AKU ANAK SIAPA 13
(Tien Kumalasari)
Nyonya Surani urung melangkahkan kaki ke dalam mobil. Ditatapnya Rosa dengan pandangan tak percaya.
“Kamu, mau berhenti bekerja?”
“Saya mohon maaf Nyonya, sepertinya saya tidak cocok dengan pekerjaan ini. Saya takut, apa yang saya lakukan tidak berkenan.”
“Aku tahu kamu belum berpengalaman, tapi kamu kan bisa belajar? Bagiku yang penting kamu jujur dan mau belajar.”
“Saya benar-benar mohon maaf. Saya sudah mendapatkan pekerjaan lain.”
“Oh, begitu? Apa kamu masih akan kost di dekat situ?”
“Saya juga akan pindah Nyonya, yang dekat dengan pekerjaan saya.”
“Baiklah, kalau itu memang mau kamu. Aku harus segera kekantor. Kalau kamu mau langsung hari ini keluar, bilang pada Bibik, serahkan apa yang tadinya menjadi tanggung jawab kamu.”
“Baik Nyonya, sekali lagi saya minta maaf.”
Nyonya Surani tak menjawab. Ia masuk ke mobilnya dan berlalu, sementara dia langsung masuk ke rumah dan mengatakan kepada Bibik kalau dia mulai hari ini keluar dari pekerjaan.
Bibik tentu saja terkejut.
“Mulai hari ini? Mengapa tiba-tiba Mbak, Nyonya belum mencari gantinya.”
“Saya terpaksa Bik, sudah dapat pekerjaan lain, dan harus mulai sekarang. Saya juga sudah tidak kost di situ lagi. Terima kasih, dan maaf ya Bik.”
Rosa pergi tanpa menunggu komentar Bibik, tidak berpesan apapun, juga tidak menengok ke arah Sisi yang digendong Bibik.
Bibik geleng-geleng kepala. Ia merasa Rosa bukan wanita baik-baik. Dan ada rasa bersyukur karena Rosa akhirnya pergi, walau dia akan bertambah repot karena mengerjakan semuanya sendiri.
“Semoga nyonya bisa mendapatkan ganti yang lebih baik,” gumamnya sambil mencium pipi Sisi, yang hanya diam menatap Rosa yang tanpa menyapanya, langsung pergi begitu saja.
Barangkali kalau sudah bisa bicara jelas, dia akan mengatakan ‘nggak sopan’.
***
Di rumah keluarga Daryono, si bibik juga sedang menghadapi Rosa yang pagi-pagi pamit keluar yang katanya ada perlu sebentar, tapi ketika kembali kemudian mengatakan tak mau menunggu majikannya pulang.
“Katanya mau ketemu nyonya, Non?”
“Tidak usah Bik, setelah semalam aku pikir-pikir, lebih baik aku pergi saja. Mereka sudah pasti kecewa terhadapku, dan ketika bertemu aku hanya akan merasa sakit hati karena tidak lagi disukai."
“Non jangan punya perasaan begitu, Nyonya adalah orang baik. Terhadap orang lain saja baik, apalagi terhadap Non yang pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Apa Non tahu, ketika kemarin saya memberikan uang yang walau hanya seratus ribu, itu adalah karena perintah nyonya.”
“Perintah nyonya?”
“Iya, nyonya berpesan kalau saya ketemu Non, maka nyonya menyuruh saya memberi uang kepada Non. Kemarin saya tidak membawa uang banyak, jadi saya hanya memberi seratus ribu. Kalau ada pasti saya akan memberi lebih.”
Rosa tersenyum tipis.
“Mengapa nyonya mengira bahwa Bibik akan bertemu denganku?”
“Saya melapor kepada nyonya, bahwa saya pernah melihat Non. Ketika pertama kali Non dipukuli banyak orang, saya melihatnya.”
“Apa?”
“Maaf Non, saya tidak yakin ketika itu karena pakaian Non yang lusuh.”
Rosa menghela napas, sedikit malu karena waktu digebukin banyak orang ia ketahuan sedang mencuri. Ia sangat lapar dan terpaksa melakukannya. Rosa bukan orang yang punya pemikiran bahwa kalau ingin mendapat uang maka ia harus bekerja, sementara untuk mengemis dia malu melakukannya.
“Aku terpaksa melakukannya.”
“Mengapa Non tidak mencari pekerjaan saja? Non kan pernah sekolah?”
“Aku tidak membawa identitas apapun. Tak ada yang percaya kalau aku pernah kuliah, bahkan keluar negri.”
“Kalau begitu Non bertemu Nyonya dulu, Non minta semua surat-surat yang menyatakan bahwa Non pernah sekolah. Bukankah itu bisa untuk mencari pekerjaan?” kata bibik yang walaupun pembantu tapi dia juga pernah sekolah walau hanya lulusan SMP.
Tentu saja Bibik tahu kalau ingin mencari pekerjaan harus punya ijazah atau apapun yang bisa dipergunakan untuk menyatakan bahwa dia punya keahlian. Tapi rupanya Rosa tidak tertarik. Entah apa yang dipikirkannya. Ia tidak menanggapi apa yang dikatakan Bibik. Ia malah bersikeras ingin segera pergi.
“Maaf Bik, aku tidak bisa tinggal di sini terlalu lama, saya pamit dulu.”
“Non, mungkin tak lama lagi Nyonya akan pulang. Soalnya nanti malam kalau tidak salah ada undangan pernikahan dari teman Tuan.”
“Tidak Bik, terima kasih, aku tetap pergi saja. Terimakasih sudah memberi tumpangan tidur semalam,” katanya kemudian berlalu tanpa menunggu bibik mengatakan apapun lagi. Padahal bibik ingin memberinya uang lagi.
“Non, sebentar Non,” teriaknya.
Tapi Rosa pergi dengan cepat.
Bibik menghela napas. Bagaimanapun bibik tahu kapan Rosa bayi dibawa pulang oleh kedua majikannya ketika itu, dan ikut merawatnya sampai dia dewasa. Sekarang Bibik sudah menua dan Rosa yang mulai berumur tak lagi seperti nona majikannya yang cantik dan menawan. Kerut diwajahnya tak bisa menyembunyikan berapa banyak tahun-tahun sudah dilaluinya.
***
Hari itu sudah siang ketika bu Surani pergi ke toko emas, untuk membelikan ganti gelang Sisi yang hilang. Ia membawa contoh gelang yang satunya lagi, supaya sama bentuknya.
Betapa terkejut bu Surani ketika petugas toko menunjukkan gelang yang sama dari simpanannya.
“Gelang Ibu ini sama persis dengan gelang ini, saya kira. Coba Ibu perhatikan.”
“Lhoh, kok gelang yang sama bisa ada di sini? Ada orang membuatnya persis? Tapi ada tulisan dibalik gelang ini. Ini nama anak saya.”
“Masa Bu?” petugas itu juga lama mengamatinya. Tak ada yang berbeda.
“Dari mana toko ini mendapat gelang ini? Saya ingin pesan lagi karena salah satu dari gelang anak saya hilang.”
“Oh ya Bu? Barangkali penemu gelang itu menemukannya di jalan atau apa, atau ada yang mencurinya?”
“Orang seperti apa yang menjualnya? Saya akan tetap membelinya, dan toko ini tidak akan saya rugikan karena pastinya sudah membelinya dari penjual itu.”
“Yang datang membawa gelang ini seorang wanita, cantik, walau sudah tidak lagi muda.”
“Wanita?”
“Iya Bu.”
Tiba-tiba bu Surani mencurigai seseorang. Ia menyimpan foto Rosa ketika sedang bermain dengan Sisi. Ia membuka ponselnya, lalu menunjukkannya kepada petugas toko.
“Apakah wanita itu yang ada di ponsel saya ini?”
“Lhoh, iya Bu, ini orangnya … ya ampuun, ini pembantu Ibu? Harusnya untuk selanjutnya Ibu berhati-hati. Dia bisa melakukan sekali, entah kapan lagi pasti dia melakukannya lagi,” kata petugas toko itu menggebu-gebu.
Bu Surani tersenyum tipis. Ia sungguh tidak mengira.
“Dia sudah pergi.”
“Ibu memecatnya?”
“Tidak, ia pergi dengan keinginannya sendiri, baru kemarin dua atau tiga harian yang lalu.”
”Untunglah sudah pergi. Tapi jangan-jangan sebelum pergi dia mengambil sesuatu yang lain … “
“Entahlah, dia baru sebulan lebih bekerja menjadi pengasuh anak. Ya sudah, tidak apa-apa, berapa harga gelang ini? Saya akan membelinya, daripada pesan lagi.”
***
Sore hari itu pak Gatot termenung sendirian di teras rumahnya yang sederhana. Ada sepi yang terasa merayapi hatinya. Karena kehilangan Rosa?
“Tak ada bagus-bagusnya wanita itu, tapi kenapa aku merasa seperti kehilangan. Padahal belum ada dua bulan dia berada di rumah ini. Apa karena aku sendirian dan senang ada yang menemani, kemudian tiba-tiba dia pergi begitu saja? Siapa sebenarnya dia? Aku tak pernah tahu karena dia tak pernah mau menjawabnya. Aku sedang ingin mengajarinya bagaimana seorang wanita mengatur rumah, bagaimana membersihkan rumah, bagaimana memasak, dan banyak lagi. Tapi kalau saja ia masih ada di rumah ini. Aku ternyata gagal menjadikannya wanita yang baik, dan dia sudah pergi.”
Gumam itu terhenti ketika bu Surani menelponnya.
“Pak Gatot?”
“Ya Bu, saya baru saja sampai di rumah.”
“Aku baru pulang juga. Aku hanya ingin memberi tahu, ternyata gelang Sisi yang hilang itu, Rosa yang mencurinya.”
“Apa?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~13 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.๐คฒ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah CeTePePe_13 sudah hadir gasik sebelum jam 19:00.
ReplyDeleteMatur nuwun Dhe, salam seger waras. Tetep semangat lan ADUHAI.
Sami2 mas Kakek.
DeleteAduhai
๐ฎ๐ฉ๐๐ฎ๐ฉ๐๐ฎ๐ฉ๐๐ฎ๐ฉ๐
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐ฆ
Cerbung AaAaeS_13
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin๐คฒ.Salam seroja ❤️
๐ฎ๐ฉ๐๐ฎ๐ฉ๐๐ฎ๐ฉ๐๐ฎ๐ฉ๐
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda.
Semoga sehat slalu beserta keluarga
Alhamdulillah, telah tayang...
ReplyDeleteSehat selamanya bunda...aamiin.
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Trmksh mb Tien๐
ReplyDelete๐ทAlhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 13 ~ Sudah tayang ๐๐ Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin๐คฒ๐⚘๐ท
ReplyDeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),13 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah, terima kasih bunda Tien cerbung AAS nya udah tayang .
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT ๐คฒ๐คฒ
Rosa pergi saja ke Pasar Pramuka, di sana kabarnya bisa pesan ijazah lho..
ReplyDelete