Saturday, June 22, 2019
Friday, June 21, 2019
SA'AT HATI BICARA 25
SA'AT HATI BICARA 25
(Tien Kumalasari)
Maruti tak menjawab apapun. Dipandanginya ibunya yang masih berlinangan air mata. Hanya karena Dita jatuh cinta maka ibunya menangis nangis seperti ini? Maruti tak mengerti. Sekarang, ketika seseorang ingin merenggut Panji darinya, ia merasa, bahwa dirinya memang benar2 jatuh cinta pada Panji.Sungguh Maruti takut kehilangannya. Sakit hatinya ketika ibunya meminta agar ia mengikhlaskan Panji pada Dita. Terbayang wajah tampan yang selalu memandanginya dengan mesra dan membuatnya tersipu malu. Terbayang senyuman menghanyutkan yang selalu terbawa dalam mimpi2nya. Benar, aku jatuh cinta.. pikir Maruti. Ada rasa kesal mendengar kata2 ibunya. Dalam segala hal, ia bersedia mengalah, tapi cinta? Aduhai, jangan sekejam itu.
"Maruti, kamu dengar kata2 ibu?" bu Tarjo membuyarkan lamunan Maruti.
"Apa bu, Ruti tidak mengerti..."
"Ibu minta, ikhlaskan nak Panji untuk Dita," mata bu Tarjo masih berlinangan..
"Mengapa hanya karena Dita lalu ibu harus datang ketempat ini.. dan berbicara begitu pada Maruti? Cinta itu kan masalah perasaan bu, rasanya sulit mengikhlaskan sebuah cinta. Dan nanti biarpun Ruti ikhlas, maukah mas Panji menerimanya? Ini tidak mudah, dan saya kira ibu tidak usah terlalu memikirkannya sampai menangis nangis begini. Biarlah waktu berjalan, dan waktu yang akan menentukan. Jodoh itu kan sudah digariskan oleh Allah."
Bu Tarjo mendengarkan kata2 Maruti, dan kembali air matanya bercucuran. Maruti mengusapnya bingung.
"Ibu, sudahlah bu, jangan menangis lagi."
"Berilah kebahagiaan pada adikmu diakhir kehidupannya," bergetar suara bu Tarjo.
"Apa maksud ibu?" Maruti tiba2 merasa cemas. Ini bukan masalah mengikhlaskan sebuah cinta, pasti ada yang lain.
"Umur adikmu diperkirakan tinggal 6 bulan lagi."
Dan Maruti merasa seakan sebuah palu menghantam kepalanya keras2. Matanya memandang ibunya tak berkedip.
"Itu benar, kemarin dokter Santi mengatakannya."
"Sebenarnya sakit apa Dita? Katanya hanya sakit perut biasa."
"Ibu tidak bertanya penyakitnya apa, tapi katanya sudah parah dan tidak bisa disembuhkan."
"Nanti Maruti akan menghubungi dokter Santi dan bertanya lebih jauh. Ruti kira Dita baik2 saja."
"Kamu jangan menentang diagnose dokter, dia mengatakan pasti karena sudah melakukan pemeriksaan. Bukankah waktu di rumah sakit sudah dilakukan pemeriksaan macam2?"
"Benar bu, tapi penyakit yang sebenarnya kita belum mengetaahui, Ruti harus ketemu dokter Santi lagi."
"Terserah kamu saja. tapi ibu minta, mengalahlah untuk adikmu."
***
Siang itu juga Maruti meminta ijin pada Agus untuk menemui dokter Santi. Dan keterangan dokter Santi sama seperti apa yang dikatakan ibunya, hanya saja dokter santi mengatakannya lebih jelas. Kanker lambung.
"Begitu tiba2?" tanya Maruti.
"Kanker lambung biasanya dikeluhkan ketika sudah pada stadium akhir. Dirumah sakit Dita beberapa kali muntah darah. Itu kamu tidak tau Maruti."
Maruti tercekat. Dita jarang bicara padanya, apakah separah itu?
"Apa tidak ada tindakan yang bisa menyembuhkannya?"
"Ada, nanti pasti ada, kan Dita sudah aku beri obat2 yang harus diminum sampai habis. Itu rekomendasi dari dokter ahli yang menanganinya. Dia hanya berbicara sama aku karen aku yang merawatnya. Nanti apa ada tindakan chemotherapi, atau operasi, bisa jadi..tapi aku ingin mengatakan terus terang, keadaan penyakitnya sudah sangat parah, sehingga aku tidak bisa menjanjikan apa2. Ma'af ya, aku tidak bisa menutupi apapun supaya keluarganya tidak banyak berharap. Cuma saja jangan sampai Dita mengetahui hal ini."
Keterangan dokter itu membuatnya limbung. Intinya, tak ada harapan untuk kesembuhan Dita. Ya Tuhan.. itu sebabnya ibunya menangis nangis.
***
Hari itu benar2 tak ada yang bisa dikerjakan Maruti. Kenyataan yang harus dihadapi sungguh membuatnya seperti berada diawang2, terbawa angin, tanpa pegangan. Seperti mimpi membayangkan dirinya akan kehilangan adiknya.
" Ya Tuhan, akan aku berikan apapun yang bisa aku berikan untuk kamu, Dita," bisik Maruti pilu.
Maruti kemudian teringat, sikap Dita akhir2 ini yang sangat cuek padanya, apakah karena cemburu? Sungguh Maruti tidak merasakan hal itu. Kalau Dita tertarik pada Panji, itu Maruti sudah tau, tapi jatuh cinta? Ya ampun.. kalau bisa akan aku berikan mas Paanji padamu Dita, agar kau bahagia. Tapi apakah mas Panji mau?
Maruti masih duduk dikursi kerjanya ketika tiba2 sepasang tangan kecil menepuk pahanya.Maruti terkejut dan melihat siapa yang datang menggelendot di pangkuannya.
"Sasa?"
"Tante..." sapa mulut mungil itu sambil tersenyum manja.
Maruti mengangkat tubuh Sasa dan mendudukkan di pangkuannya.
"Sasa sama siapa?"
Jari kecil itu menunjuk ke arah pintu, dan suster Sasa memasuki ruangan sambil tangannya melambai kearah Sasa.
"Sasa nggak boleh nakal.."
"Nggak kok mbak, Sasa nggak nakal, ya kan? Sasa mau jemput papa ya?"
"Ayo..ayo.. aku mau ketemu papa..," rengek Sasa sambil melorot turun dari pangkuan, dan menarik tangan Maruti agar mengikutinya.
"Sasa... ketemu papa sama mbak saja ya," tolak Maruti lembut, tapi Sasa menggelengkan kepalanya.
"Mau sama tante... ayo.. ayo.."
"Sasa.. jangan nakal.. ayo sama mbak saja..," tegur perawatnya sambil menaarik tangan Sasa.
"Sama tante.. sama tante.."
Maruti terpaksa menurut, mengikuti langkah2 kaki kecil yang setengah berlari menuju ruangan papanya. Tapi sebelum Maruti mengetuk pintu ternyata Agus sudah keluar dari ruangannya. Wajahnya berseri ketika melihat anaknya.
"Sasa..." Diangkatnya tubuh Sasa tinggi2 dan Sasapun terkekeh senang.
"Saya permisi dulu, " kata Maruti.
"Eh.. Maruti, kamu pulang sama siapa?"
"Saya...." ragu2 Maruti menjawabnya..
"Oh, Panji menjemputmu?" tebah Agus sambil menurunkan anaknya.
"Entahlah, mungkin.."
"Ya sudah.. tungguin saja... aku pulang dulu sama Sasa ya,"
"Silahkan pak.."
"Tante kok nggak ikut?"tiba2 Sasa nyeletuk.
"Tante masih nanti pulangnya...ayo, kasil salam dulu sama tante," kata Agus.
"Tadi kata papah mau jalan2 sama tante .." Sasa protes, tampaknya sa'at menelpon papanya Agus berjanji akan mengajak Maruti jalan2.
"Papah lupa, ternyata tante Maruti tidak bisa ikut bersama kita sekarang. Lain kali ya?"
Sasa menyalami Maruti. Mata kecilnya yang seperti bola mungil berbinar memandangi Maruti, tampaknya kecewa karena Maruti ternyata tidak ikut bersamanya.
