Thursday, August 6, 2026

AKU ANAK SIAPA 05

 AKU ANAK SIAPA  05

(Tien Kumalasari)

 

Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang yang dipanggilnya tak terlihat batang hidungnya. Bibik kembali mendekati nyonya majikannya.

“Kok hilang, … Nyonya.”

“Apa sebenarnya yang kamu lihat?”

“Perempuan itu, yang lewat tadi, Nyonya tidak melihatnya?”

“Aku hanya melihat orang melintas, apa maksudmu?”

“Dia, wajah non Rosa itu, Nyonya.”

“Katamu pakaiannya kumuh dan lusuh, tadi pakaiannya biasa saja. Pakaian bersih, biarpun bukan pakaian mahal.”

“Benar, pakaiannya tidak selusuh ketika saya melihatnya, tapi wajahnya sangat jelas. Lebih jelas bahwa dia benar, non Rosa.”

“Mencari siapa  Bu?” tanya pemilik warung yang heran melihat sikap keduanya.

“Ah, tidak … saya hanya merasa melihat orang yang kami kenal.”

“Tidak ketemu?”

“Tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi.”

“Barangkali belok ke tikungan di depan itu.”

“Saya sudah ke sana, tidak lagi melihat bayangannya.”

“Sayang sekali. Apa dia orang yang pernah berbuat jahat pada Ibu?”

“Tidak, bukan begitu. Hanya merasa kenal saja,” kata bu Daryono yang kemudian menggamit lengan Bibik.

“Ayo kita pulang, kamu bawa buah-buah itu ke mobil."

Bibik mengangguk. Bu Daryono membayar semua belanjaan dan jus yang mereka minum, kemudian mengikuti Bibik yang sudah berjalan menuju mobil.

Bibik mengetuk pintu mobil, rupanya pak sopir tertidur. Kemudian ia bergegas membuka pintu dan mempersilakan nyonya majikannya masuk.

“Pak sopir tertidur sih, tidak melihat non Rosa lewat ya?” tanya Bibik ketika mobil sudah berjalan.

“Benarkah? Ya ampun, saya minta maaf. Saya ketiduran, jadi tidak melihat apapun. Mengapa Bibik tidak memanggilnya?”

“Saya sudah mengejarnya, tapi dia sudah pergi entah ke mana, padahal baru saja saya melihatnya, langsung mengejarnya.”

“Didaerah setelah tikungan itu banyak gang masuk yang berkelok-kelok, pasti dia masuk ke sana, lalu berbelok entah ke mana. Pantas Bibik tidak melihatnya.”

“Tapi ya belum tentu non Rosa, mungkin wajahnya mirip, tapi saya ingin melihat dari dekat, apa saya salah telah mengira dia non Rosa.”

“Apa mungkin dia tinggal di sekitar tempat ini ya Bik?”

“Entahlah Nyonya. Mungkin iya.”

“Sayang sekali kita tidak bisa menemuinya.”

“Besok-besok kalau senggang, saya akan berjalan-jalan lagi kemari, dan memasuki tikungan itu, memasuki gang-gang yang mungkin bisa menemukan non Rosa atau orang yang mirip non Rosa itu.”

“Kalau kamu pergi, aku ikut ya Bik.”

“Saya hanya akan berjalan memasuki gang setelah tikungan itu, masa Nyonya mau ikut ?”

“Tidak apa-apa.”

“Nyonya sangat ingin ketemu non Rosa ya?”

“Hanya ingin tahu keadaannya. Kalau dia tak mau pulang, aku ingin tahu dia tinggal di mana.”

***

Tapi ketika hal itu diceritakan kepada suaminya, sang suami justru menegur istrinya.

“Mengapa Mama susah-susah mencarinya? Kalau dia tidak datang kemari, berarti dia tidak ingin kembali.”

“Iya sih, tapi aku ingin tahu keadaannya.”

“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kalau memang dia mau kembali, dia pasti datang.”

“Kasihan, kata Bibik dia seperti gelandangan. Kalau dia tidak mau kembali kemari, setidaknya aku ingin memberinya modal untuk dia berusaha. Mungkin berjualan atau apa, agar hidupnya berlanjut lebih baik.”

“Niat itu sangat baik, tapi Mama tidak usah terbebani dengan keinginan itu. Nanti Mama yang akan menjadi tertekan karena kepikiran terus.”

Bu Daryono mengangguk. Apa yang dikatakan suaminya benar. Kalau Rosa ditakdirkan mendapat kehidupan yang lebih baik, pasti jalan itu ada.

“Mama doakan saja agar Rosa baik-baik saja.”

“Apa Papa keberatan kalau aku membantunya?”

“Ya tidak. Lakukan saja. Kita itu selama ini kan sudah banyak membantu siapapun yang memerlukannya, kalau harus membantu Rosa, mengapa aku keberatan? Tapi yang jelas Mama harus melepaskan beban keinginan itu. Kalau Rosa bernasib baik, pasti dia akan bertemu Mama dan mendapat bantuan.”

“Bagaimana kalau dia kembali menjadi keluarga kita?”

“Kalau itu kita harus memikirkannya dua kali. Kita sudah semakin tua, apakah dia akan menjadi beban, atau malah meringankan beban? Aku kok merasa tidak sepenuhnya yakin kalau dia akan menjadi baik. Dari apa yang pernah dia lakukan, sepertinya ada bibit kurang baik yang dia bawa entah dari mana. Tapi kalau hanya membantu, okelah, tidak apa-apa.”

“Intinya, Papa tidak ingin dia kembali.”

“Begitulah, kira-kira.”

***

Sore hari itu Arka menjemput anak dan istrinya di rumah mertuanya. Banyak cerita Satria, yang menghabiskan banyak coklat dari dalam toples dagangan neneknya.

