Saturday, September 19, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 10

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  10

(Tien Kumalasari)

 

Bowo terus melangkah mendekat, tak surut sedikitpun walau nenek Suli menatapnya sengit. Selalu terbayang ketika cucu kesayangannya digelandang ke kantor polisi gara-gara kelakuan Bowo, sehingga ibunya menyeret Sarah ke kantor polisi.

“Ada apa kamu ini? Dan mau apa lagi? Kalau mau membuat keributan lagi, aku akan berteriak agar tetangga datang dan mengusir kamu.”

“Nenek, saya datang untuk meminta maaf. Maafkan saya telah membuat Sarah dibawa ke kantor polisi, maafkan aku, Sarah. Aku mengaku salah.”

“Ya sudah, aku dan Sarah memaafkan kamu, tapi jangan lagi pernah datang kemari.”

“Kan saya sudah meminta maaf Nek.”

“Kalau sudah meminta maaf, lalu kamu berpikir akan bisa sesuka hati kamu untuk datang kemari demi mendekati Sarah?”

“Nenek ….”

“Tidak. Kamu dan keluarga aku berbeda jauh. Kamu kaya dan juga anak orang kaya, sedangkan Sarah anak orang miskin, cucu orang miskin.”

“Tapi saya tidak membedakan keadaan keluarga kita Nek, saya menyukai Sarah dengan tulus, biarpun Sarah adalah  cucu Nenek, yang bukan orang berada.”

“Apapun yang kamu katakan, aku tidak mau mendengarnya. Ibumu sudah menghina keluargaku.Aku akui aku ini miskin, tapi aku tidak berharap bisa sejajar dengan keluarga kamu yang kaya raya.”

“Nek, mohon Nenek memaafkan ibu saya. Yang menjalani itu saya, bukan ibu saya.”

“Memangnya kamu bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan orang tua?”

“Saya sudah berdiri sendiri, dan bisa melakukan apa yang menjadi keinginan saya tanpa melibatkan orang tua saya.”

“Omong apa kamu itu. Mana ada anak berbuat tanpa melibatkan orang tua? Memangnya kamu itu jatuh dari langit?”

“Sarah, bukankah kamu mau memaafkan aku? Ini, terimalah sebagai permintaan maaf aku,” kata Bowo sambil memberikan sebuah bungkusan. 

Entah isinya apa. Tapi Sarah mengacuhkannya.

“Sudah aku maafkan, tidak usah membawa apa-apa untuk aku.”

Tapi Bowo nekat meletakkan bungkusan itu di sebuah bangku yang ada di depan rumah.

“Bawa kembali ini, jangan taruh di situ,” kata nenek Suli.

“Ini hanya sebagai tanda bahwa ….”

Tiba-tiba seorang wanita datang dengan wajah berapi-api.

“Bowo. Apa yang kamu lakukan?”

Bu Lurah tiba-tiba muncul. Ia melihat nenek Suli menuding bungkusan yang diletakkan Bowo, lalu bu Lurah mengambilnya dengan gerakan kasar.

“Kamu memberi apa pada keluarga ini?” hardiknya.

“Bu, mengapa Ibu datang kemari?”

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh lagi mendekati keluarga ini? Ayo pulang.”

“Bungkusan itu biar di sini.”

“Tidak, jangan sekali-sekali memberikan apapun untuk keluarga ini. Ayo pulang!” bu Lurah membawa bungkusan itu dan menarik anaknya untuk pergi.

"Aku hanya meminta ma'af."

"Mengapa kamu meminta maaf? Dasar bodoh."

Suara itu semakin menjauh tapi masih terdengar omelannya di sepanjang jalan.

Nenek Suli mengajak Sarah masuk ke rumah, kemudian menutup pintunya dengan keras.

“Manusia sombong. Biar aku miskin aku tidak mau menerima barang-barang kamu.”

“Sudah Nek, jangan marah lagi. Mereka sudah pergi,” kata Sarah sambil merangkul neneknya.

“Jangan sekali-sekali kamu mau didekati dia.”

“Iya, jangan khawatir Nek. Sekarang Sarah bekerja dulu ya Nek, sebentar saja.”

“Hati-hati dan cepat pulangnya.”

***

Sarah sudah ada di perempatan jalan sambil membawa setumpuk koran. Seperti biasa dia masuk diantara lalu lintas yang berhenti di perempatan karena lampu merah. Lumayan, satu dua koran terjual.

Ketika ia sedang beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, seseorang mendekatinya.

“Sarah, kamu tidak libur?”

“Mas Bimo, ini hari Minggu kok ada di sini, memang kantornya buka?”

“Kamu itu, ditanya belum jawab malah ganti nanya. Aku kan jelas kelihatan pakai baju rumahan, kaos santai, kalau kerja kan nggak mungkin. Kamu itu lhoh, hari Minggu juga cari uang?”

Sarah tertawa.

“Memangnya cari uang harus ingat hari?”

”Umumnya kan kalau Minggu libur?”

“Itu kan anak sekolah, pekerja kantoran, aku kan penjaja koran, nggak ada hari libur dong. Tapi kalau pengin libur ya suka-suka saya, mau Minggu, mau Senen, mau Kamis … ya kan?”

“Iya, anak pintar. Rajin banget kamu.”

”Biasa saja, aku sering jualan walau Minggu, lumayan buat nabung.”

“Apa kamu setelah lulus ingin lanjut kuliah?”

“Ah, ya tidak Mas, mana mampu nenekku membeayai aku kuliah? Ini saja sudah menguras tenaga Nenek, sampai kerja seharian. Makanya aku bantu-bantu jualan begini, supaya mengurangi beban Nenek.”

Bimo mengangguk-angguk. Rasa kagumnya kepada Sarah semakin besar. Ia rajin dan pintar demi meringankan beban neneknya.

“Orang tua kamu di mana?”

“Orang tuaku sudah meninggal dua-duanya, ketika aku masih kecil. Itu sebabnya aku dirawat Nenek.”

“Owh, begitu?”

“Sebentar Mas, sudah lampu merah.”

“Sini aku bantu,” dan tanpa banyak cakap Bimo mengambil beberapa koran Sarah, dibawanya ke tengah jalan dan ikut menawarkannya diantara para pengendara.

Sarah hanya tertawa dan membiarkannya.

Ketika lampu berubah hijau, keduanya berlarian menepi. Bimo mengembalikan sisa koran dan uang koran yang laku.

“Nih, laku hanya satu.”

“Terima kasih ya Mas, ini keuntungannya buat Mas.”

“Nggak mau, ambil saja, aku kan hanya membantu. Lagian cuma bisa laku satu.”

“Aku juga cuma laku dua Mas, nggak apa-apa, terima kasih banyak ya.”

“Ya sudah, ambil saja keuntungannya untuk kamu.’

“Terima kasih ya Mas, mau bersusah payah jual koran untuk aku.”

“Pengin ngerasain … kamu begitu cekatan begitu …”

”Karena sudah biasa …”

“Kamu tidak capek pulang sekolah lalu jualan?”

“Nggak ah, kalau punya keinginan nggak boleh capek. Bukankah uang bisa di dapat karena keringat?”

Bimo, sekali lagi mengangguk kagum. Sarah memang luar biasa.

“Mas kok masih di sini, hari Minggu jalan-jalan, atau pacaran … gitu.”

Bimo tertawa.

“Aku nggak punya pacar. Mana ada gadis yang mau sama laki-laki tidak berduit seperti aku?”

“Eh, nggak boleh bilang begitu. Uang bukan ukuran untuk menyukai seseorang.”

“Haaa, kamu sudah bisa bilang begitu, memangnya kamu pernah menyukai seseorang?”

“Ya tidak Mas, tapi apa yang aku katakan itu benar kan?”

“Sok tahu kamu.”

Mereka menghambur ke jalan lagi ketika lampu merah.

***

Fajar sedang menuju pulang setelah mengantarkan Mentari belanja. Sebenarnya Mentari masih ingin ke tempat lain untuk membeli baju sesuai keinginannya, tapi Fajar mengaku lelah dan minta agar segera pulang.

“Mas Fajar tuh, baru masuk dua toko saja sudah bilang lelah, aku kan belum selesai belanja?”

“Masuk dua toko besar, dan kamu hanya berputar-putar tak segera menemukan yang cocok. Jalan-jalan dan berputar putar di toko besar, kalau dihitung sudah lebih dari sepuluh kilo, bagaimana nggak capek?”

“Ngarang deh, masa sampai puluhan kilo.”

“Kamu tidak segera merasa cocok, dari sini … pindah sana … pindah sini … kembali lagi ke sana … dua toko begitu terus, bayangin, siapa yang nggak capek.”

“Habis belum ada yang cocok.”

“Selera kamu sangat rumit, jadi nggak ada yang cocok.”

“Tapi … eh Mas, kok lewat sini sih.”

"Diam saja, kamu tinggal ngikut, nggak usah protes."

“Mau ke mana sih?”

“Pokoknya diam dulu, nanti juga tahu.”

Mentari heran ketika mobil kakaknya berhenti sebelum perempatan jalan, dan berteriak kepada seseorang.

“Korannya masih ada?”

Sarah terkejut, ia menoleh ke arah mobil. Senyumnya mengembang ketika melihat Fajar melongok dari jendela.

“Koran Pak?”

Fajar tertawa.

 "Koran Minggu ya?”

“Ya Minggu, ini kan hari Minggu?”

Tapi tiba-tiba Mentari berteriak.

“Haa? Kamu Sarah?”

Sarah terkejut, ternyata Fajar tidak sendiri, dan gadis di sampingnya itu sangat dikenalnya.

“Kok kamu? Kamu jualan koran?” tanya Mentari heran. 

“Iya, baru tahu ya?”

Mentari turun, lalu ia melihat ke arah laki-laki yang berdiri tak jauh dari Sarah.

”Itu pacar kamu?”

Sarah terbahak.

“Dia sahabat aku. Kalian dari mana?”

“Tunggu, kenapa wajah pacar kamu itu mirip sekali dengan kakak aku?” pekik Mentari yang didengar juga oleh Bimo.

***

 Besok lagi ya.

17 comments:

  1. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  2. 🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_10
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah. Matur nuwun Bunda
    Semoga sehat slalu beserta keluarga.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, sudah tayang.
    Sehat selalu bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku, DARAH, CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah DeCeDeAaeM_10 sudah hadir.
    Rasain lo Bowo, dimarahin sama nenek Suli.....

    Matur nuwun Dhe, salam SEROJA dan tetap semangat ADUHAI, berkarya nyenengke ati pembaca.
    Aja kesel² dijaga kesehatannya.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sdh tayang ... semoga ibu Tien sekeluarga sll sehat walafiat dan penuh berkah aamiin yra .. salam aduhai aduhsi bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah DCAM telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~10 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang aamiin

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 10 "
    Sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin

    ReplyDelete
  12. Terima kasih bunda Tien cerbungnya,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🀲🀲

    ReplyDelete
  13. Nah kan...sudah ada konfirmasi Mentari juga tentamg kemiripan wajah Fajar dan Bimo? Mungkin saja mereka saudara kembar yang terpisah, makin seru nih ceritanya...πŸ˜€

    Terima kadih, ibu Tien...sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete
  14. Terima kaih bunda..slm sht dri skbmi unk bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 018

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  018 (Tien Kumalasari)   Merasa tak diperhatikan saat mengadu kepada nyonya majikannya, Rumi m...