Pada sa'at Agus keluar dari pintu depan, datanglah Panji. Keduanya bersalaman tapi Agus segera berlalu. Sasa ingin buru2.
Panji melangkah mendekati Maruti dengan wajah berseri. Dilihatnya Maruti masih berdiri terpaku ketika melihatnya.
"Maruti, ma'af terlambat, tadi janjian sama Laras, omong agak lama."
"Nggak apa2 kok mas," jawab Maruti pelan, yang kemudian mengikuti langkah Panji yang menggandengnya menuju mobil.
Ya Tuhan, apakah ini kebersamaan bersamanya yang terakhir? Apakah ia harus melepaskan bahagia yang seharusnya direngkuhnya? Ribuan pisau seakan menyayat nyayat hatinya, perih tak terhingga, dan berlinanglah air matanya. Beruntung ketika itu Panji sedang membuka mobil, dan Maruti cepat2 menghapusnya. Ketika Panji membukakan pintu untuknya, Maruti pura2 menolah kearah lain, sehingga Panji tidak melihat wajahnya.. Maruti duduk disamping kemudi, dan diam tak bergerak. Bermacam perasaan mengaduk aduk perasaannya. Antara kehilangan adiknya dan kehilangan cintanya.
"Maruti, apa kamu marah karena aku terlambat menjemputmu?"
"Oh, apa? Tidak... bukan mas... " gugup Maruti menjawabnya.
"Kok diam ?"
"Kepalaku sedikit pusing mas," jawab Maruti sekenanya.
" Lho, sudah minum obat belum?" tanya Panji khawatir.
"Sudah.. sudah mas, nggak apa2 kok, nanti juga sembuh."
"Baiklah, sekarang aku mau sedikit cerita dulu. Aku tadi bicara sama Laras. Dulu aku pernah bilang akan membuka cabang perusahaan diluar kota, ini hampir selesai aku urus. Segala sesuatunya akan beres kira2 bulan depan, dan Laras sudah aku suruh ikutan menata semuanya. Dan seperti janjiku, nanti kamu akan bekerja sama dalam mengurus perusahaan itu, bersama Laras.
Maruti mendengarkan, tapi tak ada reaksi apapun atas semua yang dikatakan Panji. Panji penasaran. Disebuah tempat sepi, dihentikannya mobilnya.
"Ruti, kamu masih pusing?" tanya Panji yang merasa sangat khawatir.
Kini tak tahan lagi Maruti membendung tangisnya. Ia menutupi mukanya dengn kedua tangannya, dan tenggelam dalam isak yang menyayat.
Panji kebingungan. Duduknya agak bergeser mendekat kearah Maruti, dirangkulnya Maruti, dan dibiarkannya kepalanya rebah pada bahunya. Panji mengelus punggung Maruti lembut.
"Ada apa sebenarnya? Kamu seperti memendam sesuatu."
"Mas, aku mohon.... penuhilah permintaanku," isaknya.
"Ya, tentu, permintaan apa ?"
"Cintailah Dita.."
Dan serta merta Panji melepaskan rangkulannya.
***
besok lagi ya
Thursday, June 20, 2019
SA'AT HATI BICARA 24
SA'AT HATI BICARA 24
(Tien Kumalasari)
Dokter Santi merangkul bu Tarjo sambil menepuk nepuk bahunya. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menenangkannya.
"Sudahlah bu, ibu serahkan saja semuanya kepada Allah yang Maha Pemurah, dan mohon mujizatnya ya, karena dokter itu kan juga manusia biasa, sedangkan yang menentukan mati hidup itu ya Sang Pencipta."
Bu Tarjo masih tenggelam dalam sedih yang tak terkira.
"Tapi bu, pesan saya wanti2, jangan sampai Dita mengetahui perihal apa yang saya katakan ini ya, supaya dia bisa memiliki semangat, dan tidak merasa ketakutan."
"Tidak adakah obat yang bisa menyembuhkannya?" terbata akhirnya bu Tarjo berkata.
"Saya mohon ma'af bu, yang ada hanya penghilang rasa sakit, untuk mengurangi penderitaannya. Tapi ibu jangan khawatir, dengan semangat hidup yang besar, barangkali bisa memperpanjang umurnya."
Bu Tarjo masih berlinangan air mata ketika dokter Santi pamit untuk pulang.
"Ibu, hari ini Dita boleh pulang, lakukanlah apa yang saya minta, bahagiakan dia, dan turuti semua kemauannya."
Bu Tarjo mengangguk lemas.
***
Hari itu Dita benar2 boleh pulang. Maruti yang belum mengetahui keadaan yang sebenarnya menyambutnya dengan suka cita.
Ketika sampai dirumah itu, bu Tarjo telah memasak makanan yang paling disukai Dita. Ayam goreng dan sup makaroni. Dita menyantap masakan ibunya dengan lahap, dan itu membuat bu Tarjo sangat terharu. Namun ditahannya titik air mata dihadapan Dita, seperti pesan dokter Santi, Dita tak boleh mengetahui apapun tentang penyakitnya.
"Ibu, sudah lama... seperti bertahun tahun lalu baru merasakan masakan selezat ini. terimakasih ibu," kata Dita sambil mengunyah makanannya.
"Syukurlah kalau kamu suka, Dita, habiskan semuanya, dan bilang pada ibu, besok mau dimasakin apa lagi."
"Mmm.. apa ya bu... habis masakan ibu selalu enak sih.. terserah ibu saja lah.. pasti nanti Dita sikat semuanya."
"Baiklah, nanti ibu pikirkan enaknya makan apa."
"Dita, ini obat2mu, mbak taruh disini saja ya, supaya setelah makan kamu tidak lupa meminumnya."
Dita hanya mengangguk. Sikapnya terhadap Maruti masih kaku, dan tidak bersahabat. Namun Maruti membiarkannya. Mungkin nanti kalau Dita benar2 sembuh sikapnya akan berbeda.
"Maruti, tolong bersihkan kamar Dita, ganti dengan seprei dan sarung bantal yang bersih ya," pinta bu Tarjo kepada Maruti.
Tapi Dita buru2 menolaknya.
"Eh... jangan, biar Dita saja yang menggantinya sendiri. Kan Dita sudah tidak sakit lagi," kata Dita sambil meneguk minumannya setelah menghabiskan nasi dipiringnya.
"Tapi kamu baru pulang dari rumah sakit, biar kakakmu saja."
"Tidak bu, biar Dita sendiri, kan Dita sudah sembuh," kata Dita sambil berdiri lalu berjalan kearah kamarnya.
Tak urung titik air mata bu Tarjo setelah menahannya selama ber jam2. Dita merasa telah sembuh, itu yang membuat nyeri dihati ibunya. Benarkah umurnya tinggal 6 bulan lagi? Ya Tuhan, jangan ambil nyawa anakku secepat itu. Bisik hati bu Tarjo.
"Ibu menangis ?" tanya Maruti tiba2. Ketika membersihkan meja makan itu ia melihat air mata ibunya menitik.
"Ada apa bu?"
Bu Tarjo menggeleng.
Maruti merasa, pasti ibunya menangis karena bahagia setelah melihat kesembuhan anaknya. Maruti melanjutkan membawa piring kotor bekas makan Dita.
"Ibu nggak makan sekalian?"
"Nggak Ruti, ibu sudah kenyang, sebelum Dita pulang ibu sudah makan," kata bu Tarjo berbohong. Mana mungkin bisa tertelan sesuap nasipun ketika mengetahui nasib gadis kecilnya.
"Nanti ibu mau bicara sama kamu. Tapi nanti, atau kapan saja kalau ada kesempatan yang baik, kata bu Tarjo lirih, takut Dita mendengar suaranya.
"Ada apa bu?" tanya Maruti heran.
"Nanti saja..," jawabnya, masih dengan suara pelan.
***
Sampai pagi tiba bu Tarjo belum mengatakan apapun. Setelah memasak makanan untuk sarapan, Maruti bersiap untuk berangkat kekantor. Sudah lama dia pamit, karena Agus tak mengijinkan dia masuk kerja.
"Kamu masuk kerja hari ini?" tanya bu Tarjo ketika melihat Maruti sudah bersiap.
"Ya bu, sudah lama meninggalkan pekerjaan, dan Dita kan sudah sembuh, jadi saya bisa mulai bekerja lagi. Ibu tidak usah memasak, untuk pagi dan siang Maruti sudah memasaknya."
