AKU ANAK SIAPA 09
(Tien Kumalasari)
Arka menatap ke arah toko emas yang ditunjuk Senja.
“Iya kan, betul kan, dia?”
“Sepertinya iya.”
“Dia mau membeli perhiasan?”
“Atau malah menjual perhiasan. Barangkali dia masih punya cincin atau apa yang akan dipergunakannya untuk makan. Bukankah dia sudah tidak lagi bersama keluarga pak Daryono? Pasti dia butuh makan atau apa.”
“Sepertinya penampilannya sudah berbeda. Tapi apa ya hubungannya dengan satpam toko pakaian yang dulu pernah kita hampir kesana?”
“Istrinya barangkali.”
“Sepertinya bukan. Cara boncengnya tidak seperti membonceng suami. Lagi pula satpamnya itu cukup tua. Masa Rosa mau?”
“Entahlah, mengapa tiba-tiba membahas dia.”
“Ibu, kapan Satria turun?” tiba-tiba Satria berteriak kesal. Keduanya baru sadar kalau sedang berbincang tentang hal yang bukan urusannya.
“Eh, iya. Ayuk kita turun.”
Barulah Arka dan Senja turun, lalu menurunkan Satria juga, yang tangannya dipegang erat oleh ayahnya, takut lari-lari seperti biasanya.
Sampai keduanya masuk ke dalam toko, belum tampak Rosa keluar dari toko emas itu. Dan Arka maupun Senja segera melupakannya karena merasa bukan urusannya.
***
Tapi tak lama setelah itu, Rosa keluar dengan wajah sumringah. Ia berjalan sambil melihat-lihat. Sepertinya ada yang dicarinya. Ia punya uang sekarang, dari penjualan gelang yang berhasil dicurinya.
“Sebaiknya aku membeli ponsel. Aku tak bisa menghubungi siapapun kalau tak punya ponsel. Tapi tidak, nanti ketahuan pak Gatot, apa jawabku, kenapa aku bisa memiliki ponsel?”
Rosa terus berpikir untuk sesuatu yang diinginkannya. Kebenciannya kepada Senja. Ia belum merasa puas kalau Senja masih hidup bahagia.
Sekarang dia butuh berpikir, dan dia butuh teman.
“Bagaimana ya aku menghubungi dia, kalau sore waktunya sempit, nanti pak Gatot bisa curiga. Kalau pagi atau siang aku harus bekerja. Kalau aku ijin, padahal aku kan bekerja belum lama, nanti kesan nyonya Surani pasti buruk. Aku masih membutuhkan uangnya, jadi aku harus berhati-hati."
Rosa melihat seorang penjual makanan, lalu ia membelinya. Hanya gorengan yang sebelum ini ia tak pernah menjamahnya. Bukankah dia orang kaya? Tapi sekarang tidak lagi. Rosa adalah anak angkat seorang satpam. Keluarga sederhana, kalau tak bisa disebut miskin.
Ia membelinya karena ketika pamit tadi dia pengin jalan-jalan untuk membeli camilan.
Setelah itu ia mencari ojol, agar membawanya pulang ke rumah pak Gatot.
***
“Dari mana saja kamu?”
“Kan saya bilang jalan-jalan karena ingin membeli camilan?”
“Di depan banyak orang menjual camilan.”
“Maksudnya sambil jalan-jalan Pak. Sudah lama tidak jalan-jalan dengan perasaan senang.”
“Iya, wajahmu tampak berseri-seri. Rupanya jalan-jalan membuat pikiranmu lebih tenang.”
“Benar Pak, tadi terasa sangat tertekan. Sungguh saya merasa berdosa karena gelang non Sisi hilang saat bersama saya.”
“Ya sudah, tidak usah dipikirkan, nyonya Surani adalah majikan yang baik. Dia sudah bisa menerima kehilangan itu. Kecuali dia kaya, yang pastinya tidak begitu menyusahkan kalau hanya kehilangan sebuah gelang, ia juga wanita yang baik. Ia baik kepada siapa saja, kepada para karyawannya dia juga sangat menghargai. Bersyukurlah kamu bisa diterima bekerja, walau hanya menjadi pengasuh anak-anak.”
“Itu karena Bapak yang sangat baik kepada saya.”
“Jangan lagi berkata begitu, seorang ayah baik kepada anaknya, bukankah itu wajar?”
“Terima kasih telah menganggap saya sebagai anak Bapak.”
“Oh ya, ini apa … kamu membawa bungkusan hanya diletakkan begitu saja. Makanan ya?”
“Iya Pak, sampai lupa, sebentar saya ambilkan piring,” kata Rosa sambil langsung beranjak ke belakang untuk mengambil piring.
Mereka berbincang sambil makan camilan, sampai malam, dan Rosa pamit akan tidur karena lelah.
***
Tapi Rosa tidak segera tidur. Ia sudah punya uang, walau tidak terlalu banyak. Entah mengapa, walau diangkat anak orang kaya, tapi jiwa ketidak jujuran sangat meresap di tubuhnya. Ia suka berbohong, mencuri makanan dan sekarang dengan akal licik ia berhasil mencuri gelang anak yang diasuhnya. Jauh bedanya dengan pak Daryono dan istrinya yang memiliki budi luhur dan mulia. Pastilah mereka tidak mendidiknya menjadi orang jahat, tapi entah mengapa, tetap saja dia melakukannya. Darah siapa yang mengalir di tubuh Rosa? Darah orang jahat, darah orang yang tidak jujur, darah penipu, pencuri dan pembohong?
Entah mengapa, Rosa bisa melakukannya.
