Thursday, February 9, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 15

 

SETANGKAI BUNGAKU  15

((Tien Kumalasari)

 

Ratih mengangkat ponselnya sambil bersungut-sungut, karena dia sedang ingin melayani ayahnya saat beristirahat sore.

“Ada apa?” sapanya.

“Ya ampuun, kok jawabnya galak begitu?”

“Habis, aku lagi repot nih. Cepat katakan, ada apa?”

“Aku mau bicara, dan ini serius. Kamu harus mendengarnya dengan sungguh-sungguh.”

“Masalah apa? Kalau untuk maksud buruk, aku nggak mau dengar.”

“Bukan, ini justru maksud yang sangat baik dan mulia. Sudah beberapa hari aku pikirkan, baru sekarang akan aku katakan sama kamu.”

“Masalah apa sih? Tumben aku kamu jadikan teman bicara tentang hal serius.”

“Karena hanya kamu yang bisa melakukannya.”

“Oh ya? Coba katakan, aku mau dengar, tapi awas ya, kalau aneh-aneh aku nggak mau.”

“Nggak, ini sesuatu yang sangat bagus, untuk mengangkat derajat seseorang.”

“Apa tuh?”

“Kamu tahu, Pratiwi itu pekerjaannya kan hanya menjual sayuran?”

“Ya, memangnya kenapa? Masalah buat kamu? Dia suka melakukannya, dan itu pekerjaan mulia karena untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.”

“Okey, panjang banget jawabannya. Kamu tidak mengerti maksudku ya? Aku tuh bukan merendahkan dia, aku justru mau menolong dia.”

“Oh ya? Menolong bagaimana? Memberi dia uang yang banyak, lalu kamu punya maksud tersembunyi?”

“Ratih, aku tahu dia tak akan mau kalau aku memberinya uang banyak sekalipun. Aku ingin memberi dia pekerjaan yang lebih layak.”

“Wouw, pekerjaan?”

“Aku kan baru saja membuka cabang perusahaan di kota ini. Aku minta kamu mau membujuk dia supaya mau bekerja di kantor aku. Tapi kamu tidak usah mengatakan bahwa itu milik aku. Aku hanya ingin, agar dia bekerja lebih layak, untuk mengangkat derajat dia, dari seorang penjual sayuran, menjadi pekerja kantoran.”

“Eh, nanti dulu. Kamu merendahkan seorang penjual sayuran? Kamu pikir itu pekerjaan hina? Tidak berkelas?”

“Ratih, rupanya kamu hanya berpikir bahwa aku punya maksud buruk. Tidak Tih, sungguh aku merasa kasihan sama dia. Aku janjikan gaji yang pantas, yang bisa mencukupi semua kebutuhan keluarganya.”

“Aku heran saja, tiba-tiba kamu peduli pada kehidupan seseorang.”

“Kamu tidak ingin melihat aku menjadi orang baik?”

“Ada apa dibalik kebaikan kamu itu Mas?”

“Yaaah, susah kalau ngomong sama orang yang selalu berprasangka buruk. Aku tuh tulus, ingin membantu dia. Yakinlah Tih. Dan bantu aku.”

“Aku harus melakukan apa?”

“Bantu bujuk dia supaya mau melakukannya. Soalnya dia itu wanita luar biasa, belum tentu bisa menerima kebaikan orang begitu saja.”

“Dia hanya lulusan SMA, apa kamu sudah tahu?”

“Sudah lah Tih, bu Kasnah sudah mengatakan tentang keluarganya.”

“Lalu apa yang membuat kamu merasa bahwa  dia akan bisa melakukannya?”

“Dia bisa komputer kan?”

“Pasti bisa lah, sekolah jaman sekarang, masih SMP juga pasti sudah tahu tentang komputer.”

“Nah, selebihnya akan ada yang melatih dia. Dia akan aku letakkan di bagian administrasi.”

“Entahlah, aku tidak janji.”

“Ratih, aku sungguh minta tolong sama kamu. Ini demi dia, demi rasa kasihan aku sama dia.”

“Tanpa maksud tersembunyi?”

“Ratih !” Sony merasa kesal.

“Akan aku coba, tapi aku nggak janji ya, soalnya Mbak Tiwi itu bukan orang yang gampang dibujuk.”

“Pokoknya bantu aku, besok aku menelpon lagi.”

“Eh, kok besok, buru-buru amat. Belum tentu aku ketemu dia hari ini, atau besok.”

“Tolonglah Tih, Tapi sekali lagi, jangan bilang kalau itu perusahaan aku.”

“Ya, akan aku coba.”

“Terima kasih, cantik, sayang, cinta …” kata Sony sambil tertawa, tapi Ratih sudah menutup ponselnya.

***

Sony sedang ada di kantornya. Selepas meeting dia memanggil Marsam, pembantu sekaligus orang yang bisa diajaknya berbincang, karena sesungguhnya Marsam adalah teman sepermainan sejak kecil, yang ikut di keluarga orang tua Sony. Dia disekolahkan dan sekarang selalu ada ketika Sony membutuhkannya. Ia adalah pembantu setia, yang akrab bagai teman, tapi juga hormat karena Sony orang yang berkuasa.

Marsam datang dengan membawa keresek berisi dua gelas jus alpukat, kemudian diletakkannya salah satunya, di depan Sony.

“Saya sedang memesan jus, ketika tuan memanggil. Itu sebabnya saya bawakan satu gelas untuk tuan.”

“Duduklah.”

Marsam duduk, sambil menyedot jusnya dengan nikmat.

“Kamu sudah tahu kan, kursi administrasi di kantor baru, nantinya hanya untuk Pratiwi?”

“Iya, semuanya sudah saya persiapkan, karena bukankah itu rencana kita sejak beberapa hari yang lalu?”

“Bagus. Nanti aku dan kamu akan sering ke kantor itu, tapi dengan diam-diam. Aku tidak ingin Pratiwi curiga ketika melihat aku, sebelum keinginan aku terlaksana.”

“Siap, tuan.”

“Jadi harus ada ruangan khusus, dimana kalau kita masuk ke ruangan itu, tidak harus melalui kantor.”

“Saya mengerti tuan. Sekarang silakan diminum dulu jusnya, keburu mencair, jadi tidak enak.”

Sony meraih gelas jus yang diletakkan Marsam, dan menyedotnya sambil tersenyum aneh. Terbayang olehnya, bagaimana kalau nanti keinginannya tercapai. Gadis sombong yang tak peduli padanya, kelak akan tunduk dibawah kakinya, dan menjadi miliknya.

“Apa sebenarnya tuan jatuh cinta pada gadis itu?” tiba-tiba tanya Marsam.

“Apa? Jatuh cinta? Mana mungkin aku jatuh cinta?

“Buktinya tuan mengejar-ngejar dia, sampai melakukan segala cara, tanpa mengingat, apakah membuka cabang di sana itu akan menguntungkan, atau tidak.”

“Kamu tidak tahu ya, bukankah aku pernah bilang bahwa aku hanya penasaran? Kamu tahu Sam, aku tak pernah gagal dalam mencapai keinginanku.”

“Tapi kali ini berbeda.”

“Berbeda bagaimana maksudmu?”

“Ini masalah perempuan, dan tampak aneh kalau tuan mengejarnya.”

“Jangan bodoh, Aku tidak mengejar karena suka sama dia, aku hanya ingin menunjukkan pada dia bahwa aku pasti akan mendapatkannya. Ingat, bukan karena aku mencintainya. Bodoh apa aku ini, jatuh cinta pada seorang tukang sayur yang tidak berkelas. Aku ini pengusaha Sam, terkenal di mana-mana.”

“Iya, saya tahu,” kata Marsam sambil meneguk sisa jusnya, dengan sekali teguk.

“Sekarang kamu boleh pergi.”

“Tuan mau makan di mana?”

“Kalau soal makan, kamu selalu saja ingat,” gerutu Sony.

“Saya hanya tak ingin, tuan jatuh sakit karena terlambat makan.”

“Ya sudah, ayo kita makan di luar saja.”

“Siap, laksanakan. Saya ambil mobilnya dulu, tuan,” kata Marsam sambil membalikkan tubuhnya.

“Heiiii! Berhenti !”

“Ada apa lagi tuan?”

“Buang gelas plastik ini. Sembarangan aja kamu.”

“Oh, maaf Tuan, soalnya saya tergesa-gesa,” kata Marsam sambil meraih dua gelas plastik bekas jus, lalu dibuangnya di tempat sampah.”

Sony berdiri, membenahi mejanya yang penuh berkas, kemudian keluar ruangan.

***

Ardian heran, ketika melihat Roy berjongkok di gudang, mengutak atik sepeda yang sudah lama tidak dipakai. Ia sudah membersihkannya sampai mengkilap, tapi kemudian geleng-geleng kepala.

“Gembos,” keluhnya.

“Apa yang kamu lakukan Roy?” tanya Ardian.

“Ini, sepeda. Ternyata gembos. Harus aku bawa ke tukang sepeda.”

“Iya aku tahu, itu gembos. Kamu mau naik sepeda?”

“Kencan sama Ratih, mau bersepada bareng-bareng.”

“Kencan sama Ratih? Nggak salah dengar, aku ?”

“Eh, memangnya kenapa?”

“Tumben, kencannya sama Ratih.”

“Ratih dibelikan sepeda, lalu besok kami akan bersepeda. Kalau kamu mau ikut, ikut saja. Tuh, sepeda kamu juga masih ada. Tapi kotor, penuh debu. Ini sudah aku bersihkan.”

“Besok Minggu ini, sepedaan bersama Ratih?”

“Sama Pratiwi juga.”

“Yah, kenapa nggak bilang dari tadi. Mana sepeda aku, biar aku bersihkan dulu,” katanya sambil melompati Roy yang masih berjongkok di depan sepedanya.

“Ya ampun, begitu mendengar Pratiwi, langsung bersemangat deh,” omel Roy.

“Masalahnya, kalau kamu, sama Ratih, sama Pratiwi saja, kurang pas, harus ada dua pasang. Jadi aku harus ikut, katanya sambil merebut serbet yang masih dipegang Roy.”

“Wah, main rebut saja sih.”

“Kamu kan sudah selesai, lihat, sepedamu sudah berkilat-kilat.”

“Ya sudah, lanjutin kerja kamu, tapi lihat, sepeda kamu juga gembos, Aku mau cari tukang tambal dulu, supaya besok bisa berangkat pagi-pagi.

“Bareng aja sekalian, ini aku bersihkan sambil jalan,” kata Ardian yang kemudian mengikuti Roy yang sudah menuntun sepedanya keluar dari gudang.

Pak Luminto yang sedang duduk bersama kedua istrinya di teras, heran melihat kedua anaknya keluar dengan menuntun sepeda.

“Mau apa mereka itu?”

“Sepertinya ban sepeda gembos, mungkin mencari tukang tambal,” kata Ratna.

“Tumben ingat sama sepedanya. Bertahun-tahun dibiarkan mangkrak. Aku sudah mau memberikannya kepada tukang sampah.”

“Nggak tahu tuh, tiba-tiba ingin bersepeda, kelihatannya,” sambung Sasmi.

“Biarkan saja, bersepeda itu kan sehat. Sebenarnya aku dulu juga suka bersepeda,” kata pak Luminto.

“Iya, Bapak dulu setiap pagi pasti bersepeda keliling komplek,” kata Ratna.

“Boleh saja kalau mau lagi," kata Sasmi.

“Sekarang sudah malas,” kata pak Luminto lagi.

“Hm, malasnya itu,” ejek Sasmi.

“Kan ada sepeda statis di rumah, itu cukup kan?”

“Udara di luar lebih segar,” sambung Ratna.

“Nanti aku bawa sepeda itu keluar, jadi mendapatkan udara segar juga,”  kata pak Luminto sambil tertawa.

“Dasar,” omel kedua istrinya.

“Kalau begitu aku juga ingin, Bagaimana kalau setiap pagi kita bersepeda bersama?” usul Sasmi.

“Wah, harus beli sepeda lagi dong.”

“Beli yang murah saja, kalau mbak Ratna mau lho.”

“Mau lah, siapa takut. Biar aku agak langsing sedikit, gitu. Ini aku sudah merasa gemuk lho.”

“Ayo Pak, beli untuk kami.”

“Nanti kita jalan-jalan mencari sepeda untuk kalian.”

“Asyiiik, gara-gara melihat anak-anak menuntun sepeda, jadi pengin,” kata Ratna.

***

Bu Juwono agak kesal melihat Ratih menuntun sepeda keluar dari garasi. Ia sudah melarangnya, tapi suaminya nekad  membelikan sepeda juga seperti yang diminta Ratih.

“Ratih, kamu nekad ya?”

“Sudah janjian sama teman-teman Bu,” teriak Ratih.

“Tunggu, di mana kalian akan kumpul?”

“Di rumah Pratiwi.”

“Apa? Rumah Pratiwi bukannya jauh?”

“Biar sehat Bu.”

“Tidak begitu, sebelum sampai di sana kamu pasti sudah kecapekan karena mengayuh sepeda. Mana Rusli?” teriak bu Juwono memanggil salah seorang sopirnya.

“Kenapa Bu, aku nggak mau naik mobil.”

“Biar Rusli mengantarkan kamu pakai mobil box itu, sepeda di taruh dibelakang. Nanti setelah sampai di rumah Pratiwi, baru kamu bersepeda rame-rame,” kata bu Juwono.

Rusli yang datang segera diperintah untuk mengambil mobil box, untuk membawa sepeda Ratih.

“Ibu tuh,” kesal Ratih.

“Mau nurut tidak? Kalau tidak mau ya nggak usah pergi, di rumah saja,” ancam ibunya.

Akhirnya Ratih menurut. Ia diantar Rusli sampai di rumah Pratiwi, lalu Rusli menurunkan sepeda Ratih.

“Mau ditunggu, Non?” tanya Rusli.

“Nggak … nggak, ngapain ditunggu? Sudah sana pulang saja.”

“Nanti Non Ratih pulangnya bagaimana?”

“Itu bukan urusan kamu, nanti gampang, pokoknya,” kata Ratih sambil mengibaskan tangannya. Menyuruh Rusli segera pergi.

“Ratih, mengapa kamu suruh dia pergi?” tiba-tiba Pratiwi keluar dari rumah dan melihat Ratih mengusir sopirnya.

“Nggak apa-apa, nggak asyik dong, bersepeda ditungguin. Kayak anak kecil saja. Ayo, kamu sudah siap? Mas Ardian mana?”

“Belum datang,” jawab Pratiwi sambil mengeluarkan sepeda bututnya.

“Sebenarnya aku malu. Sepedaku jelek, butut, sepeda kamu masih berkilat-kilat,” kata Pratiwi lagi.

“Kenapa harus malu? Nggak apa-apa. Sepedaku berkilat karena masih baru. Oh ya, aku mau ketemu ibu dulu,” kata Ratih yang langsung masuk ke dalam rumah.

Nano mendekati sepeda Ratih, dan mengelusnya.

“Bagus ya, sepeda mbak Ratih?”

“Iya, kan masih baru.”

“Sepeda orang kaya, pasti mahal.”

“Nggak apa-apa sepeda kita butut. Ini sangat berjasa lhoh, mengantarkan aku ke pasar, mengantarkan kamu beli sesuatu,” kata Pratiwi sambil mengelus sepedanya juga.

“Aku mau sekolah yang tinggi, biar bisa bekerja yang gajinya besar. Nanti Mbak Tiwi aku belikan sepeda bagus,” kata Nano.

Pratiwi terharu mendengar ocehan adiknya. Dalam hati dia berharap bisa menyekolahkan adiknya ke sekolah yang lebih tinggi, agar tercapai apa yang diinginkannya.

“Hai, aku datang,” tiba-tiba terdengar teriakan Roy dan Ardian hampir bersamaan.

“Nah, akhirnya datang juga mereka. Ayuk berangkat, aku sudah pamit sama ibu," kata Ratih yang baru keluar dari rumah.

Mereka berangkat, dan Pratiwi sama sekali tidak merasa minder dengan sepeda bututnya. Mereka juga tampak bergembira, tak seorangpun dari mereka menyebut sepeda Pratiwi.

Ketika Ratih sedang berjajar dengan Pratiwi dalam mengayuh sepedanya, tiba-tiba Ratih mendekat.

“Mbak Tiwi, maukah Mbak Tiwi bekerja kantoran?”

Tiwi terkejut, menatap Ratih tak berkedip. Bekerja kantoran? Kelihatannya keren.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, February 8, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 14

 

SETANGKAI BUNGAKU  14

(Tien Kumalasari)

 

Roy menoleh ke arah datangnya suara, dan melihat seorang laki-laki gagah dan tampan, sedang tersenyum sambil menatap Pratiwi. Ia sedang menduga-duga, siapa laki-laki itu, ketika terdengar Ratih menyapanya.

