Thursday, October 29, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 39

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  39

(Tien Kumalasari)

 

Bowo mengusap wajahnya dengan kedua belah tangan, kemudian berdiri dan meninggalkan rumah sang ibu dengan kesal.

Pernikahan hanya tinggal sehari lagi, dan sang ibu tetap tak mau datang menghadirinya, apalagi memberikan restu. Endang yang hanya gadis kebanyakan, tak masuk hitungan bagi bu Lurah untuk menjadikannya keluarga.

Bowo pasrah. Ia hanya akan menepati rasa tanggung jawabnya sebagai laki-laki dengan penuh keikhlasan, dan itu adalah karena saran serta petuah seorang nenek yang oleh ibunya selalu disebutnya miskin.

Tapi sekarang Bowo tahu, bahwa miskin harta tidak berarti miskin adab dan tata krama. Nenek tua itu mengajarinya hidup untuk bertanggung jawab. Dan Bowo akan menjalaninya,

Memang tak ada pesta seperti kebanyakan acara pernikahan, tapi rumah Bowo ditata rapi dengan kursi-kursi yang berjajar serta hiasan bunga ala kadarnya, agar tampak bukan seperti acara biasa. Bowo tampak mengatur sendiri semuanya, dibantu para warga di kiri kanannya.

Ada sedih menyengat ketika menyadari bahwa dia akan berdiri sendiri dalam mengawali hidup berumah tangga walau awalnya dilakukan dengan terpaksa. Dan untunglah ada om Harun yang mendukungnya, setelah memberikan petuah-petuah penting yang harus dilakukannya setelah berumah tangga.

“Jalani saja, karena sesungguhnya inilah hidup yang digariskan untuk kamu, dan untuk mengakhiri semua sepak terjang kamu di masa lalu.”

Bowo hanya bisa bersyukur karena akhirnya bisa menjalaninya setelah sebelumnya merasa bingung dan tentu saja bimbang.

***

Acara akad nikah itu berjalan hikmad. Ada rasa syukur di hati Bowo, ketika melihat nenek Suli dan Sarah hadir di antara para tamu. Setelah akad selesai, Bowo mengajak istrinya mendekati nenek Suli dan bersimpuh dihadapannya.

“Eh, berdirilah, jangan begini,” kata nenek Suli sambil menarik Bowo agar berdiri.

“Kami mohon doa restu, Nenek.”

“Aku doakan kalian hidup bahagia, menjadi pasangan yang samawa, dan menjalani hidup dalam tentram dan damai,” kata nenek Suli dengan suara bergetar.

Bagaimanapun dia merasa terharu, si anak nakal yang semula dibencinya sekarang menjadi laki-laki dengan segala kedewasaannya, berani mengarungi hidup berumah tangga dan menebus tanggung jawabnya.

***

“Harun, apa kamu datang di pernikahan memalukan itu?” 

Sempat-sempatnya bu Lurah menelpon di antara acara yang sangat bersejarah bagi kehidupan anak laki-lakinya, tanpa kehadirannya.

“Bowo adalah kemenakan aku, kalau Mbak tidak mau merestuinya, maka aku yang akan melakukannya,” jawab Harun sambil  berdiri lalu keluar dari ruangan, agar tidak mengganggu para tamu undangan.

“Kamu jangan menyalahkan aku. Aku hanya menjaga marwah keluarga.”

“Marwah yang bagaimana? Meminta agar anak Mbak menghindari rasa tanggung jawab?”

“Banyak cara bisa dilakukan, tapi dia tidak mau melakukannya, dan memilih menjadikan gembel itu menjadi istrinya.”

“Hal paling buruk yang aku tidak suka pada Mbak adalah karena Mbak suka merendahkan orang lain. Mbak begitu angkuh dan sombong dengan kekayaan yang Mbak miliki.”

“Kamu tidak usah menggurui aku. Aku hanya ingin mendengar apakah pernikahan sudah berjalan?”

“Untuk apa Mbak menanyakannya? Yang terbaik adalah Mbak datang menunggui dan memberinya restu.”

“Maaf ya, aku sudah punya acara dengan teman-teman aku untuk jalan jalan ke luar kota hari ini, dan ini aku sudah di jalan. Kamu mendengar suara tawa-tawa mereka bukan?”

Dokter Harun menutup ponselnya dengan kesal, lalu melanjutkan berbincang dengan para tamu undangan.

***

“Saya tidak mengira, Bowo bisa menjalaninya dengan baik. Dia juga tampak bahagia, biarpun bu Lurah tidak hadir, " kata Sarah kepada neneknya ketika sudah ada di rumah.

“Sejak awal dia sudah tahu kalau ibunya tidak akan hadir. Itu sebabnya aku mau datang. Kasihan dia. Tampaknya harus ada tetua yang menunggui saat dia menikah," kata nenek Suli.

“Dan syukurlah ada dokter Harun juga ya Nek.”

“Dokter Harun itu adiknya bu Lurah, tapi perangainya sangat jauh berbeda.”

“Karena bu Lurah merasa bahwa dirinya sangat kaya dan harus menjadi wanita yang dihormati.”

“Susah kalau manusia mengabdi kepada harta. Tapi ya sudahlah, tidak baik ngomongin orang.”

“Nenek tadi kelihatan terharu ketika kedua pengantin meminta doa restu.”

“Iya, dan kamu tahu apa yang Njenek pikirkan? Nenek ingin sekali kamu juga segera menyusul dia.”

“Yaaah, Nenek. Sarah kan belum lulus? Bulan ini baru ujian.”

“Jadi setelah lulus kamu mau menikah?”

“Lhoh, Nenek ini bagaimana? Menikah dengan siapa?”

“Bukankah Saptari sudah pernah melamar kamu?”

“Bu Saptari?”

“Bukankah Bimo laki-laki yang baik?”

“Tapi kami hanya bersahabat Nek.”

“Dia pantas menjadi suami kamu. Dia ganteng, baik, sabar, sudah punya penghasilan. Apa kurangnya dia Sar?”

“Nek, Sarah belum ingin menikah. Setelah lulus nanti Sarah mau mencari pekerjaan, agar Nenek tidak usah lagi bekerja keras setiap hari.”

“Jangan memikirkan Nenek, pikirkan masa depan kamu. Nenek ini sudah tua, kalau sewaktu-waktu Allah memanggil, Nenek ingin agar kamu sudah ada yang mendampingi, melindungi, mencintai. Begitu lho Nduk.”

“Nenek jangan mengatakan itu, nanti Sarah menangis lhoh. Nenek masih sehat, dan masih akan lama dalam mendampingi Sarah.”

“Siapa yang bisa menolak kalau Allah menghendaki?”

“Neneeeek, jangan begitu, " rengek Sarah sambil memeluk sang nenek dan berurai air mata.

”Sarah belum siap hidup tanpa Nenek, jangan mengatakan itu lagi ya Nek,” rintihnya. 

Dan sang nenek mengelus kepala cucunya lembut.

***

Hari itu Sarah sudah kembali berjualan koran sepulang sekolah, seperti biasanya. Tapi ia melarang sang nenek bekerja berat seperti sebelumnya. Ia harus istirahat, dan tidak boleh banyak pikiran. Begitu pesan dokter yang ditaati oleh nenek Suli. Tapi nenek Suli selalu berpikir tentang Bimo yang ditolak oleh Sarah. Sebenarnya alasannya bisa dimengerti. Sarah masih sangat muda. Bagi penduduk kota dan di dunia modern, seumur Sarah belum pantas untuk berumah tangga.

Tapi sang nenek yang menganut kebiasaan di jamannya, sudah menganggap bahwa sudah sepantasnya Sarah mendapatkan jodoh.

“Apa sih kurangnya Bimo? Ia akan bisa menjadi pendamping Sarah yang baik.” 