"Baiklah, tapi nanti kalau Dita ingin masakan yang lain, ibu akan buatkan."
"Baiklah bu. Dita masih tidur?"
"Biarkan dia tidur, "
"Jangan lupa ibu ingatkan obatnya ya bu," pesan Maruti sambil mencium tangan ibunya.
"Nanti ibu akan menelponmu," kata bu Tarjo
Walau tak mengerti maksudnya, Maruti mengangguk dan berlalu.
***
Maruti senang hari itu bisa masuk kerja kembali. Agus menyambutnya dengan suka cita.
"Syukurlah kamu sudah bisa masuk Maruti, bagaimana keadaan adikmu?"
"Kemarin sudah boleh pulang kerumah pak, alhamdulillah."
"Aku ikut senang, dan ma'af, aku tidak bisa menengoknya waktu dirumah sakit."
"Tidak apa2 pak, saya mengerti bapak pasti sibuk. Dan lagi tidak apa2, sekarang Dita sudah sembuh."
"Syukurlah."
Tiba2 ponsel Maruti berdering. Dari Panji, Maruti segan menjawabnya.Rikuh terhadap atasannya.
"Angkatlah, aku tidak apa2," kata Agus yang kemudian berlalu menuju ruangannya.
"Hallo mas.." sapa Maruti
"Maruti, kamu sudah ada dikantor?"
"Ya mas, Dita sudah boleh pulang kemarin."
"Syukurlah, nanti sore sepulang kantor aku akan menjemputmu."
"Tapi...."
"Dulu aku belum sempat mengatakan apapun yang ingin aku katakan sama kamu, nanti harus tersampaikan."
Maruti berdebar. Ia teringat ketika Panji ingin mengatakan sesuatu, lalu tiba2 ibunya menelpon dan mengatakan bahwa Dita sedang sakit.
"Maruti, kamu masih disitu?"
"Oh.. eh.. ya mas... " gugup Maruti menjawabnya.
"Baiklah, jangan lupa aku akan menjemputmu. Selamat bekerja Maruti."
Panji menutup pembicaraan itu, dan Maruti masih menata debar jantungnya. Ya ampun.. mana minuman hangat yang bisa menenangkan perasaannya? Ia melangkah ke pantry, dan membuat teh hangat itu sendiri.
Maruti merasa tak tenang selama melakukan tugasnya gara2 telepon dari Panji tadi.Ia menghirup sedikit teh yang selesai dibuatnya ketika tiba2 terdengar seseorang menyapanya.
"Maruti.." Hampir terlepas cawan berisi teh yang dibawanya. Dilihatnya Agus telah mengambil cawan dan diletakkannya dimeja.
"Pak.. Agus.. mengapa membuat kopi sendiri?"
"Ya... ingin saja.. supaya pas seperti yang saya inginkan," jawab Agus sambil menyendok kopi yang tersedia disana.
"Biar saya yang buatkan pak..," kata Maruti sambil meletakkan cawannya sendiri kemudian melanjutkan menyendok kopi dan gula serta menuanginya dengan air panas.
Agus membiarkannya, dan diam2 mencuri pandang kearah gadis yang dengan cekatan membuatkan kopi untuk dirinya. Cantik, pintar .. baik hati.. dan ...
"Sudah pak.. biar saya bawa ke ruangan bapak,"
"Jangan, biar aku bawa sendiri saja,"kata Agus sambil mengambil cawan berisi kopi yang harumnya mulai menusuk hidungnya.
"Hm... cantik.." gumamnya ..
"Kopinya cantik...?"
"Oh eh... keliru.. maksudku harum..." katanya lalu berjalan mendahului Maruti, meninggalkan gadis yang kemudin tersenyum senyum sendiri. Dalam berjalan itu Agus diam2 menyesali nasibnya. Nasib buruknya karena Maruti telah menjadi pilihan sabahatnya.
***
Jam istirahat siang tiba, Maruti sedang membuka bekal makan siangnya, ketika kemudian ibunya menelpon.
"Maruti," kata bu Tarjo dari seberang sana.
"Ibu ada di warung soto pak Maman, datanglah menemui ibu ya."
"Lhoh.. ada apa bu? Tak biasanya ibu makan siang diluar, lagipula Maruti kan sudah memasak buat makan siang ibu dan Dita.." jawab Maruti terheran heran.Hatinya mulai dirayapi perasaan tak enak.
"Datang saja sekarang, ada yang ingin ibu katakan."
Dan tanpa menunggu Maruti menjawab, bu Tarjo sudah menutup pembicaraan itu. Maruti menyimpan kembali bekal makan siangnya. Lalu bergegas keluar, memanggil ojek on line menuju kewarung pak Maman, warung soto langganan keluarganya, disa'at mereka sedang ingin makan diluar. Warung sederhana, tapi nikmat masakannya.
Ketika maruti memasuki warung itu, dilihatnya ibunya sudah duduk disebuah bangku disudut warung. Maruti mendekat dan duduk dihadapan ibunya. Dilihatnya wajah ibunya muram, dan ada gurat kesedihan yang seakan ditahannya. Hati Maruti tercekat.
"Ada apa bu?"
Bu Tarjo tak sanggup menahan jatuhnya air mata, membuat Maruti bertambah bingung.
"Bu, kalau ibu harus menangis, mengapa tidak dirumah saja? Disini banyak orang, nanti kita jadi tontonan," bisik Maruti sambil mengusap air mata ibunya.
"Tidak bisa dirumah, nanti Dita mendengarnya," jawabnya terbata.
"Sebenarnya ada apa bu?"
"Maruti, adikmu mencintai nakPanji,"
Maruti tertegun. Hanya karena itu, mengapa ibunya sampai menangis? Bahwa Dita suka sama panji, Maruti sudah tau, tapi kalau sampai ibunya kemudian mengatakannya sambil menangis, Maruti benar2 bingung.
"Ibu tau nak Panji suka sama kamu, ibu minta, iklaskan dia untuk adikmu ya?"
Maruti terperangah. Bagaimana cinta bisa dialihkan ke lain hati?
***
besok lagi ya
SA'AT HATI BICARA 023
SA'AT HATI BICARA 023
(Tien Kumalasari)
Laras menatap bu Tarjo, seakan mencari jawaban, apakah bu Tarjo setuju seandainya mas Panjinya melamar Maruti.. Tapi bu Tarjo menghela nafas berat. Sangat berat. Laras merasa heran, kok bu Tarjo seperti nggak suka? Mas nya yang ganteng, yang sudah mapan, yang penuh perhatian sama keluarganya, akan ditolaknya ?
"Bu, apakah ibu tidak suka sama mas Panji?" Laras memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Nak Panji sangat baik, dia menantu yang sempurna," jawab bu Tarjo lirih.
"Tapi, Laras lihat kok sepertinya ibu tidak suka?"
"Suka nak, ibu suka..."
Tapi Laras menangkap keraguan dalam jawaban bu Tarjo.Apa kekurangan mas Panji nya?
***
Maruti melewati hari2nya menunggui Dita dirumah sakit, dengan perasaan tak menentu. Tentang penyakit Dita yang belum ada jawabannya, juga sikap Dita yang selalu dingin terhadapnya. Setiap kali diajaknya bicara, hanya sepatah dua patah kata jawabannya, dan sepertinya enggan diajaknya bicara.
"Dita, mbak merasa Dita enggan berbicara sama mbak. Apa mbak salah sama Dita?" tanya Maruti pada suatu siang ketika sedang berdua.
Tapi Dita kembali menggelengkan kepalanya.
"Tapi sikap Dita aneh, sepertinya benci sama mbak."
"Aku lagi merasakan sakit," jawabnya pendek, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi kakaknya.
"Oh, gitu ya.. sakit sekali kah perut kamu?"
"Ya..." jawabnya tanpa menoleh.
"Aku mau tidur," lanjut Dita.
Maruti menghela nafas, kemudian mencium kepala adiknya lalu berjalan kearah sofa, menghempaskan tubuhnya disana.
Tiba2 seseorang masuk, dan itu adalah Panji. Berdebar hati Maruti ketika memandangi sosok tegap gagah yang super ganteng itu, dan tersenyum penuh pesona sambil menatapnya mesra. Aduhai.. seandainya Dita tidak sedang sakit, pasti sempurnalah rasa bahagianya melihat kedatangan priya yang dikaguminya.
"Kok sendirian Ruti?"
"Ya, mau sama siapa lagi?"
"Bagaimana Dita?" tanyanya sambil menoleh kearah ranjang, dimana dilihatnya Dita sedang tidur menghadap kearah sana. Panji berjalan mendekati.
"Bagaimana keadaanmu Dita?" tanya Panji pelan, tapi Dita diam saja. Pasti bukan karena tidur karena balum lama masih terjaga. Panji kembali kearah sofa dan duduk disamping Maruti.
"Tidur dia?" tanya Panji..
"Mungkin.. mas tidak kekantor?"
"Ini dari kantor. "
"Kok langsung kemari, apa nggak capek mas?"
"Nggak, kan buru2 pengin ketemu kamu?" goda Panji sambil lagi2 tersenyum sangat manis. Maruti menundukkan muka, tak tahan melihat kilatan senyum yang begitu mempesona.
"Kamu cantik sekali Maruti," kata Panji sambil tak lepas memandangi Maruti.
Maruti tersipu.
Sepasang insan yang saling mengagumi, dan saling jatuh cinta, pastinya. Hanya saja belum saling mengungkapkan isi hati. Tapi bukankah hati juga bisa bicara?
Tiba2 terdengar denting begitu keras, dilantai, dan berserakanlah pecahan gelas. Maruti dan Panji terkejut, hampir bersamaan mereka mendekati ranjang Dita. Rupanya Dita telah menjatuhkan gelas yang tadinya terletak dimeja.
"Dita? Kamu mau minum? Harusnya minta saja pada mbak," tegur Maruti sambil memunguti pecahan gelas, lalu dimasukkannnya kedalam kresek plastik yang kebetulan ada disana. Panji membantunya.
"Hati2 tanganmu terkena pecahan kaca Ruti," Panji mengingatkan.
Ranjang Dita terdengar berderit, Dita memunggungi mereka dengan kasar. O.. jangan2 Dita memang membanting gelas itu ke lantai, siapa tau? Pembicaraan antara Panji dan Maruti itu pasti terdengar olehnya, walau mereka berbisik bisik. Ada darah mendidih yang asapnya menguap dari ubun2..Ada yang ingin dijatuhkannya lagi, Dita berfikir, atau dibantingnya agar suaranya terdengar lebih keras apabila dibanting. Tapi tak ditemukannya barang diatas meja didekatnya kecuali bungkusan plastik berisi roti yang dibawa Laras pagi tadi. Keduanya masih saja asyik memunguti pecahan gelas.
"Auw..." tiba2 Maruti berteriak lirih, tapi itu membuat Panji meletakkan sekeping kaca yang berhasil dipungutnya. Dipegangnya tangan Maruti.
"Tuh kan, sampai berdarah," desis Panji yang tiba2 saja tanpa ragu menarik jari tangan itu dan dimasukkannya kemulutnya.
"Maaas..." Maruti terkejut, tapi Panji tanpa sungkan melumat jari itu untuk menghindari infeksi. Itu kata Panji kemudian.Benarkah itu, atau mitos? Atau memang ia ingin melumatnya? Perlahan Maruti menarik tangannya, wajahnya kemerahan.
"Aku akan minta tensoplast sebentar," kata Panji sambil bangkit berdiri dan mencari suster jaga.
Maruti menghela nafas. Debaran jantungnya belum berhenti. Juga aliran darah dari luka terkena pecahan gelas itu. Sementara diatasnya, diranjang tempat tidur, air mata Dita juga menitik pedih. Gelas yang dijatuhkannya karena kesal, justru membuat bara yang menyala semakin berkobar.
***
Bu Tarjo kembali berada dikamar Dita. Laras yang menemaninya semalam telah pulang, setelah memasak buat bu Tarjo.
"Nak Laras itu mengapa repot2 segala. ibu itu bisa makan seadanya... lagi pula siang nanti ibu akan kerumah sakit. Maruti berjanji menjemput ibu."
"Nggak apa2 bu, hanya sup ayam, dan perkedel. Semoga ibu suka. Itu juga tadi Laras beli dari tukang sayur yang lewat."
"Terimakasih banyak ya nak, sudah ditemenin, dimasakin enak lezat... bagaimana ibu membalasnya nanti."
"Ibu, ibu tak perlu membalasnya.. kan ini Laras lakukan dengan tulus. Ma'af kalau Laras nggak bisa menemani makan ya, so'alnya ada yang menunggu Laras dirumah. Mungkin mas Panji."
"Nggak apa2 nak, nanti ibu makan masakan nak cantik ini, pasti habis deh."
"Terimakasih ibu."
Bu Tarjo termenung ditepi pembaringan dita. Ia telah selesai sarapan, sup ayam yang tadi dimasak Laras, yang menurutnya sangat enak.
Kembali bu Tarjo membuka bantal Dita, mengambil buku kecil yang kemarin sudah dibacanya. Bu Tarjo ingin mengulang membacanya, barangkali ada yang salah. Lembaar demi lembar dibukanya, tapi tak ada yang berubah. Gadis kecilnya jatuh cinta pada Panji, dan itu tembuatnya gelisah. Sebuah pertarungan cinta memang tak kasatmata, tapi pasti ada yang tersakiti salah satu diantaranya. Dan kini, kedua anak gadisnya lah yang sedang bersabung rasa untuk sebuah cinta.
"Akankah aku berfihak kepada salah satu diantaranya? Mereka adalah anak2ku, dan luka salah satunya adalah lukaku juga,' bisik bu Tarjo sambil menutup kembali buku kecil itu.
Tiba2 ponsel bu Tarjo berdering. Dari Maruti, apakah dia tak jadi menjemput? Bu Tarjo mengangkat ponselnya.
"Ibu?" suara Maruti dari seberang sana.
"Ya nak, ibu sedang menunggu kamu."
"Bu, Maruti tidak jadi menjemput ibu sekarang."
"Kenapa nduk? Sesuatu terjadi pada adikmu?" tanya bu Tarjo cemas.
"Enggak bu, dokter Santi bilang, mau menemui ibu dirumah, ada yang ingin dikatakannya, katanya, jadi Maruti nanti aja menjemput ibu ya."
"Apa yang akan dikatakan nak dokter sama ibu?"
"Maruti juga belum tau bu, katanya hanya ibu yang boleh tau,Maruti juga cemas, jangan2 tentang penyakit Dita."
"Ya Tuhan.." bisik bu Tarjo lirih.
"Tapi ibu jangan sedih dulu, siapa tau itu berita baik," kata Maruti ragu2, dan bu Tarjo menangkap keraguan itu. Ditutupnya ponsel dengan perasaan tak enak. Sudah seminggu Dita dirawat dan hasil pemeriksaan lab itu belum juga usai. Apakah hari ini akan ada vonis bagi penyakit Dita?
Bu Tarjo mengembalikan buku kecil itu dibawah bantal dan berjalan kearah depan rumah. Ia duduk disebuah kursi , menunggu kedatangan dokter Santi.
Dipejamkannya matanya, dan bibirnya membisikkan do'a.
"Ya Allah, sembuhkanlah anakku, angkatlah penyakitnya, biarkanlah dia melanjutkan hidupnya dengan bahagia, dia masih sangat muda ya Allah," dan menitiklah air matanya.
Mata bu Tarjo yang basah masih terpejam ketika tiba2 seseorang menyentuh lengannya. Bu Tarjo membuka matanya dan melihat dokter Santi sudah ada dihadapannya. Dokter cantik itu mengambil tissue dari dalam tasnya dan mengusap air mata bu Tarjo.
"Ibu jangan sedih, bukankah mati hidup manusia itu ada ditangan Allah Yang Maha kuasa?"
Bu Tarjo tertegun. Mengapa dokter Sant mengucap kata2 seperti itu? Berita burukkah yang dia bawa?
"Duduklah nak," kata bu Tarjo terbata.
"Bu, saya mohon ma'af, kalau berita yang saya bawa tidak menyenangkan hati ibu."
Bibir bu Tarjo bergetar. Kata2 itu tidak memberikan harapan baik.
"Ada apa dengan anakku?"
"Bagaimanapun beratnya saya harus mengatakan bu, penyakit Dita ternyata sudah parah."