“Mas Sony! Ngapain datang kemari!”

“O, ini yang namanya Sony? Laki-laki yang pernah dihajar kakakku? Kok kenal sama Ratih sih?” kata batin Roy yang segera menahan kekesalannya, ketika Sony masih tetap menatap Pratiwi, sementara Pratiwi sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Mas! Katanya kamu pulang hari ini?”

“Oh, iya … ini aku mau pulang, maksudnya pamitan sama kamu. Dan kebetulan ada Pratiwi juga di sini. Apa kabar Pratiwi?”

“Nggak penting juga kamu pamitan sama aku, harusnya ke rumah, ketemu sama bapak, barangkali ada pesan untuk kamu.”

“Aku sudah ke rumah, tapi rumah kosong. Kata pembantu, bapak sama ibu ada di rumah sakit. Ternyata nggak ada.”

“Bapak sama ibu baru saja pulang.”

“Sayang sekali, kalau begitu nanti pamitkan saja, kalau ada pesan boleh menelpon.”

“Pratiwi, aku pamit ya,” kata Sony tanpa mempedulikan Roy yang berdiri di samping Pratiwi.

“Mas Roy, ini namanya mas Sony, temannya Ratih,” kata Pratiwi yang justru mengajak bicara Roy dengan mengenalkannya pada Sony.

“Oh ya, maaf, aku kurang memperhatikan, saya Sony, teman dekatnya Pratiwi juga,” kata Sony sombong, padahal bohong.

Lalu ia mengulurkan tangannya pada Roy, yang dibalas menyalami tapi dengan wajah kurang senang.

“Ya sudah Mas, cepat berangkat, nanti kamu ketinggalan pesawat.”

“Aku tidak naik pesawat, kamu lupa ya? Aku lebih suka naik mobil. Kamu suka banget sih, mengusir aku,” gerutu Sony.

“Aku sedang ingin berbincang dengan teman-teman aku. Mas Roy ini juga sahabatnya mbak Aira, jadi juga sahabat aku,” kata Ratih.

“Baiklah, nanti sampai di Jakarta aku akan menelpon kamu, ada hal penting yang ingin aku katakan sama kamu. Sebenarnya sih sekarang, tapi nggak enak juga karena ada tamu di sini.”

“Ya sudah, telpon saja nanti.”

“Tiwi, aku pamit ya,” katanya sambil membalikkan tubuhnya, tapi Pratiwi hanya mengangguk, kemudian mendekati Ratih.

“Dia menyebalkan bukan?” kata Ratih sambil cemberut.

“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Pratiwi.

“Masih pusing sih, tapi aku senang Mbak datang.”

“Aku minta maaf, karena aku, kamu jadi begini.”

“Tidak, mengapa minta maaf? Mbak kan tidak bersalah? Mas Roy, kok bisa datang bersama mbak Tiwi?” katanya kemudian pada Roy.

“Aku kebetulan sedang main ke rumah Pratiwi. Saat itu dia mau membezoek kamu. Kaget juga mendengar kamu sakit.”

“Tidak apa-apa. Hanya terserempet sepeda motor orang ngebut itu. Tidak apa-apa kok, aku justru ingin memiliki sepeda supaya bisa bersepeda bareng mbak Tiwi.”

Roy suka Ratih ternyata ngadis yang memiliki semangat. Pengalaman terserempet sepeda motor itu tak membuatnya takut. Ia kemudian membandingkannya dengan Aira, gadis yang manja dan selalu merengek setiap meminta sesuatu, suka memaksakan kehendak dan gampang sekali mengeluh. Ia dekat dengan Aira, tapi tak membuatnya tertarik walau Aira selalu ingin mendekati dirinya dalam arti yang lebih mendalam. Aira bukan seleranya. Tapi Ratih sangat berbeda. Ada semangat di matanya, ada kekuatan di sana, yang memancar dari sepasang bintang yang membuatnya kagum.

“Mas Roy, kok menatap aku seperti itu sih? Aku jelek ya, dengan perban yang berbercak darah ini?” kata Ratih sambil tersenyum.

Tuh, dalam sakit dan tak berdaya, senyuman Ratih masih penuh kekuatan dan semangat.

“Kamu cantik. Tetap cantik.”

“Benarkah?” senyuman Ratih melebar.

“Benarkah Mbak?” tanyanya kemudian kepada Pratiwi.

“Kamu memang cantik, dalam keadaan apapun kamu selalu cantik,” kata Pratiwi sambil menggenggam tangannya.

“Terima kasih atas semua pujiannya. Dengan begitu, aku akan segera pulih. Eh, nggak nyambung ya?” kata Ratih kemayu.

“Ratih, kamu sakit, tapi seperti tidak merasakan sakit,” kata Pratiwi sambil menepuk-nepuk tangannya.

“Memangnya rasa sakit itu harus dinikmati? Tidak kan? Kalau es kelapa muda sama rujak yang kemarin itu, pantas lah dinikmati, tapi tidak dengan rasa sakit ini,” kata Ratih.

“Mas Roy, mas Ardian mana?”

Roy menampakkan mulut cemberut, pura-pura marah.

“Kok semua orang menanyakan Ardian sih? Tadi, Tiwi juga menanyakan dia, sekarang kamu.”

Ratih tertawa.

“Kalian itu biasannya selalu berdua," kata Ratih.

“Mulai sekarang enggak lah. Buktinya sekarang aku sendiri.”

“Mas Ardian juga sedang pergi sendiri?” tanya Ratih lagi.

“Nggak, dia lagi molor di rumah.”

“Oh iya, pasti capek, memilih istirahat, kan ini hari Minggu. Sayang ya, aku terbaring di sini dan tidak boleh banyak bergerak. Kalau tidak pasti aku mengajak mbak Tiwi jalan-jalan lagi.”

“Besok kalau kamu sudah sembuh Tih, tapi jangan naik sepeda lagi.”

“Aku penginnya naik sepeda. Bener lhoh, aku akan memaksa bapak supaya membelikan aku sepeda.”

“Nanti aku yang kena marah.”

“Oh, apa kemarin ibuku marah sama Mbak?”

“Tidak … tidak, maksudnya aku yang dikira mengajak kamu bersepeda,” kata Pratiwi berbohong, tak ingin mengatakan bagaimana sikap ibunya kemarin.

“Pokoknya aku ingin, mas Roy mau ikut? Ajak mas Ardian juga yuk,” ajak Ratih bersemangat.

“Kok Ardian lagi sih?”

“Biar rame, bersepeda berempat.”

“Boleh … boleh … atur aja,” kata Roy sambil tertawa.

Dan mereka berbincang akrab. Entah kenapa Roy betah sekali di sana. Entah karena ada Pratiwi, atau karena ada rasa aneh yang menggelitik jiwanya ketika mengenal Ratih lebih dekat.

***

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Sony lebih banyak melamun. Ia merasa kecewa karena pertemuannya dengan Pratiwi masih belum membuatnya merasa puas. Pratiwi masih menujukkan sikap acuh terhadapnya, dan itu membuatnya penasaran. Marsam yang menyetir mobil juga lama-lama akan merasa mengantuk kalau majikannya mendiamkannya.

“Tuan, nanti kita makan di mana?” tanyanya membuka percakapan ketika sepi benar-benar membuatnya mengantuk.

“Apa? Kamu bicara tentang makan?”

“Saya memikirkan tuan, sejak berangkat tadi tuan belum makan,” kata Marsam yang agak merasa lega karena tuan nya ternyata masih bisa bicara.

“Sebenarnya aku sedang kesal. Lihat wajahku Sam, lihatlah, hei … kamu tidak mendengarnya? Lihat wajahku.”

“Sebentar tuan, ini kan di jalan raya, ramai pula, kalau saya melihat tuan, lalu menabrak kendaraan di depan, bagaimana?”

Sony terdiam, memang lalu lintas sedang ramai. Mereka tiba di kota entah di mana, Sony tak begitu memperhatikan.

“Maksudku, kamu harus meyakinkan aku, bahwa wajahku masih baik-baik saja. Tampan, gagah, dan dikagumi banyak perempuan, ya kan?”

“Ya tuan, tentu saja.”

“Tapi mengapa si penjual sayur itu begitu sombong dan sama sekali tak peduli sama aku? Apa kurangnya aku ini Sam?”

“Mungkin masalah selera, tuan.”

“Apa maksudmu Sam? Memangnya aku ini makanan?”

“Bukan makanan, tapi wajah tuan tidak masuk dalam kriteria orang yang disukainya.”

“Busyeeet !” Sony mengumpat.

“Mengapa tuan tidak segera mengalihkan perhatian tuan kepada perempuan lain? Hanya dia saja yang tuan pikirkan?”

“Aku merasa disepelekan. Kamu tahu, tadi dia di rumah sakit bersama seorang laki-laki bernama Roy. Apa aku pernah mengenal nama itu ya?”

“Sepertinya tuan tidak pernah berbicara tentang seseorang bernama Roy.”

“Dia sepertinya sangat dekat dengan laki-laki itu.”

“Mungkin dia itu pacarnya, tuan?”

“Bukan. Mereka tidak seperti sedang pacaran. Ratih memperkenalkannya sebagai teman dekat Aira.”

“Mungkin juga dia pacar Pratiwi.”

“Tidak Sam, aku yakin tidak. Sekarang tolong beri tahu aku, bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengan dia.”

“Ya ampun tuan, saya saja sampai sekarang belum punya pasangan, dan itu pertanda bahwa saya tidak begitu tahu tentang bagaimana cara menundukkan hati perempuan. Bagaimana tuan bertanya kepada saya tentang hal itu?”

“Masa sih sedikitpun kamu tidak punya cara?”

“Cara yang gampang adalah menyekapnya, memperkosanya lalu_”

“Stoppp! Aku tidak pernah memikirkan untuk memperkosa seorang wanita. Bukankah semuanya menyerahkan diri dengan suka rela? Tidak, aku tidak suka itu. Kasar kamu itu Sam!”

“Kalau begitu hentikan tuan memikirkan dia. Nanti pekerjaan tuan akan terganggu. Saya juga terganggu.”

“Kamu terganggu? Maksud kamu apa?”

“Kalau tuan uring-uringan terus, maka saya tidak akan merasa tenang.”

Sony mendesah kasar.

“Sebaiknya kita berhenti dulu, tuan makanlah sambil berbincang, sepertinya saya menemukan ide yang baik.”

“Kamu? Menemukan ide?”

“Tidak enak bicara sambil berkendara, tuan. Saya khawatir tuan sakit karena belum makan.”

“Katakan saja bahwa kamu lapar,” gerutu Sony.

“Tuan, ini hampir sore.”

“Baiklah, berhenti di rumah makan terdekat, aku ingin mendengar apa yang kamu pikirkan. Semoga ide yang baik dan tidak konyol seperti biasanya,

***

“Menurut kamu, Ratih sama Aira itu berbeda. Ya kan, Tiwi?” tanya Roy ketika dalam perjalanan pulang.

“Tentu saja berbeda Mas, Ratih adalah Ratih, Aira adalah Aira,” jawab Pratiwi.

“Bukan itu maksudku. Perilakunya yang berbeda. Ratih itu begitu bersemangat, kalau Aira sangat manja dan selalu merengek setiap menginginkan sesuatu.”

“Apa itu buruk?”

“Terkadang kurang baik. Dia selalu memaksakan kehendak, tidak peduli bagaimana perasaan orang lain.”

“Mereka anak orang berada, pastinya dimanja.”

“Tapi aku suka sifat Ratih.”

“Semoga cocok.”

“Eh, apa maksudmu?”

“Katanya suka.”

“Aku suka wanita sepertimu, bersemangat dan tak kenal menyerah. Bukankah Ratih juga begitu?”

“Saya begitu, karena dituntut keadaan.”

“Ratih bisa bermanja-manja, tapi dia tidak melakukannya. Ketika dia minta sepeda, tidak tampak merengek-rengek seperti anak manja.”

“Iya benar.”

“Tantangannya menarik. Di rumah ada sepeda, nanti aku temani kalian bersepeda.”

***

Yu Kasnah sedang duduk bersama Nano, setelah Nano keluar sebentar untuk meminjam buku kepada temannya.

“Dapat bukunya No?”

“Dapat bu, nanti aku minta sama mbak Tiwi agar memfoto copykan lagi,” jawab Nano.

“Iya, itu lebih murah dari pada membeli bukan?”

“Benar Bu. Sebenarnya kalau tadi Nano pergi bersama mbak Tiwi, Nano bisa mengajaknya mampir ke rumah teman, lalu sekalian memfoto copy kan bukunya.”

“Ya nggak apa-apa, lebih baik ada nak Roy sehingga kakakmu bisa ikut bersama, tanpa harus mengayuh sepeda saat udara panas begini.”

“Iya Bu, tapi kok lama ya perginya Mbak Tiwi.”

“Mereka kan dekat, seperti juga kedekatannya dengan nak Aira. Jadi masih suka berlama-lama.”

“Tadi waktu Nano ke rumah teman, lewat rumah bu Margono.”

“Memangnya kenapa kalau lewat rumahnya?”

“Kata mbak Tiwi, ketika bu Margono meminta uang sewa, ia minta lebih, karena akan memperbaiki rumah. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda dia memperbaiki rumah tuh.”

“Belum, barangkali,” kata ibunya.

“Sepertinya, dia itu ingin membuat kita susah saja.”

“Kamu jangan suka berprasangka buruk kepada orang lain. Apapun yang orang lakukan, baik atau buruk, adalah sesuatu yang bukan menjadi urusan kita. Kalau ada orang baik kepada kita, bersyukurlah, kalau ada orang jahat kepada kita, bersabarlah, maka Allah akan selalu menolong kita.”

“Iya Bu.”

“Ya sudah, tungguin kakakmu di depan sana, ibu mau istirahat sebentar.”

“Baiklah, Nano tungguin di depan ya Bu.”

“Ya. Paling sebentar lagi dia pulang. Jam berapa sih ini?”

“Sudah jam dua lewat.”

“Sebentar lagi pasti pulang.”

***

Sudah seminggu Ratih pulang ke rumah, tapi keinginan untuk memiliki sepeda masih terus menggayutinya. Ketika ayahnya pulang dari kantor, Ratih mencegatnya, sambil membawakan segelas kopi pahit kesukaannya, lalu mengajaknya duduk di teras.

“Eh, apa-apaan ini? Tumben begitu masuk ke rumah, sudah ada kopi pahit yang dibawa gadis cantikku,” kata pak Juwono.

“Minumlah Pak, biar seger, lalu hilang capeknya.”

“Ibumu mana?”

“Belum pulang, perginya juga belum lama, tadi bilang sudah mengabari Bapak tuh.”

“Ah, paling kirim pesan saja, bapak belum membukanya,” kata pak Juwono sambil menyeruput kopi pahit nya.

“Besok kan, Bapak libur?”

“Iya, kenapa? Pengin ngajakin bapak jalan-jalan?”

“Iya. Ke toko sepeda ya?”

“Apa? Kamu masih ingat itu terus.”

“Bapak harus tahu, bersepeda itu juga olah raga. Suatu hari Bapak pasti menyukainya. Untuk berputar-putar komplek, atau jalan ke mana, gitu.”

“Bapak mau mandi dulu,” kata pak Juwono sambil berdiri.

“Besok bangun pagi, lalu jalan-jalan sama Ratih, nanti Bapak akan melihat, betapa banyak orang bersepeda pagi. Yang anak muda, yang tua, yang seperti Bapak juga banyak."

“Kita lihat saja nanti.”

“Horeeee,” Ratih berteriak senang, padahal ayahnya belum mengatakan ‘iya’.

Tiba-tiba ponsel Ratih berdering. Dari Sony. Apakah ide dari Marsam yang akan dijalaninya? 

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, February 7, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 13

 

SETANGKAI BUNGAKU  13

(Tien Kumalasari)

 

Pratiwi tertegun. Mulutnya terkunci dan tak mampu berkata-kata. Ucapan kasar penuh caci itu terasa bagai mengiris jantungnya.

“Gara-gara kamu, anakku celaka. Awas ya, kalau sampai terjadi apa-apa sama Ratih, kamu harus menanggung akibatnya,” ancamnya dengan mata melotot, kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke arah ruang UGD. Ia menemui salah seorang perawat dan berbicara di sana.

Pratiwi masih terpaku di tempatnya berdiri, air matanya merebak, yang kemudian menetes pelan. Pratiwi mengusapnya, kendati rasa teriris masih terasa pedih, perih.

“Tiwi, aku antarkan kamu mengambil sepeda kamu ya,” tiba-tiba Sony yang merasa iba mendekatinya.

