DARAH, CINTA DAN AIR MATA 38
(Tien Kumalasari)
Bowo turun dari dalam mobilnya, mobil yang diparkir berhadapan dengannya sudah kosong, berarti pengemudinya tak ada. Ia sudah turun. Dengan perasaan kesal Bowo melangkah ke arah rumah nenek Suli. Bukankah dia berjanji akan mengantarkannya kontrol. Laki-laki kaya itu mendahuluinya.
Bowo berdiri di depan pintu, ia mendengar nenek Suli berbincang dengan laki-laki yang disebutnya Fajar.
“Nak Fajar, maafkan nenek Suli ya. Nenek tahu, maksud nak Fajar baik, ingin menolong nenek Suli, tapi nenek Suli sudah berjanji pada Bowo. Hari ini nenek akan diantar olehnya.”
“Tapi sekarang dia kan belum datang Nek. Lagipula apa Nenek lupa, Bowo pernah menyakiti Sarah?”
“Tidak, eeh tidak lupa, tapi nenek sudah melupakannya, karena dia sudah datang kepada Nenek dan nangis-nangis meminta maaf. Nenek memaafkannya. Mengapa tidak? Kalau Allah saja mau memaafkan umatNya yang bertobat, mengapa seorang nenek tua seperti Nenek ini tidak bisa melakukannya?”
“Iya, syukurlah kalau begitu. Tapi kok dia belum datang ya.”
“Tidak apa-apa seandainya belum datang, Nenek akan menunggu. Tidak enak kan, sudah berjanji berangkat bersama dia, tiba-tiba saya berangkat sama nak Fajar?”
“Bagaimana kalau kesiangan?”
“Tidak Nak, rumah sakit kan buka sampai sore? Terima kasih Nenek ucapkan pada nak Fajar, yang telah bersusah payah datang kemari, sementara harusnya nak Fajar kan bekerja di saat seperti ini? Tapi nenek ini orang miskin, kalau nenek mengingkari janji, pasti orang mengatakan … sudah miskin … ingkar janji … Kan nggak enak. Sebenarnya sih diantar siapapun akan sama, toh maksudnya Nenek harus kontrol kesehatan. Tapi masalah janji itu lho Nak, Nenek tidak bisa.”
“Bagaimana kalau dia tidak datang. Lihat, ini sudah jam sembilan lebih. Nanti antrenya sudah panjang.”
“Tidak apa-apa Nak, nenek tunggu saja sebentar. Nak Fajar boleh pulang dan bekerja. Masa terganggu gara-gara nenek?”
“Saya tunggu sampai dia datang Nek, kalau dia sudah datang, saya akan pulang. Takutnya dia tidak datang.”
“Baiklah, terserah nak Fajar saja.”
Bowo langsung masuk.
“Nenek sudah siap?”
“Nah, itu dia datang.”
“Ada tamu rupanya. Nenek mau berangkat kontrol sama dia?” kata Bowo.
“Tidak, bagaimana kamu ini, kan kamu sudah berjanji dan Nenek sudah menyanggupi, jadi ya Nenek mau berangkat sama kamu. Kecuali kamu membatalkannya.”
“Tidak Nek, seperti janji saya, saya akan mengantarkan Nenek. Nenek sudah bersiap? Tapi kalau Nenek lebih suka diantar mobil yang lebih bagus, ya tidak apa-apa.”
“Kamu itu ngomong apa? Bukan masalah mobil yang seperti apa. Ini janji kamu yang Nenek sudah menyanggupinya.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Nenek sudah menunggu dari tadi. Kamu tidak kenal dia? Dia juga sahabat Sarah dan sangat baik kepada nenek.”
“Oh, sudah kok. Sudah pernah kenal.”
“Kalau begitu ayo saling memberi salam,” perintah nenek Suli seperti kepada kedua anak kecil yang sedang berantem.
Bowo berdiri, dan saling memberi salam. Nenek Suli tersenyum.
“Ayo kita berangkat. Nak Fajar mau ke kantor?”
“Iya Nek.”
