Tuesday, September 15, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 06

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  06

(Tien Kumalasari)

 

Sarah menutup mulutnya melihat kedua laki-laki itu menatapnya heran. Kemudian mereka saling tatap. Benarkah wajah mereka mirip?

Tapi kemudian Fajar melangkah menuju mobilnya, lalu pergi begitu saja. Ucapan Sarah dianggapnya hanya sebagai gurauan. Masa dia mirip laki-laki berpakaian sederhana bersepatu lusuh dan berjalan kaki entah dari mana datangnya?

Ketika ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu, Bimo lebih mendekati Sarah, dan menanyakan pendapatnya tentang wajah mereka.

“Kami mirip?”

“Iya Mas, masa aku bohong?”

“Dia orang kaya. Kok bisa mirip orang miskin seperti aku?”

”Aku juga tidak tahu, bagaimana ada orang semirip itu. Padahal kalian bukan anak kembar.”

“Ada-ada saja. Tapi di dunia ini banyak orang mirip. Kamu kelihatan sangat heran.”

“Memang, tapi miripnya kebangetan.”

“Seneng sih dibilang mirip, berarti ada temannya, tapi keberuntungannya kok nggak mirip ya?” canda Bimo.

“Maksudnya ….”

“Keberuntungannya, aku orang biasa, dia orang kaya.”

“Kaya atau miskin itu bukan ukuran. Yang miskin belum tentu jelek, yang kaya belum tentu baik. Seperti kemarin itu, aku dibawa kekantor polisi, tahu nggak sih? Malam-malam pula. Eh, sore. Orang kaya bisa melakukan hal semau dia."

“Kamu? Dibawa ke kantor polisi?”

“Iya. Gara-gara aku mukul orang sampai berdarah-darah.”

“Apa? Kamu memukul orang sampai berdarah-darah?”

“Sebentar, lampu merah, aku harus membawa sisa koran ini, siapa tahu laku,” kata Sarah sambil berlari menyusup diantara motor dan mobil yang berhenti karena lampu merah.

Bimo menatapnya kagum. Sejak awal dia kagum pada polah Sarah yang sangat bersemangat dalam menjajakan korannya, padahal dia juga anak sekolah.

Dari tempat ia berdiri, ia mendengar Sarah berteriak-teriak menjajakan korannya.

“Koran … koran … ada berita hangat, Bapak..... Mas … jangan sampai ketinggalan berita … korannya … korannya ….”

Dan ketika kembali koran itu sudah habis terjual. Sarah melenggang dengan senyum merekah.

“Koranku habis.”

“Alhamdulillah, ikut senang.”

“Mengapa Mas masih di sini? Tidak ingin langsung pulang dan makan? Bekerja seharian saat pulang pasti lapar.”

“Aku sudah makan di kantor.”

“Oh, iya, beda orang kantoran dengan orang biasa,” ejek Sarah yang menjadi semakin akrab.

“Orang kantoran … kedengarannya hebat, padahal aku hanya OB.”

“OB itu juga manusia, apa bedanya dengan orang-orang kantoran yang duduk di kursi sambil menghadap laptop?”

“Kamu bisa saja.”

“Aku juga sudah pernah masuk ke kantor-kantor, hanya beberapa hari, menawarkan koran, memasuki ruangan-ruangan dan melihat orang sibuk. Tapi kemudian aku dilarang berjualan di sana. Jadi aku jualan saja di perempatan sini. Lumayan juga, satu atau dua pasti laku.”

“Kamu gadis yang hebat. Pulang sekolah pasti capek, langsung berjualan di sini?”

“Ya tidak Mas, masa aku jualan dengan seragam sekolah? Aku pulang dulu, makan, ganti pakaian, lalu berangkat kemari.”

“Kamu hanya jualan di sini?”

