Wednesday, September 2, 2026

AKU ANAK SIAPA 27

 AKU ANAK SIAPA  27

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot terpana. Yang berdiri di depan pintu, meraih tangannya lalu menciumnya adalah Rosa.

“Ini benar kamu?”

“Iya Pak, tadi saya ke rumah, Bapak tidak ada. Saya iseng-iseng lewat sini, ternyata Bapak memang sedang berjaga.”

“Aku merasa, ini seperti mimpi. Duduklah di sini.”

“Bapak sedang bertugas, nanti saya mengganggu.”

“Tidak apa-apa, kan hanya duduk. Aku bisa bicara sambil berjaga.”

“Baiklah, nanti saya juga ingin bertemu nyonya Surani.”

“Nyonya sedang ada tamu. Tunggu saja. Tapi ngomong-ngomong, kamu sudah bebas?”

“Kemarin saya dibebaskan, atas budi baik pak Daryono. Saya sudah dimaafkan, dan saya sungguh bertobat.”

”Senang mendengarnya. Kamu baru saja keluar?”

“Sudah kemarin, saya di rumah pak Daryono, tapi saya ingin ikut Bapak saja. Bolehkah?”

“Tentu saja boleh, kamu memang anakku,” kata pak Gatot penuh perasaan yang mengharu biru.

“Saya merasa menjadi orang kotor, tidak pantas tinggal di rumah pak Daryono, walau dia membesarkan saya dan memberikan kehidupan yang penuh kesenangan. Tapi saya jahat. Saya tidak pantas berada di sana lagi, saya mengotori rumah dan ketenteramannya.”

“Rosa, kamu hanya tersesat, dan sekarang sudah menemukan jalanmu kembali.”

Rosa mengusap tetes air matanya.

Ketika itu tiba-tiba ada yang dilihat Rosa. Senja dan anak serta suaminya. Rosa berdiri, menghadang di depan Senja, meraih tangannya dan menciuminya dengan linangan air mata.

Senja tentu saja terkejut. Ia merasa asing, karena Rosa memang tidak seperti dulu. Ia berhijab dan berpakaian sangat santun.

“Senja, maafkan aku … dosaku terlalu banyak untuk kamu, maafkan aku … maafkan aku.”

Senja terpana, agak lama ketika kemudian dia menarik Rosa agak ke pinggir karena banyak orang keluar masuk toko.

“Non Rosa?” agak terpekik ketika Senja mengucapkannya.

“Panggil aku Rosa, aku bukan lagi seorang Nona, aku orang rendahan, kotor, hina, nista. Maafkan aku ya, dosaku terlalu besar untuk kamu,” kata Rosa sambil terisak, tak peduli beberapa orang lewat menoleh ke arah mereka dengan heran.

“Jangan begini Non, sudahlah, semuanya sudah berlalu, aku sudah mendengar semuanya, aku sudah memaafkan non Rosa.”

“Jangan panggil aku non Rosa, aku Rosa.”

“Baiklah, Rosa, bagaimana kabarmu.”

“Aku sudah sadar, aku menyesal. Maafkan aku juga, Arka. Aku berdosa kepadamu dan juga istri kamu, dan anakmu ini.”

Satria menatap perempuan di depannya, yang menangis sambil menggenggam tangan ibunya. Ia tentu saja tak mengenal Rosa karena berpenampilan beda. Ia hanya menatap, sambil memegangi tangan ayahnya.

“Aku senang kamu sudah bebas. Hiduplah dengan kehidupan yang baik, yang lurus. Semoga Allah mengampunimu,” kata Arka.

“Senja, aku sekarang anak bapakku ini, pak Gatot, ia orang tuaku,” kata Rosa memperkenalkan pak Gatot sebagai ayahnya.

Pak Gatot tersenyum.

“Kami sudah kenal, ketika anak kecil ganteng ini jatuh di depanku,” kata pak Gatot sambil menowel pipi Satria yang terus menempel pada ayahnya.

“Kamu sekarang tinggal di mana? Bukankah pak Daryono mau menerima kamu kembali setelah kamu bebas?” tanya Arka.

“Tidak, aku akan tinggal bersama ayahku ini,” kata Rosa sambil menunjuk ke arah pak Gatot, yang tersenyum ke arahnya.

Pertemuan itu tampak akrab, lalu tiba-tiba bu Surani muncul, dan Rosa segera menghampiri dan merangkul kakinya.

“Saya bersalah pada Nyonya, saya jahat, maafkan saya,” Rosa kembali terisak.

“Ya ampun, Rosa, berdirilah, tidak usah begini. Aku sudah memaafkan kamu. Lupakan yang telah lalu.”

Pertemuan yang mengharukan, penuh permintaan maaf dari Rosa kepada semua yang ditemuinya.

Pak Gatot tak henti-hentinya bersyukur. Ia menganggap, si anak hilang sudah kembali pulang.

***

“Mengapa ya Pa, Rosa tidak suka kembali kemari, malah lebih suka tinggal di rumah pak satpam itu?” tanya bu Daryono dengan nada kecewa.

“Rosa sudah berbeda. Ia merasa bahwa dirinya salah. Banyak salah dan dia menganggap membuat kita malu. Mungkin juga dia merasa sungkan.”

“Mama sudah bilang nggak apa-apa, tapi dia bersikeras untuk tidak tinggal di sini. Mama ingin menolongnya agar dia bisa melanjutkan hidupnya.”

“Kita berikan surat-surat atau ijazah dia selama sekolah dan kuliah, barangkali bisa dipergunakan untuk mencari pekerjaan.”

