SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 023
(Tien Kumalasari)
Lili kesal sekali mendengar jawaban Baroto, ya3ng menyetujui keinginan Ana, bahkan seakan tanpa berpikir panjang.
“Gimana sih Mas, kalau Menur jadi ibunya Ana, berarti istri Mas dong.”
Baroto terbahak-bahak. Tapi Lili tak tahu apa arti tawa suaminya tersebut. Sepertinya senang, atau sedang mengejeknya? Hati Lili sedang kusut, gosokan ucapan Rumi yang kelihatannya dia acuhkan nyatanya tetap disimpan di dalam hati dan membakarnya.
“Mengapa kamu risau? Sesungguhnya Ana memang butuh seorang ibu, dan itu tidak didapatkannya dari kamu. Apa salahnya dia menganggap Menur sebagai ibunya?”
“Rasanya aku tidak rela.”
“Mengapa? Bukankah kamu tak pernah peduli tentang rumah tangga kita?”
“Sekarang aku peduli Mas, aku ingin kita mendandani rumah tangga kita, agar benar-benar seperti rumah tangga. Seperti suami istri.”
“Mengapa tiba-tiba kamu mengatakannya sementara aku sudah jenuh dengan hubungan ini?”
“Apa maksud Mas dengan ‘jenuh’? Kita akan tetap menjalani, dan mari membuat hidup kita bahagia.”
“Telat.”
Ucapan suaminya itu seperti sembilu menancap di dadanya. Terasa sakit.
“Mas, apakah ada yang terlambat untuk memperbaiki sesuatu yang tidak benar?”
“Kamu ini ngomong apa, aku sudah sampai tujuan, sudah dulu dan kamu tidurlah,” kata Baroto yang segera menutup pembicaraan itu. Mungkin memang sudah sampai tujuan, tapi mungkin juga sedang enggan bicara tentang rumah tangganya.
Lili menghela napas berat. Rasa sakit dan kecewa membuatnya susah memejamkan mata. Ia memarahi dirinya yang tiba-tiba mencintai suaminya. Karena Rumi memanas-manasinya? Harusnya dia tak peduli, mengapa jadi peduli? Ia merasa kalah sama Menur. Kalah cantik, kalah dalam merengkuh cinta Ana, dan kalah dalam menarik hati suaminya? Yang terakhir ini masih harus dibuktikan. Ini baru gosokan dari Rumi yang belum terbukti kebenarannya.
***
Dan di malam yang sama, saat Rahman terbangun, ia melihat sang ibu masih terjaga, duduk sendirian di ruang makan. Secangkir kopi menemaninya.
“Mengapa Ibu belum tidur?”
“Mengapa kamu bangun?”
“Ibu ditanya malah ganti bertanya. Rahman kebelet pipis, tapi dari kamar mandi melihat ibu masih duduk sendirian di sini.”
“Ibu sudah biasa tidur malam. Tidak apa-apa, kamu tidurlah, besok jangan sampai bangun kesiangan.”
“Ibu juga harus tidur, supaya besok juga tidak bangun kesiangan.”
Menur tersenyum, lalu berdiri, setelah menghabiskan kopinya.”
“Soalya Ibu minum kopi, jadi nggak bisa segera tidur. Kata orang kalau minum kopi susah tidurnya.”
“Tidak semua begitu. Biasanya ibu juga bisa tidur nyenyak,” katanya sambil mengelus kepala anaknya, kemudian masuk ke kamar masing-masing.
Banyak yang dipikirkan Menur. Tentang hidupnya, tentang anaknya, tentang hubungan Baroto dengan Rahman. Ingin ia lari dari semuanya sehingga hidupnya tidak terbebani. Pertemuan dengan suami yang tadinya pernah diimpikannya, ternyata membuatnya menjadi rumit. Bukan kebahagiaan yang didapatnya, tapi justru penderitaan. Ia ingin menghindar, tapi kasih sayangnya kepada Ana seakan menjeratnya. Ia tak tega meninggalkan Ana. Ia tahu kalau Ana sangat bergantung padanya, bahkan ingin agar dirinya menjadi ibunya.
Entah apa yang dipikirkan Lili ketika mendengar permintaan Ana tadi.
***
Pagi hari itu Ana berjingkrak-jingkrak kegirangan karena mama dan neneknya mengijinkan dirinya memanggil Menur dengan sebutan ‘ibu’. Tak banyak yang dibicarakan Lili ketika bertemu Menur, kecuali hanya menawarkan makan bersama yang sebenarnya hanya basa basi, dan Menur selalu menolaknya.
Rasa kesal kepada Menur yang sebenarnya tak beralasan selalu ditahannya. Ia merasa tak pantas mencemburui Menur yang walau masih kerabat tapi ia merasa lebih tinggi.