Nenek Suli berangkat kontrol ke rumah sakit bersama Bowo. Fajar tak merasa sakit hati. Budi nenek Suli sangat mulia, dan itu berbekas di hatinya. Biarpun dia berbaik hati dan bersusah payah ingin mengantar, tapi nenek Suli tetap tidak mau karena sudah sanggup diantar Bowo. Sebuah sikap yang patut ditiru.
Fajar menuju kantor dengan langkah yang lebih ringan.
***
“Bu Karimun, biar saja nanti Bimo ambil sendiri, bu Karimun selalu memperlakukannya sangat istimewa. Meja makan ditata rapi begitu, seperti menyambut tamu,” kata bu Saptari sambil tersenyum.
“Nak Bimo kan capek bekerja seharian. Biar dia senang kalau kita menyambutnya dengan makanan yang baik, biarpun sederhana. Dengan begitu capeknya bisa hilang.”
“Benarkah?”
“Tentu saja benar.”
“Selama bu Karimun ada di sini, Bimo benar-benar dimanjakan oleh bu Karimun.”
“Tidak, biasa saja. Apa yang bisa saya lakukan untuk memanjakan dia? Semuanya bu Saptari yang menyiapkannya. Saya hanya tinggal menata.”
“Perhatian bu Karimun sangat besar.”
“Saya hanya teringat pada anak saya.”
“Lhoh, bu Karimun punya anak? Di mana dia?”
Tiba-tiba bu Karimun meneteskan air mata, yang kemudian buru-buru dihapusnya.
“Bu Karimun punya anak?”
Bu Karimun hanya mengangguk pelan, kemudian pergi meninggalkan meja makan yang sudah ditatanya rapi.
“Bu Karimun ini aneh, apa sebenarnya yang terjadi? Barangkali anaknya sudah meninggal, sehingga dia tak mampu mengungkapkannya,” gumam bu Saptari yang tak ingin mendesaknya lebih lanjut.
“Bu, bu Karimun mana?” tiba-tiba Bimo muncul.
“Kaget aku, tidak ada suaranya kok tiba-tiba kamu sudah ada di sini. Itu bu Karimun ada di belakang. Baru saja dia di sini tadi.”
“Oh, Bimo membelikan baju untuk bu Karimun.”
“Wah, pasti dia senang sekali. Kamu habis gajian ya?”
“Iya Bu, dan gaji Bimo sekarang jauh lebih banyak. Bimo juga beli untuk Ibu.”
“Syukurlah. Tapi tunggu dulu, akhir-akhir ini kamu kok selalu pulang langsung, biasanya menemani Sarah jualan koran. Apa dia belum mulai jualan lagi setelah neneknya sakit?”
“Entahlah, Bimo kurang memperhatikan juga sih. Besok Bimo akan melihatnya.”
“Ibu merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya kamu sekarang tidak begitu bersemangat mendekati Sarah?”
“Tidak apa-apa Bu, saya pikir-pikir kok lebih baik Bimo melupakannya.”
“Memangnya kenapa? Kok patah semangat. Ada yang lain, barangkali?” goda sang ibu.
Bimo hanya tersipu. Ada yang lain?
“Bimo ke belakang dulu, menemui bu Karimun,” kata Bimo sambil menjauh.
Bu Saptari menatapnya heran. Perhatian kepada Sarah sudah hilang entah ke mana? Kalau ada yang lain, siapa dia?
***
Setelah mengantarkan nenek Suli, Bowo belum juga pulang dari rumahnya. Ia membeli makanan yang dimakannya bersama nenek Suli, dan juga Sarah.
“Terima kasih sudah menemani nenek ya. Tapi lain kali kamu tidak usah repot-repot lagi, kan kamu minggu depan sudah menjadi suami orang. Tidak enak kalau masih selalu memperhatikan Nenek,” kata Sarah.
“Tidak apa-apa kalau hanya mengantarkan Nenek. Istriku harus mengerti, bahwa nenek Suli adalah keluarga aku.”
“Biar bagaimanapun, kamu harus bicara dengan dia.”
“Iya, itu masalah gampang.”
“Terima kasih kebaikannya ya.”
