang bisa mengenali tanda-tanda yang diberikan melalui guntingan baju dan celananya? 

"Ya Tuhan, tolonglah hambaMu ini.."

mBah Kliwon menerawang menatap langit-langit kamar yang putih bersih.  Ia ingin beristirahat, tapi hatinya tidak tenang. Bagaimana cucuku,bagaimana menantuku, itu yang difikirkan dalam benaknya.

"Tidak bisa tidur pak?" tiba-tiba Marso muncul dikamar itu, lalu menutup pintunya.

mBah Kliwon lega ditemani Marso, karena teman yang satunya sikapnya kurang menyenagkan. Dia adalah priya yang makan ketela rebusnya hanya secuil dan sisanya dikembalikan ke piring, itu selalu diingatnya dan membuat dia kurang menyukainya. Apalagi kalau diingat bahwa dialah penyebab semua malapetaka ini.

"Sampeyan saja tidurlah, mana bisa seorang tawanan tidur nyenyak," kata mbah Kliwon kesal.

 "Sebenarnya saya kasihan sama bapak."

"Untuk apa, saya tidak butuh dikasihani. Saya hanya ingin pergi."

:Lalu mbah Kliwon membalikkan tubuhnya, memunggungi Marso yang berbaring disampingnya.

***

Bayu dan beberapa polisi akhirnya bisa menemukan dimana Timan dan yang lainnya sedang beristirahat. Hujan masih turun, tapi tidak selebat tadi.

Sri menatap kejalanan, dan melihat masih tampak air menggenang. Ia menghela nafas, dan merasa tak bisa mengendapkan perasaannya,

Ketika hujan reda, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Memang benar, tak selembarpun serpihan celana mbah Kliwon ditemukan. Air hujan yang menggenangi jalanan, mengalirkan semua benda yang gampang terhanyut.  

Sri menatap jalanan dengan sedih. Ia tak mengucapkan apapun, dan membiarkan Timan mengendarai mobilnya, mengikuti mobil polisi yang berjalan didepannya.

"Sri, percayalah simbahmu akan selamat. Ia bisa memberikan tanda-tanda, berarti dia baik-baik saja," kata Mery sambil terus menepuk-nepuk tangan Sri.

***

 

"Pak, lebih baik bapak makan. Saya ambilkan ya?" tiba-tiba kata Marso.

"Aku tidak lapar," jawab mbah Kliwon.

"Bapak harus makan, supaya tidak lemas. Saya ambilkan ya," kata Marso yang tanpa menunggu jawaban mbah Kliwon langsung keluar dari kamar.

"mBah Kliwon sedikit merasa senang pada Marso, karena sekarang Marso lebih menghormati dirinya. Dia tidak memanggil pak tua seperti yang lainnya, tapi memanggilnya bapak. Itu berarti perasaan Marso terhadap dirinya telah berubah. Dia tidak menganggap mbah Kliwon sebagai sekedar tawanan. Mungkin ada rasa kasihan dihati Marso dan mungkin ada kata-kata mbah Kliwon tadi yang membuatnya berubah.

"Ini pak, ayo.. makanlah dulu, saya temani," kata Marso sambil membawa makanan yang sudah diletakkannya diatas piring.

mBah Kliwon bangkit, ada perasaan tak enak karena Marso sudah bersusah payah meladeninya makan.

"Ayo pak, saya saja lapar, masa bapak tidak?" kata Marso sambil membuka bungkusan. mBah Kliwon mengikutinya. Nasi gudeg yang dibawa Marso sedikit menerbitkan seleranya. Tapi tetap saja tak banyak yang bisa masuk ke perutnya. Hatinya yang tidak tenang membuatnya tak nyaman walau ada makanan seenak apapun.

"Setelah ini saya mau keluar sebentar."

"Mau kemana?"

"Ada yang harus saya lakukan, eh.. mau membeli.. rokok."

Setelah Makan Marso memasuki kamar temannya.

"Pinjam kunci rumah sebentar. Kamu taruh dimana ?"

"Itu dimeja, kamu mau kemana?"

"Mau, beli rokok."

"Tumben pengin merokok, kayaknya sudah lama kamu tidak merokok."

"Cuma pengin saja," kata Marso sambil mengambil kunci rumah dan bergegas kedepan.

 

***

 

"Kita kehilangan jejak," keluh Timan.

Sri berlinangan air mata. Harapan untuk bisa menemukan simbahnya pupus sudah. Mery merasa iba.