“Ya, di sini saja, yang tidak begitu jauh dari rumah. Soalnya ke mana-mana aku jalan kaki. Kalau jauh lumayan capeknya, nanti pulang masih harus membantu Nenek bersih-bersih, trus mandi, trus masih harus belajar.”

“Bukan main. Aku kagum sama kamu.”

“Kagum apanya Mas, namanya orang butuh uang ya harus berjuang. Sudah, Mas pulang sana, aku juga mau pulang.”

“Eh, kamu tadi cerita belum selesai.”

“Aku cerita apa ya? Lupa….”

“Kamu mukul orang.”

“Oh, iya, aku mukul orang, sampai kepalanya berdarah, dan pingsan. Aku sampai ketakutan, lalu orang tuanya melaporkan aku ke polisi.”

“Kamu galak juga ya?”

“Aku hanya membela diri. Aku sedang sendirian, dia maksa masuk ke rumah, aku pukul dengan palang pintu.”

“Waddhuhhh.”

“Dia itu orang yang kemarin mengganggu aku, lalu membuang sisa koran dagangan aku ke tempat sampah.”

“O, dia tahu rumah kamu?”

“Dia anak bu Lurah. Suaminya sudah meninggal, dulunya lurah, tapi orang-orang masih menyebutnya bu Lurah.”

“Dia sering mengganggu kamu? Sampai-sampai membuang koran kamu ke tempat sampah?”

“ Tadinya dia mau aku jadi istrinya, maksudnya mau memaksa saya. Aku nggak mau, dia sombong dan mata keranjang. Kemarin awalnya mengganggu aku pas jualan di sini, untunglah masnya yang ganteng tadi menolong aku, sehingga aku bisa setoran.”

“Mas yang ganteng mana?”

“Yang tadi naik mobil.”

“O, yang kata kamu mirip aku?”

“Iya.”

“Berarti aku juga ganteng dong.”

Sarah terkekeh, tapi kemudian dia melambaikan tangannya.

“Ayuk Mas, pulang. Sudah sore,” katanya sambil berlalu.

Bimo menatap punggungnya sambil tersenyum. Ia melangkah pulang dengan masih membayangkan wajah manis Sarah dan lesung pipitnya.

“Ada apa aku ini,” gumamnya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

***

Bowo sedang melamun di teras. Kepalanya masih dibalut perban. Sang ibu yang baru datang mendekatinya, dengan rasa khawatir.

“Masih sakit?”

Bowo menatap sang ibu.

“Tidak sakit, dari kemarin juga tidak sakit.”

 “Kamu kelihatan pucat. Sedang ngapain duduk sendirian di sini, tidur saja sana, tadi aku sudah ke pabrik, semuanya baik-baik saja.”

“Kalau besok rasanya sudah enakan, aku mau ke rumah nenek Suli.”

Bu Lurah yang sudah mau masuk ke rumah berhenti melangkah, ditatapnya Bowo dengan pandangan marah.

“Apa maksudmu mau ke rumah nenek Suli?”

“Aku mau meminta maaf.”

“Bowo, apa kamu waras? Dia yang melukai kamu, lalu kamu yang akan meminta maaf?”

“Tapi yang salah aku Bu. Aku memaksa masuk ke rumah.”

“Masuk ke rumah itu apa salah? Kalau kamu mencuri, itu baru salah.”

“Dia tadinya melarang, aku memaksa.”

“Ah, sudah, aku nggak mau mendengar apa-apa tentang mereka. Aku kan sudah bilang, aku bebaskan Sarah semalam, tapi dengan catatan kamu tidak boleh lagi memikirkan dia. Atau biar dia masuk penjara saja sekarang?”

“Mana bisa dia masuk penjara, kan Bowo sudah bilang kalau dia tidak salah.”

“Melukai orang kok tidak salah.”

Bowo kesal berdebat, karenanya dia diam. Bu Lurah masuk ke dalam dengan omelan panjang pendek.

“Pokoknya kamu tidak boleh lagi mendekati Sarah,” kata sang ibu tandas, sambil masuk ke dalam kamar.

“Tapi aku tidak bisa melupakannya,” gumam Bowo lirih.

***

Di sebuah rumah mewah, seorang pemuda sedang berbincang dengan adiknya. Pemuda itu adalah Fajar, adiknya adalah Mentari. Mereka dua saudara yang saling mengasihi, dan dimanja oleh kedua orang tuanya yang kaya raya.

“Mas, besok antar aku ke pesta ulang tahun temanku ya?”

“Teman sekolah kamu?”

“Iya. Mau ya? Nanti aku kenalkan dengan teman-temanku, mereka cantik-cantik lhoh, siapa tahu bisa Mas jadikan pacar.”

“Ogah ah, sudah gede pakai ulang tahunan segala.”

“Yaaaah, memangnyya kalau sudah gede tidak boleh pesta ulang tahun..?”

“Pesta ulang tahun, pantasnya untuk anak kecil.”

“Kata siapa?”

”Kataku.”

“Maaas,” Mentari merengek.

“Nggak usah ke pesta, besok jalan-jalan saja, aku traktir makan.”

“Nggak mau, aku sudah janji sama teman aku kalau aku mau datang sama kakakku kok. Mau ya Mas, aku bilangin sama ibu kalau Mas nggak mau,” Mentari merajuk.

“Kolokan, cuma gitu aja ngadu sama Ibu.”

“Pokoknya harus mau. Harus!” katanya sambil memukul-mukul lengan kakaknya.

***

Nenek Suli sudah mandi dan mencari Sarah untuk diajak duduk di depan rumah. Udara sore sangat cerah, duduk di depan rumah pasti segar rasanya. Nenek Suli mencari Sarah yang belum keluar dari kamarnya.

“Sarah, kamu sudah mandi kan?”

“Sudah Nek.”

“Sedang mencari apa kamu dari tadi buka-buka almari?”

“Mencari baju yang bagus.”

“Tumben mencari baju yang bagus. Mau bepergian?”

“Besok kan Minggu Nek, Sarah  diundang teman sekelas yang ulang tahun.”

“Ulang tahun?”

“Sebenarnya Sarah enggan datang, tapi teman-teman Sarah memaksa, nggak enak kalau tidak datang.”

“Di mana rumahnya? " tanya sang nenek.

"Nggak begitu jauh, nanti Sarah naik ojol saja.”

“Malam?”

“Iya, malam. Tapi Sarah hanya akan datang sebentar saja, sekedar memenuhi undangan.”

“Baiklah, asal pulangnya jangan malam-malam.”

***

Besok lagi ya.

 

30 comments:

  1. Alhamdulillah....
    DeCeDeAaeM_06 sudah hadir....
    Terimakasih mBak Tien, salam SEROJA.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah....
    Matur nuwun mBak Tien.
    Semoga sehat selalu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Ning

      Delete
  3. πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_06
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih kasih Bunda Tien. Semoga Bunda dan keluarga sehat slalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief

      Delete
  6. Alhamdulillah
    Terima kasih Bu Tien
    Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sukardi

      Delete
  7. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sampun tayang.
    Semoga ibu Tien, pak Tom dan amancu semua sehat wal afiat penuh berkah dan bahagia aamiin yra ... salam hangat dan aduhsi aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  8. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~06 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  9. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah. Aduhai hai hai

      Delete
  11. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 06 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin πŸ€²πŸ‘πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  12. Alhamdulillah,cerbung DCDAM sudah hadir,
    Terima kasih bunda, semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🀲🀲

    ReplyDelete
  13. Alhamdullilah trima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda πŸ™πŸ₯°❤️🌹

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 06 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 06

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  06 (Tien Kumalasari)   Sarah menutup mulutnya melihat kedua laki-laki itu menatapnya heran. Kemudian mereka sali...