DARAH CINTA DAN AIR MATA 06
(Tien Kumalasari)
Sarah menutup mulutnya melihat kedua laki-laki itu menatapnya heran. Kemudian mereka saling tatap. Benarkah wajah mereka mirip?
Tapi kemudian Fajar melangkah menuju mobilnya, lalu pergi begitu saja. Ucapan Sarah dianggapnya hanya sebagai gurauan. Masa dia mirip laki-laki berpakaian sederhana bersepatu lusuh dan berjalan kaki entah dari mana datangnya?
Ketika ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu, Bimo lebih mendekati Sarah, dan menanyakan pendapatnya tentang wajah mereka.
“Kami mirip?”
“Iya Mas, masa aku bohong?”
“Dia orang kaya. Kok bisa mirip orang miskin seperti aku?”
”Aku juga tidak tahu, bagaimana ada orang semirip itu. Padahal kalian bukan anak kembar.”
“Ada-ada saja. Tapi di dunia ini banyak orang mirip. Kamu kelihatan sangat heran.”
“Memang, tapi miripnya kebangetan.”
“Seneng sih dibilang mirip, berarti ada temannya, tapi keberuntungannya kok nggak mirip ya?” canda Bimo.
“Maksudnya ….”
“Keberuntungannya, aku orang biasa, dia orang kaya.”
“Kaya atau miskin itu bukan ukuran. Yang miskin belum tentu jelek, yang kaya belum tentu baik. Seperti kemarin itu, aku dibawa kekantor polisi, tahu nggak sih? Malam-malam pula. Eh, sore. Orang kaya bisa melakukan hal semau dia."
“Kamu? Dibawa ke kantor polisi?”
“Iya. Gara-gara aku mukul orang sampai berdarah-darah.”
“Apa? Kamu memukul orang sampai berdarah-darah?”
“Sebentar, lampu merah, aku harus membawa sisa koran ini, siapa tahu laku,” kata Sarah sambil berlari menyusup diantara motor dan mobil yang berhenti karena lampu merah.
Bimo menatapnya kagum. Sejak awal dia kagum pada polah Sarah yang sangat bersemangat dalam menjajakan korannya, padahal dia juga anak sekolah.
Dari tempat ia berdiri, ia mendengar Sarah berteriak-teriak menjajakan korannya.
“Koran … koran … ada berita hangat, Bapak..... Mas … jangan sampai ketinggalan berita … korannya … korannya ….”
Dan ketika kembali koran itu sudah habis terjual. Sarah melenggang dengan senyum merekah.
“Koranku habis.”
“Alhamdulillah, ikut senang.”
“Mengapa Mas masih di sini? Tidak ingin langsung pulang dan makan? Bekerja seharian saat pulang pasti lapar.”
“Aku sudah makan di kantor.”
“Oh, iya, beda orang kantoran dengan orang biasa,” ejek Sarah yang menjadi semakin akrab.
“Orang kantoran … kedengarannya hebat, padahal aku hanya OB.”
“OB itu juga manusia, apa bedanya dengan orang-orang kantoran yang duduk di kursi sambil menghadap laptop?”
“Kamu bisa saja.”
“Aku juga sudah pernah masuk ke kantor-kantor, hanya beberapa hari, menawarkan koran, memasuki ruangan-ruangan dan melihat orang sibuk. Tapi kemudian aku dilarang berjualan di sana. Jadi aku jualan saja di perempatan sini. Lumayan juga, satu atau dua pasti laku.”
“Kamu gadis yang hebat. Pulang sekolah pasti capek, langsung berjualan di sini?”
“Ya tidak Mas, masa aku jualan dengan seragam sekolah? Aku pulang dulu, makan, ganti pakaian, lalu berangkat kemari.”
“Kamu hanya jualan di sini?”
“Ya, di sini saja, yang tidak begitu jauh dari rumah. Soalnya ke mana-mana aku jalan kaki. Kalau jauh lumayan capeknya, nanti pulang masih harus membantu Nenek bersih-bersih, trus mandi, trus masih harus belajar.”
“Bukan main. Aku kagum sama kamu.”
“Kagum apanya Mas, namanya orang butuh uang ya harus berjuang. Sudah, Mas pulang sana, aku juga mau pulang.”
“Eh, kamu tadi cerita belum selesai.”
“Aku cerita apa ya? Lupa….”
“Kamu mukul orang.”
“Oh, iya, aku mukul orang, sampai kepalanya berdarah, dan pingsan. Aku sampai ketakutan, lalu orang tuanya melaporkan aku ke polisi.”
“Kamu galak juga ya?”
“Aku hanya membela diri. Aku sedang sendirian, dia maksa masuk ke rumah, aku pukul dengan palang pintu.”
“Waddhuhhh.”
“Dia itu orang yang kemarin mengganggu aku, lalu membuang sisa koran dagangan aku ke tempat sampah.”
“O, dia tahu rumah kamu?”
“Dia anak bu Lurah. Suaminya sudah meninggal, dulunya lurah, tapi orang-orang masih menyebutnya bu Lurah.”
“Dia sering mengganggu kamu? Sampai-sampai membuang koran kamu ke tempat sampah?”
“ Tadinya dia mau aku jadi istrinya, maksudnya mau memaksa saya. Aku nggak mau, dia sombong dan mata keranjang. Kemarin awalnya mengganggu aku pas jualan di sini, untunglah masnya yang ganteng tadi menolong aku, sehingga aku bisa setoran.”
“Mas yang ganteng mana?”
“Yang tadi naik mobil.”
“O, yang kata kamu mirip aku?”
“Iya.”
“Berarti aku juga ganteng dong.”
Sarah terkekeh, tapi kemudian dia melambaikan tangannya.
“Ayuk Mas, pulang. Sudah sore,” katanya sambil berlalu.