Pratiwi menggelengkan kepalanya.

“Aku harus menunggu, bagaimana keadaan Ratih,” katanya pelan.

“Kalau begitu ayo duduk di sana dulu,” kata Sony sambil memegang dan menarik lengannya, tapi kemudian Pratiwi mengibaskannya.

Tanpa menjawab apapun, Pratiwi melangkah ke arah bangku yang ditunjuk Sony, duduk diam di sana, sementara Sony duduk di sampingnya, dengan perasaan mashgul.

“Benar-benar gadis yang sulit didekati,” kata hati Sony, tapi dia diam, tak berusaha mengajaknya bicara, karena tahu suasana hati Pratiwi sedang tidak nyaman. Ia juga menyesali bu Juwono yang datang-datang memarahi Pratiwi dengan kata-kata kasar.

Di ruang UGD, bu Jowono berhasil menemui Ratih. Gadis itu tergolek lemah, ada perban dan ceceran darah di bajunya.

Bu Juwono memeluknya sambil menangis.

“Kenapa kamu melakukannya? Jangan sampai ibu kehilangan kamu juga, Ratih.,” isaknya.

Ratih mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Ratih tidak apa-apa Bu.”

“Kata dokter kamu gegar otak. Itu tidak apa-apa?” protes ibunya.

“Ratih akan baik-baik saja, ibu jangan sedih.”

“Tentu saja ibu sedih. Belum lama ini ibu kehilangan kakak kamu, lalu kamu sekarang kecelakaan juga. Gara-gara gadis miskin itu,” omel bu Juwono.

“Siapa yang ibu maksud?”

“Siapa lagi kalau bukan dia? Gadis yang memboncengkan kamu dengan sepedanya?”

“Ini bukan salah dia. Sepeda motor menabrak Ratih.”

“Ya, tapi kalau kamu tidak membonceng sepeda dia, tidak bakalan ada yang bisa menabrak kamu. Apa-apaan sih kamu, di rumah banyak mobil, tinggal bawa mana yang kamu suka, kenapa mau diboncengin dia? Kebangetan anak itu. Tidak tahu diri.”

“Ibu jangan marah sama dia, bukan dia yang menyuruh Ratih membonceng, tapi Ratih yang mau.”

“Kenapa juga kamu minta dibocengin sama dia? Apa kamu tidak punya uang untuk membayar taksi? Lagian, bukankah tadi kamu diantar sama Sony?”

“Mas Sony hanya mengantar. Ibu jangan marah-marah di sini, kepala Ratih pusing.”

Ketika bu Juwono akhirnya keluar dari ruangan itu, karena perawat yang minta, dilihatnya Pratiwi tak ada lagi di sana. Dia sudah mendapat keterangan dari salah seorang perawat yang ditanyainya, bahwa Ratih baik-baik saja, hanya gegar otak ringan, tapi harus di rawat selama beberapa hari. Itu sebabnya dia kemudian pergi dari sana, karena hari mulai sore.

Ketika melangkah itulah Sony selalu mengikutinya, dan memaksa ingin mengantarnya.

“Tidak usah Mas, biar saya ambil sendiri sepeda saya.”

“Tiwi, hari mulai sore, tempat itu jauh dari sini, nanti kamu kemalaman di jalan. Biar aku antar ke tempat kamu menitipkan sepeda itu saja, setelah itu kamu boleh pulang sendiri. Dari sana kan kamu bisa pulang lebih cepat, karena rumah kamu kan dekat?”

Akhirnya Pratiwi menurut, dengan pertimbangan bahwa ibunya pasti cemas menunggu.

***

Ketika sampai di rumah, dilihatnya yu Kasnah sedang duduk di depan rumah, ditemani Nano. Pratiwi tahu, ibunya pasti cemas menunggu, karena hari sudah sore dan dirinya belum kembali.

“Itu Mbak Tiwi datang,” teriak Nano begitu melihat kakaknya mengayuh sepedanya, memasuki halaman.

Pratiwi turun dari sepeda di dekat ibunya, lalu menghampiri ibunya setelah menyandarkan sepedanya di sebuah pohon.

“Ibu ….”

“Tiwi, kamu ke mana saja? Sore hari baru pulang?” tanya ibunya yang merasa lega melihat Pratiwi sudah pulang.

“Pasti mengantarkan mbak Ratih ke rumah, ya kan?” sela Nano.

“Katanya, rumah nak Ratih jauh, kenapa kamu mengantarkannya sih Wi?” tegur sang ibu.

“Tidak Bu, sebenarnya Ratih mengalami kecelakaan,” tutur Pratiwi sambil duduk di samping ibunya.

“Apa? Kecelakaan apa? Bukankah dia bersama kamu? Kamu seperti tak apa-apa?” tanya yu Kasnah sambil meraba-raba tangan anaknya.

“Ketika di sebuah perempatan, karena lampu merah, kami berhenti, dan Ratih turun dari boncengan. Tiba-tiba sepeda motor ngebut menerjang dari sebelah kiri, membuat Ratih terpelanting dan pingsan.”

 “Ya Tuhan, lalu bagaimana?”

“Untung ada temannya Ratih yang melihat, kemudian membawanya ke rumah sakit dengan mobilnya.”

“Keadaannya bagaimana?”

“Ada luka di kepalanya, dan gegar otak, jadi harus dirawat.”

“Tapi dia sadar?”

“Sadar, tapi Tiwi tidak sempat bertemu. Setelah mendengar keterangan dari perawat bahwa Ratih tak apa-apa, lalu Tiwi pulang, karena takut kemalaman.”

“Yang ngebut itu apa tidak ditangkap polisi sih?” tanya Nano.

“Nggak tahu aku, tadi kelihatannya juga ada yang mengejarnya. Aku hanya perhatian pada keadaan Ratih. Besok setelah selesai berjualan, aku mau menjenguknya di rumah sakit.”

“Jauhkah rumah sakitnya?” tanya yu Kasnah.

“Agak jauh Bu, tapi kan masih siang, jadi tidak terburu-buru.”

“Kalau begitu biar Nano menemani kamu. Besok kan hari Minggu?”

“Nanti ibu sendirian? Bagaimana kalau lama?”

“Tidak apa-apa, kalau di rumah kan ibu sudah hafal jalan-jalannya.”

“Iya Mbak, daripada Mbak sendiri, nanti aku saja yang mboncengin.”

“Ih, nggak mau ah, masa anak kecil mboncengin. Ya sudah nggak apa-apa, kan masih besok. Ayo Bu, masuk, sudah hampir gelap nih,” ajak Pratiwi sambil membantu ibunya berdiri.

***

Sony kembali ke rumah sakit setelah mengantarkan Pratiwi mengambil sepeda. Saat itu Ratih sudah berada di ruang rawat. Pak Juwono juga sudah ada di  sana. Pastilah mereka sangat khawatir, apalagi setelah kejadian meninggalnya Aira.

“Lain kali kamu tidak boleh sembrono. Naik sepeda itu tidak nyaman dan tidak aman. Buktinya, kamu menemui kejadian seperti ini, membuat bapak sama ibu khawatir.”

“Nah, tadi sudah mau Sony antar, tapi Ratih tidak mau,” kata Sony yang sudah ada diantara mereka.

“Nah, Sony sudah mau mengantarkan tuh,” tegur ayahnya.

“Itu gara-gara temannya Aira, yang namanya Pratiwi itu lho Pak, mana dia hanya punya sepeda, jadi mengajak Ratih jalan, juga naik sepeda,” sambung ibunya.

“Ibu jangan menyalahkan Mbak Tiwi terus. Itu bukan kesalahan dia. Yang ngajakin jalan juga Ratih, bukan dia.”

“Kamu kan punya mobil, kalau ingin mengajak teman kamu jalan, kan bisa naik mobil?” kata ayahnya.

“Memang Ratih pengin naik sepeda. Nanti kalau Ratih sudah boleh pulang, Bapak belikan Ratih sepeda ya?”

“Apa?” teriak ayah dan ibunya. Sony hanya tersenyum melihat pak Juwono dan istrinya berteriak.

“Ratih ingin jalan-jalan bersepeda, Pak,” kata Ratih nekad.

“Kamu lupa, baru saja kamu hampir celaka karena bersepeda?” kata ibunya dengan wajah kesal.

“Itu kan karena kecelakaan. Dan bukan salah Ratih, juga bukan kesalahan Mbak Tiwi. Naik sepeda itu asyik.”