“Satria, itu kan dagangan nenek. Kamu harus membayarnya. Lihat, toplesnya kosong tuh,” tegur sang ayah.

“Itu tidak Satria makan semuanya. Kata ibu nanti Satria batuk.”

“Lha itu, habis, toplesnya kosong.”

“Itu dibungkus, dibawa pulang, buat besok-besok,” bantah Satria sambil menunjukkan bungkusan yang dibawakan neneknya, sisa coklat dalam toples.

“Satria harus minta uang pada ibu, dibayarkan ke nenek, karena itu coklat dagangan.”

“Bu, bayar dong coklatnya, nanti dimarahi bapak,” rengek Satria.

Senja tersenyum dan mengangguk.

“Jangan khawatir, nanti Ibu bayar.”

“Tidak usah, biar saja itu untuk cucu nenek,” sergah mbok Mangun.

Walau begitu, Arka menyelipkan uang di kotak uang mertuanya.

“Biarkan Mbok, agar tidak menjadi kebiasaan untuk Satria.”

***

“Mas, nanti pulangnya mampir ke toko pakaian ya,” kata Senja dalam perjalanan pulang.

“Kamu mau beli pakaian ke butik? Apa tidak lebih baik kita pulang saja dulu, lalu nanti kita jalan-jalan.”

“Bukan untuk aku. Untuk bibik. Sudah lama kita tidak beli untuk bibik.”

“Baiklah, ke mana kita belinya?”

“Toko sembarang saja, kan untuk bibik di rumah.”

“Oke bos.”

Senja tertawa, lalu mencubit lengan suaminya.

“Bosnya tuh mas Arka, bukan aku.”

“Ya tidak, di rumah kan semuanya kamu yang atur, jadi kamulah bosnya.”

“Di situ Mas, depan itu ada toko pakaian.”

Arka menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian seperti yang ditunjuk Senja.

Satria melompat turun dan berlari mendahului ke arah toko.

“Satria, hati-hati,” teriak Senja.

Tapi Satria memang kurang hati-hati. Ia menabrak pak satpam yang memegangi motornya ketika bersiap pulang.

Tak bisa tidak, Satria terjatuh.

Pak Satpam menstandartkan motornya, kemudian mengangkat tubuh Satria yang menangis.

“Ya ampun, mengapa lari-lari Nak?”

Arka yang memburu segera mengambil alih Arka dari gendongan pak satpam.

“Maaf Pak, anak Bapak yang menabrak saya.”

“Tidak apa-apa, saya tahu anak saya kurang hati-hati.”

“Kembali ke mobil dulu Mas, lutut Satria berdarah. Ada obat di dalam mobil."

“Baiklah,” kata Arka yang kemudian membawa anaknya kembali ke mobil.

Pak Satpam geleng-geleng kepala, menyesal karena membuat seorang anak terjatuh. Karena orang tuanya sudah menangani, maka ia kemudian mengambil motornya dan bersiap pulang.

“Pak Gatot!”

Pak Gatot menoleh, ia melihat Rosa mendekat.

“Kamu dari mana?”

“Dari jalan-jalan saja. Kebetulan lewat sini, dan melihat pak Gatot mau pulang.”

“Iya, mau pulang. Ayuk kalau begitu, bonceng bapak saja.”

“Mengapa baju Bapak berdarah? Tuh … baju bagian kiri.”

“Oh iya, tadi ada anak kecil lari-lari, mau masuk ke toko tapi menabrak aku. Lututnya luka berdarah, aku menggendongnya. Nggak apa-apa, nanti sampai rumah dicuci."

“Lukanya parah?”

"Tidak, hanya lututnya berdarah, sudah digendong orang tuanya. Tuh, mobilnya masih ada. Rupanya tadi mau belanja ke toko.”

Rosa menatap mobil yang ditunjuk pak Gatot.

“Ya ampun, ketemu mereka lagi?” kata batin Rosa. Ia segera naik ke boncengan pak Gatot, khawatir Arka atau Senja mengenalinya.

"Sial benar aku hari ini. Tadi siang hampir ketahuan bibik, ini malah Arka dan istrinya."

***

Besok lagi ya

 

24 comments:

  1. Alhamdulillah AaAaeS_05 sdh hadir? Matur nuwun Dhe

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah mksh bunda Tien
    Sehat selalu doaku

    ReplyDelete
  3. 🎋🪴🎋🪴🎋🪴🎋🪴
    Alhamdulillah 💐🦋
    Cerbung AaAaeS_05
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
    🎋🪴🎋🪴🎋🪴🎋🪴

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku, AKU ANAK SIAPA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  5. Matur suwun bu Tien salam sehat selalu🙏

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah
    Terima kasih Bu Tien
    Semoga Ibu Tien sehat selalu

    ReplyDelete
  7. Mks cerbung nya bun....selamat malam

    ReplyDelete
  8. Mks cerbung nya bun....selamat malam

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah "Aku Anak Siapa 05" sdh hadir. Matur nuwun Bu Tien 🙏

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~05 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
  12. Alhamdulilah maturnuwun bu Tien... senja sdh tayang..
    Semoga bu Tien sll sehat, bahagia dan tetap aduhai aduhai.❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  13. Matur nuwun Bunda Tien, salam sayang sehat bahagia aduhai dari Yk....

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),05 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah terima kasih bunda cerbung AAS nya ,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲🤲

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah, mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  19. Terimakasih bunda Tien, semakin sehat, tetap semangat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga🤲🤲🤲

    ReplyDelete
  20. 🌷Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 05 ~ Sudah tayang 👍💐 Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷

    ReplyDelete

AKU ANAK SIAPA 05

  AKU ANAK SIAPA  05 (Tien Kumalasari)   Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang y ang...