AKU ANAK SIAPA 29
(Tien Kumalasari)
Pak Gatot tidak serta merta mendekati. Ia tidak tahu apakah wanita itu ada hubungannya dengan laki-laki aneh yang pernah dilihatnya?
Pak Misran juga tampak heran. Mereka hanya menatap. Wanita itu menaburkan bunga, kemudian mulutnya berkomat kamit melantunkan doa.
Tapi ketika wanita itu berdiri, pak Misran memberi isyarat agar pak Gatot dan Rosa mendekat. Pak Gatot mengangguk. Ia berjalan ke arah wanita itu, dan menghentikannya sebelum dia membalikkan tubuhnya.
“Mohon maaf Ibu, kalau saya boleh tahu, Ibu ini apanya almarhumah yang dimakamkan di sini?” tanya pak Gatot sopan.
Rosa yang tidak mengerti apa-apa, berdiri di belakangnya.
Wanita itu menatap pak Gatot penuh selidik.
“Sebaliknya saya ingin bertanya, mengapa Bapak datang kemari dan seakan tahu tentang almarhumah?”
Sebenarnya pak Gatot agak kesal, bukannya menjawab dia malah bertanya . Tapi kemudian pak Gatot segera memaklumi, karena ia memang belum pernah tahu siapa dirinya.
“Saya ini, sampai almarhumah ini meninggal, masih berstatus menjadi suaminya.”
Wanita itu terbelalak menatap pak Gatot..
“Apakah … apakah … Bapak yang bernama pak Gatot Prawoto?”
“Iya benar. Ibu mengenal saya ternyata.”
“TIdak, saya hanya mengenal nama Bapak, tapi belum kenal orangnya. Baiklah, nama saya Suminten. Saya adiknya pak Rusman.”
Rusman dan Suminten, keduanya belum pernah dikenalnya. Apa hubungannya dengan Sawitri?
“Bertahun tahun kami mencari Bapak.”
“Mencari saya? Sebelumnya saya ingin tahu. Apa hubungan Ibu dengan almarhumah istri saya?”
Wanita itu menatap Rosa yang sejak tadi diam dan berdiri di belakang pak Gatot.
“Dia itu siapanya Bapak?”
“Dia anak saya.”
“Oh, anak Bapak, tapi saya ingin bicara dengan Bapak empat mata. BIsakah kita duduk agak ke sana, dan biarkan dia menunggu dulu di sini?”
Pak Gatot mengangguk. Ia memberi isyarat agar Rosa menunggunya sebentar karena wanita bernama Suminten itu akan mengajaknya bicara.
Rosa mengangguk, lalu duduk ngelesot di atas tanah, menghadap ke arah nisan lalu berdoa sebisa-bisanya.
***
Wanita bernama Suminten itu duduk di atas batu, dan pak Gatot mengikutinya, duduk di atas batu yang ada di depannya.
“Bapak tidak tahu mengapa saya dan kakak saya terus menerus mencari keberadaan Bapak?”
“TIdak, mengapa mencari saya sementara kita belum pernah bertemu.”
“Begini. Bertahun-tahun lalu, kakak saya menjalin hubungan dengan Sawitri. Kami memiliki sebuah restoran kecil, dan Sawitri sering makan di tempat kami." kata Suminten.
"Lama kelamaan antara Sawitri dan kakak saya saling jatuh cinta. Waktu itu Sawitri disukai beberapa laki-laki, karena dia memang cantik. Dan Sawitri tampaknya meladeni banyak laki-laki itu.Tapi setelah berkenalan dengan mas Rusman, Sawitri tidak lagi berhubungan dengan mereka, karena antara dia dan mas Rusman kemudian saling jatuh cinta," kata Suminten lanjutnya.
“Tapi, Sawitri ….”
“Biarkan saya bicara dulu,” Suminten menghentikan pak Gatot yang ingin membuka mulut.
Pak Gatot mengangguk, lalu dia hanya menunggu.
“Mereka menikah siri.”
“Apa?”
“Tak lama kemudian Sawitri hamil. Mas Rusman sangat bahagia. Tapi ketika ia ingin mengambil Sawitri sebagai istri dengan pernikahan yang sesungguhnya, Sawitri menolak. Bukan karena tak cinta pada mas Rusman, tapi dia mengaku sudah punya suami.”
Pak Gatot mengerutkan keningnya. Mengapa mengaku sudah punya suami setelah hamil, bukan sebelumnya?
"Mas Rusman sangat marah. Hubungan mereka renggang. Pada suatu ketika ia mendengar Sawitri meninggal setelah melahirkan. Mas Rusman mencari bayi yang dilahirkan Sawitri, tapi ia tidak menemukan suami Sawitri, yang pastinya merawat bayi itu. Ia ingin berterus terang bahwa bayi itu darah dagingnya. Tapi suami Sawitri hilang seperti ditelan bumi." kata Suminten.
"Kakak saya seperti orang linglung, ia sering mendatangi makam Sawitri, memarahinya seperti benar-benar berhadapan dengannya. Tapi mas Rusman sangat mencintainya. Bertahun-tahun dia berharap bisa menemukan bayi yang dilahirkan Sawitri, sampai-sampai dia tidak mau menikah." lanjut Suminten.
