AKU ANAK SIAPA 28
(Tien Kumalasari)
Rosa melihat senyuman pak Gatot yang terasa aneh, tapi itu adalah senyum yang menyenangkan.
“Masih besok Minggu ya Pak, ke makam ibu?”
“Ya, tentu saja, kan bapak liburnya hari Minggu?”
“Baiklah saya mengerti. Saya senang, akhirnya ada yang bisa saya sebut Bapak dan Ibu, walaupun ibu itu sudah tidak ada.”
Pak Gatot hanya mengangguk-angguk.
Hari sudah siang, pak Gatot sudah mendapat jatah makan dari Bibik, dan sudah dihabiskannya.
“Apa kamu sudah makan?”
“Saya akan makan di rumah keluarga Daryono. Tadi bu Daryono sudah berpesan, bahwa saya akan ditunggu saat makan siang nanti.”
“Baiklah kalau begitu. Kamu akan kembali sekarang?”
“Iya Pak, besok pagi-pagi sekali sebelum Bapak berangkat, saya sudah akan ada di rumah Bapak.”
“Nanti akan bapak bersihkan kamar kamu.”
“Saya pamit ya Pak, sampai ketemu besok.”
“Kamu naik apa? Kalau kamu bisa naik motor, bawalah motor Bapak itu.”
“Tidak Pak, nanti Bapak pulangnya bagaimana?”
“Aku gampang, rumah kan tidak begitu jauh.”
“Tidak Pak, saya akan naik angkot saja atau ojol.”
“Kamu punya uang?”
“Ada. Bu Daryono memberi saya uang.”
“Baiklah, hati-hati.”
Pak Gatot menatap punggung Rosa yang melenggang menuju jalan raya dengan perasaan yang sangat senang. Akhirnya ia menemukan Rosa, bayi yang pernah dibuangnya. Ia akan menebusnya dengan merawat dia dengan sebaik-baiknya. Pak Gatot juga berjanji dalam hati bahwa dia akan menceritakan semuanya, sejak ia masih bayi dan dibuang di panti asuhan.
“Semoga Rosa tidak membenci aku dengan kelakuanku itu,” gumamnya setelah Rosa menghilang ketika ojol menjemputnya.
Sekarang pak Gatot ingin segera pulang untuk membersihkan kamar demi menyambut kembalinya ‘sang anak’.
***
Rosa sedang diajak makan siang bersama pak Daryono dan istrinya, tapi Rosa menolaknya.
“Biar saya makan di dapur bersama Bibik saja Bu.”
“Jangan Non, tuan dan nyonya sudah menyuruh Non makan bersama mereka, masa Non akan makan bersama Bibik?”
“Rosa, makan di sini. Jangan membuat ibumu kecewa,” perintah pak Daryono, tandas, membuat Rosa kemudian bersedia duduk semeja.
“Mengapa kamu ini, menganggap semuanya berubah?”
“Saya sendiri yang merubahnya Pak, itu sebabnya saya sungkan bersikap seperti dulu. Saya ini kotor, tidak pantas hidup sejajar dengan orang-orang terhormat.”
“Semuanya sudah berlalu, kamu sudah menyadari kesalahan kamu, dan bersedia bertobat, kami tidak keberatan kalau kamu kembali ke rumah ini, seperti dulu, Rosa.”
“Tidak Bu, terima kasih banyak atas semuanya. Atas kebaikan keluarga ini yang walaupun saya sudah melukainya, tapi masih mau bersikap baik kepada saya, bahkan membebaskan saya dari hukuman. Dengan apa saya harus membalasnya?”
“Balaslah dengan perilaku yang baik. Itu cukup, Rosa.”
“Baiklah, saya akan menjalani hidup yang bersih dan baik, dan berharap tidak mengecewakan semuanya.”
“Ya sudah, makanlah dulu. Ini Bibik yang masak, makanan kesukaanmu bukan? Semur kentang dengan daging cacah. Ini dulu makanan kesukaan kamu. Kami tidak melupakannya.”
Rosa tersenyum. Bertahun-tahun lewat, rasa makanan daging dan yang lezat-lezat bahkan sudah dilupakan. Yang terbiasa adalah tahu, tempe, ikan asin. Itupun kalau dia bisa makan. Kalau tidak, nasi tanpa laukpun ia pernah mengalaminya.
“Mengapa melamun? Cepat makan, yang banyak,” kata pak Daryono.
Rosa mengangguk. Menyendok nasi dengan hati-hati, dan membiarkan bu Daryono menyendokkan gumpalan daging cacah dan kentang, serta mengguyurkan sedikit kuahnya. Dulu ini memang makanan kesukaannya, tapi dia hampir melupakannya. Sekarang dia merasakannya lagi, tapi lidahnya terlanjur merasa asing.
“Enak kan? Bibik selalu bisa memasak enak.”
Rosa mengangguk. Mau tak mau ia harus mengangguk agar tidak mengecewakan orang yang pernah menjadi orang tuanya.
“Makan yang banyak,” berkali-kali pak Daryono mengingatkannya, Rosa hanya mengangguk.
Semenjak terlepas dari himpitan hukuman atas dosa-dosa yang dilaluinya, ia merasa selalu harus berhati-hati dalam berucap, apalagi bertindak. Ia seperti orang yang baru keluar dari dunia gelap, jadi harus meraba-raba dan melangkah dengan hati-hati kalau tak ingin kembali tersesat atau terjatuh.
***
Malam hari itu bu Daryono kembali mendekati Rosa. Ia membawa sebuah kotak, yang diberikannya kepada Rosa.
