DARAH CINTA DAN AIR MATA 08
(Tien Kumalasari)
“Sarah? Kamu ada di sini?”
Pertanyaan itu belum dijawab. Sarah lebih mengagumi sosok ganteng yang sekarang berdiri di depannya.
“Kok Mas ada di sini?” malah dia ganti bertanya.
“Aku mengantarkan adikku. Ternyata kamu temannya. Adikku Mentari, kamu kenal pastinya?”
“Oh, saya sudah ketemu tadi.”
“Sekarang kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Pulang? Pestanya baru mulai, lihat, mereka sedang memotong kue ulang tahun.”
“Nggak apa-apa, takut pulang kemalaman.”
“Rumahmu di mana?"
"Jauh, sudah ya, sampaikan salam saya untuk Mentari."
“Sarah, tunggu.”
Sarah berhenti melangkah. Fajar menatapnya tak berkedip. Pasti karena penampilan Sarah terlihat aneh, pikir Sarah. Baju yang tidak mewah, sepatu yang merk biasa dan hanya pantas untuk pergi ke sekolah, juga wajah yang tidak dipoles dengan riasan mahal kecuali bedak merk murahan, tanpa oles bibir dan alis dan dibiarkan apa adanya. Tapi sebenarnya Fajar mengagumi Sarah atas semua yang ada pada dirinya, berbeda dengan apa yang dipikirkan Sarah.
“Ada apa? Saya kelihatan aneh bukan? Baju usang, sepatu murahan, apa lagi?”
“Mengapa kamu berkata begitu? Kamu kelihatan cantik alami,” kata Fajar.
Sarah tertawa kecil, lalu ingin melanjutkan langkahnya.
“Berhenti dulu Sarah, pulang sebentar lagi, nanti aku antar.”
“Tidak usah. Saya mencari ojol saja. Maksud saya, ojol yang bisa dipesan offline, biasanya ada di dekat-dekat sini.”
“Sarah, ini masih sore.”
“Mengapa Mas menahan saya, sedangkan mereka tidak suka melihat saya dengan penampilan buruk seperti ini? Lihat, saya tidak sepadan dengan mereka bukan?”
“Kamu istimewa. Tidak menyolok seperti gebyarnya dandanan mereka. Kamu tampak natural dan itu sangat indah.”
Sarah kembali tertawa.
“Jangan menyenangkan hati saya dengan ungkapan itu, saya tak ingin ikut pesta, nanti bisa merusak suasana," kata Sarah
“Mas Fajar? Kamu di mana? Ini, aku kenalkan dengan teman-teman aku,” sebuah teriakan terdengar, diantara hingar bingar tepuk tangan setelah lagu ulang tahun selesai berkumandang.
Sarah mempercepat langkahnya, dan Fajar terus mengikutinya.
Ketika Sarah berdiri di tepi jalan untuk mencari ojol yang barangkali mangkal di sekitar tempat itu, sebuah mobil berhenti di depannya.
“Sarah, ayo aku antar, jangan begitu, tak ada ojek di sekitar tempat ini.”
Sarah termangu, ia juga tidak tahu di mana menemukan pangkalan ojek. Ia harus mencari, dan ketika sedang berpikir, Fajar sudah ada di depannya.
“Naiklah, jangan bandel, nanti kamu diculik orang bagaimana?”
Sarah menurut ketika Fajar membukakan pintu, dan persis ketika ia mau masuk, sebuah teriakan lain terdengar.
“Sarah!”
Sarah menoleh, tapi hanya sekilas. Ia segera masuk dan membiarkan Fajar menutup pintunya, lalu masuk dari samping yang lain, dan mobil itupun melaju.
“Pasti mereka kehilangan kamu. Apa kamu pamit pada teman-temanmu?”
“Tidak, mereka pasti tahu, kalau tidak ada, berarti sudah pergi. Tidak perlu repot kan?”
“Ada yang mengikuti kita. Mobil itu, aku seperti pernah melihatnya.”
“Aku tadi diantar oleh dia.”
“Apa? Bukankah itu laki-laki yang mengganggu kamu dan membuang sisa koran kamu ke tempat sampah?”
“Mas masih ingat ya?”
“Tentu saja aku ingat, aku pernah memelintir tangannya sebelum dia kemudian kabur. Bagaimana bisa kamu tadi diantar oleh dia? Kamu tidak takut diganggu lagi oleh dia? Tampaknya dia laki-laki yang berbahaya, kelihatan dari matanya.”
“Aku sedang mencari ojek tadi, lalu dia menawarkan mau mengantar. Aku terpaksa mau, dengan janji dia tak boleh menutup kaca jendela mobilnya.”
Fajar tertawa.
“Memangnya kenapa?” kata Fajar.
“Aku mau karena terpaksa, tapi aku takut dia berbuat yang tidak baik. Kalau jendela kaca ditutup aku tidak bisa berteriak minta tolong, jadi aku minta jendelanya terus terbuka," lanjut Sarah.
“Memangnya dia tidak bisa menutupnya secara otomatis?”
“Aku taruh tas kecilku ini di sela-sela jendela.”
Fajar terbahak.
“Anak pintar.”
Tapi Sarah tidak bisa tertawa. Barangkali dia kelihatan bodoh, karena kalau dipikir-pikir, bisa saja Bowo melakukan hal buruk. Seberapa sih kekuatan Sarah dengan tas yang dipalangkan pada jendela mobilnya? Tapi nyatanya Bowo menepati janjinya, jadi dia memaafkannya. Tapi ketika kemudian ia melihat Bowo ternyata masih menungguinya dan siap mengantarkannya lagi, Sarah memilih ikut Fajar, yang sudah diketahuinya bahwa dia laki-laki baik yang pernah menolongnya.
“Jadi kamu datang ke pesta ulang tahun teman kamu, hanya untuk mengucapkan selamat, lalu pulang?” kata Fajar lagi.
Sarah diam. Sebenarnya ia masih ingin berbaur dengan mereka, tertawa-tawa bersama, bergurauan seperti ketika berada di sekolah saat istirahat tiba, tapi sebuah suara tadi menyurutkan keinginannya. Ternyata dia memang tidak pantas bersama mereka. Berbeda kalau di sekolah, mereka mengenakan baju dan sepatu seragam yang sama. Tapi di sebuah pesta? Sarah mentertawakan dirinya sendiri, yang seperti tidak tahu diri. Ternyata dia berbeda dengan mereka.
“Sarah, kok diam saja? Kamu tidak takut kan, dan karena itu kamu tidak minta agar jendela mobil itu aku buka saja?” goda Fajar.
Sarah tertawa kecil. Cuaca agak gelap, sehingga Fajar tidak melihat lesung pipit di pipi Sarah yang sering dia lihat setiap bertemu dengannya,
“Semoga benar perkiraanku, bahwa Mas bukan orang jahat.”
“Terima kasih Sarah,” kata itu lembut.
"Dan entah mengapa membuat Sarah kemudian menoleh kepadanya, dan di saat itu pula Fajar juga sedang menoleh kepadanya. Wajah yang samar, tapi sebuah kilatan melintas, dari hati masing-masing. Kemudian keduanya menatap kembali ke depan dengan debar yang entah darimana datangnya.
Beberapa saat lamanya mereka terdiam, sampai ketika Fajar melihat ke arah spion, dan masih melihat mobil yang tadi masih mengikutinya.
“Masih mengikuti juga? Jangan-jangan dia marah karena aku mengantarkan kamu," kata Fajar
“Tadi aku sudah bilang tidak, ketika dia menawarkan akan menjemput aku.”
“Sekarang dia masih mengikuti kita.”
“Rumahnya sejalan dengan rumah aku.”
“Owh. Kalau dia marah, bagaimana?”
“Mengapa marah? Aku bukan siapa-siapanya. Dia malah pernah membuat aku ditahan di kantor polisi, hampr semalaman.”
“Kamu? Kenapa?”
Dengan singkat Sarah mengatakan semuanya.
“Dan kamu masih mau diantar olehnya?”
“Tadi terpaksa karena tidak mendapat angkutan umum, dan dia sudah meminta maaf berkali-kali.”
“Kamu terlalu gampang percaya. Lain kali kamu harus berhati-hati.”
Sarah hanya mengangguk.
Ketika mobil Fajar berhenti di sebuah gang di mana Sarah memintanya, mobil Bowo tampak melintas, tapi tidak berhenti.
“Rumahmu di mana?”
“Sudah, di sini saja.”
“Rumahmu di mana, kok di sini saja sih?”
“Masuk gang itu, biar aku jalan saja,” kata Sarah sambil turun.
“Terima kasih banyak ya Mas, sudah susah-susah meninggalkan pesta untuk aku," lanjut Sarah.
“Aku hanya mengantarkan adikku, tidak ikut pesta.”
Sarah berjalan dan Fajar terus mengikutinya, sampai kemudian Sarah memasuki sebuah pekarangan kecil.
“Sudah, pergilah.”
“Ini rumah kamu?”
“Rumah nenekku, aku tinggal bersama Nenek.”
“Tidak mempersilakan aku singgah?”
“Tidak, sudah malam. Pokoknya terima kasih,” katanya sambil terus melangkah mendekati rumah.
Fajar terus menatapnya, sampai ia melihat seorang perempuan setengah tua membukakan pintu untuk Sarah.
***
Fajar kembali ke rumah Silvi di mana masih ramai di sana, oleh tawa dan canda, diantara lagu-lagu yang dikumandangkan oleh seorang penyanyi dengan orgen tunggal.
Fajar kembali duduk di sudut, agak jauh dari keramaian, di sebuah bangku dibawah pohon rindang.
Ia hanya menatap mereka. Mereka anak-anak muda belasan tahun, dan Fajar merasa masa-masa itu sudah lewat. Ia hanya menikmati minum dan makanan yang disediakan.
“Ya ampun Mas, kamu tadi kemana?”
Teriakan kecil Mentari terdengar mendekat, kemudian menarik tangan kakaknya.
“Ayo ke sana Mas, aku kenalkan dengan teman-teman aku. Siapa tahu Mas cocok dengan salah satunya.”
“Nggak usah, aku di sini saja.”
“Mas Fajar kok gitu, sudah tua juga belum punya pacar, ayo lihat mereka.”
“Mereka masih anak-anak.”
“Mereka hampir lulus, seperti aku, hampir jadi mahasiswa, sudah boleh pacaran, kata ibu,” kata Mentari mengutip kata ibunya yang pernah didengar, bahwa kalau sudah kuliah baru boleh pacaran.
“Ayo Mas, Mas boleh pilih salah satunya, mereka semuanya cantik.”
“Aku sudah dapat. Jadi tidak usah memilih lagi.”
“Apa? Sudah dapat di mana?”
“Ya di sini.”
“Siapa? Mana dia?”
Fajar hanya tertawa.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteDeCeDeAaeM_08 sdh hadir.
Matur nuwun
Alhamdulillah bunda udah berkurang sakitnya
ReplyDeleteSehat selalu doaku bunda
🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung DeCeDeAaeM_08
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷
Suwun mb Tien🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien
Mugi2 Ibu sekeluarga tansah pinaringan sehat.
Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~08 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 08 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah, sudah tayang.
ReplyDeleteSehat selalu bunda...aamiin.
Alhamdulilah, cerbung kesayangan sampun tayang ... maturnuwun bu Tien ..
ReplyDeleteSemoga ibu segera sehat kembali ... jangan capek capek ya bun... salam hormat dan aduhai aduhai bun❤️❤️❤️
Alhamdulillah "Darah, Cinta dan Air Mata 08" sdh tayang. Matur nuwun & sugeng dalu Bu Tien🙏
ReplyDeleteAlhamdullilah .trima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm slmt isyrht..slm seroja dan aduhaaaiii unk bunda 🙏🥰👍🌹
ReplyDeleteTerimakasih.... Nuhun ... Nuhun
ReplyDeleteSedah kembali menemani pembaca cerbung.
Alhamdulilah Bunda. Semoga sehat slalu. Salam Aduhai... Hai... Hai.
Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH, CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 08 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah, terimakasih bunda Tien, semakin sehat, bahagia, dan tetap semangat💪💪
ReplyDelete