“Kalau aku masih ada di sini, sangat sulit aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Bagaimana ya caranya supaya aku bisa pergi dari sini? Minggat? Tak mungkin, karena aku bekerja pada majikan pak Gatot juga.”
Menjelang pagi ia baru bisa tertidur, dan pak Gatot terpaksa membangunkannya karena sudah saatnya mereka berangkat bekerja.
Rosa bergegas mandi dan segera bersiap karena pak Gatot sudah menunggu.
“Mengapa bangun kesiangan? Semalam tidak bisa tidur?”
”Iya Pak, entah mengapa, saya selalu dibayangi rasa bersalah, sampai-sampai ada rasa takut untuk masuk bekerja,” katanya dengan wajah sendu.
“Bukankah sudah aku katakan kalau nyonya Surani itu seorang yang baik? Ayolah, masuk saja dan lihat, apakah dia masih marah atau tidak.”
“Ada rasa menyesal dan takut Pak.”
“Ayolah, kita berangkat saja. Kalau kamu tidak mau masuk kerja, nanti bu Surani malah berpikir buruk tentang kamu.”
Rosa membonceng dengan pura-pura sedih, dan disepanjang jalan pak Gatot terus menghiburnya.
Ia juga terus menampakkan wajah sedih ketika bertemu nyonya Surani.
“Mengapa kamu terus menundukkan wajahmu, Rosa?” tegur sang nyonya majikan.
“Saya selalu merasa berdosa, dan bekerja dengan ceroboh.”
“Ya sudah, lupakan saja. Itu sebagai peringatan untuk kamu, agar untuk selanjutnya kamu bekerja dengan lebih baik.”
“Maafkan saya, Nyonya.”
“Aku sudah memaafkan kamu. Bekerjalah dengan lebih baik,” kata nyonya Surani sambil berangkat pergi.
Wajah Rosa langsung berseri. Ia masuk ke arah belakang, melihat Sisi sedang digendong bibik.
“Lhoh, non Sisi kenapa minta gendong bibik?” kata Rosa sambil mengambil Sisi dari gendongan bibik.
“Ajak dia bermain di taman belakang saja Mbak, kejadian kemarin jangan sampai terulang lagi.”
“Iya Bik, saya salah.”
“Nyonya sangat baik hati. Asalkan Mbak bisa bekerja lebih baik, nyonya pasti suka.”
“Iya, saya tahu. Oh ya Bik, apakah di dekat-dekat sini ada rumah kost-kostan ya?”
“Apa? Mbak Rosa mau nge kost?”
”Maksud saya begitu, supaya tidak merepotkan bapakku.”
“Lha kan lebih enak pulang pergi bareng pak Gatot, mengapa harus kost segala.”
“Terkadang bapak sudah saatnya pulang, tapi pekerjaan saya belum selesai. Bapak kan sudah tua, nanti dia kelelahan.”
“Kalau setahu saya di dekat situ ada rumah untuk kost-kostan. Tapi masuk gang.”
“Jauhkah dari sini?”
“Nggak begitu jauh, coba saja, saya juga tidak begitu paham.”
“Nanti kalau non Sisi tidur, saya titip sebentar ya, mau coba bertanya-tanya.”
“Ya Mbak, terserah Mbak saja, tapi jangan lama-lama. Terkadang nyonya pulang untuk makan siang. Nanti pasti ditegur karena meninggalkan non Sisi.”
“Saat lagi tidur saja, dan tidak lama. Kan tidak jauh?”
***
Pak Gatot terkejut ketika Rosa mengatakan ingin pindah dari rumahnya, saat mereka baru saja memasuki rumah.
“Mengapa Ros, di sini kan tidak apa-apa, kamu tidak kehilangan biaya transport, karena berangkat dan pulang bisa bareng aku.”
“Soalnya ketika Bapak sudah saatnya pulang, terkadang pekerjaan saya belum selesai. Saya kasihan, Bapak harus menunggu.”
“Tidak apa-apa, kan tinggal pulang.”
“Jangan Pak, tadi saya sudah mendapat rumah kost itu, bayarnya murah. Mulai besok saya mau pindah ya Pak.”
Pak Gatot terkejut, sekaligus bersedih. Alasan Rosa masuk akal, tapi ia sudah terlanjur senang bisa memiliki anak.
“Bapak pasti kesepian.”
“Saya akan sering pulang kalau libur, Bapak tak usah khawatir.”
Rosa beranjak langsung ke kamarnya, tapi tiba-tiba sesuatu jatuh dari dalam tasnya. Sebuah dompet. Pak Gatot mengambilnya.
***
Besok lagi ya.
🌺🌻🌺🌻🌺🌻🌺🌻
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung AaAaeS_09
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🌺🌻🌺🌻🌺🌻🌺🌻
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga aamiin.
Alhamdulillah AaAaeS_09 sdh tayang.
ReplyDeleteTerima kasih Dhe, sehat selalu dan selalu sehat ya.
Salam SEROJA dan tetap ADUHAI 🥰💗🌹
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda
Semoga Bunda baik baik saja. Sehat. Semoga Allah memberikan kemudahan" . Salam Aduhai...
Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sdh tayang... semoga bu Tien selalu sehat penuh berkah dan dlm lindungan Allah SWT aamiin ... salam hangat san aduhai aduhai bun❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah telah tayang...
ReplyDeleteSehat selamanya bunda...aamiin.
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~09 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Alhamdulillah terima kasih bunda Tien cerbungnya.
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
Aamiin YRA 🙏🤲
Dompet berisi banyak uang hasil panen nyolong.
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),09 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDelete