Thursday, June 13, 2019
Wednesday, June 12, 2019
SA'AT HATI BICARA 018
SA'AT HATI BICARA 018
(Tien Kumalasari)
Santi bukannya mundur karena malu, malah mendekat dan terkekeh senang.
"Ya ampun mas.. malu aku," pekiknya sambil menutup wajah dengan jari2 tangan, tapi terbuka lebar, sehingga dengan jelas bisa memandang kedepan.
Panji membalikkan tubuhnya dan kembali masuk kedalam kamar. Dulu kamar itu memang kamar bu Anjar. Entah mengapa tiba2 siang itu Panji ingin sekali mandi dikamar mandi yang ada dikamar ibunya, sementara simbok menyiapkan ganti pakaiannya dikamarnya sendiri dan itu memang harus melewati ruang makan dimana tadi Santi duduk disana.
Simbok bersungut sungut, menuju kamar Panji dan mengambil pakaian yang tadi disiapkannya disana, lalu memasukkannya kekamar bu Anjar, kemudian menutupnya rapat.
Santi masih tersenyum senyum ketika kembali duduk diruang makan, sementara wajah simbok gelap tertutup mendung. Menurutnya, sangat tidak pantas seorang wanita bersikap demikian bebas dihadapan priya yang hanya berbalutkan selembar kain, sementara priya itu bukan apa2nya.
"mBok, aku minta teh lemon ya, yang dingin."
Huh.. memangnya siapa dia .. main perintah saja. Majikan bukan, tamu juga bukan tamu yang diundang. Gerutu simbok, tapi dibuatkannya juga apa yang diminta Santi.
Ketika simbok membawa nampan berisi teh lemon dingin seperti yang diminta Santi, dilihatnya Panji sudah rapi dan berjalan kearah depan sambil menjinjing tas kerjanya.
"Mas..." sapa simbok, mungkin maksudnya bertanya, apa nggak jadi makan.
"Aku mau langsung kekantor mbok, ada rapat siang ini."
Dan Panji terus melangkah kedepan. Santi menghirup lemon tea didepannya, kemudian setengah berlari mengejar Panji.
"Mas, dengar mas, nggak selamanya bisa begini. Mas harus segera menghentikan semuanya dan menentukan hidup mas."
"Kamu yang harus menghentikan semua ini Santi.Aku sudah lelah."
"Mas, tunggu dulu mas.. apa mas lupa bahwa..."
"Bahwa apa, ibuku almarhum tidak menyebutkan kamu yang harus menjadi pasangan hidupku sesa'at sebelum meninggal, jadi jangan mengancamku dengan kejadian itu."
"Tapi mas..."
"Dengar Santi, dan ini yang terakhir, aku mohon jangan lagi menggangguku karena aku tidak ingin menjadikanmu isteriku."
"Sungguh ?"
"Sungguh !! Dan jangan lagi menggangguku."
"Mas, apa karena ada wanita lain?"
"Ya !" tegas kata Panji.
"Maruti?"
"Ya."
Lalu Panji terus melangkah, memasuki mobilnya dan memacunya keluar dari halaman.
Santi kembali kedalam, meminum lemon tea sampai habis lalu menyambar dompet yang ketinggalan, kemudian berlalu tanpa perduli pada simbok yang memandanginya sambil geleng2 kepala.
"Gara2 dia, momongan kesayanganku nggak jadi makan masakanku lagi," omelnya.
***
Agus dan Maruti kembali kekantor, tapi Laras masih mengikutinya. Ia lupa tadi membawa bungkusan belanjaan yang ditinggalkan dimeja Maruti.
"Nanti aku mau langsung pulang," kata Laras
"Disini dulu juga nggak apa2 kok, sambil menunggu Maruti pulang," tiba2 kata Agus.
"Kelamaan mas, nanti mengganggu."
Tiba2 terdengar langkah2 kaki mendekat, semua menoleh kearah pintu masuk. Santi dengan wajah kusut menuding kearah Agus.
"Mas ! Sebenarnya Sasa ada dimana? "
"Kamu ini kenapa? Datang2 tanpa permisi langsung marah2." omel Agus kesal. Ia tidak suka wajahnya dituding tuding seperti yang dilakukan Santi.
"Aku lagi pengin marah nih mas, tadi aku kerumah, kepengin ngajak Sasa jalan2.. tapi rumah dikunci. Apa mas selalu biarkan perawat itu membawa Sasa kemana dia suka? Itu nggak baik mas, dia hanya bisa keluar dengan ijin mas."
"Sasa bukan dibawa perawat semaunya, dia kerumah ibu, karena ibuku kangen. Jadi bukan kemauan perawat itu."
Laras dan Maruti menundukkan muka. Laras pura2 membuka hapenya dan berbicara dengan seseorang, sementara Maruti segera membuka buka laci seperti sedang mencari sesuatu. Sungkan rasanya mendengarkan pembicaraan yang tampaknya kurang enak didengar itu.
Mereka masih bersitegang sampai Agus masuk kedalam ruang kerjanya dan Santi masih juga mengikutinya.
"Mulai sekarang jangan pernah lagi datang kemari dan mempermalukan aku didepan karyawan2ku."
"Aku juga tidak akan datang kemari kalau tidak sedang mencari anakku."
"Baiklah, dia tidak ada disini, dan sekarang pulanglah. Ini yang terakhir kamu boleh datang ya, ingat itu." kata Agus sambil menunjuk kearah pintu keluar.
Santi melangkah kearah pintu. Sekali lagi ia menoleh dan mencibir.
"Apa mas suka pada Maruti dan takut dia cemburu padaku? Mas keliru, ada orang lain yang menyukai dia."
"Keluaarrr!!" hardik Agus dan terdengar bantingan pintu setelah Santi keluar dari sana.
***
Hari itu Santi seperti orang kalap. Tak ada tempat yang memberinya suasana bersahabat dengan dirinya. Keluar dari ruangan Agus dia juga tidak menoleh lagi pada Laras dan Maruti yang masih saja pura2 dengan kesibukannya.
Santi mengendarai mobilnya tak tentu arah. Ia merasa tak punya pegangan. Ia harus melakukan sesuatu yang akan membuatnya senang. Tiba2 ia melewati rumah yang siang tadi dikunjunginya, rumah keluarga bu Tarjo, Santi tau Maruti belum pulang dan dia ingin menemui Dita. Hanya gadis itu yang masih bisa bersikap baik padanya.
Ia menghentikan mobilnya didepan pagar, dan langsung masuk ke pekarangan yang tampak sepi. Mungkin Dita sedang tidur, atau ... ah tidak.. Santi melihat Dita sedang duduk diteras, kepalanya menunduk dan tampak sedang menulis sesuatu. Karena terpaku pada sesuatu yang dikerjakannya, maka Dita sama sekali tak tau bahwa seseorang sedang mendekatinya.
"Lagi nulis apa nih?"
Dita terkejut. Cepat dia menutup buku kecilnya lalu berdiri menyambut kedatangan Santi.
"Dokter Santi? Kok sudah sampai disini lagi?"
"Iya, lagi mencari alamat seseorang, tapi nggak ketemu." jawab Santi sekenanya.
"Oh, coba dimana alamatnya, barangkali saya bisa menunjukkan."
"Nggak usah, besok saja."
"Lho.."
"Tadi menoleh kesini, melihat kamu sedang menulis sesuatu. Apa tuh? Buku harian ya?"
"Ya," Dita tersipu.
"Kamu seperti orang lagi jatuh cinta. Pasti semua2 kamu catat dibuku itu."
Santi memungut buku kecilnya dan digenggamnya erat.
"Dokter tau aja."
"Benar kan?Kamu lagi jatuh cinta? O.. aku tau.. pasti yang kemarin malam makan bersama itu."
Dita terkejut. Kok dokter Santi tau ketika dia sedang makan malam? Dengan Panji kan? Bagaimana dia bisa tau.
"Kok tau dok, mas Panji bilang ya?" Dita nggak sadar bahwa dia sedang terkena pancingan dokter Santi.
"Nah, itu. Hm.. memang mas Panji laki2 yang menarik ya? Nggak aneh kalau Dita suka."
"Ah.. dokter.." Dita tersipu.
"Apa kamu yakin mas Panji juga suka sama kamu?"
"Dia... sangat perhatian sama aku.. " kata Dita polos.
"Tapi dia tidak suka sama kamu."
"Apa?" Dita terkejut.
"Dia itu sukanya sama kakak kamu, Maruti."
***
besok lagi ya
SA'AT HATI BICARA 017
SA'AT HATI BICARA 017
{Tien Kumalasari}
Dita menyambut Santi sampai ke teras depan. Dalam hati bertanya tanya, apakah ada masalah lagi dengan Maruti.
"Hallo Dita," tapi Santi menyapa ramah.
"Dokter Santi? Silahkan masuk," sambut Dita tak kurang ramah.
"Terimakasih. Bagaimana keadaan ibu?"
"Baik dok, ibu lagi makan tuh didalam. Mau ketemu ibu?"
"Oh, tidak, tidak.. hanya ingin tau kesehatan ibu saja. Memang waktu kontrol ang terakhir ibu sudah dinyatakan sehat kan?Syukurlah."
"Iya dok."
"Terkejut ya, tiba2 aku datang kesini?"
"Iya, heran.. darimana dokter tau rumah kami..?"
"Mm... ya tau lah, kan di buku pasien ada alamatnya?"
"Ya, tapi kan nggak sangat detail.. artinya.. cuma rt rw aja.."
"Tapi pada tau rumah ini kok... "
"Terimakasih banyak dok, sudah repot2 mengabarkan kesehatan ibu saya. Dokter sangat baik ternyata ya."
"Itu sudah kewajiban saya... saya selalu begitu. Oh ya, namamu siapa, aku cuma tau Maruti."
"Nama saya Dita dok, Anindita."
"Oh, iya.. lupa atau kita memang belum pernah memperkenalkan nama ya. Nggak apa2, yang penting sekarang saya sudah tau."
"Saya buatkan minumn dulu dok," kata Dita sambil bangkit. Tapi Santi menolaknya.
"Tidak, jangan.. saya kan cuma mampir, ini cukup, saya pamit dulu ya, nggak usah panggil ibu, nanti bilang saja sama ibu kalau saya menanyakan kesehatannya."
Dokter Santi berjalan keluar, diiringi Dita.
"Oh ya, kamu deket ya sama mas Panji?" pertanyaan ini tiba2 mengejutkan Dita.
"Ya.. ya dok, artinya dia sering datang kemari."
"Oh ya, ada yang disukai diantara kalian pastinya," pancing Santi.
"Waah.. dokter ada2 saja, nggak tau lah saya," jawab Dita tersipu. Namun wajah kemerahan mengandung rasa malu itu tertangkap oleh dokter Santi yang kemudian menduga duga.
"Baiklah, karena saya harus kembali ke klinik, lain kali kita ketemu lagi dan ngobrol ya?"
Dalam perjalanan kembali ke klinik itu, dokter Santi menduga ada suka dihati Dita terhadap Panji, tapi Santi tau bahwa Panji lebih suka pada Maruti. Kelihatan sikapnya ketika mereka bertemu dirumah makan itu.
***
Maruti dan Laras sudah selesai makan, tapi mereka menunggu sampai Agus menyelesaikan makannya. Pembicaraan tentang Panji terhenti dengan hadirnya Agus. Tapi tiba2 Agus menanyakan sesuatu tentang Panji.
"Aku dengar Panji mau menikah.." kata Agus tiba2.
"Ngaaaak, siapa bilang?" kata Laras cepat2.
"Nggak ya, tapi calon isterinya sudah ngomong ke saya."
"Maksud mas Agus, dokter Santi? Ma'af, tapi mas Panji tidak suka pada dokter Santi."
"Ya, katanya begitu.. apa Panji sudah punya pacar?"
"Dia ini..."jawab Laras sambil menunjuk kearah Maruti. Maruti terkejut kemudian menepiskan tangan Laras.
"Ihh.. apa sih," tapi itu dengan senyum tersipu. Agus menangkap senyuman itu, ada guratan rasa kecewa ersungging dibibirnya, walau tampaknya tersenyum dan mengangguk angguk.
"Nggak usah malu Ruti, kamu kayak anak kecil saja."
Agus menghela nafas, dan menyuapkan nasi terakhirnya.
"Biar aku yang traksir kalian," Agus berdiri kearah kasir.
"Waah.. mas Kumis itu baik hati bener.." celetuk Laras yang kemudian dicubit oleh Maruti.
"Sst.. hati2 bicaramu, nanti dia dengar." dan kedua gadis itupun tertawa lirih.
***
Ketika Panji pulang kerumah siang itu, simbok menyambutnya dengan mengulurkan sebuah dompet.
"Apa ini mbok?"
"Ini punya bu dokter, semalam kemari, simbok nggak tau kalau dompetnya terjatuh. Padahal tas dan kunci mobil yang tadinya tertinggal sudah simbok susulkan. Rupanya dompet ini jatuh mas."
"Biarkan saja, kalau dia merasa kehilangan pasti diambil kemari."
"Lha kalau dia mbutuhkan .. kan kasihan mas.. "
"Itu bukan urusanku mbok, salah sendiri kalau sampai baragnya terjatuh . Suda mbok, aku mau mandi, siapkan baju bersih ya."
"Baik mas," simbok meletakkan kembali dompet itu dimeja, dan pergi kebelakang untuk menyiapkan baju momongannya.
Simbok berada dirumah itu sejak Panji masih kecil. Mereka saling menyayangi seperti keluarga saja, dan ketika bu Anjar meninggal, simboklah yang menggantikan merawat Panji seperti anaknya sendiri. Ia ingin bertanya mengenai dokter yang mengaku sebagai calon isteri momongannya itu, tapi ditahannya. Ia merasa Panji kurang suka pada dokter cantik yang selalu datang kemari tapi jarang bertemu Panji.
"Mas, tadi simbok masak rendang, saya siapkan dimeja ya?" teriak simbok dari luar kamar mandi setelah menyiapkan baju Panji dikamar.
"Wah, kangen aku sama masakanmu mbok, ya.. aku mau," jawab Panji dari dalam kamar mandi.
Simbok bergegas kedapur, menyiapkan nasi piring dan segala sesuatunya untuk makan momongannya. Gembira sekali simbok, karena Panji jarang sekali mau makan dirumah.
Namun ketika simbok sedang menata makanan dimeja .. tiba2 sebuah suara mengejutkannya.
"mBok.. kebetulan nih, aku belum makan."
Simbok menoleh dan dilihatnya dokter Santi sudah duduk disalah satu kursi dimeja makan itu.
"Bu dokter...?"
"Mas Panji ada kan? Ayo dong mbok, piringnya kurang satu, aku kan juga belum makan."
Simbok melangkah kebelakang dengan wajah cemberut. Tamu yang satu ini sungguh sangat lancang dan tak tau malu, pikirnya. Tiba2 ia terintat dompet yang terjatuh. Ia segera membalikkan tubuhnya menuju kearah meja dimana ia meletakkan dompet itu.
"Ini bu, milik ibu terjatuh semalam."
"Oh.. ya ampuun.. rupanya terjatuh disini? Pantesan aku cari dimana mana nggak ketemu, isinya cuma beberapa ratus ribu, tapi banyak surat2 pentingnya. Simbok nggak membuka buka isi dompet ini kan?" tanya Santi sambil membuka dompetnya, seperti sedang meneliti isinya.
"Ya ampun bu, selamanya simbok ini memang miskin, tapi sekalipun simbok belum pernah menginginkan sesuatu yang bukan menjadi milik simbok." jawab simbok sambil bersungut, lalu melangkah kebelakang.
Didepan kamar mandi tiba2 Panji keluar, hanya membalut tubuhnya dengan sehelai handuk.
"Ehhh... mas... berpakaian dulu, jangan lewat ruang makan sambil setengah telanjang begitu. Mengapa tadi mas Panji tidak mandi dikamar mandi yang ada dikamar saja sih?"
"Kangen sama kamar mandinya ibu, memangnya ada apa?" tanya Panji heran.
Tapi sebelum simbok menjawab, Santi tiba2 sudah muncul dihadapan mereka. Simbok serta merta menghadang didepan Panji, dan Panji melotot marah.
***
besok lagi ya
SA'AT HATI BICARA 016
SA'AT HATI BCARA 016
(Tien Kumalasari)
Ketika mobil Panji berhenti didepan pagar rumah Dita, mobil yang mengikuti dibelakangnya terus melaju. Setidaknya dia tau dimana Panji sa'at itu. Apakah dia mengenal Panji, tentu saja, pengemudi itu adalah seorang wanita cantik. Santi, yang dengan perasaan kesal pulang menuju rumahnya.
***
Malam itu Dita mengeluh karena cuma sebentar bepergian bersama Panji. Maruti yang sebenarnya kurang menyukai sikap adiknya, tetap menghiburnya untuk mengobati rasa kecewa adiknya.
"Ini kan sudah malam, kalau masih mau jalan lagi, pasti ibu dan mbak jadi kepikiran donk, jadi sudah bener kalau mas Panji cepat2 mengajak kamu pulang."
"Iya sih, tapi Dita senang mas Panji memperhatikan Dita, menurut mbak .. apakah mas Panji suka sama Dita?" pertanyaan Dita ini membuat Maruti terkejut.
"Maksudmu apa?Mas Panji itu orangnya baik, dan dia pasti suka pada semua orang."
"Maksud Dita, suka yag bukan sembarang suka, ada lebihnya, gitu," nekat Dita mencari jawaban dari kakaknya.
"Ah, kamu ada2 saja, mbak nggak ngerti lah. Sudah sekarang tidur, sudah malam nih."
Dita keluar dari kamar Maruti, namun ada senyum senang dibibirnya. Ia masih saja menganggap sikap Panji yang baik seperti sikap seseorang yang menyukai, atau lebih tepatnya jatuh cinta. Ahh.. Dita berharap ada mimpi2 indah menghiasi tidurnya nanti. Tapi sebelum direbahkannya tubuhnya ke pembaringan, diraihnya dulu buku hariannya, dan dituliskannya sesuatu disitu.
***
Pagi itu Dita bangun lebih pagi. Sebelum semuanya terbangun dia sudah sibuk didapur. Membuat minum untuk semua orang, lalu membuat nasi goreng kesukaan keluarga yang kemudian ditatanya apik diatas meja. Hm... harum nasi goreng ini pasti membangkitkan selera semua orang. Pikir Dita. Sambil bersenandung kecl ia membereskan meja makan. Ia terkejut ketika tiba2 Maruti menepuk bahunya.
"Tumben nih !!"
"Aduh mbak, hampr copot jantungku," kata Dita sambil mengelus dadanya.
"Mbak terkejut, kok semua sudah rapi? Tumben, mimpi apa kamu semalam?"
"Mimpi indah dong."
"Hm.. sedap... kamu sendiri bikin nasi gorengnya ini?"
"Iya lah, siapa lagi? Kan baru aku yang bangun pagi ini."
"Ibu juga sudah bangun lho," tiba2 bu Tarjo menyela sambil keluar dari kamarnya.
"Ibu... " Dita menyambut ibunya kemudian menggelendot dibahunya dengan manja.
"Ibu tau lho waktu kamu bangun dan mengerjakan semuanya, tapi ibu diam saja, takut kamu kecewa. Lagian ibu ingin ngerasain nasi goreng masakan kamu," kata bu Tarjo sambil mengelus kepala Dita.
"Kalau begitu ayo semua sarapan..." kata Dita sambil menarik kursi buat ibunya.
"mBak juga sudah bangun dari tadi lho, tapi mbak diamkan saja, pengin lihat kamu mau bikin apa pagi ini," Maruti juga menimpali sambil duduk disamping ibunya.
"O.. gitu ya, bagus deh.. cuma ngelihatin nggak mau bantuin," Dita pura2 cemberut, dan disambut tawa semua orang.
"Hm.. enak teh buatanmu Dita," kata bu Tarjo setelah meneguk teh yang terhidang dihadapannya.
"Terimakasih bu, " jawab Dita senang.
"Semoga besok ada lagi yang mau bangun pagi," celetuk Maruti sambil melirik adiknya.
"Iya.. beres lah, kan Dita sudah dewasa, dan harus belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik. Bangun pagi, bikin sarapan untuk keluarga. Jadi besok kalau Dita sudah punya suami, nggak ada lagi yang mengecewakan. Iya kan bu?"
"Iya.. betul..Sekarang mari kita santap nasi goreng buatan si cantik kecintaan keluarga ini," kata bu Tarjo sambil membalikkan piring makannya.
Maruti menyendokkan nasi goreng ke piring ibunya. Kemudian ke piringnya sendiri.
"Hm.. sedap.. harum baunya..," kata bu Tarjo. Disendoknya sesendok nasi goreng, diikuti anak2nya. Namun tiba2...
"Asiiiin.... ," teriak Maruti dan bu Tarjo hampir bersamaan.
Dita berhenti mengunyah nasi gorengnya, dikecap kecapkannya lidahnya.
"Iya.. keasinan ya? Ma'af...." wajah Dita muram seketika.
"Tapi aku suka kok makanan asin.. ini enak.." Maruti mencoba menghibur adiknya dengan meneruskan menyendok nasi gorengnya dengan lahap.
"Enak, bener enak.. nanti mbak mau nambah lho..."
"Iya, ini lumayan, biar ibu nggak begitu suka asin, tapi ini enak.." bu Tarjo juga ingin menghibur anak gadisnya. Namun Dita tau bahwa mereka sedang menghiburnya.
"Ma'af ya..." katanya sendu.