“Mintalah mobil, akan bapak belikan. Sepeda? No … no … no!”

Ratih cemberut. Ia menatap Sony, minta dukungan, tapi Sony hanya tertawa saja sambil menatapnya lucu.

***

Roy sudah pulang dari luar kota, dan sibuk dengan urusan di kantornya. Baru malam harinya dia berbincang dengan Ardian, dan yang pertama-tama ditanyakannya adalah Pratiwi.

“Ah ya, Pratiwi. Kemarin hampir saja dia celaka.”

“Kenapa?”

Lalu Ardian menceritakan, bagaimana ketika sepulang dari rumahnya, Pratiwi dikejar oleh seorang laki-laki yang ingin mencari yu Kasnah. Ardian juga mengatakan bagaimana dia sempat menghajar laki-laki itu.

“Kamu bisa mengatasinya kan?”

“Aku dikeroyok dua, rupanya laki-laki bernama Sony itu bukan orang sembarangan. Dia punya pengawal. Orangnya tinggi besar.”

“Satu lawan dua? Hebat kamu Ar.”

“Ardian …” kata Ardian sambil menepuk dadanya.

“Siapa sebenarnya dia?”

“Kemarin malamnya, yu Kasnah memijit laki-laki bernama Sony itu di hotel, Pratiwi mengantarnya.”

“Waduh, di hotel? Bahaya itu bagi Pratiwi, apalagi kalau lelakinya hidung belang.”

“Untungnya ketika di hotel, kata Pratiwi, dia bersikap baik. Tapi kelihatan dong orang baik yang sungguh baik, atau bukan? Nah besok malamnya, Sony mencari lagi yu Kasnah untuk kembali disuruhnya memijit, tapi Pratiwi melarangnya. Ya itulah, kejadiannya, karena Pratiwi menolak, lalu lari, dia mengejar,  untungnya aku keluar dan melihat dia sedang mendekap Pratiwi.”

“Kurangajar, pakai mendekap segala?”

“Katanya karena Pratiwi mau lari.”

“Alasan buaya itu,” geram Roy.

“Aku sudah berhasil menghajar keduanya.”

“Lalu dia lari?”

“Aku mengancam mau melapor ke polisi, dia memilih minta maaf, lalu pergi.”

“Jadi kemungkinannya, meminta yu Kasnah memijit lagi tuh karena dia suka sama Pratiwi?”

“Pastinya begitu.”

“Besok aku mau ke rumah dia. Kan besok hari Minggu. Siapa tahu dia mau aku ajak jalan-jalan.”

“Nekad!” sergah Ardian.

“Harus nekad dong, aku masih penasaran, susah banget mendekati dia.”

“Aku doakan kamu deh,” kata Ardian sambil tersenyum.

“Nah, gitu dong, sama adiknya harus mendoakan.”

“Aku doakan supaya nggak berhasil!” kata Ardian sambil berdiri, tapi Roy sudah berhasil melempar Ardian dengan bantal sofa yang sebelumnya mereka duduki. Ardian terbahak sambil melempar kembali bantal itu, lalu bergegas masuk ke kamarnya.

“Ada apa sih ini, baru saja bisa kumpul, ramainya bukan main,” tegur Ratna yang baru keluar dari dapur, diikuti Sasmi sambil membawa emping yang baru saja digorengnya.

“Ardian tuh, bikin kesel.”

“Biasanya kompak, kok kali ini lempar-lemparan bantal?” tegur Sasmi sambil meletakkan toples berisi emping di atas meja.

“Bapaaak, ada emping nih!” teriak Roy.

“Nggak mau, nanti asam uratku kumat,” teriak pak Luminto dari arah depan, yang disambut tertawa oleh kedua istri dan anaknya.

“Ada emping nih? Mau dong,” kata Ardian yang tiba-tiba muncul, tapi dengan sigap Roy meraih toples itu dan mendekapnya di dada.

“Tuh, jahatnya,” pekik Ardian yang berusaha merebutnya, membuat Ratna dan Sasmi berteriak-teriak.

“Aduuh, nanti malah tumpah, nggak jadi makan semua.”

Barulah Roy meletakkan empingnya, yang kemudian langsung diserbu bersama.

***

Siang hari itu setelah selesai berjualan, Pratiwi bersiap pergi membezoek Ratih di rumah sakit. Ia mengesampingkan rasa sakit hatinya karena sikap kasar bu Juwono, karena dia ingin melihat keadaan Ratih yang sejak kecelakaan itu ia belum sempat melihatnya.

Nano sudah mengeluarkan sepeda dari samping rumah, dan Pratiwi sudah berpamit pada ibunya. Tiba-tiba seseorang berjalan memasuki halaman, membuat Pratiwi terkejut.

“Tiwi mau ke mana?”

“Kok sendirian Mas, Mas Ardian mana?”

“Adanya aku, kok yang ditanyakan Ardian sih?”

“Biasanya kan berdua,” kata Pratiwi sambil tersenyum.

“Dia memilih tidur tuh. Kamu mau kemana?”

“Mau ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit?”

“Ratih. Kemarin kecelakaan.”

“Ratih? Kecelakaan di mana?”

“Sedang berboncengan sama aku, ketika di lampu merah sedang berhenti, ditabrak pengendara sepeda motor ngebut.”

“Waduh, sekarang dirawat? Ayo sama aku saja, aku juga ingin membezoeknya.”

“Tapi, aku mau sama Nano, boncengan saja.”

“Nggak apa-apa sama Nano, masukkan sepedanya No, naik mobil saja, aku ambil sebentar.”

“Aku nggak usah ikut saja kalau sudah sama mas Roy,” kata Nano.

“Lhoh, kok nggak usah?”

“Aku menemani ibu di rumah, kan Mbak Tiwi sudah ada yang menemani?”

Pratiwi ingin menolak, tapi Roy sudah bergegas pergi untuk mengambil mobil di rumahnya.

“Kok masih di sini? Sudah pamit belum berangkat juga?” tegur yu Kasnah dari depan pintu, yang berusaha keluar mendengar anak-anaknya masih berbincang di depan.

“Mbak Tiwi mau diantar mas Roy, Bu. “

“Mas Roy ke sini?”

“Iya, dia juga mau membezoek Ratih," jawab Pratiwi.

“Oh, ya sudah, kebetulan, kamu tidak usah mengayuh sepeda.”

***

Ketika sampai di ruang rawat Ratih, kebetulan pak Juwono dan istrinya masih di sama, dan tampaknya bersiap mau pulang. Pratiwi melangkah mendekat dengan dada berdebar, menata hati kalau sampai disemprot lagi oleh bu Juwono.

“Mbak Tiwi!” teriak Ratih, membuat pak Juwono dan bu Juwono menoleh.

“Lhoh, ini kan Roy?” seru pak Juwono.

Roy mengangguk, kemudian mencium tangan pak Juwono dan istrinya. Pratiwi pun maju, berniat mengikuti langkah Roy, dengan tangan sedikit gemetar. Tapi ternyata pak Juwono dan istrinya menangkap tangan Pratiwi sambil tersenyum. Rupanya Ratih sudah wanti-wanti agar ayah ibunya tidak menyalahkan Pratiwi, karena semua itu adalah kemauannya.

“Saya minta maaf,” kata Pratiwi yang agak lega karena orang tua Ratih mau menerima uluran tangannya.

“Tidak, kamu tidak bersalah. Ratih memang bandel,” kata bu Juwono kemudian.

“Kebetulan kalian datang, kami mau pulang dulu karena sejak semalam menginap di sini,” kata pak Juwono yang kemudian mengajak istrinya untuk keluar.

“Ratih, bagaimana keadaan kamu?”

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing,” kata Ratih sambil memegang kepalanya.

“Aku minta maaf.”

“Kenapa meminta maaf? Mbak Tiwi tidak bersalah. Aku bahkan akan memaksa bapak agar membelikan aku sepeda. Nanti kita jalan-jalan bersepeda berdua,” kata Ratih sambil tersenyum.

Roy yang belum berbicara apapun, sesungguhnya sedang menatap Ratih dengan tatapan aneh. Wajah Ratih mirip sekali dengan Aira. Dulu ia tak tertarik pada Aira, tapi Ratih sangat berbeda. Roy heran pada dirinya, karena perasaan ini tak pernah dirasakannya.

Ia baru akan menyapa, ketika tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

“Tiwi? Kamu di sini?”