Timan menghentikan mobilnya. Dilihatnya mobil polisi berhenti dibelakangnya

"Sri, tolong jangan menangis ya," kata Timan sambil mengusap air mata yang meleleh dipipi kekasihnya.

Diperlakukan begitu bertambah deraslah air mata yang mengalir. Mery merangkulnya dan menepuk nepuk punggungnya.

Tiba-tiba Mery melihat sesuatu. Seseorang berjalan melintasi mobil Timan.

Mery melepaskan pelukan Sri, dan membuka pintu mobil.

"Marso !!!" teriaknya.

***

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Friday, May 15, 2020

KEMBANG TITIPAN 28

KEMBANG TITIPAN  28

(Tien Kumalasari}

Dengan heran Sri memunguti guntingan-guntingan baju mbah Kliwon.

"Ini lagi mas... ada apa ya mas, apakah mereka menyiksa simbah?" kata Sri hampir menangis.

"Sri, jangan begitu, ayo naiklah, aku justru berfikir lain," kata Mery.

"Ini bapak.. lihatlah.., baju simbah digunting-gunting."

"Tenang dulu Sri, jangan panik begitu," kata pak Darmin yang sudah turun lalu mendekati Sri.

"Naiklah Sri.. saya itu bukan karena simbah disiksa," kata Timan. sambil naik kembali kemobilnya.

Mery membantu Sri agar segera duduk.

"Sudah, mbahmu tak apa-apa Sri.." kata Darmin yang kemudian naik ke jok belakang.

Sri mengusp air matanya. 

"Simbah diapakan ya?" tanyanya pilu.

Timan menstarter mobilnya untuk berjalan lagi.

"Sri, jangan-jangan simbah sengaja menggunting gunting pakaiannya," kata Mery.

"Nah, aku sependapat. Ini akan membuat kita bisa menemukan dimana simbah disembunyikan."

"Apa maksudnya?"

"Simbah ingin memberi tanda, kemana dia dibawa pergi."

"Memberi tanda ?"

"Iya Sri, agar kita bisa menemukan dia," sambung Mery.

"Aku tidak mengerti."

"Tenang dulu, amati disetiap jengkal yang kita lewati, apakah kita bisa menemukan guntingan baju simbah lagi," lanjut Timan.

Beberapa ratus meter kemudian, Sri juga melihat guntingan baju mbah Kliwon. Timan menghentikan mobilnya, membiarkan Sri memungut guntingan itu. Ia mulai merasakan apa yang dikatakan Timan dan Mery.

"Benarkah simbah sengaja menggunting-gunting bajunya untuk memberi tanda kemana Basuki membawanya pergi?" tanya Sri sambil naik kembali ke mobil.

"Percayalah Sri, dan ini adalah pertanda baik."

"Mas Timan, barangkali kita perlu mengabari polisi untuk penemuan tanda-tanda ini," kata Mery.

"Benar, aku akan mengirim pesan singkat ke mas Bayu saja, biar dia yang mengabari kawan-kawannya." 

***

"Benar pak lurah, saya juga sudah mendengar kalau pencarian dirumah Kemuning itu gagal. Baiklah, terimakasih banyak pak lurah."

Bayu baru saja selesai berbicara dengan lurah Mardi. Mereka sudah tau bahwa dirumah-rumah milik Basuki tidak diketemukan Basuki.

"Mas, jangan-jangan Basuki sudah kabur keluar negri." kata Lastri.

"Aku kira tidak mungkin, yang berwajib sudah memberi tau setiap bandara untuk perjalanan keluar negri atau kemana saja. Basuki sudah dicekal dimana-mana."

"Itu mas, ada pesan di ponselmu." kata Lastri ketika melihat dering di ponsel Bayu.

"Oh iya, dari mas Timan."

Bayu membaca pesan itu dan tampak senang.

"Ada apa mas ?"

"Mas Timan dan Sri menemukan serpihan-serpihan baju mbah Kliwon. Kemungkinan besar mbah Kliwon memberi tanda."

"Oh, seperti memberikan tanda bagi pelacak ya mas. Ingat jaman pramuka. Lalu mereka menemukannya?"

"Belum, mas Timan memberi alamat perjalanannya, aku akan mengabari ke kantor polisi. Teman-temanku pasti senang mendengar berita ini."

"Kok bisa mbah Kliwon memberi tanda, bagaimana caranya? Apa tidak diawasi ?"

"Entahlah. Aku juga belum bisa membayangkannya. Kebetulan tadi Sri yang melihat guntingan kain yang dikenalinya sebagai serpihan baju mbah Kliwon."

