DARAH, CINTA DAN AIR MATA 07
(Tien Kumalasari)
Sore hari itu Mentari menarik-narik sang kakak agar mau mengantarkannya ke pesta ulang tahun temannya, dan akhirnya Fajar memang bersedia. Dia sangat menyayangi adiknya, dan selalu tak tahan mendengarnya merengek-rengek.
Fajar sudah duduk sebagai pimpinan perusahaan milik orang tuanya, sedangkan Mentari masih duduk di bangku SMA.
Keduanya sejak kecil sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, pak Pranoto dan istrinya. Tapi mereka anak-anak pintar dalam pendidikannya. Usia mereka terpaut jauh, sekitar tujuh tahunan. Fajar sudah agak besar ketika Mentari dilahirkan. Kehadiran Mentari memang seperti Matahari pagi yang menyinari kehidupan keluarga Pranoto, setelah lama tidak mendengar tangisan bayi ketika Fajar semakin besar.
Keduanya tersenyum melihat Mentari terus merengek merayu sang kakak agar mau mengantarkannya datang ke pesta ulang tahun temannya.
Mereka diam dan tidak membantu merayu Fajar, karena mereka sudah tahu bahwa Fajar tak pernah sampai hati membuat adiknya kecewa.
Mereka berangkat setelah berpamitan kepada ayah ibunya.
“Nanti mampir beli kado ya Mas, Mas yang kasih uangnya lhoh,” Mentari masih merengek ketika mereka mau masuk ke dalam mobil.
“Kado buat teman kamu, ya kamu sendiri yang harus membelinya.”
“Aaa, Mas Fajar gitu amat sih, beliin pokoknya.”
“Ya sudah masuk saja ke mobil, nggak usah merengek-rengek begitu.”
Ketika mobil itu berlalu, pak Pranoto dan sang istri geleng-geleng kepala.
Mereka tampak bahagia, dengan memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan.
“Kebahagiaan kita sudah lengkap ya Bu, dengan kehadiran dua orang anak itu.”
“Benar Pak. Mereka anak-anak baik, yang bisa membuat hidup kita penuh warna.”
***
Sarah berdandan cantik. Hanya dengan pakaian sederhana, yang dibelikan sang nenek ketika dia naik kelas sebagai juara. Ia sangat menyukai baju itu. Baju satin berwarna hijau muda dengan renda-renda di lengan dan lehernya. Baginya baju itu sudah sangat mewah. Nenek membelinya di sebuah pasar loak. Bekas dipakai tapi masih bagus. Harganya tentu saja tidak mahal, tapi Sarah sangat menyukainya. Baju itu baru sekali dipakainya, ketika mengantarkan sang nenek pergi kondangan di kampung sebelah. Sarah tampak sangat cantik dan menarik perhatian banyak orang. Cucu nenek Suli cantik ya? Dan Sarah hanya menanggapinya dengan senyum tersipu. Sejak itulah sebenarnya Bowo tertarik pada Sarah. Hanya saja Sarah tidak pernah mempedulikannya. Ia baru awal kelas tiga SMA dan belum mengenal cinta. Yang ada dipikirannya adalah belajar, agar bisa lulus nanti dengan nilai bagus, lalu dia akan mencari pekerjaan agar sang nenek tidak bekerja terlalu berat.
Sore hari itu ia berputar di cermin retak yang ada dikamarnya. Sang nenek manatapnya sambil tersenyum.
“Kamu cantik sekali, Sarah.”
“Nek, kan aku cucu Nenek. Karena Nenek cantik, cucunya juga cantik dong.”
Sang nenek terkekeh.
“Mana ada nenek-nenek keriput yang cantik.”
“Dulu, Nenek pasti juga cantik. Sisa-sisa kecantikannya masih kelihatan lhoh.”
“Kamu ada-ada saja. Sudah, berangkat sana. Ingat, jangan pulang sampai malam. Kalau pesta belum selesai, kamu pulang lebih dulu saja.”
“Iya Nek, pasti,” katanya sambil memakai sepatu.
Sepatu satu-satunya yang juga dipakainya untuk sekolah. Karena Sarah tidak punya sepatu khusus untuk ke pesta. Baginya itu sudah cukup.
Sang nenek melepas kepergian cucunya dengan terharu. Ia tahu, sebagai anak muda pasti Sarah juga ingin bergaul bersama teman-temannya. Ia juga terharu, ketika tadi melihat Sarah membungkus sesuatu dan dibungkusnya serta diberinya pita. Ketika sang nenek bertanya, kado apa yang akan diberikan untuk temannya, Sarah hanya tersenyum kecil.
“Hanya sebuah diary.”
“Apa itu?”
“Ini buku harian, untuk mencatat kejadian sehari hari.”
“Temanmu suka belanja sendiri ya. Makanya kamu beri buku catatan harian?” tanya sang nenek polos.
“Bukan catatan belanjaan Nek, tapi catatan kejadian sehari-hari, terserah dia mau mencatat apa.”
“Ya sudah ah, Nenek tidak akan mengerti,” gumam Nenek, dan Sarah tersenyum sambil mencium tangan sang nenek.
***
Sarah sedang mencari ojol di tepi jalan. Biasanya banyak ojol mangkal di sana.
“Kok sepi ya, masa aku harus ke sana jalan kaki? Sanggup sih aku, tapi ini kan malam. Lagi pula kalau datang terlambat aku malu dong.”
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti.
Sarah terkejut melihat siapa pengemudinya. Ia melihatnya ketika kaca jendela depan mobil itu terbuka.
“Sarah, mau ke mana?”
Sarah melongok lagi ke arah di mana biasanya para ojol mangkal. Tetap tak ada.
“Sarah, mau ke mana?” pertanyaan itu diulangnya.
Ia adalah Bowo, laki-laki yang dibencinya. Kepalanya tidak lagi diperban, tapi masih ada plester menempel.
“Ayo aku antar.”
“Tidak, aku sedang menunggu ojol.”
“Tidak ada ojol jam segini, jangan takut, aku tidak akan berbuat macam-macam.”
Bowo turun dari mobilnya. Berjalan mendekati Sarah, Sarah menjauh.
“Sarah, aku benar-benar tidak bermaksd buruk. Dari pada kelamaan menunggu ojol, aku antar. Sumpah, aku hanya ingin menolong."
Sarah bingung. Ojol benar-benar tak ada. Masa ia harus kembali pulang?
“Sarah, ayolah. Aku menyesal selalu mengganggu kamu, aku berjanji tak akan melakukannya lagi. Aku bahkan berniat datang ke rumah kamu untuk meminta maaf, kepada kamu, juga kepada nenek Suli.”
Sarah menghela napas. Ia berusaha percaya.
“Baiklah, aku mau, tapi jendela mobil jangan ditutup.”
Maksud Sarah adalah kalau Bowo bertindak macam-macam maka dia akan berteriak.
“Baiklah, kaca jendela biar saja terbuka,” kata Bowo sambil membuka pintu mobilnya.
Ketika masuk, Bowo juga membuka kaca mobilnya, seperti permintaan Sarah, dan Sarah meletakkan tas tangannya sedemikian rupa sehingga mengganjal kaca mobil seandainya Bowo nekat menutupnya.
Tapi Bowo menepati janjinya. Ia tetap membukanya sampai kemudian Sarah sampai di sebuah rumah yang ramai dengan lampu gemerlap dan banyak anak-anak muda di sana.
“Sudah, aku turun di sini saja. Terima kasih,” katanya sambil beranjak turun.
“Nanti aku jemput?”
“Tidak. Tidak usah.”
Sarah berpikir di lokasi itu pasti lebih gampang mencari ojol, atau dia juga bisa minta tolong temannya untuk memanggil ojol kalau dia mau pulang.
Sarah berjalan memasuki halaman, lalu menghilang diantara teman-temannya.
Bowo membawa mobilnya pergi, tapi dia bermaksud menjemputnya nanti walau Sarah sudah menolak.
***
Ketika Sarah datang, sudah banyak teman-temannya yang datang. Ia mendekati Silvi, temannya yang ulang tahun. Ia memberikan sebuah kado yang dibungkus cantik.
“Selamat ulang tahun Silvi, sehat bahagia dan panjang umur ya,” kata Sarah sambil mencium pipi harum yang dipoles cantik.
“Terima kasih Sarah, kamu mau datang dan repot untuk aku.”
“Tidak apa-apa, pengin ketemuan di sini saja, pasti seru.”
Sarah anak yang pintar di sekolah dan disukai banyak teman-temannya, termasuk Silvi. Wajar kalau ada satu atau dua yang tidak suka. Mungkin karena kalah pintar, atau merasa bahwa Sarah hanya orang biasa yang tidak pantas berdekatan dengannya.
Sekolah Sarah adalah sekolah favorit. Murid-muridnya kebanyakan anak orang kaya, dan pintar-pintar. Sarah bisa diterima karena nilai kelulusan SMP nya sangat bagus. Dia juga mendapat bea siswa karena mendaftar sebagai anak orang yang kurang mampu, tapi sangat pintar.
Ketika Silvi berdiri di depan sebuah meja dengan taart besar terhias indah, semuanya diminta berdiri mengelilinginya.
Suara lagu ulang tahun menggema dengan riang. Tapi tiba-tiba Sarah mendengar sesuatu yang membuatnya surut, lalu beberapa langkah dia mundur ke belakang, dan berdiri tidak sejajar dengan teman lainnya.
“Kamu lihat Sarah? Ya ampun, kampungan banget, lihat, pakai baju usang dan sepatunya tuh, bukankah itu sepatu yang dipakainya sekolah?”
Lalu terdengar tawa kecil yang nadanya mengejek.
Sarah menghela napas. Ia tak perlu membela diri, atau menjawab walau hatinya sakit. Ia hanya mundur, dan berusaha kabur.
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
“Sarah?”
Sarah menoleh ke arah datangnya suara.
"Eh, ada mas ganteng di sini?" kata batinnya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun wuk
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih. Udah tayang cerbung hari ini. Semoga Bunda dan keluarga tercinta sehat walafiat.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget bapak Endang
Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien .. cerbung kesayangan sampun tayang. Semoga bu Tien, pak Tom dan semua amancu sehat walafiat.. salam hormat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Sri. Aduhai aduhai
π·ππ·ππ·ππ·π
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung DeCeDeAaeM_07
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
π·ππ·ππ·ππ·π
Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~07 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Suwun mb Tienπ
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 07 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin π€²πππππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget pak Herry
Matur nuwun mbak Tien-ku, DARAH, CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget pak Latief
Alhamdulillah cerbung DCDAM sudah tayang .
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien,
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Sifa
Alhamdulillah telah tayang.
ReplyDeleteSehat selalu bunda...aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget Kang
Alhamdulillah Sarah telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Tatik
Mks bunda....selamat malam....selamat istirahat
ReplyDeleteSami2 ibu. Selamat siang
DeleteTerimakasih bunda Tien, salam sehat, bahagia dan tetap semangat
ReplyDeleteSami2 ibu. Salam sehat juga
DeleteHmm...Sarah cari ojol? Bukankah dia tidak punya HP untuk memesannya? Ataukah ojol sekarang bisa diorder tanpa aplikasi? Ojek pangkalan kali ya...π€
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...sehat selalu.ππ»πΉ
Ada dong.. ojol yang tidak online?
DeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien cerbung yg ditunggu sdh tayang smg sehat selalu
ReplyDelete