"Dibilang enak kok. Nanti kalau sisa, tolong masukin ke kotak bekal mbak ya, biar mbak makan nanti pas makan siang juga."
Mereka adalah keluarga yang saling mangasihi dan menjaga. Kebehagiaan adalah ketika mereka menikmati apapun secara bersama sama. Dan itu tertanam sejak Maruti serta Dita masih kecil. Bu Tarjo lah yang selalu menanamkan kasih sayang diantara mereka. Jangan saling menyakiti, jangan saling melukai, karena kita adalah keluarga yang harus selalu memikul suka dan duka bersama sama. Dan itu terbawa terus sampai Maruti dan Dita tumbuh dewasa.
***
Siang itu sa'at jam istirahat tiba, Laras muncul dihadapan Maruti. Maruti heran karena mereka tidak berjanji untuk ketemuan siang itu.
"Tumben, ada apa?" sapa Maruti setelah Laras duduk dihadapannya.
"Nggak apa2. Ini kan waktu istirahat, boleh dong nemuin kamu sebentar saja."
"Boleh, aku kira ada perlu."
"Nggak, yuk kita makan diluar," ajak Laras tiba2.
"Tapi aku bawa bekal," Maruti menunjukkan kotak bekalnya yang telah berisi nasi goreng buatan Dita pagi tadi.
"Bawa bekal kan kamu, aku makan apa? Ayo lah.. ini kan waktu istirahat?"
Terpaksa Maruti menuruti kemauan sahabatnya. Keduanya keluar dari ruangan sambil bergandengan tangan.
Pada sa'at itulah Agus muncul, dan dengan kecewa didapatinya Maruti sudah tidak ada lagi dimeja kerjanya.
***
"Ada yang penting ya?" tanya Maruti setelah mereka memesan makanan.
"Semalam mas Panji dari rumahmu?"
"Iya, nggak tau tuh.. datang2 ngajakin makan, tapi yang berangkat Dita, habis ibu nggak ada yang nemenin. Tapi cuma sebentar, habis itu dia pulang."
"Ya.. kecewa dong dia, maunya kan sama kamu."
"Huuh.. ada2 saja.." jawaab Maruti merengut, walau sebenarnya hatinya berdebar. Benarkah? Pikirnya.
"Iya, benar, dia bilang sama aku."
"Kamu ketemu dia atau telponan saja?"
"Kan semalam dia tidur dirumahku."
"Apa? Tidur disana lagi?"
Makanan pesanan mereka sudah dihidangkan, Laras menghirup minumannya dan mengangguk.
"Stress dia... gara2 dokter itu."
"Ough.. memangnya kenapa?"
"Kamu itu kan sudah aku kasih tau, mas Panji nggak suka sama dia, sukanya sama kamu."
"Ahhh..." Maruti menahan debar jantungnya, hampir separo minumannya diteguknya.
"Semalam Santi kerumah mas Panji, nggak ketemu terus kerumah aku.. nggak tau aku setelah itu dia kemana. Pokoknya terus mengejar mas Panji."
"Apa sebetulnya kekurangan dokter Santi? Kalau dia janda, apakah itu halangan?" kata Maruti pelan.
"Ini bukan masalah janda atau kecantikan seseorang, tapi so'al rasa.Mas Panji sukanya sama kamu, ini benar, dia bilang sama aku."
"Tapi..."
"Di belum berani bilang sama kamu, takutnya kamu sudah punya pacar."
"Lalu dia menyuruh kamu mengatakannya?"
"Nggak juga... aku sendiri yang ingin mengatakannya sama kamu."
Tiba2 keduanya terkejut ketika mendengar seseorang menyapa.
"Rupanya kalian disini."
"Oh, pak Agus.."Laras mengajak saya menemani makan.
"Hai Laras, apa kabar," sapa Agus
"Baik mas, ma'af, Maruti saya minta menemani makan."
"Nggak apa2. Boleh gabung disini?"
"Oh, silahkan, tentu saja," jawab Laras ramah. Ada perasaan senang ketika bos berkumis itu duduk didekatnya.
***
Siang itu bu Tarjo dan Dita makan siang dengan lahap. Bu Tarjo memasak sayur asem dan tahu bacem yang sungguh2 lezat. Ia sudah merasa sehat sehingga nggak bisa kalau hanya disuruh diam tak melakukan apa2.
"Mengapa ya, Dita nggak pernah bisa masak seenak masakan ibu?"
"Bisa, pasti bisa... Masakan kamu sudah enak kok, tinggal kurang pas asinnya.. manisnya.. dan itu bisa kamu rasakan sendiri setiap kamu memasak."
"Dita kan sudah dewasa, kalau Dita punya suami nanti.. Dita sudah harus pintar memasak dan mengerjakan semua pekerjaan ibu rumah tangga. Ya kan bu?"
"Iya nak, itu benar, dan kamu sudah memulainya kok."
Tiba2 terdengar sebuah mobil berhenti didepan pagar. Dita berlari kearah depan.
"Apa itu mas Panji?" bisiknya lirih penuh harap.
Tapi bukan, Dita tak mengenali mobil siapa itu, sampai ketika seseorang turun dari mobil.
Dita terkejut dan tak menduga, mau apa dia datang kemari?
***
besok lagi ya
Tuesday, June 4, 2019
SA'AT HATI BICARA 015
SA'AT HATI BICARA 015
(Tien Kumalasari)
Santi menatap kosong kearah halaman yang temaram, sungguh kesal sekali menyadari bahwa Panji ternyata telah meninggalkannya. Ia ingat ketika bu Anjar menyatukan tangannya dan tangan Panji sesa'at sebelum meninggal, dan itu berarti dia menginginkan dirinya bersatu dengan Panji, tapi mengapa Panji mengartikan lain, gara2 ibunya tak menyebutkan namanya. Dengan cepat ia melangkah kearah mobilnya. Ia harus mengejarnya.
"Buu.. bu... ini ketinggalan..;" teriak simbok tiba2.
Santi berhenti melangkah, ia juga belum membawa kunci kontak mobilnya. Ia kembali menemui simbok yang sudah membawakan tas dan juga kunci kontaknya.
"Oh, ya mbok.. terimakasih banyak ya," katanya sambil cepat2 kembali ke mobilnya dan menjalankannya keluar dari halaman tanpa pamit pada simbok
Simbok berjalan kearah gerbang dan menguncinya. Selalu itu dilakukannya apa bila hari telah malam dan Panji belum juga pulang kerumah.
"Perempuan aneh, mengapa nggak malu mengejar laki2 yang tampaknnya selalu menghindarinya. Hm.. jaman edian, wong wedok ora duwe isin," gumam simbok sambil kelutak kelutik menggembok pintu pagar.
***
Laras terkejut ketika tiba2 Santi muncul dihadapannya. Waktu itu ia sedang duduk diteras sambil membaca majalah yang baru diterimanya.
"Dokter Santi?" sapanya sambil berdiri.
"Mas Panji kesini?" tanya Santi sambil duduk begitu saja tanpa dipersilahkan.
Santi mengikuti kembali duduk sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi baru saja dia keluar rumah, pastinya kemari donk. " bantah Santi kesal.
"Ya nggak pasti dok siapa tau kerumah temannya.. memangnya ada apa?"
Santi mengeluh kesal.