“Ini ijazah-ijazah kamu semua. Kalau kamu tetap tidak ingin tinggal di sini, bawalah.”
Rosa mengangguk pilu. Untuk apa sebenarnya semua itu? Kata batinnya, walau begitu dia menerima kotak itu.
“Jangan menganggap bahwa ini barang yang tidak berguna. Bagaimanapun ini jerih payahmu selama kamu menuntut ilmu. Kalau bisa dipergunakan gunakanlah, kalau tidak, ia akan menjadi kenangan terbaik dalam hidupmu, bahwa kamu pernah mengenyam pendidikan dan ini adalah buktinya.
Rosa mengangguk.
“Terima kasih Bu.”
“Rumah ini selalu terbuka untuk kamu. Datanglah setiap waktu.”
“Iya Bu.”
“Apa kamu mau bekerja di kantor Bapak?”
“Tidak Bu, jangan, saya seorang bekas narapidana, kasihan Bapak. BIarlah saya pikirkan dulu apa yang akan saya lakukan.”
“Apa kamu ingin berjualan?” bu Daryono tak mau melepaskan Rosa begitu saja. Ia ingin Rosa melakukan sesuatu yang bermanfaat.
“Berjualan apa Bu?”
“Buka warung makan, atau rumah makan, misalnya?”
Rosa diam sejenak. Barangkali ini peluang yang aman. Tapi ia belum mengatakan setuju.
“Baiklah Bu, saya akan memikirkannya.”
“Kamu akan pergi kapan?”
“Besok pagi-pagi sekali Bu.”
“Mengapa harus pagi sekali?”
“Sebelum pak Gatot berangkat bekerja. Saya sudah mengatakan akan datang pagi-pagi.”
“Ya sudah. Kamu sudah bisa memikirkan mana yang terbaik untuk hidup kamu, tapi kamu jangan lupa bahwa kamu bisa sewaktu-waktu pulang kemari, anggaplah ini rumah kamu.”
“Terima kasih Bu.”
***
Pagi itu Rosa benar-benar datang ke rumah pak Gatot sebelum pak Gatot pergi. Pak Gatot menyiapkan kamar yang bersih untuk Rosa, dan membelikan sarapan yang diletakkan di meja makan.
“Mengapa Bapak melakukan ini semua, saya kan bisa melakukannya.”
“Tidak apa-apa, makan dan istirahatlah. Bapak mau berangkat kerja. Ada almari yang Bapak letakkan di kamar, untuk menyimpan barang-barang kamu.
“Terima kasih, Bapak sudah berbuat banyak untuk saya. Untuk selanjutnya jangan lagi Bapak repot untuk Rosa. Biarlah Rosa memikirkan semua kebutuhan Rosa sendiri.”
“Baiklah, terserah kamu saja, yang penting Bapak senang kamu sudah kembali.”
Rosa mengantarkan pak Gatot sampai ke depan rumah, lalu masuk kembali ke dalam kamarnya untuk membenahi barang-barangnya.
Rasa haru menyentak, ketika ia menyadari betapa besar perhatian pak Gatot kepadanya. Dan Rosa juga kemudian menyadari, betapa ringan hidupnya sekarang ini, tanpa keinginan yang muluk-muluk, tak ada kebencian, yang ada adalah kasih sayang di mana-mana untuk dirinya.
***
Seperti janjinya, di hari MInggu itu pak Gatot mengajak Rosa ke makam istrinya. Ia akan mengatakan semuanya nanti di sana, setelah menunjukkan letak makam itu.
Sepeda motor pak Gatot berhenti di depan makam, lalu ia mengajak Rosa masuk, menuju ke arah letak makam Sawitri.
Baru saja melangkah, pak Misran tergopoh gopoh menyambut.
“Waduh, pak Gatot, minggu yang lalu dia datang, tapi pak Gatot malah tidak datang.”
”Saya masuk kerja Pak, karena teman saya berhalangan karena sakit. Pak Misran sempat bicara banyak?”
“Susah Pak. Orang itu benar-benar tertutup. Selepas berdoa lalu memberi saya uang, terus pergi begitu saja. Mudah-mudahan nanti dia datang lagi.”
“Semoga saja, Pak.”
“Ini siapa?”
“Ini anak saya, namanya Rosa, di belum pernah pergi ke makam ibunya.”
“Lhoh, apa dia tinggal di tempat lain?” tanya pak Misran heran.
“Iya Pak, benar.”
“Belum selesai mereka bicara, tiba-tiba seseorang datang mendekati makam Sawitri. Bukan laki-laki yang biasanya, tapi seorang wanita.
***
Besok lagi ya.
Trmksh mb Tienπ
ReplyDeleteπΉπΏπΉπΏπΉπΏπΉπΏ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung AaAaeS_28
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
πΉπΏπΉπΏπΉπΏπΉπΏ
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda. Sehat slalu beserta keluarga
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat selalu
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~28 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah, Rosa benar² telah bertobat. Semoga jln hidup kedepannya akan lebih baik. Matur nuwun Bu Tien π
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA 28 sdh bu Tien tayangkan. Semoga cerbung berlanjut dan bu Tien slalu sehat wal'afiat bersama keluarga tercinta dalam perlindungan Allah SWT. Aamiin...aamiin yaa robbal 'alaamiin π€²π
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung AAS sudah tayang,
ReplyDeleteTerima kasih bunda,
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT.
Tetap semangat ππ€²
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),28 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteTerima ksih bunda cerbungnya sdh tayang..slmr mlm slmt istrht..slm seroja unk bunda sekelππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDelete