Tuesday, August 11, 2026

AKU ANAK SIAPA 08

 AKU ANAK SIAPA  08

(Tien Kumalasari)

 

Bu Surani terkejut. Ia hampir berteriak sambil terus mengendarai mobilnya.

“Hilang? Bagaimana bisa hilang? Sudah dicari di sekeliling rumah? Di kamar barangkali?”

“Hilangnya tidak di rumah, Nyonya.”

“Tidak di rumah? Di mana? Memangnya Sisi pergi ke mana?”

“Jalan-jalan sama mbak Rosa ke taman tiba-tiba mereka pulang, mbak Rosa menangis sampai sekarang belum berhenti.”

“Sudah di cari di sepanjang perjalanan dari taman ke rumah?”

“Sudah Nyonya, saya juga membantu mencari, tapi tidak ketemu, barangkali sudah ditemukan orang lalu dibawa pergi."

“Ya sudah, aku mau pulang ini.”

Bibik meletakkan gagang telpon rumah, lalu menghampiri Rosa yang masih saja menangis terisak-isak.

“Sudah Mbak, jangan menangis terus, nanti non Sisi ikutan menangis lagi. Dia sudah tenang sambil minum susu di kamar,” kata bibik.

“Saya takut sekali Bik. Menyesal tadi membawa non Sisi jalan-jalan.”

“Namanya orang lagi apes, ya sudah, berhenti menangis, barang hilang nggak bakalan ketemu walau ditangisi sehari semalam.”

“Saya takut Bik, kalau harus mengganti, dengan apa saya menggantinya? Saya orang miskin,” lalu Rosa menangis lagi.

Tangisnya semakin keras ketika bu Surani sudah tiba di rumah.

"Memangnya kenapa kamu mengajak Sisi keluar?”

“Saya merasa non Sisi sebaiknya diajak jalan agar bisa melihat-lihat. Di taman pemandangannya indah, dia suka melihat bunga-bunga.”

"Ketika dia minta gendong mungkin karena capek, saya melihat gelangnya tidak ada. Saya bingung mencarinya, disekitar taman, di tempat di mana tadi non Sisi bermain, tapi tidak ketemu. Saya pulang juga sudah mencari di sepanjang jalan. Bibik juga membantu, tapi tidak ketemu, Nyonya," lanjutnya.

“Ya sudah tidak usah menangis lagi. Lain kali jangan sampai kamu mengajak Sisi keluar rumah tanpa ijin dari aku.”

“Saya bingung Nyonya, dengan apa saya menggantinya? Saya orang miskin, tidak punya apa-apa.”

“Siapa yang menyuruh kamu mengganti?” kata bu Surani, masih dengan wajah muram.

“Saya minta gaji saya dipotong semuanya, dan saya akan bekerja tanpa digaji, sampai harga gelang itu lunas.”

“Tidak usah. Aku hanya minta kamu berhati-hati dan lebih teliti.”

Rosa mengusap wajahnya yang sembab, kemudian ambruk ke lantai dan merangkul kaki bu Surani sambil meratap pilu.

“Saya menyesal Nyonya, lain kali saya akan berhati-hati, saya memang ceroboh, kalau punya uang, saya pasti akan menggantinya.”

“Sudah, sudah … tidak usah diulang-ulang lagi,” katanya sambil menarik lengan Rosa agar berdiri, kemudian dia masuk ke kamar anaknya. Sekaya apapun, saat kehilangan pasti rasa kecewa itu ada.

Sisi berteriak senang melihat ibunya pulang. Botol susu yang semula dipegangnya kemudian dilempar, lalu lari tertatih menuju ke arah ibunya.

“Mmaaa ….”

“Sisi, gelang kamu hilang satu ya? Dilepas saja sekalian yang satu ya, tidak usah pakai gelang.”

Sisi yang belum mengerti apa-apa  membiarkan sang ibu melepas gelang di tangan kanannya.

Tapi Sisi berteriak ketika bu Surani mau melepas antingnya. Barangkali agak sakit. Lalu bu Surani membiarkannya.

“Sisi jangan main ke mana-mana kalau tidak bersama Mama ya?”

Sisi menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berlari keluar kamar. Rosa sedang duduk di sebelah pintu luar, ngelesot di lantai. Sisi segera menarik tangannya, membuat Rosa harus berdiri, kemudian mengikuti langkahnya ke ruang bermain.

Bu Surani merasa sudah cukup menyesali sebuah gelang yang hilang. Tidak murah, tapi mau bagaimana lagi.

Ia menuju ke dapur dan pamit sama Bibik.

“Bik, aku mau ke kantor ya, awasi Sisi, jangan boleh keluar rumah. Di belakang juga ada taman, mengapa Rosa mengajaknya keluar,” sesalnya.

“Tadi sudah saya peringatkan, tapi mbak Rosa tampaknya yang ingin jalan-jalan.”

“Ya sudah, tidak usah diingat-ingat lagi, semuanya sudah terlanjur, aku sudah ingatkan Rosa agar lain kali tidak membawa Sisi pergi keluar.”

“Ya, Nyonya.”

Bu Surani segera keluar menuju ke arah mobilnya. Rosa menunggui Sisi bermain, dan merasa lega.

“Mbak Rosa, pintu depan dikunci saja.”

“Iya Bik,” katanya sambil mengusap sisa air matanya.

***

“Bagaimana sampai gelang itu bisa hilang?” tanya pak Gatot ketika sudah berada di rumah.

“Saya hanya ingin mengajaknya jalan-jalan, saya menyesal sekali ," jawab Rosa pelan.

“Untunglah bu Surani itu orang baik, jadi dia tidak mempermasalahkan atau meminta kamu menukarnya. Harga gelang itu pasti tidak murah. Jutaan rupiah.”

“Iya, itu sebabnya saya sangat menyesalinya. Gelangnya lumayan berat. Kalau ingat hal itu saya sedih sekali.”

“Ya sudah, bu Surani sudah memaafkan. Tadi ketika dia mau keluar, aku juga sudah mendekat dan meminta maaf, soalnya bu Surani tahunya kamu itu anakku.”

“Jadi menyusahkan Bapak juga.”

“Semuanya sudah terlanjur. Semua itu bisa kamu jadikan pelajaran agar selanjutnya kamu lebih berhati-hati.”

Rosa mengangguk, menampakkan wajah yang sangat sedih. Pak Gatot menepuk bahunya untuk menenangkannya.

“Sudah, mandi sana.”

“Pak, saya pengin jalan-jalan sore ini. Nanti setelah mandi.”

“Oh ya? Bapak antar?”

“Tidak usah Pak, cuma pengin jalan-jalan saja kok.”

“Jangan jauh-jauh.”

“Tidak, pengin beli cemilan saja.”

“Kamu masih punya uang?”

“Masih ada. Lagian sebentar lagi saya gajian, ya kan?”

Pak Gatot tersenyum. Ia merasa lega akhirnya Rosa bisa mendapat penghasilan.

“Besok kalau menerima gaji, belilah semua keperluan kamu.”

“Nanti akan Rosa beri separo untuk Bapak.”

“Apa? Mengapa kamu berikan separo untuk bapak?”

“Selama ini Rosa menjadi beban Bapak, sudah sepantasnya saya memberikan gaji saya.”

“Tidak. Bapak masih punya gaji yang cukup, Semuanya untuk kamu sendiri saja. Masalah makan nanti minta sama bapak.”

“Bapak sangat baik pada Rosa.”

“Bukankah Rosa sudah bapak anggap sebagai anak bapak sendiri?”

“Terima kasih banyak, Bapak.”

“Sudah, katanya mau jalan-jalan, mandi sana.”

Rosa tertawa kecil, lalu menuju ke kamarnya, bersiap mandi.

***

Senja menghampiri suaminya yang sedang santai di ruang tengah. Satria duduk di pangkuannya.

“Mas, kemarin itu belum jadi beli baju untuk bibik lhoh. Bagaimana kalau sekarang saja”

“Aku ikuttt,” belum-belum Satria berteriak, membuat ayah dan ibunya terkekeh geli.

“Kalau mau ikut ganti baju sana,” kata sang ayah.

“Kita pergi Mas?”

“Iya, kan Satria sudah aku suruh ganti baju.”

“Baiklah, aku begini saja, tidak usah ganti baju ya?”

“Tidak apa-apa kamu tidak ganti baju, kamu memakai apapun kan sudah cantik.”

“Sore-sore ada rayuan gombal nih.”

“Emang kamu cantik kok. Tapi sebentar, aku yang harus ganti, masa aku memakai sarung begini.”

“Iya, buruan, aku mau melihat Satria dulu, sudah benar tidak pakai bajunya."

“Ibu, aku sudah selesai,” tiba-tiba Satria sudah berteriak sambil keluar dari kamarnya.

“Wah, anak Ibu memang pintar, sini Ibu benahi rambutnya, berantakan begitu, belum disisir ya?”

“Ibu saja yang nyisirin. Pakai jambul ya bu?”

“Iya, beres.”

***

Masih agak sore ketika mereka memilih-milih toko, dan Arka belum menghentikan mobilnya.

“Hanya untuk bibik, atau untuk kamu juga?”

“Untuk Satria dong Pak.” pekik Satria

“Ya, untuk Satria juga, ibu tidak usah, baju Ibu masih cukup,” kata Senja.

“Ok, baiklah. Yang di depan itu kan toko pakaian."

Arka menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian. Satria selalu ingin melompat turun lebih dulu, tapi kali itu Senja melarangnya.

“Satria, ingat ya, kamu buru-buru keluar, lalu kamu jatuh.”

“Satria hanya turun, tidak akan lari.”

“Tunggu ibu dulu, nggak boleh turun.

Tapi sebelum Senja turun, ia melihat seseorang.

“Mas, lihat, itu non Rosa bukan?”

“Mana?”

“Itu, yang ada di toko emas.”

***

Besok lagi ya.

 

18 comments:

  1. 🌾☘️🌾☘️🌾☘️🌾☘️
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung AaAaeS_08
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🌾☘️🌾☘️🌾☘️🌾☘️

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah "AKU ANAK SIAPA 08" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng dalu πŸ™

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Kita jumpa lagi sama pa Gatot.
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  5. Trmksh mb Tien, smg sht sllπŸ™

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah cerbungnya sudah tayang,
    Terima kasih bunda Tien.
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
    Aamiin YRA 🀲

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah cerbungnya sudah tayang.
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
    Aamiin YRA 🀲

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien semoga ibu selalu sehat dan bahagia, selalu dalam lindungan Allah SWT salam hangat dan aduhai aduhai bun

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah telah tayang,,,
    Sehat selamanya bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun mbak Tien-ku Aku Anak Siapa telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah, Rosa telah datang, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat, semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~08 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  14. Nah, sudah jelas Rosa pencuri gelang Sisi...masa dia tau gelang itu berat?😁

    Terima kasih, ibu Tien...salam sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~08 sudah hadir.
    Terima kasih ibu Tien, salam sehat ...

    ReplyDelete
  16. Terimakasih bunda Tien, sehat selalu dan bahagia bunda sekeluarga

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),08 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete

AKU ANAK SIAPA 08

  AKU ANAK SIAPA  08 (Tien Kumalasari)   Bu Surani terkejut. Ia hampir berteriak sambil terus mengendarai mobilnya. “Hilang? Bagaimana bisa ...