Tiwi terkejut, ada Sony tiba-tiba datang.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

Monday, February 6, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 12

 

SETANGKAI BUNGAKU  12

(Tien Kumalasari)

 

Ratih tertegun, melihat Sony juga ikut turun. Padahal dia ingin berlama-lama di rumah Pratiwi.

“Kamu nggak usah mengantar aku sampai harus menunggu. Tinggalkan saja aku, nanti aku pulang sendiri,” katanya.

“Aku akan ikut kamu.”

“Kamu jangan main-main Mas, karena aku bilang bahwa temanku itu cantik, lalu kamu ingin mengganggunya kan? Tidak boleh. Pulang saja sana,” kata Ratih dengan mulut cemberut.

“Ya ampun, kamu berprasangka buruk sama aku ya, cuma mau nganterin saja kok dikira macam-macam.”

“Nggak mungkin kamu hanya sekedar nganterin aku, bukankah pekerjaan kamu banyak?”

“Tidak juga, aku sudah selesai, bukankah aku sudah bilang kalau besok aku sudah kembali ke Jakarta?”

 

“Tapi aku akan lama di sini, kamu mengganggu saja.”

“Aku tidak akan mengganggu, hanya ingin ikut saja, kenapa sih?”

Ratih kehilangan alasan untuk menolak Sony, akhirnya dia membiarkan Sony mengikutinya.

“Tapi awas ya, jangan sekali-sekali kamu mengganggu teman aku. Aku tahu siapa Sony Partadewa, seorang pengusaha muda yang mata keranjang,” omel Ratih sambil melangkah memasuki halaman.

“Kamu termakan issue miring itu. Jangan percaya. Berita itu disebarkan oleh lawan bisnis aku, untuk menjatuhkan namaku,” kata Sony sambil tertawa.

Ratih sudah sampai di depan teras, pintunya terbuka, berarti Pratiwi ada di dalam rumah.

“Mbak Tiwiii !”

Bukannya mengetuk pintu, Ratih malah berteriak memanggil. Dan hanya sekali panggilan, tiba-tiba Pratiwi sudah muncul di depan pintu. Wajahnya berseri ketika melihat Ratih, tapi kemudian tertegun melihat siapa yang bersamanya. Ya, Pratiwi ingat, kemarin ia melihat Ratih bersama Sony. Pacarnya kah? Kasihan Ratih kalau memang dia pacarnya. Laki-laki seperti Sony sangat diragukan ketulusan hatinya. Ia juga ingat ketika semalam Sony memperlakukannya tak wajar. Pakai peluk-peluk segala, dengan alasan yang kebetulan tepat, ingin agar dirinya tidak lari menjahuinya.

“Mbak Tiwi, kaget ya, aku datang bersama dia. Dia ini mas Sony, tadi mengantar aku, ketika aku bilang mau main kemari,” terang Ratih.

“Oh, silakan duduk,” kata Pratiwi sambil mempersilakan kedua tamunya duduk di teras.

“Tempat duduknya hanya seperti ini. Kursi-kursi tua peninggalan almarhum ayahku,” katanya menerangkan.

“Ini aku sudah tahu, Mana ibu? Sedang tidur kah?”

“Ibu sedang istirahat di kamar.”

“Ternyata Pratiwi, teman kamu?”

“Mas Sony sudah kenal sebelumnya?”

“Ibunya pernah memijit aku, saat aku di hotel.”

“Ouw, begitu,” kata Ratih sambil mengangguk.

“Yang jualan sayur itu siapa?” tanya Sony.

“Saya,” jawab Pratiwi.

“Kamu? Bukan main.”

“Bukan main apa maksudnya?” tanya Ratih.

“Begitu bersemangat, sampai jualan sayur juga dijalani. Salut untuk Pratiwi."

Pratiwi tersenyum tipis. Ia tahu Sony sedang berusaha menarik simpatinya. Ah, hanya seorang penjual sayur, pasti itu yang dipikirkannya, tapi ia berusaha membuat hatinya senang.

“Demi membantu orang tua, saya melakukan apapun.”

“Mbak Tiwi ini dulu pintar di sekolahnya, sampai almarhumah mbak Aira sering belajar sama dia,” puji Ratih.

“Wauww, kelihatan kok.”

“Apanya yang kelihatan?” tanya Ratih.

“Dari wajahnya sudah kelihatan kalau dia ini pintar. Tanpa diberitahu juga aku sudah tahu kok.”

“Eh, Mas … kamu pulang sana deh, aku mau ngajakin mbak Tiwi  jalan.”

“Bagus, aku antar saja,” kata Sony bersemangat.

“Nggak mau, aku mau berdua saja sama Mbak Tiwi.," kata Ratih.

“Belum aku buatkan minuman,” kata Pratiwi.

“Nggak usah, dia juga nggak haus kok. Sudah Mas, pulang saja, kami nggak mau diganggu. Nggak enak.”

“Ya ampun, susah-susah dianterin, ujung-ujungnya aku diusir nih?”

Pratiwi menahan senyumnya.

“Sudaah, pulang sana.”

“Aku antar, kemana kalian mau jalan.”

“Nggak mau. Aku mau boncengan sepeda sama Mbak Tiwi.”

“Apa? Boncengan Sepeda motor?”

“Sepeda kayuh, nggak asyik sepeda motor.”

“Ya ampun.”

“Sudah, mau aku ambilkan sapu supaya aku bisa mengusir lebih cepat?”

“Nggak lucu ah, yang punya rumah saja nggak ngusir.”

“Dia mau ngusir juga, tapi sungkan. Ya kan Mbak?”

Pratiwi tersenyum lebar, tapi sedikitpun dia tak memandang ke arah Sony, membuat Sony semakin penasaran.

“Pulang nggak?” ancam Ratih lagi.

“Ya sudah, baiklah, aku pulang dulu Tiwi, sampaikan salam untuk bu Kasnah ya,” kata Sony kepada Pratiwi, sambil tersenyum manis. Senyuman paling manis yang pernah dimilikinya, tapi Pratiwi hanya menatap sekilas, kemudian mengangguk.

Sony melangkah pergi, Ratih menatap punggungnya sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa kan, aku usir dia, Mbak?”

“Nggak apa-apa, memangnya kenapa?”

“Dia terkadang nyebelin, ayo, antar aku ketemu ibu dulu,” kata Ratih yang langsung berdiri dan melangkah masuk ke rumah.

Yu Kasnah ternyata tidak tidur, dia duduk di kursi, entah memikirkan apa.

“Bu Kasnah,” sapa Ratih sambil duduk di samping yu Kasnah.

‘Ini siapa? Baunya wangi banget,” tanya bu Kasnah sambil tangannya meraba pangkuan orang yang ada disampingnya.

“Coba tebak, aku siapa?” kata Ratih sambil tertawa.

“Kalau bau begini ini, aku jadi ingat sama nak Aira.”

“Ah Ibu, membuat aku jadi teringat kakak aku saja,” Ratih merajuk.

“Oh, aku tahu, ini nak Ratih, bukan?”

“Iya, bu Kasnah pinter.”

“Siang-siang sudah main kesini, pulang kuliah ya?”

“Nggak Bu, Ratih dari rumah. Ratih mau ngajakin mbak Pratiwi jalan-jalan ya?”

“Siang-siang mau jalan ke mana?”

“Ke mana saja Bu, tapi aku mau diboncengin mbak Tiwi.”

“Boncengan? Tiwi punya nya cuma sepeda tuh.”

“Emang kenapa kalau sepeda?”

“Kan panas, nanti kulit kamu hitam.”

“Biarkan kulitnya hitam, asal hatinya putih,” kata Ratih sambil merangkul bahu yu Kasnah.

“Anak pinter. Bagus kalau begitu, tapi hati-hati ya.”

“Ini minum kamu Tih,” kata Pratiwi sambil membawa nampan berisi segelas teh manis.

“Kok repot-repot.”

“Nggak repot kok, ayo diminum. Tapi adanya teh hangat, nggak punya yang bikin dingin-dingin sih,” kata Pratiwi sambil meletakkan  gelasnya.

“Nggak papa, hangat juga enak. Nih aku minum, kamu ganti baju dulu, aku sudah bilang sama ibu kalau mau ngajakin kamu jalan, tapi aku diboncengin ya.”

“Iya, nggak apa-apa, tunggu sebentar ya.”

***

Hari itu Ratih senang sekali, bisa jalan-jalan santai dengan membonceng sepeda Pratiwi. Hal yang belum pernah dilakukannya seumur-umur, karena sejak masih kecil, kemana-mana selalu diantar mobil, lalu setelah dewasa bisa setir sendiri.