Bu Tarjo bersandar ke sandaran kursi, lemas.
"Memang penyakit Dita tak pernah dirasakan secara serius, tapi itu benar2 serius bu. Dari hasil yang saya baca, Dita tidak akan tertolong."
"Ya Allah...." kali ini bu Tarjo menjerit, dan meledaklah tangisnya. Dokter Santi mendekat, merangkul bu Tarjo dan membiarkan wanita setengah tua itu melepaskan tangisnya.
"Kita tidak bisa berbuat apa2 bu, menurut saya, berikanlah kebahagiaan buat Dita pada akhir hidupnya. Turutilah semua kemauannya, dan biarkan tersampai apa yang diinginkannya. Jangan sampai enam bulan terakhir sebelum dia pergi, kekecewaanlah yang dibawanya...Ma'af, saya harus mengatakannya.."
Dan bu Tarjo menangis meraung raung, mengiris hati siapapun yang mendengarnya.
***
besok lagi ya
Wednesday, June 19, 2019
SA'AT HATI BICARA 022
SA'AT HATI BICARA 022
(Tien Kumalasari)
Maruti tertegun didepan pintu, dalam hati bertanya tanya, begitu cerianya meeka bercanda, seakan Dita tidak sedang sakit. Apakah tiba2 Dita telah sembuh? Kalau itu yang terjadi Maruti pastilah senang. Maruti dan Laras belum beranjak dari tempatnya berdiri, ketika tiba2 Dita melihatnya lalu menudingkan tangannya kearah pintu. Dokter Santi menoleh, lalu mempersilahkannya masuk.
"Maruti, Laras, mengapa berdiri dipintu?"
"Eh.. iya... senang melihat Dita sudah bisa bercanda."
Maruti dan Laras mendekati ranjang dimana Dita terbaring. Tiba2 saja senyumnya telah menghilang entah kemana.
"Hai Dita, sakit apa ?" tanya Laras.
"Tadi kamu sudah bisa bercanda, mbak senang melihatnya. Semoga kamu baik2 saja," kata Maruti sambil mengelus kepala adiknya.
"Itu karena aku sudah memberinya obat penghilang rasa sakit," sela dokter Santi.
"Oh..." Maruti mengeluh kecewa. Berarti sendau gurau itu bukan karena dita sembuh.
"Baru saja dia diperiksa, lengkap.. hasilnya mudah2n nanti sore sudah terlihat," lanjut dokter Santi.
"Semoga2 baik2 saja, ya Dit?" Laras juga berusaha menyemangati Dita.
"Dimana ibu?"
"Ibu pulang, baru diantar mas Panji yang memaksanya pulang, takut ibu kecapean," jawab dokter Santi.
"Oh.. ," Maruti lega karena ibunya menurut diminta pulang.
"Itu benar, biar ibu bisa benar2 istiahat," sambung Laras.
Tak lama kemudian dokter Santi berpamit karena ada tugas lain yang harus diselesaikan, sedangkan Maruti dan Laras masih menunggui Dita, yang sikapnya sungguh membuat Maruti merasa aneh. Dia seperti enggan berbicara dengan kakaknya, dan lebih banyak memejamkan mata untuk menghindari pertanyaan Maruti dan Laras. Padahal tadi bersama dokter Santi bercanda dengan sangat gembira.
"Dita, apa kamu marah sama mbak?"
Dita menggeleng, tapi matanya masih terpejam.
"Kamu aneh, sejak kemarin... bukan karena marah sama kakak?" Maruti masih mendesak.
Dita menggeleng lagi, dan mata itu tetap saja terpejam. Laras menggamit lengan Maruti, mengajaknya duduk disofa, agak jauh dari ranjang tempat Dita berbaring.
***
Panji mengantar bu Tarjo sampai bu Tarjo memasuki rumah.
"Ibu tidak apa2 kan, sendirian siang ini?" tanya Panji sebelum meninggalkannya.
"Tidak nak, tinggalkan saja ibu. Jadi nggak enak lho, merepotkan nak Panji terus dari kemarin."
"Nggak apa2 bu, ibu kan keluaga saya juga," jawab Panji sambil menepuk nepuk tangan bu Tarjo, yang diterima bu Tarjo dengan senyuman penuh haru.
"Terimakasih banyak nak, bahagia sekali dianggap keluarga oleh nak Panji. Do'akan Dita segera sembuh ya nak."
"Tentu bu, saya akan mendo'akan kesembuhan buat Dita. Ibu jangan khawatir karena dita sudah dirawat dengan baik."
"Iya nak," bu Tarjo mengangguk.
Panji kemudian mencium tangan bu Tarjo untuk berpamitan.
"Saya tinggal ya bu, kalau ada apa2 ibu bisa menelpon saya atau Maruti," pesan Panji.
Bu Tarjo mengangguk, lalu mengantar Panji sampai Panji masuk kedalam mobilnya.
Siang itu bu Tarjo ingin bersih2 kamar Dita, yang kemarin ditinggalkannya begitu saja. Selimut masih berserak belum sempat dilipat, bantal dan guling yang tidak beraturan tempatnya, Bu Tarjo merapikan semuanya, sehingga tempat tidur itu lebih enak dipandang mata. Tiba2 dilihatnya sesuatu jatuh dari bawah bantal. Bu Tarjo memungutnya, sebuah buku kecil. Ini adalah buku yang kata Dita adalah buku harian yang sesungguhnya bu Tarjo sudah lama ingin mengetahui apa saja yang ditulis anak gadisnya. Bu Tarjo duduk dikursi yang ada dikamar itu, dan mulai membuka buka buku kecil yang baru saja ditemukannya. Banyak catatan catatan tentang hal2 yang dilakukannya, yang kadang2 dibacanya sambil tersenyum lucu. Tapi dari lembar ke sekian.. yang bercerita tentang pertemuannya dengan si ganteng pengendara mobil yang nyaris menabraknya, bu Tarjo mengerutkan keningnya. Lembar demi lembar yang dibaca sesudahnya adalah ungkapan perasaan Dita terhadap laki2 ganteng itu.. yang ternyata adalah Panji.
"Dita jatuh cinta pada nak Panji?" bisiknya pelan.
Bu Tarjo meletakkan buku kecil itu kembali ditempatnya semula, dibawah bantal.
"Nak Panji lelaki baik, kalau bisa menjadi menantuku, aku pasti senang sekali. Tapi menurut pengamatanku, nak Panji itu suka sama Maruti, bagaimana ini?" bu Tarjo bergumam sendiri sambil menyandarkan kepalanya disandaran kursi. Kepalanya mendadak berdenyut memikirkan kisah cinta anak2 gadisnya. Apakah Maruti tau perasaan Dita kepada nak Panji?
***
Ternyata sore itu hasil lab yang ditunggu belum juga keluar. Dokter Santi memberi tau bahwa ada yang harus diperiksa di Jakarta.
"Apakah penyakitnya gawat?" tanya Maruti penuh khawatir.
"Berdo'alah saja Maruti, agar semua baik2 saja. Tapi menurutku tidak. Penyakitnya terlambat dirasakannya, mungkin sudah parah.Tolong jangan kasih tau Dita tentang apa yang aku katakan ini," pesan Santi yang membuat Maruti tiba2 merasa cemas.Isyarat2 yang diungkapkan menunjukkan bahwa ada hal buruk tentang penyakit Dita. Ya Tuhan, selamatkan adikku. Kata hati Maruti sedih. Dipandanginya dokter Santi yang menatapnya sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Apakah bisa disembuhkan?" terbata ketika Maruti mengatakan ini.
"Lho, belum2 kok sudah sedih, kan belum tentu, ya kita tunggu saja hasilnya, mungkin tiga atau empat hari sudah keluar, dan baik2 saja."
Tapi Maruti tetap merasakan cemas, pasti ada sesuatu yang menghawatirkan. Ya Tuhan, tolong Dita...
***
"Maruti, kan hasilnya belum keluar, mengapa kamu sedih begitu? Ayo dong senyum, Dita pasti baik2 saja," kata Panji ketika mereka berdua sedang makan malam di kantin rumah sakit itu.
"Entahlah mas, perasaanku kok nggak enak begini.Aku sudah mengatakan apa yang di isyaratkan dokter Santi tadi, aku takut mas."