Nyonya Sasa pagi hari itu datang ke rumah, karena ingin menemui Menur. Ana sedang berada di ruang belajar bersama gurunya.
“Menur, duduklah di sini.”
Menur duduk di depan bibinya, yang kemudian memberikan sebuah amplop berisi uang.
“Ini dari Ana, jangan kamu anggap ini gaji, karena sekarang kamu adalah ibunya.”
Kata itu terdengar manis. Senang karena dirinya adalah ibu Ana.
“Kamu jangan menolaknya, karena kamu butuh membiayai sekolah anak kamu bukan? Rahman juga butuh makan, pakaian. Dan kalau tidak salah bulan ini Rahman ujian, lalu masuk SMP. Itu tidak murah. Nanti aku akan membantu kalau biaya untuk sekolah Rahman masih kurang.”
Menur menundukkan kepalanya. Ia memang butuh uang tapi untuk makan dan kebutuhan rumah. Bukankah Baroto sudah membayar semua biaya sekolah Rahman? Bahkan untuk masuk ke SMP sudah ada yang mengurusnya, yaitu kepala sekolah Rahman yang ternyata adalah teman sekolah Baroto.
Tapi ia tak mungkin mengatakan semuanya kepada bibi Sasa.
Ketika sedang berbincang itu, tiba-tiba terdengar ponsel berdering dari saku Menur. Menur sangat terkejut. Ponsel Rahman tadi dititipkan padanya, dan dia lupa menyimpannya di rumah, malah terbawa di saku bajunya. Menur takut sekali.
Menur terkejut. Bingung harus bagaimana. Ponsel itu sudah dipegang, terus berdering. Menur mematikannya. Nyonya Sasa melihatnya heran.
“Mengapa dimatikan? Terima saja, kalau kamu tak ingin aku mendengarnya, aku akan menyingkir sebentar.”
“Tidak, tidak Bibi. Ini … bukan telpon untuk saya.”
“Itu ponsel kamu kan? Bagus, itu ponsel mahal,” kata sang bibi lagi.
“Ini, sebenarnya terbawa oleh saya. Ini ponsel Rahman, eh … maksud saya, ponsel temannya Rahman yang dititipkan, tadi lupa … lupa saya berikan, malah terbawa oleh saya.”
“Oh, begitu. Tapi lain kali kamu juga butuh ponsel. Barangkali aku ingin bicara, kalau kamu punya ponsel, kan lebih enak.”
“Ti … tidak Bibi, tidak usah, saya … saya tidak terbiasa memakai … ponsel.”
“Menur, sekarang jaman sudah berubah. Ponsel bukan sekedar untuk menyombongkan diri atau apa, tapi ia sangat berguna karena memudahkan komunikasi. Nanti aku akan belikan kamu ponsel.”
“Tidak Bibi, tidak usah ….”
“Jangan begitu. Kamu itu terlalu sederhana. Kamu harus ingat pada kemajuan jaman. Ana saja bisa memakai ponsel, masa kamu tidak?”
“Saya kira … tidak perlu untuk se … eh … saat ini.”
“Jangan membantah. Sekarang ini aku harus mengajari kamu untuk menjadi perempuan yang mengikuti jaman. Jangan terlalu terbelakang atau kolot. Kamu itu cantik, kamu itu pintar, walau tidak sempat sekolah tinggi. Tapi kamu harus bisa mengikuti majunya jaman,” kata sang bibi tandas.
Menur menundukkan wajahnya. Rasa keterkejutannya tentang ponsel yang berdering masih membuatnya berdebar-debar.
“Ya sudah, kamu lihat apakah Ana sudah selesai, nanti kalau Ana selesai, aku akan mengajak kamu dan Ana berjalan-jalan.”
“Ke mana, Bibi?”
“Namanya jalan-jalan … ya jalan-jalan, pokoknya kita senang. Ana juga pasti senang. Selama ini, aku yang selalu mengajak Ana keluar. Mamanya tidak pernah. Dia sibuk dengan urusannya sendiri.”
Menur mengangguk.
“Saya lihat Ana dulu.”
Nyonya Sasa menatap punggung Menur sambil tersenyum. Menur adalah keponakannya karena anak dari kakak sepupunya. Ia menyayanginya karena merasa sedarah daging. Sepeninggal Menur kedua orang tuanya sudah tak ada. Ia wajib menyayanginya seperti kepada anak sendiri.
Ketika itu Rumi dengan bibir monyongnya sudah kasak kusuk dengan rekan-rekan pembantu yang sedang bekerja di dapur.
“Dengar, ada berita bagus lagi. Tahu nggak, sebentar lagi nyonya besar akan mengajak Menur jalan-jalan. Apa tidak enak? Baru saja masuk sebulan lebih, sudah mendapatkan macam-macam.”