“Asyik ya, boceng sepeda.”

“Enakan naik mobil dong Tih.”

“Itu sudah biasa. Kali ini aku merasa bahwa bersepeda itu menyenangkan. Nanti aku mau minta sama bapak, agar dibelikan sepeda. Nanti kita bisa bersepeda berdua,” kata Ratih riang.

“Emang kamu bisa naik sepeda?”

“Bisa lah, belajar dong. Orang lain bisa, masa aku nggak bisa.”

“Baiklah, senang bisa sepedaan bersama.”

“Tapi aku haus, cari warung yuk, es kelapa muda, barangkali segar.”

“Di depan itu ada. Ayuk ke sana.”

***

Keduanya masuk ke warung es yang menjual bermacam-macam minuman. Ratih memesan es kelapa muda, Pratiwi memesan es buah.

“Ada juga rujak ya, aku mau rujak,” kata Ratih.

“Aku juga mau,” sambung Pratiwi.

Keduanya menikmati kesegaran es dan rujak, yang rasanya pedas-pedas sedap. Sambil menikmati pesanan mereka, Ratih berbincang tentang banyak hal. Tentang keluarganya yang sibuk, dan dirinya yang kesepian.

“Kepergian mbak Aira, membuat aku seperti tak punya pegangan. Aku merasa sendiri dan kesepian,” keluh Ratih.

“Kamu seperti tidak mengikhlaskan kepergian kakak kamu, itu tidak baik. Memang benar, kita semua kehilangan, tapi kamu tidak boleh kehilangan pegangan. Hidup akan terus berjalan, dan harus kamu nikmati dengan rasa syukur. Jangan berhenti melangkah, karena masih banyak yang bisa kamu capai dalam hidup ini.”

“Iya, aku tahu.”

“Kembalilah kuliah. Akan banyak teman-teman yang bisa membuatmu terhibur. Kalau kamu terus mengurung diri, maka kamu akan merasakan betapa sepinya hidup kamu. Dan lagi, bukankah ada ibu dirumah?”

“Tidak selalu ada. Ibu banyak bepergian, karena ibu aktif di banyak organisasi wanita. Sedangkan aku merasa terpuruk di rumah.”

“Kalau begitu kamu harus kembali kuliah. Sayang kalau kamu biarkan terbengkalai.”

“Apa Mbak Tiwi ingin kuliah?”

“Jangan bertanya soal itu. Keinginan itu ada, tapi aku ini kan seperti pungguk merindukan bulan. Tanganku tak akan sampai untuk menggapainya.”

“Apa Mbak mau, seandainya ada yang membiayai kuliah Mbak?”

“Tidak, sudahlah. Aku tak mau membebani siapapun. Ini adalah hidupku. Suka ataupun tidak, aku harus menjalaninya. Aku satu-satunya tulang punggung keluarga. Jangankan memikirkan kuliah, memikirkan sekolah adik aku saja terkadang terasa berat. Belum kalau nanti dia akan masuk SMP, yang biayanya pasti lebih besar, Tapi tak apa, jangan memikirkan aku, dan jangan tanyakan apapun tentang keinginanku.”

“Aku ikut prihatin, dan ingin membantu.”

“Tidak, jangan membuat kami berhutang. Tetaplah kita berteman, dan saling menemani.”

Keduanya kemudian terdiam. Mulut mereka menikmati segarnya es dan rujak yang mereka pesan, tapi pikiran mereka terbang kemana-mana.

“Kamu punya pacar, Mbak?” tanya Ratih tiba-tiba.

“Apa?” pertanyaan itu membuat Pratiwi kemudian tersedak-sedak.

“Ya ampun Mbak, pelan-pelan dong.”

“Pertanyaan kamu membuat aku terkejut, mana mungkin aku memikirkan pacar? Dan siapa mau sama gadis miskin seperti aku?”

“Kamu itu cantik lho Mbak.”

“Cantik yang redup, baik wajah maupun kehidupannya. Lupakan saja.”

“Mas Sony kelihatannya tertarik sama Mbak.”

“Apa? Dia?”

“Tapi jangan hiraukan. Dia itu playboy. Suka bermain wanita, dan itu sudah terkenal.”

“Ya aku tahu dari cara dia bersikap. Tampak berlebihan. Tapi aku bukan gadis yang bisa dipermainkan. Biarpun aku miskin, tapi aku punya harga diri.”

“Aku suka sikap Mbak Tiwi.”

“Aku pernah melihat kamu memasuki sebuah toko bersama dia. Aku kira dia pacar kamu.”

“Bukan lah, aku nggak suka dia. Aku kan sudah mengatakan tentang dia? Lagi pula dia tak akan berani bermain-main sama aku. Ayahnya sahabat ayahku.”

“Syukurlah.”

Keduanya pulang ketika hari menjelang sore.

“Hari kampir sore, kamu pasti membuat ibu kamu cemas.”

“Ya enggak, memangnya aku anak kecil?”

“Aku antar pulang ya?”

“Tidak, kita ke rumah kamu dulu, nanti aku naik taksi. Mana mungkin aku biarkan Mbak mengantar aku. Rumahku jauh dari rumah Mbak. Tapi apa Mbak tidak capek memboncengkan aku terus? Aku belum berani sih.”

“Tidak, biasa saja. Ayo cepat naik.”

Lalu Pratiwi mengayuh sepedanya pelan. Matahari mulai condong ke arah barat, sehingga suasana udara panas sudah mulai berkurang.

Tapi ketika mereka berhenti di sebuah trafic light, tiba-tiba sebuah sepeda motor ngebut dan mengejar rambu-rambu, dan karena menyalip lewat pinggir kiri, maka sepeda motor itu menyerempet tubuh Ratih, membuatnya terpental.

Pratiwi menjerit, melihat Ratih tergeletak tak bergerak.

“Oh, tolong … tolonglah,” pekiknya ketakutan. Beberapa kendaraan mencoba mengejar pengendara yang terus mengebut itu, tapi Pratiwi fokus pada keadaan Ratih yang diam tak bergerak. Sebuah mobil tiba-tiba mendekat, dan berhenti di dekat kecelakaan itu.

Rupanya Sony terus mengikuti kepergian dua gadis itu, sejak mereka berangkat, sampai ketika mereka berhenti di warung es, lalu ketika mereka beranjak pulang. Ia melompat turun dan menghampiri Ratih yang  diam tak bergerak.

“Ada apa?”

“Sebuah sepeda motor menyerempet dia,” jawab Pratiwi dengan wajah pucat.

Sony segera mengangkat tubuh Ratih, dimasukkannya ke dalam mobil.

“Titipkan sepeda kamu di toko sebelah itu, ikutlah ke rumah sakit,” kata Sony kepada Pratiwi. Pratiwi mengangguk. Tak ada waktu untuk merasakan apakah dia harus menghindari Sony. Yang dipikirkannya hanya keselamatan Ratih.

Ia menitipkan sepedanya di toko terdekat, lalu lari menghampiri mobil Sony, ia duduk di sebelah Ratih yang diam tergeletak di jok belakang.

Sony melarikannya ke rumah sakit.

“Ratih, bangun Ratih, tolong sadarlah,” ratap Pratiwi berkali-kali.

Ketika hampir sampai di rumah sakit, tiba-tiba Ratih bergerak. Pratiwi mendekapnya. Ada darah di kepalanya.

“Ratih …”

“Kepalaku, sakit ….” Rintihnya.

“Kamu tenang dan harus kuat ya, ini sedang menuju rumah sakit.”

Di jalan, Sony menelpon bu Juwono. Sehingga begitu sampai di rumah sakit, sesaat ketika Ratih di dorong ke ruang UGD, bu Jowono langsung datang dan menghampiri Sony.

“Ada apa lagi anakku? Bukankah tadi bersama kamu?” tegurnya marah sambil menuding ke arah wajah Sony.

“Tidak Bu, Ratih sedang jalan-jalan dengan sepeda bersama Pratiwi,” jawab Sony sambil menatap ke arah Pratiwi.

“Apa? Naik sepeda? Bersama kamu? Mengapa naik sepeda, sedang kan banyak mobil di rumah? Kamu orang miskin akan membuat anakku tewas?” hardik bu Jowono sambil menudingkan jari telunjuknya ke wajah Pratiwi, sangat dekat, sehingga Pratiwi setapak mundur ke belakang.

***

Besok lagi ya.

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...