"Semoga itu memang sebuah petunjuk ya mas."

"Semoga. Sebentar, aku mengabari temanku dulu, lalu mau menelpon pak lurah juga."

 

***

 

Timan terus menyusuri jalan, dimana ditemukannya serpihan-serpihan baju mbah Kliwon, disetiap seratus atau duaratusan meter.

Ada secercah harapan mereka akan bisa menemukan mbah Kliwon. 

"Semoga simbah baik-baik saja."

Mery menepuk-nepuk paha Sri.

"Kamu harus tenang Sri, dan teruslah berdo'a. Bukankah kamu yang mengajari aku bahwa disa'at sedih atau senang kita harus selalu mengingatNya?"

Sri mengangguk. Serpihan-serpihan baju itu masih digenggamnya.

Tapi didepan itu ada perempatan. Kemanakah Timan akan melanjutkan perjalanannya? 

"Semoga diperempatan itu  kita temukan lagi serpihan yang  akan menunjukkan kemana kita harus berjalan," kata Timan.

Sebelum perempatan itu Timan menghentikan mobilnya.

Pak Darmin yang ikut turun menatap kekiri dan kanan.

Harus ada yang berjalan kesemua arah, barangkali tak berapa jauh kita akan menemukan serpihan baju bapak," kata pak Darmin.

Semuanya setuju.

Ketiganya turun dan berbagi tugas. Tiga arah didepannya harus ada satu yang terdapat serpihan baju mbah Kliwon.

Sri berjalan kearah kiri, Mery kekanan, dan Timan lurus kedepan. Pak Darmin menunggu di mobil.

Beberapa sa'at mereka berjalan, kemudian terdengar teriakan Mery.

"Aku mendapatkannya !!" lalu Mery setengah berlari kembali kemobil.

"Aku juga mendapatkannya !!" teriak Timan dari arah depan.

"Bagaimana ini? Mengapa bisa ada serpihan di dua arah?"

Timan kebingungan.

"Bagaimana ini mas?"

"Mungkin salah satu dari serpihan itu diterbangkan angin, atau terbawa kendaraan lain," kata pak Darmin.

"Lalu bagaimana ini?" kata Sri bingung.

"Ayo naiklah. Aku akan berjalan terus, kalau kita tidak menemukan lagi serpihan, berarti yang benar adalah kearah kanan."

Sri mulai khawatir, karena sudah sejauh hampir satu kilometer, tak ditemukannya serpihan itu lagi.

"Jangan panik Sri, kita akan terus berusaha," kata Timan yang kemudian membalikkan mobilnya, lalu  berbelok kearah dimana tadi Mery menemukan serpihannya.

"Semoga ini arah yang benar," gumam Timan.

Sri berdebar ketika dikejauhan, agak ketepi dilihatnya serpihan putih.

"Itu mas, benar.. ini arah yang benar." teriak Sri.

Timan menghentikan mobilnya, membiarkan Sri mengambil serpihan itu, lalu melanjutkan perjalanannya.

Mereka bersyukur,  karena tidak salah jalan. 

 

***

mBah Kliwon masih ada didalam kamar itu, makan dan minum dimasukkannya kedalam kamar,  Ia boleh keluar kalau ingin kekamar mandi. Tapi ia hanya sedikit memakan makanan yang diberikan, hanya untuk menjaga agar tubuhnya tidak lemas. Ia selalu berharap, serpihan bajunya ada yang menemukannya dan mengerti apa maksudnya.

Hari itu ketika ia ingin kebelakang, lalu salah seorang membukakan pintu untuknya, ia mendengar Basuki berbicara dengan anak buahnya.

"Lepaslah sekarang dan ganti dengan plat nomor yang baru."

"Baiklah tuan."

"Hari ini kita akan pergi, ada rumah kontrakan diluar kota yang barangkali lebih nyaman ditinggali."

"Jadi kita akan pindah lagi tuan?"

"Ya, aku merasa disini tidak aman.Aku sudah memesan rumah itu dan aku bayar kontrakannya baru saja."

"Tapi tuan kan belum tau rumahnya, bagaimana kalau nanti tuan kecewa?"

"Yang penting kita jauh diluar kota, dan pemilik rumah meyakinkan aku bahwa rumahnya tidak akan mengecewakan. Yang penting kita pergi ketempat yang tidak terduga oleh polisi."

"Berapa lama kita akan pergi tuan?"

"Mengapa kamu bertanya begitu?  Kamu bosan mengikuti aku?" hardik Basuki dengan suara keras.