Panji menepuk nepuk tangan Maruti untuk menenangkannya. Hatinya juga ikut sedih melihat keadaan Maruti. Ingin dipeluknya gadis yang dicintainya itu erat2, dan mengelus kepalanya lembut.. Ah.. Panji jadi teringat bahwa ia belum berhasil mengungkapkan peasaannya ketika sore hari mengajaknya kerumah, karena tiba2 bu Tarjo mengabarkan bahwa Dita sakit. Sekarangkah waktunya? Wah..kayaknya kurang tepat ya. Baiklah.. aku akan sabar menunggu sampai ada waktu baik untuk mengungkapkannya. Bisik batin Panji.
Dipandanginya wajah Maruti yang tertunduk, sambil mengaduk aduk teh hangat yang dipesannya. Panji menatapnya kagum. Biar sedang tidak tersenyum pun wajah itu tetap saja cantik. Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis kemerahan.. ya ampun, Panji harus menahan debar jantungnya. Pemandangan itu begitu indah, dan tak tahan ia mengelus pipi yang tiba2 basah oleh air mata.
"Maruti..," bisik Panji.
Maruti membiarkan jari2 Panji mengusap air matanya. Ada rasa nyaman menjalari perasaannya, namun air matanya terus saja mengalir.
"Jangan menangis lagi. Percayalah semua akan baik2 saja. Mengapa belum2 kamu sedih begini?" bisik Panji lembut.
Sesungguhnya Maruti ingin menghambur ke pelukan Panji, dan membenamkan kepalanya didada kekar yang sangat dikaguminya. Kata2 dokter Santi sungguh seperti tak memberikan harapan baik, walau dikatakannya ia harus menunggu hasilnya beberapa hari lagi.
***
Malam itu seperti janjinya, Laras tidur dirumah bu Tarjo. Kasihan kalau harus selalu ikut tidur dirumah sakit.
"Nak Laras kok ya repot2 menemani ibu, ibu berani kok tidur sendiri," kata bu Tarjo.
"Nggak apa2 bu, Laras sudah janji sama Maruti bahwa akan menemani ibu sementara Maruti harus menunggui Dita dirumah sakit."
"Kasihan nak Laras, kan ibunya juga sendirian dirumah?"
"Ibu kan ada pembantu dua orang dirumah, jadi nggak apa2 kalau Laras tidur disini. Sekarang ibu istirahat saja, kan ini sudah malam."
"Ya, sebentar lagi. Tapi kok ibu belum dikabari tentang hasil lab nya Dita ya?"
"O, iya bu.. kata dokternya, masih ada yang harus diperiksa lagi, nanti hasilnya beberapa hari mendatang baru selesai,"
"O, begitu. Semoga hasilnya baik ya nak."
"Iya bu, kita sama2 berdo'a supaya dita bisa segera sembuh."
Bu Tarjo mengangguk.
"Nak, bolehkah ibu menanyakan sesuatu?"
"Ya bu, tanyakan saja, ada apa?"
"Ibu ingin tau, apakah diantara nak Panji dan Maruti itu ada... mm.. perasaan.. suka.. begitu? Ibu tanyakan ini karena ibu tau bahwa nak Laras dan nak Panji itu saudara sepupu."
"Oh.. iya bu.. sesungguhnya memang mas Panji itu suka sama Maruti, mungkin sebentar lagi dia mau melamarnya."
Tuh kan... bisik batin bu Tarjo.
***
besok lagi ya
Tuesday, June 18, 2019
SA'AT HATI BICARA 21
SA'AT HATI BICARA 21
(Tien Kumalasari)
Panji mendorong tubuh Santi pelan kemudian berdiri menjauh.
"Santi, jaga sikapmu," tegur Panji kesal
"Ma'af ya bu Tarjo, so'alnya kami itu kan sebenarnya dijodohkan.. tapi..."
"Santi, ada pasien menunggu kamu didalam, jangan bicara yang tidak2, Panji memootong dengan kesal.
"Maruti, antarkan Santi ke kamar Dita," katanya pada Maruti.
"Mari dokter, silahkan," Maruti mendahului masuk kedalam, diikuti dokter Santi.
"Ma'af dokter kalau kami merepotkan," kata Maruti sambil berjalan kearah kamar Dita.
"Nggak apa2. Keluarga ini sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri, jadi nggak usah sungkan."
Marruti tak menjawab. Ada perasaan tak enak pada Santi, tapi Dita memaksa harus dia yang memeriksanya.
"Dita, ini dokter Santi sudah datang. Kamu merepotkan saja," tegur Maruti pada adiknya setelah mereka memasuki kamar Dita.
"Hallo Dita, sakit apa?" tegur Santi ramah.
Santi tersenyum, ada bekas air mata membasah dipelupuk matanya.
"Sakit sekali,dokter..." bisik Dita lirih..
"Maruti, boleh meninggalkan kami berdua saja? Aku akan memeriksa adikmu," kata Santi kepada Maruti.
Maruti mengangguk, lalu keluar dari kamar Dita. Tak lupa ia juga menutup pintunya.
***
Bu Tarjo masih duduk terpaku, ditemani Panji yang sebenarnya merasa kesal dengan sikap Santi tadi.
Maruti kemudian duduk didekat ibunya. Ditepuknya tangan ibunya lembut.
"Ibu jangan cemas, Dita tak apa2 kok," hibur Maruti.
"Apa kata dokternya tadi?"
"Belum bilang apa2, masih diperiksa, kita tunggu saja ya."
Bu Tarjo mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Maruti, aku minta ma'af atas sikap Santi tadi. Dia memang keterlaluan,' kata Panji tiba2.
"Oh, dokter Santi itu tunangan nak Panji?" tanya bu Tarjo.
"Bukan bu, Santi yang salah terima. Saya tidak ada hubungan apa2 sama dia. Ma'af klau sikapnya mengganggu. Saya sudah kesal terhadapnya." keluh Panji.
"Nggak apa2 nak, jangan dipikirkan."
Maruti tertunduk lesu. Bahwa Santi mengejar kejar Panji, dia sudah tau, dan bahwa Panji tidak suka, dia juga sudah tau. Sa'at ini pikirannya masih tertuju pada sakitnya Dita. Selama ini Dita tak pernah mengeluh sakit apapun, mengapa tiba2 dia kesakitan seperti itu?
Tiba2 dilihatnya Santi keluar dan kemudian duduk disebelah Panji. Panji memalingkan mukanya, memandang kearah kebun.
"Bagaimana anak saya , dokter?" tanya bu Tarjo cemas.
"Bu, saya melihat ada benjolan diperut Dita, tapi ibu tidak usah khawatir. Sekarang juga saya akan membawa Dita kerumah sakit."
Maruti dan bu Tarjo terhenyak. Dipandanginya dokter Santi lekat2.
"Mengapa harus dibawa kerumah sakit dok?" tanya bu Tarjo cemas.
"Ibu tenang saja, saya bawa Dita kerumah sakit, supaya bisa diperiksa keadaan yang sesungguhnya disana. Kalau sudah ketahuan penyakitnya, akan lebih mudah mengobatinya."
"Tt..tapi.. apakah itu berbahaya?"
"Mari kita berdo'a supaya Dita baik2 saja yaq bu. Sekarang juga saya akan membawanya. Boleh minta tolong mas Panji untuk membopongnya?" pinta Santi kepada Panji.
"Ya.. tentu," jawab Panji sambil cepat2 masuk kedalam, diikuti Maruti dan ibunya.
Dilihatnya Dita sudah duduk sambil memegangi perutnya.
"Dita, bisa berjalan?" tanya Panji sesampainya dikamar
Dita menggeleng sambil menundukkan kepalanya. Sumpah sesunguhnya hatinya berdebar debar.
"Mari, biar aku gendong kamu," kata Panji sambil mendekat, kemudian mengangkat tubuh Dita. Dita dengan senang hati merangkul pinggang Panji dan menyandarkan kepalanya kedadanya. Kapan lagi bisa begini. Pikir Dita.
Panji membawanya keluar dari kamar, menuju kearah mobil Santi, kemudian mendudukkannya dikursi depan disamping Santi yang sudah lebih dulu duduk dibelakang kemudi.