Begitu selalu yang dikatakan nenek Suli.

Sementara itu Bimo sudah tidak lagi menggebu dalam mengejar cinta Sarah. Ia tahu Sarah menolaknya. Ia bahkan merasa bahwa Sarah lebih memilih Fajar yang jauh lebih mapan dan banyak harta. Apakah Sarah mengejar harta Fajar? Tidak. Bimo juga menampik anggapan itu. Dulu ketika Bowo memberinya iming-iming rumah bagus dan mobil berkilat, Sarah tidak tergiur. Tapi entahlah apa maunya cinta. Seperti dirinya sendiri yang memimpikan Mentari. Bukankah ini bagaikan pungguk merindukan bulan? Tapi mengapa rasa cinta mengusiknya? Ia tak tahu mengapa, tapi ia sadar akan dirinya. Barangkali cinta kepada Mentari hanyalah mimpi-mimpi indah yang mengganggunya setiap malam.

“Tak apa, tak ada yang bisa disalahkan ketika cinta menggoda. Tapi aku tahu diri. Semuanya serba tak mungkin.” 

Begitu selalu digumamkannya setiap wajah Mentari mengganggunya.

***

Sudah dua hari sejak pernikahan Bowo, Sarah kembali berjualan koran di perempatan seperti semula. Sarah  heran karena Bimo tak lagi pernah menemaninya. Ada rasa sepi ketika ia berlarian sendiri menyibak keramaian kendaraan yang berlalu lalang, demi rupiah yang diharapkannya. Biasanya ada Bimo yang membantunya.

Tiba-tiba ia melihat mobil berhenti menepi. Sarah berdebar. Itu kan bukan mobil Fajar. Walau begitu ia menunggu, dan seorang gadis berlari ke arahnya.

“Mentari?”

Mentari menubruk Sarah dan menangis tersedu.

“Ada apa Tari? Kamu membuatku takut,” kata Sarah sambil menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya.

“Sarah, mas Fajar kecelakaan.”

“Apa?”

“Lukanya parah. Mobil seorang perempuan menabraknya tanpa ampun.”

“Astaghfirullah.”

***

Besok lagi ya.

32 comments:

  1. 🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung DeCeDeAaeM_39
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk jeng Sari

      Delete
  2. Alhamdulilah
    Terimakasih cerbung nya yang ke 39 udah tayang.
    Semoga Bunda sehat slalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk bapak Endang

      Delete
  3. Alhamdulillah, telah tayang.
    Sehat selalu bunda...aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untukmu Kang

      Delete
  4. Matur nuwun Bu Tien ... Sugeng dalu 🙏

    ReplyDelete

  5. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *DARAH, CINTA
    DAN AIRMATA 39* sudah tayang
    Semoga selalu sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk pak Wedeye

      Delete
  6. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk pak Latief

      Delete
  7. Alhamdulillah
    Terima kadih bunda Tien cerbung yg ditunggu sudah tayang
    Semoga bunda selalu sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk ibu Endah

      Delete
  8. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~39 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk pak Djodhi

      Delete
  9. Matur nuwun mb Tien, smg sht sll🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk Yangtie

      Delete
  10. Alhamdulilah cerbung kesayangan sampun tayang.... maturnuwun sanget bu Tien... semoga bu Tien tansah sehat, rahayu berlimpah berkah aamiin yra..
    Salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk ibu Sri. Aduhai aduhai

      Delete
  11. Alhamdulillah, cerbung DCAM telah hadir, ceritanya semakin seru dan terharu,.. maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk ibu Tatik

      Delete
  12. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk ibu Ida

      Delete
  13. Alhamdulillah
    In Syaa Alloh Happy End
    Syukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah terima kasih bunda , cerbung nya ,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🤲🤲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk ibu Sifa

      Delete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 39

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  39 (Tien Kumalasari)   Bowo mengusap wajahnya dengan kedua belah tangan, kemudian berdiri dan meninggalkan rumah...