Monday, August 3, 2026

AKU ANAK SIAPA 02

 AKU ANAK SIAPA  02

(Tien Kumalasari)

 

Beberapa hari Rosa tinggal di rumah pak Gatot, merasa lebih tenang atas kebaikan pak Gatot, yang entah mengapa tiba-tiba jatuh kasihan ketika melihat dirinya teraniaya.

Rosa tak ingin memikirkan masa lalunya yang gemerlap lalu berubah kelam. Karena salahnya sendiri. Cinta yang tak terjangkau membuat dirinya gelap mata.

“Yah, sudahlah. Aku tak ingin memikirkan apapun lagi. Aku hanya ingin mencari siapa orang tuaku.”

Pagi hari itu pak Gatot siap berangkat ke kantor.

“Rosa, kamu santai saja dulu di sini, kalau pikiran kamu sudah tenang, kamu baru memikirkan apa yang akan kamu lakukan. Pasti sedih kalau berada di rumah terus.”

“Iya, nanti saya pikirkan. Tapi maaf Pak, mestinya saya membantu menyiapkan makan, tapi saya tidak bisa memasak,” kata Rosa tersipu. 

Mana bisa memasak, dia hidup dimanja, dilayani, berjanji mau belajar masak saja masih nanti-nanti.

“Tidak apa-apa. Kamu bawa uang ini untuk membeli makan pagi dan siang nanti,” kata pak Gatot sambil memberikan sejumlah uang. 

Rosa menerimanya ragu, ada rasa sungkan karena merepotkan, tapi sebenarnya dia berharap tentang uang itu.

“Terima saja, di depan ada warung makan.”

“Bapak tidak makan dulu, saya belikan?”

“Tidak usah, saya biasa sarapan di kantor. Itu untuk kamu saja.”

Ketika pak Gatot berangkat, Rosa berpikir tentang keinginannya pergi ke panti asuhan, di mana dulu dia diadopsi oleh pak Daryono. Ia menimang-nimang uang yang baru saja diterimanya. Ia bisa makan belakangan. Uang itu akan dipergunakan untuk naik ojol  ke arah panti asuhan itu.

***

“Mengapa Mama melamun?” tanya pak Daryono pagi itu, sebelum berangkat ke kantor.

“Kalau tidak salah, Rosa bebas beberapa hari yang lalu.”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Mengapa dia tidak ke sini ya Pa?”

“Mama berharap dia kembali kemari?”

“Bagaimanapun dia berada di sini sudah puluhan tahun, dan menjadi anak angkat kita. Ikatan batin itu ada.”

“Apa yang dilakukan membuat malu keluarga kita. Aku sudah mengatakan bahwa dia bukan anak kita lagi.”

“Iya sih. Tapi ke mana ya anak itu sekarang? Ia pasti tak tahu ke mana harus pulang.”

“Biarkan saja ia melakukan apa yang akan dilakukannya. Kalau dia kembali dan masih melakukan hal yang memalukan, kita akan merasa terganggu.”

“Seandainya dia kembali kemari, apakah Papa akan mengusirnya?”

“Entahlah. Mungkin aku tega mengusir, mungkin juga tidak.”

“Ternyata Papa merasakan hal yang sama seperti yang Mama rasakan.”

Pak Daryono menghela napas panjang. Betapapun marah dan kecewanya atas kelakuan Rosa, tapi ikatan batin itu sudah terjalin lama. Tak bisa dilupakan begitu saja. Hanya saja pak Daryono lebih tegar menghadapinya.

“Ya sudah Ma, tidak usah dipikirkan lagi. Dia bukan milik kita. Sekarang aku berangkat ke kantor ya.”

“Hati-hati Pa.”

Bu Daryono melepas kepergian suaminya dengan perasaan yang mengharu biru, gara-gara teringat kalau Rosa sudah harus keluar dari penjara. Entah ke mana anak itu sekarang. Tiba-tiba bu Daryono memikirkannya.

“Walau dia sering melakukan hal yang tidak terpuji, seperti tidak tahu malu ketika mengejar Arka, kemudian menaruh dendam kepada anak penjual beras itu, sehingga membuatnya hampir celaka, tapi dia sudah mendapatkan hukumannya. Semoga untuk hari-hari selanjutnya dia mendapatkan jalan yang baik dan bersih. Tapi ke mana dia berada sekarang?” gumam bu Daryono pelan.

“Nyonya, saya mau ke pasar sekarang,” tiba-tiba bibik membuyarkan lamunan bu Daryono.

“Oh, iya. Pergilah Bik.”

“Apakah Nyonya memikirkan non Rosa?”

“Iya Bik sedikit. Biar bagaimanapun bertahun-tahun dia bersama kita kan?"

"Ketika bibik ke pasar beberapa hari yang lalu, saya melihat perempuan dikeroyok orang banyak, gara-gara mencuri roti.”

“Kasihan, hanya mencuri roti, dikeroyok orang banyak? Perempuan pula. Pasti dia lapar.”

“Bibik kok agak heran, perempuan itu mirip non Rosa.”

“Apa? Mengapa kamu tidak menolongnya?”

“Saya tidak yakin kalau itu non Rosa. Perasaan bibik saja, wajahnya mirip. Tapi pasti bukan. Wajahnya kumuh, kotor, seperti gelandangan.”

“Dikeroyok lalu bagaimana? Dia pingsan?”

“Ada yang menolongnya, pakaian satpam. Dia tampaknya juga merasa kasihan pada perempuan itu. Penjual roti itu sudah dibayar oleh pak Satpam setelah bertanya harga rotinya.”

