SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 014
(Tien Kumalasari)
Menur menatap anaknya yang matanya berbinar. Tampaknya dia senang mendapat jawaban sang ibu. Menur menyimpan rasa nyeri di dalam hatinya, karena dia tahu keberadaannya di sana tidak disukai, terlebih oleh pengasuh Ana yang bernama Rumi. Tapi ia tak mau sang anak ikut merasa sakit ketika tahu bahwa ibunya disakiti.
Sesungguhnya apa yang dilakukan Menur ini bukan karena uang yang dijanjikan, tapi lebih kepada rasa sayangnya kepada Ana, yang begitu mendambakan sebuah kasih sayang dan perhatian. Ana anak yang baik, ia bukan pembangkang dan bersikap semaunya, biarpun dimanja secara materi. Menur akan mengajarkan hal-hal baik, bukan hanya memberinya kasih sayang.
“Ibu mandilah, lalu makan, ya.”
Menur mengangguk, beranjak menuju ke kamarnya, tapi di ruang makan ia melihat makanan yang banyak, padahal dia mau ke dapur dulu untuk menggoreng telur.
“Rahman, ini apa?”
Rahman agak kaget. Ia ingat sang ibu tidak suka dia dekat-dekat dengan om ganteng yang baik hati itu. Tapi ia tak mungkin berbohong.
“Tadi, om Baroto datang kemari,” katanya lirih.
Menur terkejut. Bukan hanya di sekolah Rahman Baroto ingin menemui anak itu, tapi sekarang berani datang ke rumah, membelikan banyak makanan dan itu bukan makanan murahan. Ada ikan, ada daging, nasinya juga sudah siap.
“Apakah Ibu marah? Kita tak mungkin menolak tamu yang datang berkunjung bukan? Rahman tidak minta, tapi ini rejeki bukan Bu?”
Menur tersenyum tipis lalu mengangguk.
“Sekarang Ibu mandi dulu, lalu makan bersama Rahman.”
Hal baru yang dilakukan Rahman. Dulu ia selalu makan terlebih dulu, bahkan bisa menghabiskan semua makanan, tanpa ingat ibunya sudah makan atau belum. Kali ini ia mengajak makan bersama. Pasti bukan karena banyak makanan, tapi karena Rahman memang sudah berubah. Hal itu melegakan hati Menur, membuat rasa kesalnya sedikit mengendur.
Ia segera mandi, lalu menemani Rahman makan.
“Tadi om Baroto bilang, bahwa tak lama lagi akan kembali ke luar negeri, karena pekerjaannya memang di sana,” kata Rahman disela-sela makan.
Tiba-tiba entah mengapa, ada perasaan tak enak menyergapnya. Sedih karena ditinggalkan? Masa iya? Tapi Menur tak mau mengakuinya. Menur bukannya tinggi hati, tapi dia keras hati. Apa yang membuatnya tak harus melakukannya, ia tak akan melakukannya. Baroto ada di dalam dasar hatinya. Ia adalah telaga bening yang sayang untuk diusiknya. Ia sudah punya dunia yang harus digenggamnya, yaitu keluarga. Bukankah cinta tak harus memiliki?
“Tapi om Baroto bilang, dia akan sering pulang kemari,” lanjut Rahman ketika melihat ibunya tak bereaksi. Rahman tak tahu apa sebabnya sang ibu seperti membenci om ganteng yang sangat baik itu.
***
Lili baru selesai mandi malam itu, ia duduk di ruang tengah sendirian, sambil menikmati segelas coklat susu yang disajikan salah seorang pembantunya. Baroto tak kelihatan, mungkin ada di dalam kamarnya. Sepasang suami istri itu memang jarang bercengkrama berdua.
Tiba-tiba Rumi muncul dan langsung bersimpuh di depannya.
Mulut monyongnya segera terbuka, setelah ia menoleh ke kiri dan ke kanan dan tahu kalau tak ada orang di sekitarnya.
“Nyonya … Nyonya …”
Lili meletakkan gelas coklat susu yang selesai dicecapnya.
“Ada apa lagi?”
”Nyonya tahu tidak, tadi, waktu pengais sampah itu mau pulang, tuan menawarkan diri untuk mengantarnya.”
Lili mengangkat alisnya.
“Nyonya harus berhati-hati. Bagaimanapun, pengais sampah itu cantik, saya tahu bagaimana cara tuan memandangi dia.”
“Rumi, kamu jangan mengada-ada.”
“Itu benar Nyonya. Bukan apa-apa, saya hanya mengingatkan agar Nyonya berhati-hati. Ingat nyonya, dia itu ternyata cantik. Apalagi setelah nyonya besar membelikan dia baju-baju yang bagus, bukan baju kumel seperti yang dia pakai ketika mengais sampah.”
Lili tahu, Menur memang cantik. Apalagi kalau dia memakai baju-baju yang bagus. Tapi tak terpikir olehnya kalau suaminya tertarik padanya. Dan kalaupun iya, apakah dia harus peduli? Bukankah ia tak pernah mencintai suaminya?
“Rumi, bawa gelas kotor ini ke belakang,” kata Lili.
“Nyonya, saya hanya mengingatkan,” kata Rumi.
“Ya sudah, sana, aku capek,” kata LIli yang lama-lama sebel juga mendengar ocehan pembantu yang satu itu.
Tapi ketika Rumi sudah pergi, mendadak terbayang olehnya, Baroto mendekati Menur yang cantik. Ada perasaan tak senang. Apakah LIli mulai mencintai suaminya?
Lili memasuki kamar Baroto, dan melihat sang suami sedang melamun di sofa yang ada di kamar itu. Tiba-tiba ada rasa curiga di hati Lili. Jangan-jangan sang suami memikirkan Menur. Tapi perasaan itu ditepisnya sendiri, mengingat Menur baru sehari di rumah ini. Wanita itu begitu sederhana, mana mungkin suaminya yang terbiasa bergaul dengan perempuan luar negri yang pasti lebih sexy dan menarik lalu tiba-tiba tertarik dengan wanita yang sebenarnya adalah adik misannya itu?
Lili akan menutup pintu kamar, ketika tiba-tiba Baroto menyapanya.
“Ada apa? Kamu mencariku?”
Lili mencoba tersenyum. Ia tak bisa menjawab apa alasannya maka harus menjenguk ke kamar suaminya. Hal yang tak pernah dilakukannya bukan?
“Ti … tidak, hanya … “
“Hanya apa?”
Baroto menegakkan badannya, menatap sang istri yang kelihatan seperti orang linglung. Tapi kemudian Lili menemukan jawabannya.
“Kapan kamu kembali ke luar negri?” tanyanya sambil tetap berdiri di pintu.
“Bosan melihat aku terlalu lama ada di rumah?”
“Tidak. Tinggallah sesuka hati kamu. Ini juga rumahmu kan?”
“Aku masih ada urusan dalam beberapa hari ini, mungkin minggu depan aku baru akan kembali.”
“O, baiklah. Selamat tidur,” kata Lili sambil menutup pintu.
Ketika kembali ke kamarnya, Lili heran terhadap dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba mencurigai suaminya tertarik pada Menur? Pasti gara-gara Rumi yang mengadu dengan mulut monyong itu.
“Bodoh, mengapa aku terpengaruh pada perkataan Rumi yang sepertinya ingin memanas-manasi aku? Pasti karena dia iri hati, atau bahkan sakit hati karena perhatian Ana lebih kepada Menur, sementara sudah lama dia yang mengasuhnya. Aku tidak harus memikirkannya.
Tapi ketika ia membaringkan tubuhnya, ia merasa ranjangnya sangat dingin dan membuatnya hampir menggigil. Sungguh aneh. Sepuluh tahun menikah, tidak sekalipun mereka tinggal atau tidur dalam satu kamar. Apalagi seranjang.
Lili menutup wajahnya dengan bantal, lalu berusaha tidur, dengan menghilangkan bayangan-bayangan yang membuatnya merasa aneh.
***
Pagi sekali ketika Ana bangun, ia sudah melompat dari ranjangnya, dan mencari-cari ke sekeliling ruangan. Rumi yang sudah menyiapkan air untuk mandi menyapanya.
“Non Ana mau mandi sekarang? Bik Rumi sudah menyiapkan semuanya.”
Tapi Ana menggeleng.
“Bibi Menur belum datang?”
Wajah Rumi langsung gelap, segelap mendung dimusim hujan.
“Ini masih pagi. Barangkali juga dia belum bangun,” katanya enteng.
“Aku mandi nanti saja, kalau bibi Menur sudah datang.”
“Ya ampun Non, kalau kesiangan nanti tuan dan nyonya marah karena non Ana tidak makan pagi bersamanya,” omelnya sambil menarik tangan Ana.
“Nggak mau. Pokoknya aku menunggu bibi Menur.”
Baru saja Rumi akan menjawab, Menur sudah muncul dari pintu samping. Rumi langsung bergegas ke belakang, sementara Ana berteriak kegirangan.
“Ini ada bibi Menur, aku mau mandi dengan bibi Menur.”
“Mengapa harus mandi dengan bibi Menur? Tadi bik Rumi sudah menyiapkan air hangat untuk Ana bukan?” kata Menur yang rupanya mendengar perkataan Rumi.
“Tapi aku mau mandinya sama bibi Menur.”
Menur terpaksa mengangguk, lalu melayani apa yang menjadi kemauan Ana.
***
Ketika makan pagi bersama ayah dan ibunya, Ana kelihatan sangat senang.
“Mengapa tidak minta agar Menur makan bersama kita?” tanya Baroto tiba-tiba.
“Apa?” Lili tampak terkejut.
“Bukankah Menur itu saudaramu? Mengapa tidak meminta agar dia makan bersama kita sekalian? Mana mungkin kamu tega membiarkan dia makan bersama pembantu.”
Lili baru sadar. Menur memang saudara misannya. Kalau ibunya tahu bahwa Menur dibiarkan makan bersama pembantu, pasti dia kena marah.
“Menur, mana Menur?”
Menur yang sedang membenahi kamar Ana segera keluar mendengar panggilan Lili.
“Ya, saya sedang membereskan kamar Ana.”
“Itu pekerjaan Rumi, biarkan saja,” kata Baroto.
“Menur, makanlah bersama kami,” kata Lili, berusaha ramah.
“Tidak, aku sudah sarapan di rumah.”
“Bibi harus makan bersama kami. Seperti kemarin.”
Menur tersenyum. Kemarin makan bersama Ana, tapi tidak bersama Lili, apalagi Baroto. Maka dia menolaknya dengan halus.
“Sungguh aku sudah sarapan di rumah. Biar aku selesaikan pekerjaan aku. Nanti Ana jadwal sekolah bukan? Aku juga akan menyiapkan buku-bukunya,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.
Diam-diam Lili melirik ke arah suaminya, apa benar, suaminya menatap Menur dengan pandangan yang menurut Rumi kelihatan aneh. Tapi Baroto sudah menundukkan wajahnya sambil menyendok makanannya.
Lili kembali heran memikirkan dirinya sendiri, ada apa dia peduli tentang dengan cara apa suaminya menatap seorang perempuan cantik? Bukankah dia tak mencintainya? Lili tidak sadar bahwa cinta terkadang datang tanpa permisi.
***
Besok lagi ya.
Terimakasih
ReplyDeleteSemoga bunda sehat begitupun keluarga pada sehat.
Alhamdulillah sudah tayang gasik
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Suwun mb Tien🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah terima kasih bunda Tien cerbungnya sudah tayang
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲
Alhamdulillah, telah tayang.
ReplyDeleteSehat selalu bunda...aamiin
Alhamdulillah,bibi Menur Tah tayang, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️😍🙏🙏
ReplyDelete