DARAH CINTA DAN AIR MATA 05
(Tien Kumalasari)
Sarah bingung, ia juga seperti tidak sadar ketika tiba-tiba sudah berada di kantor polisi. Ia hanya ingat orang-orang mengeroyoknya ketika mereka mengangkat tubuh Bowo yang berdarah-darah, lalu ia melihat neneknya menangis, dan dia digelandang ke kantor polisi.
Sarah bingung. Benar-benar bingung, ketika melihat darah, melihat Bowo tergeletak, dan pikirannya benar-benar buntu.
Ketika ia duduk dalam kebingungan, suara orang memaki-makinya terasa menghantam telinganya.
“Dasar perempuan tak tahu diuntung. Sudah miskin, sombong, ditambah jahat pula,” hardiknya.
Sarah menutupi kupingnya. Pikirannya benar-benar gelap.
“Diberi kebaikan, malah membalasnya dengan keburukan. Apa kamu ditakdirkan jadi pembunuh?” suara itu melengking, membuat telinganya sakit.
“Pak Polisi, saya minta agar dia dihukum seberat-beratnya. Kalau perlu dipenjara seumur hidup.”
Sarah tersentak. Dihukum seumur hidup? Ia menurunkan tangannya dari telinganya. Seorang polisi duduk di depannya. Tadi polisi itu menuliskan entah apa, menurut apa yang dikatakan bu Lurah, pastinya.
Ketika polisi bertanya, ia mengatakan bahwa ia hanya membela diri karena Bowo menyerangnya, dan mencoba memaksanya.
Di sebuah sudut, nenek Suli menangis terisak-isak. Seorang tetangga yang menemaninya, menghibur si nenek, agar dia tak usah begitu khawatir, karena cucunya tidak bersalah.
***
Bowo ada di rumah sakit. Hanya luka ringan. Karena kalau luka di kepala kan pasti perdarahannya kelihatan hebat. Ibunya sudah ngamuk-ngamuk, tidak cukup di rumah, tapi juga di kantor polisi. Padahal Bowo hanya perlu dijahit dan tidak harus opname. Ia sekarang sedang menunggu jemputan, ditemani ibunya setelah rampung marah-marah di kantor polisi.
“Bu, jangan laporkan Sarah ke polisi.”
“Dia melukai kamu sampai parah begitu. Dia harus menebusnya dengan dipenjara.”
“Tidak mudah memenjarakan orang Bu, tadi Bowo yang salah.”
“Apa maksudmu kamu yang salah?”
“Bowo memaksakan kehendak, menerobos masuk ke rumahnya.”
“Kamu itu kebangetan. Sungguh bodoh mengejar-ngejar orang yang sama sekali bukan setingkat kita. Mereka itu miskin. Neneknya hanya buruh cuci di kampungnya, bocah itu hanya penjaja koran. Kamu tega mempermalukan orang tuamu dengan jatuh cinta kepada orang seperti dia? Kalau dia mau menerima, itu adalah anugrah baginya. Tapi dia menolak, ibu merasa terhina. Dia itu siapaaaaa??”
“Sudahlah Bu, cabut laporan Ibu, aku kan tidak apa-apa. Kalau Ibu tidak mau, biar Bowo yang melakukannya.”
“Baiklah, Ibu bebaskan dia, tapi kamu tidak boleh mendekatinya lagi. Awas kamu!”
Bowo terdiam. Kepalanya berdenyut. Walau tidak parah, tapi luka di kepala memang membuatnya pusing. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa kepada ibunya, nanti ibunya semakin marah. Terus terang saja, Bowo memang jatuh cinta kepada Sarah. Bukan cinta berbau nafsu, tapi sungguh-sungguh cinta dan sayang. Itu sebabnya ia tak ingin Sarah dipenjara atau dihukum, seringan apapun.
***
Malam itu memang Sarah sudah ada di rumah. Nenek Suli bersyukur, dan mendekap cucunya terus menerus.
“Tak bisa Nenek bayangkan Sarah, kalau kamu benar-benar dipenjara, hati Nenek pasti akan hancur,” kata nenek Suli sambil mengelus kepalanya.
“Ya tidak Nek, bagaimanapun Sarah tidak bersalah. Sarah hanya membela diri karena Bowo nekat masuk ke rumah, lalu entah apa yang akan dilakukannya seandainya Sarah membiarkannya, sementara di rumah tak ada orang kecuali hanya kami berdua.”
“Kebangetan mereka itu, Nenek kan sudah menolaknya sampai dia marah-marah juga tadi di rumah bu Karno.”
“Bowo merasa bahwa dia tak pernah ditolak oleh perempuan yang dia dekati. Dia pikir Sarah sama dengan mereka, jadi walau Sarah sudah mengatakan tidak, dia tetap ingin memaksa. Dia berharap akhirnya Sarah akan menyerah.”
”Lain kali kamu harus berhati-hati. Kalau kamu di rumah sendirian, lebih baik kamu mengunci pintu dari dalam.”
“Iya Nek. Sarah juga takut kalau dia mengulanginya kembali. Tapi tadi polisi bilang kalau bu Lurah mencabut laporannya atas permintaan Bowo.”
“Syukurlah, barangkali dia merasa bersalah.”
“Ya sudah, sekarang Nenek tidur. Jangan memikirkan Sarah tentang hidupnya yang entah akan seperti apa. Kaya atau miskin itu bukan pilihan, tapi garis kehidupan. Nyatanya dengan hidup bersama Nenek, Sarah sudah merasa sangat bahagia. Sungguh Sarah tak ingin lebih.”
“Anak baik. Walau begitu Nenek akan tetap berdoa agar kamu mendapat kehidupan yang baik nanti, dan bahagia pastinya.”
“Terima kasih Nek, akan seperti apa hidup Sarah nanti, Sarah akan selalu bersama Nenek.”
Nenek Suli merangkul sang cucu dengan penuh kasih sayang. Malam itu Sarah kembali tidur di kamar nenek Suli.
***
“Kamu mau masuk sekolah?”
“Iya dong Nek, masa Sarah harus bolos?”
“Hati-hati, walau di jalan, Bowo masih bisa mengganggu kamu kan, seperti kemarin itu?”
“Iya, dan untunglah ada yang menolong Sarah. Tiba-tiba Sarah punya dua orang sahabat di jalanan, yang Sarah anggap sahabat karena telah menolong Sarah, dengan tulus pula.”
“Syukurlah, anak baik pasti akan selalu mendapat kebaikan. Sekarang kamu mau sarapan apa? Ayam goreng yang kemarin diberi bu Karno masih ada dua potong, apa Nenek harus buatkan sayur bening dulu.”
“Tidak usah Nek, itu sudah lebih dari cukup, kan sudah ada sambalnya juga. Kalau Nenek masih harus masak, nanti Sarah kesiangan. Kan Sarah harus jalan kaki, jadi harus buru-buru berangkat.”
“Baiklah, kalau begitu segera makan. Nanti siang Nenek akan masak untuk kamu.”
“Apa Nenek tidak bekerja hari ini?”
“Hanya bersih-bersih di rumah bu Karno, tidak akan lama. Ayo sekarang makan dulu, Nenek siapkan air untuk bekal kamu.”
“Terima kasih Nek.”
Sarah makan sendirian, dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya, karena sepeninggal orang tuanya saat dia masih kecil, ada Nenek yang sangat menyayanginya, menjaganya, dan membeayai sekolahnya, padahal sang nenek hanya menjadi buruh cuci di kampungnya.
“Ini minum buat bekal, ada sedikit cemilan sisa arisan dari bu Karno yang diberikan. Bisa untuk bekal kamu.”
“Iya Nenek, terima kasih, sebenarnya kan Sarah bisa menuang air sendiri.”
“Nanti kamu kesiangan, nggak apa-apa kalau hanya menuang air saja.”
***
Seperti biasa setelah pulang dari sekolah, Sarah mengambil koran ke agen untuk dijualnya. Sedikit banyak ia bisa menabung dan tak harus meminta uang kepada sang nenek kalau butuh sesuatu.
Hari itu korannya sedikit lebih laku, hanya tinggal tiga lembar saja, tapi dia belum mau berhenti, karena hari belum begitu sore. Saat lampu merah, dia siap untuk menyeberang, tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, membuatnya berhenti melangkah.
“Korannya masih?”
Sarah tersenyum. Rupanya dia adalah laki-laki bernama Fajar yang kemarin memberinya uang sebagai ganti koran yang dibuang Bowo ke tempat sampah.
“Masih ada, ini.”
Ketika Fajar ingin memberikan uang, Sarah menolaknya.
“Tidak usah Mas, untuk Mas, gratis.”
“Tidak bisa begitu, aku mau beli, mengapa bisa gratis?”
“Mas sudah menolong aku, ini sebagai ungkapan terima kasih, kalau butuh koran, untuk Mas gratis.”
“Nggak mau. Pokoknya nggak mau. Mana mungkin setiap hari gratis.”
Sarah membalikkan tubuhnya ketika Fajar mengambil dompetnya.
“Sarah!”
Sarah membalikkan tubuhnya. Ia lupa, apakah dia pernah memperkenalkan namanya ?
“Kok tahu namaku Sarah?”
“Ya tahu, sini … mau lari ke mana kamu? Hati-hati, jangan menolak rejeki. Apa yang aku lakukan kemarin itu berbeda. Kemarin aku memberi, kali ini aku membeli,” kata Fajar sambil memaksa memberikan uangnya.
“Udah begitu uangnya selalu berlebih,” omel Sarah.
Dari jauh seseorang melangkah mendekat.
“Sarah, dagangannya habis?”
Sarah menoleh. Bimo mendekat, dan Fajar belum beranjak pergi.
Sarah bergantian menatapnya.
“Ada apa kamu ini?” tanya Bimo sambil tertawa lucu.
“Lihat, bagaimana wajah kalian bisa sama?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Dhe, sugeng dalu
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda Tien. Semoga Bunda dan keluarga sehat walafiat
ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung DeCeDeAaeM_05
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah, sudah tayang.
ReplyDeleteSehat selalu bunda, aamiin.
Mks bun DCDAM 05 sdh tayang ....selamat malam salam sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdullulah..hatur nuhun bunda cerbungnya..slm seroja dan adihai unk bundacππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku DARAH, CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien... cerbung kesayangan sampun tayang... salam sehat dan aduhai aduhai bun.
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 05 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ππ,mungkin sikembar yg terpisah
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung darah cinta dan air sudah tayang,semoga bunda Tien dan keluarga selalu sehat π€²π€²
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~05 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 05 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin
ReplyDeleteMaturnuwun Ibuuuu
ReplyDelete