AKU ANAK SIAPA 03
(Tien Kumalasari)
Rosa berbicara banyak dengan petugas panti itu, tapi sang petugas lebih sering geleng-geleng kepala.
“Di sekitar tahun yang Anda katakan, tidak ada bayi bernama Rosana yang diadopsi oleh seseorang.”
Rosa terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Bulan … Pebruari, Bu. Kira-kira.”
“Sebenarnya saya belum ada di sini ketika tahun-tahun itu. Dan Bu Kartika, kepala yayasan ini sudah meninggal.”
“Bukankah ada data tertulis di sini?”
“Soalnya sudah terlalu lama.”
“Apakah semua arsip lama selalu dibuang?”
“Tidak sih, tapi harus mencari dengan teliti.”
“Bolehkah saya minta tolong Ibu mencarikannya? Saya ingin sekali tahu, siapa orang tua saya,” sekarang suara Rosa terdengar sangat memelas.
Petugas itu menatapnya iba. Rosa sudah mengatakan tahunnya, persis tanggal dan bulan dan tahun di mana disebutkan di akte pengangkatan anak. Pastinya dari situ data tentang dirinya bisa dilacak.
“Baiklah, saya akan mencoba mencarinya di gudang,” kata petugas itu yang kemudian mengajak beberapa petugas lainnya untuk membantu.
Rosa duduk menunggu dengan gelisah. Perut yang melilit karena belum makan apapun sejak pagi tak dirasakannya. Ia hanya punya uang yang diberikan pak Gatot, yang hanya cukup dipergunakan untuk ongkos ojol pulang pergi.
Tapi ia tak mempedulikannya. Ia harus tahu dari mana asal usulnya. Pasti tidak jatuh dari langit, bukan?
Lama sekali mereka mencari, hampir tiga jam kemudian, ibu petugas itu keluar dengan membawa sebuah map. Rosa memajukan duduknya agar bisa melihat jelas apa yang akan ditunjukkan wanita itu.
“Apakah ketemu?”
“Di hari dan tanggal dan tahun yang Anda sebutkan, ada seorang bapak bernama Daryono.”
“Ya, itu benar. Dia mengadopsi bayi dari sini kan?”
“Bayi itu baru saja lahir, masih sangat kecil, perempuan, tapi tak bernama, atau memang belum sempat diberi nama.”
“Oh, begitu ya?” Rosa berpikir, nama Rosana itu adalah pemberian ayah angkatnya.
“Dia bayi yang ditinggalkan orang tuanya begitu saja di depan panti, saat malam hari.”
“Apa?”
“Sampai kemudian bayi itu diadopsi, tak ada yang tahu bayi itu anak siapa.”
Tubuh Rosa serasa bagai disiram seember air es. Ia nyaris menggigil.
“Aku anak yang tidak dikehendaki lahir ke dunia ini. Orang tuaku membuangku dengan semena-mena," pikirnya.
Air mata Rosa menetes perlahan.
“Apakah bayi itu Anda?”
“Pastinya saya,” bisiknya lirih.
“Maaf saya tidak bisa membantu lagi. Hanya itu data yang kami temukan.”
Rosa mengangguk lemah, kemudian berdiri. Ia mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan dengan lunglai, keluar dari halaman panti. Air mata mengalir deras di sepanjang pipinya, mengiringi langkahnya. Ia tak peduli ketika banyak orang memperhatikannya. Ia terus melangkah dan ia juga terus menangis.
“Harapanku untuk bertemu orang tuaku kandas. Biar dia miskin, biar dia hina, aku seharusnya bisa hidup bersamanya, tidak bersama pak Gatot yang bukan siapa-siapa.”
Di sebuah jalanan sepi, Rosa melihat sebuah pohon besar yang akarnya menonjol. Kemudian ia duduk melepaskan kepenatan yang merayapi kakinya. Ia belum pernah berjalan kaki sejauh ini. Dulu ke mana-mana ia selalu naik mobil, dan baru sekarang ia menjalaninya berjalan kaki. Ia tak berniat memanggil ojol. Ia hanya ingin terus berjalan, dan sekarang rasa penat mengganggu langkahnya yang semakin pelan. Ia menahan keluarnya air matanya, tapi ia tak mampu menahannya. Ia merasa seperti sebuah layang-layang yang putus talinya, entah kemana dia akan jatuh. Mungkin di antara ranting-ranting pohon, mungkin di sebuah lapangan, atau di sebuah perkampungan kemudian diperebutkan oleh anak-anak kecil, lalu layang itu robek, serpihannya berhamburan ke mana-mana.
Seperti hatinya yang berserpih-serpih, melayang tanpa pegangan.
Ia duduk sambil merangkul kedua lututnya, menyembunyikan wajah sembabnya.
***
Hari itu bu Daryono membantu Bibik memasak di dapur. Tadi di pasar, ia ingin melihat perempuan yang disebut Bibik seperti gelandangan, tapi tidak ketemu. Bu Daryono tampak kecewa. Ia diam saja sambil memetik sayuran yang disiapkan Bibik.
“Mungkin saya salah Nyonya, dia itu benar-benar gelandangan.”
“Katamu wajahnya mirip Rosa?”
“Iya, kalau wajah itu kan bisa saja mirip Nyonya. Masa non Rosa jadi gelandangan.”
“Dia keluar dari penjara, apa dia punya uang? Dia makan apa, dari mana dapat makanan kalau tak punya uang,” kata bu Daryono lirih, yang tampaknya masih sangat memikirkan Rosa.
“Non Rosa bukan anak kecil, pasti dia bisa berusaha untuk mempertahankan hidupnya.”
Bu Daryono menghela napas panjang, terdengar berat.
“Semoga.”
Lalu semuanya terasa sunyi. Hanya suara pisau merajang sayur dan memotong daging, lalu gemercik air keran pencuci alat-alat dapur.
Dulu bu Daryono sangat kesal ketika mengetahui bahwa Rosa terkadang melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Mengejar laki-laki dengan tak tahu malu, melakukan kebohongan, dan yang terakhir melakukan kejahatan sampai berurusan dengan polisi, dan berakhir di balik jeruji besi.
Tapi membayangkan kesengsaraannya setelah keluar dari penjara, hati bu Daryono serasa ikut tersakiti. Ternyata sebuah ikatan batin terjalin dengan sendirinya. Ada rasa kehilangan yang tak disadarinya.
“Bik, besok-besok kalau ke pasar lagi aku ikut ya.”
“Baik Nyonya.”
***
Ketika pak Gatot sampai di rumah, ia tak mendapati Rosa. Ia mencari dan memanggil-manggil ke dalam kamarnya, tapi ia tak menemukannya.
“Ke mana dia? Apa beli makanan di depan situ? Kok tadi aku nggak melihatnya?” gumamnya sendirian.
“Mungkin jenuh di rumah sendirian, lalu jalan-jalan. Aku bingung menghadapi anak itu. Kelihatannya dia sangat tertutup dan tak mau mengatakan di mana asal-usulnya. Tapi biarlah, aku tak akan memaksa. Aku hanya ingin menolongnya. Entah mengapa, rasanya kasihan sekali melihatnya seperti hidup dalam kesengsaraan.”
Pak Gatot kemudian mandi, lalu menyiapkan minuman hangat. Rosa belum kelihatan batang hidungnya. Pak Gatot mulai gelisah. Hal yang tak seharusnya dilakukan. Bukankah Rosa bukan siapa-siapa baginya? Apa ya pantas kemudian dia merasa kehilangan?
“Hanya kasihan saja, semoga dia tak apa-apa.”
Pak Gatot keluar menuju jalan raya, dan ketika itulah dia melihat bayangan Rosa. Berjalan lunglai, seperti tak bertenaga.
Pak Gatot mendekatinya, lalu membimbingnya ke rumah.
“Kamu kenapa? Kok lemas begini? Kamu belum makan?”
“Belum," katanya lemah.
“Mengapa belum makan? Kamu tak membeli makanan dengan uang tadi?”
“Uangnya hilang,” tentu saja Rosa berbohong.
“Hilang?”
Rosa hanya mengangguk. Sebenarnya uangnya masih sisa, hanya saja dia tak mempergunakannya untuk naik ojol atau angkutan umum. Bukan untuk membeli makanan, tapi entah mengapa Rosa ingin menyimpannya.
“Jadi karena uangnya hilang maka kamu tidak membeli makan? Duduk di sini dulu, biar aku belikan di depan,” tanpa menunggu jawaban, pak Gatot bergegas keluar rumah untuk membeli makan.
Rosa duduk dengan lesu. Bukan karena lapar, tapi karena kehilangan harapan tentang siapa sebenarnya orang tuanya.
Ia melahap makanannya ketika pak Gatot datang dengan membawa beberapa bungkus makanan. Pak Gatot ikut makan, dalam diam, karena Rosa tak bicara apapun.
“Kamu menangis seharian?”
Rosa mengangguk.
“Karena uangnya hilang dan tidak bisa makan?”
Rosa kembali mengangguk.
“Ya ampun, nanti aku beri kamu dompet, biar kalau aku beri kamu uang, maka kamu bisa menyimpannya rapi, sehingga tidak mudah hilang."
Rosa diam. Usianya sudah hampir empatpuluh tahun, tapi pak Gatot memperlakukannya seperti anak kecil.
***
Pagi hari itu ia berjalan-jalan ke pasar. Ia tidak ingin membeli sesuatu. Ia hanya ingin melihat suasana dalam keadaan bukan seperti gembel. Pakaiannya bersih, walau sederhana. Ia hanya ingin berjalan-jalan.
Tiba-tiba ia melihat seseorang. Wanita cantik dengan kerudung merah muda, menggandeng seorang anak laki-laki kecil yang tampan, setelah turun dari dalam sebuah mobil.
“Itu kamu? Bahagia ya hidup kamu. Itu bahagia aku, kamu yang merebutnya,” desisnya geram.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 jeng
Deleteπ·ππ·ππ·ππ·π
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung AaAaeS_03
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
π·ππ·ππ·ππ·π
Suwun mb Tien, smg sht sllπ
ReplyDeleteAlhamdulillah Rosa telah hadir, mungkinkah wanita cantik berkerudung itu Senja? maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ππ
ReplyDeleteAlhamdulilah.
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Sehat slalu beserta keluarga. Tetap semangat.
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda srkeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~03 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),03 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMks bun cerbung AAS 03 sdh tayang....selamat mlm smg bunda dan pakTom beserta kelrg semua sll sehat
ReplyDeleteAlhamdulilah maturnuwun cerbung kesayangan sdh tayang ... sehat sehat ya bun .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah...bunda sehat selamanya...aamiin.
ReplyDeleteTerimakasih sambungan ceritanya Bun
ReplyDeleteπ·Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 03 ~ Sudah tayang ππ Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteTampaknya Rosa belum menjadi pribadi yg baik, masih menyimpan dendam. Terimakasih bunda Tien, sehat selalu, tetap semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta, aduhai
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung AAS sudah tayang,
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien, semoga bunda dan keluarga sehat π€²
Matur nuwun Bu Tien π
ReplyDelete