Bimo menatap punggungnya sambil tersenyum. Ia melangkah pulang dengan masih membayangkan wajah manis Sarah dan lesung pipitnya.
“Ada apa aku ini,” gumamnya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
***
Bowo sedang melamun di teras. Kepalanya masih dibalut perban. Sang ibu yang baru datang mendekatinya, dengan rasa khawatir.
“Masih sakit?”
Bowo menatap sang ibu.
“Tidak sakit, dari kemarin juga tidak sakit.”
“Kamu kelihatan pucat. Sedang ngapain duduk sendirian di sini, tidur saja sana, tadi aku sudah ke pabrik, semuanya baik-baik saja.”
“Kalau besok rasanya sudah enakan, aku mau ke rumah nenek Suli.”
Bu Lurah yang sudah mau masuk ke rumah berhenti melangkah, ditatapnya Bowo dengan pandangan marah.
“Apa maksudmu mau ke rumah nenek Suli?”
“Aku mau meminta maaf.”
“Bowo, apa kamu waras? Dia yang melukai kamu, lalu kamu yang akan meminta maaf?”
“Tapi yang salah aku Bu. Aku memaksa masuk ke rumah.”
“Masuk ke rumah itu apa salah? Kalau kamu mencuri, itu baru salah.”
“Dia tadinya melarang, aku memaksa.”
“Ah, sudah, aku nggak mau mendengar apa-apa tentang mereka. Aku kan sudah bilang, aku bebaskan Sarah semalam, tapi dengan catatan kamu tidak boleh lagi memikirkan dia. Atau biar dia masuk penjara saja sekarang?”
“Mana bisa dia masuk penjara, kan Bowo sudah bilang kalau dia tidak salah.”
“Melukai orang kok tidak salah.”
Bowo kesal berdebat, karenanya dia diam. Bu Lurah masuk ke dalam dengan omelan panjang pendek.
“Pokoknya kamu tidak boleh lagi mendekati Sarah,” kata sang ibu tandas, sambil masuk ke dalam kamar.
“Tapi aku tidak bisa melupakannya,” gumam Bowo lirih.
***
Di sebuah rumah mewah, seorang pemuda sedang berbincang dengan adiknya. Pemuda itu adalah Fajar, adiknya adalah Mentari. Mereka dua saudara yang saling mengasihi, dan dimanja oleh kedua orang tuanya yang kaya raya.
“Mas, besok antar aku ke pesta ulang tahun temanku ya?”
“Teman sekolah kamu?”
“Iya. Mau ya? Nanti aku kenalkan dengan teman-temanku, mereka cantik-cantik lhoh, siapa tahu bisa Mas jadikan pacar.”
“Ogah ah, sudah gede pakai ulang tahunan segala.”
“Yaaaah, memangnyya kalau sudah gede tidak boleh pesta ulang tahun..?”
“Pesta ulang tahun, pantasnya untuk anak kecil.”
“Kata siapa?”
”Kataku.”
“Maaas,” Mentari merengek.
“Nggak usah ke pesta, besok jalan-jalan saja, aku traktir makan.”
“Nggak mau, aku sudah janji sama teman aku kalau aku mau datang sama kakakku kok. Mau ya Mas, aku bilangin sama ibu kalau Mas nggak mau,” Mentari merajuk.
“Kolokan, cuma gitu aja ngadu sama Ibu.”
“Pokoknya harus mau. Harus!” katanya sambil memukul-mukul lengan kakaknya.
***
Nenek Suli sudah mandi dan mencari Sarah untuk diajak duduk di depan rumah. Udara sore sangat cerah, duduk di depan rumah pasti segar rasanya. Nenek Suli mencari Sarah yang belum keluar dari kamarnya.
“Sarah, kamu sudah mandi kan?”
“Sudah Nek.”
“Sedang mencari apa kamu dari tadi buka-buka almari?”
“Mencari baju yang bagus.”
“Tumben mencari baju yang bagus. Mau bepergian?”
“Besok kan Minggu Nek, Sarah diundang teman sekelas yang ulang tahun.”
“Ulang tahun?”
“Sebenarnya Sarah enggan datang, tapi teman-teman Sarah memaksa, nggak enak kalau tidak datang.”
“Di mana rumahnya? " tanya sang nenek.
"Nggak begitu jauh, nanti Sarah naik ojol saja.”
“Malam?”
“Iya, malam. Tapi Sarah hanya akan datang sebentar saja, sekedar memenuhi undangan.”
“Baiklah, asal pulangnya jangan malam-malam.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah....
ReplyDeleteDeCeDeAaeM_06 sudah hadir....
Terimakasih mBak Tien, salam SEROJA.
Sami2 mas Kakek.salam seroja juga
DeleteAlhamdulillah....
ReplyDeleteMatur nuwun mBak Tien.
Semoga sehat selalu....
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Ning
Deleteππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung DeCeDeAaeM_06
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
ππππππππ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih kasih Bunda Tien. Semoga Bunda dan keluarga sehat slalu.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteSuwun mb Tienπ
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien
Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sukardi
DeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sampun tayang.
ReplyDeleteSemoga ibu Tien, pak Tom dan amancu semua sehat wal afiat penuh berkah dan bahagia aamiin yra ... salam hangat dan aduhsi aduhai bun ❤️❤️❤️
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~06 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah. Aduhai hai hai
DeleteAlhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 06 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin π€²πππππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah,cerbung DCDAM sudah hadir,
ReplyDeleteTerima kasih bunda, semoga bunda Tien dan keluarga sehat π€²π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sifa
DeleteAlhamdullilah trima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda ππ₯°❤️πΉ
ReplyDeleteSami2 ibu. Matur nuwun
DeleteAlhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 06 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
Delete