Laras sudah tau, pasti Panji menghindari bertemu dengan dokter cantik ini. Laras sendiri juga heran, mengapa Panji menolak perempuan yang cantik luar biasa ini. Kulitnya bersih, tubuhnya semampai .. wajahnya sama sekali tidak mengecewakan, cantik sempurna. Hanya matanya tampak tajam, seakan menggambarkan hati yang keras. Mungkin keras kepala juga, pikir Laras.. Apa karena Santi seorang janda? Apa salahnya kalau dia janda? Tapi Laras mengerti, tampaknya kakak sepupunya itu jatuh cinta pada Maruti. Perempuan sederhana yang perilakunya memikat, lembut, dan bermata teduh..
"Kemana kira2 dia?" tanya Santi setelah beberapa sa'at mereka terdiam.
"Nggak tau aku dok,Yang jelas nggak kemari."
"Menyebalkan," mumam Santi.
"Sebenarnya ada apa?"
"Mengapa dia selalu menghindari aku?" jawab Santi kesal.
"Ma'af, sebenarnya ada apa?"
"Mas Panji nggak pernah cerita? Pasti cerita donk permasalahannya. "
"Sungguh aku tidak sepenuhnya mengerti. Tapi.."
"Sebelum meninggal bu Anjar berpesan.. beliau ingin menjodohkan mas Panji dengan aku. Aku menghormati pesan itu, tapi mas Panji tamppaknya menolaknya. Sedih aku.. sudah aku coba mendekatinya dengan segala cara, tapi tak pernah berhasil.Aku merasa berdosa kalau tak bisa memenuhi pesan terakhirnya."
Laras mendengarkan sambil mengangguk angguk. Sebenarnya dia mengerti, Panji mengatakan habwa budenya tidak menyebut sebuah nama, tapi mengapa Santi nekat begitu? Ya pasti lah karena sudah ada bibit cinta dihati Santi, dan ambisi ingin memilikinya begitu besar.
"Laras, kamu mendengarkan apa kataku bukan?" tanya Santi ketika Laras diam saja .
"Oh ya dok, aku mendengar kok, tapi aku kan nggak tau apa2."
"Kamu itu manggilnya jangan dok begitu, aku ini bakal jadi kakak sepupu kamu lho."
Laras tersenyum lebar. Terlalu ke geeran perempuan ini, belum2 sudah yakin akan menjadi kakak sepupu.
"Benar kan?" tanya Santi meyakinkan perasaannya sendiri.
"Ya, kalau jadi kan dok?"
"Kamu tidak suka kalau aku jadi isterinya mas Panji?"
"Lho, yang mau menjalani kan dokter sama mas Panji. Kalau kalian suka ya aku pasti juga suka donk."
"Apa mas Panji sudah punya pacar? Bu Anjar almarhum pernah bilang kalau belum punya."
"Itu juga aku nggak tau dok, mungkin ya, mungkin tidak."
"Kamu kenal Maruti?" tiba2 Santi teringat Maruti yang tampak sangat dekat ketika bertemu sore tadi.
"Itu juga aku nggak tau dok," kata Laras berpura pura. Kalau dia bilang ya, pasti akan lebih panjang pertanyaannya. Ia hanya berharap Santi segera pergi dari hadapannya.
Santi menghela nafas berat. Sudah beberapa sa'at dia menunggu, tapi tak ada tanda2 bahwa Panji akan datang.
***
Kemana perginya Panji? Ternyata dia mengajak Dita jalan2. Kok Dita sih... ada sebabnya donk.
"Horee.. mas Panji datang. Tumben malam2," sorak Dita sambil menyalami Panji penuh antusias.Waktu itu dia sedang kedepan rumah, maksudnya mau mengunci pintu pagar.
"Nggak boleh?" tanya Panji dengan senyum menggoda. Nah itulah salahnya Panji, apa dia tidak sadar bahwa senyum itu yang membuat perempuan2 jatuh hati?
"Boleeeeh.. donk.. kapan saja," teriak Dita
Dan teriakan Dita itu membuat Maruti kemudian keluar dari dalam rumah, berdegup kencang jantungnya begitu melihat sosok Panji ada diteras rumah sedang bercanda dengan adiknya.
"Mas Panji?" sapanya heran.
"Maruti, sudah tidur ?"
"Belum, kan masih sore..silahkan duduk. Tumben malam2."
"Heei, mbak.. biar malam kan nggak apa2.. kan mas Panji lagi kangen sama Dita." jawab Dita seenaknya.
Panji terkekeh. Tentu dia menganggap bahwa Dita sedang bercanda. Tapi Maruti memelototi adiknya. Dia menganggap ucapan Dita tidak pantas.
"Iya kan mas?"
"Ya.. ya, pasti donk. Maruti, aku ingin mengajak kamu jalan2.."
"Yaaa.. aku ikut..." Dita menyambar tiba2.
"Ini sudah malam, temani aku makan ya,"
"Asyikk.. kan kita belum makan mbak," kmbali Dita menyambar.
"Kalau kita pergi, ibu sama siapa, biar Dita saja yang menemani mas, aku dirumah sama ibu."
"Asyiiik... aku ganti pakaian dulu ya, sambil pamit sama ibu," kata Dita sambil menghambur kebelakang tanpa menunggu persetujuan Panji lebih dulu.
Maruti menghela nafas sedikit kesal pada sikap adiknya.
"Ma'afkanlah Dita mas, dia seperti anak kecil."
"Nggak apa2, aku tau kok."
Namun sesungguhnya Panji ingin mengajak Maruti, bukannya Dita. Dan sekarang ini, tak enak rasanya kalaau dia menolak Dita. Apa boleh buat.
"Sebetulnya aku ingin jalan sama kamu Ruti," kata Panji dengan nada kecewa.
"Tapi Dita sudah bersiap untuk ikut. Ya sudah, nanti dia kecewa." kata Maruti, pasti dengan menahan perasaannya sendiri.
"Baiklah, kali ini tak apa2. Besok aku jemput setelah jam kantor selesai ya."
Maruti hanya mengangguk. Akhir2 ini perasaan canggung setiap kali berdekatan dengan Panji mulai sirna. Itu artinya hatinya mulai semakin dekat dengan pria yang sejak pertama bertemu telah menggetarkan hatinya. Apakah itu cinta? Entahlah..
***
Disebuah rumah makan, Dita tampak sangat gembira. Ia makan dengan lahap, dan sesekali mengerling kearah lelaki yang telah menarik hatinya. Memang benar Dita masih kekanak kanakan, ia ceplas ceplos seenaknya, dan terkadang tanpa malu mengatakan apa yang ada dihatinya.
"Mas Panji kecewa mbak Ruti nggak ikut bersama kita?" tanyanya dengan mulut masih dipenuhi makanan.
"Nggak, aku senang kamu menemani aku makan malam."
"Sungguh?" mata Dita berkejap penuh bahagia.
Panji hanya mengangguk sambil tersenyum, dan lagi2 senyum itu yang selalu membuat hati Dita berdegup kencang. Ia terpaksa menunduk, tak tahan menatapnya berlama lama.
"Aku sudah selesai, kamu mau nambah?" kata2 Panji ini sesungguhnya adalah ajakan agar Dita segera menyelesaikan makan malamnya, kemudian akan diajaknya cepat2 pulang.