“Masa?”
“Ya tidak apa-apa. Toh Menur tidak pernah mengganggu kita. Dia justru baik kepada kita.”
“Iya, benar, mulut Rumi tuh yang sukanya ngadu-ngadu.”
“Kalian itu dikasih tahu malah menyalahkan aku. Apa kalian tidak iri hati mendepat perlakuan beda?”
“Siapa yang iri hati?”
Rumi hampir terjengkang karena terkejut. Tiba-tiba sang nyonya besar sudah ada di belakangnya.
“Eh, Nyonya. Kami tidak tahu ada Nyonya ..”
“Kamu ngomong apa sama teman-teman kamu?”
“Eh … ti … tidak Nyonya, hanya ngobrol biasa.”
“Kamu, dan kalian … apa nyonya kamu tidak pernah memberi tahu bahwa Menur itu keponakan aku?”
Semuanya terdiam, karena terkejut.
Sebenarnya Rumi sudah bertanya-tanya, mengapa Menur memanggil bibi kepada sang nyonya besar. Tapi nyatanya nyonya Lili tidak pernah mengatakan apa-apa pada mereka. Dan ternyata Menur adalah keponakan nyonya besar? Berarti masih saudara dekat dengan nyonya majikan mereka kan? Wajah Rumi pucat pasi.
“Nyonya, kami tidak pernah mengatakan hal buruk tentang … Men … eh.. keponakan Nyonya. Rumi itu yang suka bicara tentang .…”
“Panggil dia nyonya Menur,” titah nyonya Sasa.
“Baik Nyonya, jawab ketiga pembantu serentak, tapi Rumi menjawabnya dengan gagap.
“Ba … baik Nyonya.”
“Dan jangan sekali-sekali bicara buruk tentang keponakanku, kalau tidak ingin aku pecat.”
“Baik,” jawab Rumi pelan.
Ketika sang nyonya besar meninggalkannya, semua pembantu menuding hidung Rumi dengan marah.
“Dasar bibir monyong. Rasain. Ternyata dia juga seorang nyonya.”
Menur pergi dengan membawa wajah muramnya.
“Masa aku yang salah? Nyonya majikan tidak pernah mengatakannya kalau masih saudara, padahak sudah sebulan lebih dia di sini. Apes aku hari ini, ketahuan nyonya besar ketika sedang ngomongin dia,” katanya dalam hati.
***
Hari itu Ana senang sekali, melihat-lihat toko besar yang menjual baju-baju bagus. Ana memilih-milih, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk ibu Menur.
Berkali-kali Menur menggoyang-goyangkan tangannya, menolak, tapi Ana dan nyonya Lili memaksanya.
“Kamu adalah keponakanku, sama juga anakku, jadi kamu harus berpakaian pantas.”
“Bukankah Bibi sudah membelikannya yang bagus-bagus?”
“Nggak apa-apa ditambah lagi untuk ibu Menur, ya kan Nek?” celoteh Ana.
“Iya benar.”
“Nanti aku juga akan membelikan ponsel untuk kamu.”
“Bibi, sudahlah.”
“Jangan membantah dan jangan menolak,” kata nyonya Sasa tandas.
Nyonya Sasa juga akan pergi ke sekolah Rahman untuk melunasi semua yang harus dibayar Rahman, tapi dia tidak akan mengatakannya kepada Menur. Nyonya Sasa berpikir, kalau dia mengatakannya, maka Menur pasti menolaknya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah Cerbung SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 023 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun.. semoga Bu Tien beserta keluarga sehat selalu.. Aamiin 🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan pak Djodhi
Delete🙏🙏🙏
DeleteMatur nuwun Bunda Tien, alhamdulillah sudah menulis lagi...tetap sehat dan manfaat Bunda Tien..barokalloh
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan ibu Yulian
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteBunda sudah bisa menyapa via cerbung. Terimakasih . Sehat slalu.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan
DeleteMaturnuwun bu Tien
ReplyDeleteSemoga sehat selalu
Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMaturnuwun mb Tien, smg sht sll🙏
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien
Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan
DeleteAlhamdulillah cerbung kesayangan sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Sehat walafiat ya bunda
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan
DeleteAlhamdulillah bunda Tien sudah mulai sehat ,
ReplyDeleteTerima kasih bunda cerbung seorang pengais sampah dan sang putri kecil sudah tayang .
Semoga bunda Tien dan keluarga terussehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🤲🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik unyuk panjenengan
DeleteAlhamdulillah cerbung telah tayang kembali, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah,Menur telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ini ❤️🙏🙏
ReplyDeleteSelamat malam semoga Ibu Tien semakin pulih sehat dan tetap berkarya dg ide ide bagusnya..matur suwun
ReplyDelete