"Ma'af, bukan begitu tuan, hanya ingin tau saja."

"Diam dan lakukan saja perintahku."

"Mengapa kita harus membawa serta kakek itu tuan? Bukankah lebih baik ditinggalkan saja disini agar tidak menjadikan beban?"

"Bodoh ! Dia harus ikut kita. Sudah, kerjakan saja apa yang aku suruh. Gantikan sekarang juga plat nomornya."

mBah Kliwon berdebar. Kalau harus pergi lagi dari sini, maka seandainya ada yang menemukan serpihan baju itu, lalu sampai ditempat ini,  pasti akan menemukan tempat kosong. mBah Kliwon harus mencari akal lagi.

Ketika ia kembali dari kamar mandi dilihatnya Marso sudah ada didalam kamar.

"Kita akan pergi lagi," katanya.

"Bolehkah aku meminta baju ganti, dan celana?"

"O.. ya, aku akan ambilkan. Pasti kamu takut muntah lagi dijalan kan Awas kalau sampai membuat mobil tuan Basuki bau."

"Yang bau adalah keringat kamu !!" kata mBah Kliwon kesal.

Marso hanya nyengir kuda sambil mencium ketiaknya sendiri.

"Sebenarnya aku sudah lelah," keluh Marso.

"Itu kan salahmu sendiri, mengapa mengikuti orang kabur. Kamu tidak bersalah, mengapa harus ikut kabur?"

"Kalau aku tidak mau ikut, aku pasti dihukum. Dan yang namanya dihukum oleh tuan Basuki itu, hidupnya akan sengsara. Bukan hanya aku, tapi juga anak isteriku. Kalau kesalahannya berat bisa langsung dihabisi. "

 "Tapi kalau Basuki tertangkap polisi, mana bisa dia menyiksa kamu? Kamu saja yang bodoh."

Marso terdiam.ia seperti memikirkan sesuatu. Rasa lelah tiba-tiba melingkupi seluruh tubuhnya, seperti menderanya dalam kekalutan yang tak dimengertinya.

"Dan kalau kamu terus mengikutinya, apabila suatu sa'at Basuki tertangkap, kamu pasti akan ikut masuk penjara." mbah Kliwon terus memanasinya ketika melihat kata-katanya termakan oleh Marso.

Marso masih terdiam, tapi yakinlah bahwa ia mulai takut. Penjara? Tempat yang kotor, bau, makan seadanya, kadang dibentak-bentak. Yaa, ia pernah melihat sebuah film di televisi, bagaimana sengsaranya orang dipenjara. 

"Tidaaak," gumamnya agak keras.

"Apa yang tidak?"

"Aku tidak mau ikut masuk penjara. Aku hanya bawahan yang diperintah majikan."

"Mana polisi mau tau? Kalau kamu mengikuti apa kata dan perintahnya, berarti kamu ikut melakukan kejahatan."

Lagi-lagi Marso terdiam. Ia mulai berfikir, apa yang harus dilakukannya supaya terlepas dari belenggu tuan Basuki.

"Ya sudah, mana baju dan celana buat ganti, kalau diajak pergi lagi takutnya muntah lagi," kata mbah Kliwon ketika melihat Marso diam saja. Tapi kelihatan bahwa Marso mulai simpati terhadap mbah Kliwon. 

"Ya kek, sebentar aku ambilkan," kata Marso sambil keluar dari kamar.

Ketika pintu terbuka itu mBah Kliwon mendengar teriakan Basuki.

"So.. ayo berangkat sekarang !! Telingaku seperti mendengarsirene mobil polisi," teriaknya sambil berjalan kedepan. Dilihatnya anak buahnya sudah selesai memasang plat nomor baru, yang pastinya plat nomor palsu.

"Ayo berangkat." katanya sambil naik keatas mobil.

"Biar kakek ini masuk lebih dulu, ia akan duduk dibelakang sendiri," kata Marso kepada temannya.

mBah Kliwon membawa bungkusan, celana dan bajunya sudah berganti dengan celana dan baju yang diberikan Marso, sedangkan yang dibungkus adalah celananya sendiri. Ia duduk dibelakang seperti ketika datang.

***

 

"Benarkah mas? mBah Kliwon bisa memberi tanda dengan menggunting-gunting pakaiannya dan disebar disepanjang jalan yang dilaluinya?" tanya Marni.

"Iya, rupanya dalam keadaan terdesak, keluar juga akal untuk lepas dari kesulitan."

"Kisah hilangnya Sri beberapa hari yang lalu ternyata membawa sederet peristiwa yang bukan main. Semoga dengan ini Basuki segera bisa mengakhiri petualangannya."

"Bisa aku bayangkan bagaimana paniknya Sri dengan terjadinya peristiwa ini."

"Kehilangan mbahnya pasti membuatnya sedih. Seperti ketika mbah Kliwon kehilangan Sri. Sampai nggak doyan makan, badannya pucat. Sekarang sebaliknya gantian Sri yang panik."

"Benar mas, Tapi yang aku heran, bagaimana Basuki bisa menemukan rumah mas Timan."

"Itulah bu, tadinya pak Darmin dan mas Timan mencurigai Mery, tapi kalau dipikir-pikir, mengapa Mery melakukannya?"

"Kalau aku ya nggak mungkin mbak Mery, bukankah mbak Mery sendiri yang mengajak kabur Sri? Kalau dia mau mencelakakan Sri pasti sudah dilakukannya sejak masih dirumah Basuki."

"Benar bu, tapi teka-teki itu belum terjawab sampai sekarang."

"Ini aku mau ke belakang dulu bu, nanti kalau ada telephone ibu angkat saja. Aku sudah berpesan pada mas Bayu agar kalau ada apa-apa aku selalu dihubungi."

"Ya, aku dikamar mas, nungguin Jarot. Mungkin sudah sa'atnya bangun, tidurnya sudah sejak tadi."

***

 

Perjalanan Timan dan Sri agak lambat karena sebentar-sebentar berhenti memungut serpihan baju mbah Kliwon. Kadang-kadang serpihan itu sudah terlewat dan Timan harus memundurkan lagi mobilnya agar Sri bisa mengambil serpihan itu.

"Sri, bagaimana kalau kita tidak harus selalu berhenti setiap melihat serpihan-serpihan baju simbah?"

"Maksudnya kita lewati saja, begitu?"

"Iya Sri, so'alnya kalau sebentar-sebentar berhenti kita tidak akan segera sampai ditempat yang kita tuju. Kita berangkat pagi-pagi dan ini hampir tengah hari."

"Iya Sri, pokoknya kita yakini bahwa itu serpihan baju mbah Kliwon, kita langsung jalan terus saja."

"Tidak usah harus melihat apa itu benar bajunya simbah atau bukan?"

"Tidak usah, kan warnanya sudah kelihatan, putih berkembang biru."

"Ya sudah, aku ngikut saja," akhirnya kata Sri.

"Yang penting kita tidak salah jalan." sambung Mery.

"Tapi ini sudah siang, mbak Mery sama Sri  tidak lapar? Kita mampir ke warung sebentar?" Timan memperlambat laju mobilnya.

"Tidak mas, aku belum lapar, kata Mery."

"Aku juga belum. Aku ingin segera sampai ditempat simbah disembunyikan," kata Sri.

"Baiklah. So'al makan nanti gampang ya?"

Mobil Timan terus melaju, sementara Sri dan Mery terus mengawasi serpihan yang tampak. Setiap kali melewati jalan yang bersimpang, mereka mencoba salah satunya dulu, kalau tidak ditemukan serpihan baju mbah Kliwon baru kembali kejalan lain, seperti ketika pertama kali menemukan perempatan.

"Masih jauhkah?"

"Tampaknya serpihan sudah semakin jarang."

"Kapan ya berhentinya?"

"Kamu lelah Sri?"

"Tidak, aku ingin segera bertemu simbah dalam keadaan selamat."

Tiba-tiba terdengar sirene polisi melintas.

"Rupanya mas Bayu sudah melaporkan situasi ini."

"Apa mas Bayu ikut dengan polisi itu?"

"Entahlah, aku tidak tau. Biar aku telepone dia.  Tolong mbak Mery, putarkan nomor mas Bayu, biar nanti aku tinggal bicara," kata Timan sambil mengulurkan ponselnya.

Tapi sebelum Mery menerima ponsel itu, dilihatnya sebuah mobil seperti yang dikenalnya.

"Tunggu mas, berhenti dulu." tiba-tiba kata Mery.

"Ada apa?" kata Timan sambil menghentikan mobilnya.

"Itu tadi yang lewat mobil Basuki."

"Benarkah?"

Tanpa disuruh Timan segera memutar mobilnya.

"Itu, benar, cepat mas.."

Timan memacu mobilnya semakin dekat dengan mobil yang ditunjukkan Mery. Untunglah mobil itu tidak berjalan terlalu cepat.

"Plat nomornya ganti, tapi aku kenal sekali mobil itu."

***

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  


DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...