"Nggak mas, sudah kenyang. Aku juga sudah selesai. Habis ini kita jalan kemana?"
"Pulang lah, hari sudah malam, nanti ibu khawatir kalau kita tidak segera pulang kerumah."
"Ah, mana mungkin ibu khawatir kalau aku jalan sama mas Panji. Aku sudah bilang sama ibu bahwa mas Panji laki2 yang baik."
"Oh ya?" Panji berdiri kearah kasir untuk membayar makanan mereka, sementara Dita menunggu sambil menatapnya kecewa. Sebenarnya ia ingin Panji mengajaknya kemana.. gitu, tapi alasan Panji mengajaknya segera pulang memang tepat. Jangan sampai ibunya khawatir karena hari memang sudah malam.
Mereka berjalan beriringan kearah mobil, dan sepasang mata memandanginya dikejauhan. Bahkan ketika mobil itu meluncur kerumah Dita, sepasang mata itu juga sedang mengemudikan mobilnya, mengikuti mereka dari belakang.
***
besok lagi ya
Sunday, June 2, 2019
SA'AT HATI BICARA 014
SA'AT HATI BICARA 014
(Tien Kumalasari)
Dokter Santi tersenyum melihat keduanya tampak terkejut. Nmun ia tak membiarkan mereka penuh pertanyaan berlama lama.
"Ibu, mari saya periksa, semoga semuanya baik2 saja ya," katanya ramah sepeti biasanya.
Bu Tarjo berdiri kemudian berbaring di tempat pemeriksaan, meninggalkan Dita yang masih saja bertanya tanya, apa maksud dokter Santi mengatakan bahwa kakaknya takut bertemu dia. Apa mbak Ruti melakukan kesalahan?Dimana mereka bertemu? Kenapa mbak Ruti tak pernah bercerita apapun tentang dokter Santi? beribu pertanyaan berkecamuk dalam angannya.
"Nah, ibu.. semuanya baik2 saja, syukurlah obat yang saya berikan cocok," kata dokter Santi sambil kembali duduk. Kemudian ia menuliskan sesuatu disebuah kertas, yang pastinya resep untuk bu Tarjo.
"Nah, ini hanya vitamin bu, diminum hanya setiap pagi sebelum makan ya," dokter Santi mengulurkan kertas itu kehadapan bu Tarjo, yang kemudian diambil oleh Dita.
"Oke bu, sekarang ibu boleh pulang," kata dokter Santi sambil berdiri dan mempersilahkan keduanya keluar ruangan. Ia seakan tak memberi kesempatan kepada pasiennya untuk bertanya sesuatu, apalagi ucapan yang baru saja diucapkannya sebelum memeriksa pasiennya.
***
Dalam perjalanan pulang itu bu Tarjo tampak diam. Dita tau ibunya sedang memikirkan ucapan dokter Santi yang sepertinya tidak wajar. Dita tak ingin mengatakan apa2, apalagi mereka sedang berada dalam taksi yang pasti nanti pembicaraan mereka akan didengar oleh pengemudi taksi tersebut.
Namun begitu sampai dirumah, bu Tarjo duduk diteras tanpa masuk dulu kedalam rumah, lalu disandarkannya kepalanya pada sandaran kursi.
"Bu, kita masuk dulu yuk," ajak Dita sambil membuka pintu.
"Dita, mengapa dokternya tadi bilang begitu ya," tanya bu Tarjo, ternyata benar bu Tarjo memikirkan hal itu.
"Dita juga nggak ngerti bu, mbak Ruti nggak pernah cerita apa2 tentang dokter Santi. Dita juga heran kok dia bisa tau nama mbak Ruti, kan waktu itu kita tidak memperkenalkan nama, kecuali nama ibu yang memang pasiennya."
"Coba kamu tilpun mbakyumu, tanyakan kaapan dia kenal dokter Santi."
"Jangan sekarang bu, ini kan jam kerja, nanti mengganggu, lebih baik nanti saja kalau mbak Ruti pulang, ibu bisa menanyakannya."
"Iya ya," kata bu Tarjo kemudian beranjak masuk kedalam rumah. Bagaimanapun seorang ibu tak akan senang apabila anaknya mempunyai masalah dengan orang lain.
Maruti membuka ponselnya karena ada pesan WA dari Dita.
MBAK, NANTI JANGAN KEMANA MANA, CEPATLAH PULANG YA.
Maruti terkejut, apakah terjadi apa2 dengan ibunya?
MEMANGNYA KENAPA? IBU BAIK2 SAJA KAN?
Maruti lega karena Dita menjawab bahwa ibunya baik2 saja.
IYA, IBU BAIK2 SAJA, TADI SUDAH DIPERIKSA, DAN RESEPNYA CUMA VITAMIN.
Syukurlah, tapi mengapa Dita mengharap agar dirinya cepat pulang?
"Maruti, nanti tolong antar aku sebentar ya," tiba2 Agus sudah berada didekatnya. Maruti meletakkan ponselnya.
"Bagaimana pak?"
"Tentang bukunya Sasa."
Aduuh... Maruti mengelh dalam hati. Lagi2 bukunya Sasa, memangnya tak ada orang lain yang bisa membantunya membeli buku? Susternya barangkali...
"Bisa kan?" ulang Agus.
"Oh.. ya.. tapi.. "
"Kamu menolak lagi?" tanya Agus penuh sesal. Tampak wajahnya kurang menyenangkan. Hati Maruti menjadi kecut. Bagaimanapun Agus adalah atasannya. Kalau dia menolak terus,.. jangan2...
"Aku sudah janji, dan susternya itu selalu bilang takut salah setiap kali aku suruh memilih.."
"Baiklah pak, tapi sebentar saja ya, ini saya baru saja dapat WA dari rumah, yang menyuruh saya cepat2 pulang seusai kerja," kata Maruti sambil menunjukkan ponselnya.
"Ibumu sakit?"
"Tidak pak, saya juga belum tau, barangkali ada yang penting."\
"Baiklah, hanya memilih buku, lalu aku antar kamu pulang."
Agus kembali keruangannya, membiarkan Maruti selalu bertanya tanya. Hanya memilih buku.. aduuh.. mengapa harus aku.. dan sudah berbulan lalu belum juga terlaksana... jangan2 Agus hanya mencari alasan untuk bisa bersama.
***
"Jadi sebenarnya kamu sudah kenal sama dokter Santi?" kata bu Tarjo setelah Maruti sampai dirumah. Itupun masih diomeli Dita karena tetap saja pulang terlambat walau sudah dipesan wanti2.
"Ketika Maruti mengantar ibu itu, ya baru sekali itu ketemu bu."
"Tapi dokter itu sudah tau namamu. Apa kamu punya masalah dengan dia?"
Maruti terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Apakah dokter Santi mengatakan sesuatu?
"Mengapa ibu bertanya begitu?"
"Nduk, sangat menyedihkan apabila seseorang punya masalah dengan orang lain bukan? Dalam hidup ini, lebih baik kita bersahabat dengan semua orang, bersikap manis, berbuat baik, berperilaku benar."
"Ibu, Ruti tidak mengerti kemana arah perkataan ibu."
"Pertama kali ibu heran ketika dokter Santi bia tau namamu, sementara dulu itu kamu dan Dita tidak saling memperkenalkan nama, ya kan?"
"Oh.. itu terjadi secara kebetulan bu, memang Ruti belum pernah cerita sama ibu ataupun Dita. Dokter Santi itu ternyata bekas isterinya pak Agus."
"Bekas isterinya atasanmu itu?" bu Tarjopun heran.
"Iya, kami bertemu ketika waktu makan siang dia juga datang bersama anaknya pak Agus. Disitulah Ruti tau bahwa dokter Santi itu bekas isterinya pak Agus."
"Apa kamu punya masalah sama dia?"
"Masalah apa bu, ya enggak, kami jarang bertemu kok. Memangnya kenapa bu?"
"Dokter Santi tadi bilang, kamu nggak mau mengantar ibu karena pastinya kamu takut bertemu dia."
Maruti terkejut.
"Dia bilang begitu?"
Bu Tarjo mengangguk.
"Maruti heran, ada apa ya, padahal kami jarang bertemu, apalagi bicara."
"Jangan2 karena kamu terlalu dekat dengan atasanmu, lalu dia cemburu."
Maruti menggeleng gelengkan kepalanya. Ia tau bukan Agus yang menjadi penyebabnya, tapi Panji. Walau begitu Maruti segan menceriterakan masalah itu pada ibunya. Ia tak ingin ibunya kepikiran karena persoalan Panji dan Santi yang rumit itu, dan ada hubungannya dengan dirinya.
"Baiklah, ibu hanya berharap, kamu bersikap baik kepada siapapun juga, dan jangan sampai seseorang menjadi sakit hati karena sikapmu."
"Baiklah ibu, ibu jangan khawatir, Maruti akan melakukan hal yang baik2 saja. Mungkin dokter Santi ingin mengatakan bahwa Ruti rikuh ketemu bekas isteri atasannya, bukannya takut bu." Maruti mencoba menenangkan hati ibunya.
"Baiklah, ibu percaya padamu."
***
Malam itu Santi kembali datang kerumah Panji, namun untuk kesekian kalinya tak ditemuinya orang yang dicarinya. Hanya simbok yang duduk sendirian didepan televisi.
"Nonton apa mbok?" sapa Santi yang tiba2 masuk dan duduk disofa, membuat simbok terkejut.
"Oh.. bu dokter ?" kaget simbok.. silahkan, saya buatkan minuman.
"Jangan mbok, biar saja nanti saya ambil sendiri. Bukankah nanti pada suatu hari juga aku akan tinggal disini?" jawab Santi enteng.
"Oh.. begitu bu dokter?"
"Gimana to simbok ini, apa mas Panji nggak pernah cerita kalau aku ini calon isterinya?"
"Oh, nggak pernah bu.. mungkin karena belum sa'atnya."
"Jam berapa biasanya mas Panji pulang? Berkali kali datang kemari saya nggak pernah ketemu."
"Nggak tentu bu, kadang sore sudah pulang, kadang larut malam, malah kadang juga nggak tidur dirumah."
"Lhoh.. terus tidur dimana dia kalau nggak tidur dirumah?"
"Simbok nggak tau bu, mungkin dirumah mbak Laras."
"Oh.. gitu?"
Tiba2 didengarnya mobil memasuki halaman. Santi merebahkan tubuhnya disofa, ia ingin pura2 tidur, sampai Panji memasuki rumahnya. Simbok beranjak kedepan untuk membuka pintu.
Namun ketika Panji melihat ada mobil dhalaman rumahnya, ia urung turun, diundurkannya lagi mobilnya, dan keluar dari halaman.
"Lho.. mas Panji kok pergi lagi?" teriak simbok.
Santi melompat dari sofa dan berlari keluar, tak ada lagi mobil yang tadi terdengar memasuki halaman.
***
besok lagi ya
Saturday, June 1, 2019
SA'AT HATI BICARA 013
SA'AT HATI BICARA 013
(Tien Kumalasari) M
Maruti terkejut. Ada perasaan tak enak ketika bertemu Santi ketika dia sedang bersama Panji. Dia pura2 tak melihatnya, dan Panji pun seakan tak perduli dengan kedatangan mereka.
Ada lima orang yang masuk kerumah makan itu bersama Santi. Tiga diantaranya adalah laki2. Mereka sedang berembug tentang istilah2 kesehatan yang tak begitu dimengerti oleh orang awan. Dan dari pembicaran itu Maruti tau bahwa mereka pastilah dokter2.
Kelima dokter itu kemudian duduk disebuah meja yang agak besar, yang cukup untuk mereka berlima. Celakanya, Santi duduk menghadap kearah meja yang diduduki Panji dan Maruti, dan dengan begitu tiba2 Santi berdiri lagi dan berjalan kearah mereka.
"Hai mas, hai Maruti, apa kabar?" sapanya ramah.
"Baik, dokter, kebetulan tadi saya bertemu mas Panji dikantor dan.."
"Ya.. ya.. nggak apa2 kok, kami sudah menjadi calon suami isteri dan aku percaya sama mas Panji. Dia laki2 setia, bukan begitu mas?" enteng Santi berbicara, tanpa perduli pada mata Panji yang memendang tajam kearahnya dengan perasaan tak senang. Namun Panji tak mengucapkan kata sepatahpun. Ia meneruskan menyendok makanannya, lalu menghirup seteguk air minumannya.
"Kami para dokter baru saja selesai mengikuti seminar mas, tuh.. dihotel sebelah rumah makan ini. Tapi kami kurang suka makanan yang mereka hidangkan sehingga memilih makan disini."
"Hm.. silahkan, kata Panji singkat.
"Nanti setelah selesai aku akan kerumah ," lanjut Santi yang sama sekali tak dihiraukan Panji. Dan dengan santa pula kemudian Santi kembali kemeja dimana teman2nya sedang sibuk memilih menu yang ditawarkan. Sayup2 Panji mendengar Santi berkata :"Ketemu calon suami." Lalu disambut olok2 teman2nya.
Panji meletakkan sendoknya, kemudian memandangi Maruti yang tampak pucat.
"Kita pulang saja?"
"Mas, aku pulang sendiri saja," kata Maruti sambil meneguk minumannya dan bersiap untuk berdiri.
"Tidak Ruti, kamu datang bersama aku, dan aku akan mengantarmu pulang. Tunggu sebentar."
Panji melaambai kearah pelayan, meletakkan sejumlah uang lalu bergegas keluar sambil menggandeng tangan Maruti. Dari jauh Santi melihatnya dengan mata berkilat. Penuh kemarahan.
***
"Jangan hiraukan kata2 donter sinting itu tadi, " ujar Panji memecahkan kesunyian ketika mereka dalam perjalanan pulang kerumah Maruti.
"Aku takut mas, nanti dokter Santi mengira aku mengganggu hubungan mas."
"Mengapa kamu berkata begitu? Dia bukan apa2 bagiku," kata Panji sengit.
"Tapi terang2an dia bilang bahwa mas adalah calon suaminya, bahkan dihadapan teman2nya."
"Dia itu tak tau malu."
"Mas jangan begitu, dia pasti sangat mencintai mas."
"Dia itu hanya berpegangan pada sikap ibu ketika mau meninggal. Sungguh ibu tidak mengatakan bahwa aku harus menjadi suaminya. Lagipula aku tidak suka dia," wajah Panji muram sekali. Maruti memandanginya dengan perasaan tak menentu. Mengapa dia menolak dokter secantik Santi?
"Bukankah dia cantik sekali, mas cocok kok berdampingan sama dia," kata Maruti sambil menahan kepedihan hatinya.
"Kecantikan saja itu tidak cukup. Cantik itu diluarnya, tapi juga didalamnya. Dan dia tidak memiliki itu."
"Dia itu baik sekali lho mas, aku kan pernah bertemu ketika memeriksakan ibu ke dokter, dan dialah yang menanganinya."
"Ya, semua dokter kan harus bersikap baik kepada pasiennya. Kalau tidak dia tidak akan laku, ya kan?"
"Ah.. nggak juga."
"Maruti, kamu jangan perdulikan dia. Satu yang kamu harus tau adalah bahwa aku tidak suka dia."
"Mas..."
"Astaga, sudah hampir sampai kerumahmu, tapi lupa belikan oleh2 untuk Dita," tiba2 Panji menghentikan mobilnya, didepan sebuah toko roti.
"Mas, ini apa2an?" Maruti bertanya heran.
"Ayo turun, dan pilihkan makanan yang Dita suka."
***
Dita gembira bukan alang kepalang. Ia merasa Panji sangat memperhatikannya, sehingga selalu membawakan oleh2 untuknya. Ada rasa bahagia, dan ada debar aneh ketika Panji memandanginya sambil ter senyum2.
"Kamu suka ?" tanya Panji.
"Suka dong mas, dari mana mas Panji tau kalau aku suka roti sus isi vla ini?" tanya Dita sambil mengguncang guncang lengan Panji.
"Ya tau dong, aku ini kan sakti," jawab Panji dengan senyum menggda.
"Iih.. mas Panji ... " Dita mencubit lengan Panji dengan gemas. Maruti memandanginya sambil geleng2 kepala.
"Mas, bukankah dokter Santi mau kerumah? Mas harus cepat pulang," kata Maruti tiba2.
"Lhoh.. ngusir nih?"
"mBak Ruti gimana sih, mas Panji baru datang.. mengapa disuruh pulang?" Dita cemberut.
"Mas Panji sudah janjian sama seseorang, mbak cuma mengingatkan."
"Nggaaak.. nggak.. jangan percaya mbakmu, ayo buatkan aku minuman, Dita."
"Oke mas," jwab Dita sambil berlari kedalam. Kalau tidak merasa malu, pasti Dita sudah menari nari karena gembira. Alangkah polosnya Dita, sehingga dia telah menyalah artikan sikap Panji yang seperti selalu memperhatikannya.
"Mas, mengapa mas begitu? Nanti dokter Santi kecewa kalau tidak ketemu mas."
"Biarkan saja, aku tidak akan pulang malam ini."
"Maas.. lalu mas mau kemana?"
"Aku akan tidur dirumah Laras."
Maruti menghela nafas panjang, tepatnya menghela nafas lega, karena Panji tidak mau menemui dokter Santi. Namun ia tak menampakkan wajah gembira. Maruti terlalu baik untuk merebut kekasih orang. Ia tak mungkin melakukannya.
***
"Memangnya kenapa kalau dia datang menemui mas?" tanya Laras ketika Panji nekat ingin tidur dirumahnya.
"Kamu ini bagaimana, apa kamu belum mengerti juga kalau masmu ini nggak suka sama dia?"
"Menurut aku, lebih baik mas temui dia. Biarkan dia datang, lalu mas bicara terus terang bahwa mas nggak suka sama dia. Dengan begitu dia akan bisa mengerti dan tak akan mengejar ngejar mas lagi."
"Kamu belum tau watak Santi ya? Dia itu nekat, dan tak tau malu. Sikapku kan sudah menunjukkan bahwa aku tidak suka.. harusnya dia tau dong," kata Panji sambil merebahkan tubuhnya disofa.
"Mas.."
"Kamu nggak suka aku tidur disini, aku tadi sudah minta ijin sama tante kok,"
"Bukan nggak suka, aku tuh sebel banget setiap hari mendenar keluhan mas tentang Santi. Harusnya mas tegas, tidak hanya menunjukkan sikap tak suka. Jelas mas katakan bahwa mas tidak suka sama dia. Dengan begitu dia akan mengerti."
"Oke.. oke.. gadis galak, aku akan lakukan saranmu, tapi sekarang ijinkan aku tidur, aku lelah sekali."
Panji menutup matanya dan memeluk bantal yang ada disofa itu, sambil membelakangi Laras.
***
"mBak, pagi ini obat ibu sudah habis," Dita melapor sebelum Maruti berangkat kerja.
"Kalau begitu kamu ajak saja ibu ke klinik, supaya kita yakin bahwa ibu benar2 sudah sehat."
"Nanti sore?"
"Sekarang saja, pagi2 lebih bagus," jawab Maruti.
"Tidak sama mbak Ruti?"
"Dita, kalau cuma kontrol saja kan kamu bisa mengantar ibu tanpa mbak, masa harus sama mbak sih?" sahut Maruti, tapi sebenarnya bukannya Maruti segan mengantar ibunya, ia segan bertemu dokter Santi.
"Baiklah, nggak papa .. biar Dita antar ibu."
"Nah, gitu donk. Ini.. bawa uang kalau nanti butuh obat2 lagi," kata Maruti sebelum berlalu, sambil mengulurkan sejumlah uang. Kemudian ia kebelakang untuk berpamit pada ibunya.
***
Namun pasien di pagi hari ternyata lebih banyak dari pada sorenya. Datang jam 8.00 pagi, baru jam setengah sepuluh bu Tarjo mendapat giliran masuk untuk diperiksa.
Dita menggandeng tangan ibunya, dan memsuki ruangan dokter Santi.
"Selamat siang dok," sapa Dita ramah.
"Oh... ini.. bu Tarjo kan?"
"Iya dokter," jawab bu Tarjo sambil duduk, didampingi Dita.
"Tumben datang pagi, mana Maruti ?"
Dita terkejut, dulu waktu periksa pertama kali mereka tidak memperkenalkan nama, bagaimana dokter Santi bisa tau nama kakaknya?
"Oh, iya... Maruti kan keja ya, baru sore hari bisa mengantar ibunya. Mengapa tidak nanti sore saja bu, kalau sore kan pasiennya tidak begitu banyak."
"Ya dok, tadi Maruti yang menyarankan supaya kontrol pagi saja," jawab bu Tarjo polos.
Dokter Santi tertawa .. tapi tawa itu terasa seperti mengejek, paling tidak itulah yang dirasakan Dita. Kenapa dokter ini, pikirnya.
"Ya bu, tentu saja Maruti menyarankan periksa pagi, kalau sore kan dia harus ikut, dan dia itu pasti takut ketemu saya."
Kata2 itu bukan hanya mengejutkan Dita, tapi juga bu Tarjo.
***
besok lagi ya
Subscribe to:
Posts (Atom)
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016 (Tien Kumalasari) Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mu...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 30 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi sedang mengingat-ingat, kapan dia mendengar nama Srining disebut. Mungkin Srining ...
-
NAMAKU TETAP SENJA 59 (Tien Kumalasari) Pemeriksaan terus berjalan, hari demi hari. Bu Mery dan Rosa tetap ditahan. Betapa marah Rosa k...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 28 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi mengangkat wajahnya. Menatap laki-laki setengah tua yang berdiri di depannya samb...