Bu Daryono diam-diam berpikir.

“Jangan-jangan itu memang Rosa. Tidak aneh kalau dia berwajah kotor kumuh seperti gelandangan. Dia tidak punya tempat tinggal, tidak punya sesuatu untuk dimakan, pasti dia juga lapar, sampai mencuri makanan,” kata batin bu Daryono.

“Tapi bibik kira pasti bukan, Nyonya. Hanya wajahnya yang mirip. Masa non Rosa seperti itu.”

“Di mana kamu melihatnya?”

“Di dekat pasar, saya sudah mau pulang. Saya hanya berhenti sebentar, lalu berjalan ke pinggir jalan, menunggu angkutan.”

“Ya sudah, berangkatlah belanja. Kalau nanti ketemu perempuan itu lagi, beri dia uang.”

“Baik Nyonya.”

Tapi apa yang dikatakan Bibik sangat membekas di hati bu Daryono. Jangan-jangan benar Rosa, pikirnya. Tiba-tiba bu Daryono berteriak.

“Bik, tunggu Bik.”

Bibik membalikkan tubuhnya, mendekati sang nyonya.

“Tunggu sebentar, aku ikut. Aku panggil taksi dulu.”

“Oh, baik Nyonya.”

***

Rosa sudah sampai di panti seperti yang dibaca di surat yang pernah ditunjukkan pak Daryono.

Ia ragu melangkah masuk. Tentu dia tidak datang sebagai anak angkat pak Daryono. Dia sudah diusir sebelum keluar dari penjara. Pakaiannya juga pakaian sederhana seperti dibelikan pak Gatot.

Ada orang yang duduk di depan panti itu, sambil membuka-buka sebuah berkas. Ia mendekat, sedikit ragu. Bukan takut, ada rasa sungkan karena terbawa di masa lalu. Kalau dia datang ke suatu tempat, pastilah dengan penampilan yang luar biasa. Baju bagus, sepatu bagus, rambut tergerai indah dan pastinya wangi. Sekarang, ia hanya memakai sendal murahan yang dibelikan pak Gatot, baju murahan yang jauh lebih murah dari baju hariannya kala itu.

Rosa menghela napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya. Ia harus menguatkan hatinya. Masa kejayaan itu sudah lewat. Yang mewah-mewah sudah berlalu. Ia bahkan datang dengan mengendarai ojol. Barangkali orang akan menganggapnya sebagai pembantu rumah tangga.

“Ah, sudahlah persetan dengan penampilan kumuhku, yang penting aku bisa segera menemukan siapa orang tuaku,” gumamnya pelan, sambil terus melangkah.

Perempuan paruh baya itu seperti tak melihat kedatangannya, sampai Rosa benar-benar berdiri di depan tangga, persis di depan meja kerja perempuan setengah tua itu.

“Sel … selamat pagi.”

Perempuan itu mengangkat wajahnya, menatapnya tajam, membuat Rosa semakin risih dengan penampilannya.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu Nak?.”

“Boleh saya masuk?”

“Oh, maaf, silakan masuk.”

Rosa masuk, lagi-lagi dengan perasaan risih memikirkan penampilannya, padahal orang di depannya sama sekali tidak mempedulikan penampilan tamunya.

“Apa yang bisa saya bantu?” kata perempuan itu lagi.

Rosa yang semula menundukkan wajahnya, kemudian mengangkatnya.

“Saya dulu diambil dari panti asuhan ini.”

Wanita itu membelalakkan matanya.

“Nama saya Rosa. Rosana," lanjutnya.

“Kapan ya?”

"Sudah tigapuluh limaan tahun yang lalu, eh … lebih …”

“Wouw, saya belum bekerja di sini.”

“Saya ingin tahu, siapa orang tua saya sebenarnya.”

***

Besok lagi ya.

14 comments:

  1. Matur nuwun mbak Tien-ku Aku Anak Siapa telah tayang,
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah sudah tayang episode yang ke 2
    Terimakasih bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~02 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
  4. 🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung AaAaeS_02
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),02 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah episode 02 AKU ANAK SIAPA sudah hadir, matir nuwun mBak Tien, dalam SEROJA & tetap ADUHAI.
    Sudah beres operasi keponakan?
    Semoga lancar dan dimudahkan segala urusannya dan recoverynya cepat, lukanya ceoat jeribg. Aamiinn Yaa Robbal'alamiin 🤲🙏

    ReplyDelete

  7. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *AKU ANAK SIAPA 02*
    sudah hadir...
    Semoga selalu sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah hatur nuhun bunda Tien cerbung AAS sudah tayang
    Semoga bunda Tien dan keluarga senantiasa dalam.keadan sehat 🤲

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah... Cerbung lanjutan NTS sdh tayang. Siapakah ortu kandung Rosa? Bagaimana kabar Senja dan Arka? Penasaran... Terimakasih bunda Tien, semakin sehat, tetap semangat dan bahagia selalu.... Aamiin yaa Rabbal alaamiin🤲🤲🤲

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah, sudah tayang...
    Sehat selamanya bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  13. Terima kasih Bu Tien AAS-02 sudah muncul, semoga tetap sehat

    ReplyDelete

AKU ANAK SIAPA 02

  AKU ANAK SIAPA  02 (Tien Kumalasari)   Beberapa hari Rosa tinggal di rumah pak Gatot, merasa lebih tenang atas kebaikan pak Gatot, yang en...