“Untuk menebus semua kesalahan aku sama kamu.”
“Lupakan saja, semua orang pasti punya salah.”
“Besok kalau aku nikah, nenek Suli dan kamu harus datang ya.”
“Tidak usah Bowo, nanti ibu kamu marah. Kami ini keluarga yang tidak berkelas, mana mau bu Lurah melihat kami di pesta pernikahan kamu.”
Bowo tertawa getir.
“Pesta? Ibu tidak akan mau datang.”
“Masa, pernikahan putranya kok tidak mau datang.”
“Calon istri aku hanya orang kebanyakan, bukan dari keluarga seperti yang didambakan ibuku. Sudahlah, jangan bicara lagi masalah itu. Yang penting aku sudah bersedia bertanggung jawab, seperti apa yang dianjurkan nenek Suli.”
“Coba kamu bicara lagi sama ibu kamu. Bicara yang pelan, penuh permintaan maaf dan penyesalan, ibu mana yang tidak luluh hatinya kalau anaknya memohon maaf dan menyesali perbuatannya?”
“Entahlah, aku masih bingung. Pernikahan itu aku sendiri yang mengaturnya. Bukan pesta, hanya pernikahan sederhana di rumah aku saja."
“Baiklah, aku hanya ikut berdoa, semoga kalian bahagia.”
“Tapi bener ya, kamu dan Nenek harus datang?”
Sarah tersenyum.
“Tapi aku nggak janji lhoh.”
“Nanti aku akan bicara lagi sama Nenek. Masa Nenek tega melihatku menikah tanpa ditunggui orang tua?”
***
“Apa maksudmu aku kamu suruh menunggui pernikahan memalukan itu? Lalu yang datang kerabat-kerabat dia yang semuanya miskin dan tidak berkelas? Tidak, aku tidak mau. Aku malah mau pergi jalan-jalan sama teman-teman arisan aku.”
“Bu, tega sekali Ibu ini.”
“Kamu juga tega mempermalukan keluarga ini, mengapa ibu tidak?”
“Bu, tolonglah ikut datang merestui.”
“Tidak ya tidak. Aku mau jalan-jalan!”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah.....
ReplyDeleteYang ditunggu sdh tayang
Salam SEROJA Dhe
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah moga sehat selalu bundaku sayang
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteSemoga sehat slalu. Sudah beraktivitas kembali. Terimakasih Bunda
Alhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Ibu
Trmksh mb Tien, smg sht sllπ
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *DARAH, CINTA
DAN AIRMATA 38* sudah tayang kembali
Semoga selalu sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *DARAH, CINTA
DAN AIRMATA 38* sudah tayang kembali
Semoga selalu sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdulilah cerbung kesayangan sampun tayang... alhamdulilah bu Tien sampun sehat.... jangan capek capek ya bun ... selalu sehat semangar dan bahagia nggih bu... dan tetap aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah, mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~38 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah bunda sdh sehat, mks bun DCDAM sdh tayang, selamat mlm , jaga kesehatan bun
ReplyDeleteAlhamdulillah, nwn bu Tien, sehat selau
ReplyDeleteππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung DeCeDeAaeM_38
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
Alhamdulillah sudah tayang, bunda Tien sdh bisa menyambung cerbung CDDAM eps 38, sehat terus bunda Tien.... Aamiin yaa Rabbal alaamiinπ€²π€²π€²
ReplyDeleteAlhamdulillah,yg ditunggu2 telah datang, maturnuwun Bu Tien, sehat2 selalu Bu, semoga Bu Tien tetap bahagia ditengah2 keluarga tercinta...❤️ππ
ReplyDeleteAlhamdulillah yg ditunggu sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien sehat walafiat terus ya bunda
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah ya Alloh , Mbak Tien sudah sehat ,.in Staa Alloh selalu sehat Aamiin.
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien ❤️❤️❤️❤️❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah bunda Tien sudah sehat jgn lupa jaga kesehatan,
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat,selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT π€²π€²
Terima kasih cerbungnya bunda ππ
Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulillah "Darah, Cinta dan Air Mata 38" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu π
ReplyDelete