"Terimakasih mas Panji," Santi tersenyum, barangkali senyum paling memikat yang pernah disuguhkannya kepada pria yang dicintainya itu. Tapi Panji memandangpun tidak, ia bahkan menutup pintu mobil Santi, lalu berjalan kearah rumah.
Dilihatnya Maruti dan bu Tarjo sudah bersiap akan pergi.
"Ibu, biar saya antar kalau mau kerumah sakit juga" kata Panji sambil mengambil kunci mobilnya yang tadi diletakkannya diatas meja.
"Apa tidak merepotkan nak? Kami bisa memanggil taksi," jawab bu Tarjo yang merasa sungkan.
"Nggak bisa bu, nanti kelamaan, biar saya antar saja."
Dan mau tak mau Maruti dan bu Tarjo mengikuti Panji dan masuk kedalam mobilnya.
***
Dirumah sakit itu Dita langsung dimasukkan kedalam bangsal pasien, bukan ke ruang UGD atau tempat pemeriksaan awal. Santi yang memesankan kamar ketika membawa Dita sambil menyetir, sehingga begitu sampai ternyata kamar sudah disiapkan. Sebuah kamar yang nyaman, tidak tercampur pasien lain, dan ada sofa untuk penunggu. Ini kelas yang tidak murah, pikir Maruti, dan tentu saja juga pikir bu Tarjo.
"Ini kamar Dita selama harus dirawat bu, jangan khawatir tentang biaya, saya yang akan menanggungnya," kata dokter Santi sambil tersenyum.
Bu Tarjo menghela nafas, ada rasa lega, tapi juga merasa sungkan terhadap dokter Santi.
"Nanti saya akan mengganti berapa biayanya dok, meskipun tidak bisa sekaligus, tapi saya bisa mencicilnya," sela Maruti.
"Tidak Ruti, sayalah yang akan membayarnya. Sudahlah, sa'at ini jangan memikirkan apapun, yang penting Dita segera sembuh," kata Panji sambil memandang kearah Dita.
Diam2 Dita berpikir, begitu besar perhatian Panji kepadanya, apakah itu bukan karena cinta? Dita tak bisa berfikir bahwa Panji memperhatikannya karena dia adalah adik Maruti, gadis yang dicintainya.
Dokter Santi tersenyum, entah apa arti senyum itu. Ia mendekati ranjang Dita dan mengelus perutnya.
"Kamu tenang saja disini, jangan berfikir apapun. Besok perawat akan mengambil darahmu dan kamu akan diperiksa semuanya.. semoga semua baik2 saja,' kata Santi.
Dita mengangguk. Ia tak henti2nya mengelus perutnya. Maruti mendekat dan mngeluarkan minyak kayu putih yang sejak tadi dibawanya.
"Perlu digosok pakai ini?"
"Nggak usah... biar disini saja, nanti aku menggosoknya sendiri."
Malam itu Maruti dan ibunya menginap dirumah sakit. Tak tega rasanya membiarkan Dita tidur sendiri disana. Mereka memaksa, walau dokter Santi melarangnya.
"Baiklah, nanti saya akan memintakan selimut untuk ibu." kata dokter Santi.
"Jangan dokter, saya bisa mengambilnya kerumah, sekaliyan mengambil pakaian Dita untuk ganti nanti.
"Ya, biar ibu istirahat di sofa itu dulu, saya mengantar Maruti pulang untuk mengambil selimut dan apa saja yang diperlukan," kata Panji tiba2.
"Tapi mas..."
"Sudah, jangan membantah, kami permisi dulu ya bu," Panji berpamit pada bu Tarjo, sambil menggandeng lengan Maruti.
Dokter Santi memandangnya dengan mata berkilat. Ada api menyala disana, namun tak sepatah katapun diucapkannya.
***
Pagi itu Maruti kekantor hanya untuk minta ijin agar boleh menunggui adiknya dirumah sakit. Setiba disana ternyata Laras sedang menunggunya..
"Laras? Kamu sudah disini pagi2?" teriak Maruti.
"Mas Panji bilang, kamu akan kekantor pagi untuk minta ijin tidak masuk kerja. Jadi aku menunggu kamu disini. Bagaimana Dita? Sakit apa dia, kok begitu tiba2?"
"Entahlah, hari ini dia akan diperiksa. Baru nanti hasilnya akan ketahuan."
"Ya ampuun.. si cerewet itu, mudah2an tidak apa2."
"Aamiin, terimakasih Laras. Sekarang aku ke ruang pak Agus dulu ya, aku harus minta ijin, paling tidak hari ini, supaya bisa menemani ibu dirumah sakit."
"Ibu tidur dirumah sakit?"
"Ya, mau bagaimana lagi, kalau aku saja yang dirumah sakit, ibu nggak ada temannya, ya kan?"
"Begini saja, biar nanti ibu pulang, aku yang akan menemani bu Tarjo dirumah. Kasihan kalau dirumah sakit terus."
"Ya ampun Laras, jadi merepotkan kamu."
"Nggak, sudah sana, pamit dulu, aku menunggu disini."
***
"Aku sudah mendengarnya, Panji sudah menelpon aku, jadi sesungguhnya kamu tidak usah datang kemari juga nggak apa2," kata Agus ketika Maruti berpamitan.
"Tapi kan saya juga harus datang sendiri pak, nggak enak ,"
"Baiklah, aku beri kamu ijin sampai adikmu sembuh ya," kata Agus.
"Terimakasih banyak pak, sekarang saya permisi dulu.'
"Kamu sama siapa?"
"Ada Laras menunggu didepan pak."
"Oh, baiklah. Nanti seusai kantor aku akan melihat keadaan adikmu dirumah sakit. Berikan nanti melalui WA dikamar apa dan nomor berapa dia dirawat."
"Baiklah, terimakasih pak."
Maruti berlalu, tapi kemudian Agus tak membiarkan Maruti keluar sendiri. Ia mengikuti sampai Maruti ketemu Laras.
"Selamat pagi mas, njemput Maruti nih," kata Laras.
"Ya, aku tau, hati2 dijalan ya."
"Terimakasih mas, titip salam buat Sasa ya,"
Agus mengangguk, ada rasa senang ketika Laras memperhatikan anaknya.
***
Ketika tiba dirumah sakit, Maruti merasa heran karena dilihatnya ibunya tak ada disana. Ia heran melihat dari kejauhan Dita sedang bercanda dengan dokter Santi.Ia mendengar Dita terkekeh senang, dan mereka berbicara seperti dua orang sahabat. Apa Dita sudah sembuh?
***
besok lagi ya
SA'AT HATI BICARA 20
SA'AT HATI BICARA 20
(Tien Kumalasari)
"Kenapa?" tanya Panji ketika melihat wajah Maruti tampak cemas.
"Aku harus segera pulang mas, ibu menelpon, Dita sakit."
"Sakit apa?"
"Entahlah, ibu hanya mengatakan itu kemudian menutup telponnya.
"Baiklah, ayo aku antar kamu pulang." kata Panji sambil berdiri.
***
Dalam perjalanan pulang itu Maruti hanya diam. Dalam hati ia bertanya tanya, sakit apa gerangan adiknya, sementara pagi tadi sebelum berangkat kerja tampak biasa2 saja. Iya sih, agak berbeda, sikapnya acuh, dan sedikit kethus. Maruti tak bergitu memperhatikannya karena ia harus segera berangkat kerja.
Tapi ada yang aneh memang.
"Katanya mau bangun pagi2... kok nggak jadi?" kata Maruti menggoda adiknya.
"Nggak... males,"
"Lho.. kok males, katanya mau belajar jadi isteri yang baik.."
"Nggaaaak... nggak jadi.." jawabnya ketus, sambil berlalu kebelakang. Dilihatnya Dita masuk kekamar mandi.
"Dita, kamu ini kenapa sih?" tanya Maruti yang kemudian menyiapkan sarapan pagi sendirian. Ia tak mengacuhkan sikap Dita yang tampak aneh, karena ia harus buru2.
"Masak apa pagi ini?" tiba2 tanya ibu yang keluar dari kamar.
"Nggak masak bu, opor yang kemarin masih ada.. sama sambel goreng. Ibu mau dimasakin apa?"
"Nggak.. itu cukup. Mana Dita?"
"Ada dibelakang, sepertinya lagi mandi bu."
"Ya sudah, nanti kamu sarapan saja dulu, bisa terlambat kalau menunggu Dita, dia kan kalau mandi lama sekali.