“Usianya sudah lanjut untuk ukuran mencari pekerjaan. Apa bisa sih Pa?”

“Tapi ijazah itu kan hasil dia bersusah payah sekolah, biar saja dia bawa. Masalah ingin membantunya, kita tanyakan saja dia maunya apa. Barangkali ingin tetap bekerja, nanti aku titipkan di kantor entah nanti mengerjakan apa, atau ingin membuka usaha.”

“Tadi dia hanya pamit mau ketemu pak Gatot, dia masih akan kembali dulu kemari. Nanti baju-baju dia dan semua berkas ijazah dia biar dibawa sekalian. Tapi aku kok agak kecewa dia memilih tinggal bersama orang lain.”

“Mama tidak usah memikirkan masalah perasaan Mama, percayalah ketika dia menjadi baik, maka dia tak akan pernah melupakan kita.”

“Iya, benar. Nanti kalau dia kembali, kita ajak kembali bicara.”

“Baiklah, terserah Mama saja yang bicara nanti, yang penting niat kita hanya membantu, mengingat kita pernah membesarkannya dan mengasihinya seperti anak kandung sendiri.”

“Semoga dia benar-benar menjadi baik.”

“Kita doakan saja.”

***

Rosa merasa sedikit lega, bisa bertemu Senja dan suaminya dan Satria yang pernah diculiknya. Bagaimanapun dia sudah meminta maaf, dan berharap permintaan maaf itu bisa memperingan beban rasa bersalah yang menghimpitnya. Tampaknya Rosa benar-benar ingin menjalani hidup yang lebih bersih dan teratur. Tapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia berjanji akan memikirkannya setelah pamit dengan bu Daryono, karena ia tak ingin menjadi beban pak Daryono yang sudah mulai menua.

“Rosa, nanti langsung ke rumah Bapak kan?”

“Rosa belum pamit sama bu Daryono. Tadi hanya pamit untuk menemui pak Gatot, jadi setelah ini Rosa ingin kembali ke rumah keluarga Daryono dulu.”

“Semoga setelah ini kamu bisa merasa lebih tenang.”

“Mungkin saya ingin bekerja yang benar-benar bekerja, entah apa.”

“Bukankah kamu pernah sekolah, bahkan kuliah di luar negri?”

“Itu benar, tapi adakah orang yang mau menerima pekerja bekas narapidana? Saya harus tahu diri Pak, pekerjaan seperti itu memerlukan kebersihan dalam berperilaku, sedangkan saya ini apa? Lagipula umur saya sudah tidak pada waktunya bisa bekerja.”

“Ya sudah, hal itu nanti kita pikirkan sambil jalan, tidak usah tergesa-gesa mencari pekerjaan. Gaji Bapak cukup kalau untuk makan berdua, pastinya dengan kehidupan yang sederhana.”

“Saya akan berusaha, entah apa, jadi kuli pasar juga tidak apa-apa, asalkan tidak terlalu memberatkan Bapak.”

Pak Gatot tersenyum. Ia menangkap kesungguhan dalam ucapan Rosa dan dia senang. Tapi menjadi kuli pasar, pak Gatot harus memikirkannya lagi. Itu pekerjaan yang tidak mudah.

“Nanti saya pikirkan lagi, setelah saya benar-benar tinggal bersama Bapak. Saya bayangkan, hanya di tempat Bapak saya bisa menemukan ketenangan, setelah saya tidak berhasil menemukan siapa sebenarnya orang tua saya.”

"Rosa, nanti kalau kamu sudah di sini, akan aku ajak ke suatu tempat.”

“Ke mana Pak?”

“Ke sebuah makam.”

“Makam? Makam siapa?”

“Makam istri bapak, namanya Sawitri.”

“Oh, baiklah, kalau saya menjadi anak Bapak, saya juga harus tahu di mana makam ibu saya kan?”

Pak Gatot tersenyum, ada yang masih disimpannya.

***

Besok lagi ya.

 

12 comments:

  1. ๐Ÿ„๐Ÿชบ๐Ÿ„๐Ÿชบ๐Ÿ„๐Ÿชบ๐Ÿ„๐Ÿชบ
    Alhamdulillah ๐Ÿ’๐Ÿฆ‹
    Cerbung AaAaeS_27
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin๐Ÿคฒ.Salam seroja ❤️
    ๐Ÿ„๐Ÿชบ๐Ÿ„๐Ÿชบ๐Ÿ„๐Ÿชบ๐Ÿ„๐Ÿชบ

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda.
    Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta. Salam aduhai

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien... cerbung kesayangan sampun tayang.
    Doaku untuk bu Tien dan pak Tom semoga selalu sehat , bahagja dan sejahtera aamiin yra ... salam hangat san aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~27 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.๐Ÿ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.๐Ÿคฒ

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Mks bunda cerbung AAS sdh tayang , selamat malam bun smg sehat sll

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, AAS nya telah tayang.
    Sehat selalu bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, terima kasih Bu Tien semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  10. Alhamdullilah mksih bunda cerbungnya sdh tayang..slnt mlm slmt istrht..slm seroja unk bunda semeluarga๐Ÿ™๐Ÿฅฐ๐ŸŒน❤️

    ReplyDelete

AKU ANAK SIAPA 27

  AKU ANAK SIAPA  27 (Tien Kumalasari)   Pak Gatot terpana. Yang berdiri di depan pintu, meraih tangannya lalu menciumnya adalah Rosa. “Ini ...