Pak Gatot terpana. Jadi pengkhianatan Sawitri berhenti pada pak Rusman sebelum kemudian dia meninggal. Ia menghela napas. Ia akan memarahi siapa? Banyak hal dilewatinya, ketika terluka dikhianati, ketika hartanya habis untuk bersenang senang, lalu hamil sampai melahirkan bayi yang bukan darah dagingnya. Pak Gatot hanya manusia biasa. Ia punya hati dan rasa. Ia punya emosi dan rasa marah. Salahkah kalau ia kemudian membuang bayi itu di panti asuhan?
Tapi sejak ia menemukan bukti bahwa bayi itu adalah Rosa, penyesalan segera menghantui perasaannya.
“Mengapa Bapak diam? Di mana bayi itu sekarang? Pasti ia sudah dewasa, bahkan tidak lagi muda. Mas Rusman sakit keras, ia terus menerus menanyakan bayi itu, setiap hari, saat dia mengigau dan bahkan saat dia berjaga. Minggu yang lalu dia bisa pergi sendiri ke makam, tapi sehari setelahnya dia ambruk lagi dan sampai sekarang berada di rumah sakit,” kata Suminten sambil mengusap air matanya.
Pak Gatot diam, ia menoleh sejenak ke arah Rosa, yang masih tampak berdiam di makam sana. Pak Gatot hampir menitikkan air mata. Dalam hati ia berbisik, Rosa, dia ibu kandung kamu. Sungguh-sungguh ibu yang melahirkan kamu.
“Apakah wanita itu darah daging kakakku?”
“Bu ini masalah yang sedikit rumit. Di rumah sakit mana pak Rusman dirawat?”
Bu Suminten segera mengatakan di mana pak Rusman dirawat.
“Apakah Bapak ingin menemuinya?”
“Iya, saya ingin bertemu dia. Barangkali saya bisa menguak semua teka teki diantara kita yang belum terjawabkan.”
Pak Gatot berpisah dengan Suminten, lalu mengajak Rosa pulang. Tapi ia berjanji secepatnya akan menemui pak Rusman di rumah sakit.
“Temui dia dan katakan di mana anaknya, supaya seandainya Allah mengambilnya, dia tidak meninggal dengan penasaran," kata Suminten.
Pak Gatot terkejut, rupanya pak Rusman sakit lumayan parah.
***
Malam hari itu dengan sangat hati-hati, pak Gatot mengatakan kepada Rosa tentang kehidupannya berumah tangga, lalu kemudian membuang bayi istrinya ke sebuah panti asuhan. Berlinang air mata pak Gatot ketika mengatakan bahwa bayi itu adalah dirinya. Rosa terpana. Sebuah keajaiban dalam hidupnya diterimanya. Semua akhirnya terkuak.
“Rosa, apakah kamu membenciku?” bergetar suara pak Gatot ketika mengatakannya.
Rosa terus menatap pak Gatot, menatap wajah pucatnya, menatap air matanya yang menetes penuh penyesalan.
Apakah Rosa harus marah? Ketika kehidupannya terombang ambing oleh sesuatu yang tidak menentu, ketika kemudian Allah mempertemukan orang yang telah membuangnya dipanti asuhan. Haruskah dia marah? Pak Gatot begitu santun, baik hati dan penuh kasih sayang. Bahkan sejak dia belum tahu bahwa Rosalah bayi yang dibuang itu, dia sudah menunjukkan kebaikan yang membuatnya iba. Bukankah pak Gatot hanya korban dari perselingkuhan? Bukankah pak Gatot hanya terbawa kemarahan karena sebuah pengkhianatan? Ia sudah menebusnya, dengan menunjukkan makam ibunya, dan tadi pak Gatot juga mengatakan akan mengantarkannya kepada ayah kandungnya.
Pak Gatot mengusap air matanya dengan ujung bajunya.
“Kalau kamu mau marah, marahlah. Kalau kamu mau membenci aku, bencilah. Tapi sebelum kamu pergi meninggalkan aku lagi, aku akan mengantarkan kamu kepada ayahmu, yang mengukir jiwa ragamu." kata pak Gatot.
Rosa luluh dalam ketulusan hati pak Gatot. Ia menubruk kakinya dan menangis dalam pangkuannya, seperti dulu pernah dilakukannya.
***
Hari itu pak Gatot memerlukan meminta ijin untuk tidak bertugas. Ada yang harus diselesaikannya. Menemui pak Rusman di rumah sakit.
Dan pertemuan itu akhirnya berbuah tangisan yang mengharu biru. Pak Rusman yang tubuhnya menjadi kurus kering terisak-isak, tapi ia bahagia menemukan bayinya yang hilang.
“Rosa, barangkali memang beginilah jalan yang harus kita lalui, agar kita dipertemukan. Tapi aku bersyukur, di akhir hidupku aku bisa bertemu kamu," kata pak Rusman.
Mereka berpelukan, bertangisan, dan berbahagia. Aku anak siapa sudah terjawab. Rosa tetap hidup bersama pak Gatot, tapi dia ikut mengelola rumah makan milik pak Rustam bersama bu Suminten. Pak Rustam berangsur sembuh oleh kebahagiaan yang didambakannya. Pak Gatot yang tidak akan kehilangan Rosa, serta Rosa yang memiliki orang-orang yang mengasihinya, menjadi kisah yang semoga membuat kebahagiaan itu lestari.
***
T A M A T.
Trmksh mb Tien🙏
ReplyDelete