Maruti menghela nafas panjang. Bayangan ketidak ramahan Dita pagi tadi masih terbayang. Apakah waktu itu dia sudah mersakan sakit?
"Jangan cemas, nanti segera kita bawa adikmu kerumah sakit."
Maruti mengangguk.
***
Namun setiba dirumah, ternyata Dita menolak dibawa kerumah sakit. Dia justru marah2 karena melihat Marut datang bersama Panji. Kata2 dokter Santi kembali terngiang ditelinganya, bahwa Panji tidak menyukai dirinya tapi kakaknya. Dita memejamkan matanya.
"Dita, kalau kamu sakit, ayo kita ke dokter."
"Nggak, aku nggak akan kemana mana." Dita membalikkan tubuhnya membelakangi orang2 yang berdiri ditepi ranjangnya.
"Dita, kamu tadi kesakitan, ibu takut lalu menelpon mbakyumu."
"Sebetulnya apa yang dikeluhkan bu? Sudah minum obat apa?"
"Tadi bilang perutnya sakit sekali, sampai menangis.. ibu bingung. Tapi dia tidak mau minum apapun. Seharian dia tidak keluar dari kamarnya. Karena kamu terlambat pulang, lalu ibu menelpon."
Maruti, Panji dan bu Tarjo keluar dari kamar Dita. Bau minyak kayu putih tercium sangat menyengat.
Tanpa seorangpun tau, air mata menitik dipipi Dita.
***
"Bu, coba ibu yang minta supaya Dita mau dibawa ke dokter.Mungkin kalau ibu yang inta, dia akan mau," kata Panji.
"Sudah seharian ibu memintanya nak, tapi dia nggak mau. Tapi terus2an mengeluh perutnya sakit, dan hanya minyak kayu putih saja yang kemudian saya balurkan ke perut dan sekitarnya."
"Mengapa sikap Dita jadi aneh begitu?" keluh Maruti.
"Ibu juga heran.. "
"Tapi bagaimanapun dia harus dibawa kedokter." kata Panji.
"Mas, coba mas yang bicara sama dia, " pinta Maruti pada Panji.
"Baiklah... mudah2an aku bisa membujuknya."
Pelan Panji melangkah kearah kamar Dita. Dilihatnya gadis itu meringkuk, membelakangi pintu masuk, sehingga dia tidak tau bahwa Panji datang mendekatinya.
"Dita." panggil Panji pelan.
Tapi walau pelan.. itu cukup membuat Dita membalikkan tubuhnya. Mata basahnya berkejap kejap.. bibirnya menyunggingkan senyum, sangat tipis.
"Kamu sakit apa? Mana yang sakit?" lembut suara Panji, bagi Dita suara itu seperti sebuah kidung yang mengalun dari langit tingkat tujuhbelas.. lembut menggelitik hati dan jiwanya. Namun manakala diingatnya bahwa bukan dia yang membuat Panji tertarik, senyum itu tiba2 menghilang. wajah cantinya kembali pias, sendu dan redup.
"Mana yang sakit?"
Panji memegang tangan Dita. Aduhai, seandainya pegangan tangan ini tulus demi sebuah cinta, alangkah indahnya.
"TAPI MAS PANJI MENYUKAI MARUTI."
Suara itu kembali merobek robek hatinya.
"Dita, jawab pertanyaan mas ya," Panji mengulang pertanyaannya. Sebelah tangannya masih menggenggam tangan Dita. Kemudian Dita meletakkan tangan itu diatas perutnya yang tertutup selimut tipis.
"Disini? Mengapa kamu tidak mau diajak ke doktar? Kita orang2 awam yang tidak tau tentang penyakit, hanya dokter yang bisa menyembuhkanmu."
Dita menggeleng.
"Dita, kamu mau sembuh tidak?"
"Panggil dokter Santi," bisik Dita pelan. Dan Panji terkejut.
"Mengapa harus dokter Santi? Aku punya dokter pribadi yang baik. Kalau kamu ingin dokternya datang, aku bisa memanggilnya kemari."
"Aku mau dokter Santi," ulang Dita, dan kembali ia membelakangi Panji yang sudah duduk ditepi pembaringannya.
Apa boleh buat. Dia harus menelpon dokter Santi. Tapi..uppss.. dia tidak lagi memiliki nomor kontak dokter Santi.Panji telah membuangnya beberapa bulan lalu, begitu tau Santi mengejar kejarnya.
"Tapi Dita, aku tidak punya nomor kontak dokter Santi. Lagi pula apa dia tau alamat rumah ini?"
"Aku ada.. dia pernah mampir kesini," jawab Dita sambil meraih ponselnya dan mencarikan nmor dokter Santi untuk Panji.
Panji agak merasa heran mendengar Santi pernah mampir kesini, tapi ia tak ingin banyak bertanya, ditelponnya dokter Santi.
"Hallo, mas Panji? Tumben menepon, kangen ya sama aku?" jawab Santi dari seberang sana.
"Santi, datanglah kerumah Dita, dia sakit dan hanya kamu yang dia minta untuk memeriksa penyakitnya."
"Aku? Mengapa harus aku, bawa saja kerumah sakit," jawab Santi .
"Dia tidak mau dan hanya mau kamu yang memeriksanya, karena itu datanglah segera. Aku mohon."
Panji menutup telponnya.
"Aku sudah memintanya datang," kata Panji kepada Dita.
Panji beranjak keluar dari kamar itu, tapi Dita memanggilnya.
"Mas, tolong minyak kayu putih itu," pinta Dita.
"Dimana?"
"Diatas meja."
"Oh, ini.. baiklah," Panji mengulurkan minyak kayu putih itu.
"Mas, tolong.. perutku kembali sakit, sangat sakit.. disini," Dita merintih.
"Ini minyaknya," jawab Panji tak menerti.
"Tolong mas, gosokkan.."\
Panji terkejut, masa ia harus meraba raba perut Dita? Bergegas dia keluar.
"Maruti.. Maruti.."panggilnya. Maruti berdiri dan menghampiri Panji.
"Apa mas? Dia kenapa?"
"Dia kesakitan lagi, minta digosok perutnya dengan minyak kayu putih."
"Oh, baiklah, aku kesana."
Maruti melangkah kekamar Dita, tapi dilihatDita sudah menggosok sendiri bagian perutnya .
"Mana Dita, biar mbak yang menggosokkannya, mana yang sakit?" tanya Maruti lembut.
Tapi Dita menggeleng dengan wajah muram.
"Nggak, biar aku saja. "
"Dita..."
"Dokter Santi sudah datang?"
"Apa?"
"Tadi aku minta mas Panji untuk memanggil dokter Santi kemari."
"Mengapa dokter Santi?"
"Aku hanya ingin dokter Santi," jawab Dita ketus, sambil kembali membetulkan selimut, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Maruti.
Maruti menghela nafas panjang. Tak biasanya Dita bersikap seperti ini. Tapi tak ada yang bisa diperbuatnya. Ia keluar dari kamar dan mendengar Panji sedang berbicara dengan ibunya.
"Mungkin karena dokter Santi itu sangat baik, nak. Dia memang baik, kemarin dia mampir kemari hanya menanyakan penyakit ibu. Ia sangat akrab dengan Dita, walau baru beberapa kali bertemu."
Maruti duduk diantara mereka.
Dan mendengar pembicaraan itu ia yakin bahwa Panji sudah menghubungi dokter Santi.
Selang beberapa menit kemudian, dilihatnya Santi sudah datang. Ia menghentikan mobilnya tepat dibelakang mobil Panji.
Bu Tarjo dan Maruti Menyambutnya, tapi begitu naik ke teras, Santi langsung mendekati Panji yang masih saja duduk dikursi dan merangkulnya.
***
besok lagi ya
Subscribe to:
Posts (Atom)
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016 (Tien Kumalasari) Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mu...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 30 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi sedang mengingat-ingat, kapan dia mendengar nama Srining disebut. Mungkin Srining ...
-
NAMAKU TETAP SENJA 59 (Tien Kumalasari) Pemeriksaan terus berjalan, hari demi hari. Bu Mery dan Rosa tetap ditahan. Betapa marah Rosa k...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 28 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi mengangkat wajahnya. Menatap laki-laki setengah tua yang berdiri di depannya samb...